Anda di halaman 1dari 2

PEMBAHASAN C.

Uji Beilstein Pada uji Beilstein ini mula-mula hal yang dilakukan adalah pemanasan kawat spiral tembaga hingga kemerahan. Pemanasan ditepatkan pada nyala api biru. Hal ini dilakukan karena pada nyala api biru panasnya lebih tinggi dan lebih merata jika dibandingkan dengan nyala api merah, sehingga kawat tembaga spiral yang dipanaskan tidak memijar berlebihan yang mengakibatkan kawatnya rapuh karena terbakar. Selanjutnya kawat tersebut didinginkan dan dicelupkan pada beberapa larutan penguji yang dilakukan secara bergiliran kemudian dipanaskan kembali. Adapun larutan penguji tersebut terdiri dari KCl, KI, KBr, CH 3Br, CH3I, dan air keringat. Saat dipanaskan ternyata warna nyala apinya tampak berwarna hijau pada semua larutan yang diuji, kecuali pada air keringat. Akan tetapi di sisi lain, pijaran nyala api hijau yang dihasilkan berbeda-beda. Misalkan saja warna nyala api hijau yang dihasilkan dari pemanasan kawat tembaga spiral yang dicelupkan pada larutan KI, pijaran nyala api hijaunya hanya tampak kecil dan sesaat. Begitu pula yang terjadi pada kawat tembaga spiral yang dicelupkan pada CH 3Br warna nyala apinya hijau disertai nyala api biru pada sisi luarnya. Terjadi penyimpangan pula pada pengujian air keringat yaitu warna nyala api yang dihasilkan berwarna jingga kekuningan atau tidak ada perubahan. Berbagai kejanggalan tersebut diduga keadaan kawat spiral yang diujikan tidak dalam keadaan bersih atau terkontaminasi oleh larutan / zat lain. Karena pada dasarnya uji beilstein ini dilakukan untuk mengidentifikasi unsur halogen pada suatu senyawa. Jika di dalamnya terdapat unsur halogen maka warna nyala api yang ditimbulkan saat dibakar adalah berwarna hijau. Warna hijau ini merupakan indikasi adanya suatu unsur yang terdapat dalam golongan halogen. Dengan demikian pada pengujian dengan air keringat pun seharusnya nyala api yang dihasilkan juga berwarna hijau, karena kandungan utama dalam keringat adalah natrium klorida selain bahan lain (yang mengeluarkan aroma) seperti 2-metilfenol ( o-kresol) dan 4metilfenol (p-kresol). Namun penyimpangan ini dapat terjadi diduga karena pada saat proses pencelupan kawat pada larutan yang diujikan, larutan penguji tidak menempel pada kawatnya atau hanya sedikit yang menempel, sehingga pengidentifikasian melalui uji beilstein ini tidak sempurna. Akan tetapi, ada kabar terbaru mengejutkan dari sebuah artikel online yang mengatakan bahwa belakangan produk samping prosedur ini diteliti. Analisis menunjukkan bahwa uji

Beilstein menghasilkan dioxin. Dioxin merupakan senyawa yang paling toksik yang kita ketahui di bumi. Pencegahan harus dilakukan untuk melindungi praktikan dari produk uji ini atau bahkan lebih baik mengganti uji ini dengan teknik analisis modern. Berikut adalah alamat website yang menyebutkan kabar tersebut http://kriemhild.uft.unibremen.de/nop/id/articles/html/why_id3.html