Anda di halaman 1dari 48

BAB II ANALISIS SITUASI

2.1 Analisis Situasi Umum (Gambaran Umum Lokasi Kegiatan) Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Kementerian Kesehatan RI yang bertanggung jawab pada Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Dirjen PP dan PL) sesuai dengan Permenkes RI No.356/MENKES/PER/2008 tanggal 14 April 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan. Kantor Kesehatan Pelabuhan mempunyai tugas melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit, penyakit potensial wabah, surveilans epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan OMKABA serta pengamanan terhadap penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia dan pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara. Dalam penyelenggaraan tugas tersebut di atas, dirumuskan melalui peran dan fungsi yang harus dilakukan dalam pelaksanaan berbagai program/kegiatan dengan tidak mengganggu kelancaran lalu lintas internasional/nasional baik orang, barang maupun alat angkut itu sendiri di pelabuhan/bandara. Meski disadari bahwa lalu lintas Internasional/Nasional juga membawa perubahan dalam penyebaran penyakit dengan timbulnya New Emerging Deseases dan ReEmerging Deseases. Maka pertimbangan berbagai aspek kegiatan dalam

memperkuat Kantor Kesehatan Pelabuhan guna meningkatkan berbagai upaya dan langkah-langkah yang paling efektif untuk menjaga masuk/keluarnya penyakit karantina dan penyakit menular potensial wabah serta kegiatan-kegiatan lainnya. Sasaran pengawasan KKP adalah faktor risiko penularan penyakit karantina dan PHEIC (Public Health Emergency International Concern) atau penyakit potensial wabah yang meliputi orang, barang dan alat angkut, vektor dan lingkungan pelabuhan/bandara, dan perilaku provider dan konsumen.

2.1.1 Letak Geografis Pelabuhan Tanjung Emas Semarang terletak pada posisi 6o6 LS dan 110oBT di ujung pantai utara Jawa Tengah termasuk dalam wilayah Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang. Luas wilayah pelabuhan Tanjung Emas Semarang adalah 178.638 ha yang terdiri dari 638 ha sebagai saerah daratan. Pemerintah Wilayah Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dibagi dalam dua daerah pengawasan yaitu: 1. Perimeter Area Perimeter Area adalah daerah pelabuhan tempat kapal bersandar, tempat melaksanakan bongkar muat barang, gudang-gudang dan kantorkantor pemerintah maupun swasta yang berada disekitar pelabuhan. Daerah perimeter Pelabuhan Tanjung Emas Semarang mempunyai luas 636,79 ha; dan derah ini tidak boleh dijadikan pemukiman.

2. Buffer Area Buffer Area adalah daerah pelabuhan di luar perimeter dengan radius 400 m. Daerah ini meliputi wilayah pemukiman penduduk, perumahan karyawan, sekolah, pasar, dan sarana olahraga. Daerah buffer Pelabuhan Tanjung Emas Semarang mempunyai luas wilayah 136,36 ha.

Gambar 2.1 Batas Buffer Area dan Perimeter Area Pelabuhan Laut Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II

Gambar 2.2 Batas Buffer Area dan Perimeter Area Pelabuhan Udara Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Semarang

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2348/MENKES/PER/XI/20011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan. Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Semarang mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan kegiatan di wilayah kerja yang meliputi : 1) Pelabuhan Laut Tanjung Emas Semarang 2) Bandara Ahmad Yani Semarang 3) Bandara Adisumarmo Surakarta 4) Pelabuhan Laut Tegal 5) Pelabuhan Laut Batang 6) Pelabuhan Laut Pekalongan

7) Pelabuhan Laut Jepara 8) Pelabuhan Laut Karimunjawa 9) Pelabuhan Laut Juwana 10) Pelabuhan Laut Rembang

Gambar 2.3 Peta Wilayah Kerja KKP Kelas II Semarang

Tabel 2.1 Luas Perimeter Area dan Buffer Area Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Semarang LOKASI PERIMETER BUFFER 136,36 Ha

Pelabuhan Laut Tanjung Emas Semarang 11,24 Ha (Induk)

Bandara Ahmad Yani Semarang Bandara Adi Sumarmo Surakarta Pelabuhan Laut Pekalongan Pelabuhan Laut Tegal Pelabuhan Laut Jepara Pelabuhan Laut Juwana

12 Ha 8,5 Ha 2,50 Ha 5,03 Ha 4,30 Ha 2,50 Ha

24 Ha 12 Ha 8 Ha 12 Ha 4 Ha 3,50 Ha

Pelaksanaan kegiatan sesuai Tupoksi untuk Pelabuhan laut Karimunjawa realisasi belum dilaksanakan sepenuhnya, karena belum tersedianya SDM, sarana dan prasarana serta dukungan dana, sehingga pelabuhan laut tersebut masih merupakan wilker binaan. Jarak KKP induk dengan wilayah kerja sebagai berikut: a. Pelabuhan laut Tanjung Emas Semarang (KKP induk) : : 0 Km 7 Km

b. Bandara Ahmad Yani Semarang c. Bandara Adisumarmo Surakarta

: 90 Km : 150 Km : 100 Km : 125 Km : 90 Km : 40 Km : 100 Km

d. Pelabuhan Laut Tegal e. f. Pelabuhan Laut Batang Pelabuhan Laut Pekalongan

g. Pelabuhan Laut Jepara h. Pelabuhan Laut Karimunjawa i. Pelabuhan Laut Juwana

j.

Pelabuhan Laut Rembang

:1 20 Km

Gambar 2.4 Peta wilayah kerja KKP Kelas II Semarang

2.1.2

Dasar Hukum dengan Peraturan Menteri Kesehatan No.

Sesuai

356/MENKES/PER/IV/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan, dalam melaksanakan program kerjanya dilandasi oleh beberapa peraturan perundang-undangan dan peraturan lain yang mengatur yaitu : 1. 2. 3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1962 tentang Karantina Laut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1962 tentang Karantina Udara Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular

4.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1962 tentang Higiene Untuk UsahaUsaha Bagi Umum, Pasal 3(D) Alat Pengangkutan Umum

5.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1966 tentang Higiene, Antara Lain Pasal 4 Tentang Tindakan Pencegahan Penyakit Menular

6.

International Health Regulation (IHR) 2005, IHR Bertujuan Mencegah, Melindungi Terhadap, Mengendalikan Penyebaran Penyakit Secara Internatsional Sesuai dengan dan Terbatas Pada Faktor Risiko yang dapat Mengganggu Kesehatan dengan Sesedikit Mungkin Menimbulkan Hambatan pada Lalu-Lintas dan Perdagangan Internasional.

7.

Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Pelimpahan Kewenangan Pusat Kepada Daerah (Otonomi Daerah)

8.

Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang Penangkalan Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3447)

9.

Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4145)

10.

Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4146)

11.

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota

12.

Peraturan

Menteri

Pendayagunaan

Aparatur

Negara

Nomor

Per/18/M.PAN/11/2008, tentang Pedoman Organisasi Unit Pelaksana Teknis Kementerian dan Lembaga Pemerintah Nonkementerian 13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan 14. Keputusan Menteri Kesehatan 1762 Dan 1735 Tahun 2000 tentang Kantor Kesehatan Pelabuhan Sebagai Unit Pusat 15. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 264/MENKES/SK/III/2004 tentang Kriteria Klasifikasi Kantor Kesehatan Pelabuhan 16. Peraturan Menteri Kesehatan Rebublik Indonesia Nomor

256/MENKES/PER/IV/2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Nomor Kesehatan

2.1.3

Visi, Misi, Kebijakan, Strategi, Tujuan dan Sasaran Kantor Kesehatan Pelabuhan Sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kesehatan RI maka visi

dan misi Kantor Kesehatan Pelabuhan hendaknya mengacu pada visi dan misi kementerian kesehatan yaitu masyarakat sehat mandiri dan berkeadilan. Sedangkan visi dan misi Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang adalah sebagai berikut: 1. Visi KKP Semarang Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang KKP Tangguh dan Prima

2. Misi KKP Semarang a. Memelihara & menghasilkan pelayanan kesehatan pelabuhan yang bermutu, merata dan memadai b. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, masyarakat pelabuhan dan lingkungan SEHAT pelabuhan/bandara, kapal laut/pesawat terbang c. Mendorong kemandirian masyarakat Pelabuhan&Bandara untuk hidup sehat d. Meningkatkan dan mengembangkan SDM yang profesionalisme e. Menjamin ketersediaan dan pemerataaan sumber daya 3. Kebijakan a. Capacity Building Membangun kapasitas yang dimiliki secara optimal b. Strengthening Menguatkan potensi secara maksimal c. Performance d. Meningkatkan eksistensi melalui peningkatan kinerja 4. Strategi a. Pendekatan kemampuan dan pengembangan: 1) Sumber DayaManagement/Organisasi 2) Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab a. b. Kebersamaan (collectivity) dan keterbukaan Peningkatan koordinasi dan kerjasama (jejaring)

c. d.

KIE dalam berbagai aspek Mawas diri dan evaluasi

5. Tujuan Terselenggaranya pencegahan masuk dan keluarnya penyakit

karantina dan penyakit menular potensial wabah melalui kapal dan pesawat, Pengendalian risiko lingkungan di pelabuhan/kapal/pesawat, serta pelayanan kesehatan terbatas di pelabuhan laut dan udara. 6. Sasaran a. b. Pelaksanaan administrasi umum. Pelaksanaan upaya kekarantinaan dan surveylans epidemiologi secara optimal di pelabuhan/bandara dan alat angkut. c. Pelaksanaan upaya pengendalian risiko lingkungan di

pelabuhan/bandara dan alat angkut. d. Pelaksanaan upaya kesehatan pelabuhan diwilayah

pelabuhan/bandara.

2.1.4 1.

Tugas Pokok dan Fungsi Tugas Pokok Kantor Kesehatan Pelabuhan adalah sebagai berikut: Melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit,

penyakit potensial wabah, surveylans epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan OMKABA serta pengamanan terhadap penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia dan

pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara. 2. Fungsi Kantor Kesehatan Pelabuhan adalah sebagai berikut:

a. Pelaksanaan kekarantinaan b. Pelaksanaan pelayanan kesehatan c. Pelaksanaan pengendalian risiko lingkungan di bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara. d. Pelaksanaan pengamatan penyakit, penyakit potensial wabah, penyakit baru, dan penyakit yang muncul kembali. e. Pelaksanaan pengamanan radiasi pengion dan non pengion, biologi, dan kimia. f. Pelaksanaan sentra/simpul jejaring surveylans epidemiologi sesuai penyakit yang berkaitan dengan lalu lintas nasional, regional, dan internasional. g. Pelaksanaan, fasilitasi dan advokasi kesiapsiagaan dan

penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan bencana bidang kesehatan, serta kesehatan matra termasuk penyelenggaraan

kesehatan haji. h. Pelaksanaan, fasilitasi dan advokasi kesehatan kerja di lingkungan pelabuhan/bandara dan lintas batas darat. i. Pelaksanaan pemberian sertifikasi kesehatan Obat, Makanan, Kosmetika dan Alat Kesehatan (OMKA) ekspor dan mengawasi persyaratan dokumen kesehatan OMKA impor.

j. Pelaksanaan pengawasan kesehatan alat angkut dan muatannya k. Pelaksanaan pemberian pelayanan kesehatan terbatas di wilayah kerja pelabuhan, bandara dan lintas batas darat. l. Pelaksanaan jaringan informasi dan teknologi bidang kesehatan pelabuhan/bandara dan lintas batas darat. m. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan bidang kesehatan pelabuhan/bandara dan lintas batas darat. n. Pelaksanaan kajian kekarantinaan, pengendalian risiko lingkungan, dan surveylans kesehatan pelabuhan. o. Pelaksanaan pelatihan teknis bidang kesehatan pelabuhan/bandara dan lintas batas darat. p. Pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan KKP.

2.1.5

Struktur Organisasi Berdasarkan PERMENKES RI Nomor

356/MENKES/PER/IV/2008 tanggal 14 April 2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan, Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang termasuk Kelas II dengan Struktur Organisasi sebagai berikut:

KEPALA
SUB.BAG. TU

SEKSI PENGENDALIAN KARANTINA & SE SURV. EPIDEMIOLOGI BANDARA A.SUMARMO

SEKSI PENGENDALIAN RISIKO LINGKUNGAN

SEKSI UPAYA KES. & LINTAS WILAYAH

BANDARA A. YANI

PLB TEGAL

PLB PEKALONGAN

PLB Batang

PLB TG. EMAS

PLB JEPARA

PLB JUWANA

PLB REMBANG

PLB KR. JAWA

INSTALASI

Gambar 2.5 Struktur Organisasi KKP Kelas II Tanjung Emas Semarang (PERMENKES RI Nomor 356/MENKES/PER/IV/2008)

2.1.6

Kegiatan Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Semarang

2.1.6.1 Seksi Pengendalian Karantina dan Surveylans Epidemiologi Berdasarkan Permenkes 2348 Tahun 2011 tentang perubahan Permenkes 356 Tahun 2008 tentang Organisiasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan, Seksi Pengendalian Karantina & Surveylans Epidemiologi (PKSE) Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Semarang mempunyai tugas antara lain: melakukan penyiapan bahan perencanaan, pemantauan, evaluasi, penyusunan laporan, dan koordinasi pelaksanaan kekarantinaan, surveylans epidemiologi penyakit, penyakit

potensial wabah, penyakit baru, dan penyakit yang muncul kembali, pengawasan alat angkut dan muatannya, lalu lintas OMKABA, jejaring kerja, kemitraan, kajian, serta pengembangan teknologi, pelatihan teknis bidang kekarantinaan dan surveylans epidemiologi di wilayah kerja pelabuhan, dan lintas batas darat negara.

2.1.6.2 Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2348/MENKES/PER/XI/2011 tanggal 22 Nopember 2011 tentang Perubahann atas Peraturan Meneteri Kesehatan RI Nomor

356/MENKES/PER/IV/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan, KKP Kelas II Semarang terdiri dari Seksi Pengendalian Karantina dan Surveylans Epidemiologi, Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan, Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah dan Sub Bag TU. Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan mempunyai ruang lingkup tugas dalam pengendalian vektor & binatang penular penyakit serta pembinaan sanitasi lingkungan termasuk alat angkut melalui berbagai upaya kegiatan yang dilakukan.

2.1.6.3 Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perencanaan, pemantauan, evaluasi,

penyusunan laporan, dan koordinasi pelayanan kesehatan terbatas,

kesehatan kerja, kesehatan matra, kesehatan haji, perpindahan penduduk, penanggulangan bencana, vaksinasi internasional, pengembangan jejaring kerja, kemitraan, kajian dan teknologi, serta pelatihan teknis bidang upaya kesehatan di wilayahkerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara.

2.1.6.4 Sub Bagian Tata Usaha Sesuai PERMENKES Nomor 2348/MENKES/PER/XI/2011

tentang perubahan PERMENKES 356/MENKES/PER/IV/2008 tentang Organisiasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan, Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan penyusunan program, pengelolaan informasi, evaluasi dan laporan, urusan-urusan tata usaha, keuangan, kepegawaian, perlengkapan dan rumahtangga.

2.2 Analisis Situasi Khusus 2.2.1 Seksi Pengendalian Karantina dan Surveylans Epidemiologi Seksi Pengendalian Karantina dan Surveylans Epidemiologi Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Semarang mempunyai tugas antara lain melaksanakan perencanaan dan evaluasi serta penyusunan laporan di bidang kekarantinaan, surveylans epidemiologi penyakit dan penyakit potensial wabah serta penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali, pengawasan alat angkut dan muatannya, lalu lintas OMKABA, jejaring kerja, kemitraan, kajian, serta pengembangan teknologi, pendidikan, dan

pelatihan bidang kekarantinaan di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara. Dalam pelaksanaan tugas tersebut di atas, dirumuskan melalui fungsi yang harus dilakukan melalui berbagai program kegiatan. Program kegiatan Karantina dan Surveylans Epidemuologi Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Semarang meliputi pemeriksaan alat angkut, penerbitan dokumen kesehatan, tindakan karantina, pengawasan OMKABA, surveylans epidemiologi, dan kegiatan lain yang bukan merupakan kegiatan rutin tahunan. 1. Pemeriksaan Kapal Kegiatan pemeriksaan kapal/boarding adalah pemeriksaan yang dilakukan terhadap kapal-kapal yang datang baik dari luar negeri maupun dalam negeri, kapal yang datang dengan route pelayaran internasional maupun interinsulair, dilakukan dengan cara pemeriksaan langsung terhadap kondisi suatu kapal, ABK/crew dan penumpang, barang muatan kapal, serta dokumen kesehatan kapal. 2. Penerbitan Free Pratique Free Pratique adalah dokumen kesehatan yang diterbitkan terhadap kapal yang datang dari luar negeri. Diberikan kepada pihak kapal setelah dilakukan pemeriksaan dan dinyatakan bebas dari penyakit karantina maupun penyakit menular potensial wabah. 3. Penerbitan SSCC/SSCEC

Penerbitan Sertifikat Bebas Pengawasan Sanitasi Kapal/ Ship Sanitation Control Exemption Certificate (SSCEC) dan Sertifikat Pengawasan Sanitasi Kapal/ Ship Sanitation Control Certificate (SSCC) adalah penyempurnaan dari dokumen sebelumnya. Dalam penerbitan SSCEC dan SSCC tidak hanya memeriksa keberadaan tanda-tanda kehidupan tikus saja, tetapi juga memeriksa vektor penyakit menular lainnya, sanitasi kapal/pesawat, stok obat-obatan, dan lain-lainnya. Masa berlaku sertifikat tersebut 6 bulan dan dapat diperpanjang setelah masa berlaku habis. SSCEC dan SSCC wajib dimiliki oleh setiap kapal yang berlabuh atau berlayar baik di Indonesia atau di dunia sesuai dengan aturan IHR tahun 2005 bahwa setiap kapal harus bebas dari tanda-tanda kehidupan serangga atau hewan pengerat. Bila dalam pemeriksaan kapal ditemukan adanya tanda-tanda kehidupan serangga atau tikus, maka akan dilakukan tindakan sanitasi di kapal. Tindakan sanitasi dapat berupa: 1) Fumigasi: pemberantasan atau hapus tikus kapal. 2) Disinseksi: pemberantasan serangga. 3) Disinfeksi: pembebasan hama di kapal.

PEMOHON AGEN

BAG. TU

KA.KKP

KA. SIE. KARSE

PEMERIKSAAN SANITASI DI KAPAL OLEH PRL

TIDAK ADA INDIKASI

ADA INDIKASI TINDAKAN SANITASI

KA. SIE KARANTINA&SE PENERBITAN SSCC/SSCEC

Gambar 2.4 Bagan Alur Penerbitan SSCC/SSCEC

4. Penerbitan Health Book Health book adalah sarana tukar informasi. Kegunaan dari Buku Kesehatan Kapal disamping sebagai kelengkapan dokumen kesehatan juga sebagai jejaring surveylans antar pelabuhan di Indonesia, media pemberian advise (saran) terhadap kapal dan sumber PNBP. Health Book hanya berlaku di Indonesia, diterbitkan apabila sebuah kapal belum memilikinya baik karena baru pertama kali datang ke Indonesia, kapal baru, ganti nama atau jika Health book yang lama telah habis lembarannya. 5. Penerbitan Sailing Permit Sailing Permitt adalah surat izin berlayar yang diterbitkan bagi kapal line interinsulair yang akan berlayar tetapi sertifikat

SSCEC/SSCCnya habis masa berlakunya dan kapal tersebut tidak dapat dilakukan pemeriksaan sanitasi kapalnya karena masih ada sisa muatan > 50 % dari total muatan awal. Sertifikat ini hanya berlaku untuk sekali perjalanan. 6. Penerbitan One Mounth Extention Certificate (OMEC) One Month Extention Certificate (OMEC) merupakan sertifikat yang diberikan bagi kapal berbendera asing maupun bendera Indonesia yang akan berlayar ke luar negeri dan pada saat akan berangkat, SSCEC-nya habis masa berlaku, sedangkan kapal tersebut tidak memungkinkan dilakukan pemeriksaan karena sisa muatan masih > 50

%. OMEC hanya berlaku selama 1 (satu) bulan dan atau 1 kali perjalanan. 7. Penerbitan Port Health Clearance (PHC) Port Health Clearance (PHC) adalah keterangan ijin kesehatan berlayar/terbang yang dikeluarkan oleh KKP sebelum kapal/pesawat tersebut mendapatkan clearance (ijin berlayar) dari Syahbandar (untuk kapal) dan ijin terbang dari pihak Angkasa Pura (untuk pesawat). Penerbitan PHC dilakukan sebelum kapal/pesawat berangkat baik

meninggalkan suatu pelabuhan, setelah dinyatakan bahwa

ABK/crew, penumpang kapal/pesawat, kondisi kapal/pesawat, maupun barang muatan dalam keadaan sehat dan bebas dari PHEIC, serta semua dokumen kesehatan lengkap. 8. Penerbitan kartu Health Allert Card Health Allert Card (kartu kewaspadaan) adalah kartu kendali yang diberikan kepada orang-orang yang datang dari suatu daerah endemis penyakit menular, atau dari suatu daerah dimana terjadi kasus/outbreak PHEIC dan dikhawatirkan berpeluang untuk terjadi penularan pada daerah yang dikunjungi. 9. Tindakan Pelanggaran UU Karantina (Tindakan Administratif) Pelanggaran UU Karantina yang dilakukan oleh kapal/pesawat dapat diberikan sanksi tindakan administratif atau sanksi verbal. Bentuk pelanggaran UU Karantina yang dijumpai antara lain: kapal berlayar tidak dilengkapi dokumen kesehatan (Buku Kesehatan, SSCEC/SSCC),

Kapal berlayar tanpa clearance out dari pelabuhan asal/sebelumnya, dan pelanggaran-pelanggaran lain termasuk kapal yang memiliki dokumen ganda. Untuk tindakan administratif dapat berupa

pembinaan/teguran. 10. Pengawasan lalu lintas ABK/Crew Pengawasan ABK/Crew bertujuan untuk mengawasi kemungkinan ada/tidaknya PHEIC yang diderita/dibawa oleh ABK maupun Crew. Pengawasan ABK/Crew dilakukan baik yang datang atau berangkat ke luar negeri maupun ABK/Crew yang datang atau berangkat ke dalam negeri. 11. Pengawasan lalu lintas penumpang Pengawasan lalu-lintas penumpang adalah pengawasan yang dilakukan terhadap seluruh penumpang baik penumpang yang datang (dari dalam negeri dan luar negeri) maupun penumpang yang berangkat (dari dalam negeri dan luar negeri). Adapun pengawasan terhadap penumpang berupa pengawasan terhadap kemungkinan ada/tidaknya PHEIC yang diderita oleh penumpang. 12. Pemberian sertifikat OMKABA Pemberian sertifikat OMKABA adalah kegiatan pengawasan lalulintas Obat, Makanan, Kosmetika, Alat-alat Kesehatan, dan Bahan Aditif (OMKABA) dilakukan terhadap OMKABA ekspor maupun Impor.

2.2.2 Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2348/MENKES/PER/XI/2011 tanggal 22 Nopember 2011 tentang Perubahann atas Peraturan Meneteri Kesehatan RI Nomor

356/MENKES/PER/IV/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan, KKP Kelas II Semarang terdiri dari Seksi Pengendalian Karantina dan Surveylans Epidemiologi, Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan, Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah dan Sub Bag TU. Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan mempunyai ruang lingkup tugas dalam pengendalian vektor & binatang penular penyakit serta pembinaan sanitasi lingkungan termasuk alat angkut melalui berbagai upaya kegiatan yang dilakukan. Upaya pengendalian risiko lingkungan bertujuan untuk membuat wilayah pelabuhan (wilayah perimeter dan wilayah buffer) dan alat angkut tidak menjadi sumber penularan ataupun habitat yang subur bagi reservoar dan vektor pembawa penyakit menular. 1. Tujuan Pengendalian Resiko Lingkungan a. Tujuan Umum Terlaksananya kegiatan Pengendalian Risiko Lingkungan di pelabuhan. b. Tujuan Khusus 1) Terlaksananya pengawasan sanitasi lingkungan. 2) Terlaksananya pengawasan kualitas air minum di pelabuhan.

3) Terlaksananya pengamanan makanan dan minuman. 4) Terlaksananya pengawasan hygiene dan sanitasi gedung/ bangunan dan perusahaan. 5) Terlaksananya pengendalian vektor dan binatang penular penyakit. 6) Terlaksananya kegiatan pengawasan sanitasi alat angkut. 7) Terlaksananya kajian sumber pencemar pada udara, air dan tanah. 8) Terlaksananya pengamanan pestisida. 2. Ruang Lingkup Seksi Pengendalian Resiko Lingkungan a. Pelabuhan Ruang lingkung kerja KKP di pelabuhan meliputi area perimeter yaitu 2 km degan garis lingkar terjauh dan area buffer dengan 400 m setelah area perimeter. b. Bandara Ruang lingkup bandara meliputi area perimeter yaitu 2 km lingkar terjauh dan area buffer area buffer dengan jarak 400 m setelah area perimeter. c. Perairan pelabuhan dan bandara Ruang lingkup perairan pelabuhan dan bandara meliputi seluruh sistem penyediaan air bersih mulai dari sumber sampai penerima : toilet, dapur, tangki kapal dan pesawat. d. Kapal Ruang lingkup kapal meliputi seluruh bagian kapal yang berpotensi mempunyai resiko penularan penyakit dan habitat vektor penyakit

(kantin, kamar mandi, penampungan air kapal, kamar tidur awak kapal, kamar tidur penumpang dll) e. Pesawat Ruang lingkup pesawat meliputi seluruh bagian kabin dari pesawat tanpa terkecuali, termasuk sanitasi air dan makanan di pesawat. 3. Kegiatan operasional seksi PRL meliputi: a. Pengendalian vektor dan binatang penular penyakit 1) Survey Nyamuk Survey nyamuk adalah kegiatan untuk menentukan kepadatan nyamuk betina dewasa. Untuk nyamuk Aedes aegypti, survei dilakukan dengan cara Resting Collection, yaitu cara menangkap nyamuk dengan menggunakanaspirator ketika nyamuk sedang beristirahat. Nyamuk yang tertangkap dikumpulkan ke dalam paper cup, kemudian dibunuh dengan chloroform untuk selanjutnya diidentifikasi. Kemudian dihitung Resting Rate (jumlah A.aegypti betina yang tertangkap per orang per jam). Jika ditemukan naymuk betina dewasa di area Perimeter dan atau dilakukan Resting Rate mencapai 2,5 dalam area buffer dilakukan pemberantasan. Untuk nyamuk Anopheles dilakukan dengan menggunakan umpan manusia (minimal 6 orang), dilakukan di dalam (45 menit dan 15 menit selanjutnya penangkapan nyamuk di dinding) dan di luar rumah (45 menit dan 15 menit selanjutnya penangkapan nyamuk di kandang). Nyamuk yang menggigit ditangkap, dikumpulkan, dibunuh dengan

chloroform, selanjutnya diidentifikasi. Kemudian dihitung MBR (Man Bitting Rate) dan MHD (Man Hour Density). 2) Survey Jentik Nyamuk Survey jentik nyamuk adalah kegiatan untuk mengetahui jenis jentik maupun kepadatan jentik. Data hasil kegiatan survey jentik untuk menentukan tindakan selanjutnya apakah perlu dilakukan tindakan pengendalian atau tindakan lainnya. a. Jentik nyamuk Aedes aegypti Jentik nyamuk Aedes aegypti selalu bergerak aktif di dalam air dan mempunyai ukuran 0,5-1 cm. Gerakannya naik turun dari bawah ke atas permukaan air secara berulang-ulang. Gerakan ini dilakukan untuk bernapas. Jika terkena cahaya, jentik akan bergerak menjauhi sumber cahaya. Pada waktu istirahat, posisi jentik berada tegak lurus dengan permukaan air. Ada 4 tingkat (instar) jentik sesuai dengan pertumbuhan larva tersebut, yaitu: 1. Instar I: berukuran paling kecil, yaitu 1-2 mm 2. Instar II : 2,5- 3,8 mm 3. Instar III : lebih besar sedikit dari larva instar II 4. Instar IV : berukuran paling besar 5 mm Larva Aedes aegypti terdiri atas kepala, toraks dan abdomen. Pada ujung abdomen terdapat segmen anal dan sifon. Larva instar IV mempunyai tanda khas yaitu pelana yang terbuka pada segmen anal,

sepasang bulu sifon pada sifon, dan gigi sisir yang berduri lateral pada sgmen abdomen ke-7. Larva Aedes aegypti bergerak sangat lincah dan sangat sensitif terhadap rangsang getar dan cahaya. Bila ada rangsangan, larva segera menyelam selama beberapa detik kemudian muncul kembali ke permukaaan air. Larva mengambil makanannya di dasar tempat penampungan air sehingga disebut pemakan makanan di dasar (bottom feeder). Pada saat larva mengambil oksigen dari udara, larva menempatkan sifonnya di atas permukaan air, sehingga abdomennya terlihat menggantung di atas permukaan air (Sungkar, 2005). Jentik biasanya hidup di air bersih yang tergenang, tidak terkena sinar matahari, dan tidak berhubungan langsung dengan tanah. Jentik sering didapatkan pada bak kamar mandi sekolah / mushola / pasar / kantor / rumah bekas, lokasi pengumpulan barang bekas, tempat air untuk menyiram tanaman pada penjual tanaman hias, guci, kendi, dan tempat bunga di pemakaman umum. Jentik akan berubah menjadi kepompong setelah 6-8 hari. Stadium jentik dapat berlangsung selama 6-8 hari. Perkembangan jentik nyamuk tergantung kepada suhu, jenis air, jumlah jentik, dan kadar makanan. Pada suhu yang optimum yaitu sekitar 77oF-84oF (25oC-29oC), jentik menjadi dewasa dalam 5-7 hari. Jentik tidak berkembang dengan wajar pada suhu di atas 90oF (32oC). Untuk pertumbuhan yang optimal, dalam 1 liter air jumlah jentik

maksimum adalah 100 jentik. Jumlah jentik yang terlalu besar akan memperlambat pertumbuhannya karena jentik memerlukan bahan organik dalam molekul kecil.
b. Survey jentik nyamuk Aedes aegypti dilakukan dengan cara sebagai

berikut (Depkes RI, 2005): 1) Semua tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat

perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti diperiksa (dengan mata telanjang) untuk mengetahui ada tidaknya jentik. 2) Untuk memeriksa TPA yang berukuran besar, seperti: bak mandi, tempayan, drum, dan bak penampungan air lainnya. Jika pada pandangan (penglihatan) pertama tidak menemukan jentik, tunggu kira-kira 1 menit untuk memastikan bahwa benar jentik tidak ada. 3) Untuk memeriksa tempat-tempat perkembangbiakan yang kecil, seperti: vas bunga atau pot tanaman air atau botol yang airnya keruh, seringkali airnya perlu dipindahkan ke tempat lain. 4) Untuk memeriksa jentik di tempat yang agak gelap, atau airnya keruh, biasanya digunakan senter. c. Metode survey jentik Metode survey jentik dapat dilakukan dengan cara (Depkes RI, 2005): 1) Single larva: Cara ini dilakukan dengan mengambil satu jentik di setiap tempat genangan air yang ditemukan jentik untuk diidentifikasi lebih lanjut.

2) Visual: Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya jentik di setiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya. Biasanya dalam program DBD menggunakan cara visual. d. Ukuran-ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes: 1) Angka Bebas Jentik (ABJ) Angka Bebas Jentik adalah persentase pemeriksaan jentik yang dilakukan di semua desa/kelurahan oleh petugas pada rumahrumah penduduk yang diperiksa secara acak. 2) House Indeks (HI) House Indeks (HI) adalah persentase rumah yang ditemukan jentik yang dilakukan di semua desa/kelurahan oleh petugas pada rumah-rumah penduduk yang diperiksa secara acak.

3) Container Indeks (CI) Container Indeks (CI) adalah persentase pemeriksaan jumlah kontainer yang diperiksa ditemukan jentik pada kontainer di rumah-rumah penduduk yang diperiksa secara acak.

4) Breteau Indeks (BI) Breteau Indeks (BI) adalah jumlah kontainer yang terdapat jentik dalam 100 rumah.

Container adalah tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk. ABJ dan HI lebih menggambarkan luasnya penyebaran nyamuk di suatu daerah. Tidak ada teori yang pasti ABJ dan HI yang dipakai sebagai standard, hanya berdasarkan kesepakatan, disepakati HI minimal 1% yang berarti persentase rumah yang diperiksa jentiknya positif tidak boleh melebihi 1% atau 99% rumah yang diperiksa jentiknya harus negatif. Ukuran tersebut digunakan sebagai indikator keberhasilan pengendalian nyamuk penularan DBD (Depkes RI, 1998).

3) Pemberantasan jentik (Larvasidasi) Larvasidasi merupakan pemberantasan jentik nyamuk secara kimia dengan menggunakan larvasida. Larvasidasi ini merupakan bagian dari kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) atau Pemantauan Jentik Berkala (PJB) yang dapat dilaksanakan secara perorangan, keluarga, masyarakat, dan petugas PJB dengan sasarannya yaitu tempat yang sulit atau tidak mungkin dikuras. Cara melakukan larvasidasi yaitu dengan

menaburkan bubuk larvasida (abate/temephos/altocid) sebanyak 10 gram pada tempat penampungan air yang terisi air sebanyak 100 liter setiap 2-3 bulan sekali. Terdapat 2 jenis larvasida yang dapat digunakan pada wadah yang dipakai untuk menampung air minum (TPA) yakni: temephos (Abate 1%) dan Insect growth regulators (pengatur pertumbuhan serangga) Untuk pemberantasan larva dapat digunakan abate 1 % SG. Cara ini biasanya digunakan dengan menaburkan abate kedalam bejana tempat

penampungan air seperti bak mandi, tempayan, drum dapat mencegah adanya jentik selama 2-3 bulan. Kegiatan larvasiding meliputi: a. Abatisasi Selektif Abatisasi selektif adalah kegiatan pemeriksaan tempat

penampungan air (TPA) baik didalam maupun diluar rumah pada seluruh rumah dan bangunan di desa/kelurahan endemis dan sporadik dan penaburan bubuk abate (larvasida) pada TPA yang ditemukan jentik dan dilaksanakan 4 kali setahun. Pelaksana abatisasi adalah kader yang telah dilatih oleh petugas Puskesmas.Tujuan pelaksanaan abatisasi selektif adalah sebagai tindakan sweeping hasil penggerakan

masyarakat dalam PSN-DBD. b. Abatisasi Massal Abatisasi massal adalah penaburan abate atau altosid (larvasida) secara serentak diseluruh wilayah/daerah tertentu disemua TPA baik terdapat jentik maupun tidak ada jentik di seluruh rumah/bangunan.

Kegiatan abatisasi massal ini dilaksanakan dilokasi terjadinya KLB DBD. Dalam kegiatan abatisasi massal masyarakat diminta

partisipasinya untuk melaksanakan pemberantasan Aedes aegypti di wilayah masing-masing. Tenaga di beri latihan dahulu sebelum melaksanakan abatisasi, agar tidak mengalami kesalahan. 4) Pemberantasan nyamuk (fogging dan spraying) Fogging yaitu pengasapan untuk membunuh nyamuk dewasa. Tujuan dari fogging adalah membunuh sebagian besar vektor infektif dengan cepat, sehingga rantai penularan segera diputuskan. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk menekan kepadatan vektor selama waktu yang cukup sampai dimana pembawa virus tumbuh sendiri (Ambarwati, 2006). Alat yang digunakan untuk fogging terdiri dari portable thermal fog machine dan ultra low volume ground sprayer mounted. Dalam program pemberantasan DBD racun serangga untuk fogging yang digunakan adalah golongan organophosporester insectisida seperti malathion, sumithion, fenithrothion, perslin, dan lain-lain. malathion, sumithion, fenithrothion, perslin dan lain-lain. Dosis yang dipakai untuk malathion murni adalah 438 gr/hektar. Namun untuk pelaksanaan fogging dengan fog machine malathion harus diencerkan dengan penambahan solar atau minyak tanah sehingga menjadi larutan dengan konsentrasi 4-5%. Cara pembuatan larutan tersebut dapat dilakukan dengan cara: 1) 1 liter malathion 96% EC + 19 liter solar = 20 liter

malathion 4,8%; atau 2) 1 liter malathion 50% EC + 10 liter solar = 11 liter malathion 4,5 %. 5) Pengendalian lalat di kapal atau pelabuhan Survei di pelabuhan menggunakan alat fly grill. Fly grill diletakkan pada tempat yang potensial, misal TPS, kontainer sampah, tempat penjualan makanan, dll. Setelah dilakukan survei kepadatan lalat, selanjutnya adalah menganalisis rekomendasi, jika kepadatan tinggi atau sangat tinggi maka dilaksanakan tindakan pengendalian.

Sedangkan surveilans bertujuan untuk mengetahui keberadaan lalat di kapal, dilakukan dengan di melihat ini secara dilakukan visual adanya lalat

hidup.pengamatan

kapal

bersamaan

dengan

pemeriksaan sanitasi kapal dan pemeriksaan kapal dalam rangka penerbitan SSCC. Apabila ditemukan kehidupan lalat,

direkomendasikan untuk dilakukan tindakan disinseksi. Pengendalian dilakukan dengan menggalakkkan peran serta masyarakat melalui perbaikan lingkungan, penyemprotan dengan efek knock down, dan larvasidasi. 6) Pengendalian kecoa di kapal atau pelabuhan Pengendalian dilakukan dengan menggalakkkan peran serta masyarakat melalui perbaikan lingkungan, penyemprotan dengan efek knock down di pelabuhan/ bandara, dan di kapal. 7) Survey pinjal dan tikus

Dilakukan

dengan

metode

trapping,

kemudian

melakukan

penghitungan kepadatan tikus, dengan rumus:

Kemudian langkah selanjutnya yaitu mengidentifikasi tikus dan pinjal. Setelah itu dihitung jumlah pinjal untuk mengetahui Indeks Pinjal, dengan rumus: = Apabila Indeks Pinjal > 1 dilakukan pemberantasan dengan cara peracunan tikus. 8) Survey lalat dan pemberantasan lalat Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan lalat di kapal dan dilakukan dengan melihat secara visual adanya lalat hidup.

9) Pemeriksaan tikus di kapal Pemeriksaan tanda-tanda kehidupan tikus di atas kapal dilakukan pada saat melakukan perpanjangan SSCC/ SSCEC atau saat kedatangan kapal dari daerah terjangkit/ luar negeri. Tanda-tanda kehidupan tikus dapat berupa adanya bau tikus, sarang, bekas kencing, kotoran, bekas makanan, bangkai, bekas gigitan, bekas jalan dan bekas telapak kaki. Pengendalian dapat berupa pengawasan tindakan pencegahan tikus di kapal, seperti memasang rat guard secara benar pada tali kapal,

mengangkat tangga setinggi 60 cm dari dermaga, menyalakan lampu pada malam hari di tangga kapal, menghindarkan kapal sandar berdampingan. Selain itu, pengawasan dapat berupa tindakan derattisasi. 10) Pemberantasan tikus di kapal (fumigasi) Fumigasi adalah tindakan perlakuan pengendalian hama dengan jalan memasukkan atau melepaskan fumigan kedalam ruangan tertutup/kedap udara selama beberapa waktu yang diperlukan dengan dosis dan konsentrasi tertentu, dapat mematikan hama di gudang, bangunan, pesawat udara dan kapal laut (Siswanto, H, 2003). Fumigasi kapal adalah suatu upaya pengendalian hama yang mutlak harus dilakukan pada sebuah kapal baik kapal penumpang, kapal cargo atau jenis kapal lainnya. Fumigasi kapal dilakukan apabila : a. Hasil pemeriksana adanya tanda-tanda kehidupan tikus dan atas permintaan pihak kapal (nakhoda/pemilik). b. Dilakukan apabila dalam pemeriksaan dijumpai adanya tandatanda kehidupan tikus. c. Kegunaannya adalah untuk melakukan hapus tikus/serangga diatas kapal sebagai syarat untuk mendapatkan dokumen kesehatan Internasional (Surat Keterangan Bebas Pengawasan Sanitasi Kapal).

d. Bila fumigasi dilakukan, harus ditentukan fumigan yang dipakai (HCN,CH3Br atau CO2). 11) Pemberantasan serangga di pesawat (desinseksi) b. Pembinaan sanitasi lingkungan 1. Inspeksi sanitasi pelabuhan/bandara 2. Inspeksi sanitasi kapal Dalam melaksanakan pemeriksaan sanitasi kapal petugas KKP ditemani awak kapal. Setelah melakukan analisis dan menetapkan rekomendasi hasil pemeriksaan, tindak lanjut yang dilakukan adalah dalam bentuk penerbitan SSCEC dan tindakan penyehatan untuk penerbitan SSCC. 3. Inspeksi sanitasi pesawat Pada dasarnya pemeriksaan pesawat udara adalah : a. b. c. Pemeriksaan kebersihan pesawat Pengawasan persediaan makanan dan air Pemeriksaan keberadaan serangga dan vektor (di dalam pesawat harus bebas serangga dan tikus) 4. Uji petik sampel limbah Pelaksanaan Uji Petik terutama dilakukan dalam rangka menjamin apakah pelaksanaan di lapangan telah sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan c. Jejaring kerja 1. Inspeksi sanitasi tempat pengelolaan makanan

Inspeksi sanitasi tempat pengelolaan makanan bertujuan untuk mengurangi resiko terjadinya penyakit dan penularan penyakit pada orang yang mengkonsumsi, terutama masyarakat pelabuhan, bandara, para penumpang, dan crew alat angkut. 2. Inspeksi sanitasi hotel dan penginapan Berdasarkan Kepmenkes RI No. 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan industry parameter yang diukur meliputi : air bersih, kebersihan, udara ruangan (suhu dan kelembaban, debu, pertukaran udara, gas pencemar, mikrobiologi), limbah, pencahayaan, kebisingan di ruangan, getaran di ruangan, radiasi di ruangan, vektor penyakit, ruang dan bangunan, toilet dan instalasi. 3. Uji petik sampel makanan dan minuman di kapal penumpang Pengambilan sampel ini dilakukan bersamaan dengan pengawasan leveransir/ supplier bahan makanan. Bila ada bahan makanan yang mencurigakan, diambil sampel dan diperiksa di laboratorium. Pengambilan sampel dilakukan secara aseptis. 4. Uji petik sampel makanan dan minuman di TPM Petugas KKP mengambil makanan dan spesimen TPM yang terdiri dari sampel makanan, usap tangan, usap dubur dan usap alat makanan dan sampel air. Kemudian sampel tersebut dikirim ke laboratorium. 5. Pemeriksaan dan pengambilan sampel air di kapal dan pelabuhan

Pengawasan penyediaan air bersih adalah pengawasan terhadap sarana penyediaan air bersih, kualitas air (fisik, kimia, dan bakteriologis), dan tindak lanjut di pelabuhan maupun di kapal. Ruang lingkup pengawasan meliputi sumber, reservoir, pipa distribusi, hydran, gerobak air, perahu air/mobil air dan didistribusikan ke kapal, mobil air lalu ke pesawat udara, tempat-tempat umum lainnya. Pemeriksaan kualitas air dilakukan di lapangan atau laboratorium, dan hasilnya adalah sertifikat kesehatan air yang diberikan kepada pihak pengelola. d. Kemitraan 1. Penyuluhan dan penyebaran informasi (PSN DBD) Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada seluruh masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit yaitu melalui kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). 2. Pengembangan pelabuhan sehat Pelabuhan sehat merupakan suatu keadaan dimana pelabuhan bebas terhadap faktor resiko penyakit 3. Pengukuran kualitas udara Pengukuran ini dilakukan pada lokasi yang dekat dengan sumber pencemaran dengan alat Midget Impinge Meter / Gas Detektor : a. Bandara : apron, halaman parker bandara, jalan dan lingkungan perumahan. b. Pelabuhan : dermaga, jalan raya, pabrik, terminal penumpang/peti kemas, dan gudang.

4. Pengukuran kebisingan Tujuan dari pengukuran kebisingan adalah untuk mencegah terjadinya faktor risiko akibat kebisingan yang melebihi nilai ambang batas (NAB) yang dipersyaratkan. Disamping itu masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di lingkungan pelabuhan/bandara merasa aman dan nyaman. Menurut Men KLH Np Kep 48/MENLH/11/1996, ada 2 netode pengukuran yaitu : a. Cara Sederhana Dengan sebuah Sound Level Meter biasa diukur pada tingkat bising (DBA) selama 10 menit, untuk pengukur pembacaan dilakukan selama 5 detik. b. Cara Langsung Dengan sebuah Integreting Level Meter yang mempunyai fasilitas pengukuran (Lms) yaitu (Leq) dengan waktu ukur 5 detik dilakukan selama 10 menit, hanya waktu pengukuran dilakukan selama 24 jam (Lsm) dengan cara : 1) Pada siang hari tingkat aktivitas paling tinggi selama 16 jam (Ls) pada selang waktu 06.00-22.00 2) Pada aktivitas malam selama 8 jam (Lm) selang 22.00-06.00 5. Wawancara melalui kuesioner terhadap dampak kebisingan. 6. Pengukuran pencahayaan

e.

Kajian 1. Pengukuran radiasi 2. Penyelenggaraan laboratorium

f.

Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) 1. Orientasi teknis pengendalian risiko lingkungan 2. Orientasi entomologi teknis 3. Orientasi teknis kebisingan 4. Pelatihan manajemen PRL 5. Pelatihan fumigasi 6. Pelatihan sanitasi dasar

g. Analisa data

2.2.3 Seksi Upaya Kesehatan Lintas Wilayah Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah (UKLW) memiliki tugas untuk melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit-penyakit karantina dan PHEIC melalui kapal, orang dan barang, melaksanakan pelayanan kesehatan terbatas di pelabuhan, serta melaksanakan penanggulangan kesehatan matra, kesehatan kerja di pelabuhan. Sedangkan fungsi dari seksi UKLW adalah melakukan pengamatan penyakit menular, melakukan imunisasi/vaccinatie (meningitis, yellow fever, dan thypoid), melakukan pemeriksaan dan pemberian ICV (International Certificate Vacsination), melakukan pengujian kesehatan ABK dan penjamah makanan, melakukan pelayanan kesehatan terbatas, pengasingan penderita penyakit karantina, melaporkan KLB ke instansi

berwenang, serta membantu melaksanakan penanggulangan KLB/ Kesehatan Matra. a. Pelayanan kesehatan terbatas, rujukan dan gawat darurat medik di wilayah kerja bandara,pelabuhan, dan lintas batas darat negara. Bahwa semakin meningkatnya aktivitas di bandara, pelabuhan, dan lintas batasdarat negara berkaitan dengan transmisi penyakit potensial wabah serta penyakitlainnya yang berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan yang meresahkan dunia. Oleh sebab itu sangat perlu adanya pelayanan kesehatan terbatas, rujukan dan gawat darurat medik di wilayah kerja KKP. (Kepmenkes Tahun 2008) b. Pemeriksaan kesehatan haji, kesehatan kerja, kesehatan matra di wilayah kerja bandara,pelabuhan, dan lintas batas darat negara.Pemeriksaan kesehatan haji, kesehatan matra diwilayah kerja KKP merupan kewajiban yang harus dipenuhi oleh seksi UKLW/ Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah. Hal itu dimaksudkan agar tetap terjaganya kesehatan haji dan mencegah masuknya suatu penyakit ke wilayah Indonesia dari aktifitas perjalanan ke luar negeri oleh peserta haji maupun orang dengan perjalanan ke luar negeri. c. Pengujian kesehatan nahkoda/pilot dan anak buah kapal/pesawat udara serta penjamah makanan Berdasarkan tugas khusus seksi UKLW / Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah, maka kesehatan nahkoda kapal, ABK maupun pilot wajib dijamin oleh KKP melalui seksi UKLW/ Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah. d. Vaksinasi dan penerbitan sertifikat vaksinasi internasional.\

Pentingnya vaksinasi bagi traveller termasuk jamaah haji/umroh sebagai perlindungan dari penyakit-penyakit menular tertentu yang dapat dicegah melalui vaksinasi/imunisasi. Disampaikan bahwa selain melindungi individu, vaksinasi juga melindungi keluarga, masyarakat dari penyebaran penyakit tertentu yang potensial wabah. Dan lebih luas lagi, vaksinasi juga melindungi negara terhadap ancaman masuknya penyakit yang endemis di negara lain. Dengan kata lain bahwa vaksinasi internasional adalah bagian dari upaya menjaga kesehatan negara. e. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat Negara Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat Negara dimaksudkan untuk tetap menjaga kesehatan Negara dari ancaman penyakit yang memungkin masuk ke wilayah negara. Dengan kerja sama jejaring dan kemitraan, maka diharapkan dapat berkoordinasi dengan baik untuk menjaga kesehatan Negara. f. Pengawasan pengangkutan orang sakit dan jenazah di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara, serta ketersediaan obat-

obatan/peralatan P3K di kapal/pesawat udara/alat transportasi lainnya. Pengawasan pengangkutan orang sakit dan jenazah di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara, serta ketersediaan obatobatan/peralatan P3K di kapal/pesawat udara/alat transportasi lainnya. Pengawasan itu dimaksudkan untuk mengantisipasi potensi wabah yang dibawa oleh orang sakit maupun jenazah yang meninggal di dalam kapal atau

pesawat, sehimgga KKP mampu menepis adanya wabah yang kemungkinan bisa menggangu kesehatan Negara. g. Kajian dan pengembangan teknologi serta pelatihan teknis bidang upaya kesehatan dan lintas wilayah Kajian dan pengembangan teknologi serta pelatihan teknis bidang upaya kesehatan dan lintas wilayah merupakan suatu fungsi dan tugas pokok dari seksi UKLW yang dimaksudkan agar para staf mampu menggunakan tekhnologi dengan baik dan mengetahui tugas pokok sebagai seksi UKLW sehingga dapat melaksanakan surveilans dan pembuatan system laporan yang baik dalam upaya penyehatan lintas wilayah. h. Penyusunan laporan di bidang upaya kesehatan dan lintas wilayah. Seksi Kesehatan Matra dan Lintas Wilayah mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perencanaan,pemantauan, evaluasi, penyusunan laporan, dan koordinasi pelaksanaan vaksinasi dan penerbitan sertifi-kasi vaksinasi international (ICV), pengawasan pengangkutan orang sakit dan jenazah, kesehatan matra,kesehatan haji, perpindahan penduduk, penanggulangan bencana, pelayanan kesehatan terbatas, ruju-kan gawat darurat medik, pengembangan jejaring kerja, kemitraan, dan teknologi, serta pelatihan teknisbidang kesehatan matra di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat Negara.

2.2.4 Sub Bagian Tata Usaha Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas seperti:

1. Melakukan Penyusunan Program Untuk mengantisipasi perkembangan dan tuntutan organisasi dan tata kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang dalam melaksanakan tupoksinya, telah disusun berbagai program yang berkaitan dengan pelaksanaan kegaiatan, anggaran, sumberdaya manusia dan sarana prasarana penunjang lainnya dengan melibatkan seluruh jajaran Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang diantaranya : a. Rencana Aksi Kegiatan (RAK) b. Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKAKL) c. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

2. Pengelolaan Informasi, Evaluasi dan Laporan Untuk keperluan pengelolaan informasi, evaluasi, dan laporan, KKP Kelas II Semarang telah menggunakan sistem informasi berbasis komputer. Adapun sistem informasi yang digunakan meliputi : a. SIMKA (Sistem Informasi Kepegawaian) b. Sistem Informasi Keuangan Terintegrasi c. SISKOHATKES (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu Bidang Kesehatan) d. SIMKESPEL (Sistem Informasi Kesehatan Pelabuhan) e. SIMKKP (Sistem Informasi Manajemen Kantor Kesehatan Pelabuhan)

Berikut adalah hasil dan analisa dari penerapan sistem informasi tersebut: 1. SIMKA (Sistem Informasi Kepegawaian) Dalam upaya meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengelolaan data pegawai, Biro Kepegawaian Kementerian Kesehatan

mengembangkan aplikasi SIMKA (Sistem Informasi Kepegawaian). SIMKA digunakan secara online melalui jaringan internet. SIMKA memuat data pegawai secara lengkap dan memberikan fasilitas manajemen dan pelaporan data kepegawaian. 2. Sistem Informasi Keuangan Terintegrasi Sistem informasi keuangan dikembangkan oleh Kementerian Keuangan. Sistem ini diterapkan di seluruh instansi pemerintah dengan tujuan meningkatkan akuntabilitas, efektifitas dan efisiensi laporan keuangan pemerintah. Sistem informasi keuangan terdiri atas beberapa

program/aplikasi, yaitu: a) RKAKL (Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga) Aplikasi ini digunakan untuk menyusun dokumen anggaran dan kegiatan. b) SPM (Surat Perintah Membayar) Aplikasi ini digunakan untuk mencetak Surat Perintah Membayar. SPM tersebut diserahkan ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) dalam setiap realisasi anggaran. c) GPP (Gaji Pokok Pegawai)

Aplikasi ini digunakan untuk menyusun gaji pegawai. d) SAI (Sistem Akuntansi Instansi) Aplikasi ini digunakan untuk mengelola anggaran. Setiap bulan data dalam SAI direkonsiliasi dengan KPPN dan Koordinator Wilayah I di tingkat Propinsi. e) SABMN (Sistem Akuntansi Barang Milik Negara) Aplikasi ini digunakan untuk mengelola Barang Millik Negara. Setiap bulan data dalam SABMN dikirim ke aplikasi SAI sebagai dasar penyusunan neraca. 3. SISKOHATKES (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu Bidang Kesehatan) SISKOHATKES adalah aplikasi yang dibangun oleh Departemen Kesehatan. Direktorat Jenderal PP&PL. Subdit Kesehatan Haji untuk pengelolaan data kesehatan haji. Operasionalnya dilakukan secara online menggunakan jaringan internet. Sampai sekarang Siskohatkes masih digunakan dalam kegiatan embarkasi dan debarkasi haji. 4. SIMKESPEL (Sistem Informasi Kesehatan Pelabuhan) Simkespel dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan. Direktorat Jenderal PP&PL. Subdit Karantina dan Kesehatan Pelabuhan dengan tujuan membangun sistem informasi yang menghubungkan Direktorat Jenderal PP&PL dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan se-Indonesia selaku unit vertikalnya. Simkespel berfungsi sebagai media yang memuat

informasi terbaru baik dari Pusat maupun KKP, media komunikasi, dan media pelaporan atas kegiatan-kegiatan yang terlaksana di KKP. 5. SIMKKP Pelabuhan) Tujuan SIM-KKP adalah membangun suatu sistem informasi yang teritegrasi antara kantor induk dan wilayah kerja dalam satu lingkungan Kantor Kesehatan Pelabuhan yang menunjang kinerja KKP baik secara teknis maupun administratif. 6. Urusan-urusan tata usaha Kegiatan bidang urusan tata usaha yang dilakukan adalah pengarsipan surat dan administrati penyelenggaraan kegiatan haji. 7. Keuangan Anggaran yang disusun dan dikelola berdasarkan kebutuhan yang dirasionalisasi menurut skala prioritas dan rencana kebutuhan, dengan mengikutsertakan semua komponen di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Semarang dan mempertimbangkan anggaran yang tersedia, serta tidak lepas dari peraturan perundangan yang berlaku. 8. Kepegawaian Urusan kepegawaian meliputi kegiatan administratif yang berkaitan dengan pengelolaan pegawai. Pengelolaan yang dimaksud meliputi penyusunan formasi kebutuhan dan distribusi, pengajuan usulan yang berkaitan dengan jenjang karier, klasifikasi dan pengolahan data, serta peningkatan kualitas pegawai. (Sistem Informasi Manajemen Kantor Kesehatan

9. Perlengkapan dan rumah tangga Kegiatan utama bidang perlengkapan dan rumah tangga adalah pengelolaan inventaris kantor serta pengadaan barang dan jasa. Peran tata usaha diantaranya: a. Perencanaan program dan kegiatan berdasarkan masukan dari ketua sie, penanggung jawab wilker, kebijakan yang ditetapkan b. Kelengkapan sarana dan prasarana penunjang sesuia alokasi anggaran dan skala prioritas c. Meningkatan manajemen program secara terencana, sistematis, berkelanjutan, efektif dan efisien d. Meningkatkan koordinasi lintas program dan lintas sektoral, jejaring kerja dan kemitraan e. Meningkatkan manajemen kepegawaian, keuangan, perlengkapan dan pelaporan f. Peningkatan Sumber daya manusia yang berkualitas.