Anda di halaman 1dari 22

BENJOLAN PADA LEHER Skenario 1 Seorang laki-laki 50 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan benjolan pada leher bagian

lateral kiri, yang dirasakan sejak 4 bulan yang lalu.Benjolan ini mula-mula kecil, yang kemudian membesar dengan cepat. Benjolan teraba keras tetapi tidak nyeri. Penderita mengeluh telinga berdengung di sebelah kiri. Kata Kunci 1. Laki-laki 50 tahun 2. Benjolan leher, lateral kiri 3. 4 bulan yang lalu 4. Membesar dengan cepat 5. Benjolan keras 6. tidak nyeri 7. telinga berdengung, sebelah kiri Pertanyaan 1. Jelaskan Anatomi kelenjar limfa leher ? 2. Sebutkan penyakit-penyakit dengan tanda benjolan pada leher ? 3. Jelaskan faktor-faktor yang dapat menyebabkan benjolan pada leher ? 4. Bagaimana patogenesis terjadinya benjolan pada leher yang bersifat progresif ? 5. Bagaimana patomekanisme gejala yang terjadi pada skenario di atas ? 6. Jelaskan langkah-langkah diagnosis dari scenario tersebut ? 7. Jelaskan differential diagnosis yang terjadi pada skenario ?

Jawaban 1. Anatomi leher dan kelenjar limfa leher ? Leher merupakan bagian dari tubuh manusia yang terletak di antara thoraks dan caput. Batas disebelah cranial adalah basis mandibula dan suatu garis yang ditarik dari angulus mandibula menuju ke procesus mastoideus, linea nucrae suprema sampai ke protuberantia occipitalis eksterna. Batas kaudal dari ventral ke dorsal dibentuk oleh incisura jugularis sterni, klavikula, acromion, dan suatu garis lurus yang menghubungkan kedua acromion.

Gambar 1. Anatomi leher Leher dibagi oleh musculus sternokleidomastoideus menjadi trigonum anterior atau medial dan trigonum posterior atau lateral.

1. Trigonum anterior : di anterior dibatasi oleh sternokleidomastoideus, linea mediana leher dan mandibula, terdiri dari : a) Trigonum muscular : dibentuk oleh linea mediana, musculus omohyoid venter superior, dan musculus sternokleidomastoideus. b) Trigonum caroticum : dibentuk oleh musculus omohyoid venter superior, musculus sternokleidomastoideus, musculus digastricus venter posterior. c) Trigonum submentale : dibentuk oleh venter anterior, musculus digastricus, os.hyoid dan linea mediana. d) Trigonum submandibulare : dibentuk oleh mandibula, venter superior, musculus digastricus, dan venter anterior musculus digastricus. 2. Trigonum posterior : dibatasi superior oleh musculus sternokleidomastoideus, musculus trapezius dan clavicula,terdiri dari : a) Trigonum supraclavicular : dibentuk oleh venter inferior musculus omohyoid, clavicula dan musculus sternokleidomastoideus. b) Trigonum occipitalis : dibentuk oleh venter inferior musculus omohyoid, musculus trapezius dan musculus sternokleidomastoideus.

Gambar 2. Trigonum anatomicum

Anatomi Kelenjar Limfe Leher Sekitar 75 buah kelenjar limfa terdapat pada setiap sisi leher, kebanyakan berada pada rangkaian jugularis interna dan spinalis asesorius.Kelenjar limfa yang selalu terlibat dalam metastasis tumor adalah kelenjar limfa pada rangkaian jugularis interna, yang terbentang anatar klavikula sampai dasar terngkorak.Rangkaian jugularis interna ini dibagi dalam kelompok superior, media, dan inferior.Kelompok kelenjar limfa yang lain adalah submental, submandibula, servikalis superficial, retrofaring, paratrakeal, spinalis asesorius, skalenus anterior dan supraklavikula. Kelenjar limfe servical dibagi kedalam gugusan superficial dan gugusan profunda.Kelenjar limfe superficial menembus lapisan pertama fascia servikal masuk kedalam gugusan kelenjar limfe profunda.Meskipun kelenjar limfe nodus kelompok superficial lebih sering terlibat dengan metastasis, keistimewaan yang dimiliki kelenjar kelompok ini adalah sepanjang stadium akhir tumor, kelenjar limfe nodus kelompok ini masih signifikan terhadap terapi pembedahan. Kelenjar limfe profunda sangat penting sejak kelenjar-kelenjar kelompok ini menerima aliran limfe dari membrane mukosa mulut, faring, laring, glandula saliva dan glandula thyroidea sama halnya pada kepala dan leher. Hampir semua bentuk radang dan keganasan pada kepala leher akan melibatkan kelenjar getah bening leher bila ditemukan pembesaran kelenjar getah bening di leher, perhatikan ukurannya, apakah nyeri atau tidak, bagaimana konsistensinya, apakah lunak kenyal atau keras, apakah melekat

pada dasar atau kulit. Menurut Sloan Kattering Memorial Cancer Center Classification, kelenjar getah bening leher dibagi atas 5 daerah penyebaran.

Gambar 3. Daerah penyebaran kelenjar limfe leher Daerah Kelenjar Limfa Leher Letak kelenjar limfa leher menurut Sloan Kattering Memorial Cancer Center Classification, dibagi dalam lima daerah penyebaran kelompok kelenjar, yaitu daerah : I. II. III. Kelenjar yang terletak di segitiga sub-mental dan submandibula. Kelenjar yang terletak di 1/3 atas dan termasuk kelenjar limfa jugular superior, kelenjar digastrik dan kelenjar servikal posterior superior. Kelenjar lumfa jugularis di antara bifurkasio karotis dan persilangan m.omohioid IV. V. dengan m.sternokleidomastoid dan batas posterior m.sternokleidomastoid. Grup kelenjar di daerah jugularis inferior dan supraklaviula Kelenjar yang berada di segitiga posterior servikal.

Gambar 4. Penyebaran kelenjar limfe dikepala dan leher a. Kelenjar limfe occipitalis terletak diatas os occipitalis pada apeks trigonum cervicalis posterior. Menampung aliran limfe dari kulit kepala bagian belakang. Pembuluh limfe efferen mencurahkan isinya kedalam kelenjar limfe cervicalis profundi. b. Kelenjar limfe retroaurikular terletak diatas permukaan lateral processus mastoideus. Mereka menampung limfe sebagian kulit kepala diatas auricular dan dari dinding posterior meatus acusticus externus. Pembuluh limfe eferen mencurahkan isinya kedalam kelenjar limfe cervicalis profundi. c. Kelenjar limfe parotid terletak pada atau di dalam glandula parotis. Menampung limfe dari sebagian kulit kepala di atas glandula parotis, dari permukaan lateral auricular dan dinding anterior meatus acusticus

externus, dan dari bagian lateral palpebra. Pembuluh limfe eferen mencurahkan isinya ke dalam kelenjar limfe cervicalis profundi. d. Kelenjar limfe jugualris interna superior menerima aliran limfa yang berasal dari daerah palatum mole, tonsil, bagian posterior lidah, dasar lidah, sinus piriformis dan supraglotik laring. Juga menerima aliran limfa yang berasal dari kelenjar limfa retrofaring, spinalis asesorius, parotis, servikalis superficial dan kelenjar limfa submandibula. e. Kelenjar limfe jugularis interna media menerima aliran limfa yang berasal langsung dari subglotik laring, sinus piriformis bagian inferior dan daerah krikoid posterior. Juga menerima aliran ,imfa yang berasal dari kelenjar limfa jugularis interna superior dan kelenjar limfa retrofaring bagian bawah. f. Kelenjar limfe jugularis interna inferior menerima aliran limfa yang berasal langsung dari glandula tiroid, trakea, esophagus bagian servikal. Juga menerima aliran limfa yang berasal dari kelenjar limfa jugualris interna superior dan media, dan kelenjar limfa paratrakea. g. Kelenjar limfe submental, terletak pada segitiga submental di antara platisma dan m.omohioid di dalam jaringan lunak. Pembulubh aferen menerima aliran limfa yang erasal dari dagu, bibir bawah bagian tengah, pipi, gusi, dasar mulut bagian depan dan 1/3 bagian bawah lidah. Pembuluh eferen mengalirkan limfa ke kelenjar limfa submandibula sisi hiomolateral atau kontralateral, kadang-kadang dapat langsung ke rangkaian kelenjar limfa jugularis interna. h. Kelenjar limfe submandibula, terletak di sekitar kelenjar liur

submandibula dan di dalam kelenjar liurnya sendiri. Pembuluh aferen menerima aliran limfa yang berasal dari kelenjar liur submandibula, bibir artas, bagian lateral bibir bawah, rongga hidung, bagian anterior rongga mulut, bagian medial kelopak mata, palatum mole dan 2/3 depan lidah. Pembuluh eferen mengalirkan limfa ke kelenjar jugularis interna superior.

i. Kelenjar limfe servical superficial terletak di sepanjang vena jugularis eksterna, menerima aliran limfe yang berasal dari kulit muka, sekitar kelenjar parotis, daerah retroaurikula, kelenjar parotis dan kelenjar limfe occipital. Pembuluh eferen mengalirkan limfe ke kelenjar limfe jugularis interna superior. j. Kelenjar limfa retrofaring, terletak di antara faring dan fasia prevertebra, mulai dari dasar tengkorak sampai ke perbatasan leher dan toraks. Pembuluh aferen menerima aliran limfa dari nasofaring, hipofaring, telinga tengah dan tuba Eustachius. Pembuluh eferen mengalirkan limfa ke kelenjar limfa jugularis interna dan kelenjar limfa spinal asesoris bagian superior. k. Kelenjar limfa paratrakea, menerima aliran limfa yang berasal dari laring bagian bawah, hipofaring, esophagus bagian servikal, trakea bagian atas dan tiroid. Pembuluh eferen mengalirkan limfa ke kelenjar limfa jugularis interna inferior atau kelenjar limfa mediastinum superior. l. Kelenjar limfa spinal asesoris, terletak di sepanjang saraf spinal asesoris, menerima aliran limfa yang berasal dari kulit kepala bagian parietal dan bagian belakang leher. Kelenjar limfa parafaring menerima aliran limfa dari nasofaring, orofaring dan sinus paranasal. Pembuluh eferen mengalirkan limfa ke kelenjar limfa supraklavikula. m. Rangkaian kelenjar limfa jugularis interna mengalirkan limfa ke trunkus jugularis dan selanjutnya masuk ke duktus torasikus untuk sisi sebelah kiri, dengan untuk sisi yang sebelah kanan masuk ke duktus limfatikus kanan atau langsung ke system vena pada pertemuan vena jugularis interna dan vena subklavia. Juga duktus torasikus dan duktus limfatikus kanan menerima aliran limfa dari kelenjat supraklavikula. n. Kelenjar supraclavicular terletak di dalam cekungan diatas clavicula, lateral dan persendian sternum. Menerima aliran dari bagian cavum thoraks dan abdomen.

2. Sebutkan penyakit-penyakit dengan tanda benjolan pada leher ? Secara umum benjolan di daerah leher, disebabkan oleh lima kelainan atau penyebab utama yaitu : a. Kelainan congenital b. Infeksi c. Neoplasma d. Trauma e. Kelainan lainnya Bahaya benjolan di leher dapat berupa benjolan yang timbul sejak lahir atau timbul pada usia kanak-kanak bahkan terkadang muncul setelah usia dewasa. Pada kelainan ini, benjolan yang paling sering terletak di leher samping bagian kiri atau kanan sebelah atas dan juga di tengah-tengah di bawah dagu. Ukuran benjolan bisa kecil beberapa cm tetapi juga bisa sebesar bola tenis. Kelainan congenital yang sering terjadi di daerah leher antara lain adalah hygroma colli, kista branchial, kisa ductus thyroglossus. Hygroma colli adalah kelainan bawaan lahir akibat adanya gangguan saluran limfe, biasanya muncul sejak lahir dan makin bertambah besar dengan bertambahnya usia, bahkan bisa sampai ukuran bola tenis atau lebih, biasanya benjolan agak lunak. Kista ductus thyroglossus, benjolannya umumnya di garis tengah leher diantara bawah dagu sampai kelenjar thyroid. Pada kelainan ini bisa muncul pada masa kank-kanak atau setelah usia dewasa. Benjolannya berisi cairan.

Kista branchial seperti kista thyroglossus, juga berisi cairan, namun letaknya paling sering di samping leher. Infeksi pada daerah leher dapat berupa infeksi akut atau infeksi menahun. Biasanya, infeksi akut disertai dengan adanya gejala panas badan, rasa sakit dan adanya warna kemerahan pada benjolan tersebut. Infeksi menahun atau kronis yang paling sering ditemukan adalah benjolan akibat penyakit TBC kelenjar. Pada TBC kelenjar benjolan dapat berupa benjolan kecil ukuran beberapa mm sampai ukuran cm, bisa hanya satu buah namun juga dapat langsung beberapa buah an paling sering terletak di samping leher kiri atau kanan, bahkan kadang disamping leher kiri dan kanan sekaligus. Neoplasma adalah penyakit pertumbuhan sel. Neoplasma terdiri dari selsel baru yang memunyai bentuk, sifat dan kinetika berbeda dari sel normal asalnya. Pertumbuhannya liar, autonom dan terlepas dari kendali pertumbuhan sel normal. Neoplasma ini ada yang bersifat jinak dan ada yang bersifat gnas atau biasa disebut kanker. Kanker yang asal pertumbuhannya memang berawal dari daerah leher itu sendiri, misalnya yang paling sering adalah struma, kanker jaringan lunak yang berasal dari otot dan jaringan lunak lainnya di leher. Kanker yang terjadi di daerah leher, namun sebenarnya kanker induknya asalnya ada di tempat lain, dengan kata lain merupakan metastasis tumor dari kanker di tempat lain yang letaknya bukan di leher. Contoh pada kanker jenis ini adalah kanker nasofaring, kanker di daerah kepala, kanker di rongga mulut, yang umumnya menyebabkan metastasis berupa adanya benjolan di leher samping atas sedikit dibawah telinga kiri atau kanan. Juga kanker-kanker dari organ yang jauh seperti kanker paru, kanker saluran pencernaan, kanker saluran kemih, kanker payudara, kanker alat genitalia wanita yang dapat memberikan metastasis berupa adanya benjolan diatas tulang selangka atau supraclavicula, terutama di sebelah kanan. Kanker di daerah leher yang sebenarnya merupakan penyakit sistemik yang dapat terjadi di seluruh tubuh, yaitu limfoma maligna.

Trauma di daerah leher bisa terjadi akibat benturan benda tumpul sehingga terjadi bekuan darah atau hematom dan membentuk benjolan seperti tumor.

3. Jelaskan faktor-faktor predisposisi yang dapat menyebabkan benjolan pada leher ? Ada 3 faktor penyebab terjadinya benjolan pada leher, yaitu adanya infeksi Virus Epstein Barr (EBV), faktor genetik, dan faktor lingkungan yang memungkinkan terjadinya insidens ini. a. Virus Epstein Barr (EBV) Pada hampir semua kasus kanker telah mengaitkan terjadinya kanker nasofaring dengan keberadaan virus ini. Virus ini merupakan virus DNA yang diklasifikasi sebagai anggota famili virus Herpes yang saat ini telah diyakini sebagai agen penyebab beberapa penyakit yaitu, mononucleosis infeksiosa, penyakit Hodgkin, limfoma-Burkitt dan kanker nasofaring. Virus ini seringkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya tetapi juga dapat dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit.Virus tersebut masuk ke dalam tubuh dan tetap tinggal di sana tanpa menyebabkan suatu kelainan dalam jangka waktu yang lama. Untuk mengaktifkan virus ini dibutuhkan suatu mediator. Jadi, adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk menimbulkan proses keganasan.

b. Faktor Genetik Telah banyak ditemukan kasus herediter dari pasien karsinoma nasofaring. Penelitian pertama menemukan adanya perubahan genetik pada ras Cina yang dihubungkan dengan karsinoma nasofaring adalah penelitian tentang Human Leucocyte Antigen (HLA). Perubahan genetik mengakibatkan proliferasi sel-sel kanker secara tidak terkontrol. Beberapa perubahan genetik ini sebagian besar akibat mutasi, putusnya kromosom, dan kehilangan sel-sel somatik. Teori tersebut didukung dengan adanya studi epidemiologik mengenai angka kejadian dari kanker nasofaring. Kanker nasofaring banyak ditemukan pada masyarakat keturunan Tionghoa. c. Faktor Lingkungan Ikan yang diasinkan kemungkinan sebagai salah satu faktor etiologi terjadinya kanker nasofaring. Teori ini didasarkan atas insiden kanker nasofaring yang tinggi pada nelayan tradisionil di Hongkong yang mengkonsumsi ikan kanton yang diasinkan dalam jumlah yang besar dan kurang mengkonsumsi vitamin, sayur, dan buah segar. Faktor lain yang diduga berperan dalam terjadinya kanker nasofaring adalah debu, asap rokok, uap zat kimia, asap kayu bakar, asap dupa, serbuk kayu industri, dan obat-obatan tradisional, tetapi hubungan yang jelas antara zat-zat tersebut dengan kanker nasofaring belum dapat dijelaskan.

Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan alami (chinese herbal medicine atau CHB) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara terjadinya kanker nasofaring, infeksi Virus Epstein Barr (EBV), dan penggunaan CHB. Kebiasaan merokok dalam jangka waktu yang lama juga mempunyai resiko yang tinggi menderita kanker nasofaring. 4. Bagaimana patogenesis terjadinya benjolan pada leher yang bersifat progresif ? Ada banyak factor yang dapat menyebabkan timbulnya benjolan pada leher, seperti trauma, infeksi, hormone, neoplasma dan kelainan herediter. Factor-faktor ini bekerja dengan caranya masing-masing dalam menimbulkan benjolan.Hal yang perlu ditekankan adalah tidak selamanya benjolan yang ada pada leher timbul karena kelainan yang ada pada leher.Tidak jarang kelainan itu justru berasal dari kelainan sistemik seperti limpoma atau TBC. Hampir semua struktur yang ada pada leher dapt mengalami benjolan entah itu kelenjar tiroid, paratiroid dan getah bening, maupun benjolan yang berasal dari struktur jaringan lain seperti lemak, otot dan tulang. Infeksi dapat menimbulkan benjolan pada leher melalui beberapa cara yang diantaranya berupa benjolan yang berasal dari invasi bakteri langsung pada jaringan yang terserang secara langsung maupun benjolan yang timbul sebagai efek dari kerja imunitas tubuh yang bermanifestasi pada pembengkakan kelenjar getah bening. Sedangkan mekanisme timbulnya benjolan akibat neoplasma itu dari otot, sel limfoid, tulang maupun kelenjar secara umum hampir sama. Awalnya terjadi dysplasia dan metaplasia pada sel matur akibat berbagai factor sehingga differensiasi sel tidak lagi sempurna.Dysplasia ini menimbulkan sejumlah kelainan fisiologs molekuler seperti peningkatan laju pembelahan sel dan inaktifasi mekanisme bunuh diri sel terprogram.Hal ini berakibat pada

proliferasi sel tak terkendali yang bermanifestasi pada timbulnya benjolan pada jaringan.Neoplasma dapat terjadi pada semua sel yang ada dileher entah itu kelenjar tiroid, adenoma tiroid, lemak-lipoma, kartilago-kondroma, jaringanlimfe limpoma, maupun akibat dari metastase kanker dari organ diluar leher.

5. Bagaimana patomekanisme gejala yang terjadi pada skenario di atas ? Mekanisme Telinga berdengung : Neoplasma di resessus faringeus & dinding lateral nasofaring menekan tuba eustachia, menyebabkan tekanan negatif yang menghambat udara sehingga telinga berdengung. Mekanisme tidak terasa nyeri : Rasa nyeri timbul karena adanya perangsangan pada reseptor nosispetik. Pada skenario tidak dirasakan nyeri disebabkan benjolan tersebut bukan karena proses infeksi sehingga reseptor nyeri tidak tertekan . Tetapi apabila massa tersebut menekan saraf disekitarnya maka akan menimbulkan nyeri ( stadium lanjut ). 6. Jelaskan langkah-langkah diagnosis dari scenario tersebut ? Anamnesis Pada skenario di atas pasien tersebut datang dengan keluhan benjolan pada leher bagian lateral kiri. Menggali keluhan utama pasien. Tanyakan: a. Onset nya ( sejak kapan benjolan tersebut mulai muncul?) b. Lokasi benjolan tersebut dimana ? c. Apakah hanya ada 1 benjolan pada tempat tersebut?

d. Apakah benjolan tersebut membesar dengan cepat? e. Apakah pasien merasakan nyeri pada benjolan tersebut? f. Setelah keluhan utama kita gali, maka selanjutnya kita dapat menanyakan keluhan lain pada pasien tersebut. Pada skenario diatas, keluhan lain yang pasien rasakan adalah telinga berdengung pada sebelah kiri. Keluhan lain sepeerti : a. Apakah pasien merasakan nyeri pada kepala atau nyeri pada wajah? b. Apakah ada gangguan pendengaran atau merasakan telinga berdengung? c. Apakah pasien merasakan hidung sering tersumbat atau sering keluar ingus kental bercampur arah ? d. Apakah pasien merasakan gangguan pada penglihatan seperti pandangan kabur ataupun penglihatan ganda? e. Apakah pasien mengeluh sulit menelan dan sulit berbicara? f. Apakah pasien merasakan demam, mual, muntah, dan penurunan nafsu makan? Untuk lebih memastikan diagnosis diatas, perlu dilakukan juga pemeriksaan fisis. Karena benjolan tersebut berada pada leher, maka sebaiknya kita lakukan pemeriksaan fisis THT-KL. Inspeksi : Lokasi benjolan tersebut, ukuran benjolan, apakah hanya ada 1 benjolan yng muncul, jika tidak, pastikan lokasi benjolan yang lain berada dimana. Perhatikan pula, apakah ada perubahan warna di sekitar benjolan tersebut. Palpasi : Raba benjolan tersebut untuk memastikan : a. Ukuran benjolan b. Bentuk benjolan tersebut i. ii. i. Tumor jinak umumnya berbentuk bulat atau lonjong. Tumor ganas umumnya tidak beraturan. Tumor jinak memiliki kapsul utuh, batas tegas.

c. Batas tumor

ii. i. i. ii. i.

Tumor ganas tumbuh infiltratif, batas tidak jelas. Konsistensi tumor bisanya padat keras , padat kenyal atau kistik. Permukaan tumor jinak umumnya licin. Permukaan tumor ganas umumnya berbenjol tidak rata. Raba juga apakah benjolan tersebut dapat digerakkan(mobil) atau terfiksir(tidak dapat digerakkan)

d. Konsistensi benjolan tersebut e. Raba juga permukaan benjolan tersebut.

f. Mobil atau terfiksir

g. Perhatikan juga apakah ada nyeri tekan saat kita meraba benjolan tersebut.

Selanjutnya kita lakukan pemeriksaan THT: a. Rhinoskopi anterior dan posterior. Untuk melihat keadaan pada daerah hidung dan adenoid. b. Pemeriksaan Nasofaringoskop juga dapat kita lakukan untuk melihat perkembangan tumor tersebut. Dapat juga kita lakukan otoskopi apabila ada gangguan pada telinga pasien. Pemeriksaan penunjang Pada kasus tersbut, sebaiknya pasien dianjurkan untuk pemeriksaan darah rutin, serologi virus EB, CT scan nasofaring potongan axial lalu setelah ada hasil CT scan, selanjutnya kita lakukan biopsi untuk diagnosis histopatologi. Apabila tumor tersebut sudah bermetastase jauh, maka kita dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan foto thorax atau foto polos abdomen. 7. Jelaskan differential diagnosis dan apa analisa kasus dari skenario di atas ? Differential Diagnosa dari seknario : a. Ca Nasofaring

b. Limfadenitis TB c. Limfoma Maligna Analisa Kasus : Dari skenario ditemukan gejala-gejala seperti : benjolan pada leher kiri lateral, benjolan teraba keras tetapi tidak nyeri , dan telinga teras berdengung. Dari gejala-gejala diatas kemungkinan penderita suspek Ca Nasofaring . Tetapi untuk memastikan penderita menderita Ca Nasofaring maka kitaharus melakukan pemeriksaan lanjutan seperti CT-Scan , Biopsi , dan Laboratorium. Karsinoma nasofaring Definisi Karsinoma nasofaring disebut juga tumor kanton.Menurut WHO,sekitar 80 % dari kasus karsinoma nasofaring didunia terjadi di china.

ANATOMI

Nasofaring

terletak

diantara

basis

cranial

dan

pallatum

mole,menghubungkan rongga hidung dan orofaring.Rongga nasofaring menyerupai sebuah kubus yang tidak beraturan,diameter atas-bawah dan kirikanan masing masing sekitar 3 cm, diameter depan belakang 2-3 cm,dapat dibagi menjadi dinding anterior,superior,inferior dan 2 dinding lateral yang simetri bilateral.Dinding supero-posterior.Dinding superior dan posterior bersambung dan miring membentuk lengkungan,diantara kedua dinding tidak terdapat batas anatomis yang jelas

Epidemiologi Kanker nasofaring dapat terjadi pada segala umur,tapi umumnya menyerang usia 30-60 tahun,menduduki 75-90 %.Proporsi pria dan wanita 8:1.

Etiologi Terjadinya kanker nasofaring mungkin multifactor,proses

karsinogenesisnya mungkin mencakup banyak tahap.Faktor yang mungkin terkait dengan timbulnya kanker nasofaring adalah : 1. Kerentanan genetic Analisis korelasi menunjukkan gen HLA (human leukocyte antigen) dan gen pengode enzim sitokrom p4502E (CYP2E1) kemungkinan adalah,gen kerentanan terhadap kanker nasofaring.

2. Virus EB Metode imunologi membuktikan antigen spesifik seperti antigen kapsid virus (VCA) antigen membrane (MA),antigen dini(EA),antigen nuklir,dll.

3. Faktor lingkungan Menurut laporan luar negeri,orang cina generasi pertama (umumnya penduduk kanton) yang bermigrasi ke Amerika Serikat,Kanada memiliki angka kematian akibat kanker nasofaring 30 kali tinggi dari kulit putih setempat.Penelitian akhir akhir ini menemukan zat berikut berkaitan dengan timbulnya kanker nasofaring: a. Golongan nitrosamine : ini dapat menilbulkan kanker pada hewan.Diantaranya dimetilnitrosamin dan dietilnitrosamin kandungannya agak tinggi pada ikan asin Guangzhou.Tikus putih yang diberi pakan ikan asin dapat timbul kanker rongga nasal atau sinus nasal. b. Hidrokarbon aromatic: pada keluarga di area insiden tinggi kanker nasofaring,kandungan 3,4-benzpiren c. Unsur renik : nikel sulfat dapat memacu efek karsinogenesis pada proses timbulnya kanker nasofaring pada tikus akibat dinitrosopiperazin dosis kecil.

Patologi Rongga nasofaring diselaputi selapis mukosa epitel tipis,terutama berupa epitel skuamosa,epitel torak bersilia berlapis semu dan epitel transisional.Di dalam lamina propria mukosa sering terdapat sebukan limfosit, di submukosa terdapat kelenjar serosa dan musinosa.Kanker nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari epitel yang melapisi nasofaring.

Manifestasi klinis 1. Epistaksis :sekitar 70 % pasien mengalami gejala ini,diantaranya 23,2 % pasien datang dengan gejala awal ini. 2. Hidung tersumbat : Sering hanya sebelah dan secara progresif bertambah hebat.Ini disebabkan tumor menyumbat lubang hidung posterior,insiden sekitar 48 %. 3. Tinitus dan pendengaran menurun : masing masing menempati 51,6-62,5 % dan 50 %.Penyebabnya adalah tumor diresesus faringeus dan dinding lateral nasofaring menginfiltrasi,menekan tuba eustaki,menyebabkan tekanan negative di dalam kavum timpani,hingga terjadi otitis media transudatif. 4. Sefalgia : Menempati 57,68,6 %,kekhasannya adalah nyeri kontinu di region temporoparietal atau oksipital satu sisi.Ini sering disebabkan desakan tumor,infiltrasi saraf cranial atau os basis cranial,juga mungkin karena infeksi local atau iritasi pembuluh darah yng menyebabkan sefalgia reflektif. 5. Pembesaran kelenjar limfe leher : sekitar 40 % pasien dating dengan gejala pertama pembesaran kelenjar limfe leher,pada waktu diagnosis ditegakkan,sekitar 60-80 % sudah metastasis kelenjar limfe. 6. Gejala metastasis jauh : karena 95 % lebih sel kanker nasofaring berdiferensiasi buruk.Lokasi metastasis paling sering ke tulang,paru,hati. Diagnosis 1. 2 gejala curiga KNF 3 gejala klinis KNF 2. Nasopharyngoskopi

3. Peningkatan titer viral kapsid Ag (VCA Epstein-Barr) 4. Biopsi nasopharyng diagnosis pasti

Penanganan Pada kasus Ca Nasofaring penanganan dilakukan sesuai dengan stadium 1. Radioterapi Terapi terhadap kanker nasofaring berprinsip pada individualisasi dan tingkat keparahan. Pasien stadium 1 ataupun 2 dengan radioterapi eksternal ditambah brakiterapi kavum nasofaring; pasien stadium 3 ataupun 4 dengan kombinasi radioterapi dan kemoterapi. 2. Kemoterapi Kemoterapi yang dimaksud berupa kemoterapi adjuvant dan kemoradioterapi. Kemoterapi yang sering dipakai adalah PF (DDP + 5FU),karboplatin + 5FU, paklitaksel +DDP. 3. Terapi Bedah Dilakukan operasi residif local nasofaring pasca radioterapi,lesi relative terlokalisasi. 3 bulan pasca radioterapi kuratif terdapat residif lesi primer nasofaring . Pasca radioterapi kuratif terdapat residif atau rekurensi kelenjar limfe leher. Prognosis Stadium I lebih dari 76,9 %

Stadium II 56% Stadium III 36,4% Stadium IV 16,4 %

DAFTAR PUSTAKA Buku ajar Onkologi klinis Edisi Kedua Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2011 Dr.Suyatno SpB(K)Onk dan Dr.Emir Taris Pasaribu SpB(K)Onk. Bedah Onkologi Diagnosis dan Terapi.2009 Aru Sudoyo dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2 Edisi IV . Jakarta: IPD Press Efiaty Arsyad dkk. 2007. Buku Ajar THT Edisi 6. Jakarta: UI Press http://www.emedicine.medscape.com/oncology/ December 2009 Theopilus B. dkk. 2008. Buku AjarAnatomi Umum. Makassar: Bagian Anatomi FK Unhas Wan Desen. 2008. Buku Ajar Onkologi. Jakarta: UI Press diakses pada pukul 7.30 22