BAB I PENDAHULUAN
 Stroke merupakan salah satu kegawatan neurologi

yang cukup serius, bahkan menduduki peringkat yang cukup tinggi dalam kaitannya menyebabkan mortalitas. Di Amerika Serikat Stroke menduduki peringkat ke-3 sebagai penyebab kematian setelah Penyakit Jantung dan Kanker. Setiap tahunnya 500.000 orang Amerika terserang stroke, 400.000 diantaranya merupakan stroke iskemik dan 100.000 lainnya merupakan stroke hemoragik dengan 175.000 diantaranya mengalami kematian.

 Kelainan neurologis primer akan mempengaruhi

fungsi pernapasan. Impuls yang timbul dalam pusat pernafasan menjalar melalui saraf yang membentang dari batang otak terus ke saraf spinal ke reseptor pada otot-otot pernafasan. Penyakit pada saraf seperti gangguan medulla spinalis, otot-otot pernapasan atau pertemuan neuromuslular yang terjadi pada pernapasan akan sangat mempengaruhi ventilasi sehingga dapat mengakibatkan terjadinya gagal nafas bahkan dapat terjadi kematian.

BAB II A.(Long. C.PENGERTIAN  Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini adalah kulminasi penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun. Barbara. 2002. hal 176) . (Smeltzer C. Akibat stroke pada setiap tingkat umur tapi yang paling sering pada usia antara 75 – 85 tahun. Suzanne.1996. hal 2131) Penyakit ini merupakan peringkat ketiga penyebab kematian di United State.

2002. Embolisme cerebral ( bekuan darah atau material lain ) 3. Etiologi  Penyebab-penyebabnya antara lain: 1. Suzanne.B. hal 2131) . Trombosis ( bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak ) 2. Iskemia ( Penurunan aliran darah ke area otak) (Smeltzer C.

Suzanne.Hipertensi 2.C. Obesitas 5. Faktor resiko pada stroke 1. gagal jantung kongestif.Kontrasepasi oral( khususnya dengan disertai hipertensi. merkok. Diabetes Melitus ( berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi) 7. Penyalahgunaan obat ( kokain) 9. Kolesterol tinggi 4.Konsumsialkohol (Smeltzer C. penyakit jantung kongestif ) 3. dan kadar estrogen tinggi) 8. fibrilasi atrium. Peningkatan hematokrit ( resiko infark serebral) 6. Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria. hal 2131) . 2002.

Pemeriksaan Penunjang G.D. Penatalaksanaan H. KOMPLIKASI . Patways (Terlampir) F. Manifestasi klinis E.

1997). . eliminasi karbon dioksida (PaCO2) dan pH yang adekuat disebabkanoleh masalah ventilasi difusi atau perfusi (Susan Martin T.GAGAL NAFAS  Gagal nafas adalah ketidakmampuan sistem pernafasan untuk mempertahankan oksigenasi darah normal (PaO2).

Etiologi Depresi sistem saraf pusat Kelainan neurologis primer Efusi pleura. hemotoraks dan Pneumothoraks Trauma Penyakit akut paru .

Ada retraksi dada Hiperkapni atau hipoksemia Hiperkapnia yaitu penurunan kesadaran (PCO2) Hipoksemia yaitu takikardia.Tanda dan Gejala  Gagal nafas total  Aliran udara di mulut. berkeringat atau sianosis (PO2 menurun) . hidung tidak dapat didengar/dirasakan.  Pada gerakan nafas spontan terlihat retraksi supra klavikuladan        sela iga serta tidak ada pengembangan dada pada inspirasi. Adanya kesulitasn inflasi paru. Gagal nafas parsial Terdengar suara nafas tambahan seperti snoring dan whizing. gelisah.

Koja. Patimura RT 07/03 No. MR : 72 21 21  Jenis Kelamin : Laki-laki  Tanggal : 18-12-2010  Hari rawat ke : 3  Agama : Islam  Status : Menikah  Alergi :  BB/TB : 70kg  Alamat Rumah : Jl. 11 Rawa Badak Selatan. Jakarta Utara  Diagnosa Medis : CVD Non Haemoragic. BP . DM Type II. AS  Umur: 61 tahun  No.BAB III TINJAUAN KASUS Identitas Klien  Nama : Tn.

Sebelum masuk rumah sakit. klien di rumah tibatiba mengeluarkan saliva yang banyak dan tidak terkontrol. . Captopril 2x25 mg/hari.Alasan dirawat di ICCU/ICU (termasuk riwayat sakit) Klien tiba di RSIJ Pusat jam 11. Sebelumnya klien dirawat di RSPJ dengan CVD Non Haemoragic selama 7 hari. DM selama +/. Sekarang kebiasaaan merokok berkurang menjadi sehari hanya satu batang.52. hipertensi dari ayahnya dan klien mengkonsumsi Glumil 2x1 tablet/hari.2 tahun. Klien memiliki riwayat penyakit BP. ekstremitas atas dan bawah sebelah kiri terasa lemas. Alasan dirujuk karena tidak ada ventilator. Klien rujukan dari RSPJ dengan gagal napas. Klien juga memiliki riwayat merokok sehari satu bungkus sejak bekerja.

Pengkajian fisik dan pengkajian umum Pernapasan  Klien terpasang ventilator SMV VC+PJ Tampak sekret kental berwarna putih kental kekuningan ± 5cc di selang ETT  Peep/CPAP = 5 F.  Klien tampak batuk-batuk bila sekretnya timbul  Ronkhi +/- . Volume = 5. O2 = 50% Resp Rate = 10/8. Tidal.

dipuasakan NGT dialirkan keluar cairan berwarna hitam .Kardiovaskuler  TD = 179/78 mmHg  N = 71x/menit  Murmur (-). Gallop (-) Gastrointestinal  Klien terpasang NGT.

reaksi cahaya : +/+ ukuran 2mm/2mm  kekuatan otot: 4444 1111 3333 1111 .Neurologi  GCS: SDN: sedasi. Pupil : isokor.

Program terapi  Meronem 3x1 gr/iv jam 12---20—04  Avelox 1x1 jam 18  Rantin / OMZ 2x1 jam 06—18  Extra miloz 5 mg  Extra Notrixium 50 mg  Inpepsa 3xCI jam 12—18—06  Nebulizer: Combivent jam 12—20—24  Lancholin 2x500mg/Iv jam 10—22 .

370-7.00-27.1 (71-104)  O2Sat=94.80% (94-98%)  HCO3=22.7 (21-28)  Base Excess (ecf) = -2.4 (33-44)  pO2= 76.00)  Base Excess (B) =-2.6 (-2.3)  CO2Total = 24 (23.00-+3.00) .4-+2.357 (7. Hasil lab/diagnostik  AGD tgl 20/12/2010  S= 37ºC  pH= 7.80 (-2.450)  pCO2=41.

Ro. Thorax  18/12/10 Bronchopneumonia Dextra  20/12/10 Infiltrat pericardial kanan menetap CT Scan.Tanpa kontras  11/12/10  Hipodenositas pada saraf posterior kaptula interna kanan sugestif lesi iskemik .

Analisa Data DS: DO: Klien tambak batuk-batuk Tampak secret kental bewarna putih kekuningan banyaknya ± 5cc Klien terpasang ventilator SMVVC+PJ Peep/CPAP : 5 F1 O2 = 50% Res Rate : 10/8 T.Volume : 5/9 Ronkhi +/-. Thorax 18/12/10 Bronchopneumonia Duplex 20/12/10 Infiltrat pericardial kanan menetap Problem: Gangguan bersihan jalan nafas Etiologi: Peningkatan secret pulmonal . Ro.

DS: DO: Klien terpasang ventilator SMV VC +PJ Peep/CPAP 5 F1 O2: 50 % Resp Rate 10/8 T.Volume: 5/9 Menggunakan otot bantu nafas + AGD tgl 20/12/10 Ro. Thorax 18/12/10 Bronchopneumonia Duplex Dextra 20/12/10 Infiltrat pericardial kanan menetap Problem  Pola nafas tidak efektif Etiologi  Penurunan ekspansi paru .

DS: DO: Klien terpasang ventilator SMV VC +PJ Peep/CPAP 5 F1 O2: 50 % Resp Rate 10/8 T. efek sedasi Kekuatan otot: 4444 1111 3333 1111 CT scan : Hipodensitas pada saraf posterior capsula interna kanan sugestif lesi iskemik Klien mengalami hematemesis cairan NGT bewarna hitam kemerahan ± 15 cc Problem Gangguan perfusi jaringan cerebral Etiologi Intake O2 serebral tidak adekuat .Volume: 5/9 GCS : s/d/n TD : 179/78 mmHG N: 71 x/menit GCS : sulit dinilai.

Gangguan bersihan jalan nafas b. Pola nafas tidak efektif b.d penurunan ekspansi paru 3.d peningkatan secret pulmonal 2. Gangguan perfusi jaringan serebral b.d intake O2 serebral yang tidak adekuat .Diagnosa keperawatan 1.

 PERENCANAAN  IMPLEMENTASI DAN EVALUASI .

munculnya secret pada selang ett klien berwarna putih kental kekuningan (+/-) 5cc. sedangkan pada teori gagal nafas tidak ada masalah mengenai gangguan bersihan jalan nafas. . yaitu munculnya data ronchi (+/-). ada kesenjangan antara teori dengan kasus.BAB IV PEMBAHASAN  Pengkajian Pada saat pengkajian. Namun tim tetap mengangkat masalah gangguan bersihan jalan nafas menjadi masalah utama. yang menyebabkan timbulnya masalah gangguan bersihan jalan nafas klien. Justru masalah gangguan bersihan jalan nafas ada pada teori asuhan keperawatan stroke non haemoragik tanpa gagal nafas.

 Diagnosa keperawatan Pada kasus ditemukan diagnose gangguan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan secret pulmonal. Infeksi tersebut sudah ada sebelum klien dirawat. Hal ini disebabkan karena klien mengalami infeksi bronchopneumonia pada paru-paru kanan. . sedangkan pada teori gagal nafas tidak ada diagnosa gangguan pola nafas. infeksi bronchopneumonia klien semakin memburuk. dan dengan kondisi klien yang mengalami penurunan kesadaran.

. Rencana keperawatan Rencana keperawatan pada kasus dibuat berdasarkan teori pada pasien gagal nafas. tetapi untuk diagnosa gangguan bersihan jalan nafas tim menggunakan rencana keperawatan pada teori asuhan keperawatan pada klien stroke non haemoragik dengan penggunaan alat bantu nafas/ventilator .

dan pukul 15:00-17:00. tapi jam tersebut juga terpotong oleh pre & post conference (bimbingan). sehingga kami dapat melakukan intervensi yang sudah direncanakan. tim mengalami kendala pada keterbatasan waktu. Implementasi Implementasi dilakukan berdasarkan rencana keperawatan yang telah dibuat berdasarkan teori & kasus. Tapi walaupun jam untuk melakukan intervensi keperawatan kami terbatas. . kami banyak dibantu oleh kakak-kakak ruangan. Tim hanya dapat melakukan tindakan keperawatan selama 1 – 2 jam saja. karena terpotong oleh jam besuk pasien dari jam 17:0019:00. Pada saat pelaksanaan implementasi. Tim hanya dapat melakukan implementasi keperawatan pada jam 19:00-20:00.

Walaupun masalah pada semua diagnosa belum teratasi pada saat klien di evaluasi. . Evaluasi Evaluasi kami buat berdasarkan kriteria hasil yang ada pada rencana keperawatan. kami tetap melanjutkan intervensi keperawatan pada hari berikutnya berdasarkan masalah yang ada pada klien dan rencana keperawatan yang telah kami buat.

BAB V PENUTUP  KESIMPULAN Dari hasil asuhan keperawatan yang telah kami lakukan pada Tn. ditemukan data bahwa klien masuk ruang ICU dengan indikasi gagal nafas dikarenakan infeksi bronchopneumonia dan diperberat dengan penurunan kesadaran yang terjadi karena klien mengalami stroke non haemoragik. . AS dengan diagnosa medis stroke non haemoragik. Kami menggabungkan 2 asuhan keperawatan tersebut juga berdasarkan konsep kegawatdaruratan dan kondisi klien pada saat dilakukan pengkajian. Asuhan keperawatan yang kami lakukan berdasarkan kasus dan teori dari dari dua asuhan keperawatan yaitu asuhan keperawatan pada pasien stroke non haemoragik dan klien dengan gagal nafas. Dari hasil pemeriksaan penunjang CT-Scan ditemukan iskemik pada cornu capsula interna kanan yang berfungsi mempengaruhi system fungsi motorik & bukan system pernafasan klien.

diharapkan agar waktu untuk pre & post conference disesuaikan dengan jam besuk di ruang icu. .SARAN  Bagi mahasiswa. khusus untuk ruang icu. Pada jam besuk mahasiswa tidak dapat melakukan intervensi & hanya dapat melakukan pengkajian (masyarakat sekarang yang semakin kritis & tidak mau keluarganya menjadi obyek praktik mahasiswa)  Bagi ruangan.  Bagi institusi. karena kondisi klien yang sangat kompleks. karena apabila pre & post conference dilakukan di luar jam besuk. diharapkan dapat mengimplementasikan intervensi-intervensi yang ada pada teori asuhan keperawatan. walaupun pada saat pengkajian timbul masalah yang tidak ada pada teori namun tetap dapat melakukan intervensi dengan cara menggabungkan 2 asuhan keperawatan. mahasiswa hanya memiliki waktu yang sedikit untuk melakukan intervensi keperawatan. diharapkan jumlah kakak-kakak yang mau mengajarkan dan membantu mahasiswa di rungan icu semakin banyak dalam melakukan intervensi keperawatan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful