Anda di halaman 1dari 3

SIFAT-SIFAT INTI

sedikit membingungkan dan misterius dengan sifat-sifat yang agak sulit


dikarakterisasi dibandinkan obyek makroskopik lain.
Suatu inti dapat digambarkan melalui beberapa parameternya antara lain:
muatan listrik
- Seperti halnya banyak sistem yang diuraikan melalui hukum-hukum
mekanika kuantum, inti merupakan obyek yang
- radius
- massa
- energi ikat
- momentum sudut (angular)
- paritas
- dipole magnetik
- momen quadrupole listrik
- energi keadaan tereksitasi
Beberapa parameter diatas merupakan parameter yang menyatakan
sifat statis inti. Disamping itu juga diuraikan sifat-sifat dinamis
inti, meliputi peluruhan dan probabilitas (peluang) reaksi. Untuk
memahami sifat-sifat statis dan dinamis dalam hal interaksi individual
antara nukleon-nukleon merupakan tantangan berat yang dihadapi ahli
fisika inti.
RADIUS INTI
Seperti halnya suatu atom, radius dari inti tidak dapat
didefinisikan secara tepat; tidak satupun atom atau inti
merupakan bola padat dengan batas yang jelas. Potensial
Coulomb yang mengikat atom dan distribusi muatan listrik yang
dihasilkan menyebar ke arah tak hingga, meskipun keduanya dapat
diabaikan pada jarak jauh diluar radius atomik (10
-10

m). Diperlukan
suatu definisi operasional seperti halnya untuk menyatakan radius
atom, antara lain
- mean radius terbesar dari berbagai keadaan elektronik dalam
suatu atom
- jarak spasial antara atom-atom dalam ikatan dengan atom yang
diamati (hal ini menimbulkan kesulitan jika jenis atom ikatannya
berbeda atau dalam keadaan tereksitasi)
Untuk inti, situasinya lebih baik di beberapa aspek dan sebaliknya jelek
dihal lainnya.
Densitas nukleon dan potensial inti memiliki ketergantungan spasial
yang mirip-relatif konstan dalam jarak yang pendek kemudian turun
drastis ke nol. Karena itu untuk mengkarakteristik permukaan inti
digunakan dua parameter:
- mean radius, dimana densitas adalah setengah nilai tengahnya
- ketebalan kulit (skin thickness)
DISTRIBUSI MUATAN INTI
Cara yang umumnya digunakan untuk menentukan ukuran dan
bentuk dari suatu benda adalah mengamati radiasi hamburan dari
benda yang diradiasi. Untuk mengetahui obyek secara detail, panjang
gelombang radiasi yang digunakan harus lebih kecil dibandingkan
dengan dimensi dari obyek; sebaliknya efek dari difraksi secara parsial
atau lengkap mengaburkan bayangan yang terbentuk. Untuk inti
dengan diameter 10 fm, diperlukan 10 fm, atau dengan kisaran
momentum p 100 MeV/c.
Pola difraksi minimum pertama akan tampak pada sudut
) / 22 , 1 ( sin
1
D

dan hasil estimasi radius inti untuk


16
O adalah 2,6 fm dan 2,3 fm untuk
12
C.
Nukleon-nukleon tidak berkumpul dekat pusat inti, akan tetapi
terdistribusi konstan didekat permukaan.
Jumlah nukleon-nukleon persatuan volume sekitar
konstan
3
4
3

R
A

dimana R mean radius inti. Dengan demikian R A


1/3
, dan dengan
konstanta kesebandingan R
0
memberikan hubungan
R = R
0
A
1/3
diman R
0
1,2 fm.
Densitas muatan inti dapat juga dipelajari secara seksama
melalui transisi atom. Pada penyelesaian persamaan Schrodinger
untuk kasus atom dengan elektron tunggal, diasumsikan bahwa
elektron mengalami tarikan Coulomb ke pusat inti,
r
Ze
V
0
2
4

Jika inti sebenarnya bukan titik, fungsi gelombang elektron dapat


melakukan penetrasi ke r < R, karena itu elektron menghabiskan
sebagian waktunya di dalam distribusi inti, dimana elektron mengalami
interaksi yang berbeda.
Pada keadaan dimana r 0, V(r) mendekati takhingga untuk inti
dengan radius tidak nol.
Untuk aproksimasi, diasumsikan inti merupakan bola bermuatan
uniform dengan radius R, dimana energi potensial dari elektron untuk r
R adalah

'

,
_


2
0
2
2
1
2
3
4
) ( '
R
r
R
Ze
r V

sedangkan untuk r R, merupakan energi potensial dari suatu titik


terhadap inti.
Total energi elektron pada keadaan
n
dari inti titik bergantung pada
nilai ekspektasi dari energi potensial

dv V V
n n

*
dimana V energi potensial titik-inti.
Jika diasumsikan (aproksimasi pertama) bahwa perubahan dari
suatu inti titik ke inti bola bermuatan uniform secara signifikan tidak
merubah fungsi gelombang elektron
n
, maka energi E dari elektron
pada keadaan dimana inti sebagai bola bermuatan uniform bergantung
pada nilai ekspektasi dari V

> <
+
R r
n n
R r
n n
dv V dv V V
* *
' '

dimana integral kedua hanya melibatkan 1/r energi potensial.
Efek dari inti bola mengakibatkan perubahan energi dari keadaan
elektron, relatif terhadap nilai titik-inti, diberikan melalui persamaan
E = E E = <V> - <V>
tahap selanjutnya dengan asumsi dimana fungsi gelombannya sama,
pada kasus dimana bentuk energi kinetik pada E dan E identik.
Menggunakan fungsi gelombang hidrogen 1s, diperoleh
dr r
R
r
R r
e
a
Z e
E
R
a Zr 2
0
3
2
/ 2
3
0
4
0
2
2
1
2
3 1 4
4
0

'


hasil perhitungan diperoleh
3
0
2
0
2 4
4 5
2
a
R e Z
E


Perbandingan energi sinar-X K (pada transisi elektron 2p 1s) dalam
dua isotop dengan bilangan massa A dan A. Dimana E
K
(A) dan E
K
(A)
E
K
(A) E
K
(A) = E
2p
(A) E
1s
(A) - E
2p
(A) + E
1s
(A)
jika diasumsikan perbedaan energi 2p diabaikan (dimana fungsi
gelombang elektron-p hilang pada r=0), perbedaan energi 1s yang
tersisa akan mengurangi E sebab E
1s
E = E + E dan nilai energi E
inti titik akan sama untuk isotop A dan A. Sehingga
E
K
(A) E
K
(A) = E (A) - E (A)
=
) ' (
1
4 5
2
3 / 2 3 / 2 2
0
3
0 0
2 4
A A R
a
e Z

Besaran E
K
(A) E
K
(A) dikenal sebagai pergeseran isotop (isotope shift)
sinar X K.