Anda di halaman 1dari 38

Serumen adalah hasil dari produksi kelenjar sebasea, kelenjar seruminosa yang terdapat dibagian kartilago liang telinga

luar dan epitel kulit yang terlepas dan pertikel debu, yang berguna untuk melicinkan dinding liang telinga dan mencegah masuknya serangga kecil kedalam liang telinga. Dalam keadaan normal serumen terdapat disepertiga luar liang telinga karena kelenjar tersebut hanya ditemukan didaerah ini dan keluar dengan sendirinya dari liang telinga akibat migrasi epitel kulit yang bergerak dari arah membrane timpani menuju keluar serta dibantu oleh gerakan rahang sewaktu mengunyah.

Faktor yang menyebabkan serumen terkumpul dan mengeras di liang telinga sehingga menyumbat, antara lain: 1). Dermatitis kronik liang telinga luar 2). Liang telinga sempit 3). Produksi serumen banyak dan kental 4). Adanya benda asing di liang telinga 5). Adanya eksostosis liang telinga 6). Serumen terdorong oleh jari tangan atau ujung handuk setelah mandi atau kebiasaan mengorek telinga. Gejala yang timbul akibat sumbatan serumen adalah pendengaran berkurang. Rasa nyeri timbul apabila serumen keras membatu dan menekan dinding liang telinga. Telinga berdengung (tinitus), pusing (vertigo) bila serumen telah menekan membrane timpani, kadang-kadang disertai batuk oleh karena rangsangan nervus vagus melalui cabang aurikuler. Penatalaksanaan disesuaikan dengan konsistensi serumen. Jika serumen lembek hanya dibersihkan dengan kapas yang dililitkan pada aplikator. Serumen yang sudah keras dikeluarkan dengan cara dikait dengan alat pengait. Serumen yang terlalu dalam (mendekati membrane timpani), dikeluarkan dengan cara mengirigasi liang telinga. 1 Pada serumen yang keras membatu sebelum dikeluarkan harus dilembekkan terlebih dahulu dengan karbol gliserin 10% tiga kali tiga tetes sehari, selama tiga sampai lima hari, setelah itu dikait dengan alat pengait atau diirigasi jika serumen telah terdorong jauh kedalam liang telinga.

Serumen adalah substansi lengket berwarna kekuningan sampai coklat, yang ada di liang telinga. Substansi tersebut adalah hasil produksi dari kelenjar minyak dan modifikasi kelenjar keringat dinding telinga. Serumen tersebut terdiri dari 60% keratin*, 12-20% asam lemak*, alkohol, squalene*, dan 6-9% kolesterol. Komposisi ini menentukan wujud serumen itu sendiri. Serumen ini secara umum dibagi menjadi:

Tipe basah:

o Serumen putih (White/Flaky Cerumen), sifatnya mudah larut bila diirigasi. o Serumen coklat (light-brown), sifatnya seperti jeli, lengket.

Tipe kering:

o Serumen gelap/ hitam, sifatnya keras, biasanya erat menempel pada dinding liang telinga bahkan menutup liang sehingga menimbulkan gangguan pendengaran. Serumen tipe basah lebih dominan dibandingkan tipe kering.

Serumen diproduksi tubuh dengan tujuan:

Pembersihan

Dinding dalam telinga, membrane tympani (gendang telinga) setiap hari menghasilkan epitel mati. Serumen membantu pengeluaran epitel-epitel tersebut sehingga tidak menumpuk dengan bantuan gerakan rahang mulut.

Lubrikasi/ pelicin

Serumen mencegah terjadinya desikasi/ kekeringan, rasa gatal, dan panas dalam liang telinga.

Antibakterial dan antijamur

Kemampuan antibacterial dan antijamur serumen karena serumen bersifat asam, mengandung enzim lysozyme*, dan adanya asam lemak. Produksi serumen dipengaruhi oleh stres fisik dan stres psikis. Bila produksi serumen berlebihan, serumen dapat menumpuk dan menyumbat liang telinga, dan menyebabkan penurunan pendengaran. Diperkirakan 60-80% keluhan penurunan pendengaran disebabkan oleh sumbatan serumen (cerumen prop). Metode Pembersihan Serumen

Kuretase*, dengan alat khusus pengangkat serumen, atau dengan cotton bud Irigasi, menggunakan air hangat dan alat khusus Vakum*

Pembersihan serumen yang terlalu sering, justru merangsang produksi serumen lebih banyak. Seruminolisis adalah proses untuk melisiskan (meluruhkan) serumen, biasanya menggunakan agen seruminolitik yang diteteskan ke liang telinga. Biasanya agen ini akan membuat serumen mencair, atau bila terlalu keras maka akan lebih melunakkan serumen sehingga lebih mudah diangkat dengan metode pembersihan yang sesuai. Agen seruminolitik yang tersedia adalah

Minyak zaitun, minyak almond, minyak mineral, baby oil, gliserol, Peroksida karbamid(6.5%) Larutan sodium bicarbonate, atau sodium bicarbonate B.P.C. (sodium bicarbonate dan glycerine) Cerumol (arachis oil, turpentine dan dichlorobenzene) Cerumenex (Triethanolamine, polypeptides dan oleate-condensate) Exterol (urea, hydrogen peroxide dan glycerine)

Docusate sodium Hidrogen Peroksida 3%

Agen-agen ini dipakai 2-3 kali sehari selama 3-5 hari. Pemberian agen-agen ini justru lebih baik daripada manipulasi telinga secara pribadi karena malah mungkin mengakibatkan perlukaan dinding liang telinga. Penggunaan cotton bud pun harus dilakukan secara hati-hati. Sebaiknya sebelum digunakan untuk membersihkan serumen, kapas cotton bud dibasahi dengan baby oil, atau air bersih, atau dibuat lembab, supaya kapas cotton bud tidak mudah lengket dengan serumen yang bisa mengakibatkan kapas terlepas dari batangnya.

KAMUS KITA

Keratin Squalene Epitel

: : :

Enzim lysozim : Kuretase : Vakum :

suatu protein yang menyusun rangka yang bersifat sangat tidak mudah larut zat perantara dalam pembuatan kolesterol, merupakan asam lemak tidak jenuh. Banyak terdapat pada minyak hati ikan hiu. Lapisan yang menutupi permukaan dalam dan luar tubuh termasuk lapisan pada pembuluh darah dan rongga yang kecil lainnya. enzim yang mampu membunuh bakteri. pengeluaran suatu bahan dari dinding suatu rongga. Penghisapan

ter, D.F.2007.Cerumen Impaction. Available at URL: www.aafp.org. Cited at: 12 Oktober 2007 http://www.emedicinehealth.com/earwax http://www.earnosethroatdrs.com/ Add comment

1000 symbols left Notify me of follow-up comments

Refresh

Send
Telinga adalah salah satu organ tubuh yang sangat kompleks, karena terdiri dari tiga bagian utama yang saling berkaitan. Bagian pertama adalah telinga luar yang berfungsi untuk melindungi gendang telinga dari kerusakan langsung, bagian kedua adalah telinga tengah berbentuk rongga udara berfungsi sebagai penghubung antara bagian luar telinga dengan bagian belakang hidung melalui tabung Eustachio. Bagian terakhir adalah tulang kecil yang berfungsi mengirimkan getaran dari gendang telinga ke telinga bagian dalam (koklea). Oleh karena itu, kebersihan organ telinga harus selalu diperhatian. Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada telinga adalah terbentuknya kotoran telinga. Kotoran telinga atau serumen adalah cairan yang dihasilkan oleh kelenjar seruminosa yang terletak di sepertiga luar liang telinga. Jika sudah mengering secara alami kotoran telinga akan keluar dengan sendirinya dari lubang telinga, lalu akan diganti dengan kotoran telingayang masih basah.Pada dasarnya kotoran telinga memiliki sifat yang lengket, kental, dan berbau khas, sehingga terkadang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Banyak yang tidak tahu kalau sebenarnya kotoran telinga ini memiliki fungsi vital bagi telinga. Di antaranya, untuk menangkap kotoran (debu) dan binatang-binatang kecil yang masuk ke dalam telinga (contohnya, semut dan nyamuk), berfungsi sebagai antibakteri terhadap kuman, dan menjaga kelembaban liang telinga. Jika produksi kotoran telinga berlebih biasanya dapat menyebabkan penyumbatan di saluran telinga. Beberapa dampak dari penyumbatan ini antara lain menimbulkan rasa gatal, nyeri, dan gangguan pendengaran (tuli) yang bersifat sementara. Oleh karena itu, banyak dari kita yang mungkin berusaha mengeluarkan (mengorek) kotoran telinga dengan benda-benda, seperti batang korek, jepit rambut, atau

JComments

cotton bud. Tindakan tersebut sangat tidak dianjurkan, selain dapat mendorong kotoran masuk lebih ke dalam juga berpotensi menyebabkan infeksi pada kulit di bagian saluran telinga. Sebenarnya, tanpa dikorek pun, tubuh mempunyai mekanisme tersendiri untuk mengeluarkan kotoran telingaini. Sering tanpa kita sadari bahwa kotoran telinga dapat keluar (jatuh) dengan sendirinya dari liang telinga, atau terdorong keluar saat kita membuka rahang lebar-lebar atau tidur dalam posisi miring. Bila telah terlanjur terjadi penyumbatan, cara penanganan terbaik adalah dengan pergi ke dokter THT untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Biasanya dokter akan membuang kotoran telinga dengan cara menyemburkan secara perlahan air hangat (irigasi) ke dalam rongga telinga. Jika kotoran telah terlanjur mengeras dan susah untuk dikeluarkan, dokter akan memberikan obat tetes telinga (pelarut serumen) yang digunakan selama 3 hari untuk melunakkan kotoran sehingga mudah dikeluarkan dengan penyemprotan air hangat. Namun, pada kasus-kasus tertentu seperti infeksi yang mengakibatkan keluarnya nanah dari telinga, cara penyemprotan tidak dapat dilakukankarena air dapat masuk ke dalam telinga bagian tengah. Pada keadaan ini kotoran telinga dibuang denganmenggunakan alat penghisap, selain itu penderita juga akan diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi lebih parah.

Serumin atau kotoran telinga adalah zat yang terjadi secara alami di dalam telinga kita. Bahan berwarna cokelat kekuningan, tebal atau kental ini diproduksi oleh kelenjar khusus yang dapat ditemui pada sebagian luar lapisan kulit kanal telinga. Gen menentukan warna kotoran telinga. Tugas utama dari kotoran telinga ini adalah memperangkap debu dan partikel kotoran lainnya dan mencegahnya mencapai gendang telinga. Lambatlaun, kotoran telinga sarat debu dan kotoran akan diangkut secara perlahan dengan migrasi lapisan atas kulit telinga menuju ke lubang luar kanal. Tatkala kotoran yang lebih lama mencapai lubang kanal, kotoran ini mengering dan jatuh keluar. Apa Fungsi Serumin (Kotoran Telinga)? Di samping memperangkap debu dan kotoran, kotoran telinga juga melindungi telinga dengan mencegah infeksi dan peradangan. Karena sifat asam kotoran dan enzim (lisozim) yang ampuh yang dikandungnya, kotoran telinga menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur di dalam telinga. Berkat sifatnya yang berminyak, kotoran telinga juga memberikan lapisan tahan air untuk kulit kanal, mencegah penumpukan air, penetrasi dan maserasi kulit.

Apakah Kotoran Telinga Menyebabkan Masalah? Dalam kondisi normal, kotoran telinga seharusnya tidak menyebabkan masalah telinga apa pun. Namun demikian, ada beberapa kejadian di mana kotoran telinga menjadi bermasalah. Kondisi paling umum disebut impaksi kotoran telinga. Ini biasanya terjadi akibat upaya mengeluarkan kotoran telinga dengan menggunakan kapas pembersih telinga atau alat lain. Benda-benda ini menyebabkan kotoran telinga di dorong ke bagian telinga yang lebih dalam, atau menyebabkan kotoran telinga menjadi padat, sehingga mencegah migrasi normal ke bagian luar telinga. Kondisi lain yang dapat menyebabkan anak mudah terkena masalah terkait kotoran telinga adalah:

Hubungi kami:

+65 6326 5656


Kirim pertanyaan Anda online

Mengenakan alat bantu dengar Produksi kotoran telinga yang berlebihan Bentuk kanal telinga yang abnormal (mis., kanal telinga yang sempit)
Email kami: ims@singhealth.com.sg

Atau bicara dengan rekanan Medis International kami

Bahasa Indonesia Ting Vit English Back to Patient Care

Hati-hati menyumbat telinga. Kotoron telinga (serumen atau ear wax) adalah produk normal yang hanya diproduksi kulit liang telinga. Sebenarnya, cairan lendir lengket yang dikeluarkan oleh kelenjar serumen ini merupakan substansi penting untuk menangkap benda-benda asing dari luar (seperti kotoran, debu, dan serangga); sehingga tidak dapat mencapai bagian liang telinga yang lebih dalam atau gendang telinga. Singkat cerita, serumen berfungsi sebagai pelindung telinga. Dalam keadaan normal, secara berkala telinga mendorong kelebihan serumen keluar. Sayangnya, pada anak-anak, mekanisme ini belum bekerja dengan sempurna. Akibatnya, serumen malah menumpuk di dalam liang telinga, bahkan bisa jadi keras. Bila jumlahnya melebihi normal, tentu saja kotoran ini dapat menyumbat telinga. Akibatnya, pendengaran anak jadi berkurang. Kalau serumen jadi padat dan keras, bisa timbul rasa sakit akibat penekanan pada kulit liang telinga. Nah, pada orang tertentu, sejumlah cabang saraf berada sangat dekat dengan liang telinga, sehingga setiap penekanan mengakibatkan rangsangan pada tenggorokan dan menimbulkan batuk. Bersihkan dengan benar. Ada banyak pendapat tentang boleh tidaknya membersihkan kotoran telinga anak secara mandiri di rumah. Sebetulnya, secara umum kita dapat melakukannya dengan memperhatikan hal-hal berikut. Bersihkan kotoran yang hanya di bagian paling luar liang telinga . Cotton buds hanya digunakan untuk membersihkan kotoran di daerah daun telinga . Selain itu, kotoran telinganya lunak, dan dilakukan dengan cara yang benar dan hati-hati.

Jangan gunakan benda tajam , seperti jepit rambut atau tangkai bulu ayam. Teteskan baby oil ke dalam liang telinga secara rutin 2 kali seminggu, untuk mencegah penumpukan kotoran telinga.

Bila Anda tidak yakin dapat membersihkan dengan benar, datanglah ke dokter anak Anda. Karena, tindakan membersihkan liang telinga yang tidak benar, justru mengakibatkan kotoran terdorong lebih dalam. Kalau ini yang terjadi, akibatnya: Terjadi penyumbatan yang lebih berat, karena bagian tengah liang telinga menyempit. Perlukaan pada liang telinga, sehingga timbul rasa nyeri dan infeksi. Hal ini dapat terjadi sekalipun hanya karena gesekan cotton bud. Hal terburuk adalah bila benda yang

digunakan masuk terlalu dalam, sehingga menembus atau menyobek gendang telinga yang berfungsi menerima getaran gelombang suara .

Luka pada kulit liang telinga yang terjadi pada saat kotoran tersebut bergerak.

Untuk mengeluarkan kotoran telinga, dokter biasanya mengunakan pengait atau sendok serumen (cerumen spoon) yang terbuat dari logam. Bila kotoran telinga lunak, akan diisap dengan pompa vakum, atau dengan menyemprotkan air hangat ke dalam liang telinga anak. Bila tidak berhasil karena kotoran keras, dokter akan meminta pasien meneteskan obat tetes selama beberapa hari untuk memudahkan pengambilan kotoran tersebut.

Banyak yang menganggap bahwa kotoran telinga yang berwarna kuning atau coklat merupakan hasil aktifitas bakteri. Itu merupakan pemahaman yang salah. Kotoran telinga yang dalam bahasa ilmiah disebut cerumen, sebenarnya diproduksi oleh telinga itu sendiri, tepatnya pada kelenjar kulit pada lubang telinga bagian luar.

Cerumen yang bersifat lengket mempunyai fungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh, yaitu melindungi kulit sensitif di dalam lubang telinga dari masuknya kotoran, kulit mati, dan bendabenda lain yang bisa menimbulkan masalah. Cerumen juga bersifat asam sehingga juga berfungsi sebagai anti bakteri yang kuat. Lapisan cerumen yang licin berfungsi mencegah bintik-bintik kering dan mengurangi rasa gatal.

Di dalam lubang telinga sendiri, mekanisme tubuh mampu membersihkan sendiri lubang telinga yang kotor jika berfungsi dengan baik. Kotoran telinga akan keluar dari lubang telinga dengan

sendirinya, prosesnya dibantu setiap kali rahang bergerak untuk berbicara atau mengunyah. Di saat kotoran telinga keluar pada bagian telinga yang terlihat, disitulah bagian yang aman untuk membersihkan kotoran telinga. Pada dasarnya, kehadiran cerumen memberikan banyak keuntungan bagi tubuh, dan upaya untuk membersihkan cerumen dari lubang telinga akan menimbulkan banyak masalah dan kerusakan pada pendengaran. Cerumen diproduksi pada sepertiga bagian luar lubang telinga, dan secara normal tidak mungkin bergerak masuk ke dalam daerah gendang telinga yang sangat sensitif, kecuali adanya tekanan dari luar. Membersihkan lubang telinga dengan kapas pembersih (cotton bud) justru akan mendorong cerumen masuk ke dalam daerah yang sangat sensitif. Bahaya yang ditimbulkan adalah infeksi dan kemungkinan gangguan pendengaran. Jika cerumen terakumulasi di daerah gendang telinga, cerumen bisa menyebabkan tinnitus (radang gendang telinga). Membersihkan cerumen juga menyebabkan kulit pada lubang telinga rawan terkena infeksi dan akan meningkatkan pertumbuhan bakteri karena hilangnya sifat asam pada lubang telinga.

Bahaya terbesar dari membersihkan cerumen dari lubang telinga adalah pecahnya gendang telinga, kemudian munculnya infeksi bakteri yang mematikan pada gendang telinga yang pecah. Dimana pada tahun 2008, seorang pria berasal dari Montreal, Canada meninggal dunia karena infeksi yang berasal dari gendang telinga yang pecah akibat dari membersihkan telinga dengan cotton bud. Seperti yang dijelaskan di atas, cerumen tidak diproduksi di daerah dekat gendang telinga. Namun karena banyak orang tidak tahu, mereka berusaha membersihkan telinga sedalam mungkin mendekati gendang telinga. Cara yang baik untuk membersihkan telinga adalah menggunakan handuk yang direndam dalam air hangat, jangan air dingin ataupun terlalu panas. Bersihkan bagian luar dari lubang telinga, tempat keluarnya kotoran telinga dan jangan memasukkan benda yang berbentuk stick (tongkat) seperti cotton bud, jari, pensil, dll. Jika anda merasa ada gangguan seperti infeksi pada telinga anda, segera konsultasikan dengan dokter anda

SainsMe - Hai Ramdan, pertanyaan kamu keren sekali. Banyak orang yang tidak mengerti mengenai seluk beluk telinga dan sering kali salah dalam melakukan tindakan pembersihan lubang telinga. Hal tersebut terjadi karena rasa risih terhadap kotoran di telinga yang terasa mengganggu. Well, sebenarnya kotoran telinga itu ada manfaatnya ngga sih? Apa manfaat cairan telinga? cairan telinga atau lebih dikenal dengan nama cerumen diproduksi oleh daerah di sepertiga bagian terluar lubang telinga. Dan jangan salah, cairan telinga ini besar sekali manfaatnya. Cairan lengket dan berbau tidak sedap ini ternyata mengandung bahan pelindung dan anti bakteri yang sangat berguna. Jadi sebenarnya cairan ini bertanggung jawab untuk proses pembersihan telinga kamu secara alamiah. Yap, tubuh memang punya mekanisme alami untuk membersihkan lubang telinga dan membuatnya tetap bisa mendengar, salah satunya ya dengan cairan telinga ini.

Bagian-bagian telinga manusia Tapi tentu saja cairan ini memberi manfaat apabila jumlahnya ideal dan tidak berlebih. Setelah menjalankan tugasnya, cairan telinga akan dengan sendirinya keluar dari telinga. Bagaimana

caranya? ternyata dengan dorongan aktifitas rahang kita seperti mengunyah dan menelan makanan. Percaya atau tidak, gerakan-gerakan rahang tersebut bisa mendorong kotoran telinga keluar melalui lubang telinga. Pada umumnya kotoran tersebut akan mengering dan rontok dengan sendirinya menjadi serpihan-serpihan. Yang harus diperhatikan saat membersihkan telinga Kebiasaan yang salah namun sangat sering dilakukan adalah membersihkan lubang telinga terlalu dalam dengan menggunakan cotton-bud. Alat pembersih ini sebenarnya berfungsi hanya untuk membersihkan daun telinga dan permukaan lubang telinga, dan bukan membersihkan telinga bagian dalam, karena justru berbahaya! Seperti yang sudah dijelaskan, kotoran telinga akan keluar secara alamiah ke arah luar. Sementara apabila kita menggunakan cotton-bud dengan cara mendorongnya terlalu dalam ke arah dalam lubang telinga, kita justru akan mendorong kotoran tersebut ke arah gendang telinga. Celakanya, kotoran yang masuk terlalu jauh akan sulit keluar dan semakin menumpuk. Akibatnya? Kotoran tersebut akan menghalangi gelombang suara dan membuat kamu kesulitan mendengar. Bahaya bukan? Selain itu, seperti yang terlihat pada gambar, ada banyak sekali bagian yang lunak, rumit dan sangat sensitif di dalam lubang telinga, jadi kita harus benar-benar berhati-hati dalam merawatnya. Kapan harus pergi ke dokter? Namun tetap saja ada kalanya kotoran diproduksi terlalu banyak atau mengalami kesulitan untuk keluar secara alamiah. Dalam hal ini lebih baik jika kamu menghubungi dokter untuk bantuan mengeluarkan kotoran telinga. Lalu kapan waktu yang tepat untuk pergi ke dokter? Nah kamu bisa pergi ke dokter apabila muncul keluhan berikut: 1. Timbul rasa sakit di telinga atau telinga terasa penuh oleh kotoran. 2. Kehilangan pendengaran sebagian, yang semakin lama terasa makin parah. 3. Telinga terasa berdengung untuk waktu yang lama. 4. Gatal, dan keluar bau yang sangat menyengat Tak selamanya membersihkan telinga itu baik. Salah penggunaan, justru bisa terjadi iritasi pada telinga, atau bahkan komplikasi pada alat dengar. Pada dasarnya, seperti disampaikan dr. Kartika Dwiyani, SpTHT, yang perlu diketahui bahwa liang telinga itu terdiri atas lapisan kulit yang mengandung kelenjar. Lapisan terluarnya akan selalu mengalami pengelupasan secara alami. Sementara kotoran telinga atau yang biasa disebut serumen, merupakan campuran dari hasil produksi kelenjar di liang telinga dengan pengelupasan tadi. Semua ini berfungsi untuk pembersihan, perlindungan telinga, serta pelumasan liang telinga. Jadi secara normal ada mekanisme pembersihan telinga secara otomatis (self cleansing). Kotoran telinga akan bergerak ke luar dari liang telinga dengan bantuan gerakan rahang saat mengunyah atau berbicara, ujarnya.

Mengapa bisa terjadi penumpukan serumen? Itu karena proses self cleansing tidak berfungsi dengan baik, tambahnya. Penyebab lainnya, yaitu kecepatan produksi serumen yang berbeda-beda pada setiap individu, atau penggunaan alat bantu dengar. Bisa juga karena ada kelainan kulit liang telinga dan ukuran liangnya yang sempit, ungkapnya. Namun Kartika menegaskan, penumpukan kotoran telinga ini hanya terjadi pada 1 dari 10 anak, 1 dari 20 orang dewasa, dan sepertiga dari populasi lanjut usia. Dampak penumpukan bisa berupa gangguan pendengaran, rasa berdengung di liang telinga, atau rasa nyeri pada liang telinga. Pada tahap ini, dia menyarankan perlunya tindakan medis berupa pembersihan liang telinga oleh dokter yang kompeten. Walaupun ada potensi penumpukan kotoran pada liang telinga, dia menyarankan agar tidak asal saat membersihkannya. Misalnya saat menggunakan cotton bud atau pembersih dari kapas. Yang lebih bahaya lagi adalah ketika kotoran telinga berjenis semi padat atau padat. Yang terjadi justru kotoran terdorong ke dalam, menekati gendang telinga, ujarnya. Dampak lain adalah iritasi pada kulit liang telinga akibat gesekan yang dapat menyebabkan infeksi. Lebih parah lagi, lanjut dokter THT yang praktek di RS Jakarta itu, penggunaan cotton bud yang terlalu dalam pada liang telinga juga dapat menyebabkan tertusuknya gendang telinga hingga berakibat kebocoran gendang telinga. Sementara terkait dengan penggunaan ear candle atau lilin terapi telinga, Kartika memastikan belum adanya bukti medis mengenai manfaat penggunaannya. Mengutip sebuah penelitian pada 1996 di Amerika, dia menuturkan, ternyata tidak ada pembersihan serumen pada pasien yang telah proses ear candling. Pada proses penelitan selanjutnya, dia mengungkapkan, survei dilakukan terhadap 122 dokter spesialis THT di Amerika. Hasilnya menakjubkan. Dari pengakuan para dokter yang jadi responden itu, ditemukan 21 kasus komplikasi langsung setelah menjalani ear candling. Sebanyak 13 pasien mengalami luka bakar di daun telinga, 7 pasien mengalami penyumbatan di liang telinga dan 1 pasien mengalami kebocoran gendang telinga. Pada komplikasi tidak langsung, ditemukan: 3 pasien mengalami infeksi pada liang telinga luar dan 6 pasien lainnya mengalami penurunan pendengaran sementara. Selanjutnya, agar pembersihan liang telinga tetap aman, dokter spesialis dari Universitas Indonesia ini memberikan beberapa saran: 1. Mengingat adanya mekanisme self cleansing, tidak perlu terlalu sering membersihkan bagian dalamnya. Variasi waktunya memang berbeda bagi setiap individu, karena perbedaan kondisi anatomi dan kecepatan produksi serumen di liang telinga, katanya.

2. Untuk menjaga kebersihan, cukup bersihkan liang telinga bagian luar saja. 3. Penggunaan cotton bud, tissue lembut, atau kapas hanya untuk membersihkan daun telinga dan bagian luar dari liang telinga. Tidak untuk dimasukkan ke dalam liang telinga. 4. Kalaupun menggunakan cotton bud, pilihlah yang berkualitas baik, sehingga terhindar dari risiko terlepasnya kapas dari tangkainya atau pun patahnya tangkai cotton bud. 5. Hindari penggunaan cotton bud yang menimbulkan gesekan terlalu kuat pada kullit dinding liang telinga. 6. Untuk pembersihan liang telinga bagian lebih dalam, dapat dilakukan dengan kontrol teratur ke dokter spesialis THT, misalnya enam bulan sekali. Bisa juga tergantung dari kondisi dan keluhan yang dialami masing-masing pasien.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi Telinga Secara umum telinga terbagi atas telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.

Telinga luar sendiri terbagi atas daun telinga, liang telinga dan bagian lateral dari membran timpani (Lee K.J,1995; Mills JH et al, 1997). Daun telinga di bentuk oleh tulang rawan dan otot serta ditutupi oleh kulit. Ke arah liang telinga lapisan tulang rawan berbentuk corong menutupi hampir sepertiga lateral, dua pertiga lainnya liang tel inga dibentuk oleh tulang yang ditutupi kulit yang melekat erat dan berhubungan dengan membran timpani. Bentuk daun telinga dengan berbagai tonjolan dan cekungan serta bentuk liang telinga yang lurus dengan panjang sekitar 2,5 cm, akan menyebabkan terjadinya resonansi bunyi sebesar 3500 Hz (Mills JH et al, 1997). Telinga tengah berbentuk seperti kubah dengan enam sisi. Telinga tengah terbagi atas tiga bagian dari atas ke bawah, yaitu epitimpanum terletak di atas dari batas atas membran timpani, mesotimpanum disebut juga kavum timpani terletak medial dari membran timpani dan hipotimpanum terletak kaudal dari membran timpani (Liston SL et al,1989; Pickles JO,1991). Organ konduksi di dalam telinga tengah ialah membran timpani, rangkaian tulang pendengaran, ligamentum penunjang, tingkap lonjong dan tingkap bundar (Liston SL et al,1989; Pickles JO,1991; Mills JH et al, 1997). Kontraksi otot tensor timpani akan menarik manubrium maleus ke arah anteromedial, mengakibatkan membran timpani bergerak ke arah dalam, sehingga besar
Universitas Sumatera Utara

energi suara yang masuk dibatasi (Liston SL et al,1989; Pickles JO,1991; Mills JH et al, 1997). Fungsi dari telinga tengah akan meneruskan energi akustik yang berasal dari telinga luar kedalam koklea yang berisi cairan. Sebelum memasuki koklea bunyi akan diamplifikasi melalui perbedaan ukuran membran timpani dan tingkap lonjong, daya ungkit tulang pendengaran dan bentuk spesifik dari membran timpani. Meskipun bunyi yang diteruskan ke dalam koklea mengalami amplifikasi yang cukup besar, namun ef isiensi energi dan kemurnian bunyi tidak mengalami distorsi walaupun intensitas bunyi yang diterima sampai 130 dB (Mills JH et al, 1997). Aktifitas dari otot stapedius disebut juga reflek stapedius pada manusia akan muncul pada intensitas bunyi diatas 80 d B (SPL) dalam bentuk reflek bilateral dengan sisi homolateral lebih kuat. Reflek otot ini berfungsi melindungi koklea, efektif pada frekuensi kurang dari 2 khz dengan masa latensi 10 mdet dengan daya redam 5 10 dB. Dengan demikian dapat dikatakan telinga

mempunyai filter terhadap bunyi tertentu, baik terhadap intensitas maupun frekuensi (Liston SL et al,1989; Pickles JO,1991; Mills JH et al, 1997; Wright A, 1997).
Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.1. Anatomi Telinga (Dhingra PL., 2007) Telinga dalam terdiri dari organ kesimb angan dan organ pendengaran. Telinga dalam terletak di pars petrosus os temporalis dan disebut labirin karena bentuknya yang kompleks. Telinga dalam pada waktu lahir bentuknya sudah sempurna dan hanya mengalami pembesaran seiring dengan pertumbuhan tulang temporal. Telinga dalam terdiri dari dua bagian yaitu labirin tulang dan labirin membranosa. Labirin tulang merupakan susunan ruangan yang terdapat dalam pars petrosa os temporalis ( ruang perilimfatik) dan merupakan salah satu tulang terkeras. Labirin tulang terdiri dari vestibulum, kanalis semisirkularis dan kohlea (Santi PA, 1993; Lee KJ, 1995; Wright A, 1997; Mills JH et al, 1998). Vestibulum merupakan bagian yang membesar dari labirin tulang dengan ukuran panjang 5 mm, tinggi 5 mm dan dalam 3 mm. Dinding medial menghadap ke meatus akustikus internus dan ditembus oleh saraf. Pada dinding medial terdapat dua cekungan yaitu spherical recess untuk sakulus dan eliptical recess untuk utrikulus. Di bawah eliptical recess terdapat lubang kecil akuaduktus vestib ularis yang menyalurkan duktus endolimfatikus ke fossa kranii posterior diluar duramater (Santi PA, 1993; Lee KJ, 1995; Wright A, 1997; Mills JH et al, 1998). Di belakang spherical recess terdapat alur yang disebut vestibular crest. Pada ujung bawah alur i ni terpisah untuk mencakup recessus kohlearis yang membawa serabut saraf kohlea kebasis kohlea. Serabut saraf untuk utrikulus, kanalis semisirkularis superior dan lateral menembus dinding tulang pada daerah yang berhubungan dengan N. Vestibularis pada fundus meatus akustikus internus. Di dinding posterior vestibulum mengandung 5
Universitas Sumatera Utara

lubang ke kanalis semisirkularis dan dinding anterior ada lubang berbentuk elips ke skala vestibuli kohlea (Mills JH et al, 1998; Santi PA, 1993). Gambar 2 .2 Anatomi Telinga Dala m (Dhingra PL., 2007) Ada tiga buah semisirkularis yaitu kanalis semisirkularis superior, posterior dan lateral yang terletak di atas dan di belakang vestibulum. Bentuknya seperti dua pertiga

lingkaran dengan panjang yang tidak sama tetapi dengan diameter yang hampir sama sekitar 0,8 mm. Pada salah satu ujungnya masing masing kanalis ini melebar disebut ampulla yang berisi epitel sensoris vestibular dan terbuka ke vestibulum (Wright A., 1997). Ampulla kanalis superior dan lateral letaknya bersebelahan pada masing masing ujung anterolateralnya, sedangkan ampulla kanalis posterior terletak dibawah dekat lantai vestibulum. Ujung kanalis superior dan inferior yang tidak mempunyai ampulla bertemu dan bersatu membentuk crus communis yang masuk vestibulum pada dinding posterior bagian tengah. Ujung kanalis lateralis yang tidak memiliki ampulla masuk vestibulum sedikit dibawah cruss communis (Ballenger, 1996). Kanalis lateralis kedua telinga terletak pada bidang yang hampir sama yaitu bidang miring ke bawah dan belakang dengan sudut 30 derajat terhadap bidang horizontal bila
Universitas Sumatera Utara

orang berdiri. Kanalis lainnya letaknya tegak lurus terhadap kanal ini sehingga kanalis superior sisi telinga kiri letaknya hampir sejajar dengan posterior telinga kanan demikian pula dengan kana lis posterior telinga kiri sejajar dengan kanalis superior teling kanan (Mills JH, 1998). Koklea membentuk tabung ulir yang dilindungi oleh tulang dengan panjang sekitar 35 mm dan terbagi atas skala vestibuli, skala media dan skala timpani. Skala timpani d an skala vestibuli berisi cairan perilimfa dengan konsentrasi K
+

4 mEq/l dan Na
+

139 mEq/l. Skala media berada dibagian tengah, dibatasi oleh membran reissner, membran basilaris, lamina spiralis dan dinding lateral, berisi cairan endolimfa dengan konsentra si K
+

144 mEq/l dan Na


+

13 mEq/l. Skala media mempunyai potensial positif (+ 80 mv) pada saat istirahat dan berkurang secara perlahan dari basal ke apeks (Ballenger JJ, 1996). Gambar 2 .3 Kohklea (Dhingra PL., 2007) Organ corti terletak di membran basil

aris yang lebarnya 0.12 mm di bagian basal dan melebar sampai 0.5 mm di bagian apeks, berbentuk seperti spiral. Beberapa komponen penting pada organ corti adalah sel rambut dalam, sel rambut luar, sel penunjang Deiters,
Universitas Sumatera Utara

Hensens, Claudius, membran tektoria dan lamina retikularis (Santi PA, 1993; Wright A, 1997; Mills JH et al, 1998). Sel sel rambut tersusun dalam 4 baris, yang terdiri dari 3 baris sel rambut luar yang terletak lateral terhadap terowongan yang terbentuk oleh pilar pilar Corti, dan sebaris sel rambut dalam yang terletak di medial terhadap terowongan. Sel rambut dalam yang berjumlah sekitar 3500 dan sel rambut luar dengan jumlah 12000 berperan dalam merubah hantaran bunyi dalam bentuk energi mekanik menjadi energi listrik (Ballenger JJ, 1996 ). Gambar 2 .4 Organ Corti (Dhingra PL., 2007) 2.1.1 Vaskularisasi telinga dalam Vaskularisasi telinga dalam berasal dari A. Labirintin cabang A. Cerebelaris anteroinferior atau cabang dari A. Basilaris atau A. Verteberalis. Arteri ini masuk ke meatus akustikus internus dan terpisah menjadi A. Vestibularis anterior dan A. Kohlearis communis yang bercabang pula menjadi A. Kohlearis dan A. Vestibulokohlearis. A. Vestibularis anterior memperdarahi N. Vestibularis, urtikulus dan sebagian duktus semisirkula ris. A.Vestibulokohlearis sampai di mediolus daerah putaran basal kohlea terpisah menjadi cabang terminal vestibularis dan cabang kohlear. Cabang vestibular
Universitas Sumatera Utara

memperdarahi sakulus, sebagian besar kanalis semisirkularis dan ujung basal kohlea. Cabang kohlear memperdarahi ganglion spiralis, lamina spiralis ossea, limbus dan ligamen spiralis. A. Kohlearis berjalan mengitari N. Akustikus di kanalis akustikus internus dan didalam kohlea mengitari modiolus (Santi PA, 1993; Lee K.J, 1995). Vena dialirkan ke V.Labir intin yang diteruskan ke sinus petrosus inferior atau sinus sigmoideus. Vena vena kecil melewati akuaduktus vestibularis dan kohlearis ke sinus petrosus superior dan inferior (Santi PA, 1993 ; Lee K.J, 1995). 2.1.2

Persarafan telinga dalam N.Vestibulokohl earis (N.akustikus) yang dibentuk oleh bagian kohlear dan vestibular, didalam meatus akustikus internus bersatu pada sisi lateral akar N.Fasialis dan masuk batang otak antara pons dan medula. Sel sel sensoris vestibularis dipersarafi oleh N.Kohlearis denga n ganglion vestibularis (scarpa) terletak didasar dari meatus akustikus internus. Sel sel sensoris pendengaran dipersarafi N.Kohlearis dengan ganglion spiralis corti terletak di modiolus (Santi PA,1993; Wright A, 1997; Mills JH et al,1998). 2.2 Fisiolog i Pendengaran Beberapa organ yang berperan penting dalam proses pendengaran adalah membran tektoria, sterosilia dan membran basilaris. Interaksi ketiga struktur penting tersebut sangat berperan dalam proses mendengar. Pada bagian apikal sel rambut sangat k aku dan terdapat penahan yang kuat antara satu bundel dengan bundel lainnya, sehingga bila mendapat stimulus akustik akan terjadi gerakan yang kaku bersamaan. Pada bagian puncak stereosillia terdapat rantai pengikat yang menghubungkan stereosilia yang tinggi dengan
Universitas Sumatera Utara

stereosilia yang lebih rendah, sehingga pada saat terjadi defleksi gabungan stereosilia akan mendorong gabungan gabungan yang lain, sehingga akan menimbulkan regangan pada rantai yang menghubungkan stereosilia tersebut. Keadaan tersebut akan me ngakibatkan terbukanya kanal ion pada membran sel, maka terjadilah depolarisasi. Gerakan yang berlawanan arah akan mengakibatkan regangan pada rantai tersebut berkurang dan kanal ion akan menutup. Terdapat perbedaan potensial antara intra sel, perilimfa dan endolimfa yang menunjang terjadinya proses tersebut. Potensial listrik koklea disebut koklea mikrofonik, berupa perubahan potensial listrik endolimfa yang berfungsi sebagai pembangkit pembesaran gelombang energi akustik dan sepenuhnya diproduksi oleh sel rambut luar (May, Budelis, & Niparko, 2004). Pola pergeseran membran basilaris membentuk gelombang berjalan dengan amplitudo maksimum yang berbeda sesuai dengan besar frekuensi stimulus yang diterima. Gerak gelombang membran basilaris yang timbul oleh bunyi berfrekuensi tinggi (10 kHz) mempunyai pergeseran maksimum pada bagian basal koklea, sedangkan stimulus berfrekuensi rendah (125 kHz) mempunyai pergeseran maksimum lebih kearah apeks. Gelombang yang timbul oleh bunyi berfrekuensi sangat tinggi tidak da pat mencapai bagian

apeks, sedangkan bunyi berfrekuensi sangat rendah dapat melalui bagian basal maupun bagian apeks membran basilaris. Sel rambut luar dapat meningkatkan atau mempertajam puncak gelombang berjalan dengan meningkatkan gerakan membran basilaris pada frekuensi tertentu. Keadaan ini disebut sebagai cochlear amplifier .
Universitas Sumatera Utara

enal sebagai serumen merupakan produk yang dihasilkan oleh kelenjar di liang telinga yang akan melapisi kulit liang telinga serta melindungi telinga dari kerusakan dan infeksi. Karena sifatnya yang kental dan lengket, maka serumen mampu menangkap debu dan bakteri serta mencegahnya masuk ke bagian telinga yang lebih dalam. Serumen terdiri dari asam lemak tersaturasi dan keasamannya mampu melawan bakteri yang masuk. Disamping itu, lapisan yang menyerupai lilin ini juga akan menjaga kulit liang telinga agar tetap terlumasi dengan baik sehingga mencegah kulit liang telinga menjadi kering dan mengurangi rasa gatal. Pada keadaan normal, liang telinga memiliki mekanisme untuk membersihkan dirinya sendiri. Secara alami serumen yang terdapat di dalam liang telinga akan berjalan menuju ke bagian luar dari telinga, proses ini dibantu oleh gerakan rahang saat kita mengunyah dan berbicara. Saat serumen telah mencapai area yang dapat dilihat, bersihkanlah dengan menggunakan handuk hangat. Hindarilah penggunaan kapas pembersih telinga (cutton bud), terutama yang bersifat kasar, karena dapat menyebabkan kulit liang telinga terluka dan menimbulkan infeksi bahkan ketulian. Apa yang akan terjadi jika telinga dibersihkan terlalu sering? Kulit liang telinga bersifat lembut dan sensitif. Gesekan yang terjadi akibat penggunaan cutton bud dapat menimbulkan luka kecil dan menyebabkan kulit mudah diserang oleh partikel debu dan bakteri sehingga mengalami infeksi. Selain itu, kebiasaan membersihkan telinga akan menghilangkan serumen yang melapisi kulit liang telinga. Tidak adanya serumen di liang telinga akan menyebabkan berkurangnya keasaman di liang telinga, sehingga bakteri dapat tumbuh dengan subur. Serumen hanya diproduksi di 1/3 bagian luar liang telinga, karena itu serumen tidak akan ditemukan pada bagian telinga yang lebih dalam dekat gendang telinga, kecuali akibat penggunaan cutton bud yang mendorong serumen ke tempat yang lebih dalam. Serumen yang sudah mencapai bagian telinga yang lebih dalam tidak dapat dikeluarkan secara alami oleh liang telinga, sehingga serumen ini akan menumpuk di dalam telinga. Penumpukan serumen di dalam telinga dapat memicu terjadinya infeksi dan gangguan pendengaran.

Penggunaan cutton bud yang salah juga dapat menyebabkan trauma pada gendang telinga dan menyebabkan pecahnya gendang telinga sehingga timbul gangguan pendengaran. Gendang telinga yang pecah memang tidak akan menyebabkan kematian, namun jika tidak diobati dengan tepat dapat menyebabkan terjadinya infeksi bakteri yang mematikan. Apa yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan telinga? Yang terbaik yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan telinga adalah dengan mengusap lembut bagian luar telinga dengan menggunakan handuk yang direndam air hangat. Bagian luar telinga merupakan tempat dimana terdapat sel-sel kulit yang mati, kotor dan tempat berakhirnya serumen yang dikeluarkan dari liang telinga, sehingga penggunaan handung hangat merupakan cara yang mudah dan aman untuk membersihkan telinga. Hindari untuk menggunakan benda apapun yang dimasukkan ke dalam telinga, seperti kapas pembersih telinga (cutton bud), jari, penjepit, pinsil atapun benda-benda lain. Jika serumen dirasakan telah menumpuk di dalam telinga, yang ditandai oleh keluhan sakit telinga, gangguan pendengaran, gatal, tercium bau yang tidak enak, atau merasa ada benda asing dalam telinga, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan mengeluarkan serumen yang menumpuk di dalam telinga dengan menggunakan alat-alat khusus untuk tanpa membahayakan telinga. [](DP) 9 Baca Sebelumnya

Gejala Flu dan Reaksi Tubuh

Makan Cepat, Makan Berlebihan

Gigi berlubang, Jangan Takut Bor

BAB 2 TINJAUAN PUS TAKA 2.1. Anatomi telinga

Gambar 1 anatomi telinga (Sumber: Kaneshiro N K,2011) 2.1.1. Anatomi telinga luar Anatomi luar terdiri dari, h eliks , lipatan heliks , kanal heliks , kanalis auditorius eksterna , lobulus , tragus, antitragus . 2.1.2. Anatomi telinga tengah Telinga tengah terdiri dari : Membran timpani. Kavum timpani. Prosesus mastoideus. Tuba Eustachius 2.1.2.1. Membran Timpani Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Membrana ini panjang vertical
Universitas Sumatera Utara

rata rata 9 10 mm dan diameter antero posterior kira kira 8 -

9 mm, ketebalannya rata rata 0,1 mm. 2.1.2.2. Kavum Timpani Kavum timpani terletak didalam pars petrosa dari tulang temporal, bentuknya bikonkaf, atau seperti kotak korek api. Diameter anteroposterior atau vertikal 15 mm, sedangkan diameter transversal 2 6 mm. Kavum timpani terdiri dari : 1. Tulang tulang pendengaran ( maleus, inkus, stapes). 2. Dua otot. 3. Saraf korda timpani. 4. Saraf pleksus timpanikus 2.1.2.3. Prosesus Mastoideus Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak mengarah ke kauda l. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial adalah dinding lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak dibawah duramater pada daerah ini. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum. Aditus antrum mastoid adalah suatu pin tu yang besar iregular berasal dari epitisssmpanum posterior menuju rongga antrum yang berisi udara, sering disebut sebagai aditus ad antrum. Dinding medial merupakan penonjolan dari kanalis semisirkularis lateral. Dibawah dan sedikit ke medial dari promon torium terdapat kanalis bagian tulang dari n. fasialis. Prosesus brevis inkus sangat berdekatan dengan kedua struktur ini dan jarak rata rata diantara organ : n. VII ke kanalis semisirkularis 1,77 mm; n.VII ke prosesus brevis inkus 2,36 mm : dan prosesus b revis inkus ke kanalis semisirkularis 1,25 mm. Antrum mastoid adalah sinus yang berisi udara didalam pars petrosa tulang temporal. Berhubungan dengan telinga tengah melalui aditus dan mempunyai sel sel udara mastoid yang berasal dari dinding dindingnya. An

trum sudah berkembang baik pada saat lahir dan pada dewasa mempunyai volume 1 ml, panjang dari depan kebelakang sekitar 14 mm, daria atas kebawah 9mm dan dari
Universitas Sumatera Utara

sisi lateral ke medial 7 mm. Dinding medial dari antrum berhubungan dengan kanalis semisirkularis posterior dan lebih ke dalam dan inferiornya terletak sakus endolimfatikus dan dura dari fosa kranii posterior. Atapnya membentuk bagian dati lantai fosa kranii media dan memisahkan antrum dengan otak lobus temporalis. Dinding posterior terutama dibentuk oleh tulang yang menutupi sinus. Dinding lateral merupakan bagian dari pars skumosa tulang temporal dan meningkat ketebalannya selama hidup dari sekitar 2 mm pada saat lahir hingga 1215 mm pada dewasa. Dinding lateral pada orang dewasa berhubungan dengan trigonum suprameatal ( Macewens) pada permukaan luar tengkorak. Lantai antrum mastoid berhubungan dengan otot digastrik dilateral dan sinus sigmoid di medial, meskipun pada aerasi tulang mastoid yang jelek, struktur ini bisa berjarak 1 cm dari dinding ant rum inferior. Dinding anterior antrum memiliki aditus pada bagian atas, sedangkan bagian bawah dilalui n.fasialis dalam perjalanan menuju ke foramen stilomastoid. (Siti Nursiah , 2003) 2.1.2.4. Tuba Eustachius Tuba Eustachius adalah saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring. Fungsi tuba ini adalah untuk ventilasi, drenase secret dan menghalangi masuknya secret dari nasofaring ke telingah tengah. Ventilasi berguna untuk menjaga agar tekanan udara dalam telinga tengah selalu sama den gan tekanan udara luar. Tuba Eustachius t erdiri atas tulang rawan pada dua pertiga kearah nasofaring dan sepertiga nya terdiri atas tulang. Pada anak, tuba lebih pendek, lebih lebar dan kedudukan nya lebih horizontal dari tuba orang dewasa. Panjang tuba or ang dewasa 37.5 mm dan pada anak anak dibawah 9 bulan adalah 17.5.mm (Djaafar ZA , 2007) 2.1.3. Anatomi telinga dalam Bentuk telinga dalam sedemikian kompleknya sehingga disebut sebagai labirin. Labirin itu sendiri terisi oleh endolimfe, satu satunya cairan ekstraseluler

dalam tubuh yang tinggi kalium dan rendah natrium. Labirin membrane
Universitas Sumatera Utara

dikelilingi oleh cairan perilimfe ( tinggi natrium rendah kalium) yang terdapat dalam kapsula otika bertulang. Labirin tulang dan membrane memiliki vestibular dan bagi an koklear. Bagian vestibular (pars superior berhubungan dengan keseimbangan sementara bagian koklearis (pars inferior) merupakan bagian pendengaran. (L Stephen , 1997). 2.2. Fisiologi pendengaran Getaran suara ditangkap oleh daun telinga yang dialirkan keliang telinga dan mengenai membran timpani, sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini diteruskan ke tulang tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain. Selanjutnya stapes menggerakkan tingkap lonjong (foramen ovale) yang juga menggerakkan pe rilimf dalam skala vestibuli. Getaran diteruskan melalui membran Reissener yang mendorong endolimf dan membran basal kearah bawah, perilimf dalam skala timpani akan bergerak sehingga tingkap (forame rotundum) terdorong ke arah luar. Skala media yang menja di cembung mendesak endolimf dan mendorong membran basal, sehingga menjadi cembung kebawah dan menggerakkan perilimf pada skala timpani. Pada waktu istirahat ujung sel rambut berkelok kelok, dan dengan berubahnya membran basal ujung sel rambut menjadi luru s. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion Kalium dan ion Natrium menjadi aliran listrik yang diteruskan ke cabang cabang n.VII, yang kemudian meneruskan rangsangan itu ke pusat sensorik pendengaran diotak ( area 39 40) melalui saraf pusa t yang ada dilobus temporalis.(Siti Nursiah , 2003) 2.3. Definisi Otitis media supuratif kronik

Otitis media supuratif kronik adalah Suatu radang kronis telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari telinga (otorea) le bih dari 2 bulan, baik terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah (Soepardi, 2007).
Universitas Sumatera Utara

2.4. Etiologi Otitis Media Supuratif Kronis Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak, jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba eustachius. Fungsi tuba eustachius yang abnormal merupakan faktor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan cleft palate dan Down Sindrome . Adanya tuba patulous, menyebabkan refluk isi nasofaring yang merupakan faktor insiden OMSK yang tinggi di Amerika Serikat (Nursiah, 2003). Faktor Host yang berkaitan dengan insiden OMSK yang relatif tinggi adalah defisiensi imun sistemik. Kelainan humoral (seperti hipogammaglobulinemia) dan cell mediated (seperti infeksi HIV, sindrom kemalasan leukosit) dapat manifest sebagai sekresi telinga kronis(Nursiah,2003). 2.5 . Epidemiologi OMSK Otitis media supurati f kronik (OMSK) merupakan penyakit infeksi telinga yang memiliki prevalensi tinggi dan menjadi masalah kesehatan di masyarakat. Di negara berkembang dan negara maju prevalensi OMSK berkisar antara 1 46%, dengan prevalensi tertinggi terjadi pada populasi di Eskimo (12 46%), sedangkan prevalensi terendah terdapat pada populasi di Amerika dan Inggris kurang dari 1%. Di Indonesia menurut Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran, Depkes tahun 1993 1996 prevalensi OMSK adalah 3,1% populasi

. Dan jenis k elamin tersing pada OMSK Berdasarakan penelitian di Medan mendapatkan jenis kelamin tertinggi yaitu laki laki (Nora Balqis, 2010). Dan di Surabaya jenis kelamin tersering pada OMSK adalah laki laki (Suryanti, 2003) 2.6. OMSK dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : a. Lingkungan Hubungan penderita OMSK dan faktor sosial ekonomi belum jelas, tetapi mempunyai hubungan erat antara penderita dengan OMSK dan sosioekonomi, dimana kelompok sosioekonomi rendah mem iliki insiden yang lebih tinggi. Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum, diet dan tempat tinggal yang padat.
Universitas Sumatera Utara

b. Genetik Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah insiden OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik. Sistem sel sel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media, tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder. c. Otitis media sebelumnya Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan kronis. d. Infeksi Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah baik aerob ataupun anaerob menunjukkan organisme yang multipel. Organisme yang terutama dijumpai adalah gram negatif, bowel type flora dan beberapa organisme lainnya. e. Infeksi saluran napas atas Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah dan

menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri. f. Autoimun Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap otitis media kronis. g. Alergi Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi diban ding yang bukan alergi. h. Gangguan fungsi tuba eustachius. Pada otitis media supuratif kronis aktif, tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomena primer atau sekunder masih belum diketahui. (Ballenger, 1997 )
Universitas Sumatera Utara

2.7 . KLASIFIKASI OMSK dapat dibagi atas 2 tipe yaitu : 2.7.1. Tipe tubotimpanal = tipe jinak = tipe aman = tipe rhinogen. Penyakit tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius, infeksi saluran nafas atas, pertahanan mukosa terhadap infeksi yang gagal pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah, disamping itu campuran bakteri aerob dan anaerob, luas dan derajat perubahan mukosa, serta migrasi sekunder dari epitel skuamous. Sekret mukoid kronis berhubung an dengan hiperplasia goblet sel, metaplasia dari mukosa telinga tengah pada tiperespirasi dan mukosiliar yang jelek. (Nursiah, 2003). Secara klinis penyakit tubotimpani terbagi berdasarkan aktivitas sekret yang dikeluar: Penyakit aktif OMSK dengan sekre t yang keluar dari kavum timpani secara aktif Penyakit tidak aktif (tenang ) Keadaan kavum timpani terlihat basah atau kering 2.7.2.

Tipe atikoantral = tipe ganas = tipe tidak aman = tipe tulang Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Penyakit atikoantral lebih sering mengenai pars flaksida dan khasnya dengan terbentuknya kantong retraksi yang mana bertumpuknya keratin sampai menghasilkan kolesteatom. Kolesteatom adalah suatu massa amorf, konsistensi seperti mentega, berwarna putih, te rdiri dari lapisan epitel bertatah yang telah nekrotik (Soepardi EA, 2007). Bentuk perforasi membran timpani adalah : 1. Perforasi sentral Lokasi pada pars tensa, bisa antero inferior, postero inferior dan postero superior, kadang kadang sub total.
Universitas Sumatera Utara

e-NEWSLETTE

Masukkan e-mail untuk mendapatkan informasi terbaru dari klikdokter

C. Anatomi Fisiologi Telinga luar terdiri dari aurikula atau pinna dan kanalis auditoris eksternus, dipisahkan oleh telinga tengah oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membran timpani. ( gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat kesisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago terutama kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus. Tepat didepan meatus auditorius eksternus adalah sendi temporomandibular. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika membuka dan menutup mulut. Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2,5 cm. 1/3 lateral mempunyai rangka kartilago dan fibrosa padat dimana kulit melekat. 2/3 medial terdiri Dario tulang yang dilapisi kulit tipis . kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrane timpani. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus, glandula seminurosa, yang mensekresi substansi seperti lilin disebut serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar telinga. Saerumen nampaknya mempunyai sifat anti bakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit. D. Patofisiologi Kadang-kadang pada kanalis dapat terjadi impaksi, yang dapat menyebabkan otalgia, rasa penuh dalam telinga dan atau kehilangan pendengaran. Penumpukan serumen terutama bermakna pada populasi geriatrik sebagai penyebab defisit pendengaran. usaha membersihkan kanalis auditorius dengan batang korek api, jepit rambut, atau alat lain bisa berbahaya karena trauma terhadap kulit bisa menyebabkan infeksi. Anak-anak sering memasukkan benda-benda kecil ke dalam saluran telinganya, terutama manik-manik, penghapus karet atau kacang-kacangan.

E.

Manifestasi Klinis Gejala klinis yang umumnya dirasakan oleh penderita penyakit impaksi serumen, antara lain :

Pendengaran berkurang. Nyeri di telinga karena serumen yang keras membatu menekan dinding liang telinga. Telinga berdengung (tinitus). Pusing dimana pasien merasakan lingkungan di sekitarnya berputar (vertigo) F. Pemeriksaan Penunjang

1. CT-Scan tulang tengkorak, mastoid terlihat kabur, ada kerusakan tulang 2. Scan Galium-67, terlihat focus inf akut yg akan kembali normal dgn resolusi inf. 3. Scan Tekhnetium-99, terlihat aktifitas osteoblastik yg akan kembali normal beberapa bulan setelah resolusi klinik 4. MRI, monitor serebral, pembuluh darah yang terkait 5. Tes Laboratorium,sample nanah untuk kultur dan tes sensitivitas antibiotic 6. Uji Weber memanfaatkan konduksi tulang untuk menguji adanya lateralisasi suara. Sebuah garpu tala dipegang erat pada gagangnya dan pukulkan pada lutut atau pergelangan tangan pemeriksa. Kemudian diletakkan pada dahi atau gigi pasien. Pasien ditanya apakah suara terdengar di tengah kepala, di telinga kanan atau telinga kiri. Individu dengan pendengaran normal akan mendengar suara seimbang pada kedua telinga atau menjelaskan bahwa suara terpusat di tengah kepala. Bila ada kehilangan pendengaran konduktif (otosklerosis, otitis media), suara akan lebih jelas terdengar pada sisi yang sakit. Ini disebabkan karena obstruksi akan menghambat ruang suara, sehingga akan terjadi peningkatan konduksi tulang. Bila terjadi kehilangan sensorineural, suara akan meng-alami lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik. Uji Weber berguna untuk kasus kehilangan pendengaran unilateral. 7. Uji Rinne gagang garpu tala yang bergetar ditempatkan di belakang aurikula pada tulang mastoid (konduksi tulang) sampai pasien tak mampu lagi mendengar suara. Kemudian garpu tala dipindahkan pada jarak 1 inci dari meatus kanalis auditorius eksternus (konduksi uda-ra). Pada keadaan normal pasien dapat terus mendengarkan suara, menunjukkan bahwa konduksi udara berlang-sung lebih lama dari konduksi tulang. Pada kehilangan pendengaran konduktif, konduksi

tulang akan melebihi konduksi udara begitu konduksi tulang melalui tulang temporal telah menghilang, pasien sudah tak mampu lagi mendengar garpu tala melalui mekanisme konduktif yang biasa. Sebaliknya kehilangan pendengaran sensorineural memungkinkan suara yang dihantarkan melalui udara lebih baik dari tulang, meskipun keduanya merupakan konduktor, yang buruk dan segala suara diterima seperti sangat jauh dan lemah G. Penatalaksanaan Kotoran telinga (serumen) bisa menyumbat saluran telinga dan menyebabkan gatal-gatal, nyeri serta tuli yang bersifat sementara dan dokter akan membuang serumen tersebut dengan cara menyemburnya secara perlahan dengan menggunakan air hangat (irigasi). Tetapi jika dari telinga keluar nanah, terjadi perforasi gendang telinga atau terdapat infeksi telinga yang berulang, maka irigasi tidak dapat dilakukan karena air bisa masuk ke telinga tengah dan kemungkinan akan memperburuk infeksi. Pada keadaan ini, serumen dibuang dengan menggunakan alat yang tumpul atau dengan alat penghisap. Biasanya tidak digunakan pelarut serumen karena bisa menimbulkan iritasi atau reaksi alergi pada kulit saluran telinga dan tidak mampu melarutkan serumen secara adekuat. Adapun cara-cara untuk mengeluarkan serumen yang menumpuk di liang telinga, antara lain: 1. Serumen yang lembek dibersihkan dengan kapas yang dililitkan pada aplikator (pelilit). 2. Serumen yang keras dikeluarkan dengan pengait atau kuret. 3. Serumen yang sangat keras (membatu), dilembekkan terlebih dahulu dengan karbogliserin 10%, 3 x 5 tetes sehari, selama 3 5 hari, setelah itu dikeluarkan dengan pengait atau kuret dan bila perlu dilakukan irigasi telinga dengan air yang suhunya sesuai dengan suhu tubuh. 4. Serumen yang terlalu dalam dan mendekati membran timpani dikeluarkan dengan cara mengirigasi liang telinga dengan menggunakan air hangat bersuhu 37 oC agar tidak menimbulkan vertigo karena terangsangnya vestibuler. H.
Terdorongnyaserumen kelubang lebih dalam

Dermatitis kronik pada telinga

Phatway