Anda di halaman 1dari 32

KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN DENGAN MODEL KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE (TPS) TERHADAP SUB POKOK BAHASAN HIDROKARBON PADA SISWA

KELAS X SMA NEGERI 3 PALANGKARAYA TAHUN PELAJARAN 2008/2009

SKRIPSI

OLEH YULIAWATI ACC 104 033

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA FAKULTAS KLEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN MIPA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA 2009

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pelajaran kimia merupakan salah satu pelajaran yang memiliki karakteristik tersendiri dan memerlukan keterampilan dalam memecahkan masalah-masalah ilmu kimia yang berupa teori, konsep, hukum, dan fakta. Salah satu tujuan pembelajaran ilmu kimia di SMA adalah agar siswa memahami konsep-konsep kimia dan saling keterkaitanya serta penerapanya baik dalam kehidupan sehari-hari maupun teknologi. Oleh sebab itu, siswa diharapkan mampu memahami dan menguasai konsep-konsep kimia (Depdiknas, 2003). Hidrokarbon merupakan salah satu materi kimia yang diajarkan di SMA kelas X semestar genap. Pada pokok bahasan hidrokarbon, khususnya tentang penggolongan hidrokarbon, siswa dituntut untuk dapat menguasai dan memahami penentuan nama senyawa alkana, alkena, alkuna. Pemahaman konsep hidrokarbon ini mencakup: penentuan rantai terpanjang, prioritas penomoran pada rantai terpanjang, dan urutan prioritas alkil berdasarkan abjad. Jika siswa tidak menguasai hal tersebut maka akan mengalami kesulitan dalam tata nama senyawa hidrokarbon. Berdasarkan wawancara dengan guru bidang studi kimia kelas X SMA Negeri 3 Palangka Raya, masih terdapat siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran kimia, misalnya untuk materi yang berkaitan dengan hidrokarbon. Banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal yang

berhubungan dengan penamaan senyawa alkana, alkena dan alkuna. Hal ini terlihat dari masih rendahnya nilai ulangan harian siswa, yaitu dengan rata-rata masih belum mencapai standar nilai yang ditetapkan. Untuk mengatasi kesulitankesulitan siswa dalam mengerjakan soal-soal kimia dapat diterapkan metode pembelajaran yang tepat, yang sesuai dengan situasi dan materi yang akan disampaikan agar pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien dengan membuat siswa aktif, lebih banyak berpikir, mudah berinteraksi

dengan guru maupun dengan temannya, serta mampu mengemukakan pendapatnya maupun menanggapi pertanyaan dan bekerjasama dengan teman. Think-Pair-Share (TPS) atau Berpikir-Berpasangan-Berbagi merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Think-Pair-Share merupakan model

pembelajaran yang dikembangkan dengan memberikan penekanan kepada siswa untuk lebih berfikir, mendiskusikan suatu permasalahan dan berbagi. Keunggulan dari Think-Pair-Share adalah (1) dapat meningkatkan kualitas kepribadian anak-anak dalam hal bekerjasama, saling menghargai pendapat orang lain, toleransi, (2) siswa dapat lebih mudah berinteraksi, (3) siswa dapat lebih termotivasi untuk mendukung dan menunjukan minat terhadap apa yang dipelajari pasangan. Sehingga cocok untuk digunakan pada konsep-konsep yang menekankan suatu pemahaman, salah satunya adalah konsep hidrokarbon. Penelitian dengan model kooperatif tipe Think-Pair-Share telah dilakukan sebelumnya oleh Yerie Astarina, yang melaporkan Penggunaan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share untuk Meningkatkan Pemahaman Pembelajaran

Kimia Dasar II Mengenai Hidrokarbon Pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika FKIP MIPA Universitas Palangkaraya Tahun Ajaran 2007/2008, sebagai berikut: 1) Upaya peningkatan hasil belajar mahasiswa program studi pendidikan fisika melalui model pembelajaran kooperatif tipe TPS dinyatakan berhasil. 2) Aktifitas pengajar dan mahasiswa dinyatakan baik terbukti dari perhitungan skor total lembar observasi aktivitas pengajar dan mahasiswa. 3) Hasil belajar mahasiswa setelah mengikuti proses pembelajaran kooperatif tipe TPS dinyatakan lulus. 4) Persepsi mahasiswa program studi pendidikan fisika bahwa merasa tertarik untuk belajar aktif saat proses belajar mengajar, lebih berani mengungkapkan ide/pendapat dan bertanya tentang materi yang belum dipahami, lebih mengasikan,merasa lebih terbuka untuk bertukar pikiran dengan teman serta mendorong untuk berfikir dan berusaha memahami materi yang sedang dibahas pada umumnya sangat setuju, walaupun sebagian kecil ada mahasiswa yang tidak setuju bahwa daya ingat terhadap pelajaran lebih lama. Berdasarkan uraian-uraian di atas, hasil pembelajaran model kooperatif tipe Think-Pair-Share pada mahasiswa dinyatakan berhasil. Dengan karakteristik model pembelajaran yang sama, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Keefektifan Pembelajaran dengan Model Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) terhadap Sub Pokok Bahasan Hidrokarbon pada Siswa Kelas X SMA Negeri 3 Palangka Raya Tahun Pelajaran 2008/2009.

1.2 Fokus Penelitian Fokus dari penelitian ini adalah peningkatan pemahaman konsep dan kecakapan hidup siswa. Kedua kompetensi tersebut diharapkan dapat diperoleh secara bersamaan dalam pembelajaran kimia.

1.3 Rumusan Masalah Masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini, sebagai berikut: 1. Apakah pembelajaran dengan model kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) lebih efektif daripada pembelajaran dengan model konvensional pada sub pokok bahasan hidrokarbon bila ditinjau dari pemahaman konsep. 2. Apakah siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model kooperatif tipe ThinkPair-Share (TPS) akan memperoleh kecakapan hidup lebih banyak bila dibandingkan dengan pembelajaran model konvensional.

1.4 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui apakah pembelajaran dengan model kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) lebih efektif daripada pembelajaran dengan model konvensional pada sub pokok bahasan hidrokarbon bila ditinjau dari pemahaman konsep. 2. Mengetahui apakah siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) akan memperoleh kecakapan hidup lebih banyak bila dibandingkan dengan pembelajaran model konvensional.

1.5 Manfaat Penelitian Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada guru mata pelajaran kimia agar dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) dalam mengajarkan sub pokok bahasan hidrokarbon.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keefektifan Pembelajaran Keefektifan berasal dari kata efektif, yang berarti tepat guna atau tepat sasaran. Efektif mengarah pada pengertian ketepatan atau kesesuaian antara usaha yang dilakukan dengan tujuan yang telah ditentukan. Keefektifan proses pembelajaran artinya derajat dimana kelompok mencapai tujuanya/ pencapaian nilai-nilai maksimal dengan alat yang terbatas. Jadi, keefektifan proses pembelajaran berarti setelah mengalami proses belajar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran, dan aktivitas yang dilakukan siswa tersebut mempunyai ketepatan atau kesesuaian dengan tujuan yang telah ditentukan. Pencapaian tujuan tersebut ditandai dengan adanya penilaian terhadap hasil belajar siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Semakin baik hasil yang dicapai siswa maka dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran tersebut semakin efektif. (http://

beta.tnial.mil.id/cakrad_cetak.php?id)

2.2 Kecakapan Hidup Malik Fajar (2002) mendefinisikan kecakapan hidup sebagai kecakapan untuk bekerja selain kecakapan untuk berorientasi ke jalur akademik.

2.3 Data observasi siswa Data yang bertujuan untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama penelitian sebagai upaya untuk mengetahui kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan tindakan.

2.4 Skala respon siswa Skala yang bertujuan untuk menyimpulkan data berupa informasi tentang siswa terhadap pembelajaran yang pengisiannya dengan memberikan tanda check ().

2.5 Metode Konvensial Menurut Djamarah (1996) metode pembelajaran konvensional adalah metode pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan metode ceramah, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar dan pembelajaran. Dalam pembelajaran sejarah metode konvensional ditandai dengan ceramah yang diiringi dengan penjelasan serta pembagian tugas dan latihan.

2.6 Pembelajaran Kooperatif 2.6.1 Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif adalah kegiatan belajar mengajar dalam kelompok kelompok kecil, siswa belajar dan bekerjasama untuk sampai pada pengalaman individu maupun kelompok. Esensi pembelajaran kooperatif adalah tanggungjawab individu sekaligus kelompok, sehingga dalam diri siswa terbentuk sikap

kebergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok berjalan optimal. Keadaan ini mendorong siswa dalam kelompoknya belajar, bekerja dan bertanggung jawab dengan sungguhsungguh sampai selesainya tugastugas individu dan kelompok (Santoso, 1998 dalam Sholehah, 2004).

2.7 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) 2.7.1 Pengertian Think-Pair-Share (TPS) Think-Pair-Share (TPS) atau Berpikir-Berpasangan-Berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur yang dikembangkan ini dimasukkan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. Stuktur ini menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota) dan lebih dicirikan oleh penghargaan kooperatif daripada penghargaan individual. Think-Pair-Share (TPS) memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain. Model Think-Pair-Share (TPS) mendorong partisipasi anak, bahkan anak yang pemalu atau bahkan mereka yang tersisihkan. Menanyakan pertanyaan terbuka kepada anak dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk memutuskan sesuatu atau mengekspresikan pemikiran mereka. Guru memberikan waktu untuk memikirkan (Think) tentang jawaban mereka, meminta mereka untuk berdiskusi dengan mitranya (Pair) dan meminta seseorang secara sukarela untuk berbagi (Share) hasil diskusi dengan seluruh kelas. Dengan model ini maka guru dapat memastikan

semua anak mempunyai kesempatan untuk menjawab dan mendiskusikan ide atau jawaban mereka (http://www. Depdiknas.com).

2.7.2 Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) Langkah-langkah kegiatan belajar mengajar model pembelajaran kooperatif model Think-Pair-Share terlihat pada tabel 1.

10

Tabel 1. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share Fase Tingkah Laku Guru Fase 1: Menyampaikan tujuan dan Guru menyampaikan semua tujuan memotivasi siswa pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa. Fase 2: Mengajukan permasalahan Guru mengajukan pertanyaan atau Thinking (Berpikir) isu yang berhubungan dengan pembelajaran, kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat. Fase 3: Mengorganisasikan siswa Guru meminta siswa berpasangan dalam tim belajar dengan siswa yang lain untuk Pairing (Berpasangan) mendiskusikan apa yang telah dipikirkanya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban jika telah diajukan pertanyaan atau berbagi ide jika suatu persoalan khusus telah diidentifikasi. Fase 4: Berbagi dengan seluruh Pada tahap akhir, guru meminta siswa kepada pasangan untuk berbagi Sharing (Berbagi) dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan. Fase 5: Melakukan evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari Fase 6: Memberi penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok. (http://www. Depdiknas.com).

11

2.7.3 Keunggulan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Model Think-Pair-Share (TPS) Keunggulan model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS), sebagai berikut: 1. Memotivasi siswa untuk bisa berfikir sendiri dengan materi yang disampaikan guru. 2. Memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat berbagi dengan pasanganya dan mengutarakan hasil pemikiran mereka masing-masing. 3. Dapat meningkatkan kualitas kepribadian anak-anak dalam hal bekerjasama, saling menghargai pendapat orang lain, toleransi. 4. Siswa dapat lebih mudah berinteraksi. 5. Siswa dapat lebih termotivasi untuk mendukung dan menunjukan minat terhadap apa yang dipelajari pasangan. 6. Lebih cepat dan mudah membentuknya. Kelemahan model pembelajaran Think-Pair-Share, sebagai berikut: 1. Lebih sedikit ide yang muncul. 2. Banyak kelompok yang melapor dan dimonitor. 3. Jika ada perselisihan tidak ada yang menengahi. ( Sumber: http://www. Depdiknas.com).

2.8 Senyawa Hidrokarbon 2.8.1 Pengelompokan Hidrokarbon Golongan hidrokarbon ialah golongan senyawa karbon yang hanya terdiri atas unsur hidrogen dan karbon. Contohnya ialah metana (CH4).

12

Terdapat 3 macam golongan hidrokarbon berdasarkan jenis ikatannya, yaitu golongan alkana, alkena, dan alkuna. a. Alkana Alkana adalah senyawa hidrokarbon yang mempunyai ikatan jenuh, yaitu ikatan antaratom C-nya tunggal. Tabel 2.1 Senyawa Alkana Nama senyawa Metana Etana Propana Butana Pentana Rumus molekul CH4 C2H6 C3H8 C4H10 C5H12 Rumus struktur CH4 CH3 CH3 CH3 CH2 CH3 CH3 CH2 CH2 CH3 CH3 CH2 CH2 CH2 CH3

Rumus umum golongan alkana ialah CnH2n + 2 Tata Nama Alkana Aturan penamaan senyawa alkana menurut aturan IUPAC 1) Rantai Atom C Tidak Bercabang Penamaan alkana tidak bercabang sesuai dengan jumlah atom C yang dimiliki dan diberi awalan n (n = normal atau tidak bercabang). Berikut ini merupakan contoh alkana tak bercabang dan penamaannya. CH3 CH2 CH3 n-propana CH3 CH2 CH2 CH2 CH3 n-pentana

13

2) Rantai Atom C Bercabang Rantai atom C induk ditentukan dengan cara menghitung jumlah atom C dari berbagai ujung rantai. Rantai induk alkana merupakan rantai yang memiliki jumlah atom C terbanyak. Berikut ini merupakan contoh penentuan rantai induk alkana.

(1) CH3 CH2 CH CH3 CH3


4 3 2 1

ada 4 atom C pada rantai induk

(2) CH3 CH CH2 CH2 CH3


5 CH2 6 CH3

ada 6 atom C pada rantai induk

a) Alkil (cabang rantai induk) ditentukan. Atom C yang termasuk alkil ialah atom C yang tidak termasuk rantai induk, tetapi alkil yang terikat pada atom C rantai induk. Rumus umum alkil ialah CnH2n Berikut ini merupakan contoh penentuan alkil.

cabang 4

(1) CH3 CH2 CH CH3 CH3


cabang

(2) CH3 CH CH CH2 CH3


5CH2 CH2
cabang

6CH3 CH3

Nama cabang sesuai dengan nama alkana, tetapi akhiran ana diganti il.

14

Tabel 2.2 Nama Gugus Alkil Rumus gugus alkil CH3 C2H5 C3H7 C4H9 C5H11 Nama gugus alkil metil etil propil butil pentil (amil) Rumus gugus alkil C3H13 C7H15 C8H17 C9H19 C10H21 Nama gugus alkil heksil heptil oktil nonil dekil

Rumus umum gugus alkil ialah CnH2n+1 b) Rantai induk dinomori dengan cara menetapkan nomor atom C alkil (cabang) serendah mungkin (dimulai dari ujung rantai yang dekat dengan alkil. (1) CH3 CH CH2 CH3 CH3 (2) CH3 CH2 CH CH2 CH3 CH2 CH2 CH3 (Penomoran atom C dimulai dari kiri ke kanan bawah) c) Jika cabang lebih dari satu, berlaku aturan sebagai berikut. (1) Alkil yang memiliki jumlah atom C lebih banyak diberi nomor yang kecil. (2) Jika terdapat beberapa alkil yang sama maka diberi awalan, yaitu di tri tetra untuk 2 alkil untuk 3 alkil untuk 4 alkil heksa untuk 6 alkil hepta untuk 7 alkil okta untuk 8 alkil 3-etilheksana 2-metil butana bukan 3-metilbutana

15

penta untuk 5 alkil

nona untuk 9 alkil

(3) Penulisan alkil berdasarkan urutan abjad. Awalan -di pada dimetil tidak menentukan urutan penulisan karena yang menentukan urutan penulisan ialah huruf awal m dari metil. Awalan di, tri, dan seterusnya tidak berpengaruh. CH3 (a) 1CH3 2C 3CH2 4CH3 CH3 2,2-dimetilbutana d) Penamaan dengan awalan iso. Nama alkana atau alkil dapat diberi nama dengan awalan iso untuk mengganti penamaan 2-metilalkana jika mempunyai struktur sebagai berikut. (1) CH3 CH CH3 (2) CH3 CH CH3 CH3 CH3 CH2 CH2 CH3 (3) CH3 CH CH2 CH3 CH3 CH3 CH CH2 CH2 CH3 isopentil isopentana isobutil isobutana isopropil CH3 (b) 5CH3 4CH2 3CH 2CH 1CH3 C2H5 3-etil-2-metilpentana

16

CH3 CH3 CH3 CH2 CH3 b. Alkena Alkena adalah senyawa hidrokarbon yang mempunyai ikatan tak jenuh, yaitu terdapat ikatan antaratom C rangkap dua. Dengan adanya ikatan rangkap dua, senyawa alkena masih memungkinkan mengikat atom hidrogen dengan membuka ikatan rangkap dua tersebut. Tabel 2.3 Senyawa Alkena Senyawa etena propena butena pentena heksena Rumus Molekul C2H4 C3H6 C4H8 C5H10 C6H12 Senyawa heptena oktena nonena dekena Rumus Molekul C7H14 C8H16 C9H18 C10H20 neopentil

Rumus umum alkena ialah CnH2n Tata Nama Alkena Prinsip dasar penamaan golongan alkena sama seperti alkana, tetapi akhiran ana pada nama alkana diganti dengan ena. Aturan penamaan senyawa alkena ialah sebagai berikut. 1) Rantai induk merupakan rantai yang terpanjang dan memiliki ikatan rangkap dua. Nama alkena diberikan sesuai jumlah atom C pada rantai induk dan menggunakan akhiran diberi ena.

17

2) Atom C pada ikatan rangkap diberi nomor serendah mungkin. Nomor atom C yang memiliki ikatan rangkap dua dituliskan di awal nama alkena. 3) Apabila ikatan rangkap dua berjumlah lebih dari satu, penamaannya sesuai dengan banyaknya ikatan rangkap dua tersebut. Misalnya, alkena dengan 2 ikatan rangkap dua diberi akhiran diena seperti contoh berikut. CH2 = CH CH = CH2 1,2-butadiena

4) Ketentuan lain sama seperti penamaan alkana. Berikut ini merupakan contoh alkena dan penamaannya. CH3 CH3 CH = CH C CH3 CH3 Penomoran atom C dimulai dari kiri supaya nomor atom C yang memiliki ikatan rangkap bernomor lebih kecil. Jadi, nama senyawa tersebut ialah 4,4-dimetil-2pentena (bukan 2,2-dimetil-3-pentena). c. Alkuna Alkuna adalah senyawa hidrokarbon yang mempunyai ikatan tak jenuh, yaitu adanya ikatan antaratom C rangkap tiga. Dengan adanya ikatan rangkap tiga, senyawa alkuna masih memungkinkan untuk mengikat atom hidrogen dengan membuka ikatan rangkap tiga tersebut.
1 2 3 4 5

18

Tabel 2.4 Senyawa Alkuna Senyawa etuna propuna butuna pentuna heksuna Rumus Molekul C2H2 C3H4 C4H6 C5H8 C6H10 Senyawa heptuna oktuna nonuna dekuna Rumus Molekul C7H12 C8H14 C9H16 C10H18

Rumus umum alkuna ialah CnH2n-2 Berikut ini merupakan struktur alkuna dibandingkan dengan struktur alkana dan alkena. H H H Propana (C3H8) : H C C C H H H Propena (C3H6) : H C C = C H H Tata Nama Alkuna Prinsip dasar penamaan golongan alkuna sama seperti alkana, tetapi akhiran ana pada nama alkana diganti dengan una. Aturan penamaan senyawa alkuna sebagai berikut. 1) Rantai induk merupakan rantai yang terpanjang dan memiliki ikatan rangkap tiga. Nama alkuna diberikan sesuai jumlah atom C pada rantai induk dan menggunakan akhiran una. H H H H

19

2) Atom C pada ikatan rangkap diberi nomor serendah mungkin. Nomor atom C yang memiliki ikatan rangkap tiga dituliskan di awal nama alkuna. 3) Apabila ikatan rangkap tiga berjumlah lebih dari satu. Penamaannya sesuai dengan banyaknya ikatan rangkap tiga tersebut. 4) Ketentuan lain sama seperti penamaan alkana. Berikut ini merupakan contoh alkuna dan penamaannya. CH3
5 4 3 2 1

a) CH3 C C C CH3 CH3 Penomoran atom C dimulai dari kanan supaya nomor atom C yang memiliki ikatan rangkap tiga lebih kecil. Jadi, nama senyawa tersebut ialah 4,4-dimetil-2pentuna (bukan 2,2-dimetil-3-pentuna). CH3 CH3

b) CH3 C C C C CH2 CH3 C2H5 C2H5

Penomoran atom C, dimulai dari sebelah kanan ke kiri bawah. Jika metil dan etil memilik alternatif nomor yang sama maka nomor etil harus lebih kecil dari metil. Nama senyawa tersebut 3-etil-3,6,6-trimetil-4-oktuna. (Wismono, 2007: 139).

20

2.9 Pertanyaan Penelitian Berdasarkan semua penjelasan di atas, maka pertanyaan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Apakah pembelajaran kimia menggunakan model Think-Pair-Share (TPS) pada sub pokok bahasan hidrokarbon efektif dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa? 2. Apakah pembelajaran pada sub pokok bahasan hidrokarbon menggunakan model Think-Pair-Share (TPS) dapat memberikan pengalaman belajar berupa kecakapan hidup lebih banyak?

21

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini termasuk penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif berusaha mengungkapkan gejala secara menyeluruh, dan sesuai dengan konteks (holistik-kontekstual) melalui pengumpulan data dari latar alami dengan

memanfaatkan peneliti sebagai instrumen utama (Tim Penulis Buku Pedoman Skripsi FKIP UNPAR, 2007: 15).

3.2 Pendekatan Penelitian dan Kedudukan Peneliti Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Kedudukan peneliti pada penelitian ini adalah sebagai partisipan artinya peneliti terlibat dalam proses pembelajaran dan berinteraksi langsung dengan siswa.

3.3 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 3 Palangka Raya kelas X-3 sebagai kelas kontrol dan X-4 sebagai kelas eksperimen.

22

3.4 Tahap-Tahap Penelitian Prosedur penelitian secara garis besar dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain tahap persiapan, tahap pelaksanaan, serta tahap analisis data dan penarikan kesimpulan. Penjelasan setiap tahap penelitian tersebut adalah sebagai berikut: 1. Tahap Persiapan Tahap persiapan ini meliputi perizinan, observasi sekolah, penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran, penyusunan instrumen penelitian, uji coba instrumen dan simulasi proses pembelajaran Think-Pair-Share (TPS). Perizinan kegiatan diawali dengan pengajuan kepada Dekan FKIP UNPAR, kemudian dilanjutkan ke Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya dan surat izin ini digunakan sebagai pengantar ke tempat penelitian, yaitu SMA Negeri 3 Palangka Raya. Observasi ke sekolah bertujuan untuk mengetahui keadaan sekolah, kurikulum yang digunakan, dan bagaimana proses pembelajaran yang terjadi di sekolah sasaran, terutama kelas X yang akan dijadikan sampel penelitian. Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku untuk pokok bahasan hidrokarbon di kelas X yaitu menggunakan KTSP 2006. Langkah-langkah pembelajaran disesuaikan dengan acuan karakteristik model pembelajaran Think-PairShare (TPS), disajikan pada Tabel 3. sebagai berikut:

23

Tabel 3. Sintak Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share NO 1. 2. 3. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif dengan Model Think-Pair-Share (TPS) Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran
Guru memberikan pertanyaan kepada siswa terhadap materi yang akan diajarkan ( THINK) Guru menyuruh siswa membentuk kelompok yang terdiri dari 2-6 orang, kemudian membagikan LKS dalam bentuk berbeda- beda untuk dijawab oleh masing-masing kelompok dengan cara berdiskusi berpasangan ( PAIR ) Setiap kelompok mempresentasikan hasil jawaban yang telah didiskusikan ( SHARE )

Waktu 5 menit 10 menit 45 menit

4. 5.

40 menit 10 menit

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari

Penyusunan instrumen penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan berupa soal tes pemahaman konsep, lembar observasi siswa, dan skala respon siswa terhadap pembelajaran. Semua instrumen penelitian tersebut divalidasi oleh dua orang rater, yaitu Dosen Pendidikan Kimia yang ditunjuk oleh Ketua Program Studi Pendidikan Kimia dan Guru Bidang Studi Kimia di SMA Negeri 3 Palangka Raya. Instrumen divalidasi dengan mengoreksi semua lembar observasi dan skala respon siswa yang telah disusun oleh peneliti, serta melakukan validasi isi terhadap soal tes pemahaman konsep berdasarkan kriteria yang telah ada (hasil validasi instrumen tersebut dapat dilihat pada Lampiran 8).

Uji coba instrumen dilaksanakan pada dua kelas yang berbeda yaitu kelas XI IPA-2 SMA Negeri 3 Palangka Raya yang berjumlah 38 siswa pada hari Rabu tanggal 25 Februari 2009 dengan tujuan untuk mengetahui keterbacaan tes

24

dan kelas X-5 SMA Negeri 4 Palangka Raya yang berjumlah 30 siswa pada hari tanggal 28 Februari 2009 untuk mengetahui waktu pelaksanaan tes. (Perhitungan Taraf Kesukaran dan Daya Pembeda Hasil Uji Coba Instrumen dapat dilihat pada Lampiran 6) Sebelum dilakukan pelaksanaan penelitian yang sesungguhnya, maka dilakukan simulasi terlebih dahulu agar dapat diketahui apakah tahapantahapan pembelajaran sudah terlaksana dengan baik atau tidak, dan juga agar peneliti mengetahui kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam pembelajaran, sehingga diharapkan dapat diatasi sebelum penelitian dilaksanakan. Simulasi dilakukan pada kelas X-3 SMA Negeri 3 Palangka Raya. Pelaksanaan simulasi diamati oleh guru bidang studi kimia yang mengajar kelas tersebut.

2. Tahap Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan dilakukan proses pembelajaran pada kelas X-4 dengan menggunakan model Think-Pair-Share (TPS) pada hari kamis, 30 April 2009 dan kelas X-3 dengan menggunakan model konvensional pada hari Selasa, 28 April 2009. Setelah pelaksanaan pre-test dan post-test, soal tes pemahaman konsep dikembalikan lagi. Dengan demikian, siswa di kelas kontrol tidak bisa membocorkan soal kepada siswa di kelas eksperimen. (Langkah-langkah pembelajaran disajikan pada Lampiran 2 dan 3)

25

Proses pembelajaran dilakukan pada sub pokok bahasan hidrokarbon. Sebelum pembelajaran, diberikan pre-test pada masing-masing kelas untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki masing-masing siswa. Selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran, dilakukan juga pengamatan terhadap aktivitas siswa. Kegiatan akhir yang dilakukan adalah pelaksanaan post-test. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan data pemahaman konsep siswa setelah diberikan pembelajaran dengan menggunakan model Think-Pair-Share (TPS). Soal tes pemahaman konsep yang digunakan adalah soal tes pemahaman konsep yang sama dengan yang digunakan dalam pengumpulan data pre-test. Penelitian dengan model Think-Pair-Share (TPS) ini telah benar dilaksanakan sesuai dengan skenario pembelajaran pada Lampiran 2.

3. Tahap Analisa Data Setelah data-data terkumpul, maka peneliti melakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. Mengolah data pre-test dan post-test untuk mengetahui skor masing-masing siswa kemudian mendeskripsikan data pre-test dan post-test tersebut. b. Mendeskripsikan peningkatan pemahaman konsep pada setiap indikator hasil belajar dengan membandingkan persentase peningkatan pemahaman konsep pre-test dan post-test.

26

c. Mendeskripsikan aktivitas siswa yang mendorong siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan aktivitas siswa yang dapat meningkatkan pemahaman siswa d. Mendeskripsikan hasil respon siswa secara keseluruhan agar diketahui bahwa respon siswa tersebut sangat mempengaruhi peningkatan pemahaman konsep siswa e. Mendeskripsikan kecakapan hidup yang diperoleh siswa selama proses pembelajaran. 4. Penarikan kesimpulan Pada tahap ini, peneliti mengambil kesimpulan dari hasil analisis data dan hasil observasi terhadap kecakapan hidup yang didapat oleh siswa secara umum selama kegiatan pembelajaran.

3.5 Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini antara lain: 1. Hasil tes pemahaman konsep yang berupa hasil pre-test dan post-test 2. Hasil observasi siswa terhadap pembelajaran model Think-Pair-Share (TPS) 3. Hasil kecakapan hidup siswa terhadap pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) 4. Skala respon siswa pembelajaran Think-Pair-Share (TPS)

3.6 Prosedur Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dan 3 (tiga) orang pengamat (observer), yaitu satu orang guru bidang studi kimia kelas X SMA Negeri 3 Palangka

27

Raya dan dua orang mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia FKIP UNPAR. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi terhadap pengalaman kecakapan hidup siswa yang dicatat pada lembar observasi yang telah disediakan dan pemberian tes pada siswa sebelum dan sesudah pembelajaran berlangsung (pre-test dan post-test). 1. Soal Tes Pemahaman Konsep Tes pemahaman konsep diberikan pada siswa sebelum dan sesudah pembelajaran berlangsung yang digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa sebelum dan sesudah pembelajaran. Tes ini berupa tes tertulis berbentuk pilihan ganda (multiple choice test) yang terdiri dari 20 butir soal yang telah divalidasi oleh 2 (dua) orang rater, yaitu dosen Program Studi Pendidikan Kimia dan guru Bidang Studi Kimia kelas X SMA Negeri 3 Palangka Raya. Adapun langkah-langkah pengembangan tes adalah sebagai berikut: a. Membuat kisi-kisi soal yang mengacu kepada Kurikulum 2006 (KTSP) bidang studi kimia b. Menyusun butir soal yang berbentuk pilihan ganda (multiple choice), kemudian membuat kriteria penilaian tes pemahaman konsep tersebut. Adapun kisi-kisi soal tes yang digunakan untuk menyusun instrumen tes pemahaman konsep, disajikan pada Tabel 4.

28

Tabel 4. Indikator Instrumen Penelitian dan Sebaran Soal Standar Kompetensi Memahami sifat-sifat senyawa organik atas dasar gugus fungsi dan senyawa makromolekul Kompetensi Dasar Menggolongkan senyawa hidrokarbon berdasarkan strukturnya dan hubunganya dengan sifat senyawa. Indikator 1. Menentukan nama senyawa alkana bila diketahui struktur senyawanya 2. Menentukan nama senyawa alkena bila diketahui struktur senyawanya. 3 . Menentukan nama senyawa alkuna bila diketahui struktur senyawanya. 4 . Menentukan struktur senyawa alkana, alkena, alkuna bila diketahui nama senyawanya. Nomor Soal

1, 2, 3, 4, 5

6,7, 8, 9, 10

11, 12, 13, 14, 15

16, 17, 18, 19, 20

c. Validitas dan Realibilitas Soal Validasi soal dilakukan secara internal dan eksternal. (1) Validitas Internal Pemberian skor instrumen penelitian divalidasi oleh dua orang validator dengan kriteria penskoran validasi soal, sebagai berikut: Skor 2 bila skor soal sudah komunikatif dan sesuai dengan tujuan yang hendak diukur.

29

Skor 1 bila butir soal sudah komunikatif tetapi tidak sesuai dengan tujuan yang hendak di ukur/tidak komunikatif tetapi sesuai dengan tujuan yang hendak diukur.

Skor 0 bila butir soal tidak komunikatif dan tidak sesuai dengan tujuan yang hendak diukur.

(2) Validitas Eksternal Validasi soal dalam penelitian ini dilaksanakan dengan uji coba instrumen pada kelas yang telah menempuh materi pembelajaran dengan menghitung tingkat kesukaran dan daya beda, serta menghitung validasi soal dengan menggunakan rumus korelasi yang dikemukakan oleh Pearson yaitu rumus korelasi product moment dengan angka kasar. (Arikunto, 2002) (3) Reliabilitas Instrumen Reliabilitas instrumen penelitian dihitung dengan menggunakan rumus K R 20. (Arikunto, 2002) 2. Lembar Observasi Siswa Data observasi siswa dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama penelitian sebagai upaya untuk mengetahui kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan tindakan. Pengamatan aktivitas siswa ini dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung oleh tiga orang observer, yaitu satu orang guru bidang studi kimia kelas X dan dua orang mahasiswa dari program studi kimia yang duduk di tempat yang memungkinkan dapat mengikuti dan mengamati seluruh kegiatan pembelajaran dari awal hingga berakhirnya proses pembelajaran.

30

3. Skala (scale) respon siswa Data respon siswa diperoleh dengan menggunakan skala, yang pengisiannya dengan memberikan tanda check (). Skala respon siswa diberikan kepada tiaptiap siswa. Skala ini bertujuan untuk menyimpulkan data berupa informasi tentang siswa terhadap pembelajaran dengan Model Kooperatif Tipe Think-PairShare (TPS) 4. Lembar Kecakapan Hidup Siswa Data kecakapan hidup siswa diperoleh dengan menggunakan Lembar Kecakapan Hidup Siswa dengan model Think-Pair-Share (TPS) yang pengisiannya dengan memberikan tanda check (). Lembar ini diberikan kepada masing-masing observer yang bertujuan untuk menyimpulkan data berupa informasi tentang kecakapan hidup yang diperoleh siswa selama kegiatan pembelajaran dengan Model Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS).

3.7 Pemeriksaan Keabsahan Data Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data pre-test dan data posttest yang berasal dari tes pemahaman konsep siswa, serta kecakapan hidup yang diperoleh siswa. Pemeriksaan keabsahan data pre-test dan post-test pada tes pemahaman konsep dilakukan dengan cara validasi internal (isi) dan validasi eksternal oleh validator. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi yang jelas tentang kualitas soal tes pemahaman konsep yang akan digunakan sebagai alat

31

pengumpulan data. Sedangkan lembar kecakapan hidup siswa diperiksa oleh validator dengan memperbaiki tata tulisnya.

3.8 Analisis Data Teknik analisa data yang digunakan pada penelitian ini, yaitu: 1. Data tes pemahaman konsep berupa hasil pre-test dan post-test dianalisis secara deskriptif 2. Lembar observasi siswa dianalisis secara deskriptif 3. Skala respon siswa dianalisis secara deskriptif 4. Data perolehan kecakapan hidup siswa dianalisis secara deskriptif.

32