Anda di halaman 1dari 22

1

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Uraian Tumbuhan Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr.) 2.1.1. Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) Tumbuhan Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) adalah salah satu jenis tumbuhan obat dari famili Simaroebaceae yang dikenal dengan nama buah makasar atau kwalot tumbuh pada iklim basah maupun kering. Tumbuhan sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) ini berasal dari Ethiopia, terdistribusi dari Sri Lanka dan India menuju Indo-Cina, Cina Selatan, Taiwan, Thailand, Malaysia sampai Australia Utara. Selain dikenal dengan nama (Brucea javanica (L.) Merr), tumbuhan sumpit ini juga dikenal dengan nama Brucea sumatrana Roxb. Penduduk Jawa mengenal tumbuhan sumpit ini dengan nama kwalot, penduduk Makassar menyebutnya dengan nama tambara marica, penduduk Sunda menyebutnya dengan nama keindha peucang dan penduduk Lampung menyebutnya dengan nama berul (Heyne, 1987). Perdu atau pohon-pohonan dengan daun majemuk tanpa daun penumpu dan duduknya tersebar. Tingginya mencapai 1-2,5 meter, dalam belukar atau hutan-hutan. Semua bagian tumbuhan ini rasanya pahit terutama bagian biji dan akar-akarnya (Tjitrosoepomo, 2005). Morfologi tumbuhan Sumpit (Brucea javanicus (L.) Merr) ini adalah perdu yang memiliki tinggi 2-3 meter, batangnya berkayu, bulat, berbintik-bintik putih kotor. Daun majemuk lonjong, tepi daunnya bergerigi dan ujung daun runcing, warna daunnya hijau. Buah berbentuk bulat berwarna hijau sampai coklat, biji bulat (Steenis, 1978). Morfologi tumbuhan sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) ini dapat dilihat lebih jelas pada gambar 2.1. di bawah ini.

Gambar 2.1. Tumbuhan Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) (Sumber : foto pribadi) 2.1.2. Klasifikasi Tumbuhan Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr.) Klasifikasi tumbuhan melalui proses identifikasi di Laboratorium Dendrologi dan Ekologi Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman yaitu tumbuhan sumpit ini termasuk kingdom plantae, divisi spermatophyta, sub divisi angiospermae, kelas dicotyledonae, sub kelas dialypetalae, ordo rutales, famili simaroubaceae, genus brucea dan spesies Brucea javanica (L.) Merr. 2.1.3. Kandungan Kimia Bila dilaporkan senyawa yang strukturnya jelas-jelas baru, haruslah diperiksa dengan teliti apakah senyawa metabolit sekunder memang belum pernah dilaporkan. Alasan melakukan analisis fitokimia ialah untuk menentukan ciri senyawa aktif penyebab efek racun atau efek yang bermanfaat, yang ditunjukkan oleh ekstrak tumbuhan kasar bila diuji dengan sistem biologi (Harborne, 1987). Tumbuhan sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) ini memiliki banyak khasiat dan kandungan metabolit. Kandungan metabolit yang dimiliki tumbuhan sumpit ini yaitu alkaloid, fenol (termasuk flavonoid), steroid, saponin dan triterpenoid. Tumbuhan sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) memiliki rasa yang sangat pahit, rasa pahit ini berasal dari 4 senyawa zat pahit kuasinoid yaitu kuasin, neokuasin, bruseantin da bruseantarin. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan, senyawa kuasinoid (simarouolid) adalah komponen yang berkhasiat. Senyawa-senyawa lain beberapa diantaranya adalah glikosida, juga

memiliki aktivitas fisiologi sebagai antileukimia, antivirus, antiiflamasi dan insektisida. Gugus-gugus yang memiliki aktivitas fisiologi tersebut adalah okso, ester pada C5 atau C6 dan lakton pada aton C16 (Wiryowidagdo, 2007). a. Alkaloid Sejarah alkaloid hampir setua peradaban manusia. Manusia telah menggunakan obat-obatan yang mengandung alkaloid dalam minuman, kedokteran dan racun selama 4000 tahun. Tidak ada usaha untuk mengisolasi komponen aktif dari ramuan obat-obatan hingga permulaan abad ke sembilan belas. Alkaloid pertama diketahui sekitar tahun 5500 SM, dan pada sekitar tahun 1845 alkaloid mulai diisolasi. Alkaloid merupakan senyawa kimia bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen (N), biasanya dalam bentuk gabungan sebagai bagian dari sistem siklik dan umumnya mempunyai aktivitas fisiologis baik terhadap manusia maupun hewan. Koniin merupakan alkaloid pertama yang diketahui struktur kimianya dan disintesis (Agoes, 2007). b. Fenol Fenol merupakan senyawa dengan gugus OH yang terikat langsung pada cincin aromatik. Fenol banyak ditemukan di alam terutama tumbuhan dan merupakan bagi industri berbagai macam produk seperti antiseptik. Fenol sendiri dapat digunakan sebagai desinfektan yang diperoleh berbagai tumbuhan. Degredasi fenol kompleks lainnya dalam suasana basa menghasilkan suatu fenol sederhana (Hardjono, 1996). Menurut Shelef (1993) senyawa fenolik merupakan komponen utama antimikroba tumbuhan. Komponen fenolik tersebar luas pada bagian tumbuhan dan telah diketahui mempunyai sifat antipatogen, antiherbivor dan bersifat alleopatik. Mekanisme antimikroba senyawa fenolik adalah mengganggu kerja di dalam membran sitoplasma mikroba termasuk diantaranya adalah mengganggu transfor aktif dan kekuatan proton.
3

-2-

2.5.3. Metode Uji Statistik

Analisis Varian atau Anava atau kata lain Anova terjemahan kedalam bahasa Indonesia adalah sidik ragam atau analisis ragam, sidik ragam sebenarnya merupakan pengembangan dari uji-t untuk dua sampel bebas. Jadi Anava digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan nilai rata-rata lebih dari dua macam perlakuan (kontrol masuk dalam perlakuan) atau lebih. Bila tetap dipergunakan uji-t untuk membandingkan lebih dari nilai rata-rata akan memerlukan banyak uji secara terpisah. Hal ini tidak hanya menjemukkan, tetapi yang lebih penting kemungkinan akan menjadi besarnya galat jika uji itu dilakukan berulang-ulang. Perlakuan dalam statistika tidak harus berarti memberikan suatu terhadap unit eksperimen, tetapi dalam bentuk seperti ras, umur, waktu siang, dan malam. Pada Anava jumlah kuadrat total dibagi menjadi komponen-komponen berdasarkan sumber keragaman yang diketahui. Anava dapat dikelompokkan menjadi Anava satu arah dan Anava dua arah. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi pada Anava adalah: a. Normalitas b. Homogenitas variansi c. Independen Anava satu arah adalah Anava yang terdiri dari atas satu peubah bebas atau faktor dengan taraf lebih dari dua dan ditemukan pada: a. Rancangan Acak Lengkap Rancangan acak lengkap sangat cocok untuk penelitian klinik atau penelitan lain dalam laboratorium dan kurang cocok untuk penelitian lapangan atau survey (Pramudjono,2007). Rancangan acak lengkap (RAL) merupakan rancangan yang paling sederhana jika dibandingkan dengan rancangan lainnya. Dalam rancangan ini tidak terdapat lokal kontrol, sehingga sumber keragaman yang diamati hanya perlakuan dan galat (Hanafiah, 2003). b. Uji LSD (Least Significant Difference)

Uji LSD disebut juga uji Beda Nyata Terkecil, uji ini merupakan pengembangan dari uji-t. cara pengujian mempergunakan satu nilai pembanding LSD. Uji lanjutan ini dipakai apabila nilai KK (antara 5-10% pada kondisi homogen atau antara 10-20% pada kondisi heterogen), uji ini dikatakan memiliki tingkat ketelitian sedang (Hanafiah, 2003). juga dapat

c. Uji HSD (Honestly Significant Difference) Uji HSD disebut juga uji Beda Nyata Jujur (BNJ) atau Turkeys w procedure. Uji HSD pertama kali diperkenalkan oleh Turkey pada tahun 1953. Cara pengujian mempergunakan satu nilai pembanding W. Uji lanjutan ini dipakai apabila nilai KK (kurang dari 5 % pada kondisi homogen atau maksimal 10 % pada kondisi heterogen), uji ini dikatakan tergolong kurang teliti d. Uji Jarak Berganda Duncan (Duncans multiple Range Test) Uji lanjutan ini dipakai apabila nilai KK (minimal 10 % pada kondisi homogen atau maksimal 20 % pada kondisi heterogen), uji ini dikatakan tergolong yang paling teliti. e. Uji Dunnett Uji Dunnett dipergunakan khusus untuk membandingkan semua nilai ratarata dari kontrol. Sesungguhnya uji banding dengan kontrol telah ada pada uji perbedaan nilai rata-ratanya setelah Anava, tetapi uji Dunnett hasilnya lebih cocok untuk keperluan membandingkan terhadap kontrol dalam perlakuan. (Pramudjono, 2007) Uji-t (t-test) merupakan uji statistik yang sering kali ditemui dalam masalah-masalah praktis statistika. Uji-t adalah salah satu uji yang digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan yang signifikan (meyakinkan) dari dua buah mean sampel (dua buah variable yang dikomparasikan). juga dapat juga dapat

Uji-t dapat dibagi menjadi 2, yaitu uji-t yang digunakan untuk pengujian hipotesis 1-sampel dan uji-t yang digunakan untuk pengujian hipotesis 2-sampel. Bila dihubungkan dengan kebebasan (independency) sampel yang digunakan (khusus bagi uji-t sampel), maka uji-t dibagi lagi menjadi 2, yaitu uji-t untuk sampel bebas (independent) dan uji-t untuk sampel berpasangan (paired). Dalam lingkup uji-t untuk pengujian hipotesis 2-sampel bebas, maka ada 1 hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu apakah ragam populasi diasumsikan homogen (sama) atau tidak (Hartono, 2008).

BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 3.1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ....ekstrak Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) yaitu: a. Mengetahui rendemen ekstrak Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) yang diekstraksi dengan metanol b. Mengetahui aktivitas anti-tirosinae ekstrak Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) c. Mengetahui konsentrasi ekstrak Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) yang efektif sebagai anti-tirosinase d. Mengetahui nilai IC50 ekstrak metanol daun sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) sebagai anti-tirosinase secara in-vitro 3.2. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian potensi ekstrak Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) sebagai antibakteri yaitu: a. Memberikan informasi kepada pembaca bahwa ekstrak Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) bermanfaat sebagai anti-tiosinase b. Melengkapi data ilmiah tentang Daun Sumpit untuk pengembangan ilmu pengetahuan c. Hasil penelitian diharapkan akan menambah pengetahuan terutama dalam bidang kesehatan kulit d. Sumber informasi dan referensi bagi peneliti lain untuk meneliti lebih lanjut, terutama toksisitas ekstrak Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) terhadap hewan coba sehingga diperoleh dosis yang aman untuk digunakan oleh makhluk hidup

BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Fokus Penelitian Fokus penelitian potensi ekstrak Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) sebagai antibakteri yaitu: a. Menentukan rendemen ekstrak Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) yang diekstraksi dengan metanol b. Menguji aktivitas anti-tirosinae ekstrak Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) c. Mencari konsentrasi ekstrak Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) yang efektif sebagai anti-tirosinase d. Menghitung nilai IC50 ekstrak metanol daun sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) sebagai anti-tirosinase secara in-vitro

4.2. Bahan yang Diteliti Bahan yang diteliti adalah tumbuhan sumpit (Brucea javanica (L.) Merr), bagian tumbuhan yang diteliti adalah daunnya. Tumbuhan tersebut tumbuh di Desa Liang, Kota Bangun, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Umur sampel belum dapat ditentukan karena tumbuhan tersebut masih merupakan tumbuhan liar. Sampel yang diteliti merupakan sampel kering dengan pengeringan tanpa sinar matahari secara langsung diupayakan hingga memperoleh kadar air yang sangat minimal.

4.3. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan kurang lebih selama dua bulan mulai bulan Agustus 2013 sampai September 2013. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia Farmasi UP. Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman Samarinda.

10

4.4. Variabel dan Definisi Operasional 4.4.1. Variabel Penelitian Variabel pada penelitian ini adalah konsentrasi ekstrak, aktivitas antitirosinase dan rendemen ekstrak. Variasi konsentrasi ekstrak sebagai variabel bebas dan aktivitas anti-tirosinase sebagai variabel terikat. 4.4.2. Definisi Operasional Definisi operasional penelitian ini adalah: a. Ekstrak tumbuhan daun sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) adalah ekstrak kasar hasil ekstraksi tumbuhan daun sumpit dengan menggunakan pelarut metanol. b. Rendemen ekstrak tumbuhan daun sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) adalah jumlah ekstrak yang didapatkan yang ditinjau dari sampel kering, sampel basah dan sampel yang diekstraksi dengan parameter dalam persen. c. Variasi konsentrasi adalah beberapa macam konsentrasi yang dibuat dari ekstrak tumbuhan daun sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) yang akan diuji aktivitas anti-tirosinasenya. d. Aktivitas anti-tirosinase adalah aktivitas ekstrak metanol daun sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) melanin. e. IC50 (Inhibitory Concentration 50%) merupakan konsentrasi dari ekstrak uji yang mampu menghambat atau meredam kerja suatu senyawa sebesar 50%. 4.5. Peralatan dan Bahan Penelitian 4.5.1. Peralatan Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain timbangan analitik yang digunakan untuk menimbang simplisia dan bahan padat lainnya, Rotary evaporator alat yang digunakan untuk penghilangan pelarut dari sampel dengan cara penguapan, wadah kaca untuk tempat maserasi sampel, water bath yang digunakan untuk mengeringkan ekstrak metanol kental yang diperoleh, botol dalam menghambat kerja tirosin pada pembentukan

11

kaca yang berfungsi untuk menampung cairan hasil saringan, kertas saring untuk menyaring sampel, corong buhner yang digunakan untuk menyaring hasil ekstraksi, Spektrofotometer UV-Visible yang digunakan untuk mengukur nilai absorbansi anti-tirosinase dari ekstrak uji dan zat kontrol, batang pengaduk untuk mengaduk sampel dan pelarut, labu ukur untuk wadah pengenceran sampel, mikropipet untuk mengambil ekstrak yang jumlah yang telah ditentukkan, spatula untuk mengambil ekstrak, vortek alat yang digunakan untuk menghomogenkan ekstrak dengan pelarut dengan getaran memutar, 4.5.2. Bahan Penelitian Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini antara lain aquadest, metanol, Alumunium foil untuk menutup wadah agar tidak terkontaminasi udara luar, serta tirosin untuk uji anti-tirosinase.

4.6. Rancangan Penelitian 4.6.1. Penentuan Rendemen Penentuan rendemen ekstrak daun sumpit (Brucea javanica (L) Merr) Timbang X gram SampelSegar Segar Sampel Keringkan Timbang Sampel Kering - Ekstraksi - Penguapan Ekstrak Timbang Timbang X gram X gram X gram

Rendemen (%)

Gambar 4.1 Skema Penentuan Rendemen Ekstrak Daun Sumpit

12

4.6.2. Rancangan Uji Aktivitas Anti-tirosinase Rancangan pengujian aktivitas anti-tirosinase ekstrak daun sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) Tabel 4.1. Perlakuan Uji Anti-tirosinase Ekstrak Daun Sumpit Ulang an U1 U2 U3 K1 K1DSDPPH U1 K1DSDPPH U2 K1DSDPPH U3 KE2U1 KE2U2 KE2U3 K2 K2DSDPPH U1 K2DSDPPD U2 K2DSDPPH U3 KE3U1 KE3U2 KE3U3 Konsentrasi K3 K3DSDPPH U1 K3DSDPPH U2 K3DSDPPH U3 KE4U1 KE4U2 KE4U3 K4 K4DSDPPH U1 K4DSDPPH U2 K4DSDPPH U3 K5 K5DSDPPH U1 K5DSDPPH U2 K5DSDPPH U3 KE5U1 KE5U2 KE5U3

KE1U1 KE1U2 KE1U3 Keterangan :

KE1U1 = Perlakuan konsentrasi ekstrak metanol pertama pada ulangan pertama 4.6.3 Rancangan Penentuan Konsentrasi Efektif Anti-tirosinase Rancangan penentuan konsentrasi efektif antibakteri ekstrak daun sumpit (Brucea javanica (L.) Merr). Ekstrak daun sumpit

C1

C2

C3

C4

C5

+ Bakteri uji

statistik Konsentrasi (C) efektif

13

Gambar 4.2 Penentuan Konsentrasi Efektif Anti-tirosinase 4.6.4.Rancangan Pengujian Potensi anti-tirosinase Rancangan pengujian potensi anti-tirosinase ekstrak daun sumpit (Brucea javanca (L.) Merr).

14

4.7. Teknik Pengumpulan Data 4.7.1. Data dan Sumber Data Data penelitian ini adalah ekstrak daun sumpit (Brucea javanca (L.) Merr), sedangkan data penelitian ini diperoleh dari: a. Hasil rendemen yang diperoleh dari ekstrak daun sumpit (Brucea javanca (L.) Merr) dibandingkan dengan sampel daun sumpit sebelum diekstraksi. b. Aktivitas antitirosina dengan pengamatan zona bening sebagai zona hambat pertumbuhan bakteri. c. Potensi antibakteri terhadap kontrol positif. 4.5.3. Pelaksanaan Penelitian a. Pengambilan Sampel Tumbuhan Daun Sumpit dibersihkan dan dicuci, kemudian dipotong dan dikeringkan, lalu disimpan pada wadah tertutup.

b. Pembuatan Ekstrak Sampel yang telah halus dimasukkan ke dalam wadah dan diberikan cairan penyari berupa metanol. Sampel direndam selama 3-5 hari sampai diperoleh ekstrak metanol. Sampel disaring dan ekstrak etanol dipekatkan dengan menggunakan rotary evaporator pada suhu 40 C. Setelah itu dilakukan penguapan maksimal hingga diperoleh ekstrak kering. c. Penyiapan Bakteri Uji Dilakukan pembiakan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus di medium NA (Nutrien Agar). Kemudian diinkubasi di inkubator pada suhu 37 oC selama 24 jam. Biakan bakteri hasil inokulasi disuspensikan dengan menggunakan NaCl fisiologis 0,9 % steril dengan tingkat pengenceran 1:20 antara biakan mikroba dan larutan NaCl. Digunakan NaCl fisiologis 0,9 % karena memiliki tekanan osmosis yang sama dengan tekanan osmosis dalam sel (isotonis). d. Pembuatan Medium

15

Komposisi medium NA (Nutrient Agar) antara lain: ekstrak daging, pepton, agar, dan aquades hingga 1000 mL, seluruh bahan dilarutkan sampai larut sempurna dalam labu Erlenmeyer lalu dipanaskan dengan hot plate, kemudian disterikan dalam autoklaf suhu 121 C selama 15 menit. e. Penentuan Seri Konsentrasi Sampel 1. Penentuan Seri Konsentrasi uji Untuk menentukan konsentrasi dari ekstrak Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) yang akan diuji, terlebih dahulu dilakukan uji pendahuluan untuk menentukan konsentrasi terendah (batas bawah) sampel yang memberikan efek terhadap bakteri uji sehingga dari batas bawah konsentrasi itulah yang akan dibuat dalam beberapa variasi konsentrasi uji. 2. Prosedur Uji Pendahuluan Sebanyak X g ekstrak Daun Sumpit dilarutkan dengan menggunakan aquades hingga diperoleh larutan stok pada konsentrasi X %. Kemudian dari larutan stok tersebut dilakukan pengenceran menjadi 5 variasi konsentrasi yang dikehendaki, yaitu C1 %, C2 %, C3 %, C4 %, C5 % untuk ekstrak metanol. Medium NA steril sebanyak 10 mL dituang ke dalam botol pengencer kemudian ditambahkan 0,02 mL suspensi bakteri dan dihomogenkan lalu dituang ke dalam cawan petri, selanjutnya dibiarkan hingga memadat. Selanjutnya paperdisc yang telah dicelupkan ke dalam larutan uji diletakkan di atas medium sesuai dengan pola yang telah dibuat pada masing-masing konsentrasi. Dilakukan dinkubasi pada suhu 37 oC selama 24 jam. Selanjutnya diamati zona hambatan yang terbentuk dan dilakukan pengukuran daerah hambatan dengan menggunakan mikrometer. Konsentrasi terendah di mana terjadi zona bening adalah harga konsentrasi minimumnya. Dari harga konsentrasi minimum itulah yang dibuat dalam beberapa seri konsentrasi uji. f. Pengujian potensi antibakteri ekstrak Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Dibuat pengenceran ekstrak dari ekstrak Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) dengan 5 variasi konsentrasi. Diambil 0,02 mL suspensi bakteri ke dalam cawan petri steril dengan cara aseptik. Kemudian dituang medium NA cair ke dalam cawan petri sebanyak

16

10 mL. Dicelupkan paperdisc ke dalam masing-masing seri konsentrasi ekstrak dan antibiotik baku. Setelah setengah memadat diletakkan paperdisc dengan teratur di atas media, lalu diinkubasi di dalam inkubator selama 24 jam pada suhu 37C. Diamati zona hambat yang terbentuk dan diukur daerah hambatan dengan menggunakan mikrometer skrup. Selanjutnya dibandingkan hasil daya hambat yang terbentuk antara sampel dan antibiotik pembanding. 4.8. Teknik Analisis Data 4.8.1. Rendemen Hasil rendemen diperoleh dari jumlah Daun Sumpit yang didapat pada ekstrak metanol. Tabel 4.2. Rendemen ekstrak Daun Sumpit No. Ekstrak/Fraksi 1. Metanol Berat Ekstrak (gr) Rendemen (%)

Keterangan:

4.8.2. Data Aktivitas Antibakteri Hasil pengamatan aktivitas antibakteri ekstrak metanol dilakukan dengan tabulasi data dan hanya pengamatan secara deskriptif. Tabel 4.3. Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Sumpit Mikroba Uji C1 Konsentrasi Uji Ekstrak Daun Sumpit (%) C2 C3 C4 C5

E. coli S. aureus Keterangan : Data berupa data kualitatif (-), (+), dan (++), dimana: (-) = tidak menghambat/tidak membunuh (+) = menghambat/membunuh (+++) = membunuh

17

4.8.3. Data Menentukan Konsentrasi Efektif Ekstrak Data pengaruh variasi konsentrasi terhadap pertumbuhan bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus dianalisis menggunakan ANAVA. Tabel 4.4. Data Konsentrasi Efektif Perlakuan Bakteri Uji Eschericia coli Total Staphylococcus aureus Total Total akhir n1 n2 n3 n n1 n2 n3 Konsentrasi Ekstrak Daun Sumpit C1 C2 C3 C4 C5 Kontrol Negatif Kontrol Positif

Perhitungan Anava a. Menghitung FK


Tij 2 FK = r.t

b. Menghitung JK total JKtotal = T(Yij2) FK c. Menghitung JK Perlakuan


JKperlakuan = TA 2 FK r

d. Menghitung JKgalat = JKtotal JKperlakuan e. Menghitung Derajat bebas 1. db total = (r.t) - 1 2. db perlakuan = t -1 3. db galat = db total db perlakuan

18

f. Menghitung Kuadrat Tengah (KT) KT = masing-masing JK dibagi dengan db nya. g. Menghitung Harga F Hitung yaitu dengan cara membagi KT perlakuan dengan KT galat Tabel 4.5. Pola Analisis Varian (Anava) Sumber keragaman DB JK KT Fhitung Ftabel 5% 1% Keterangan

Ekstrak Galat Total Dimana: DB = Derajat Bebas KT = Kuadrat Tengah JK = Jumlah Kuadrat Bila F Hitung > F Tabel 5% , 1% Bila F Hitung < F Tabel 1% > 5% Bila F Hitung < F Tabel 5% , 1%

= Sangat Signifikan = Signifikan = Non Signifikan

4.8.1. Potensi Ekstrak Uji-t digunakan untuk membandingkan potensi antibakteri ekstrak Daun Sumpit dengan potensi antibibotik baku. Tabel 4.6. Tabel Persiapan Uji-t Pasangan Subyek K E K E B B (B MB) b2

Total Perhitungan Uji-t 1. Menghitung nilai MB MB =

19

2. Menentukan nilai t (t-hitung)

t= 3. Menentukan derajat kebebasan (db) db = Jumlah pasangan subyek 1 Keterangan: K = Kelompok kontrol (antibiotik baku) E = Kelompok eksperimen (ekstrak Daun Sumpit) B = Perbedaan dari K dan E N = Jumlah subyek

4.9. a. b.

Hasil-hasil Penelitian yang Diharapkan Hasil penelitian yang diharapkan, antara lain: Rendemen yang diperoleh dari ekstrak Daun Sumpit Aktivitas antibakteri ekstrak Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Diharapkan ekstrak Daun Sumpit memiliki aktivitas antibakteri khususnya bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus

c.

Konsentrasi ekstrak tumbuhan Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) yang efektif sebagai antibakteri, khususnya bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Diharapkan dari setiap konsentrasi uji memberikan efek penghambatan atau pengaruh yang berbeda nyata terhadap masingmasing bakteri uji, dan diharapkan pula dari variasi konsentrasi ekstrak yang diuji terdapat konsentrasi efektif yang paling efektif sebagai antibakteri

d.

Potensi ekstrak tumbuhan Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) sebagai antibakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Diharapkan ekstrak tumbuhan Daun Sumpit (Brucea javanica (L.) Merr) memberikan potensi antibakteri yang sebanding atau bahkan lebih besar

20

dibandingkan dengan antibiotik terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.

21

DAFTAR PUSTAKA Agoes R. 2007. Teknologi Bahan Alam. ITB. Bandung

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1986. Sediaan Galenik. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan: Jakarta. Djide, M. Natsir dan Sartini, 2008. Analisis Mikrobiologi Farmasi. Laboratorium Mikrobiologi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin: Makassar. Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan: Jakarta. Hanafiah, K.A. 2003. Rancangan Percobaan Teori dan Aplikasi . PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta. Harborne, J.B., 1987. Metode Fitokimia Jilid 2. Penerbit ITB, Bandung Hartono. 2008. Statistika untuk Penelitian. Lembaga Kemasyarakatan dan Perempuan: Yogyakarta. Studi Filsafat

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid 2. Badan Litbang Kehutanan: Jakarta. Irianto, Koes. 2006. Mikrobiologi: Menguak Dunia Mikroorganisme Jilid 1. Yrama Widya: Bandung

Jawetz,

Melnick dan Adelberg. 1995. Mikrobiologi Kedokteran Edisi Keduapuluh. Terjemahan oleh Edi Nugroho & RF Maulany. EGC: Jakarta.

Pelczar. M., J,. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid 2. Universitas Indonesia. Jakarta.

22

Sastrohamidjojo H. 1996. Sintesis Bahan Alam. Gadjah Mada Press. Yogyakarta Steenis, Van. 1978. Flora untuk Sekolah di Indonesia. Pradnya Paramita: Jakarta Tjitrosopoemo, Gembong. 2005. Taksonomi Tumbuhan Obat-obatan. UGM Press: Yogyakarta. Wati, D. C. 2009. Skrining Metabolit Sekunder dalam Daun Selasih (Ocimum basilicum L). FKIP Universitas Mulawarman: Samarinda Wikan, Ning Utami. 2008. Fekunditas Brucea javanica (L) Merr. di Kawasan Wisata Ilmiah Cimanggu Bogor. Majalah Obat Tradisional Volume 13: Bogor. (http://diakses 30 April 2012) Wiryowidagdo, Sumali. 2007. Kimia dan Farmakologi Bahan Alam. EGC: Jakarta. Yazid, Eistein. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Penerbit Andi: Yogyakarta.