Anda di halaman 1dari 16

JURNAL

Risperidone long-acting injection in Schizophrenia Spectrum Illnesses compared to first generation depot antipsychotics in an outpatient setting in Canada Pembimbing : dr. Suprihhartini, Sp. KJ

Disusun oleh :

Cahya Daris Tri Wibowo H2A008008

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2013

Abstrak Latar Belakang: Formulasi depot antipsikotik menyediakan potensi solusi pada penerimaan jelek terapi oral pada skizofrenia. Namun, terdapat beberapa studi perbandingan pada efektivias dan daya toleransi dari depot antipsikotik generasi pertama dan kedua pada seting praktik klinis yang nyata.Tujuan dari studi ini untuk membandingkan keamanan dan hasil pada pasien dengan skizofrenia yang diinisiasi injeksi risperidon aksi panjang (RLAI) atau injeksi antipsikotik generasi pertama (FGM) pada Mental Health Center di British, Kolombia. Metode: Data diperoleh dengan ulasan grafik retrospektif pada semua pasien aktif yang memulai terapi depot yang berusia 18 tahun, telah menerima minimal 3 injeksi depot antipsikotik, dan sebelumnya tidak menerima clozapine. Kurva Kaplan Meler digunakan untuk memperkirakan probabilitas putus pengobatan dan hospitalisasi. Hasil: Total dari grafik 70 RLAI dan 102 FGAI pasien telah diulas. Pada dasarnya pasien pada kedua kelompok memiliki usia yang mirip (39.7 dan 42.7 tahun untuk pasien RLAI dan FGAI masing-masing (p = 0.09)) namun pasien FGAI memiliki waktuu yang lebih lama sejak diagnosis (13.6 vs. 9.85 tahun (p = 0.003)). Retensi pengobatan pada 18 bulan adalah 77% untuk RLAI dan 86% untuk pasien FGAI (p = 0.22) dan masing-masing 82% dan 88% pasien tidak dirawat di rumah sakit (p = 0.28). Namun, analisis RLAI telah disepakati oleh kurangnya data pasien. Penggunaan pengobatan concomitan hampir sama pada kedua kelompok kecuali untuk anticholinergics yang digunakan lebih jarang pada pasien RLAI (5.7% vs.35.3%, p < 0.001). Frekuensi efek samping juga hampir sama kecuali untuk gejala ekstrapiramidal (EPS) yang lebih umum pada pasien FGAI(52.9% vs. 17.0% for RLAI (p < 0.001)). Kesimpulan: Tidak ada perbedaan nyata pada putus pengobatan atau hospitalisasi antara pasien RLAI dan FGAI,walaupun analisis disepakati dengan jumlah pasien sedikit. Namun, penurunan EPS dengan RLAI mungkin menawarkan kuntungan klinis yang signifikan untuk pasien dengan skizofrenia.

Keywords: Risperidone long acting injection, Atypical depot antipsychotic, First generation depot antipsychotic, Typical depot antipsychotic, Hospitalization, Treatment discontinuation, Retrospective Latar Belaknng Schizophrenia merupakan gangguan jiwa kronik dengan rentang gejala yang dapat mengawali gangguan berat pada fungsi personal, social dan okupasional [1]. Prevalensi masa hidup skizofrenia diperkirakan 0.55% [2] yang berkorelasi sekitar 185,000 orang Kanada dengan penyakit. Gangguan biasanya muncul pada dewasa nmuda dan sebanyak 50-70% pasien akan menderita relaps kronik yang memicu peningkatan angka hospitalisasi dan morbiditas dan mortalitas [2,3]. Dampak ekonomi cukup banyak. Terutama akibat dari hospitalisai pasien yang memanjang selama relaps (sekitar 50% biaya), sementara pengobatan berperan sekitar 6% dari biaya keseluruhan [4]. Salah satu faktor yang berperan pada relaps skizofrenia adalah buruknya atau kepatuhan setengah-setengah pada pengobatan [5,6]. Walaupun kepatuhan pada skizofrenia merupakan fenomena kompleks, rute peberian pengobatan (oral vs. depot), berhubungan dengan efek samping dan efektivitas pengobatan merupakan faktor kunci dalam menetapkan tingkatan kepatuhan jangka panjang [5,7,8]. Antipsikotik depot sering dimulai pada pasien yang menunjukkan bukti kepatuhan yang buruk atau daya toleransi pada medikasi oral [5]. Namun, walaupun formulasi depot dari generasi pertama atau antipsikotik tipikal mungkin memiliki dampak positif pada kepatuhan seperti obat oral lain mereka memiliki dampak minimal pada symptom negative dari skizofrenia dan kognisi dihubungkan dengan peningkatan risiko gejala ekstrapiramidal (EPS) dan Tardive diskinesia (TI) [9,10]. Keterbatasan ini mengurangi kapasitas baik formulasi oral maupun depot dari antipsikotik tipikal untuk memberikan kontrol efektif dari skizofrenia [10].

Antipsikotik generasi kedua atau atipikal efektif pada kontrol baik symptom positif maupun negative dari skizofrenia dan umumnya memiliki insidensi lebih rendah pada EPS dan TD dan pada beberapa pasien dapat memberikan keuntungan klinis lebih daripada agen tipikal [9,11-13]. Risperidone long-acting injection (RLAI) merupakan antipsikotik atipikal pertama yang tersedia dalam formulasi depot dan efektivitas dan daya toleransi dari agen ini telah ditunjukkan pada percobaan klinis [14,15]. Namun, kurangnya informasi pada perbandingan efektivitas dan daya toleransi dari formulasi antipsikotik depot tipikal dan atipikal saat digunakan di dunia klinis yang nyata. Pada studi masa kini, grafik retrospektif digunakan untuk menilai dampak RLAI dan antipsikotik generasi pertama depot injeksi (FGAI) pada dampak pasien pada Pusat Kesehatan Jiwa di Kanada. Metode Ulasan grafik retrospektif diselenggarakan dari Desember 2008 sampai Maret 2009 pada semua pasien aktif di Victoria Mental Health Centre, Partnership Medication Clinic (PMC), Victoria, British Columbia. PMC merupakan lokasi utama untuk pemberian pengobatan antipsikotik depot kepada pasien rawat jalan. Dampak primer dari ulasan grafik retrospektif merupakan waktu putus pengobatan dan waktu hospitalisasi untuk pasien pada RLAI vs FGAI. Dampak sekunder memasukkan penilaian dari efek samping terapi termasuk EPS dan TD, durasi hospitalisasi dan penggunaan medikasi tambahan. Kriteria inklusi merupakan pasien yang memulai terapi depot yang berusia 18 tahun, telah didiagnosis menurut DSM IV schizophrenia, gangguan schizophreniform, atau gangguan schizoaffective, yang telah minimal mendapat 3 injeksi dari antipsikotik depot. Kriteria eksklusi termasuk bukti percobaan clozapin sebelumnya, dokumentasi penyalahgunaan alcohol atau obat, atau kehamilan/masa laktasi. Grafik diperiksa berdasarkan daftar lengkap dari pasien aktif di PMC. Tujuannya untuk menyeleksi semua pasian dengan RLAI dan

memasangkan mereka dengan jumlah yang sama dari pasien dengan FGAI. Namun, karena pasien yang tersedia relative sedikit, semua pasien di PMC menemukan criteria inklusi diasukkan. Grafik diperiksa untuk dapak primer dan sekunder untuk 18 bulan pertama dari paparan FGAI dan/atau RLAI. Data yang dikumpulkan termasuk medikasi antipsikotik saat ini dan dosis, medikasi psikiatrik tambahan, usia, jenis kelamin, berat badan, waktu sejak diagnosis dan komorbiditas. Untuk pasien yang memiliki paparan pada RLAI dan FGAI melalui riwayat pengobatannya, informasi dicatat untuk tiap jenis depot, pasien seperti itu dapat dimasukkan dalam kedua grup. Diantara pasien yang terekspos multiple FGAI, hanya medikasi pertama yang dicatat. Selama waktu paparan terhadap antipsikotik, Abnormal Involuntary Movement Scale (AIMS) terbaru [16] and skor Simpson Angus Scale (SAS) [17] dicatat, jika tersedia pada grafik. Kasus TD diidentifikasi jika pada AIMS menemui criteria Schooler Kane criteria (gerakan diskinetik moderat pada satu area tubuh atau gangguan gerakan diskinetik ringan pada 2 area tubuh. [18] atau pasien dilaporkan memiliki TD. Pasien dipertimbangkan memiliki EPS jika mereka menggunakan pengobatan antikolinergik atau menemui definisi untuk EPS (rerata skor global 0,3 atau lebih pada SAS, atau skor mentah dari ketiganya ) [17]. Waktu putus pengobatan dinilai melalui seluruh periode pasien mendapatkan paparan antipsikotik tanpa memperhatikan hospitalisasi. Jika setela hospitalisasi pasien masih dengan antipsikotik depot yang sama, mereka dipertimbangkan bertahan untuk kelompok putus obat. Pasien yang tidak melanjutkan antipsikotik depot dengan pilihan dan kemudia relaps atau dirawat inap setelah periode waktu dihitung sebagai putus pengobatan. Semua data dimasukkan ke dalam Microsoft Access Database. Kurva kelangsungan hidup Kaplan Meier digunakan untuk memperkirakan kemungkinan putus pengobatan dan hospitailsasi pada 18 bulan. Selain itu, Cox proportional hazard modelling dipakai untuk mengidentifikasi dasar karakteristik pasien yang merupakan predictor signifikan untuk putus pengobatan atau hospitalisasi. Perbandingan antara kelompok pengobatan untuk variabel kategorikal

dianalisis dengan metode Pearson chi-square atau Fishers. untuk variabel kontinyu dengan distribusi parametric, digunakan t-test; untuk variabel non parametric, tes Kolmogorov-Smirnov (KS) digunakan. Nilai P dibawah 0.05 dieprtimbangkan bermakna secara statistic; namun, karena sifat persiapan dari studi ini, kecenderungan pada data juga dipertimbangkan. Informasi dianalisis menggunakan SPSS Statistical Software (versi 17.0) dan semua tes statistic adalah dua sisi. Kekuatan tidak dihitung sebuah priori karena ini merupakan hipotesis yang menggeneralisasikan studi persiapan. Persetujuan etik untuk studi disahkan oleh Health Research Ethics Board of the Vancouver Island Health Authority. Informed consent tidak diperlukan untuk review grafik retrospektif ini. Hasil Seperti yang ditunjukkan pada gambar 1, grafik 222 pasien telah memenuhi syarat untuk dibahas namun 81 pasien dieklusikan karena mereka tidak memenuhi kriteria inklusi studi. Pasien sisanya (n = 141), 70 menerima RLAI dan 102 FGAI sementara 31 pasien dimasukkan pada kelompok pengobatan keduanya. Pada garis dasar, pasien dalam kelompok pengobatan keduanya memiliki karakteristik yang hampir sama kecuali untuk waktu sejak diagnosis dimana pasien FGAI memiliki durasi diagnosis lebih lama secara (13.6 tahun vs. 9.85 tahun untuk kelompok RLAI p = 0.003) (Tabel 1). Durasi follow up adalah 15.9 4.6 bulan untuk FGAI dan 11.2 5.6 bulan untuk RLAI. Penggunaan FGAI paling umum flupenthixol decanoate (63 dari pasien FGAI (61.8%) pada dosis rerata 37 mg) sementara hanya 9 pasien (8.8%) menerima haloperidol decanoate pada dosis rerata 79 mg, dosis rerata RLAI adalah 32 mg (gambar 1). Lihat tabel 2 untuk dosis antipsikotik depot, oral, dan total dalam ekuivalen CPZ.

Kurva kelangsungan hidup Kaplan Meier survival untuk putus pengobatan hampir sama untuk kedua kelompok dengan 77% dari pasien RLAI dan 86% dari pasien FGAI melanjutkan pengobatan pada 18 bulan (p = 0.22) (gambar 2). Rerata waktu kelangsungan hidup untuk RLAI dan FGAI adalah 16.0 (95% confidence interval (CI), 14.9 - 17.1) dan 16.7 (95% CI, 15.9 to 17.4) bulan, masing-masing, berdasar pada analisis Kaplan Meier. Namun, beberapa pasien RLAI memiliki paparan obat jangka panjang; pada 18 bulan hanya 19 pasien berisiko pada analisis Kaplan Meier vs. 76 untuk FGAI (gambar 2). Informasi lebih lanjut pada mereka yang putus pengobatan ditampilkan pada tabel 3 dan menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna pada proporsi putus pengobatan, waktu putus pengobatan atau pada alasan utama untuk putus pengobatan antara kelompok terapi FGAI dan RLAI. Walaupun terdapat perbedaan pada alasan putus pengobatan antara kelompok berhubungan pada pilihan pasien (63.6% putus RLAI vs. 38.5% untuk FGAI) dan daya toleransi (18,2% vs 30,8%), tidak ada yang mencapai signifikan secara statistik.

Analisis Kaplan Meier untuk waktu hospitalisasi hampir mirip untuk kedua kelompok dengan 82% dan 88% pasien pada masing-masing kelompok RLAI dan FGAI, tanpa relaps memerlukan hospitalisasi lebih dari 18 bulan untuk waktu penilaian (p = 0.28) (gambar 3). Rerata lama kelangsungan hidup untuk lama hospitalisasi adalah 15.8 (95% CI, 14.5 - 17.0) dan 16.6 (95% CI, 15.8 - 17.4) bulan masing-masing untuk pasien RLAI dan FGAI. Untuk pasien yang dirawat tidak ada perbedaan bermakna untuk waktu pertama dirawat atau pada rerata durasi hospitalisasi antara pengobatan RLAI dan FGAI (Tabel 3). Pada kedua kelompok pengobatan, alasan untuk hospitalisasi adalah kegagalan pengobatan model cox proportional hazards menunjukkan tidak ada dasar karakteristik yang dinilai (usia, jenis kelamin, waktu sejak diagnosis, berat badan pasien, atau pengobatan dengan RLAI vs FGAI) merupakan prediktor bermakna dari putus pengobatan atau hospitalisasi (hasil tidak ditampilkan).

Selama pengobatan dengan kedua formulasi depot, terdapat penggunaan tambahan dari antipsikotik oral dan terapi psikiatrik (Tabel 3). Pada kelompok FGAI, terdapat penggunaan lebih banyak dari antipsikotik oral tambahan (41.1% dari pasien FGAI vs. 30% dari pasien RLAI), antidepresan (25.5% vs. 14.3%) and anticholinergic (35.3% vs. 5.7%), namun hanya yang terakhir yang bermakna secara statistik (p < 0.001) dengan peningkatan 6.2 kali pada penggunaan anticholinergic pada pasien FGAI. Paling umum digunakan antipsikotik oral tambahan adalah quetiapine dan olanzapine sementara procyclidine dan benztropine merupakan anticholinergic paling umum. Namun penggunaan tambahan antipsikotik oral tidak mempengaruhi hasil penilaian. Analisis subgroup dari 70% dan 59% RLAI dan FGAI, yang menerima terapi mono depot (misal tanpa antipsikotik oral tambaahan) menghasilkan hasil yang hampir sama untuk putus obat dan hospitalisasi untuk mereka yang sudah dijelaskan untuk analisis keseluruhan (hasil tidak ditampilkan). Seperti yang ditunjukkan tabel 4, review grafik menunjukkan bahwa proporsi yang hampir sama pada pasien dengan RLAI dan FGAI memiliki penilaian AIMS dan SAS. Rerata baik AIMS dan SAS lebih tinggi untuk kelompok pengobatan FGAI, namun perbedaannya tidak signifikan secara statistic. Namun, penilaian SAS menunjukkan peningkatan 3.1 kali lipat (p < 0.001) pada insidensi EPS pada kelompok terapi FGAI (52.9% vs. 17% dari pasien RLAI). Juga, pasien pada kelompok FGAI memiliki TD (4.9% vs. 1.4% pada pasien RLAI) namun perbedaan ini tidak bermakna secara statistic (p = 0.40).hasil hampir sama untuk pasien dengan kedua terapi RLAI ataupun FGAi monoterapi tanpa antipsikotik oral tambaham (hasil tidak ditampilkan) Laporan efek samping terapi dicatat pada grafik pasien, menunjukkan insidensi lebih tinggi dari gangguan gerakan pada pasien dengan FGAI dengan 17.6% (vs. 14.3% untuk RLAI) dan 23.5% (vs. 0% untuk RLAI) dari pasien dengan EPS dan tremor (Table 4). Tidak ada perbedaan besar pada laporan tambahan efek samping diantara

kelompok pengobatan, walaupun hanya 10% dan 16.7% dari pasien RLAI dan FGAI memiliki kejadian yang dicattat pada grafik mereka.

Diskusi Tujuan studi adalah untuk menilai dampak antipsikotik depot tipikal dan atipikal pada pasien skizofrenia pada dunia klinis yang sebenarnya dalam periode lebih dari 18 bulan. Review grafik retrospektif menunjukkan nilai tinggi dari berlanjutnya terapi depot dengan baik FGAI maupun RLAI (86% dan 77%, p = 0.22) dan relative kecil pada hospitalisasi (12.7% dan 14.3%, p = 0.09) tanpa perbedaan bermakna antara 2 formulasi. Namun, dengan RLAi terdapat insidensi EPS lebih rendah (17% vs.

52.9%, p < 0.001) dan bukti menunjukkan pengurangan angka TD dan pemakaian antipsikotik oral tambahan walaupun perbedaan ini tidak bermakna secara statistic. Beberapa studi membandingkan retensi pengobatan dan hospitalisasi dengan FGAI dan RLAi pada populasi pasien yang hampir sama pada tipe seting klinis ini. Namun, studi observasional telah melaporkan angka variabel retensi pengobatan,; berkisar antara 49,8% lebih dari 36 bulan untuk depot tipikal [20] dan mencapai 85% untuk RLAi [21]. Selain itu, beberapa studi menunjukkan bahwa pergantian dari antipsikotik oral ke formulasi depot tipikal atau atipikal dapa memicu penurunan angka hospitalisasi pasien [21,22]. Namun, menggunakan grafik audit metodologi retrospektif yang hampir sama, Virit et al. [23] menilai hasil pada pasien skizofrenia di Turki yang mengganti dari antipsikotik oral ke FGAI (n=46) atau RLAI (n=22). Setelah rerata periode pengobatan dari 20,4 dan 15,2 bulan untuk FGAI dan RLAi (p=0.02). ini member kesan perbaikan retensi dengan RLAI, walauupun hsail dapat disepakati oleh kurangya data pengobatan jangka panjang untuk RLAI karena ini relative lebih tersedia sekarang dibandingkan dengan FGAI [23]. Masalah yang hampir sama terjadi pada studi saat ini dimana pasien RLAI lebih sedikit memiliki paparan jangka panjang terhadap terapi dibandingkan dengan FGAI; hanya 17% pasien RLAI memiliki paparan diluar 18 bulan dibandingkan pasien FGAi 72% dan rerata waktu paparan adalah 12 dan 64 bulan. Karna analisis saat ini dibatasi terhadap pembandingan lebih dari 18 bulan maka kelompok dapat dibandingkan pada kondisi yang hampir sama. Keterbatasan data jumlah dari pasien dengan RLAI jangka panjang dapat mempengaruhi validitas retensi pengobatan dan hospitalisasi pada populasi ini. Virit et al. [23] member kesan bahwa retensi pengobatan pada RLAi pada studi ereka dapat lebih tinggi daripada dengan FGAi karena insidensi kejadian simpang yang lebih rendah secara signifikan dengan antipsikotik sebelumnya (p=0.02) Sebaliknya, penggunaan metodologi yang berbeda, Olfson et al. [24] tidak menemukan perbedaan pada angka retensi pengobatan antara FGAI dan RLAI. Dengan analisis dari database administrtif Medicaid di US, penulis melaporkan

bahwa 6 bulan setelah mulai pengobatan, hanya 9.7%, 5.4% dan 2.6% pasien melanjutkan rendah aloperidol decanoate, fluphenazine decanoate dan RLAI jauh lebih daripada yang dilaporkan disini. Namun, terpisah dari batasan database

analisis administratif [24], pasien pada studi ini juga memiliki angka tinggi dari polifarmasi ( 70% to 93% pasien juga menerima antipsikotik oral selama terapi depo), member kesan komorbiditas psikiatrik yang bertambah yang mungkin memiliki pengaruh negative pada retensi pengobatan [24]. Pada studi iniI 30% dan 41.1% pasien RLAI dan FGAI, menggunakan antipsikotik oral tambahan. Pada praktik klinis, polifarmasi antipsikotik dilaporkaan berkisar dari 13% sampai 60% dan dapat memiliki pengaruh banyak pada hasil pasien skizofrenia [25,26]. Namun, pada studi ini polifarmasi tidak muncul pengaruh pada hasil yang diamati. Saat analisis diulang pada pasien yang menerima RLAi atau FGAI monoterapi, semua hasil, termasuk insidensi gangguan gerak, tidak berubah yang member kesan bahwa antipsikotik oral tidak berperan dalam retensi pengobatan, hospitalisasi atau efek simpang . faktanya, sebagian besar peresepan antipsikotik tambahan adalah untuk quetiapine saat tidur, menunjukkan digunakan sebagai bantuan tidur. Baik kelompok pasien RLAi dan FGAI memiliki karakteristik dasar yang hampir sama, walaupun waktu sejak diagnosis secara signifikan lebih lama pada FGAI (3,75 tahun lebih lama). Maka, ini mungkin bahwa kelompok FGAI lebih stabil dalam penyakit mereka dan risiko relaps lebih kecil, dibandingkan kelompok RLAI, yang dengan diagnosis kini lebih memiliki penyakit yang kurang stabil. Hampir sama, walaupun tidak signifikan secara statistic, kelompok RLAI rata-rata 3tahun lebih muda, sekali lagi member kesan perbedaan perjalanan penyakit antara kedua grup. Perbedaan ini dapat berperan untuk mengamati pengaruh RLAI dan FGAI. Pada studi ini menunjukkan bukti jelas bahwa pengobatan RLAI pada pasien rawat jalan memicu penurunan angka EPS secara signifikan dan kecenderungan menuju penurunan angka TD, dibandingkan antipsikotik depot konvensional. Ini meyakinkan studi sebelumnya yang menunjukkan reduksi signifikan pada EPS dan gangguan

gerak setelah pergantian dari FGAI ke RLAI [27,28]. Walaupun tidakk dinilai pada studi ini, penggantian dari depot tipikal ke RLAI juga ditunjukkan kepada hasil signfikan perbaikan pada skor Positive and Negative Syndrome Scale (PANSS) member kesan pengaruh luas dari RLAi terhadap kontrol gejala pada skizofrenia [27,28]. Pada studi ini, insidensi gangguan gerak didasarkan terutama pada penilaian AIMS dan SAS dicatat pada grafik pasien. Namun, hanya 56% dan 50% pasien memiliki evaluasi AIMS dan SAS, walaupun pedoman asosiasi psikiatrik kanada yang merekomendasikan penilain setiap 6 bulan [29]. Ini member kesan bahwa rekomendasi ini dapat diterapkan secara universal pada praktik klinik. Gejala EPS memiliki pengaruh besar pada fungsional pasien dan juga berpengaruh kepatuhan terhadap pengobatan antipsikotik, karena itu rekomndasi untuk penilaian teratur [2931]. Pada studi ini, pengamatan bahwa RLAI menurunkan insidensi EPS secara signifikan dibandingkan FGAI sementara menyediakan level tinggi dari kontrol gejala, dapat berhubungan secara bermakna.untuk perawatan pasien jangka panjang dengan antipsikotik depot. Terdapat batasan jumlah berhubungan dengan studi ini. Yang pertama, data hanya diperoleh dari pasien di PMC yang sedang menerima depot injeksi. Akibatnya, pasien yang mencoba depot dan relaps, atau tidak melanjutkan pengobatan lebih awal, tidak diperoleh jadi angka kejadian yang ditemukan mungkin bukan cerminan sebenarnya dari kejadian populasi skizofrenia secara keseluruhan. Yang kedua, review grafik retrospektif menyandarkan diri pada rekam medis konsisten dan komprehensif, yang mungkin tidak selalu menjadi kasus, jadi detil klinis mungkin terlewatkan untuk beberapa pasien. Selain itu, terdapat juga kemungkinan misinterpretasi dari data yang ada pada grafik oleh reviewer atau kurangnya klarifikasi dari data yang hilang. Yang ketiga, kekuatan kalkulasi tidak lengkap apriori karena jumlah grafik yang ada terbatas dan tujuan review adalah eklsporatori. Akhirnya, seperti yang dibahas di atas, sejumlah kecil pasien yang menerima RLAI diluar 18 bulan mungkin menyepakati validitas dari perkiraan retensi pengobatan dan angka hospitalisasi untuk populasi pasien ini. Maka, walaupun keterbatasan ini, studii ini menyediakan penilaian dari

hasil perawatan umumnya untuk pasien skizofrenia yang menerima pengobatan antipsikotik depot pada satu Mental Health Centre di Kanada. Kesimpulan Tidak ada perbedaan berarti antara angka retensi pengobatan dan hospitalisasi pada pasien yang menerima RLAI atau FGAI, walaupun perkiraan angka jangka panjang untuk yang sebelumnya didasarkan pada jumlah kecil pasien. Namun, pengobatan RLAI dihubungkan dengan insidensi lebih sedikit secara signifikan dari EPS, sebuah kecenderungan insidensi TD ke arah lebih ke kecil, dan mengurangi penggunaan antipsikotik oral. Hasil menekankan kebutuhan untuk studi lebih besar membandingkan pengobatan RLAI dan FGAI pada skizofrenia, salah satu bukti yang kuat untuk mendeteksi perubahan relevan secara klinis pada dampak pasien.