Anda di halaman 1dari 20

8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. KIPI 1. Pengertian KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa satu bulan setelah imuniasi dan diduga karena imunisasi (Depkes RI, 2009). Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI/adverse event following immunization) adalah kejadian medik yang berhubungan dengan

imunisasi, baik berupa reaksi vaksin ataupun efek simpang, toksisitas, reaksi sensitivitas, efek farmakologis; atau kesalahan program,

koinsidensi, reaksi suntikan, atau hubungan kausal yang tidak dapat ditentukan (Ditjen P2PL dan Pusdiklat SDM kesehatan Depkes RI, 2006). Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi (KN PP KIPI, 2005). 2. Klasifikasi KIPI Klasifikasi menurut WHO (1999) yaitu klasifikasi lapangan untuk petugas sebagai berikut: a. Kesalahan program / teknik pelaksanaan (programmatic errors) Sebagian besar kasus KIPI berhubungan dengan masalah program dan teknik pelaksanaan imunisasi yang meliputi kesalahan program penyimpanan, pengelolaan, dan tata laksana pemberian vaksin. Kesalahan tersebut dapat terjadi pada berbagai tingkatan prosedur imunisasi. Contoh kesalahan program : dosis antigen (terlalu banyak), lokasi dan cara penyuntikan, sterilisasi semprit dan jarum, jarum bekas pakai, tindakan aseptik dan anti septic, kontaminasi vaksin dan alat suntik, penyimpanan vaksin, pemakaian sisa vaksin, jenis dan jumlah

pelarut vaksin, serta tidak memperhatikan petunjuk produsen (petunjuk pemakaian, indikasi kontra, dll). Kecurigaan terhadap kesalahan tata laksana perlu diperhatikan apabila terdapat kecenderungan kasus KIPI berulang pada petugas yang sama. Kecenderungan lain adalah apabila suatu kelompok populasi mendapat vaksin dengan batch yang sama tetapi tidak terdapat masalah, atau apabila sebagian populasi setempat dengan karakteristik serupa yang tidak diimunisasi tetapi justru

menunjukkan masalah tersebut. b. Reaksi suntikan (Injection reaction) Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik baik langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak, dan kemerahan pada tempat suntikan, sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual, sampai sinkope (KN PP KIPI, 2005: hal 6) c. Induksi vaksin (reaksi vaksin) Menurut KN PP KIPI, 2005 menyatakan gejala KIPI yang disebabkan induksi vaksin umumnya sudah dapat diprediksi terlebih dahulu karena merupakan reaksi simpang vaksin dan secara klinis biasanya ringan. Walaupun demikian dapat saja terjadi gejala klinis hebat seperti reaksi anafilaksis sistemik dengan risiko kematian. Reaksi simpang ini sudah teridentifikasi dengan baik dan tercantum dalam petunjuk pemakaian terrtulis oleh produsen sebagai indikasi kontra, indikasi khusus, perhatian khusus, atau berbagai tindakan dan perhatian spesifik lainnya termasuk kemungkinan interaksi dengan obat atau vaksin lain. d. Faktor kebetulan (Coincidental) Kejadian terjadi setelah imunisasi tapi tidak disebabkan oleh vaksin. Indikator faktor kebetulan ditemukannya kejadian yang sama di saat

10 10

bersamaan pada kelompok populasi setempat dengan karakter serupa tetapi tidak mendapat imunisasi. e. Penyebab tidak diketahui Menurut KN PP-KIPI, 2005: hal 7 menyatakan bila kejadian atau maalah yang dilaporkan belum dapat dikelompokkan ke dalam salah satu penyebab maka untuk sementara dimasukkan ke dalam kelompok ini sambil menunggu informasi lebih lanjut. Biasanya dengan kelengkapan informasi tersebut akan dapat ditentukan kelompok penyebab KIPI. Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1991 melalui Expanded programme immunisastion (EPI=PPI) telah menganjurkan agar pelaporan KIPI dibuat oleh setiap negara. Untuk negara berkembang yang paling penting adalah bagaimana mengontrol vaksin dan

mengurangi programmatic errors, termasuk cara menggunakan alat suntik dengan baik, alat yang sekali pakai atau alat suntik reusable, dan cara penyuntikan yang benar sehingga transmisi pathogen melalui darah dapat dihindarkan. Ditekankan pula bahwa untuk memperkecil terjadinya KIPI harus selalu diupayakan peningkatan ketelitian pemberian imunisasi selama program imunisasi dilaksanakan.

3. Kasus KIPI yang harus dilaporkan Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan nomor

26/MENKES/SK/XII/2005 tanggal 2 Desember 2005 tentang datar kasus KIPI yang perlu dilaporkan (Depkes, 2005) terdapat pada tabel 2.1 yaitu :

11 11

Tabel 2.1. Kasus-kasus yang harus dilaporkan


KURUN WAKTU TERJADI KIPI Dalam 24 jam GEJALA KLINIS Reaksi anafilaktoid (reaksi akut hipersensitif) Syok anafilaktid Menangis keras terus lebih dari 3 jam (persistent inconsolable screaming) Episode hipotonik-hiporesponsif Toxic shock syndrome (TSS) Dalam 5 hari Reaksi lokal yang berat Sepsis Abses di tempat suntikan (bakterial/steril) Dalam 15 hari Kejang, termasuk kejang demam (6-12 hari untuk campak/MMR; 0-2 hari untuk DPT) Ensefalopati (6-12 hari untuk campak/MMR; 0-2 hari untuk DPT) Dalam 3 bulan Acute flaccid paralysis = lumpuh layu (4-30 hari untuk penerima OPV; 4-75 hari untuk kontak) Neuritis brakialis (2-28 hari sesudah imunisasi tetanus) Trombositopenia (15-35 hari sesudah imunisasi campak/MMR) Antara 1 hingga 12 bulan sesudah Limfadenitis imunisasi BCG Infeksi BCG menyeluruh (Disseminated BCG infection) Osteitis/osteomielitis Tidak ada batas waktu Setiap kematian, rawat inap, atau kejadian lain yang berat, dan kejadian yang tidak biasa, yang dianggap oleh tenaga kesehatan atau masyarakat ada hubungannya dengan imunisasi. Dikutip dan dimodifikasi dari : Immunization Safety surveillance: Guidelines for managers of immunization programmes on reporting and investigating AEFI; WHO Regional Office for Western Pacific; Manila, 1999.

4. Penanganan KIPI Beberapa tindakan dan petunjuk rujukan yang dapat dilakukan oleh pelaksana imunisasi bila terjadi KIPI (KN PP-KIPI, 2005) sebagai berikut:

12 12

Tabel 2.2. Tatalaksana kasus KIPI


No. 1. KIPI Vaksin Reaksi lokal ringan Gejala Nyeri, eritema, bengkak di daerah bekas suntikan < 1 cm Timbul < 48 jam setelah imunisasi Tindakan Kompres hangat Jika nyeri mengganggu dapat diberikan parasetamol -1 tablet Ket Pengobatan dapat dilakukan oleh guru UKS atau orang tua Berikan pengertian kepada ibu/keluarga bahwa hal ini dapat sembuh sendiri walaupun tanpa obat

2.

Tata laksana Program Abses dingin

Pembengkakan

Bengkak & keras, nyeri daerah bekas suntikan. Terjadi karena vaksin yang dsuntikkan masih dingin Bengkak di sekitar suntikan Terjadi karena penyuntikan kurang dalam

Kompres hangat Parasetamol 1 tablet

Jika tidak ada perubahan, hubungi Puskesmas terdekat Jika tidak ada perubahan, hubungi Puskesmas terdekat

Kompres hangat

B. Pelatihan Pelatihan merupakan bagian dari pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan adalah semua kegiatan untuk memberikan dan atau meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktek masyarakat dalam memelihara dan

meningkatkan kesehatan mereka sendiri (Notoatmodjo, 2003). Berdasarkan tiga faktor penyebab terbentuknya (faktor yang mempengaruhi perilaku) menurut L.Green yakni faktor predisposisi, faktor pemungkin, dan faktor penguat, maka kegiatan pendidikan kesehatan menurut Notoatmodjo (2003) juga ditujukan kepada 3 faktor tersebut yaitu: 1. Pendidikan kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi Pendidikan kesehatan ditujukan untuk menggugah kesadaran, memberikan atau meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan baik bagi dirinya sendiri, keluarganya, maupun masyarakatnya. Selain itu pendidikan kesehatan juga memberikan

13 13

pengertian-pengertian

tentang

tradisi,

kepercayaan

masyarakat,

dan

sebagainya. Bentuk pendidikan ini antara lain: penyuluhan kesehatan, pameran kesehatan, iklan-iklan layanan kesehatan, spanduk, billboard, dan sebagainya. 2. Pendidikan kesehatan dalam faktor-faktor enabling Karena faktor-faktor pemungkin (enabling) ini berupa fasilitas atau sarana dan prasarana kesehatan, maka bentuk pendidikan kesehatannya adalah memberdayakan masyarakat agar mereka mampu mengadakan sarana dan prasarana kesehatan bagi mereka. Hal ini bukan berarti memberikan sarana dan prasarana kesehatan dengan cuma-cuma tetapi memberikan

kemampuan dengan cara bantuan teknik (pelatihan dan bimbingan), memberikan arahan, dan cara-cara mencari dana untuk pengadaan sarana dan prasarana. 3. Pendidikan kesehatan dalam faktor reinforcing Karena faktor ini menyangkut sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma) dan tokoh agama), serta petugas termasuk petugas kesehatan, maka pendidikan kesehatan yang paling tepat adalah dalam bentuk pelatihanpelatihan bagi toga, toma, dan petugas kesehatan sendiri. Tujuan dari pelatihan ini adalah agar sikap dan perilaku petugas dapat menjadi teladan, contoh, atau acuan bagi masyarakat tentang hidup sehat (berperilaku hidup sehat). Selain itu undang-undang atau peraturan juga merupakan faktor reinforcing yang dapat menunjang perilaku hidup sehat bagi masyarakat. Pelatihan merupakan suatu proses belajar mengajar terhadap

pengetahuan dan keterampilan tertentu serta sikap agar peserta semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan semakin baik, sesuai dengan standar (Tanjung, 2003). Pelatihan adalah proses pembelajaran yang lebih menekankan pada praktek daripada teori yang dilakukan seseorang atau kelompok dengan menggunakan pelatihan orang dewasa dan bertujuan meningkatkan kemampuan dalam satu atau beberapa jenis keterampilan tertentu. Sedangkan pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara peserta dengan lingkungannya yang mengarah pada pencapaian tujuan

14 14

pendidikan dan pelatihan yang telah ditentukan terlebih dahulu (Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan, 2002). Menurut Notoatmodjo (2005), pelatihan memiliki tujuan penting untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sebagai kriteria keberhasilan program kesehatan secara keseluruhan. Tujuan utama pelatihan adalah membangun keterampilan yang berdasarkan hasil observasi masih lemah atau kurang (Graeff, Elder, & Booth, 1996). Jadi pada prinsipnya pelatihan dilaksanakan untuk meningkatkan wawasan dan keterampilan peserta latih. Berdasarkan filosofinya (Depkes, 2007) pelatihan diselenggarakan dengan memperhatikan: 1. Prinsip pembelajaran orang dewasa (Adult Learning), yaitu bahwa selama pelatihan peserta berhak untuk: a. Didengarkan dan dihargai pengalamannya. b. Dipertimbangkan setiap ide dan pendapat, sejauh berada di dalam konteks pelatihan. c. Dihargai keberadaannya. 2. Penyelenggara dan fasilitator pelatihan berkewajiban untuk: a. Menciptakan iklim dan suasana yang mendukung proses belajar mandiri. b. Menciptakan mekanisme dan prosedur untuk perencanaan bersama dan partisipatif. c. Mendiagnosis kebutuhan-kebutuhan belajar yang spesifik. d. Merumuskan tujuan-tujuan program yang memenuhi kebutuhankebutuhan belajar. e. Melakukan dan menggunakan pengalaman belajar ini dengan metoda dan teknik yang memadai. f. Mengevaluasi hasil belajar dan mendiagnosis kembali kebutuhankebutuhan belajar.

15 15

3. Belajar sambil berbuat (learning by doing) yang memungkinkan peserta untuk: a. Berkesempatan melakukan eksperimen dari materi pelatihan dengan metode pembelajaran antara lain diskusi kelompok, studi kasus, simulasi, role play, dan latihan (exercise) baik secara individu maupun kelompok. b. Melakukan pengulangan ataupun perbaikan yang dirasa perlu.

Pelatihan keterampilan terdiri dari lima langkah esensial (Graeff, Elder, & Booth, 1996) antara lain: 1. Instruksi Instruksi yang efektif hanya berfungsi sebagai persiapan (sebagai anteseden) bagi pengembangan keterampilan dan tidak dapat

menggantikan praktik perilaku dalam proses belajar. Instruksi umumnya meliputi sebuah deskripsi keterampilan yang lebih memusatkan pada usaha-usaha menetapkan suatu tindakan yang perlu diambil daripada usaha-usaha menyampaikan pengetahuan atau menggambarkan sikap. Yang penting untuk diucapkan selama fase instruksional ini adalah sampai di mana hal tersebut dipahami. 2. Demonstrasi Pada fase demonstrasi, pelatih memperagakan keterampilan sasaran serta lebih meyakinkan diri bahwa para peserta diberikan. pelatihan Peragaan sepenuhnya membantu

memahami

instruksi-instruksi

yang

menjernihkan deskripsi verbal komponen-komponen perilaku. 3. Praktik Merupakan satu-satunya cara untuk meyakini bahwa para peserta pelatihan sungguh-sungguh menguasai keterampilan yang ditargetkan serta mampu melakukannya sendiri setelah pelatihan. Pemraktikan keterampilan satu kali saat pelatihan sangat membantu para peserta untuk bergerak dari keadaan mengetahui sebuah keterampilan menuju ke keadaan dimana mereka menjadi mampu melakukannya.

16 16

4. Umpan balik dan Penguatan Umpan balik adalah informasi yang diberikan kepada peserta secara individual mengenai kualitas kinerja yang mereka miliki. Jika diberikan dengan cara yang tepat, dengan strategi-strategi khusus untuk

memperbaiki, maka umpan balik akan berfungsi sebagai penguatan, yaitu dengan cara mendorong peserta untuk mencoba lagi perilaku yang baru. Umpan balik yang positif harus dapat menjelaskan kepada peserta perilaku yang telah mereka lakukan dengan benar, sedangkan umpan balik yang negatif harus mampu menjelaskan kepada peserta bagaimana mereka dapat memperbaiki perilaku yang keliru. 5. Penugasan Rumah Penugasan rumah memberikan praktik tambahan, sama dengan praktik yang dilaksanakan dalam pelatihan, yakni peserta harus melaksanakan praktik tersebut di luar sessi pelatihan. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam metodologi pelatihan yaitu : perencanaan pelatihan, metode pelatihan, dan media pelatihan. Pemilihan metode dan media pelatihan perlu mempertimbangkan: 1) tujuan pelatihan; 2) bahan atau materi yang akan disampaikan; 3) waktu yang tersedia; 4) kemampuan pelatih dalam menggunakan metode dan media komunikasi; 5) tingkat kemampuan atau perilaku awal peserta (Rahayuningtyas, 2004) Penanganan KIPI ringan akibat reaksi suntikan langsung seperti yang telah disebutkan di atas adalah dengan kompres hangat. Berikut ini langkah-langkah melakukan kompres hangat (Joyce, Temple, & Carr, 2005) : 1. Tempatkan kasa atau kapas dalam baskom berisi air hangat. 2. Bayi ditempatkan pada posisi yang ditentukan. 3. Peras satu lapis kasa basah sampai tidak menetes lagi. 4. Tempatkan kompres pada luka selama beberapa detik. 5. Angkat tepi kompres untuk melihat reaksi kulit. 6. Ganti kasa kompres steril 5 menit atau sesuai kebutuhan, untuk mempertahankan kehangatan, kaji area kulit yang diobati setiap waktu.

17 17

7. Tempatkan handuk di atas kompres. 8. Kaji ulang area pengobatan setiap 5 menit. 9. Setelah 20 menit, hentikan tindakan dan keringkan kulit untuk mencegah cidera karena pemajanan berlebihan akibat pengobatan.

C. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran,

penciuman, rasa, dan raba. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behaviour) (Notoatmodjo, 2007 : hal 140). Menurut Notoatmodjo (2007 : hal 140) menyatakan dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berprilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni: 1. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu. 2. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus. Disini sikap subjek sudah mulai timbul. 3. Evaluation, menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. 4. Trial, dimana subjek sudah mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. 5. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan

pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut.

18 18

Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran akan tidak berlangsung lama. Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif menurut Notoatmodjo (2007: hal 140-142) mempunyai 6 tingkatan yaitu: 1. Tahu (know) Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tingkatan tahu merupakan tingkatan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain: menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya. 2. Memahami (comprehension) Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. 3. Aplikasi (aplication) Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cycle) di dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.

19 19

4. Analisis (analysis) Merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja: dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya. 5. Sintesis (synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau kemampuan menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. 6. Evaluasi (evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentuan sendiri, atau menggunakan kritera-kriteria yang telah ada. Saat ini para orang tua semakin menyadari pentingnya imunisasi untuk perlindungan anak dari penyakit. Walaupun demikian mereka terutama para ibu sering merasa khawatir apabila terjadi KIPI ringan pada anaknya seperti demam, bengkak, kemerahan, dan rasa sakit, apalagi bila ada rumor atau kabar burung dan informasi yang salah tentang imunisasi. Untuk mencegah timbulnya informasi yang salah karena adanya kasus kejadian ikutan pasca imunisasi, maka setiap ada KIPI yang berpotensi untuk menarik perhatian masyarakat banyak, harus ditangani dengan cepat dan tepat, agar dampak negatif terhadap program imunisasi dapat dicegah. Pengetahuan ibu tentang KIPI dan bagaimana cara mengatasinya apabila kejadian tersebut terjadi di rumah dipandang perlu untuk

disampaikan. Penanganan efek samping imunisasi yang dapat dilakukan

20 20

secara mandiri di rumah perlu diajarkan kepada para ibu supaya mereka bisa melaksanakannya dengan tepat. Oleh karena itu para ibu perlu dilatih supaya mereka bisa menanganinya dengan cara yang benar. Pengetahuan dan pengalaman yang didapat tentang cara menangani KIPI ringan tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri tetapi dapat juga ditularkan kepada warga di sekitarnya. Dengan demikian masyarakat akan semakin tahu dan dapat meningkatkan upaya pemeliharaan kesehatannya sendiri sehingga derajat kesehatannya akan semakin meningkat pula.

D. Sikap Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek Notoatmodjo, 2007: hal 142). Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap suatu stimulus atau objek, baik yang bersifat intern maupun ekstern sehingga manifestasinya tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup tersebut (Sunaryo, 2004: hal 27). Komponen pokok sikap menurut Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2003: hal 131) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok yaitu 1) Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek; 2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek; 3) Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave). Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting, misalnya seorang ibu telah mendengar tentang penyakit polio (penyebabnya, akibatnya, pencegahannya, dan

sebagainya), maka pengetahuan tentang hal ini akan membawa ibu untuk berpikir dan berusaha supaya anaknya tidak terkena polio. Dalam berpikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja sehingga ibu tersebut berniat mengimunisasikan anaknya untuk mencegah supaya anaknya tidak terkena polio (Notoatmodjo, 2007: hal 144).

21 21

Menurut Notoatmodjo (2007: hal 144) mengatakan tingkatan sikap terdiri dari: 1. Menerima (receiving) Diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek) 2. Merespon (responding) Memberikan jawaban bila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan merupakan suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, lepas dari pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang tersebut menerima ide tersebut. 3. Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. Misalnya seorang ibu mengajak ibu yang lain untuk menimbangkan anaknya di posyandu. 4. Bertanggung jawab (responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi. Pengukuran sikap dilakukan dengan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan reponden terhadap suatu objek atau dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden. Struktur sikap terdiri dari tiga komponen penunjang yang saling menunjang yaitu komponen kognitif (cognitive), komponen afektif

(affective), dan komponen konatif (conative). Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap mengenai apa yang berlaku atau yang benar bagi obyek sikap. Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional subjektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang. Interaksi ketiga komponen adalah selaras dan konsisten, dikarenakan apabila

22 22

dihadapkan dengan suatu obyek sikap yang sama maka ketiga komponen itu harus mempolakan arah sikap yang seragam. Apabila salah satu saja diantara ketiga komponen sikap tidak konsisten dengan yang lain, maka akan terjadi ketidakselarasan yang menyebabkan timbulnya mekanisme perubahan sikap sedemikian rupa sehingga konsistensi itu tercapai kembali (Azwar, 2005). Sikap sosial terbentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami individu, dalam interaksi sosial terjadi hubungan sebagai individu maupun anggota kelompok sosial yang saling mempengaruhi. Interaksi sosial ini meliputi hubungan antara individu dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan biologis yang ada di sekelilingnya. Faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang yang berpengaruh, media massa, institusi pedidikan maupun lembaga agama (Azwar, 2005). Sedangkan menurut Niven (2002) faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap antara lain: 1. Pengkondisian instrumen Kata kunci yang akan menjelaskan proses ini adalah imbalan. Contoh yang sederhana adalah orang tua dan kerabat yang lain akan memberikan imbalan kepada anak yang bersikap baik, dan cenderung untuk membenarkan/mengkoreksi hal-hal yang sulit diubah pada anak. Imbalan yang diberikan tidak perlu besar, pada beberapa kasus cukup dengan respons positif yang sederhana pada anak. 2. Pembentukan model Kata kunci dari proses ini adalah proses meniru. Anak secara terus menerus memperhatikan perilaku orang dewasa sebagai suatu informasi. Tidak mengherankan apabila orang dewasa dan anak yang lebih tua ikut memberikan pengaruh pada anak yang lebih kecil dengan tingkah laku mereka juga perkataan mereka. Pengaruh ini seringkali tidak disadari orang yang menjadi model. 3. Pengalaman langsung Proses ketiga pembentukan sikap adalah pengalaman langsung dari suatu obyek atau dirinya sendiri. Menurut Baron & Byrne (1991) yang dikutip

23 23

oleh Niven (2002) mengatakan bahwa sikap yang didapat dari pengalaman langsung akan lebih kuat dan sulit untuk dilupakan dibanding sikap yang dibentuk dari pengalaman orang lain.

Pengetahuan ibu tentang efek samping imunisasi hanya terbatas pada reaksi KIPI yang ringan saja karena reaksi KIPI yang berat jarang sekali terjadi. Meskipun demikian bayinya. ibu Seiring tetap dengan memiliki motivasi untuk

mengimunisasikan

meningkatnya

pelayanan

kesehatan dasar dan jaringan kesehatan, maka informasi mengenai imunisasi dan efek sampingnya pun dapat mendorong ibu untuk memberikan imunisasi dasar kepada anaknya. Pengetahuan tentang KIPI yang telah didapat oleh para ibu diharapkan dapat mengubah sikap ibu menjadi lebih positif. Sikap positif yang terbentuk dapat mengarah pada perilaku yang positif pula. Pengetahuan yang didapat setelah mendapatkan pelatihan juga diharapkan dapat mengurangi kecemasan ibu terhadap terjadinya KIPI. Melalui pelatihan ini para ibu dibekali pengetahuan yang dapat bermanfaat bagi dirinya dan dapat disebarluaskan kepada para ibu yang lain.

E. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Dan Sikap Menurut Notoatmodjo (2007: hal 177) perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan, seperti pengetahuan, keinginan, kehendak, minat, motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya. Gejala kejiwaan tersebut dipengaruhi berbagai faktor lain, diantaranya adalah faktor pengalaman, keyakinan, sarana fisik, dan sosiobudaya masyarakat. Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkap determinan perilaku dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku, khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan menurut Notoatmodjo (2007: hal 178), antara lain Lawrence Green (1980), Snehandu B.Kar (1983), dan WHO (1984).

24 24

1. Teori Lawrence Green Green menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan yang ditentukan oleh 3 faktor yaitu: a. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors),yang terwujud dalam pengetahuan, sebagainya. b. Faktor-faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban, dan sebagainya. c. Faktor-faktor pendorong (reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat. 2. Teori Snehandu B.Kar Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan dengan bertitik tolak bahwa perilaku itu merupakan fungsi dari: a. Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatannya (behavior intention). b. Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social-support). c. Ada atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accessibility of information). d. Otonomi pribadi yang bersangkutan dalam hal ini mengambil tindakan atau keputusan (personal autonomy). e. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak (action situation). 3. Teori WHO Tim kerja dari WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku tertentu karena adanya 4 alasan yaitu: a. Pemikiran dan perasaan (thought and feeling) Yakni dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaankepercayaan, dan penilaian-penilaian seseorang terhadap objek (dalam sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, dan

25 25

hal ini objek kesehatan). Pengetahuan didapat dari pengalaman sendiri atau orang lain. Kepercayaan diperoleh dari orang tua, kakek, guru, atau nenek. Seseorang menerima kepercayaan itu berdasarkan

keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. Sikap menggambarkan suka atau tidak suka terhadap objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau dari orang lain yang paling dekat. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. b. Orang penting sebagai referensi Perilaku orang terutama anak kecil lebih banyak dipengaruhi oleh orang-orang yang dianggap penting. Orang-orang yang dianggap penting ini sering disebut kelompok referensi (reference group), antara lain guru, alim ulama, kepala adat, kepala desa, dan sebagainya. c. Sumber-sumber daya (resources) Sumber daya disini mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga, dan sebagainya. Pengaruh sumber daya terhadap perilaku dapat bersifat positif maupun negatif. d. Budaya (perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai) Kebudayaan terbentuk dalam waktu yang lama sebagai akibat dari kehidupan suatu masyarakat bersama. Kebudayaan selalu berubah, baik lambat ataupun cepat, sesuai dengan peradaban umat manusia.

26 26

F. Kerangka Teori
Faktor predisposisi: Penyuluhan kesehatan Pameran kesehatan Iklan layanan, spanduk, billboard Keyakinan, nilai, kebiasaan, kepercayaan Pengalaman Faktor pendukung: Pelatihan Bimbingan, arahan Cara mendapatkan dana Informasi kesehatan Fasilitas kesehatan Sumber daya (uang, waktu, tenaga) Faktor Pendorong: Perilaku kelompok referensi Peraturan, undang-undang

Pengetahuan dan Sikap Ibu

Skema 2.1. Kerangka Teori Penelitian (L.Green dalam Notoatmodjo, 2003 & 2007)

G. Kerangka Konsep
Pengetahuan & sikap sesudah diberikan pelatihan

Pengetahuan & sikap sebelum diberikan pelatihan

Pelatihan Tatalaksana KIPI

Skema 2.2. Kerangka Konsep Penelitian

H. Variabel Penelitian Variable yang diteliti dalam penelitian ini adalah : 1. Variabel Independen (Bebas) Variabel independen dalam penelitian ini adalah pelatihan tata laksana KIPI sederhana akibat reaksi suntikan langsung 2. Variable Dependen (Terikat) Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap ibu.

27 27

I. Hipotesis Penelitian Hipotesis pada penelitian ini adalah ada pengaruh pelatihan terhadap tingkat pengetahuan dan sikap ibu pada tata laksana KIPI sederhana akibat reaksi suntikan langsung.