Anda di halaman 1dari 17

IDENTIFIKASI ASPEK DAN ELEMEN SPIRITUAL PADA MASYARAKAT PERKOTAAN

(Studi Kasus : Kota Makele, Tana Toraja)

Oleh Kelompok VI/P1 TRM Habib Arrasyid Tia Chaierunnisa Rully Ahmad Awalludin J3B112004 J3B112022 J3B112023

Dosen Dr. Ir. Tutut Sunarminto, M.Si Rini Utari, S.Hut, M.Si Helianthi Dewi, S.Hut, M.Si Asisten Rima Pratiwi Batubara, S.Hut

PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Spiritual secara umum diartikan pendekatan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, menghidupkan hati, menyalakan dunia batin. Secara garis besar bisa diartikan mematikan raga untuk menghidupkan bathin. Bagi kaum muslim maka pengertian bathin di sini sebenarnya erat kaitannya dengan hati, membersihkan hati. Spiritualitas adalah hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha pencipta, tergantung dengan kepercayaan yang dianut oleh individu. Indonesia kaya akan aspek elemen spiritual pada masyarakatnya disebabkan oleh beragamnya agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia dan juga sajarah bangsa Indonesia yang memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme sehingga banyak kepercayaan-kepercayaan yang menimbulkan hal-hal yang dipercayai memiliki kekuatan. Spiritualitas dapat dikategorikan sebagai pembawa makna dan tujuan dalam kehidupan seseorang, komitmen terhadap aktualisasi diri dari potensi positif individu di semua aspek kehidupan, perasaan saling keterkaitan dengan benda-benda hidup lainnya, sebuah perasaan keterkaitan dengan benda-benda yang saling menguntungkan dengan sebuah dimensi transidensi.

B. Tujuan Pratikum Tujuan dari praktikum Identifikasi Aspek dan Elemen Spiritual Pada Masyarakat Perkotaan terdiri dari : a. Memahami, mempelajari dan mengidentifikasi aspek dan elemen budaya spiritual yang ada di masyarakat Makale, Tana Toraja. b. Terampil mengidentifikasi masyarakat perkotaan khususnya mengenal kehidupan spiritual yang ada di dalamnya.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Adapun tinjauan pustaka dalam Identifikasi Aspek dan Elemen Spiritual pada Masyarakat Perkotaan yang terdiri dari materi yang terpisah. Materi tersebut diantaranya mencakup spiritual dan masyarakat perkotaan : A. Spiritual Spiritual adalah hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha pencipta tergantung dengan kepercayaan yang dianut oleh individu. Menurut Burkhardt (1993) spiritual meliputi aspek-aspek : a. Berhubungan dengan sesuatau yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam kehidupan, b. Menemukan arti dan tujuan hidup, c. Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri, d. Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan yang maha tinggi. Mempunyai kepercayaan atau keyakinan berarti mempercayai atau mempunyai komitmen terhadap sesuatu atau seseorang. Konsep kepercayaan mempunyai dua pengertian. Pertama kepercayaan didefinisikan sebagai kultur atau budaya dan lembaga keagamaan seperti Islam, Kristen, Budha, dan lain-lain. Kedua, kepercayaan didefinisikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan Ketuhanan, Kekuatan tertinggi, orang yang mempunyai wewenang atau kuasa, sesuatu perasaan yang memberikan alasan tentang keyakinan (belief) dan keyakinan sepenuhnya (action), harapan (hope), harapan merupakan suatu konsep multidimensi, suatu kelanjutan yang sifatnya berupa kebaikan, dan perkembangan, dan bisa mengurangi sesuatu yang kurang menyenangkan. Harapan juga merupakan energi yang bisa memberikan motivasi kepada individu untuk mencapai suatu prestasi dan berorientasi kedepan. Agama adalah sebagai sistem organisasi kepercayaan dan peribadatan dimana seseorang bisa mengungkapkan dengan jelas secara lahiriah mengenai spiritualitasnya. Agama adalah suatu sistem ibadah yang terorganisir atu teratur. Definisi spiritual setiap individu dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup, kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan. Spiritualitas juga memberikan suatu perasaan yang berhubungan dengan intrapersonal (hubungan antara diri sendiri), interpersonal (hubungan antara orang lain dengan lingkungan) dan transpersonal (hubungan yang tidak dapat dilihat yaitu suatu hubungan dengan ketuhanan yang merupakan kekuatan tertinggi). Adapun unsur-unsur spiritualitas meliputi kesehatan spiritual, kebutuhan spiritual, dan kesadaran spiritual. Dimensi spiritual merupakan suatu penggabungan yang menjadi satu kesatuan antara unsur psikologikal, fisiologikal, atau fisik, sosiologikal dan spiritual.

Kata spiritual sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Untuk memahami pengertian spiritual dapat dilihat dari berbagai sumber. Menurut Oxford English Dictionary, untuk memahami makna kata spiritual dapat diketahui dari arti kata-kata berikut ini : persembahan, dimensi supranatural, berbeda dengan dimensi fisik, perasaan atu pernyataan jiwa, kekudusan, sesuatu yang suci, pemikiran yang intelektual dan berkualitas, adanya perkembanga pemikiran danperasaan, adanya perasaan humor, ada perubahan hidup, dan berhubngan dengan organisasi keagamaan. Sedangkan berdasarkan etimologinya, spiritual berarti sesuatu yang mendasar, penting, dan mampu menggerakkan serta memimpin cara berpikir dan bertingkah laku seseorang. B. Masyarakat Berikut ini adalah beberapa pendapat para sarjana tentang arti masyarakat, misalnya: 1. R. Linton : seorang ahli antropologi mengemukakan, bahwa masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerjasama, sehingga mereka ini dapat mengorganisasikan dirinya berfikir tentang dirinya dalam satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu. 2. M. J. Herskovits : mengatakan bahwa masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan dan mengikuti satu cara hidup tertentu. 3. J. L. Gillin dan J. P. Gillin : mengatakan bahwa masyarakat adalah kelompok manusia terbesar dan mempunyai kebasiaan, tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama. Masyarakat itu meliputi pengelompokan-pengelompokan yang lebih kecil. 1. S. R. Steinmentz : seorang sosiolog bangsa Belanda mengatakan, bahwa masyakat adalah kelompok manusia yang terbesar, yang meliputi pengelompokan-pengelompokan manusia yang lebih kecil, yang mempunyai perhubungan yang erat ada teratur. 2. Hasan Sadily : mendefinisikan masyarakat adalah golongan besar atau kecil dari beberapa manusia, yang dengan pengaruh bertalian secara golongan dan mempunyai pengaruh kebatinan satu sama lain. Mengingat definisi-definisi masyarakat tersebut di atas maka dapat diambil kesimpulan, bahwa masyarakat harus mempunyai syarat-syarat sebagai berikut : a. Harus ada pengumpulan manusia, dan harus banyak, bukan pengumpulan binatang. b. Telah bertempat tinggal dalam waktu yang lama di suatu daerah tertentu. c. Adanya aturan-aturan atau undangan-undangan yang mengatur mereka untuk menuju kepada kepentingan dan tujuan bersama. Dipandang dari cara terbentuknya, masyarakat dapat dibagi dalam : 1. Masyarakat paksaan, misalnya : nagara, masyarakat tawanan dan lain-lain. 2. Masyarakat merdeka, yang terbagi dalam :

a. Masyarakat natuur, yaitu masyarakat yang terjadi dengan sendirinya, seperti gerombolan (horde), suku, (stam), yang bertalian karena hubungan darah atau keturunan. Dan biasanya masih sederhana sekali kebudayaannya. b. Masyarakat kultur, yaitu masyarakat yang terjadi karena kepentingan keduniaan atau kepercayaan, misalnya : koperasi, kongsi perekonomian, gereja dan sebagainya. Masyarakat perkotaan sering disebut juga urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat kota, yaitu : a. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa. b. Orang-orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang-orang lain. c. Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata. d. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota daripada warga desa. e. Jalan pikiran rasional yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan. f. Jalan kehidupan yang cepat dikota-kota, mengakibatka pentingnya factor waktu bagi warga kota. g. Perubahan-perubahan social tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.

III.

KONDISI UMUM

A. Sejarah KotaMakale Makale merupakan pusat administrasi dan pemerintahan Tana Toraja. Kota kecil ini berawal sebagai pasar Tondon, dimana pedagang-pedagang bugis datang untuk berdagang pakaian dan membeli kopi. Banyaknya pedagang dan jauhnya jarak dari tempat asal para pedagang bugis membuat mereka memilih untuk mulai membangun tempat menginap tidak terlalu jauh dari pasar. Daerah di sekitar Paku dan to'kaluku kemudian perlahan-lahan berkembang menjadi tempat tinggal para pedagang. Sementara Pusat Onder-Afdeling Makale yang didirikan Belanda pada mulanya tidak terletak di tempat yang sekarang menjadi kota Makale. Belanda awalnya memilih membangun Makale di sekitar Palesan, karena diangap cukup dekat dengan daerah Rano-Buakayu yang cukup gencar melawan Belanda pada awal kedatangannya. Baru beberapa tahun kemudian, dengan alasan akses, Belanda memindahkan Makale dari Palesan ke tempat kota Makale saat ini. Ketika itu, Belanda melihat daerah di sekitar pasar Tondon dan pemukiman pedagang Bugis sangat baik untuk membangun kota Makale.

Gambar 1. Peta Kawasan Makale, Tana Toraja

B. Letak Geografi Kota Makale terletak di Kelurahan Bombongan yang memiliki luas wilayah 39,75 Km dengan Koordinat Geografis berada pada 30612 LS dan 1195113 BT. Batas Wilayah dibatasi : Sebelah Utara : Kabupaten Toraja Utara Sebelah Selatan : Kecamatan Makale dan Kecamatan Sangalla Sebelah Timur : Kecamatan Sangalla Utara Sebelah Barat : Kecamatan Rantetayo C. Kependudukan Jumlah Penduduk Kecamatan Makale Utara keadaan 28 Februari 2010 tercatat 12.080 jiwa, tediri dari laki-laki 5.820 dan perempuan 6.260 jiwa.

IV.

METODE PRATIKUM

Metode pratikum Identifikasi Aspek Dan Elemen Spiritual Pada Masyarakat Perkotaan, mencakup tiga hal yang meliputi lokasi dan waktu, alat dan bahan dan tahapan kerja.

A. Lokasi dan Waktu


Penugasan praktikum Identifikasi Aspek Dan Elemen Spiritual Pada Masyarakat Non Perkotaan, diberikan Pada hari Selasa, 17 September 2013, pukul 10.30 WIB. B. Alat dan Bahan Alat dan Bahan yang digunakan dalam praktikum Identifikasi Aspek Dan Elemen Spiritual Pada Masyarakat Perkotaan terdiri dari Modem, buku panduan. dan laptop untuk mencari bahan membuat laporan pratikum. C. Tahapan Kerja Metode yang dilakukan dalam praktikum Identifikasi Aspek Dan Elemen Spiritual Pada Masyarakat Perkotaan adalah menggunakan identifikasi dan analisa data. Langkah-langkah dalam mengerjakan praktikum adalah sebagai berikut : a. Menentukan lokasi yang akan menjadi sasaran kajian per-kelompok pratikum (masing-masing kelompok tidak boleh sama). b. Melakukan studi literatur terkait dengan kawasan yang dijadikan sasaran kajian pratikum. c. Mengidentifikasi aspek dan elemen budaya yang terjadi pada studi literatur yang telah dijadikan sasaran kajian praktikum. d. Menginventarisasi setiap aspek dan elemen Spiritual spiritual di masyarakat Makale, Tana toraja. e. Mendiskusikan materi bersama dengan kelompok, kemudian mendeskripsikan masing-masing pembahasan berdasarkan data yang diperoleh sebelumnya. f. Membagi materi yang dibahas menjadi su-bab yang kemudian dibahas secara perorangan setiap anggota kelompok. g. Membuat laporan hasil praktik. h. Mempersentasikan hasil laporan dengan Power Point. i. Mengumpulkan laporan.

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Tallysheet Identifikasi Aspek Dan Elemen Spiritual Pada Masyarakat Perkotaan Di kota Makale. No.No 1
Aspek Spiritual Aspek Spiritual a. Merasa yakin bahwa hidup sangat bermakna b. Memiliki sebuah komitmen terhadap aktualisasi potensi-potensi positif dalam setiap kehidupan c. Menyadari akan keterkaitan dalam kehidupan d. Meyakini bahwa berhubungan dengan dimensi transidensi adalah menguntungkan Elemen Budaya a. Kapasitas Transidensi b. Kemampuan untuk memasuki kondisi kesadaran spiritual yang lebih tinggi Jenis Spiritual Ada Tidak Ada V V V V Deskripsi

Perayaan Natal, Misa dan Tahun Baru Pegangan terhadap Alkitab sebagai sumber kehidupan Perayaan Hari Besar Kristen Protestan (Natal, Tahun Baru, dan Misa) Ritual Misa pada Masyarakat

V V

c. Kemampuan untuk menyadari akan merasakan hal-hal suci. d. Kemampuan untuk memanfaatkan sumber-sumber spiritual untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan. e. Kemampuan untuk bertingkah laku yang baik

Ritual Misa Krisma Meyakini bahwa adanya kesadaran akan agama akan memberi keuntungan surgawi-duniawi. Rambu Solo, merupakan pada saat orang meninggal. Tongkonan. Merupakan rumah yang dipercaya untuk berhubungan dengan leluhur. Aluk To Dolo bagian dari upacara pemakaman yang didalamnya terdapat pemotongan kerbau. Agama dalam keseharian masyarakat makale toraja.

B.

Pembahasan

1. Aspek Spiritual (Rully Ahmad Awalludin, J3B112023) a. Merasa yakin bahwa hidup sangat bermakna Kehidupan beragama bagi manusia adalah hal sangat penting dan bermakna bagi kehidupan duniawi-surgawi. Terdapat beberapa implementasi dari pemaknaan terhadap kehidupan bergama ini, contohnya adalah perayaan hari-hari besar untuk umat kristiani, seperti perayaan Tahun Baru, Natal, dan Misa. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan setiap tanggal yang diberlakukan dan diyakini oleh para umat kristiani. Misa, Natal, dan Tahun Baru adalah kegiatan/tradisi/acara tahunan yang rutin dilaksanakan para umat kristiani di Kota Makale, Tana Toraja.

Gambar 2. Ritual di Tana Toraja

Kegiatan tersebut dilakukan untuk menandakan adanya kedekatan umat dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut dilakukan dengan khidmat setiap tahunnya di setiap lokasi peribadatan(Gereja) di Kota Makale, Tana Toraja. Pendekatan ini sebagai ungkapan rasa syukur dan ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan mukjizat secara lahir-batin, dan kenikmatan bagi para Umatnya . b. Menyadari akan keterkaitan dalam kehidupan Kegiatan Misa Natal, dan Tahun baru merupakan adat/tradisi yang telah turun temurun dari sejak zaman Yesus Kristus menginjakan kaki di bumi. Kegiatan ini sangat penting bagi para umat kristiani di dunia pada umumnya, dan Kota Makale, Tana Toraja pada khususnya. Pengamanan, kebersihan, dan ketentraman di implementasikan oleh pemerintah daerah tersebut untuk menjadikan acara tersebut berjalan dengan khidmat dan lancar. Kegiatan tersebut biasanya memakan banyak biaya untuk segi pengamanan karena untuk pengamanan melakukan rekruitmen anggota Polisi, TNI, ABRI, dan keamanan gereja. Rekruitmen tersebut jauh-jauh hari telah di rencanakan dan dilakukan untuk menyukseskan acara sacral kaum kristianai tersebut.

c. Memiliki sebuah komitmen terhadap aktualisasi potensi-potensi positif dalam setiap kehidupan Masyarakat Kota Makele, Tana Toraja sangat memegang teguh agama yang mereka anut yaitu, Kristen Protestan. Agama ini memberikan efek positif bagi kehidupan contohnya adalah Kedamaian Hati dan Kerukunan. Alkitab Protestan yang mereka yakini sebagai landasan hidup menjadi penegasan komitmen mereka terhadap agama protestan yang anut dan meyakini dengan sepenuhnya bahwa agama ini benar karena memberikan efek yang sangat positif bagi kehidupan mereka.

Gambar 3. Alkitab

Menurut ajaran kristologi Protestan, adanya paham tentang Sola scriptura ysng berarti mempertahankan bahwa Alkitab adalah sumber otoritas final untuk semua orang Kristen. d. Meyakini bahwa berhubungan dengan dimensi transidensi adalah menguntungkan (Habib Arrasyid, J3B112004) Berhubungan dengan dimensi transidensi menguntukkan bagi diri sendiri karena dapat menimbulkan rasa kesadaran terhadap kepercayaan terciptanya diri sendiri dan mengetahui alam gaib. Hal seperti itu yang akan membuat masyarakat Tana Toraja semakin bersyukur dan percaya adanya agama dan kepercayaan. Tana Toraja memiliki beberapa ritual yang salah satunya yaitu Ritual Misa. Ritual tersebut memberikan seseorang rasa surgawi. Bagian ini secara alami menarik kita dalam doa dan memberikan kesadaran akan transendensi dan supernatural yang adalah kunci dalam kehidupan spiritual.

Gambar 4. Ritual Misa Tana Toraja

Bahasa latin pada ritual Misa menyediakan kesadaran akan misteri. Keindahan ritual, lingkungan yang secara alamiah mengalir dari ritual sendiri (seperti gereja yang didesain untuk ritual), chant (lagu pujian) untuk roh kudus. 2. Elemen Budaya Spiritual a. Kapasitas transidensi (Habib Arrasyid, J3B112004) Umat Protestan di Kota Makale, Tana Toraja menghayati tradisi doa pada misa krisma untuk arwah, paling tidak secara universal setahun sekali pada tanggal 2 November. Tradisi ini sebenarnya hanya didasarkan pada Kitab Makabe Kedua, yaitu 2 Mak 12:38-45. Padahal buku Makabe di dalam Alkitab terbitan Protestan masuk dalam buku-buku Deuterokanonika. b. Kemampuan untuk memasuki kondisi kesadaran spiritual yang lebih tinggi (Habib Arrasyid, J3B112004) Para Masyarkat Kota Makale, Tana Toraja, memiliki kesadaran yang cukup tinggi akan agamanya, karena memiliki keyakinan dalam salah satu isi Alkitab yakni Kesadaran Tinggi adalah Berkah Bagi Alam Semesta. Semakin tinggi kesadaran manusia (high consciuousness) menuntut tanggungjawab yang lebih besar pula. Karena semakin tinggi kesadaran berarti seseorang semakin berkemampuan lebih serta dapat melakukan apa saja. Celakanya, bila kesadaran tinggi jatuh ke dalam penguasaan nafsu negatif. Sehingga manusia bukan melakukan sesuatu yang konstruktif untuk alam semesta (rahmat bagi alam), sebaliknya melakukan perbuatan yang destruktif (laknat kepada alam). Sementara tanggungjawab manusia adalah menjaga harmonisasi alam semesta dengan melakukan sinergi antara jagad kecil (diri) dan jagad besar (alam semesta) dengan kata lain berbuat sesuai dengan rumus-rumus (kodrat) Tuhan. Sebagai contoh kita mengakui bahwa Tuhan itu Maha Maha Pengasih maka kita harus welas asih pada sesama. Jika kita yakin Tuhan Maha Pemurah dan Penolong, maka kita tidak boleh pelit dalam membantu dan menolong sesama. Bila kita percaya Tuhan Maha Besar dan Maha Adil maka kita tak boleh primordial, rasis, hipokrit, etnosentris, mengejar kepentingan sendiri, kelompok atau golongannya. Jika kita memahami bahwa Tuhan Maha Bijaksana; maka kita tidak boleh mengejar api (nar) ke-aku-an, yakni rasa mau menang sendiri, mau bener sendiri, mau mengejar butuhnya sendiri, sembari mencari-cari kesalahan orang lain. Demikian seterusnya,

sehingga perbuatan kita menjadi berkah untuk lingkungan sekitar, untuk alam semesta dengan segala isinya. c. Kemampuan untuk menyadari akan merasakan hal-hal suci (Tia Chaerunnisa, J3B112022) 1. Rambu Solok Masyarakat Toraja percaya tanpa upacara penguburan ini maka arwah orang yang meninggal tersebut akan memberikan kemalangan kepada orangorang yang ditinggalkannya. Orang yang meninggal hanya dianggap seperti orang sakit, karenanya masih harus dirawat dan diperlakukan seperti masih hidup dengan menyediakan makanan, minuman, rokok, sirih, atau beragam sesajian lainnya. Upacara pemakaman Rambu Solok adalah rangkaian kegiatan yang rumit ikatan adat serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Gambar 5. Rambu Solok

Persiapannya pun selama berbulan-bulan. Sementara menunggu upacara siap, tubuh orang yang meninggal dibungkus kain dan disimpan di rumah leluhur atau tongkonan. Jadi ketika ada orang yang meninggal mereka tidak mengangapnya meningal namun bisa dikatakan tetap hidup bersama mereka. 2. Tongkongan Tongkongan adalah sebuah rumah besar dengan atap berbentuk pelana menyerupai tanduk kerbau yang mengarah ke depan. Bentuk rumah ini berbeda dengan rumah Minangkabau di Sumatera Barat yang memiliki atap berbentuk pelana dan ujungnya yang memanjang. Atap Tongkonan terbuat dari daun kelapa sedangkan sisi rumah dihiasi ukiran. Pada bagian depan biasanya terdapat sejumlah tanduk kerbau.

Gambar 5. Rumah Adat Toraja

Nuansa unik rumah Tongkonan yang luar biasa sekaligus bersahaja. Keluarga yang ingin berkunjung maka semua anggota kelurga harus diajak, hal itu mengisyaratkan bahwa mereka menjalin hubungan yang erat dengan leluhur atau arwah orang yang sudah meninggal. d. Kemampuan untuk memanfaatkan sumber-sumber spiritual untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan. (Tia Chaerunnisa, J3B112022) Aluk To Dolo ada prinsip semakin tinggi tempat jenazah diletakkan maka semakin cepat rohnya untuk sampai menuju nirwana. Bagi kalangan dari bangsawan yang meninggal maka mereka memotong kerbau yang jumlahnya 24 hingga 100 ekor sebagai kurban (Matinggoro Tedong). Satu diantaranya bahkan kerbau belang yang terkenal mahal harganya. Upacara pemotongan ini merupakan salah satu atraksi yang khas Tana Toraja dengan menebas leher kerbau tersebut menggunakan sebilah parang dalam sekali ayunan lalu kerbau pun langsung terkapar bermandikan darah beberapa saat kemudian.

Gambar 6. Aluk To Dolo

Hal ini banyak ditunggu-tunggu oleh masyarakat karena banyak masyarakat yang akan mendapat jatah dari sembelihan kerbau tersebut dan menjadikanya cadangan makanan. hal tersebut bisa menjadi pesta atau sedekahan. Selain itu pesta ini juga menghilangkan cemburu antar keluarga

karena dalam aturan toraja jika seseorang yang meninggal tersebut menyayangi anggota keluarga (anak emas) maka anak atau orang yang disayang tersebutlah yang harus membiayai upacara pemakaman tersebut. e. Kemampuan untuk bertingkah laku yang baik (Tia Chaerunnisa, J3B112022) Meski masyarakat Makale khususnya Tana Toraja sangat kental dengan aturan adat namun mereka juga taat dalam menganut agama atau kepercaan. Seperti prilaku yang mengharuskan seseorang menempatkan pada proporsi yang pas menghargai orang lain, beribadah dan lain sebagainya.namun yang paling dijungjun tinggi adalah Pelakuan untuk menempatkan diri diposisi yang baik. Ketika Tuhan menciptakan manusia untuk beranak-cucu di muka bumi, Tuhan juga memerintahkan manusia untuk mengasihi sesama seperti dirinya sendiri (Mat 22: 39). Sehingga dalam masyarakat toraja menjalin relasi antar sesama adalah hal yang wajib untuk dilakukan, sehingga dapat saling menopang, bergotong-royong dan menciptakan suatu sistem masyarakat yang penuh dengan cinta kasih. Suatu sistem masyarakat yang saling mendukung.

VI.
A.

PENUTUP
Kesimpulan

Kota Makale, Tana Toraja, merupakan kota atau daerah yang dihuni hamper seluruh masyrakatnya beragama Kristen. Kota yang merupakan ibukota dari Kabupaten tana Toraja adalah salah satu Kota yang memiliki sejarah spiritual yang sangat tinggi dan sempat dinobatkan sebagai salah satu pusat wisata rohani kristiani oleh para misionaris Kristen. Tana Toraja sangat terkenal dengan adat istiadat yang masih sangat kental. Adat istiadat ini banyak dipengaruhi oleh kepercayaan orang Toraja pada jaman dulu yang disebut Aluk. Aluk merupakan kepercayaan sejenis animisme. Salah satu adat yang masih dipegang teguh adalah upacara pemakaman (maq tomate). Dalam ritual ini, biasanya pihak keluarga akan menyedikan beberapa sampai pulihan ekor kerbau yang akan dikorbankan dalam upacara ini. Kerbau ini biasanya dipotong kemudian dimasak untuk dimakan bersama dan sisanya dibagikan kepada kerabat yang datang untuk melayat.

B. Saran - Kebudayaan Spiritual ini harus dilestarikan sehingga kebudayan yang kita miliki terus berkembang karena kebudayaan spiritual adalah aset suatu negara yang sangat penting, anak cucu sebagai penerus kebudayaan spiritual harus belajar mencintai budaya spiritual sehingga kebudayan spiritual tersebut tetap tumbuh dan ada ditengah tengah masyarakat Indonesia.. - Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat seharusnya lebih mempromosikan potensi pariwisata yang tersimpan di suatu daerah khususnya Kota Makale, Tana Toraja, sehingga daerah tersebut lebih mendapat sorotan dari masyarakat luas.

DAFTAR PUSTAKA
Anomim. 2010. Budaya Spiritual. http://maliqren.wordpress.com/2010/11/19/ masyarakat-perkotaan/ (23 September 2012 16.00). Anomim. 2008. Budaya Aspek dan Elemen. http://www.artikel.majlisasmanabawi. net/ spiritual/. (23 September 2012 16.00). Anomim.2009. Makna spiritual. http://inspirasijiwa.com/makna-spiritualitas-sejati/. (23 September 2012 16.00).