Anda di halaman 1dari 68

Kejang Demam Kompleks

Oleh : Silminati Nur Saadah Pembimbing : dr.Tjahaya Bangun Sp.A

IDENTITAS
Nama Jenis Kelamin Umur Suku Bangsa Tempat / tanggal lahir Agama Alamat Pendidikan : An. K : Perempuan : 2 tahun 6 bulan : Betawi : Jakarta, 25 Februari 2011 : Islam : Jl.Puji no:43 :-

IDENTITAS ORANG TUA

Ayah
Nama : Tn. J Agama : Islam Alamat : Jl.Puji no :4 Pekerjaan : wiraswasta Penghasilan :Rp 2.000.000,-/bulan Agama : Islam Suku Bangsa : betawi

Ibu
Nama : Ny.A Agama : Islam Alamat : Jl.Puji no :4 Pekerjaan : Ibu rumah tangga Penghasilan : Agama : Islam Suku Bangsa : betawi

ANAMNESIS
Dilakukan secara alloanamnesis dengan Ibu kandung pasien. Lokasi
Tanggal / waktu Tanggal masuk

: Bangsal lantai V Timur, kamar 510 : 12 September 2013 pk. 15.30 WIB : 12 September 2013

KELUHAN UTAMA

Kejang 5 menit sejak 2 jam sebelum masuk rumah sakit

KELUHAN TAMBAHAN
Demam sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit Batuk sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RSUD Budhi Asih dengan keluhan kejang sejak 2 jam SMRS. Kejang terjadi dua kali, yang pertama terjadi 2 jam sebelum masuk rumah sakit dan yang kedua terjad saat pasien sedang berada di IGD RSUD Budhi Asih.
Kejang pertama terjadi pada tanggal 12 septemeber 2013 pukul 05.30 WIB, kejang terjadi pada seluruh tubuh, ibu pasien mengatakan kejang seperti kelojotan, mata mendelik keatas, mulut keluar busa (-), berlangsung 5 menit. Sebelum kejang, pasien sedang tidak melakukan aktivitas apapun, ibu pasien mengaku, pasien sedang tidur. Menurut pengakuan ibunya, saat itu badan pasien panas, namun tidak diukur menggunakan termometer, hanya menggunakan punggung tangan dan sudah diberi obat penurun panas setelah pasien kejang yang pertama. Setelah kejang, pasien langsung tertidur. Kemudian, pagi harinya pasien dibawa IGD RSUD Budhi Asih pada jam 08.00 WIB,

Riwayat Penyakit Sekarang


pagi harinya pasien dibawa IGD RSUD Budhi Asih pada jam 08.00 WIB,
kejang kedua muncul pada pukul 08.30 WIB saat pasien sedang berada di IGD RSUD Budhi Asih dengan sifat kejang yang sama dengan kejang yang pertama, namun dengan durasi 10 menit, sebelum kejang suhu tubuh pasien diukur dengan menggunakan termometer air raksa dan didapatkan hasil 40 OC setelah kejang pasien sadar dan menangis

Riwayat Penyakit Sekarang


Satu hari SMRS, pada sore harinya, sekitar pukul 18.00 WIB, pasien demam, dirasakan tidak terlalu tinggi, disertai dengan batuk dan pilek sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Oleh ibunya pasien diberi Proris sirup, kemudian demam perlahan menurun. Diare, mual dan muntah tidak dirasakan pasien.

PERJALANAN
12/09/13 08.30,IGD RSUD Budhi Asih Demam 40 OC kemudian Kejang 10 menit Setelah kejang pasien menangis

11/09/13 demam

09/09/13 Batuk dan pilek (+)

12/09/13 05.30 : kejang 5 menit, diawali demam, setelah demam pasien tertidur

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat kejang demam
januari 2013 agustus 2013 dengan sifat dan durasi yang sama dengan kejang sekarang

RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN

RIWAYAT PERKEMBANGAN

Pertumbuhan gigi I : Umur 5 bulan (Normal: 5-9 bulan) Gangguan perkembangan mental : Tidak ada Psikomotor Tengkurap Duduk Berdiri bulan) Berjalan Bicara

: : :
: :

Umur 3 bulan Umur 7 bulan Umur 9 bulan


Umur 11 bulan Umur 12 bulan

(Normal: 3-4 bulan) (Normal: 6-9 bulan) (Normal: 9-12


(Normal: 13 bulan) (Normal: 9-12 bulan

RIWAYAT PERKEMBANGAN

Perkembangan pubertas
Rambut pubis Payudara Menarche : belum : belum : belum

RIWAYAT MAKANAN

RIWAYAT MAKANAN

RIWAYAT IMUNISASI
Vaksin
BCG DPT / PT Polio

Dasar ( umur )
1 bulan 2 bulan 0 bulan 4 bulan 2 bulan 6 bulan 4 bulan

Ulangan ( umur )

Campak
Hepatitis

0 bulan

1 bulan

9 bulan
6 bulan

RIWAYAT KELUARGA
a. Corak Reproduksi
N Tanggal lahir o (umur)
10 Agustus

Jenis kelamin

Hidup

Lahir mati

Abortus

Mati (sebab)

Keterangan kesehatan

1. 2006

Perempuan

Sehat (Pasien)

2. 25 Februari 2011 perempuan

Sehat (pasien)

RIWAYAT PERNIKAHAN
AYAH IBU Nama :Ny. A Perkawinan ke-: 1 Umur saat menikah: 19 Pendidikan terakhir: SMP Agama : Islam Suku bangsa : Betawi Keadaan kesehatan : Sehat Kosanguinitas: Penyakit, bila ada : Riwayat kejang demam satu kali, saat usia satu tahun

Nama :Tn. J Perkawinan ke-: 1 Umur saat menikah: 23 Pendidikan terakhir: SMA Agama : Islam Suku bangsa : Betawi Keadaan kesehatan : Sehat Kosanguinitas: Penyakit, bila ada :-

Riwayat Penyakit Keluarga


Ada anggota keluarga yang pernah mengalami seperti ini sebelumnya, yaitu ibu pasien dan kakak pasien memiliki riwayat kejang demam. Ibu pasien satu kali, saat berusia satu tahun. Kakak pasien saat berumur 1 tahun 1 bulan. Ibu dan ayah tidak menderita penyakit hipertensi, pembengkakan jantung dan kencing manis. Kesimpulan Riwayat Keluarga : pasien anak kedua, memiliki 1 kakak kandung. Ada anggota keluarga yang mengalami keluhan sama dengan OS, yaitu ibu dan kakak kandung pasien.

RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN


Pasien tinggal bersama ayah,ibu, kakak, kakek dan neneknya di sebuah rumah tinggal di perumahan dengan 3 kamar tidur, satu kamar mandi, dapur, beratap genteng, berlantai keramik, berdinding tembok. Keadaan rumah cukup luas, pencahayaan baik, ventilasi baik. Sumber air bersih dari air PAM. Air limbah rumah tangga disalurkan dengan baik dan pembuangan sampah setiap harinya diangkut oleh petugas kebersihan. Kesimpulan Keadaan Lingkungan : Cukup baik

Riwayat Penyakit Yang Pernah Diderita

Penyakit Alergi Cacingan Demam berdarah Demam typhoid Otitis parotitis

Umur -

Penyakit Difteria Diare Kejang Kecelakaan Morbili Operasi

Umur 1tahun 2 tahun -

Penyakit Penyakit Jantung Penyakit ginjal Penykait darah Radang paru Tuberkulosis Lain,

Umur -

Kesimpulan: pasien pernah menderita keluhan seperti sekarang, yaitu kejang demam, saat pasien kejang pasien juga mengalami diare. Kejang terjadi dua kali, yang pertama dibulan januari 2013 dan yang kedua dibulan agustus 2013, dengan sifat dan durasi yang sama dengan kejang sekarang.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum Kesan Sakit Kesadaran Kesan Gizi Keadaan lain

: Tampak Sakit Sedang,gelisah : Composmentis : Baik : anemis ( - ), ikterik ( - ), sianosis ( - ), cdyspnoe ( - )

Data Antropometri Berat Badan sekarang Lingkar Kepala Tinggi Badan Lingkar Lengan Atas

: : : :

12,5 kg 47 cm 88 cm 16 cm

PEMERIKSAAN FISIK
Status Gizi BB / U = 12,5 /14 x 100 % = 89 % ( Gizi Baik ) TB / U = 88 / 92 x 100 % = 95 % (Gizi Baik ) BB / TB = 12,5 / 13 x 100 % = 96 % ( Gizi Baik )

Tanda Vital Nadi : 121x /menit, kuat, isi cukup, ekual kanan dan kiri, regular Nafas : 40 x / menit Suhu : 38 O C, axilla (diukur dengan termometer air raksa)

STATUS GENERALIS

KEPALA RAMBUT WAJAH MATA

: Normocephali (LK: 47cm) : Rambut hitam, distribusi merata dan tidak mudah dicabut, cukup tebal : Wajah simetris, tidak ada pembengkakan, luka atau jaringan parut

: Visus : tidak dinilai Ptosis Sklera ikterik : -/Lagofthalmus Konjunctiva anemis : -/Cekung Exophthalmus : -/Kornea jernih Strabismus : -/Lensa jernih Nistagmus : -/Pupil Refleks cahaya : langsung +/+ , tidak langsung +/+

: -/: -/: -/: +/+ : +/+ : bulat, isokor

PEMERIKSAAN FISIK
TELINGA : Bentuk : normotia Tuli : -/Nyeri tarik aurikula : -/Nyeri tekan tragus : -/Liang telinga : lapang Membran timpani : sulit dinilai Serumen : -/Refleks cahaya : sulit dinilai Cairan : -/HIDUNG : Bentuk: simetris Sekret Mukosa hiperemis

: -/: -/-

Napas cuping hidung Deviasi septum

::-

PEMERIKSAAN FISIK
BIBIR : Simetris saat diam, mukosa berwarna merah muda, kering (-), sianosis (-) MULUT : Oral higiene baik, gigi caries (-), trismus (-), mukosa gusi dan pipi : merah muda, hiperemis (-), ulkus (-), halitosis (-), lidah : normoglosia, ulkus (-), hiperemis (-) massa (-) TENGGOROKAN : tonsil T 1 - T 1 tidak hiperemis, kripta tidak melebar, detritus (-), faring hiperemis (+), ulkus (-) massa (-) LEHER : Bentuk tidak tampak kelainan, tidak tampak pembesaran tiroid maupun KGB, tidak tampak deviasi trakea, tidak teraba pembesaran tiroid maupun KGB, trakea teraba di tengah

THORAKS

Inspeksi : Bentuk thoraks simetris pada saat statis dan dinamis, pembesaran KGB aksila -/- , tidak ditemukan efloresensi pada kulit dinding dada Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan dan benjolan

Iinspeksi : ictus cordis terlihat pada ICS V linea midclavicularis kiri, pulsasi abnormal (-)
Palpasi :
teraba ictus cordis pada ICS V linea midclavicularis kiri,denyut kuat

Perkusi :
jantung dalam batas normal

Auskultasi :
bunyi jantung I-II reguler, punctum maksimum pada ICS V 1 cm linea midclavicularis kiri, murmur (-), gallop (-)

THORAKS
INSPEKSI: Bentuk simetris pada saat statis dan dinamis, pernafasan tertinggal (-), pernafasan abdomino-torakal, retraksi, (-) pembesaran KGB aksila -/- , efloresensi(-), ictus cordis ICS V linea midclavicularis kiri, pulsasi abnormal (-) PALPASI: nyeri tekan(-) ,benjolan(-), gerak napas simetris, vocal fremitus sama kuat kanan dan kiri, teraba ictus cordis pada ICS V linea midclavicularis kiri, denyut kuat

PERKUSI : sonor di kedua lapang paru, jantung dalam batas normal

AUSKULTASI : suara napas vesikuler, reguler, ronchi -/-, wheezing -/-, BJ I-II reguler, m(-), g(-)

ABDOMEN
INSPEKSI: datar, efloresensi (-), gerakan peristaltik (-)

AUSKULTASI: BU(+), frekuensi 3 x / menit

PALPASI :supel, massa(-),benjolan(-), turgor kulit baik, nyeri tekan (-)

PERKUSI: timpani pd seluruh lapang perut

ANOGENITALIA : jenis kelamin perempuan, tanda radang (-), ulkus (-), sekret (-), fissura ani (-) KGB : Preaurikuler : tidak teraba membesar Postaurikuler : tidak teraba membesar Submandibula : tidak teraba membesar Supraclavicula : tidak teraba membesar Axilla : tidak teraba membesar Inguinal : tidak teraba membesar ANGGOTA GERAK : Ekstremitas : akral hangat ++/++ Tangan Kanan Kiri Tonus otot normotonus normotonus Sendi aktif aktif Refleks fisiologis (+) (+) Refleks patologis (-) (-) Lain-lain oedem (-) oedem (-) Kaki Tonus otot Sendi Refleks fisiologis Refleks patologis Lain-lain Kanan normotonus aktif (+) (-) oedem (-) oedem (-) normotonus aktif (+) (-) Kiri

A. Rangsang meningeal Kaku kuduk

(-)

Kernig Laseq Bruzinski I Bruzinski II B. Saraf cranialis - N. I (Olfaktorius) Tidak dapat dilakukan pemeriksaan - N. II dan III (Opticus dan Occulomotorius) Pupil isokor, RCL +/+, RCTL +/+ - N. IV dan VI (Trochlearis dan Abducens) Tidak dapat dilakukan pemeriksaan - N. V (Trigeminus) Tidak dapat dilakukan pemeriksaan Sensorik: - cabang oftalmik: tidak dapat dilakukan pemeriksaan

STATUS NEUROLOGIS

Kanan > 135 (-) (-) (-)

Kiri > 135 (-) (-) (-)

Refleks kornea (+/+) - cabang maksilaris: tidak dapat dilakukan pemeriksaan - cabang mandibularis: tidak dapat dilakukan pemeriksaan - N. VII (Facialis) Wajah simetris Motorik: tidak dapat dilakukan pemeriksaan Sensorik: tidak dapat dilakukan pemeriksaan - N. VIII (Vestibulo-kokhlearis) Tidak dapat dilakukan pemeriksaan - N. IX, X (Glosofaringeus, Vagus) Tidak dapat dilakukan pemeriksaan - N. XI (Aksesorius) Tidak dapat dilakukan pemeriksaan - N. XII (Hipoglosus) Tidak dapat dilakukan pemeriksaan

KULIT : warna sawo matang merata, anemis (-), tidak ikterik, tidak sianosis, turgor kulit baik, lembab, pengisian kapiler < 2 detik, petechie (-) TULANG BELAKANG : bentuk normal, tidak terdapat deviasi, benjolan (-), ruam (-)

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
HEMATOLOG I Darah Lengkap Leukosit Hb Ht Trombo Hasil 9.2 rb/ uL 11.8 g/dL 36 % 295 rb/uL Nilai Normal 6-17 10.8-12.8 35-43 217-497

RESUME
OS laki-laki, usia 1 tahun 7 bulan datang datang ke IGD RSUD Budhi Asih dengan keluhan kejang sejak 10 menit SMRS (pk 22.00). Sebelum kejang OS demam hilang timbul. OS demam tinggi 39,8C dan langsung kejang 5 menit, kejang kaku pada kedua lengan mata mendelik keatas, saat kejang OS tidak menangis, keluar cairan berbusa dari mulut OS warna bening, jumlah sedikit, lidah tidak tergigit. Kemudian kejang kedua, kejang seluruh tubuh berlangsung 8 menit, mata mendelik keatas, saat kejang OS tidak menangis, keluar cairan berbusa dari mulut OS warna bening, jumlah sedikit. Lidah tidak tergigit. Kemudian OS diberi obat lewat anus. Setelah kejang OS menangis. 3 bulan yang lalu OS juga merasakan hal seperti ini, kejang yang didahului demam yang tinggi, berlangsung 1x 5 menit. batuk pilek (+) sejak 2 hari yang lalu, mual muntah (-), Nafsu makan OS menurun. Penurunan berat badan (-). Pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu meningkat 37,6C, hidung terdapat sekret dan pengukuran BB/TB didapatkan gizi kurang

Pemeriksaan lainnya : Faeces rutin dalam batas normal

DIAGNOSIS BANDING
Kejang demam kompleks berulang

Epilepsi

DIAGNOSIS KERJA
Kejang demam kompleks berulang ISPA

ANJURAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


EEG Gambaran Darah Tepi Cek ulang H2TL Cek Elektrolit, Ca ion

PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa Tirah baring Observasi tanda-tanda vital Kompres air hangat bila demam

Medikamentosa
Rawat inap IVFD Kaen 1 B 3 cc/kgBB/jam Paracetamol 4x100 mg/Kg/BB/ hari Diazepam 3x1,5 (Salbutamol 0,6 mg + Ambroxol 5 mg + CTM 0,8 mg) 3x1

PROGNOSIS
Ad vitam : ad bonam Ad fungtionam: dubia ad bonam Ad sanationam: dubia ad bonam

FOLLOW UP
Tgl S O A P

25/6/13

N:116x/mnt T:37,20C RR:32x /mnt

Kejang (-) -Demam(-) -Muntah (-) -Batuk(+) -Flu(+) -BAB 2x, normal -BAK kuning jernih

Kepala: normocephali Mata: cekung(-/),CA(-/-), Hidung: NCH-/-, secret +/+ Mulut: tonsil T1T1, uvula di tengah,hiperemis( -) Leher: KGB dan tiroid: ttm Thorax: C/ BJI-II reg, m(-),g(-) P/ BND vesik+/+,rh-/-,wh/Abdomen:supel, BU(+) 3x/menit,turgor baik Ekstremitas: CRT< 2

Kejang Demam kompleks berulang -ISPA

-IVFD Kaen 1 B 3 cc/kgBB/jam -Diazepam 3x1,5 -PP 3x1 -(Salbutamol Ambroxol, CTM) 3x1

TGL 26/6/13 N: 108x/mnt T: 36,80C RR:28x/mnt

S -Kejang (-) -Demam(-) -Muntah (-) -Batuk(+) -Flu(+) -BAB 1x, normal -BAK kuning jernih

O Kepala: normocephali Mata: cekung(-/),CA(-/-), Hidung: NCH-/-, secret +/+ Mulut: tonsil T1T1, uvula di tengah,hiperemi s(-) Leher: KGB dan tiroid: ttm Thorax: C/ BJI-II reg, m(-),g(-) P/ BND vesik+/+,rh-/,wh-/Abdomen:supel, BU(+) 3x/menit,turgor baik Ekstremitas:

A -Kejang Demam kompleks berulang -ISPA

P -IVFD Kaen 1 B 3 cc/kgBB/jam -Diazepam 3x1,5 -PP 3x1 -(Salbutamol Ambroxol, CTM) 3x1

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Seizure? Cetusan aktivitas listrik abn, mendadak, sementara ksadaran, tonik, klonik Konvulsi? gerakan mendadak otot2, tdk dpt dikendalikan (sering dikenal sbg kejang)

Kejang Demam? Kejang akibat demam >38 C, akbiat pros. ekstracranium

Epidemiologi
KD: 2-4% di AS, Amerika Selatan, Eropa barat Asia dilaporkan >tinggi 20 % KDK Umumnya KD timbul pada usia 2 th(17-23 bl) Laki2>perempuan

Faktor Resiko
Demam Riwayat KD pd ortu/saudara kandung Perkembangan terlambat Problem pd masa neonatus Kadar Na Setelah KD pertama : 33% 1x rekurensi, 9 % 3x rekurensi/>

KLASIFIKASI
Dulu Livigston KDS & epilepsi yg diprovokasi demam tdk lagi digunakan Kriteria Livingstone yg dimodifikasi: 1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun. 2. Kejang hanya berlangsung sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit. 3. Kejang bersifat umum. 4. Kejang timbul setalah 16 jam pertama setelah timbulnya demam. 5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal. 6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan. 7. Frekuensi bangkitan kejang didalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.

Kejang demam Sederhana: menyeluruh, <15 menit, berulang dalam 24 jam Kejang Demam Kompleks: fokal >15 mnt, berulang dlm waktu singkat

ETIOLOGI
Belum diketahui scara pasti Sering disebabkan ISPA, OM, pneumonia, GE, ISK Kejang tidak selalu karena suhu tinggi

PATOFISIOLOGI
suhu 1 C metab. Basal 10-15 % dan kebutuhan O2 20 %. Pd anak 3 th sirkulasi otak mencapai 65 % dr sluruh tbh dibandingkan org dws (15%) Pd kenaikan suhu tbh trtnt perubahan keseimbangan membr. Sel neuron difusi ion K,Na lepas muatan listrik meluas ke seluruh sel&sekitarkejang

Ambang kejang tiap anak berbeda Ambang kejang rendah T:38 C kejang Ambang kejang tinggiT: 40 C/> kejang Terulangnya KD > sering pd ambang kejang rendah

kebutuhan O2 & energi u/kontraksi ot.skelet hipoksemia, hiperkapne, asam laktat( dsbabkan o/ metab. Anaerobik), hipotensi arterial +denyut jantung tdk teratur & suhu tubuh makin akibat aktivitas otot pan metaolisme otak kerusakan neuron otak KD lama kelainan anatomis otak epilepsi

Manifestasi Klinis
Tonk klonik bilateralklonik, fokal/akinetik Mata mendelik ke atas+ kekakuaan aura

G. Manifestasi klinis tonik-klonik bilateral, tonik, klonik, fokal atau akinetik, mata terbalik keatas dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan semakin berulang tanpa didahului kekakuan atau hanya sentakan atau kekakuan fokal. kurang dari 6 menit ,lebih dari 15 menit. Seringkali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit, anak kembali terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. hemiparesis sementara (hemiparesis Todd) hari. Hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang yang lama lebih sering terjadi pada kejang demam yang pertama. Jika kejang tunggal berlangsung kurang dari 5 menit, maka kemungkinan cedera otak atau kejang menahun adalah kecil.3 Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada penderita yang sebelumnya normal. Kelainan neurologis terjadi pada sebagian kecil penderita, ini biasanya terjadi pada penderita dengan kejang lama atau berulang baik umum atau fokal. Gangguan intelek dan gangguan belajar jarang terjadi pada kejang demam sederhana. IQ lebih rendah ditemukan pada penderita

Diagnosis
1. Pungsi lumbal 2. EEG 3. Pemeriksaan Laboratorium 4. Pemeriksaan Imaging

Diagnosis Banding
Intrakranial: meningitis, ensefalitis, abses otak dan lain-lain atau Ekstrakranial. KDS atau epilepsi yang diprovokasi oleh demam. Infeksi susunan saraf pusat dapat disingkirkan dengan pemeriksaan klinis dan cairan cerebrospinal.

Perjalanan Penyakit
Mortalitas perkembangan mental dan neurologis berulangnya kejang demam risiko terjadinya epilepsi dikemudian hari. Mortalitas pada kejang demam sangat rendah, hanya rendah, hanya sekitar 0,640,74%.1

Penatalaksanaan
1. fase akut Pada waktu kejang pasien dimiringkan untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Jalan nafas harus bebas agar oksigenasi terjamin. Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu, pernafasan dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan kompres air dingin dan pemberian antipiretik.2,3,9 2. Mencari dan Mengobati Penyebab 3. Profilaksis Profilaksis intermittent Profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan tiap hari ( rumatan) fenobarbital 4-5 mg/kg BB/hari dibagi dalam 2 dosis. Asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari.

Profilaksis terus menerus dapat dipertimbangkan bila ada 2 kriteria ( termasuk poin 1 atau 2) yaitu: Sebelum kejang demam yang pertama kelainan neurologis Kejang demam >15 menit, fokal, atau diikuti oleh kelainan neurologis sementara atau menetap. riwayat kejang tanpa demam pada ortu/saudara kandung. Bila KD< 12 bulan / terjadi kejang multipel dalam satu episode demam. Bila hanya memenuhi satu kriteria saja dan ingin memberikan pengobatan jangka panjang, maka berikan profilaksis intermittent yaitu pada waktu anak demam dengan diazepam oral atau rektal tiap 8 jam disamping antipiretik.1,3

ALGORITMA PENGOBATAN MEDIKAMENTOSA SAAT KEJANG 11 5 15 menit KEJANG Perhatikan jalan nafas, kebutuhanO2 atau bantuan pernafasan Bila kejang menetap 3-5 menit, Diazepam rektal 0,5mg/kg dosis 5 - 10 kg > 10 kg : 10 mg rektiol Atau Diazepam intravena dosis rata-rata (0,2 0,5 mg/kg/dosis) dapat diulang dengan dosis/cara yang sama dengan interval 5 - 10 menit 15 20 menit Pencarian akses vena dan pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi

Kejang ( - )

Kejang ( + ) Fenitoin IV (15-20mg/kg) diencerkandgn NaCl 0,9% diberikan selama 20-30 menit atau dengan kecepatan 50mg/menit

> 30 menit: Status konvulsivus

Kejang ( - ) Dosis pemeliharaan FenitoinIV 5-7mg/kg diberikan 12 jam kemudian

Kejang ( + ) Fenobarbotal IV/IM 10-20 mg/kg

Kejang ( - ) Dosis pemeliharaan Fenobarbital IVIM 5-7 mg/kg diberikan 12 jam kemudian

Kejang ( + ) Perawatan Ruang Intensif Pentobarbital IV 5-15mg/kg bolus atau Midazolam 0,2 mg/kg

Rujukan
KDK Hiperpireksia Usia < 6 bulan KD pertama Dijumpai kelainan neurologis

Prognosis
penanggulangan yang tepat dan cepat prognosisnya baik . 2 penyelidikan masing-masing mendapat angka kematian 0,46% dan 0,74%. Dari penelitian yang ada, frekuensi terulangnya kejang berkisar antara 25%-50% yang umumnya terjadi pada 6 bulan pertama.

Pencegahan
diazepam oral/rektal