Anda di halaman 1dari 22

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Epidemiologi Kanker Servik pada WUS Kanker serviks atau kanker leher rahim atau disebut juga kanker mulut rahim merupakan salah satu penyakit keganasan di bidang kebidanan dan penyakit kandungan yang masih menempati posisi tertinggi sebagai penyakit kanker yang menyerang kaum perempuan (Manuaba, 2008). Kanker serviks adalah kanker leher rahim / kanker mulut rahim yang di sebabkan oleh virus Human Papiloma Virus (HPV). Hanya beberapa saja dari ratusan

varian HPV yang dapat menyebabkan kanker. Penularan virus HPV yang dapat menyebabkan Kanker leher rahim ini dapat menular melalui seorang penderita kepada orang lain dan menginfeksi orang tersebut. Penularannya dapat melalui kontak langsung dan karena hubungan seks. Gejala yang mungkin timbul (Umumnya pada stadium lanjut) adalah perdarahan di luar masa haid, jumlah darah haid tidak normal, perdarahan pada masa menopause (setelah berhenti haid), keputihan yang bercampur darah atau nanah serta berbau, perdarahan sesudah senggama, rasa nyeri dan sakit di panggul, gangguan buang air kecil sampai tidak bisa buang air kecil (Prawirohardjo, 2005). Berdasarkan hasil survey kesehatan oleh Word Health Organitation (WHO), (2010) dilaporkan kejadian kanker serviks sebesar 500.000 kasus baru di Dunia. Kejadian kanker servik di Indonesia, dilaporkan sebesar 20-24

kasus kanker serviks baru setiap harinya. Kejadian kanker servik di Bali dilaporkan telah menyerang sebesar 553.000 wanita usia subur pada tahun 2010 atau 43/100.000 penduduk WUS. Berdasarkan AOGIN (2010) Angka ini mengalami peningkatan sebesar 0,89% sejak tahun 2008 (Anonim, 2010)

2.2 Metode Deteksi Dini Kanker Serviks 2.2.1 Metode Papsmear 1. Definisi Pap smear berasal dari kata papanicolaou, yaitu seorang ahli dokter Yunani bernama George N. Papanicolaou, yang merancang metode mewarnai pulasan sampel sel-sel untuk diperiksa. Dokter ini yang merancang metode tes Pap smear sekitar 50 tahun yang lalu pada tahun 1943. Dasar pemeriksaan ini adalah mempelajari sel-sel yang terlepas dari selaput lendir leher rahim. Papsmear mudah dilakukan dan tidak menimbulkan rasa sakit (Smart, 2010). Tingkat Keberhasilan Papsmear dalam mendeteksi dini kanker rahim yaitu 65-95 %. Pap Smear hanya bisa dilakukan oleh ahli patologi atau si-toteknisi yang mampu melihat sel-sel kanker lewat mikroskop setelah objek glass berisi sel- sel epitel leher rehim dikirim ke laboratorium oleh yang memeriksa baik dokter, bidan maupun tenaga yang sudah terlatih (Smart, 2010)

2.

Sasaran Pap Smear dapat dilakukan pada WUS yang sudah menikah atau yang sudah melakukan senggama. Sasarannya ditujukan kepada WUS dan wanita dengan faktor risiko (Maryanti, 2009).

3.

Waktu pelaksanaan Pap Smear Pap Smear dilakukan sekali setahun. Bila tiga kali hasil pemeriksaan normal, pemeriksaan dapat dijarangkan, misalnya setiap dua tahun. Pada perempuan kelompok risiko tinggi, pemeriksaan harus dilakukan sekali setahun atau sesuai petunjuk dokter (Smart, 2010). Pap Smear dapat dilakukan setiap saat, kecuali pada masa haid. Dua hari sebelum pemeriksaan Pap Smear sebaiknya tidak menggunakan obat-obatan yang dimasukan ke dalam vagina serta diketahui oleh suami. Waktu yang diperlukan untuk mengetahui hasil dari dilakukannya metode papsmear berkisar antara 4 hari sampai 2 minggu tergantung jarak tempat dilakukannya pemeriksaan papsmear dan dari laboratorium pemeriksaan specimen lendir mulut rahim. Untuk mengetahui apakah hasilnya positif atau negatif maka diperlukan tenaga khusus laboratorium yang dapat membaca hasil mikroskop. Jadi selama rentan waktu itulah wanita pasangan usia subur mengalami kecemasan terhadap hasil dari pemeriksaan pap smear (Manuaba dkk, 2009).

10

4.

Biaya Papsmear Biaya yang dikeluarkan dalam pemeriksaan papsmear berkisar antara Rp.50.000,00 sampai Rp.150.000,00 (Faizah, 2005). Mengingat biaya untuk transportasi pengiriman bahan ke laboratoium dan pengiriman kembali specimen ke tempat pemeriksaan, serta biaya jasa laboratorium.

2.2.2 Metode IVA 1. Pengertian IVA adalah salah satu deteksi dini kanker serviks dengan menggunakan asam asetat 3 - 5 % secara inspekulo dan dilihat dengan pengamatan mata langsung (mata telanjang). Pemeriksaan ini tidak menimbulkan rasa sakit, mudah , murah dan informasi hasilnya langsung ( Nugroho, 2010). Serviks (epitel) abnormal jika diolesi dengan asam asetat 3-5 % akan berwarna putih (epitel putih). Dalam waktu 1-2 menit setelah diolesi asam asetat efek akan menghilang sehingga pada hasil ditemukan pada serviks normal tidak ada lesi putih (Smart, 2010). Metode IVA tergolong sederhana, nyaman dan praktis. Dengan mengoleskan asam cuka (asam asetat) pada leher rahim dan melihat reaksi perubahan yang terjadi, prakanker dapat dideteksi. Biaya yang dikeluarkan pun juga relatif murah. Selain prosedurnya tidak rumit, pendeteksian dini ini tidak memerlukan persiapan khusus dan

11

juga tidak menimbulkan rasa sakit bagi pasien. Letak kepraktisan penggunaan metode ini yakni dapat dilakukan di mana saja, dan tidak memerlukan sarana khusus (Maryanti, 2009). Tingkat Keberhasilan metode IVA dalam mendeteksi dini kanker servik yaitu 60-92%. Sensitivitas IVA bahkan lebih tinggi dari pada Pap Smear. Dalam waktu 60 detik kalau ada kelainan di serviks akan timbul plak putih yang bisa dicurigai sebagai lesi kanker (Nugroho, 2010).

2. Gambaran jumlah kunjungan IVA di berbagai daerah di Bali Kunjungan IVA di berbagai daerah, khususnya di Bali sangat bervariasi, penyebarannya tidak merata. Perbedaan tersebut terlihat dari laporan jumlah kunjungan IVA yang tersebar disetiap kabupaten di Bali. Rata-rata pencapaiannya sudah melewati dari target yang

dicanangkan, contohnya adalah Kabupaten Tabanan. Bahkan untuk pelaksanaan IVA itu sendiri dilakukan setiap satu minggu sekali oleh puskesmas yaitu setiap hari sabtu dan dikenakan biaya Rp.25.000,-. Setiap minggunya jumlah pasien yang datang berkisar antara 10-15 orang. Bahkan untuk mencapai hasil yang maksimal ada beberapa kader bersama petugas kesehatan puskesmas yang datang ke banjar-banjar untuk memberikan pelayanan pemeriksaan IVA secara gratis (Anonim, 2010).

12

3. Keunggulan Test IVA a. Hasil segera diketahui saat itu juga b. Efektif karena tidak membutuhkan banyak waktu dalam

pemeriksaan, aman karena pemeriksaan IVA tidak memiliki efek samping bagi ibu yang memeriksa, dan praktis c. Teknik pemeriksaan sederhana, karena hanya memerlukan alat-alat kesehatan yang sederhana, dan dapat dilakukan dimana saja d. Butuh bahan dan alat yang sederhana dan murah e. Sensivitas dan spesifikasitas cukup tinggi f. Dapat dilakukan oleh semua tenaga medis terlatih

4. Sasaran Pemeriksaan IVA pada WUS yaitu wanita yang berusia antara 15 sampai 49 tahun. wanita yang sudah pernah melakukan senggama atau sudah menikah juga menjadi sasaran pemeriksaan IVA. Penderita kanker servik berumur antara 30 60 tahun, terbanyak antara 45 50 tahun, frekwensinya masih meningkat sampai kira kira golongan umur 60 tahun dan selanjutnya frekwensi ini sedikit menurun kembali. Hal tersebut menjadikan alasan WUS menjadi sasaran deteksi dini kanker serviks (Prawirohardjo, 2005).

13

5.

Waktu pelaksanaan pemeriksaan IVA Untuk masyarakat luas, diprogramkan pemeriksaannya 1 kali dalam 1 tahun, kecuali ada kecurigaan lain. Pemeriksaan IVA dapat dilakukan setiap saat, tidak dalam kedaan haid, dua hari sebelum pemeriksaan IVA sebaiknya tidak menggunakan obat-obatan yang dimasukan ke dalam vagina serta diketahui oleh suami (Maryanti, 2009). Waktu yang diperlukan untuk mengetahui hasil pemeriksaan dari metode IVA adalah 1-5 menit. Setelah adanya perubahan warna putih dari mulut rahim maka ada kecurigaan terdapat sel-sel yang memicu kanker rahim. Hasil dari pemeriksaan IVA dapat dibaca oleh dokter, Bidan maupun petugas kesehatan yang terlatih saat itu juga, sehingga mengurangi kecemasan yang dialami wanita pasangan usia subur. Jika hasil yang di dapat IVA (+) maka akan langsung diobati, jika pemeriksaan dilakukan di Rumah Sakit maka akan langsung dilakukan kryoterapi, serta diberikannya obat antibiotik serta analgesik, jika pemeriksaan di praktek swasta maka akan langsung diberikan antibiotik dan analgesik serta rujukan ke Rumah Sakit untuk melakukan kryoterapi (McCromick, 2011)

6. Biaya Test IVA Biaya yang dikeluarkan dalam pemeriksaan IVA sangat bervariasi mulai dari Rp. 5000,00 sampai harga tertinggi Rp 50.000,00

14

atau tergantung dari tempat pemeriksaan. Biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk pemeriksaan ini digunakan untuk mengganti jasa pelayanan pemreiksaan IVA, namun tidak jarang pula ada yang memungut biaya sebagai pengganti penggunaan alat dan bahan untuk pemeriksaan IVA (Faizah, 2010).

7. Prosedur tetap dalam pemeriksaan IVA (Maryanti, 2010) Tabel 2.1 Prosedur tetap pemeriksaan IVA Langkah-langkah Keterangan 1 2 3 Memberi penjelasan pada ibu atas tindakan yang akan dilakukan Menjaga privasi pasien Menyiapkan alat yang diperlukan g. Sarung tangan / Handscoen h. Spekulum cocor bebek i. Tampon tang j. Kom kecil k. Lidi kapas l. Asam asetat 3-5% dalam botol m. Kapas DTT dalam kom n. Waskom berisi larutan klorin 0,5% o. Selimut p. Lampu sorot q. Tempat sampah medis dan non medis Menyiapkan ibu dengan posisi lithotomi pada tempat tidur ginekologi Mengatur lampu sorot ke arah vagina ibu Mencuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir dengan cuci tangan tujuh langkah dan mengeringkan dengan handuk bersih Menggunakan sarung tangan steril Melakukan vulva hygiene dengan kapas DTT Memasukkan spekulum ke dalam vagina a. Tangan kiri membuka labia minora, spekulum dipegang dengan tangan kanan, dalam keadaan tertutup kemudian masukkan ujungnya ke dalam introitus

No 1 2 3

3 4 5

6 7 8

15

No

Langkah-langkah

Keterangan 1 2 3

b. Putar kembali spekulum 45 ke bawah sehingga menjadi melintang dalam vagina kemudian didorong masuk lebih dalam ke arah forniks posterior sampai puncak vagina c. Buka spekulum pada tangkainya secara perlahan-lahan dan atur sampai porsio terlihat dengan jelas d. Kunci spekulum dengan mengencangkan bautnya kemudian ganti dengan tangan kiri yang memegang spekulum 9 Memasukkan lidi kapas yang telah diberi asam asetat 3-5% ke dalam vagina sampai menyentuh porsio 10 Mengoleskan lidi kapas ke seluruh permukaan porsio, lihat hasilnya 11 Membersihkan porsio dengan kasa steril menggunakan tampon tang 12 Mengeluarkan spekulum dari vagina 13 Merapikan ibu dan merendam alat dalam larutan klorin 0,5% 14 Mencuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir 15 Beritahu hasilnya dan beritahu rencana selanjutnya dengan jelas dan lengkap 8. Kategori Pemeriksaan IVA Terdapat empat kategori yang dapat diketahui dari hasil pemeriksaan dengan metode IVA yaitu : a. Pertama, IVA negatif, artinya tidak ada tanda atau gejala kanker mulut rahim atau serviks normal berbentuk licin, merah muda, bentuk porsio normal. b. Kedua, IVA radang, artinya serviks dengan radang (servisitis), atau kelainan jinak lainnya seperti polip serviks.

16

c. Ketiga, IVA positif yaitu ditemukan bercak putih (aceto white epithelium). Kelompok ini yang menjadi sasaran temuan screening kanker serviks dengan metode IVA karena temuan ini mengarah pada diagnosis serviks prakanker. d. Keempat, IVA kanker serviks, pertumbuhan seperti bunga kol, dan pertumbuhan mudah berdarah. Ini pun masih memberikan harapan hidup bagi penderitanya jika masih pada stadium invasive dini. (Maryanti, 2009)

2.3 Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kunjungan Pemeriksaan IVA Beberapa faktor yang mempengaruhi masyarakat khususnya WUS dalam melakukan pemeriksaan IVA berdasarkan teori L.Green dalam Notoatmodjo (2010) antara lain yaitu faktor perilaku dan faktor di luar perilaku. Faktor perilaku tersebut diantaranya adalah : 2.3.2 Faktor Predisposisi 1. Pengetahuan WUS

a. Pengertian Pengetahuan (Knowledge) adalah hasil tahu dari diri manusia yang sekedar menjawab pertanyaan What, misalnya apa air, apa manusia, apa alam dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010). Pengetahuan adalah suatu yang diketahui menurut Poerwadarminta (1999) dalam Notoatmodjo (2010). Menurut Poejawijatna (1998)

17

dalam Notoatmodjo (2010), menyebutkan pengetahuan akan membuat orang mampu mengambil keputusan. Jadi, pengetahuan adalah suatu yang diketahui atau hasil tahu dari diri manusia dan mampu menjawab pertanyaan sehingga seorang mampu

mengambil keputusan. b. Macam-macam pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003) macam macam

pengetahuan ada 2, yaitu : 1) Pengetahuan Umum Pengetahuan umum adalah segala sesuatu yang diketahui oleh seseorang secara umum tanpa mengetahui seluk beluk yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. 2) Pengetahuan Khusus Pengetahuan khusus adalah segala sesuatu yang diketahui oleh seseorang secara khusus tentang suatu hal yang sedalamdalamnya. c. Tingkat pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Cara mengidentifikasi tingkat pengetahuan adalah sebagai berikut : 1) Mengenal (Recognition) dan mengingat kembali (Recall) diartikan sebagai kemampuan mengingat kembali suatu yang

18

pernah diketahui sehingga bisa memilih satu dari dua atau lebih jawaban. 2) Pemahaman (Comprehension) merupakan suatu kemampuan untuk memahami tentang suatu obyek atau materi. 3) Penerapan (Aplication) diartikan sebagai kemampuan untuk menerapkan secara benar mengenai suatu hal yang diketahui dalam situasi yang sebenarnya. 4) Analisis (Analysis) diartikan sebagai kemampuan untuk menyebarkan materi/obyek kedalam suatu struktur dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5) Sintesis (Syntesis) diartikan sebagai kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi. 6) Evaluasi (Evaluation) diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan penelitian suatu obyek/materi. Tingkat pengetahuan ini dapat di nilai dari tingkat penguasaan individu atau seseorang terhadap suatu obyek atau materi (Notoatmodjo,2003). d. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan 1) Pendidikan Makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak juga pengetahuan yang

19

dimiliki.

Sebaliknya

pendidikan

yang

kurang

akan

menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilainilai yang baru diperkenalkan. 2) Pekerjaan Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak tantangan. 3) Umur Umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. (Wawan dan Dewi, 2010). e. Cara Memperoleh Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003) menyebutkan ada 2 cara memperoleh pengetahuan yaitu : 1) Cara tradisional atau non-ilmiah a) Cara coba-coba (Trial and Error) Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan tersebut tidak berhasil di coba kemungkinan yang lain. Apabila kemungkinan kedua ini gagal di coba kemungkinan ketiga dan seterusnya sampai masalah tersebut dapat dipecahkan. Itulah sebabnya cara ini disebut metode trial (coba) and error (gagal/salah)

20

b) Cara kekuasaan atau otoritas Pada cara ini prinsipnya adalah orang lain menerima pendapat yang dikemukakan orang yang mempunyai otoritas tanpa terlebih dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan empiris atau penalaran sendiri. Hal ini disebabkan karena orang yang menerima pendapat tersebut menganggap bahwa apa yang

dikemukakannya adalah sudah benar. c) Pengalaman pribadi Pengalaman adalah guru yang baik demikianlah bunyi pepatah, ini mengandung maksud bahwa pengalaman ini seperti cara untuk memperoleh kebenaran pengetahun. Oleh sebab itu, pengetahuan pribadinya dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. d) Melalui jalan pikiran Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berpikir manusia pun ikut berkembang. Dalam memperoleh pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya. e) Cara modern Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih estimatis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut penelitian ilmiah atau popular disebut metode

21

penelitian dan media massa sebagai sumber informasi dimana media (alat mengirim pesan atau saluran pesan) adalah alat atau saluran yang dipilih oleh sumber untuk menyampaikan pesan kepada sasaran. Salah satu media massa adalah media massa yang meliputi: televisi, radio, koran, tabloid dan film. Media massa sebagai salah satu sumber informasi juga mempengaruhi pengetahuan karena dengan sumber informasi atau bacaan yang berguna bagi perluasan cakrawala pandang dan wawasan, dapat

meningkatkan

kemampuan

berpikir

seseorang

(Notoatmodjo, 2003).

2. Sikap WUS a. Definisi atau Pengertian Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang atu tidak senang, setuju atau tidak setuju, baik atau tidak baik, dan sebagainya). Pandangan-pandangan atau perasaan dari WUS yang berupa pernyataan positif maupun negatif terhadap input, proses, dan output (Notoatmodjo, 2003). Menurut Allport dalam buku Notoatmodjo (2003) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai tiga komponen pokok :

22

1) Kepercayaan atau keyakinan (ide dan konsep terhadap suatu objek). 2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek 3) Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave). b. Teori sikap 1) Belajar melakukan : Proses asosiasi yang memerlukan sikap pengukuran kembali. 2) Teori keseimbangan Model keseimbangan dari rasa suka, kemungkinan 2 susunan struktur yang tidak seimbang cenderung menjadi struktur yang seimbang melalui perubahan dalam satu unsur atau lebih. 3) Teori ketidaksesuaian akan berubah demi mempertahankan konsistensi dengan perilaku nyatanya. 4) Teori atribusi Orang bersikap dengan mempertimbangkan kognisi dan efeksi suatu konasi dan psikomotor didalam kesadaran mereka. c. Tingkatan Sikap Seperti halnya pengetahuan, sikap juga mempunyai tingkattingkat berdasarkan intensitasnya, sebagai berikut : 1) Menerima (Receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang berikan (objek)

23

2) Merespon (responding) Memberikan jawaban bila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut. 3) Menghargai (valving) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. 4) Bertanggung jawab (responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi. Menurut Likert (Wawan dan Dewi, 2010), untuk mengetahui sikap responden menggunakan lima alternatif jawaban yang kemudian diberi skor untuk dapat dihitung yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), ragu-ragu (RR), tidak setuju (TS), sangat tidak setuju (STS). Pada pernyataan yang bersifat favoreble, skor tertinggi diberikan kepada jawaban yang sangat setuju. Sedangkan pada pernyataan tidak favorable, skor tertinggi diberikan pada pernyataan sangat tidak setuju. Skor jawaban yaitu berkisar antara 1 5 pada masing-masing pernyataan.

24

3. Tingkat Ekonomi Tingkat status ekonomi adalah salah satu tingkatan atau strata sosial dalam masyarakat, yang bisa dinilai dari rata-rata jumlah penghasilan atau pendapatan serta jumlah harta benda yang dimiliki oleh seseorang. Tingkat ekonomi jika dilihat dari jumlah penghasilan atau pendapatan dibagi menjadi tiga yaitu tingkat penghasilan tinggi jika penghasilannya rata-rata Rp 5.000.000 perbulan dan rendah jika rata-rata penghasilannya < Rp. 5.000.000,- perbulan (BPS Nasional, 2010). Ekonomi adalah salah satu faktor yang sangat mempengaruhi perilaku masyarakat, apabila penghasilan masyarakat cukup maka mereka akan memenuhi kebutuhan dengan maksimal dan sebaliknya apabila

penghasilan masyarakat kurang, maka mereka akan mengabaikan kebutuhannya termasuk dalam mencari pelayanan kesehatan

(Notoatmodjo, 2010). Menurut Soetjiningsih dalam Sarwono (2007) status sosial ekonomi adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat, status sosial ekonomi adalah gambaran tentang keadaan seseorang atau suatu masyarakat yang ditinjau dari segi sosial ekonomi, gambaran itu seperti tingkat pendidikan, pendapatan dan sebagainya. Status ekonomi

kemungkinan besar merupakan pembentuk gaya hidup keluarga. Kartono tahun 2005 menjelaskan bahwa status ekonomi adalah kedudukan seseorang atau keluraga di masyarakat berdasarkan pendapatan per bulan.

25

Status ekonomi dapat dilihat dari pendapatan yang disesuaikan dengan harga barang pokok.

2.3.3 Faktor Pendukung 1. Sarana prasarana Lingkungan fisik yang berupa alat dan bahan untuk pemeriksaan IVA. Alat dan bahan yang diperlukan dalam pemeriksaan IVA, antara lain handscoen, speculum, tampon tang, kom kecil steril, kapas lidi, asam asetat 3-5% dalam botol, kapas sublimat dalam kom steril, waskom, larutan klorin, selimut, lampu sorot, tempat sampah medis dan non medis. Ruangan khusus (tertutup) dan yang memadai untuk pemeriksaan IVA yang juga dilengkapi dengan meja ginekologi (Maryanti, 2009) Selain kuantitas (tersedia atau tidak) namun kenyamanan pasien juga menjadi penentu kualitas dari sarana dan prasarana dimana secara tidak langsung bisa menjadi tolak ukur dalam suatu pelayanan kesehatan (Nugroho, 2010) 2. Jarak tempuh ke pelayanan kesehatan Jarak adalah angka yang menunjukkan seberapa jauh suatu benda berubah posisi melalui suatu lintasan tertentu. Dalam fisika atau dalam pengertian sehari-hari, jarak bisa berupa estimasi jarak fisik dari dua buah posisi berdasarkan kriteria tertentu (Anonim, 2010). Jarak tempuh pasien atau penerima pelayanan menjadi salah satu

26

pertimbangan untuk mencari fasilitas pelayanan kesehatan karena selain melibatkan waktu tempuh ke fasilitas tersebut, juga melibatkan transportasi dan biaya yang dibutuhkan. Pertimbangan tersebut akan menjadi sangat diperhitungkan apabila tempat pelayanan kesehatan yang ada berada sangat jauh dari akses pelayanan kesehatan dengan tingkat perekonomian penduduk yang rendah (Maryanti, 2010). 3. Waktu tempuh ke pelayanan kesehatan Besaran yang menunjukkan lamanya suatu peristiwa

berlangsung. Waktu termasuk besaran skala. Satuan waktu antara lain detik, menit, jam dan hari. Alat yang digunakan untuk mengukur satuan waktu adalah arloji, stopwatch (Sarwono, 2007). Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai fasilitas pelayanan kesehatan

mempengaruhi keinginan seseorang untuk mencari dan mencapai fasilitas pelayanan kesehatan, tidak hanya karena lamanya waktu yang dibutuhkan tetapi karena (Maryanti, 2010). transportasi dan biaya yang dibutuhkan

2.3.4 Faktor pendorong 1. Jumlah petugas kesehatan Banyaknya petugas kesehatan yang berkompeten, yang memiliki sertifikat pelatihan IVA, dan mampu melakukan pemeriksaan IVA dengan baik sesuai dengan prosedur tetap. Salah satu kendala dalam pelaksanaan deteksi dini kanker serviks adalah karena

27

kurangnya SDM sebagai pelaku screening (deteksi dini). Target yang seharusnya dicapai adalah seluruh petugas kesehatan (paramedis dan medis) mendapatkan pelatihan IVA. Pada masing-masing puksesmas terdapat koordinator atau pemegang program dengan tujuan untuk bertanggung jawab dalam pelaksanaan program terkait, namun tentu saja hal tersebut harus didukung oleh suatu kompetensi dan keahlian dari petugas itu sendiri. Kaitannya dengan IVA, di Puskesmas yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan IVA tersebut adalah seorang koordinator atau penanggungjawab dalam Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Koordinator akan dibantu oleh tenaga kesehatan lainnya yang terkait dengan pemeriksaan IVA, dalam hal ini adalah bidan puskesmas (Nugroho, 2010). 2. Sikap petugas kesehatan Menurut WHO dalam Marimbi (2009) sikap menggambarkan suka atau tidak suka terhadap obyek. Obyek sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain yang paling dekat. Sikap bisa dibagi menjadi sikap positif dan sikap negatif. Sikap positif adalah kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi,

mengharapkan obyek tertentu. Sikap negatif adalah kecenderungan untuk menjauhi, menghindari, membenci dan tidak menyukai suatu obyek, hal ini dinyatakan oleh Purwanto (1998) dalam Wawan dan Dewi (2010). Berhasil atau tidaknya suatu program kesehatan yang menjadi pelaksanaannya adalah tentu saja petugas kesehatan itu

28

sendiri. Saat dinilai suatu program itu berjalan dengan baik maka yang mendapatkan sorotan adalah sikap petugas kesehatan yang

bertanggungjawab dalam bidangnya. 3. Perilaku petugas kesehatan Menurut Robert (1974) dalam Marimbi (2009), perilaku tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati atau bahkan dapat dipelajari. Perilaku dibagi menjadi dua, yaitu perilaku pasif dan perilaku aktif. Perilaku pasif adalah respons interna yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan secara tidak langsung dapat dilihat oleh orang lain. Perilaku aktif adalah perilaku yang dapat dilihat atau diobservasi secara langsung. Perilaku petugas kesehatan (medis dan paramedis) sangat terkait dengan keberhasilan pelaksanaan suatu program, semakin aktif petugas kesehatan dalam mensosialisasikan dan melaksanakan suatu program maka program terkait tentu saja akan semakin baik atau semakin berhasil.