Anda di halaman 1dari 9

BAB III KARAKTERISTIK KOMUNIKASI MASSA 3.

1 Komunikator Terlembagakan Komunikatornya secara umum adalah suatu organisasi yang kompleks, yang dalam operasionalnya membutuhkan biaya yang sangat besar. Komunikatornya meliputi: para jurnalis, para petugas badan iklan, produser, dan direktur siaran radio dan televisi, serta para penyunting (Vera, 2008: 29-30) Sebagai contoh, apabila pesan disampaikan melalui surat kabar, maka prosesnya adalah sbb.: komunikator menyusun pesan dalam bentuk artikel, apakah atas keinginannya atau atas permintaan media massa yang bersangkutan. Selanjutnya, pesan tersebut diperiksa oleh penanggungjawab rubrik. Dari penanggungjawab rubrik diserahkan kepada redaksi untuk diperiksa laik tidaknya pesan itu untuk dimuat dengan pertimbangan utama tidak menyalahi kebijakan dari lembaga media massa itu. Ketika sudak laik, pesan dibuat setting-nya, lalu diperiksa oleh korektor, disusun oleh lay-out man agar komposisinya bagus, dibuat plate, kemudian masuk mesin cetak. Tahap akhir setelah dicetak merupakan tugas bagian distribusi untuk mendistribusikan surat kabar yang berisi pesan itu kepada pembacanya (Ardianto, dkk., 2007: 7). Faktor-faktor yang perlu diperhatikan oleh seorang komunikator agar komunikasi menjadi efektif, yaitu (Vera, 2008: 30): 1) Kepercayaan kepada Komunikator (source credibility) kepercayaan kepada komunikator ditentukan oleh keahliannya dan bisa tidaknya ia dipercaya, dan mampukah ia memotivasi apa yang diketahuinya. 2) Daya tarik Komunikator (source attractiveness) seorang komunikator harus memiliki daya tarik di mana komunikan merasa bahwa komunikator terlibat atau turut serta dengan komunikan dalam hubungannya dengan opini secara memuaskan atau komunikator dapat mempunyai persamaan dengan komunikan, sehingga komunikan bersedia tunduk kepada pesan yang disampaikan komunikator. Kesamaan ini khususnya di bidang ideologi.

11

Komunikasi Massa Finny F. Basarah, SH., M.Si.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

Menurut Hiebert, Ungurait, dan Bohn (HUB), setidak-tidaknya ada 5 (lima) karakteristik yang dimiliki komunikator komunikasi massa (dalam Nurudin, 2009: 97 - 100), yaitu: 1) Daya saing (competitiveness) daya saing sebuah surat kabar akan sangat ditentukan oleh peran dari komunikatornya. Bagaimana kebijakan dirumuskan, bagaimana mengelola manajemen perusahaan media, bagaimana mengikat orang untuk berlangganan tetap, dan bagaimana memberikan kepuasan pelanggan, semua itu bagian dari usaha menumbuhkan daya saing sebuah surat kabar. 2) Ukuran dan kompleksitas (size dan complexity) ukuran berhubungan erat dengan jumlah orang yang dipekerjakan dalam saluran komunikasi massa. Semakin besar media massa, semakin besar pula jumlah orang yang terlibat di dalamnya. Kompleksitas dan ukuran ini memang ada hubungannya dengan organisasi media massa. 3) Industrialisasi (industrialization) media massa mempekerjakan banyak orang dan banyak struktur yang kompleks. Akibatnya, media ini perlu dikelola seperti halnya industri. 4) Spesialisasi (specialization) merupakan karakteristik dari komunikator dalam komunikasi massa yang merupakan konsekuensi pembagian tugas dan wewenang internal. Tanpa spesialisasi, media massa tidak akan bisa mengikuti perkembangan jaman. 5) Perwakilan (representation) media massa yang semakin tumbuh besar membutuhkan perwakilan lain yang bisa menopang kehidupan media itu.

3.2

Pesan Bersifat Umum Komunikasi massa bersifat terbuka, artinya komunikasi massa itu ditujukan untuk semua orang dan tidak ditujukan untuk sekelompok orang tertentu. Oleh karenanya, pesan komunikasi massa bersifat umum. Pesan komunikasi massa yang dikemas dalam bentuk apapun harus memenuhi kriteria penting dan menarik, atau penting sekaligus menarik, bagi sebagian besar komunikan (Ardianto, dkk., 2007: 7-8). Penataan pesan tergantung kepada penggunaan medianya karena setiap media mempunyai sifat yang berbeda satu sama lainnya. Sesuai dengan yang dikatakan oleh Severin dan Tankard (1992) bahwa

11

Komunikasi Massa Finny F. Basarah, SH., M.Si.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

komunikasi massa adalah sebagian dari keterampilan (skill), sebagian seni (art) dan sebagian ilmu (science). Tanpa dimensi seni membaca pesan, tidak mungkin media massa baik cetak maupun elektronik dapat memikat perhatian khalayak, yang pada akhirnya pesan tersebut mempunyai tujuan agar dapat mengubah sikap, pandangan, dan perilaku komunikan (Vera, 2008: 30). Pesan dalam komunikasi massa yang disebarkan kepada khalayak biasanya akan difilter (disaring) oleh khalayak itu sendiri. Filter utama yang dimiliki oleh khalayak adalah alat indra yang dipengaruhi oleh tiga kondisi, yaitu (Vera, 2008: 31): a) Budaya; pesan yang disampaikan komunikator melalui media massa akan diberi arti yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang budaya komunikan. b) Psikologis; pesan yang disampaikan media akan diberi arti sesuai dengan frame of reference dan field of experience khalayak. c) Fisik; kondisi fisik seseorang baik internal maupun eksternal akan mempengaruhi khalayak dalam mempersepsi pesan media massa. Kondisi fisik internal yaitu yang berhubungan dengan kesehatan khalayak. Kondisi fisik eksternal yaitu keadaan lingkungan di sekitar komunikan. 3.3 Komunikannya Anonim dan Heterogen Komunikan pada komunikasi massa bersifat anonim dan heterogen (Ardianto, dkk., 2007: 8); Dalam komunikasi massa, komunikator tidak mengenal komunikan (anonim), karena komunikasinya menggunakan media dan tidak tatap muka. Komunikan komunikasi massa adalah heterogen, karena terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda, dan dapat dikelompokkan berdasarkan faktor: usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, latar belakang budaya, agama dan tingkat ekonomi. Sedangkan menurut Hiebert dkk., komunikan komunikasi massa setidaktidaknya mempunyai lima karakteristik sbb. (dalam Nurudin, 2009: 105 106):

11

Komunikasi Massa Finny F. Basarah, SH., M.Si.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

1) Komunikan cenderung berisi individu-individu yang condong untuk berbagai pengalaman dan dipengaruhi oleh hubungan sosial di antara mereka. Individu-individu tersebut memilih produk media yang mereka gunakan berdasarkan seleksi kesadaran. 2) Komunikan cenderung besar. Besar di sini berarti tersebar ke berbagai wilayah jangkauan sasaran komunikasi massa. Meskipun begitu, ukuran luas ini sifatnya bisa jadi relatif. Sebab, ada media tertentu yang khalayaknya mencapai ribuan, ada yang mencapai jutaan. Baik ribuan maupun jutaan tetap bisa disebut komunikan meskipun jumlahnya berbeda, tetapi perbedaan ini bukan sesuatu yang prinsip. Jadi tak ada ukuran pasti tentang luasnya komunikan itu. 3) Komunikan cenderung heterogen. Mereka berasal dari berbagai lapisan dan kategori sosial. Beberapa media tertentu mempunyai sasaran, tetapi heterogenetisnya juga tetap ada. Majalah yang dikhususkan untuk kalangan dokter memang sama secara profesi, tetapi status sosial, ekonomi, agama, dan umur tetap berbeda satu sama lain. Pembaca buku ini juga heterogen sifatnya. 4) Komunikan cenderung anonim, yakni tidak mengenal satu sama lain. Bagaimana mungkin komunikan bisa mengenal khalayak televisi yang jumlahnya jutaan? Tidak mengenal tersebut tidak ditekankan satu kasus per kasus, tetapi meliputi semua komunikan. 5) Komunikan secara fisik dipisahkan dari komunikator. Dapat juga dikatakan komunikan dipisahkan oleh ruang dan waktu. Berdasarkan hal-hal tersebut maka pesan media massa memerlukan strategi dalam penyusunannya sehingga dapat diterima khalayak sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini disebabkan karena sifat khalayak komunikasi massa berubah-ubah. Apa yang menarik pada suatu saat mungkin tidak akan menarik lagi di saat yang lain (Vera, 2008: 31). 3.4 Media Massa Menimbulkan Keserempakan Effendy (1981, dalam Ardianto, dkk., 2007: 9) mengartikan bahwa media massa menimbulkan keserempakan artinya keserempakan kontak dengan sejumlah

11

Komunikasi Massa Finny F. Basarah, SH., M.Si.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

besar penduduk dalam jarak yang jauh dari komunikator, dan penduduk tersebut satu sama lainnya berada dalam keadaan terpisah. Berikut adalah perbedaan sifat media massa periodik (Vera, 2008: 34-35): Tabel 3.1 Perbedaan sifat media massa periodik CETAK Proses pencetakan ELEK. RADIO Proses pemancaran ELEK. TV Proses pemancaran Tidak dpt diulang

Isi cetak dapat dibaca diTidak dapat diulang

mana dan kapan saja Hanya menyajikanDapat menyajikan peristiwaDapat menyajikan peristiwa peristiwa yang telah terjadi yang sedang terjadi yang sedang terjadi Tidak dpt menyajikanDapat menyajikan peristiwaDpt menyajikan peristiwa peristiwa secara langsung scr langsung Penulisan dibatasi olehPenulisan dibatasi halaman Makna berkala detik, menit, jam dibatasiMakna berkala scr langsung olehPenulisan dibatasi oleh

detik, menit, jam dibatasiMakna berkala dibatasi oleh

oleh hari, minggu, bulan oleh detik, menit, jam detik, menit, jam Kalimat dapat panjang &Kalimat padat, singkat,Kalimat padat, singkat, jelas terperinci Bahasa yang formal jelas digunakanBahasa yang digunakanBahasa yang digunakan

formal dan informal

formal dan informal

3.5

Komunikasi Mengutamakan Isi Ketimbang Hubungan Salah satu prinsip komunikasi adalah bahwa komunikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan (Mulyana, 2003, dalam Ardianto, dkk., 2007: 9). Dimensi isi menunjukkan muatan atau isi komunikasi, yaitu apa yang dikatakan, sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya, yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu (Ardianto, 2007: 9). Sedangkan Rakhmat (2003, dalam Ardianto, dkk., 2007:9) menyebutnya sebagai proporsi unsur isi dan hubungan. Dalam konteks komunikasi massa, komunikator tidak harus selalu kenal dengan komunikannya, dan sebaliknya. Yang penting, bagaimana seorang komunikator menyusun pesan secara sistematis, baik, sesuai dengan jenis medianya, agar

11

Komunikasi Massa Finny F. Basarah, SH., M.Si.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

komunikannya bisa memahami isi pesan tersebut. Itulah sebabnya mengapa perlu ada cara penulisan lead untuk media cetak, lead untuk media elektronik (radio maupun televisi), cara menulis artikel yang baik, dst. Semua itu menunjukkan pentingnya unsur isi dalam komunikasi massa (Ardianto, dkk., 2007: 10). 3.6 Komunikasi Massa Bersifat Satu Arah Kelemahan komunikasi massa, yaitu bahwa komunikasi massa bersifat satu arah. Karena komunikasinya melalui media massa, maka komunikator dan komunikannya tidak dapat melakukan kontak langsung. Komunikator aktif menyampaikan pesan, komunikan pun aktif menerima pesan, namun diantara keduanya tidak dapat melakukan dialog sebagaimana halnya terjadi dalam komunikasi antarpribadi (Ardianto, dkk., 2007: 10). 3.7 Stimulasi Alat Indra Terbatas Ciri komunikasi massa lainnya yang dapat dianggap salah satu kelemahannya, adalah stimulasi alat indra yang terbatas. Dalam komunikasi massa, stimulasi alat indra bergantung pada jenis media massa. Pada surat kabar dan majalah, pembaca hanya melihat. Pada radio siaran dan rekaman auditif, khalayak hanya mendengar, sedangkan pada media televisi dan film, kita menggunakan indra penglihatan dan pendengaran (Ardianto, 2007: 11). 3.8 Umpan Balik Tertunda dan Tidak Langsung Umpan balik atau yang biasa disebut feedback merupakan faktor penting dalam suatu proses komunikasi. Efektivitas komunikasi seringkali dapat dilihat dari feedback yang disampaikan oleh komunikan (Ardianto, dkk., 2007: 11). Umpan balik itu sendiri adalah respon atau tanggapan yang diberikan oleh penerima (receiver) kepada pengirim (sender). Umpan balik juga dapat diartikan reaksi yang diterima khalayak setelah terkena terpaan pesan dari media massa (Vera, 2008: 35). Dalam proses komunikasi massa, secara umum umpan balik bersifat tidak langsung (indirect) dan tertunda (delayed). Artinya, komunikator komunikasi massa tidak dapat dengan segera mengetahui bagaimana reaksi khalayak terhadap pesan yang disampaikannya. Tanggapan khalayak bisa diterima lewat

11

Komunikasi Massa Finny F. Basarah, SH., M.Si.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

telepon, e-mail, atau surat pembaca. Proses penyampaian feedback lewat telepon, e-mail, atau surat pembaca itu menggambarkan bahwa feedback komunikasi massa bersifat indirect. Sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk menggunakan telepon, menulis surat pembaca, mengirim e-mail itu menunjukkan bahwa feedback komunikasi massa bersifat tertunda (delayed) (Ardianto, dkk., 2007: 12). Umpan balik dalam proses komunikasi massa dapat diuraikan sbb (Ardianto, dkk., 2007: 47 48): 1) Internal feedback merupakan umpan balik yang diterima oleh komunikator bukan dari komunikan, akan tetapi datang dari pesan itu atau dari komunikator itu sendiri. Ketika menyampaikan pesan, komunikator menyadari telah melakukan kesalahan/kekhilafan, kemudian ia meminta maaf dan memperbaiki kesalahan tersebut. 2) External feedback merupakan umpan balik yang diterima komunikator dari komunikan. External feedback ini sifatnya bisa langsung maupun bisa juga tidak langsung. Feedback pada komunikasi massa cenderung bersifat representatif (representative), tidak langsung (indirect), tertunda (delayed), kumulatif (cumulative), dan terlembagakan (institusionalized). a. Representative feedback karena komunikan komunikasi massa berjumlah sangat banyak, tidak mungkin untuk mengetahui feedback dari masing-masing individu. Maka untuk mengukur feedback diambil contoh atau sampel dari sekian persen komunikan yang cukup mewakili (representatif), dan hasilnya akan dianggap sebagai feedback dari keseluruhan komunikan. b. Indirect feedback jarang sekali para pengisi acara di televisi atau wartawan surat kabar mendapatkan feedback secara langsung. Respons yang mereka dapatkan biasanya melalui pihak ketiga, misalnya perudahaan rating seperti AC Nielsen. Apabila mereka mendapatkan respons secara langsung, misalnya melalui telepon atau surat, respons tersebut tidak dapat secara langsung mengubah isi media. c. Delayed feedback respons komunikasi massa tertunda, karena respons membutuhkan waktu untuk ditransmisikan dari

11

Komunikasi Massa Finny F. Basarah, SH., M.Si.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

komunikan kepada komunikator. Rating televisi biasanya baru dipublikasikan 2 minggu setelah program tersebut ditayangkan. Surat kepada editor surat kabar membutuhkan waktu selama pengiriman melalui pos. Survei dan polling membutuhkan waktu untuk mengumpulkan data dan penghitungan. d. Cumulative feedback dalam komunikasi massa, yang lebih penting adalah respons kolektif atau kumulatif selama satu periode waktu. Karena respons biasanya tertunda, komunikator mengumpulkan semua respons yang datang dalam satu periode, misalnya 6 bulan. Data inilah yang akan memengaruhi keputusan dan kebijakan media di masa yang akan datang, terutama untuk mengetahui isi media seperti apa yang publik inginkan. e. Institusional feedback adalah umpan balik yang terlembagakan, artinya umpan balik yang datang dari lembaga yang langsung mendatangi komunikannya untuk mengumpulkan pendapat. Hasil pengumpulan data tersebut kemudian dianalisis oleh lembaga ybs. Umpan balik ini akan dianggap penting oleh media televisi untuk dijadikan pertimbangan selanjutnya terhadap penayangan dihentikan. Daya tarik televisi swasta atau media cetak salah satunya juga bisa ditunjukkan dari pemasang iklan (sponsor) suatu acara tertentu. Popularitas acara akan diketahui berapa banyak iklan yang muncul pada acara tersebut. Banyaknya iklan membuktikan bahwa acara itu populer. Pemasang iklan kadang membutuhkan rating popularitas acara yang ditayangkan televisi. Karena rating menjadi salah satu cara mengukur komunikan (pendapat mereka terhadap popularitas suatu acara) terhadap suatu acar televisi atau radio. Rating dalam program televisi merupakan salah satu bentuk feedback. Rating ini juga akan ikut menentukan programmer sebuah acara televisi dalam menentukan kebijakan acara selanjutnya. Rating akan mementukan jenis acara apa yang harus ditayangkan stasiun pada komunikannya (Nurudin, 2009: 111 - 112). suatu acara, apakah perlu dilanjutkan atau

11

Komunikasi Massa Finny F. Basarah, SH., M.Si.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

DAFTAR PUSTAKA Ardianto, Elvinaro, dkk. Komunikasi Massa, Suatu Pengantar. 2007. Edisi Revisi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Nurudin. Pengantar Komunikasi Massa. 2009. Jakarta: RajaGrafindo Perkasa. Vera, Nawiroh. Pengantar Komunikasi Massa. 2008. Tanggerang: Renata Pratama Media.

11

Komunikasi Massa Finny F. Basarah, SH., M.Si.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana