Anda di halaman 1dari 13

Paper Manajemen Proyek Industri Ruang Lingkup dan Proses Metalurgi Tiin Zhakiah, 1206217345

Ruang Lingkup dan Proses Metalurgi


Metalurgi didefinisikan sebagai ilmu dan teknologi untuk memperoleh sampai pengolahan logam yang mencakup diantaranya tahapan dari pengolahan bijih mineral, pemerolehan (ekstraksi) logam, sampai ke pengolahannya untuk menyesuaikan sifat-sifat dan perilakunya sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam pemakaian untuk pembuatan produk rekayasa tertentu. Berikut adalah beberapa ruang lingkup dan proses metalurgi: Casting Casting atau pengecoran adalah proses fabrikasi logam, di mana logam dicairkan lalu dituangkan ke dalam suatu cetakan dengan gaya gravitasi atau gaya lain, kemudian dibiarkan membeku sehingga akan terbentuk logam padat sesuai dengan desain pada cetakan. Pengecoran merupakan suatu proses manufaktur untuk menghasilkan suatu objek dengan bentuk yang mendekati bentuk geometri benda jadi. Karena keunggulannya yang dapat menghasilkan produk yang sederhana sampai rumit dengan berat bervariasi serta proses finishingnya yang minimum sehingga dapat mengurangi biaya dan waktu proses, maka pengecoran banyak digunakan dalam dunia industri. Casting dikenal juga sebagai proses solidifikasi. Oleh karena itu, struktur mikro dari benda kerja dapat diatur, seperti struktur butir, transformasi fasa dan presipitasi. Namun, cacat seperti penyusutan porositas, retak dan segregasi juga sangat berkaitan erat dengan proses ini. Untuk mengurangi cacat seperti ini biasanya diberikan perlakuan panas guna mengurangi residu tekanan dan mengoptimalkan mechanical properties benda kerja.

Gambar 1. Gating system for casting. Sumber: http://thelibraryofmanufacturing.com/metalcasting_basics.html

Paper Manajemen Proyek Industri Ruang Lingkup dan Proses Metalurgi Tiin Zhakiah, 1206217345

Secara garis besar proses pengecoran dapat dibedakan dalam dua proses, yaitu proses pengecoran dan proses pencetakan. Pada proses pengecoran tidak digunakan tekanan sewaktu mengisi rongga cetakan, sedangkan pada proses pencetakan logam cair ditekan agar mengisi rongga cetakan. Karena pengisian logam berbeda, cetakan pun berbeda, sehingga pada proses pencetakan cetakan umumnya dibuat dari logam. Pada proses pengecoran cetakan biasanya dibuat dari pasir. Selain itu juga dapat menggunakan plaster, lempung, keramik atau bahan tahan api lainnya sebagai cetakan. Ada beberapa teknik pengecoran logam: 1. Pengecoran pasir, cetakan terbuat dari pasir. 2. Pengecoran bertekanan (die casting), logam cair dimasukkan dengan menggunakan tekanan ke dalam cetakan pembekuan terjadi dalam kondisi bertekanan. 3. Investment casting atau lost wax casting, lubang cetakan terbuat dari plastik (wax) yang kemudian dipanaskan hingga meleleh, meninggalkan lubang cetakan sesuai bentuk yang diinginkan. Teknik ini digunakan untuk mengecor peralatan yang memerlukan tingkat presisi yang tinggi, seperti perhiasan, mahkota gigi, sudut turbin, dll.

Extrusion Ekstrusi merupakan proses pembentukan logam yang memiliki tujuan untuk mereduksi

luas penampang. Logam, sebagai benda kerja, dengan panjang dan luas penampang tertentu dipaksa untuk mengalir melalui die dengan luas penampang yang lebih kecil, sehingga akan terbentuk luas penampang baru. Panjang bagian yang diekstrusi akan bervariasi tergantung pada jumlah material benda kerja dan profil ekstrusi. Ekstrusi adalah proses pembentukan, dan seperti proses pembentukan lainnya, proses ini dapat dilakukan baik panas maupun dingin. Namun, karena ekstrusi dilakukan dengan cara menekan bahan logam melalui rongga cetakan dengan gaya tekan yang relatif besar, sehingga umumnya proses ini dilakukan pada temperatur tinggi. Pada temperatur tinggi, logam memiliki tahanan deformasi yang rendah sehingga gaya deformasinya menjadi rendah.

Paper Manajemen Proyek Industri Ruang Lingkup dan Proses Metalurgi Tiin Zhakiah, 1206217345

Proses ekstrusi dilakukan dengan memasukkan billet berbentuk silindris ke dalam bejana ekstrusi atau wadah, lalu ditekan ke arah cetakan. Cetakan ditahan dengan kuat pada bejana. Gaya tekan akan melalui batang penekan, yang kemudian akan mendorong billet untuk memenuhi bagian dalam bejana. Sebagian logam akan keluar lubang penampang cetakan menjadi bagian produk. Produk-produk dari proses ekstrusi antara lain batang silinder, tabung berongga, pipa dan profil-profil lainnya. Pada awal ekstrusi, proses deformasi berada dalam kondisi non steady, dan pada saat logam keluar melalui lubang cetakan, deformasi berubah menjadi steady. Namun, pada akhir proses ekstrusi, deformasi akan kembali menjadi non steady. Berdasarkan arah aliran produk dan gaya penekanya, proses ekstrusi dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe, yaitu; 1) Forward extrusion Pada proses ekstrusi secara langsung, billet diletakkan dalam wadah dan ditekan oleh penekan ke arah cetakan. Pada proses ini terjadi gerakan relatif antara wadah dan billet. Billet bergerak dan dinding pada wadah diam. Gerakan relatif ini menimbulkan gaya gesek yang dapat meningkatkan kebutuhan daya operasi secara keseluruhan.

Gambar 2. Direct extrusion. Sumber: http://thelibraryofmanufacturing.com/extrusion.html

Dalam proses ekstrusi langsung aliran logam melalui cetakan terjadi sesaat setelah tekanan maksimum dicapai. Kemudian tekanan ekstrusi berkurang karena logam menjadi semakin pendek dan permukaan gesek semakin berkurang. Produk yang dihasilkan dari proses

Paper Manajemen Proyek Industri Ruang Lingkup dan Proses Metalurgi Tiin Zhakiah, 1206217345

ekstrusi langsung akan keluar bergerak searah dengan gaya tekan yang diberikan terhadap wadah. 2) Reverse or back extrusion Pada ekstrusi secara tidak langsung, cetakan terdapat pada penekan berongga, sedangkan pada ujung wadah yang lain ditutup dengan pelat. Pada ekstrusi tidak langsung ini tidak terjadi gerakan relatif seperti yang terjadi pada forward extrusion. Hal ini mengakibatkan secara keseluruhan gaya gesek menjadi rendah dan daya yang dibutuhkan untuk operasi menjadi relatif lebih kecil.

Gambar 3. Indirect extrusion. Sumber: http://thelibraryofmanufacturing.com/extrusion.html

Pada proses ekstrusi tidak langsung, aliran logam melalui cetakan terjadi sesaat setelah tekanan maksimum dicapai, tetapi karena pengaruh gesekan sangat kecil, maka tekanan ekstrusi tidak berubah banyak selama proses berlangsung. Mendekati akhir proses, tekanan ekstrusi naik dengan cepat sekali, karena itu ekstrusi harus dihentikan dengan meninggalkan sebagian kecil dari benda kerja yang belum diproses. Produk yang dihasilkan dari proses ini akan keluar dengan arah yang berlawanan dengan arah gerakan dari penekan atau gaya tekan yang diberikan terhadap wadah. Rolling Rolling atau juga dapat disebut proses pencanaian adalah proses pembentukan logam melalui deformasi dengan melewatkan suatu benda kerja pada satu pasang roll yang berputar dengan arah yang berlawanan. Proses rolling ini bertujuan untuk mereduksi luas penampang atau ketebalan dari suatu logam yang diinginkan.
4

Paper Manajemen Proyek Industri Ruang Lingkup dan Proses Metalurgi Tiin Zhakiah, 1206217345

Gambar 4. Basic principles of rolling. Sumber: http://www.leonghuat.com/articles/articles%20graphics/hot.ht10.gif

Pada proses rolling, benda kerja akan terjepit diantara dua roll yang memiliki celah yang lebih kecil daripada ketebalan logam yang akan dicanai. Batang atau lembaran logam yang melewati roll berputar akan mengalami tegangan tekan dan tegangan geser permukaan. Tegangan geser yang tejadi akan menimbulkan tegangan gesek antara permukaan roll dan benda kerja. Gaya gesek inilah yang bertanggung jawab untuk menarik benda kerja agar dapat masuk ke dalam celah roll. Deformasi yang terjadi akan menghasilkan benda kerja menjadi bertambah panjang dengan luas penampang atau tebal yang menurun. Mesin yang digunakan untuk melakukan proses rolling logam disebut Rolling Mill Stand. Mesin ini terdiri dari satu pasang roll yang digerakkan oleh motor listrik yang mentransmisikan gaya torsi melalui gigi dan cardans. Roll dilengkapi dengan bantalan dan dipasang dalam stand dengan mekanisme screw down. Besar kecilnya diameter roll akan berpengaruh terhadap besar kecilnya deformasi yang terjadi pada benda kerja. Roll yang berdiameter kecil akan menghasilkan bidang kontak rolling menjadi kecil, sehingga mengakibatkan rendahnya nilai absolut dari maksimum roll separating force dan torsi. Hal ini tentunya akan membatasi besarnya deformasi yang diperlukan untuk mencapai reduksi ketebalan tertentu. Berdasarkan pada daerah temperatur operasinya, proses rolling dikelompokkan menjadi dua teknologi, yaitu:
5

Paper Manajemen Proyek Industri Ruang Lingkup dan Proses Metalurgi Tiin Zhakiah, 1206217345

1. Hot rolling Hot rolling adalah operasi pencanaian yang dilakukan pada temperatur yang lebih tinggi daripada temperatur rekristalisasi. Pada proses ini, deformasi tidak menyebabkan terjadinya penguatan pada logam. Tegangan alir bahan akan semakin kecil dengan semakin tingginya temperatur operasi. Energi deformasi yang dibutuhkan akan menjadi lebih kecil pada temperatur lebih tinggi. Dengan demikian, deformasi yang dapat dilakukan pada benda kerja yang memiliki ukuran relatif besar dengan total deformasi besar. Sebagian dari produk dari hot rolling merupakan produk jadi yang secara langsung dapat digunakan, biasanya digunakan untuk keperluan konstruksi jalan, bangunan, jembatan, seperti profil H-Beam, canal-C, U-beam, baja tulangan, dsb. Rel kereta merupakan contoh produk akhir dari hot rolling yang langsung digunakan. Sementara sebagian dari produk hot rolling lainnya merupakan produk setengah jadi. Biasanya dalam bentuk gabungan atau coil. Produk hot rolling pada industri baja misalnya baja batangan atau wire rod dan baja canai panas atau hot roller coil steel (HRC). Untuk menjadi produk akhir, produk hot rolling menggunakan kombinasi dari beragam teknologi pembentukan seperti cold forming, welding, bending, dsb. Tabung LPG merupakan contoh dari aplikasi dari baja lembaran panas yang dibentuk dengan kombinasi berbagai teknologi pembentukan seperti deep drawing, cutting, welding dan coating. 2. Cold rolling Cold rolling adalah suatu proses pencanaian yang dilakukan pada temperatur kamar atau dibawah temperatur rekristalisasi. Cold rolling umumnya dilakukan setelah hot rolling. Proses pencanaian dingin ini menyebabkan terjadinya mekanisme penguatan pada benda kerja yang diikuti dengan turunnya keuletan, sehingga benda kerja menjadi lebih kuat, lebih keras dan lebih rapuh. Produk cold rolling biasanya dalam bentuk gulungan atau coil dengan tebal lembaran antara 0.2-2.0 mm dan biasa disebut sebagai baja canai dingin atau colled roller coil steel (CRC).

Paper Manajemen Proyek Industri Ruang Lingkup dan Proses Metalurgi Tiin Zhakiah, 1206217345

Aplikasi dari baja ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan dengan spesifikasi dan pengaplikasian tertentu, seperti untuk automotif, peralatan listrik, peralatan rumah tangga, dsb. Sebagian besar dari produk hasil cold rolling merupakan produk antara yang tidak secara langsung dapat digunakan sehingga melibatkan proses lanjutan agar dapat menjadi produk akhir agar dapat difungsikan sesuai dengan spesifikasinya. Untuk menjadi produk akhir, produk cold rolling dibentuk dengan menggunakan proses forming seperti deep drawing, cold roll forming, bending, scretching, welding dan beberapa proses lainnya. Badan mobil merupakan contoh yang menggunakan kombinasi dari beragam teknologi pembentukan. Forging Forging dikenal sebagai proses di mana logam akan mengalami deformasi plastis dengan pengaturan suhu dan tekanan tertentu. Hal ini digunakan tidak hanya untuk mengubah bentuk daripada benda kerja, tetapi juga mengubah sifat logam itu sendiri karena akan termurnikan ukuran butirnya sehingga akan mengubah strukturnya. Forging atau biasa disebut juga sebagai proses penempaan adalah proses pembentukan logam untuk menghasilkan produk akhir dengan memberikan gaya tekan dengan laju pembebanan tertentu. Pada pembentukan ini, benda kerja ditekan dengan perkakas melalui beberapa tahapan. Berbagai parameter seperti kompleksitas bagian, gesekan antara die dan benda kerja, jenis press, die dan temperatur benda, serta bahan benda kerja akan mempengaruhi proses penempaan. Proses penempaan dapat dikatakan berhasil apabila rongga die benar-benar terisi dan stress pada benda kerja kurang dari stress ultimate sesuai dengan material benda kerja, dengan kekuatan minimum.

Paper Manajemen Proyek Industri Ruang Lingkup dan Proses Metalurgi Tiin Zhakiah, 1206217345

Gambar 5. Forging. Sumber: http://www.bestexengg.com/images/forging.jpg

Produk hasil penempaan memiliki struktur serat atau garis alir searah dengan kekuatan yang diinginkan. Garis alir proses tempa cenderung mengikuti pola bentuk luar benda tempanya. Pada umumnya proses tempa diaplikasikan untuk menghasilkan bentuk-bentuk yang tidak beraturan, dengan ukuran mulai dari yang kecil sampai besar. Operasi tempa pada umumnya dilakukan pada temperatur tinggi atau hot working, terutama untuk benda kerja ukuran besar. Sebagian operasi tempa lainnya dilakukan pada temperatur rendah atau cold working untuk benda kerja yang berukuran relatif kecil. Banyak logam yang ditempa pada suhu rendah (forged cold), tetapi besi dan paduannya hampir selalu ditempa pada suhu tinggi. Hal ini memiliki alasannya yaitu apabila work hardening tetap dilakukan, material yang keras seperti besi dan baja akan menjadi sangat sulit untuk dipadukan. Selain itu, baja dapat diperkuat dengan cara lain selain cold-working, sehingga akan lebih ekonomis untuk hot forging daripada heat treatment. Berdasarkan jenis cetakan yang digunakan, operasi penempaan biasanya diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: 1. Open die forging Open die forging adalah suatu proses penempaan yang dilakukan dengan cara meletakkan benda kerja diantara die yang berbentuk datar atau flat die yang berbentuk sederhana. Proses ini digunakan untuk produk yang berukuran besar dengan produktivitas yang rendah. Proses
8

Paper Manajemen Proyek Industri Ruang Lingkup dan Proses Metalurgi Tiin Zhakiah, 1206217345

penempaan jenis ini biasanya digunakan untuk memberikan bentuk awal pada benda kerja yang akan dilanjutkan dengan penempaan yang menggunakan closed die forging. 2. Closed die forging Closed die forging adalah operasi penempaan dengan menggunakan sepasang die block yang membentuk benda kerja yang diinginkan secara presisi. Karena dapat menghasillkan produk yang memiliki toleransi ukuran yang lebih presisi maka closed die forging umumnya diaplikasikan untuk benda kerja yang relatif kecil. Pada proses ini, volume benda kerja harus cukup untuk dapat mengisi seluruh rongga cetakan dengan sempurna. Namun, karena sulit untuk menentukan volume yang tepat, maka sering digunakan volume benda kerja yang relatif lebih besar sehingga tidak jarang terjadi kelebihan volume. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya aliran material secara lateral yang melebar ke luar rongga die dan membentuk pita logam tipis yang biasa disebut sirip atau flash. Flash berfungsi sebagai katup pengaman kelebihan logam pada rongga cetakan tertutup dan sebagai penghambat aliran logam sehingga terjadi tekanan yang tinggi untuk memastikan logam akan mengisi rongga cetakan yang masih kosong. Proteksi Korosi Proteksi katodik adalah perlindungan terhadap suatu logam dari serangan korosi. Proteksi katodik memanfaatkan konsep deret galvanis (mekanisme korosi galvanis) untuk melindungi logam. Proteksi korosi terhadap logam dapat dilakukan dengan mengubah potensial antar muka logam dengan lingkungannya. Secara elektrokimia, proteksi korosi dapat dikelompokkan menjadi proteksi katodik dan anodik. Pengendalian korosi metoda proteksi katodik dapat dilakukan dengan mengubah potensial antar muka logam dengan ionnya ke daerah immun dengan memberikan arus katodik. Penurunan potesial antar muka ke arah immun atau ke daerah yang lebih katodik dapat dilakukan dengan menghubungkan benda kerja dengan anoda korban dan impress current.

Paper Manajemen Proyek Industri Ruang Lingkup dan Proses Metalurgi Tiin Zhakiah, 1206217345

a. Proteksi katodik dengan metode anoda korban Penggunaan anoda korban untuk sistem pengendalian korosi dapat berbentuk lapisan di seluruh permukaan logam seperti pada baja yang digalvanisasi. Anoda yang digalvanisasi akan menyebabkan distribusi arus yang tidak merata pada permukaan logam yang dilindungi. Anoda yang digalvanisasi adalah logam-logam yang bersifat lebih anodik dari logam yang dilindungi. Logam yang lebih anodik memiliki sifat yang lebih mudah terkorosi. Logam yang digunakan sebagai anoda korban, memang sengaja dipasang untuk dikorbankan. Pemilihan anoda korban didasarkan pada konduktivitas lingkungan, kebutuhan potensial untuk mendistribusikan arus, kemudian adanta efek samping, dan masalah ekonomi. Keuntungan proteksi katodik anoda korban diantaranya adalah dapat digunakan tanpa membutuhkan energi listrik dari luar, hampir tidak memerlukan pengawasan, arus proteksi yang dihasilkan tidak pernah salah arah, instalasi relatif sederhana, serta penghubung anoda telah terlindungi secara katodik. Sementara itu kerugian dari proteksi katodik dengan anoda korban adalah arus yang tersedia terbatas, bergantung pada luas permukaan anoda, dan penghubung anoda yang digunakan cukup besar untuk mengurangi kehilangan energi akibat tahanan. b. Impress current Proteksi katodik melalui metoda arus yang dipaksakan atau impress current dapat dilakukan dengan cara menurunkan potensial antar muka logam ke daerah pasif dengan memberikan arus anodik. Pada proteksi ini dibutuhkan elektroda pembantu. Elektroda pembantu yang dapat digunakan adalah material atau bahan yang relatif inert ketika berfungsi sebagai anoda. Bahan yang umum diguanakan adalah grafit, baja rongsokan, timbal, dsb. Throwing power proteksi katodik dengan impress current ini jauh lebih besar daripada proteki katodik dengan menggunakan anoda korban. Dengan menggunakan satu anoda bantu dan dengan menggunakan potensial tinggi, pipa yang dilapis pelindung sepanjang 80 km dapat diproteksi dengan metoda ini.

10

Paper Manajemen Proyek Industri Ruang Lingkup dan Proses Metalurgi Tiin Zhakiah, 1206217345

Gambar 6. Impress current. Sumber: http://www.scribd.com/doc/87154200/Metode-Proteksi-Korosi

Keuntungan dari proteksi katodik dengan impress current adalah jika sumber tegangan cukup memadai, maka arus pelindung dapat ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan. Selain itu penghubung anoda tidak perlu besar karena kehilangan energi akibat tahanan dapat dikoreksi dengan meningkatkan potensial. Di sisi lain kekurangan dari penggunaan metode ini adalah harus adanya sumber listrik arus searah, tidak boleh ada kesalahan sirkuit atau arus salah arah, pemasangan atau perawatan yang membutuhkan teknisi atau pengawas yang banyak dan terlatih, penghubung anoda yang harus diisolasi secara sempurna dan tidak boleh menyerap air, serta harus dilengkapi dengan pelindung anoda. Selain pengendalian korosi dengan proteksi katodik, sistem juga dapat diproteksi secara anodik. Sistem proteksi anodik dapat dilakukan dengan cara menaikkan nilai potensial antar muka logam ke daerah pasif sehingga permukaan logam menjadi lebih anodik. Sistem ini hanya dapat dilakukan pada logam yang memiliki sifat aktif-pasif yaitu logam-logam yang mampu membentuk daerah korosi segi tiga dalam diagram potensial-pH. Proteksi anodik dapat dilakukan deengan dua cara, yaitu proteksi anodik elektrolitik dan proteksi anodik galvanik. a. Proteksi anodik galvanik Proteksi anodik galvanik dapat dilakukan dengan menambahkan logam-logam mulia seperti Pt, Ag, dan Cu sebagai bahan paduan ke dalam logam yang akan dilindungi atau sebagai pelapis pada benda kerja agar terbentuk permukaan pasif. Logam-logam mulia akan membentuk
11

Paper Manajemen Proyek Industri Ruang Lingkup dan Proses Metalurgi Tiin Zhakiah, 1206217345

daerah yang bersifat lebih katodik pada permukaan logam sehingga potensial antar muka logam dapat dinaikkan ke daerah pasif. b. Proteksi anodik elektrolitik Proteksi anodik elektrolitik didasarkan pada pembentukan lapisan tipis pasif pada permukaan logam yang bersifat mampu atau menghambat terjadinya korosi. Proteksi anodik dengan metode ini dilakukan dengan menaikkan potensial antar muka logam ke daerah pasif. Metode ini dapat dilakukan untuk mengendalikan korosi pada besi, baja, nikel, kromium dan paduan lainnya. Dengan menggunakan potensiostat, potensial antar muka logam yang dilindungi dapat diatur dengan akurasi yang tinggi sehingga logam berada pada daerah pasif.

Referensi: Sofyan, Bondan T. 2010. Pengantar Material Teknik. Jakarta: Salemba Teknika. Cathodic Protection. http://www.npl.co.uk/upload/pdf/cathodic_protection.pdf. Terakhir diakses pada 2 September 2013. Dasar-dasar Pengecoran Logam. http://repository.binus.ac.id/content/D0592/D059224472.doc. Terakhir diakses pada 2 September 2013. Forging. http://eng.sut.ac.th/metal/images/stories/pdf/02_Forging.pdf. Terakhir diakses pada 4 September 2013. Forging. http://portal.tpu.ru/SHARED/p/PRONINA/documents/files/f4.pdf. Terakhir diakses pada 4 September. Fundamentals of Cathodic Protection. http://www.nortoncorrosion.com/documents/cathodicprotection/Fundamentals-of-Cathodic-Protection.pdf. Terakhir diakses pada 2 September 2013. Metal Extrusion. http://thelibraryofmanufacturing.com/extrusion.html. Terakhir diakses pada 4 September 2013.

12

Paper Manajemen Proyek Industri Ruang Lingkup dan Proses Metalurgi Tiin Zhakiah, 1206217345

Rolling of Metals. http://mcise.uri.edu/vms/ISE%20240/Metal_Rolling.pdf. Terakhir diakses pada 2 Sepetember 2013. Metal Rolling. http://thelibraryofmanufacturing.com/metal_rolling.html. Terakhir diakses pada 2 September 2013.

13