Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tetanus adalah penyakit toksemia akut yang disebabkan oleh eksotoksin yang dapat larut dari Clostridium tetani. Biasanya toksin tersebut dihasilkan oleh bentuk vegetatif organisme tersebut pada terjadinya perlukaan selanjutnya diangkut serta difiksasi di dalam susunan syaraf pusat. Sedangkan Tetanus neonatum terjadi pada neonatus (bayi berusia 028 hari)dan menyerupai tetanus generalisata. Spora dari kuman masuki melalui pintu masuk satu-satunya ke tubuh bayi baru lahir, yaitu tali pusar. Peristiwa tersebut dapat terjadi pada saat pemotongan tali pusarketika bayi lahir maupun saat perawatannya sebelum puput. (DEPKES RI, 1993). Kasus tetanus banyak ditemukan di sejumlah negara tropis dan negara yang masih memiliki kondisi kesehatan rendah. Data organisasi kesehatan dunia (WHO) menunjukkan, kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih tinggi dibanding negara maju. Menurut laporan kerja WHO pada bulan April 1994, dari 8,1

juta kematian bayi di dunia, sekitar 48% adalah kematian neonatal. Dari seluruh kematian neonatal, sekitar 42% kematian neontal disebabkan oleh tetanus. Penyakit tetanus disebabkan oleh kuman klostridium tetani. Kuman ini banyak terdapat dalam kotoran hewan memamah biak seperti sapi, kuda, dan lain-lain sehingga luka yang tercemar dengan kotoran hewan sangat berbahaya bila kemasukan kuman tetanus. Tusukan paku yang berkarat sering juga membawa clostridium tetani kedalam luka lalu berkembang biak. Bayi yang baru lahir ketika tali pusarnya dipotong bila alat pemotong yang kurang bersih dapat juga kemasukan kuman tetanus Sebagai tenaga medis diharapkan bisa menginformasikan kepada mayarakat tentang pencegahan dan cara hidup sehat sebagai upaya pencegahan tetanus.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apakah definisi dari Tetanus? 2. Apa saja etiologi/faktor pencetus tetanus? 3. Bagaimana patofisiologi tetanus? 4. Apa saja manifestasi klinis tetanus? 5. Apa saja pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada klien dengan tetanus?

6. Bagaimana diagnosis, anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium / penunjang dari tetanus? 7. Bagaimana penatalaksanaan tetanus? 8. Apa saja komplikasi yang ditimbulkan tetanus? 9. Bagaimana prognosis klien yang menderita tetanus? 10. Bagaimana Web of caution tetanus? 11. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan tetanus?

1.3 Tujuan Tujuan Umum: Mengetahui konsep dan asuhan keperawatan pada tetanus. Tujuan Khusus: 1. Mengetahui definisi tetanus. 2. Mengetahui etiologi tetanus. 3. Menjelaskan patofisiologi tetanus 4. Menjelaskan Web of Caution tetanus 5. Mengidentifikasi manifestasi klinis klien dengan tetanus. 6. Mengetahui pemeriksaan diagnostik klien dengan tetanus. 7. Mengetahui diagnosa, anamnesis, pemeriksaan lab/penunjang dari tetanus 8. Menjelaskan penatalaksaan pada klien dengan tetanus. 9. Mengetahui komplikasi pada tetanus. 10. Mengetahui prognosis pada tetanus. 11. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan tetanus. 1.4 Manfaat a. Dapat digunakan sebagai acuan bagi penulis serta rekan perawat yang lain dalam praktik memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan tetanus di klinik. b. Dapat digunakan sebagai pedoman untuk memberikan penyuluhan pada masyarakat dengan tujuan menekan peningkatan jumlah pasien dengan penyakit Tetanus.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi Tetanus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani. Bakteri ini berbentuk batang, berspora,golongan gram positif, hidup anaerob. Bakteri ini mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik (tetanus spasmin) yang mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf tepi. Tetani didukung oleh adanya luka yang dalam dengan perawatan yang salah (Muttaqin, 2008) Tetanus adalah penyakit yang mematikan yang menimbulkan kejang yang kuat dan menyakitkan di punggung, lengan, tungkai, dan rahang sehingga juga disebut sebagai terkuncinya rahang(Satyanegara, 2006). Tetanus adalah keadaan otot yang kejang karena terus-menerus menerima rangsang. Penyakit tetanus disebabkan oleh Clostridium tetani, bakteri yang menghasilkan zat serupa asetilkolin sehingga otot terus terangsang untuk berkontraksi. Tatanus adalah suatu penyakit yang ditandai oleh spasme otot yang tidak terkendali akibat kerja neurotoksin kuat, yaitu tetanospasmin, yang dihasilkan bakteri Clostridium tetani. Penyakit ini sering kali fatal, terutama pada umur yang sangat muda atau usia lanjut, dan dapat dicegah dengan imunisasi (Muliawan, 2008). Penyakit tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin kuman Clostridium tetani, yang bermanifestasi klinis dengan kejang otot secara paroksimal.

2.2 Etiologi Penyakit tetanus disebabkan oleh kuman klostridium tetani. Kuman ini banyak terdapat dalam kotoran hewan memamah biak seperti sapi, kuda, dan lain-lain sehingga luka yang tercemar dengan kotoran hewan sangat berbahaya bila kemasukan kuman tetanus. Tusukan paku yang berkarat sering juga membawa clostridium tetani kedalam luka lalu berkembang biak. Bayi yang baru lahir ketika tali pusarnya dipotong bila alat pemotong yang kurang bersih dapat juga kemasukan kuman tetanus. Clostiridium tetani adalah kuman yang berbentuk batang seperti penabuh genderang berspora, golongan gram positif, hidup anaerob. Kuman ini mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik (tetanus spasmin), yang mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Timbulnya tetanus ini terutama oleh clostiridium tetani yang didukung oleh adanya luka yang dalam dengan perawatan yang salah.

Jenis Tetanus: a. Tetanus Generalisata Tetanus Generalisata merupakan bentuk paling umum dari tetanus yang ditandai dengan kontraksi otot tetanik dan hiperrefleksi,yangmengakibatkan trismus (rahang terkunci), spasme glotis, spasme ototumum, opistotonus, spasme respiratoris, serangan kejang dan paralisis.(Dorland, 2002) Bentuk ini merupakan gambaran tetanus yang paling sering dijumpai. Terjadinya bentuk ini berhubungan dengan luas dan dalamnya luka seperti luka bakar yang luas, luka tusuk yang dalam, furunkulosis, tetanus ekstraksi timbul gigi, secara

ulkus dekubitus dan suntikan hipodermis. Biasanya mendadak berupa kekakuan otot

baik bersifat menyeluruh rahang

ataupun hanya dan leher

sekelompok otot. Kekakuan otot

terutama pada

(trismus)

(kuduk kaku). Lima puluh persen penderita tetanus umum akan menuunjukkan trismus. Dalam 2448 jam dari kekakuan otot menjadi menyeluruh sampai ke ekstremitas. Kekakuan otot rahang terutama masseter menyebabkan mulut sukar dibuka, sehingga penyakit ini juga disebut 'Lock Jaw'. Selain kekakuan ototmasseter, pada muka juga terjadi kekakuan otot muka sehingga muka menyerupai muka meringis kesakitan yang disebut 'Rhisus Sardonicus' (alis tertarik ke atas,

sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi), akibat kekakuan otototot leher bagian belakang menyebabkan nyeri waktu melakukan fleksi leher dan tubuh sehingga memberikan gejala kuduk kaku sampai

opisthotonus. Selain kekakuan otot yang luas biasanya diikuti kejang umum tonik baik secara spontan maupun hanya dengan rangsangan minimal (rabaan, sinar dan bunyi). Kejang menyebabkan lengan fleksi dan adduksi serta tangan mengepal kuat dan kaki dalam posisi ekstensi. Kesadaran penderita tetap baik walaupun nyeri yang hebat serta ketakutan yang menonjol sehingga penderita nampak gelisah dan mudah terangsang. Spasme otototot laring dan otot pernapasan dapat menyebabkan gangguan menelan, asfiksia dan sianosis. Retensi urine sering terjadi karena spasme sphincter kandung kemih. Menurut berat ringannya tetanus umum dapat dibagi atas: 1) Tetanus ringan: trismus lebih dari 3 cm, tidak disertai kejang umum walaupun dirangsang. 2) Tetanus sedang: trismus kurang dari 3 cm dan disertai kejang umum

bila dirangsang. 3) Tetanus berat: trismus kurang dari 1 cm dan disertai kejang umum yang spontan. Cole dan Youngman (1969) membagi tetanus umum atas: Grade 1: ringan 1. Masa inkubasi lebih dari 14 hari 2. Period of onset > 6 hari 3. Trismus positif tetapi tidak berat 4. Sukar makan dan minum tetapi disfagia tidak ada. Lokalisasi kekakuan dekat dengan luka berupa spasme disekitar luka dan kekakuan umum terjadi beberapa jam atau hari. Grade II: sedang 1. Masa inkubasi 1014 hari 2. Period of onset 3 had atau kurang 3. Trismus ada dan disfagia ada. Kekakuan umum terjadi dalam beberapa hari tetapi dispnoe dan sianosis tidak ada. Grade III: berat 1. Masa inkubasi < 10 hari 2. Period of onset 3 hari atau kurang 3. Trismus berat 4. Disfagia berat. Kekakuan umum dan gangguan pernapasan asfiksia, ketakutan, keringat banyak dan takikardia. b. Tetanus Lokal Tetanus lokal termasuk jenis tetanus yang ringan dengan kedutan(twitching) otot lokal dan spasme kelompok otot didekat lokasi cidera,atau dapat memburuk menjadi bentuk umum (generalisata). (Dorland,2002) c. Tetanus Sefalik Tetanus sefalik merupakan bentuk yang jarang dari tetanus lokal,yang terjadi setelah trauma kepala atau infeksi telinga.Masainkubasinya 1-2 hari. Dijumpai trismus dan disfungsi satu atau lebihsaraf kranial, yang tersering adalah saraf ke-7. Dysphagia dan paralisisotot ekstraokular dapat terjadi. Mortalitasnya tinggi. (Aru W, 2004)

d. Tetanus NeonatorumTetanus neonatorum adalah suatu bentuk tetanus infeksius yang berat dan terjadi selama beberapa hari pertama setelah lahir, disebabkanoleh faktorfaktor seperti tindakan perawatan sisa tali pusat yang tidak higienis atau pada sirkulasi bayi laki-laki dan kekurangan imunisasimaternal. (Dorland, 2002)

2.3 Patofisiologi Clostridium tetani masuk ke dalam tubuh manusia biasanya melalui luka dalam bentuk spora. Penyakit akan muncul bila spora tumbuh menjadi bentuk vegetatif yang menghasilkan tetanospasmin pada keadaan tekanan oksigen rendah, nekrosis jaringan atau berkurangnya potensi oksigen. Masa inkubasi dan beratnya penyakit terutama ditentukan oleh kondisi luka. Beratnya penyakit terutama berhubungan dengan jumlah dan kecepatan produksi toksin serta jumlah toksin yang mencapai susunan saraf pusat. Faktor-faktor tersebut selain ditentukan oleh kondisi luka, mungkin juga ditentukan oleh strain Clostridium tetani. Pengetahuan tentang patofisiologi penyakit tetanus telah menarik perhatian para ahli Penyebaran toksin Toksin yang dikeluarkan oleh Clostridium tetani menyebar dengan berbagai cara, sebagai berikut : 1. Masuk ke dalam otot Toksin masuk ke dalam otot yang terletak dibawah atau sekitar luka, kemudian ke otototot sekitarnya dan seterusnya secara ascenden melalui sinap ke dalam susunan saraf pusat. 2. Penyebaran melalui sistem limfatik Toksin yang berada dalam jaringan akan secara cepat masuk ke dalam nodus limfatikus, selanjutnya melalui sistem limfatik masuk ke peredaran darah sistemik. 3. Penyebaran ke dalam pembuluh darah. Toksin masuk ke dalam pembuluh darah terutama melalui sistem limfatik, namun dapat pula melalui sistem kapiler di sekitar luka. Penyebaran melalui pembuluh darah merupakan cara yang penting sekalipun tidak menentukan beratnya penyakit. Pada manusia sebagian besar toksin diabsorbsi ke dalam pembuluh darah, sehingga memungkinkan untuk dinetralisasi atau ditahan dengan pemberian antitoksin dengan dosis optimal yang diberikan secara intravena. Toksin tidak masuk ke dalam susunan saraf pusat melalui peredaran darah karena sulit untuk menembus sawar otak. Sesuatu hal yang sangat penting adalah toksin bisa menyebar ke otot-otot lain bahkan ke organ

lain melalui peredaran darah, sehingga secara tidak langsung meningkatkan transport toksin ke dalam susunan saraf pusat. 4. Toksin masuk ke susunan saraf pusat (SSP) Toksin masuk kedalam SSP dengan penyebaran melalui serabut saraf, secara retrograd toksin mencapai SSP melalui sistem saraf motorik, sensorik dan autonom. Toksin yang mencapai kornu anterior medula spinalis atau nukleus motorik batang otak kemudian bergabung dengan reseptor presinaptik dan saraf inhibitor.

2.4 Manifestasi Klinis a. Gejala-gejala biasanya muncul dalam waktu 5 10 hari setelah terinfeksi, tetapi bisa juga timbul dalam waktu 2 hari atau 50 hari setelah terinfeksi. b. Gejala yang paling sering ditemukan adalah kekakuan rahang dan sulit dibuka (trismus) karena yang pertama terserang adalah otot rahang. c. Selanjutnya muncul gejala lain berupa gelisah, gangguan menelan, sakit kepala, demam, nyeri tenggorokan, menggigil, kejang otot dan kaku kuduk, lengan serta tungkai. d. Kejang pada otot-otot wajah menyebabkan ekspresi penderita seperti menyeringai (risus sardonikus) dengan kedua alis yang terangkat. e. Kekakuan atau kejang otot-otot perut, leher dan punggung bisa menyebabkan kepala dan tumit penderita tertarik ke belakang sedangkan badannya melengkung ke depan yang disebut epistotonus. f. Kejang pada otot sfingter perut bagian bawah bisa menyebabkan retensi urin dan konstipasi. g. Gangguan-gangguan yang ringan, seperti suara berisik, aliran angin atau goncangan, bisa memicu kekejangan otot yang disertai nyeri dan keringat yang berlebihan. h. Selama kejang penderita tidak dapat berbicara karena otot dadanya kaku atau terjadi kejang tenggorokan sehingga terjadi kekurangan oksigen yang menyebabkan gangguan pernafasan. Biasanya tidak terjadi demam. Laju pernafasan dan denyut jantung serta refleks-refleks biasanya meningkat. Tetanus juga bisa terbatas pada sekelompok otot di sekitar luka. Kejang di sekitar luka ini bisa menetap selama beberapa minggu. i. Trismus atau kondisi sulitnya membuka mulut karena spasme otot-otot mastikatoris. j. Kaku kuduk sampai epistotonus akibat ketegangan otot-otot erector trunkl. k. Otot dinding perut tegang.

l. Risus sardonikus akibat spasme otot muka atau alis tertarik ke atas, sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah, sedangkan bibir tertekan kuat pada gigi, m. Sulit menelan, gelisah, mudah terangsang, nyeri pada anggota badan. n. Badan dan lengan kaku, sampai tangan mengepal kuat. Terkadang terjadi perdarahan intramusculus akibat kontraksi yang kuat. o. Suhu badan tidak tinggi dan dialami pada stadium akhir. p. Biasanya terdapat leukositosis ringan dan terkadang peninggian tekanan cairan otak.

2.5 Pemeriksaan Diagnostik 1. Anamnesis a. Lokasi luka b. Penyebab luka (pernah terkena karat, jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor, dan jatuh di jalan dekat kotoran kuda, hobi yang berhubungan dengan kuda atau kotoran kuda) c. Luka sebelumnya (ada otitis media, karies gigi) d. Pernah diberi ATS/toxoid dan semacamnya 2. Amati gejala2 yang tampak (misanya sakit saat menelan, sulit bernapas, sulit atau tidak dapat berkemih, dan lainnya) 3. Pemeriksaan labolatorium: 1. Biasanya terdapat leukositosis ringan 2. Kadang-kadang terjadi peningkatan TIK 3. Pada pemeriksaan bekteriologis (kultur jaringan) didaerah luka ditemukan Clostridium tetani 4. Diagnosis tetanus ditegakkan berdasarkan : a. Riwayat adanya luka yang sesuai dengan masa inkubasi b. Gejala klinis; dan c. Penderita biasanya belum mendapatkan imunisasi. 5. Pemeriksaan mikrobiologi, bahan diambil dari luka berupa pus atau jaringan nekrotis kemudian dibiakkan pada kultur agar darah atau kaldu daging. Tetapi pemeriksaan mikrobiologi hanya pada 30% kasus ditemukan Clostridium Tetani. 6. Pemeriksaan cairan serebrospinalis dalam batas normal, walaupun kadang kadang didapatkan tekanan meningkat akibat kontraksi otot. 7. Pemeriksaan elektroensefalogram adalah normal dan pada pemeriksaan elektromiografi hasilnya tidak spesifik.

2.6 Penatalaksanaan Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut. 1. Imunisasi aktif dengan pemberian DPT, booster dose (untuk balita),terjadi luka lagi booster ulang. 2. Imunisasi pasif, pemberian ATS PROFILAKSIS 1.500-4.500 UI (dapat bertahan 7-10 hari). Pemberian imunisasi ini sering menyebabkan syok anafilaksis sehingga harus dilakukan skin test terlebih dahulu. Jika pada lokasi skin test tidak terjadi kemerahan, gatal,dan pembengkaakn maka imunisasi dapat di ijeksikan, anak-anak diberikan setengah dosis (750-1.250 UI). Hypertet 250 UI dan dosis untuk anak-anak diberikan setengah (125 UI) bila tidak tahan ATS. 3. Penceegahan pada luka, toiletisasi (pemberian luka) memakai Perhidrol (hydrogen peroksida-H2O2), debridemen, bolas dengan NaCl, dan jahit. 4. Injeksi penisilin ( terhadap basil anaerob dan basil simbiosis).

Pengobatan tetanus Berdasarkan pathogenesis, prinsip terapi ditujukan apada adanya toksin yang beredar di sirkulasi darah dan adanya basil di tempat luka. Adanya stimulus yang diterima saraf aferen dan adanya serabut motorik yang menimbulkan spasme dan kejang (kendarto,2001).

Rincian terapi 1. Untuk menetralisir toksin, berikan ATS secara IV 100.000-200,000 UI atau HyperTet 3.000-6.000 UI. 2. Di sekitar luka berikan ATS 10.000 UI secara IM. 3. Setiap hari berikan ATS 10.000 UI secra IM di daerah gluteal sampai gejala hilang. 4. Untuk membunuh basil di tempat luka, injeksikan penisilin 10-20 juta UI secara IV. 5. Untuk mengurangi stimulus, isolasi klien di tempat tenag dan tertutup, berikan obatobat sedatif: luminat, largaktil, lytiskoksil (campuran Phenergen, Phetidin/Luminal, Largaktil IV; untuk anak-anak obat-obatan tersebut tidak boleh dicampur, karena terjadi koagulasi. Jadi pemberian injeksi dilakukan secara terpisah. 6. Untuk menghilangkan gejala kejang, berikan muscle relaxan, injeksi valium 10 mg IV setiap hari sampai kejang hilang. Jika terjadi kejang hebat, diberikan kurare untuk melumpuhkan otot-otot yang kejang.

7. Luka-luka terbuka pada tetanus boleh dilakukan debridement satu jam setelah seroterapi ( suntikan ATS) dengan anastesi pentotal, dibersihkan dengan perhidrol, luka tetap dibiarkan terbuka dan jangan dibalut agar keadaan luka tetap aerob. 8. Pemberian makanan dengan NGT. 9. Jika perlu pda saat sesak lakukan trakeostomi. 10. Pasang kateter Dower.

2.7 Komplikasi Komplikasi pada tetanus yaang sering dijumpai: laringospasm, kekakuan otot-otot pematasan atau terjadinya akumulasi sekresi berupa pneumonia dan atelektase serta kompressi fraktur vertebra dan laserasi rhabdomyolisis dan renal failure. lidah akibat kejang. Selain itu bisa terjadi

2.8 Prognosis Penyembuhan tetanus terjadi melalui regenerasi sinapsis dalam medulla spinalis dan dengan demikian pengembalian relaksasi otot. Namun, karena episode tetanus tidak berakinat produksi antibodi penetralisasi toksin, imunisasi aktif dengan tetanus toksoid pada pemulangan dengan pemberian penyempurnaan sesi pertamanya adalah suatu keharusan. Faktor yang memperngaruhi hasil akhir yang paling penting adalah kualitas perawatan pendukung. Mortalitas paling tinggi pada anak muda dan pada orang yang amat tua. Prognosis yang tidak baik dihubungkan dengan antara jejas dan mulainya trismus seminggu atau kurang dan dengan tiga hari atau kurang antara trismus dan spasme tetanus menyeluruh. Sekuele jejasotakhipoksik, terutama pada bayi, adalah serebral palsi, kemampuan mental yang menurun dan kesukaran prilaku. Kebanyakan kematian terjadi dalam seminggu sakit. Angka kematian kasus yang dilaporkan untuk tetanus menyeluruh berkisar antara 5% dan 35% dan untuk tetanus neonatorum meluas dari 10% dengan penanganan perawatan intensif sampai >75% tanpa perawatan tersebut. Tetanus sefalik terutama mempunyai prognosis jelek karena kesukaran pernapasan dan pemberian makan. Prognosis tetanus diklassikasikan dari tingkat keganasannya, dimana : 1. Ringan; bila tidak adanya kejang umum ( generalized spsm ) 2. Sedang; bila sekali muncul kejang umum 3. Berat ; bila kejang umum yang berat sering terjadi. Masa inkubasi neonatal tetanus berkisar antara 3 -14 hari, tetapi bisa lebih pendek atau pun lebih panjang. Berat ringannya penyakit juga tergantung pada lamanya masa

inkubasi, makin pendek masa inkubasi biasanya prognosa makin jelek. Prognosa tetanus neonatal jelek bila: 1. Umur bayi kurang dari 7 hari 2. Masa inkubasi 7 hari atau kurang 3. Periode timbulnya gejala kurang dari 18 ,jam 4. Dijumpai muscular spasm. (1,6.8,10,12,13) Case Fatality Rate ( CFR) tetanus berkisar 44-55%, sedangkan tetanus neonatorum > 60%. (1,2)

2.9 WOC (Web of Caution)

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian 1. Identitas Klien a. Nama b. Umur : :

c. Jenis Kelamin : d. Status e. Pekerjaan f. Alamat g. Suku : : : :

2.

Keluhan Utama Keluhan utama yang sering menjadi alasan kien atau orang tua membawa anaknya untuk meminta pertolongan kesehatan adalah panas badan tinggi, kejang, dan penurunan tingkat kesadaran.

3.

Riwayat Kesehatan Dahulu Pengkajian penyakit yang pernah di alami klien yang memungkinkan adanya hubungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernah kah klien mengalami tubuh terluka dan luka tusuk yang dalam misalnya tertusuk paku, pecahan kaca, terkenaa kaleng, atau luka yang menjadi kotor; karena terjatuh di tempat yang kotor dan terluka atau kecelakaan dan timbul luka yang tertutup debu/kotoran juga luka bakar dan patah tulang terbuka. Adakah porte dentree lainnya misalnya luka gores yang ringan kemudian menjadi bernanah atau gigi berlubang yang dikorek dengan benda yang kotor.

4.

Riwayat Kesehatan Sekarang Faktor riwayat penyakit sangat penting di ketahui karena untuk mengetahui predisposisi penyebab sumber luka. Disini harus di tanya dengan jelas tentang

gejala yang timbul seperti kapan mulai serangan, sembuh, atau bertambah buruk. Keluhan kejang perlu mendapat perhatian untuk dilakukan pengkajian lebih mendalam, bagaimana sifat timbulnya kejang, stimulus apa yang sering menimbulkan kejang, dan tindakan apa yang telah di berikan dalam upaya menurunkan keluhan kejang tersebut. Adanya penurunan atau perubahan pada tingkat kesadaran di hubungkan dengan toksin tetanus yang mengimplamasi jaringan otak. Keluhan perubahan perilaku juga umum terjadi. Sesuai perkembangan penyakit, dapat terjadi letargi, tidak responsif, dan koma.

5.

Riwayat Penyakit Keluarga Secara patologi peritonitis tidak diturunkan, namun jika peritonitis ini disebabkan oleh bakterial primer, seperti: Tubercolosis. Maka kemungkinan diturunkan ada

6. Riwayat Psikososial Pengkajian mekanisme koping yang di gunakan klien juga penting untuk menilai respon emosi klien terhadap penyakit yang di derita; Perubahan peran klien dalam keluarga dan mesyarakat saat sakit; serta respon atau pengaruh dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga atau masyarakat. Mengkaji dapak dampak yang timbul pada klien, seperti timbul perasaan takut akan kecacatan, rasa cemas, rasa tidak mampu untuk melakukan aktifitas secara optimal dan normal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh). Karena klien harus menjalani rawat inap maka apakah keadaan ini memberi dampak pada ststus ekonomi klien, karena biaya perawatan dan pengobatan memerlukan dana yang tidak sedikit. Untuk pengkajian pada klien anak yang perlu diperhatikan adalah dampak hospitalisasi. Anak dengan infeksi tetanus sangat rentan terhadap tindakan invasif yang sering dilakukan untuk mengurangi keluhan, hal ini memberi dampak stress pada anak dan menyababkan anak kurang kooperatif terhadap tindakan keperwatan dan medis.

Pengkajian psiko-sosial yang terbaik di laksanakan saat obsefasi anak anak bermain atau selama berinteraksi dengan orang tua. Anak-anak sering kali tidak mampu mengekspresikan perasaan mereka dan cenderum memperlihatkan masalah mereka melalui tingkah laku.

7. Pemeriksan fisik a. Sistem pernafasan (B1 Breathing) Inspeksi apakah klien batuk, prodoksi sputum, sesak nafas, penggunaan otot bantu nafas, dan peningkatan frekuensi pernafasan yang sering didapatkan pada klien tetanus yang disertai adanya ketidak efektifan bersihan jalan nafas. Palpasi thorak didapatkan taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi bunyi nafas tambahan seperti ronkhi pada klien dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk yang meurun. b. Sistem kardiovaskuler (B2 Blood) Pengkajian pada sistem kardiovaskuler didapatkan syok hipovelemik yang sering terjadi pada klien tetanus. TD biasnya normal, peningkatan heart rate, adanya anemis karena adanya hancurnya eritrosit. c. Sistem Persarafan (B3 Brain) Pengkajian B3 merupakan pemriksaan fokus dan lebih lengkap di bandingkan pengkajian pada sistem lainnya. d. Sistem Perkemihan (B4 Bladder) Penurunan volume haluaran urin berhubungan dengan penurunan perpusi dan penurunan curah jantung ke ginjal. Adanya retensi urin karena kejang umum. Pada klien yang sering kejang sebaiknya pengeluaran urine dengan menggunakan kateter. e. Sistem Pencernaan (B5 Bowel) Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam lambung. Pemenuhan nutrisi pada klien tetanus menurun karena anoreksia dan adanya kejang, kaku dinding perut (perut papan) merupakan tanda khas dari tetanus. Adanya spasme otot menyebabkan kesulitan BAB f. Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6 Bone)

Adanya kejang umum sehingga mengganggu mobilitas klien dan menurunkan aktivitas sehari-hari. Perlu dikaji apabila klien mengalami patah tulang terbuka yang memungkinkan adanya por de entre kuman Clostridium tetani , sehingga memerlukan perawatan luka yang optimal. Adanya kejang memberikan resiko pada praktur pertibra pada bayi, ketegangan, dan spasme otot pada abdomen.

8.

Pemeriksaan Fungsi serebri

Status mental: obsevasi penampilan klien dan tingkah lakunya, nilai gaya bicara klien dan observasi ekspresi wajah dan aktifitas motorik yang pada klien tetanus tahap lanjut biasanya status mental klien mengalami perubahan.

9. Pemeriksaan saraf kranial a. Saraf I. Biasanya pada klien tetanus tidak ada kelainan dan fungsi penciuman tidak ada kelainan. b. Saraf II. Tes ketajaman pengelihatan pada kondisi normal c. Saraf III,IV,VI. Dengan alasan yang tidak di ketahui, klien tetanus mengeluh mengalami fotophobia atau sensitif yang berlebihan terhadap cahaya. Respons kejang umum akibat stimulus rangsang cahaya perlu di perhatikan perawat untuk memberikan intervensi menurunkan stimulus cahaya tersebut. d. Saraf V. Refleks masester meningkat. Mulut mencucu (ini adalah gejala khas pada tetanus). e. Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah simetris. f. Saraf VIII. Tidak di temukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi g. Saraf IX dan X. Kemampuan menelan kurang baik, kesukaran membuka mulut (trismus). h. Saraf XI. Di dapatkan kaku kuduk. Ketegangan otot rahang dan leher (mendadak) i. Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada pasikulasi. Indra pengecapan normal.

10. Pemeriksaan Sistem motorik Kekuatan otot menurun, control keseimbangan dan kordinasi pada tetanus tahap lanjut mengalami perubahan.

11. Pemeriksaan reflek Pemeriksaan reflek dalam, pengetukan pada tendon, ligamentum, atau periusteum derajat reflek pada respon normal.

12. Pengkajian Gerakan involunter Tidak ditemukan adanya tremor, Tic dan distonia. Pada keadaan tertentu klien mengalami kejang umum, terutama pada anak yang tetanus disertai peningkatan suhu tubuh yang tinggi. Kejang berhubungan sekunder akibat area fokal kortikal yang peka.

13. Pemeriksaan Sistem sensori Pemeriksaan sensorik pada tetanus biasanya di dapatkan perasaan raba normal, perasaan nyeri normal. Perasaan suhu normal. Tidak ada perasaan abnormal di permukaan tubuh. Perasaan proprioseftif normal dan perasaan diskriminatif normal.

3.2 Analisa Data A. Data subjektif Pada pasien yang mengalami tetanus mengatakan terasa nyeri dan sakit pada derah luka dan rahang, demam, tidak tahu akan sakit yang sedang dialami, dan merasa lemas serta merasa panas meningkat. B. Data objektif Data obyektif ditemukan: Terjadinya peningkatan tekan darah Nyeri pada otot Terjadi peningkatan tonus otot Biasanya pasien lemah

Tampak gelisah Pergerakan terbatas. Dalam bergerak dibantu Tampak pucat. Tampak lemah Biasanya pasien menahan nyeri Nafsu makan berkurang Kesadaran menurun Nadi kuat dan cepat Penurunan fungsi ginjal dengan nilai keratinin jauh dari normal Teraba perut terasa keras seperti papan Mengatakan sakit pada daaerah rahang Badan tampak kaku, mulut mecucu Etiologi Invasi kuman ke MK otot Bersihan jalan nafas tidak efektif

No Symptom 1. DS :

Klien mengatakan bergaris terasa sakit dan Otot pernafasan

pega-pegal seLuruh tubuh. Klien mengatakan terserang/spasme laring tidak bisa atau sulit menelan Rangsangan air liur/sekresi DO : Sekresi pada mulut (++) Posisi dengan diikat terlentang tangan Kekakuan pada mulut dan lidah ++

Pernafasan spontan dan ngorok RR 24 x/ menit Sulit menelan

Jalan nafas tidak efektif (aspiksia) Gangguan Menelan

Nutrisi yang masuk tidak adekuat 2 DS : Kekakuan pada mulut dan Ketidakseimbangan nutrisi kurang tubuh dari kebutuhan

Klien mengatakan lidah tidak bisa atau sulit menelan

Klien mengatakan Sulit menelan lemas

DO : Sekresi pada mulut Jalan nafas tidak efektif (++) (aspiksia) Pernafasan spontan Gangguan Menelan dan ngorok RR 24 x/ menit Nutrisi yang masuk tidak adekuat 3. DS: Klien mengatakan Invasi kuman ke otot sakit pada daerah tulang rahang Klien terlihat Luka terinfeksi Nyeri akut

menahan nyeri DO: Nadi meningkat Nyeri

Muka

tampak

pucat, dan gelisah 4. DS: Klien mengatakan sakit pada luka DO: Nadi meningkat Muka tampak Resiko infeksi Luka terinfeksi Invasi kuman ke otot Resiko infeksi

pucat, dan gelisah 5. DS: DO: Terjadi peningkatan tonus otot Pergerakan terbatas Teraba perut terasa keras seperti papan Badan kaku Terlihat sering

Invasi bergaris

kuman

ke

otot Resiko cedera

Kerusakan Muskuluskletal dan neuromuscular

peningkatan

koordinasi

tampak otot

terjadi kejang otot

Badan kejang

menjadi

kaku,

Resiko cedera

mengganggu klien dan

mobilitas menurunkan

aktivitas sehari-hari

Gangguan mobilitas fisik 6. DS: Klien mengatakan Kerusakan Muskuluskletal Gangguan mobilitas fisik sering lemas DO: Terjadi peningkatan tonus peningkatan otot Pergerakan terbatas Teraba perut terasa Badan keras seperti papan Badan kaku Terlihat sering mengganggu klien dan mobilitas menurunkan tampak kejang menjadi kaku, otot koordinasi dan neuromuscular

terjadi kejang otot

aktivitas sehari-hari

Gangguan mobilitas fisik

3.3 Diagnosa Keperawatan 1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekresi sekrit akibat kerusakan otot-otot menelan. 2. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri 3. Risiko cedera berhubungan dengan peningkatan koordinasi otot (kejang), irritabilitas

4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakanmuskuluskletal dan neuromuscular 5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan reflek menelan, intake tidak adekuat 6. Risiko infeksi b.d imunitas tubuh primer, prosedur invasive

3.3 Intervensi dan Rasional Diagnosa keperawatan: Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekresi sekrit akibat kerusakan otot-otot menelan Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan status respirasi terjadi kepatenan jalan nafas. Kriteria hasil : 1. Pasien tidak sesak nafas, 2. Auskultasi suara paru bersih, 3. Tanda vital normal Intervensi Mandiri Rasional

1. Pantau fungsi paru, adanya bunyi napas 1. Membantu tambahan, kedalaman, perubahan penggunaan irama dan

dan

mengatasi

komplikasi pontensial. Pengkajian fungsi pernapasan dengan interval yang teratur adalah penting karena pernapasan yang tidak efektif dan adanya kegagalan , karena adanya kelemahan atau paralisa pada otot otot interkostal dan diafragma yang berkembang dengan cepat

otot-otot

aksesori, warna, dan kekentalan sputum.

2. Atur posisi fowler dan semifowler

2. Peninggian kepala tempat tidur memudahkan pernapasan,

meningkatkan ekspansi dada, dan meningkatkan batuk lebih efektif.

3. Ajarkan cara batuk efektif

3. Klien berada pada risiko tinggi bila tidak dapat batuk efektif untuk membersihkan jalan napas dan mengalami kesulitan dalam

menelan, yang dapat menyebabkan aspirasi saliva, dan mencetuskan gagal napas akut 4. Lakukan fisioterapi dada, vibrasi dada 4. Terapi fisik dada membantu

meningkatkan batuk lebih efektif. 5. Penuhi hidrasi cairan via oral seperti 5. Pemenuhan minum air putih dan pertahankan intake cairan sesuai dengan kebutuhan kondisi klien cairan dapat

mengencerkan mucus yang kental dan dapat membantu pemenuhan cairan yang banyak keluar dari tubuh.

6. Lakukan napas

pengisapan

lendir

di jalan 6. Pengisapan mungkin diperlukan untuk mempertahankan kepateanan jalan napas menjadi bersihn napas

7. Berikan oksigen sesuai klinis

7. Pemenuhan oksigen terutama pada klien tetanus dengan laju

metabolism yang tinggi.

Diagnosa keperawatan : Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri

Tujuan : Setelah dilakukan Asuhan keperawatan tingkat kenyamanan klien meningkat Kriteria hasil : 1. Klien mengatakan nyeri berkurang dg scala 2-3 2. Ekspresi wajah tenang 3. Klien dapat istirahat dan tidur 4. Tanda vital normal Intervensi Rasional

Mandiri 1. Pantau nyeri secara komprehensif termasuk durasi, lokasi, frekuensi, karakteristik, kualitas dan 1. Membantu dan mengatasi komplikasi pontensial.

faktor presipitasi. 2. Gunakan terapeutik pengalaman sebelumnya 3. Kontrol faktor lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan. 4. Pilih dan lakukan penanganan nyeri farmakologis). 5. Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll) untuk 5. Tindakan yang efektif dapat (farmakologis/non 4. Tindakan yang efektif dapat 3. Lingkungan mempengaruhi tingakt teknik untuk nyeri komunikasi mengetahui klien 2. Komunikasi yang baik dapat membantu berkomunikasi dengan pasien

kenyamanan pasien

mempercepat penyembuhan

mempercepat penyembuhan

mengatasi nyeri..

Kolaborasi 6. Berikan analgetik untuk 6. Analgesik berfungsi menurunkan nyeri

mengurangi nyeri 7. Kolaborasi dengan dokter bila ada komplain tentang pemberian 7. Mengurangi nyeri

analgetik tidak berhasil. 8. Tentukan analgetik pilihan, rute pemberian dan dosis optimal. 9. MonitoringTTV 10. Berikan analgetik tepat terutama saat nyeri muncul. 11. Evaluasi efektifitas analgetik, 11. Menentukan apakah diteruskan atau waktu 8. Analgesik yang tepat memberikan efek yang cepat 9. Mengetahui tingkat nyeri 10. Menurunkan nyeri

tanda dan gejala efek samping.

tidak penggunaan analgetik tersebut

Diagnosa Keperawatan: Risiko cedera berhubungan dengan peningkatan koordinasi otot (kejang), irritabilitas Tujuan: Menghindari klien pada resiko cedera (Terutama saat terjadi kejang) Kriteria hasil: Klien tidak mengalami cedera apabila kejang berulang ada. Intervensi Mandiri 1. Monitor kejang pada tangan, kaki, mulut, 1. dan otot otot muka lainnya. Gambaran tribalitas sistem evaluasi Rasionalisasi

syaraf pusat

memerlukan

yang sesuai dengan intervensi yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi 2. Persiapkan lingkungan yang aman seperti 2. Melindungi klien bila kejang batasan ranjang, papan pengaman, dan alat terjadi. suction selalu berada dekat klien.

3. Pertahankan bedrest total selama fase akut

3.Mengurangi

resiko

jatuh/terluka

jika vertigo, sincope, dan ataksia terjadi.

Kolaborasi 4. Pemberian terapi : diazepam, Phenobarbital 4.Untuk mencegah atau mengurangi kejang Catatan : Phenobarbital dapat

menyebabkan respiratorius depresi

dan sedasi.

Diagnosa keperawatan : Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan muskuluskletal dan neuromuscular Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan terjadi peningkatan mobilisasi Kriteria hasil : 1. Skala ketergantungan klien meningkat menjadi bantuan minimal 2. Tidak terjadi gangguan integritas kulit 3. Fungsi bowell dan bladder optimal serta peningkatan kemampuan fisik Intervensi Rasional

1. Pantau

kemampuan

fisik

dan 1. Mengidentifikasi

fungsi

dan

kerusakan yang terjadi.

menentukan pilihan intervensi.

2. Pantau tingkat imobilisasi, gunakan 2. Tingkat ketergantungan minimal care skala tingkat ketergantungan. (hanya memerlukan bantuan minimal), partial care(memerlukan bantuan

sebagian), dan total care (memerlukan bantuan total dari perawat dan klien yang memerlukan pengawasan khusus karena resiko cedera yang tinggi). 3. Berikan perubhan posisi yang teratur 3. Perubahan pada klien, posisi teratur dapat

mendistribusikan berat badan secara menyeluruh peredaran dekubitus. dan darah serta memfasilitasi mencegah

4. Pertahankan body aligment adekuat, 4. Mencegah terjadinya kontraktur atau berikan latihan ROM pasif jika klien footdrop serta dapat mempercepat

sudah bebas panas dan kejang. 5. Berikan adekuat, perawatan lakukan kulit masase,

pengembalian fungsi tubuh nantinya secara 5. Memfasilitasi sirkulasi dan mencegah ganti gangguan integritas kulit.

pakaian klien dengan bahan linen dan pertahankan keadaan kering 6. Berikan perawatan mata, bersihkan 6. Melindungi mata dari kerusakan akibat mata dan tutup dengan kapas yang basah sesekali. terbukanya mata terus menerus. tempat tidur dalam

Diagnosa keperawatan : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan reflek menelan, intake kurang Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan terjadi peningkatan status nutrisi Kriteria hasil : 1. Mengkonsumsi nutrisi yang adekuat. 2. Identifikasi kebutuhan nutrisi 3. Bebas dari tanda malnutrisi. 4. Albumin meningkat Intervensi Mandiri 1. Pantau kebiasaan makan klien dan 1. Menentukan makanan pa ayang disukai makanan kesukaannya klien Rasional

2. Auskultasi bising usus, catat bunyi 2. Meskipun bising usus sering tak ada, tak ada/ hiperaktif inflamasi/iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorpsi air dan diare 3. Ukur lingkar abdomen 3. Memberikan bukti kuantitas perubahan distensi gaster/usus dan atau akumulasi asites 4. Kehilangan/peningkatan 4. Timbang berat badan dengan teratur dini

menunjukkan perubahan hidrasi tetapi

kehilangan lanjut diduga ada defisit nutrisi 5. Berikan lingkungan yang nyaman dan 5. Lingkungan tenang untuk mendukung makan yang nyaman

meningkatkan nafsu makan

6. Kaji kebutuhan untuk pemasangan 6. Meningkatkan status nutrisi klien NGT

Kolaborasi 1. Awasi BUN, protein, albumin, 1. Menunjukan fungsi organ dan

gluksa, keseimbangan nitrogen sesuai indikasi 2. Tambahkan diet sesuai toleransi, 2. contoh cairan jernih sampai lembut 3. Berikan indikasi hiperalimentasi sesuai 3.

status/kebutuhan nutrisi

Kemajuan diet yang hati-hati saat mesukan nutrisi dimulai lagi

menurunkan risiko iritasi gaster Meningkatkan penggunaan nutrien dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tidak mampu

mengasimilasi nutrien dengan normal

Diagnosa keperawatan : Risiko infeksi b.d imunitas tubuh primer, prosedur invasive Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan tidak terjadi infeksi Kriteria hasil : 1. Bebas dari tanda dangejala infeksi. 2. Keluarga tahu tanda-tanda infeksi. 3. Angka leukosit normal

Intervensi 1. 2. Batasi pengunjung.

Rasional 1. Mengurangi agen infeksi

Bersihkan lingkungan pasien secara 2. Mengurangi agen infeksi benar setiap setelah digunakan

pasien. 3. Cuci tangan sebelum dan sesudah 3. Cuci tangan dapat membunuh kuman merawat pasien, dan ajari cuci penyebab infeksi tangan yang benar. 4. Pastikan teknik perawatan luka yang 4. Mengurangi resiko infeksi sesuai jika ada. 5. 6. Tingkatkan intake gizi yang cukup. Tingkatkan cukup. 7. 8. Anjurkan klien istirahat. 7. Menghindari kelelahan intake cairan 5. Gizi yang baik dapat mencegah infeksi

yang 6. Mencegah infeksi

Berikan terapi antibiotik yang sesuai, 8. Antibiotik berperan dalam membunuh dan anjurkan untuk minum sesuai kuman aturan.

9.

Ajari keluarga cara menghindari 9.

Memberikan

pengetahuan

untuk

infeksi serta tentang tanda dan gejala mengurangi resiko infeksi infeksi dan segera untuk melaporkan keperawat 10. Pastikan penanganan aseptic semua 10. Mengurangi resiko infeksi daerah IV (intra vena). 11. Monitor tanda dan gejala infeksi. 11. Mencegah komplikasi dari infeksi

3.5 Evaluasi 1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekresi sekrit akibat kerusakan otot-otot menelan. 2. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri 3. Risiko cedera berhubungan dengan peningkatan koordinasi otot (kejang), irritabilitas 4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakanmuskuluskletal dan neuromuscular

5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan reflek menelan, intake tidak adekuat 6. Risiko infeksi b.d imunitas tubuh primer, prosedur invasive

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Tetanus adalah penyakit toksemia akut yang disebabkan oleh eksotoksin yang dapat larut dari Clostridium tetani. Biasanya toksin tersebut dihasilkan oleh bentuk vegetatif organisme tersebut pada terjadinya perlukaan selanjutnya diangkut serta difiksasi di dalam susunan syaraf pusat. Sedangkan Tetanus neonatum terjadi pada neonatus (bayi berusia 0-28 hari)dan menyerupai tetanus generalisata. Spora dari kuman masuki melalui pintu masuk satu-satunya ke tubuh bayi baru lahir, yaitu tali pusar. Peristiwa tersebut dapat terjadi pada saat pemotongan tali pusarketika bayi lahir maupun saat perawatannya sebelum puput. (DEPKES RI, 1993). Sebagai tenaga medis diharapkan bisa menginformasikan kepada mayarakat tentang pencegahan dan cara hidup sehat sebagai upaya pencegahan tetanus.

4.2 Saran Penulis berharap mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya serta buku ini dapat menjadi referensi untuk pembuatan makalah selanjutnya.

Daftar Pustaka

Fransisca. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dgn Gangguan Persarafan. Jakarta: Salemba Medika. B. Batticaca, Fransisca. 2008. Asauhan keperawatan klien dengan gangguan sistem persarafan. Jakarta: Salemba Medika. A. SamikWahab. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson.Vol II E/15. Jakarta: Kedokteran EGC http://library.usu.ac.id/download/fk/penysaraf-kiking2.pdf diakses pada tanggal 22 September 2013 pukul 20.00 http://id.scribd.com/doc/116790605/Klasifikasi-Tetanus diakses pada tanggal 22 September 2013 pukul 20.15