Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS PEMISAHAN PARACETAMOL DAN COFFEIN SECARA HPLC

Disusun oleh : Hendrik Agusta Setiawan Yuvita Rosary Deva Rus Dwi Cahyani Benny Eko Gunarso (2443011069) (2443011086) (2443011096) (2443011100)

Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

I.

Dasar Teori HPLC (high performance liquid chromatography) merupakan salah satu teknik kromatografi untuk zat cair yang biasanya disertai dengan tekanan tinggi. Seperti teknik kromatografi pada umumnya, HPLC berupaya untuk memisahkan molekul berdasarkan perbedaan afinitasnya terhadap zat padat tertentu. Menurut Adnan (1997), komponen utama HPLC adalah : a. Reservoir pelarut : zat pelarut yang dipakai polaritasnya dapat bervariasi tergantung dari senyawa yang dianalisis, yang perlu diperhatikan adalah bahwa tempat pelrut tersebut harus memungkinkan untuk proses menghilangkan gas atau udara yang ada dalam pelarut b. Pompa : digunakan untuk mengalirkan pelarut sebagai fase mobile dengan kecepatan dan tekanan yang tetap c. Injektor : saat sampel diinjeksikan ke dalam kolom, diharapkan agar pelarut tidak mengganggu masuknya keseluruhan sampel ke dalam kolom. Injeksi dapat menggunakan syringe. d. Kolom krmatografi : kolom yang dipakai memiliki panjang 10 25 cm dan diameter 4,5 5 mm yang diisi dengan fase stasioner beukuran 5-10 mikrometer dan terbuat dari logam atau stainlessteel. e. Detektor : digunakan untuk mendeteksi sampel. Detektor dibutuhkan untuk mempunyai sinsitivitas yang tinggi, linear untuk jangka konsentrasi tertentu dan dapat mendekati eluen tanpa mempengaruhi resolusi kromatografi. Saat ini, HPLC atau KCKT merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis dan pemurnian senyawa tertentu dalam suatu sampel pada sejumlah bidang antara lain : farmasi, lingkungan, bioteknologi, polimer, dan industri- industri makanan. Kegunaan umum HPLC adalah untuk: pemisahan sejumlah senyawa organik, anorganik, maupun senyawa biologis, analisis ketidakmurnian (impurities), analisis senyawa- senyawa mudah menguap (volatile), penentuan molekul- molekul netral, ionic, maupun zwitter ion, isolasi dan pemurnian senyawa, pemisahan senyawa-senyawa yang strukturnya hampir sama, pemisahan senyawa- senyawa dengan jumlah sekelumit (trace elements), dalam jumlah yang banyak, dan dalam skala proses industry. HPLC merupakan metode yang tidak destruktif dan dapat digunakan baik untuk analisis kualitatif maupun kuantitatif (Cupritabu, 2010). Menurut Khopkar (1990), zat dengan kepolaran berbeda dapat dipisahkan dengan HPLC berdasarkan partisi cair-cair. Prinsip HPLC menggunakan prinsip kromatografi adsorbsi dan banyak digunakan dalam industi farmasi dan pestisida. Prinsip umum kromatografi: HPLC sering digunakan antara lain untuk menetapkan kadar senyawa aktif pada obat, produk hasil samping proses sintesis, atau produk- produk degradasi dalam sediaan farmasi. Keterbatasan metode HPLC ini adalah untuk identifikasi senyawa, kecuali jika HPLC dihubungkan dengan spektometer massa (MS). Keterbatasan lainnya adalah sampel sangat kompleks maka resolusi yang baik sulit diperoleh (Cupritabu, 2010).

II.

Analisis Senyawa 1. Paracetamol

BM : 151,2 Pemerian : serbuk atau kristal putih atau tidak berwarna. Kelarutan : sedikit larut dalam air, mudah larut dalam alcohol, sukar larut dalam metilen chloride. 2. Coffein

BM Pemerian Kelarutan etanol 96%.

: 194,2 : Kristal atau serbuk halus berwarna putih atau hampir putih. : larut dalam air, mudh larut dalam air mendidih, sedikit larut dalam

III.

Cara Kerja
A. Pembuatan fase gerak Buat campuran methanol : air (65 : 35), saring dengan membran filter dan degassing selama 15 menit. B. Pembuatan larutan uji 1. Larutan standar paracetamol timbang 60mg paracetamol + methanol p.a ad 25ml pipet 0,1ml + fase gerak yang telah dibuat ad 10ml saring dengan membran filter lalu degassing selama 5 menit

2. Larutan standar coffein timbang 60mg coffein+ methanol p.a ad 25ml

pipet 1ml + methanol p.a ad 10ml

pipet 12,5l + fase gerak yang telah dibuat ad 10ml

saring dengan membran filter lalu degassing selama 5 menit 3. Larutan campuran standar paracetamol dan coffein

pipet 0,1ml larutan standar paracetamol dan 12,5l coffein + fase gerak ad 10ml

saring dengan membran filter lalu degassing selama 5 menit

C. Penentuan panjang gelombang terpilih Amati spectrum paracetamol dengan coffein dengan spektrofotometer UV, kemudian tentukan panjang gelombang terpilih yang akan digunakan untuk pengamatan pada HPLC.

D. Pemisahan paracetamol dengan coffein dengan HPLC

setting HPLC pada terpilih , atur flow rate 1ml/min

flushing kolom dengan methanol for HPLC yang sudah disaring dan di degass sampai baseline

ganti methanol dengan fase gerak dan tunggu kolom sampai stabil dan siap untuk inject sampel

inject larutan standar paracetamol,coffein dan campuran paracetamol coffein

amati kromtogram yang terjadi

ubah komposisi fase gerak agar terjadi pemisahan yang baik

IV.

Hasil Pengamatan 1. Pengamatan spectrum paracetamol murni dalam HPLC Fase gerak : methanol:air (65:35) Flow rate : 1ml/min Waktu retensi : 2,3 menit 2. Pengamatan spectrum caffeine murni dalam HPLC Fase gerak : methanol:air (65:35) Waktu retensi : 2,8 menit Flow rate : 1ml/min

3. Pengamatan campuran coffein dan paracetamol

Fase gerak Flow rate Waktu retensi Keterpisahan

: methanol : air (65:35) : 1ml/min : paracetamol 2,21 menit ; coffein 2,78 menit : kurang baik,

Fase gerak Flow rate Waktu retensi Keterpisahan

: methanol : air (65:35) : 0,8ml/min : paracetamol 2,82 menit ; coffein 3,40 menit : kurang baik,

Fase gerak Flow rate Waktu retensi Keterpisahan V. Pembahasan

: methanol : air (50:50) : 1ml/min : paracetamol 2,51 menit ; coffein 3,40 menit : baik,

Ketika digunakan fase gerak methanol : air (65:35) dan flow rate 1ml/min di dapat keterpisahan yang kurang baik, karena spectrum yang terjadi masih saling menempel satu sama lain sehingga tidak ada baseline di antara peak dari spectrum kedua zat tersebut dan perbedaan Rs (waktu retensi) juga sangat dekat. Pada saat flow rate di ganti menjadi 0,8ml/ml dengan perbandingan fase gerak yang sama keterpisahan antar zat tetap kurang baik. Ketika fase gerak di ubah menjadi lebih polar dengan menambahkan jumlah air dengan volume fase gerak yang sama dan flow rate dikembalikan pada 1ml/min, keterpisahan yang terjadi lebih baik karena jarak Rs (waktu retensi) kedua zat tersebut bisa bertambah lebih jauh, juga ada jarak antar peak pada spectrum pada kedua zat. VI. Kesimpulan Penggunaan fase gerak yang lebih polar (methanol;air, 50:50) dapat memberikan keterpisahan yang baik antara paracetamol dan coffein daripada dengan fase gerak awal methanol:air, 65:35.