Anda di halaman 1dari 16

ANALISA STRIPPING RATIO DALAM MENENTUKAN SUATU METODE PENAMBANGAN BATUBARA PADA PT.

INTI BARA NUSALIMA PEKANBARU

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh RIKI RONALDO VIKTOR TAMBARIKI NIM 04306024

LOGO JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN 2009

A.JUDUL ANALISA STRIPPING RATIO DALAM MENENTUKAN SUATU METODE PENAMBANGAN BATUBARA DI AREA PENAMBANGAN PT.INTI BARA NUSA LIMA JAMBI B. LATAR BELAKANG Endapan bahan galian umumnya tersebar secara tidak merata didalam kulit bumi baik jenis, jumlah maupun kadarnya. Dalam mengusahakan industri pertambangan selalu berhadapan dengan sesuatu yang serba terbatas baik lokasi, jenis, jumlah maupun mutu materialnya. Keterbatasan ini ditambah lagi usaha meningkatkan keselamatan kerja serta menjaga kelestarian lingkungan hidup. Jadi didalam mengelola sumberdaya mineral diperlukan tahapan usaha pertambangan dan penerapan metode penambangan yang sesuai dan tepat, baik ditinjau dari segi ekonomis maupun teknis, agar perolehan keuntungan dapat optimal. Dalam memulai penambangan dan pengembangan perencanaan kegiatan penambangan batubara, nisbah kupas pulang pokok (break even stripping ratio) merupakan salah satu aspek penentu pemilihan metode penambangan yang akan digunakan. Batas ekonomi penambangan secara terbuka adalah batasan yang ditentukan oleh nisbah kupas ekonomi (economic stripping ratio/SREC). Dari nilai SREC ini dapat diketahui berapa nilai SR yang menjadi batasan cadangan tertinggi yang dapat ditambang dengan metode tambang terbuka dan menguntungkan, hal ini sangat dipengaruhi oleh harga jual batubara, dimana suatu cadangan batubara dapat bernilai ekonomis dan sebaliknya pada waktu yang berbeda, hal ini dipengaruhi oleh harga jual batubara dipasaran. C. MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN Maksud dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Menghitung cadangan batubara dengan metode block system berdasarkan log bor dengan bantuan software Surfer 8. 2. Menganalisa kondisi stripping ratio pada masing-masing blok cadangan dan keseluruhan untuk mengetahui batasan ekonomi penambangan secara terbuka berdasarkan economic stripping ratio sehingga dapat diketahui batasan berakhirnya tambang terbuka dan kapan akan dimulai tambang bawah tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan metode penambangan yang akan diterapkan berdasarkan break even stripping ratio yang disesuaikan dengan harga batubara dan biaya produksi perusahaan.

D. RUANG LINGKUP KEGIATAN

Karakteristik industri pertambangan yang padat modal dan padat teknologi adalah hal yang sangat penting diperhitungkan. Untuk menentukan metode penambangan yang akan diterapkan terhadap suatu daerah yang memiliki cadangan batubara yang ekonomis dipengaruhi oleh kondisi dan karekteristik endapan batubara tersebut serta besarnya modal yang tersedia dan kesiapan teknologi yang ada. Pada waktu berbeda dengan kondisi ekonomi yang berbeda, maka suatu cadangan bisa berubah dari cadangan yang ekonomis menjadi tidak ekonomis dan sebaliknya. Hal ini dipengaruhi oleh harga jual dari produk yang dihasilkan dan biaya dikeluarkan untuk menghasilkan produk tersebut.

Permasalahan yang timbul akibat dari perubahan kondisi ekonomi yang berlaku mempengaruhi nilai dari cadangan batubara yang ada. Besarnya keuntungan yang diharapkan adalah tujuan dari pengusahaan industri pertambangan, dan hal ini dipengaruhi oleh metode penambangan yang akan diterapkan. Kesesuaian metode penambangan yang akan diterapkan

terhadap suatu cadangan ditentukan oleh nisbah kupas pulang pokok (break even stripping ratio) dan nilai ini menjadi batasan berakhirnya tambang terbuka dan kapan dimulai tambang bawah tanah.

E. METODE PENELITIAN

Secara umum penelitian ini dilaksanakan dengan memakai 2 metoda yakni metode primer dan metode sekunder. Metode primer dilakukan dengan mengadakan observasi langsung ke daerah penelitian dan hasil observasi menjadi data utama dalam penelitian ini, antara lain : 1. Mengumpulkan data-data dari hasil pemboran eksplorasi. 2. Mengumpulkan data-data biaya pengupasan overburden dan penambangan batubara, serta harga jual batubara. Metode sekunder yang diterapkan dalam penelitian ini mencakup studi literatur dari berbagai sumber yang kemudian dikembangkan untuk mendukung kajian dari penelitian ini serta hasil olahan data utama yang dijadikan data sekunder seperti pembuatan peta isopach, isooverburden dan isostruktur. Dari uraian diatas, maka dapat dibuat diagram alir metode penelitian sebagai berikut: Gambar 1.1. Diagram Alir Penelitian F. DASAR TEORI 1. Endapan Batubara (coal deposit)

Batubara yang merupakan kelanjutan proses dari pembentukan gambut adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari tumpukan hancuran tumbuhan yang terhumifikasi dalam kondisi tertutup udara atau dibawah permukaan air dan menjadi padat setelah tertimbun oleh lapisan diatasnya serta mengakibatkan pengkayaan kandungan karbon

dimana selama pengendapan mengalami proses fisika dan kimia. Batubara tersebut mengandung material karbon lebih dari 70% volume dengan kandungan air lebih dari 35%.

Urutan proses pembentukan batubara secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut: - Gambut, merupakan fase awal dari proses pembentukan batubara dan masih memperlihatkan sifat asal dan bahan dasarnya (tanaman asal). - Lignit, sudah memperlihatkan struktur kekar dan gejala perlapisan. Endapan ini dapat dipergunakan untuk pembakaran dengan temperatur rendah. - Bituminous, dicirikan dengan sifat padat dan hitam. Batubara jenis ini dapat dipergunakan untuk bahan bakar dengan temperatur sedang-tinggi. - Antrasit, warna hitam, keras, kilap tinggi. Pada proses pembakaran memperlihatkan warna biru dan dapat dipergunakan untuk berbagai macam industri besar yang memerlukan temperatur tinggi.

2. KLASIFIKASI SUMBERDAYA DAN CADANGAN BATUBARA 2.1. Sumberdaya Batubara (Coal Resources) Sumber daya batubara (Coal Resources) adalah bagian dari endapan batubara yang diharapkan dapat dimanfaatkan. Sumber daya batubara ini dibagi dalam kelas-kelas sumberdaya berdasarkan tingkat keyakinan geologi yang ditentukan secara kualitatif oleh kondisi geologi/tingkat kompleksitas dan secara kuantitatif oleh jarak titik informasi. Sumberdaya ini dapat meningkat menjadi cadangan apabila setelah dilakukan kajian kelayakan dinyatakan layak.

Sumberdaya batubara dapat diklasifikasikan dalam beberapa bagian antara lain : Sumber Daya Batubara Hipotetik (Hypothetical Coal Resource)

Sumber daya batu bara hipotetik adalah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan survei tinjau. Sumber Daya Batubara Tereka (inferred Coal Resource) Sumber daya batu bara tereka adalah jumlah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan prospeksi. Sumber Daya Batubara Tertunjuk (Indicated Coal Resource) Sumber daya batu bara tertunjuk adalah jumlah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan. Sumber Daya Batubara Terukur (Measured Coal Resourced) Sumber daya batu bara terukur adalah jumlah batu bara di daerah peyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syaratsyarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi rinci. 2.2. Cadangan Batubara (Coal Reserves) {Cadangan batubara (Coal Reserves) adalah bagian dari sumber daya batubara yang telah diketahui dimensi, sebaran kuantitas, dan kualitasnya, yang pada saat pengkajian kelayakan dinyatakan layak untuk ditambang. Cadangan Batubara Terkira (Probable Coal Reserve) Cadangan batu bara terkira adalah merupakan sumberdaya batubara terindikasi dan sebagian sumberdaya batubara terukur, tetapi berdasarkan kajian kelayakan semua faktor yang terkait telah terpenuhi sehingga penambangan dapat dilakukan secara layak. Cadangan batubara terbukti (Proved Coal Reserve) Cadangan batu bara terbukti adalah sumberdaya batubara terukur yang berdasarkan

kelayakan semua faktor yang terkait telah terpenuhi sehingga penambangan dapat dilakukan secara layak 3. PERMODELAN ENDAPAN BATUBARA Untuk membuat permodelan endapan batubara diperlukan peta topografi, peta geologi, peta garis singkapan batubara, peta parit uji, suur uji, dan pengeboran sebagai data dasarnya, serta data olahan dari data dasar seperti peta isopach, peta isostruktur dan peta isostruktur. 3.1. Data Dasar Permodelan Endapan Batubara Adapun data dasar dari permodelan endapan batubara yang diperlukan untuk dianalisis selanjutnya antara lain peta topografi, peta geologi, peta parit uji, sumur uji dan pengeboran. Pada peta topografi, skala peta topografi harus memenuhi syarat yaitu minimal 1:2000 untuk tujuan studi kelayakan. Apabila peta masih dalam bentuk hardcopy maka harus dibuat softcopy dengan mendigitasi peta tersebut dengan perangkat digitizer. Apabila peta masih dalam bentuk data mentah hasil survei (format x,y,z) maka harus dilakukan proses gridding dan contouring dengan paket program perangkat lunak. Peta geologi berguna untuk mengetahui penyebaran batubara melalui garis singkapan dan kemiringannya sehingga dapat membantu dalam penentuan lokasi pengeboran maupun mengetahui blok-blok yang akan ditambang. Pada peta parit uji, sumur uji dan pengeboran, data yang perlu ditampilkan adalah koordinat, elevasi, sudut kemiringan pengeboran (untuk pengeboran miring), total kedalaman, ketebalan litologi dan keterangan litologi. Untuk parit uji dan sumur uji perlu ditampilkan juga kedudukan perlapisan litologi (strike dan dip). Tabel rekapitulasi dibuat secara sistematis, dibuat secara terpisah setiap seam apabila terdapat lebih dari satu seam. Elevasi harus dinyatakan terhadap titik ikat yang sama dengan titik ikat peta topografi dan data-data lainnya. Data dasar ini kemudian diplot dalam satu peta digital yang memuat informasi topografi, informasi geologi, sebaran singkapan, sebaran parit uji,

sumur uji dan bor. 3.2. Data Olahan Permodelan Endapan Batubara Dari data dasar permodelan endapan batubara, maka setelah diolah lebih lanjut dengan metode yang sesuai, maka hasil pengolahan data tersebut antara lain diperoleh peta isopach, peta isostruktur, dan peta isooverburden. Peta isopach (kontur ketebalan) merupakan peta yang menunjukkan kontur penyebaran ketebalan batubara. Perbedaan ketebalan batubara ini disebabkan perbedaan cara keterbentukan dan kondisi keterbentukan batubara tersebut. Data ketebalan pada peta ini merupakan tebal sebenarnya yang dapat diperoleh dari data bor, uji paritan , uji sumuran atau dari singkapan. Peta ini juga dapat disusun dari kombinasi peta isostruktur. Tujuan dari penyusunan peta ini adalah untuk menggambarkan variasi ketebalan batubara dibawah permukaan. Peta Isostruktur (kontur struktur) menunjukkan kontur elevasi yang sama dari top atau bottom batubara. Elevasi top dan bottom batubara dapat diperoleh dari data bor. Peta isostruktur berguna untuk mengetahui arah umum (jurus) masing-masing seam batubara, sekaligus sebagai dasar untuk menyusun peta isooverburden. Peta isooverburden menunjukkan kontur ketebalan lapisan tanah penutup (overburden) yang sama. Ketebalan tersebut dapat diperoleh dari data bor atau dari peta isostruktur dimana ketebalan overburden dapat dihitung dari perpotongan kontur isostruktur dengan kontur topografi. Cukup penting sebagai dasar evaluasi cadangan selanjutnya, dimana ketebalan tanah penutup ini dapat digunakan sebagai batasan awal dari penentuan pit potensial. Perbandingan antara volume overburden dan batubara yang diimplementasikan dalam bentuk stripping ratio pada daerah cadangan, dapat dijadikan salah satu dasar penentuan batasan penambangan. 4. TAHAPAN PERHITUNGAN NISBAH PENGUPASAN

4.1. Perhitungan Volume Perhitungan volume merupakan tahap awal yang harus dilakukan dalam penentuan stripping ratio, penampang litologi pemboran menunjukkan formasi litologi yang ditembus dan ketebalan masing-masing formasi litologi. Dari informasi tersebut, dilakukan identifikasi ketebalan tanah penutup dan batubara. Untuk batubara dengan sistem perlapisan multiseam, dilakukan penjumlahan total ketebalan untuk seluruh seam. Prosedur ini berlaku untuk seluruh lubang bor. Perbedaan ketebalan dari tanah penutup dan batubara berpengaruh terhadap elevasi batas atas dan batas bawah keduanya. Dalam kasus ini batasan antara overburden dan batubara diasumsikan jelas.

Perhitungan luas daerah tergantung dari metode perhitungan cadangan yang digunakan. Setelah luas daerah diketahui, lalu dilakukan kalkulasi antara ketebalan rata-rata batubara maupun tanah penutup pada daerah tersebut dengan luasan daerah, dan diperoleh volume tanah penutup dan batubara pada daerah tersebut. Perhitungan volume dinyatakan dengan persamaan berikut: Volume = AT x A Dimana : AT = Avarage Thickness (ketebalan rata-rata), m A = Area (luas daerah), m2

4.2. Perhitungan Tonase Pada industri pertambangan, penjualan bahan galian dan kapasitas produksi dilakukan atas dasar berat dari bahan galian tersebut. Hal ini berlawanan dengan industri perancangan sipil dimana pembayaran dilakukan atas dasar volume material yang dipindahkan. Konversi dari volume ke berat harus dilakukan dalam kaitannya dengan kegiatan pemuatan, pengangkutan

maupun untuk kegiatan pengolahan. Dalam perhitungan cadangan, tanah penutup yang akan dikupas maupun batubara yang akan ditambang dihitung dalam satuan berat (tonase). Konversi satuan volume ke satuan berat dilakukan dengan bantuan suatu faktor yaitu density. Besar nilai density untuk setiap material berbeda-beda. Umumnya satuan yang digunakan untuk density antara lain gram/cm3, pound/feet3 dan ton/meter3. Nilai density untuk tanah penutup (humus dan lempung) sebesar 2300 lb/yd3 atau setara dengan 1,36 ton/m3 dan density batubara sebesar 1,3 ton/m3. Berat (tonase) tanah penutup yang akan dikupas maupun batubara yang akan ditambang diperoleh dengan mengalikan volume keduanya dengan density masing-masing. Perhitungan tonase dinyatakan pada persamaan berikut : Tonase = V x D Dimana : T = Tonase (ton) V = Volume (m3) D = Density (ton/m3)

4.2. Nisbah Pengupasan (Stripping Ratio) Stripping ratio (SR) menunjukkan perbandingan antara volume (tonase) tanah penutup yang harus dibongkar untuk mendapatkan satu ton batubara pada areal yang akan ditambang. Rumusan umum yang sering digunakan untuk menyatakan perbandingan ini dapat dilihat pada persamaan berikut :

Ada 3 (tiga) jenis nisbah pengupasan (stripping ratio), yaitu : 1. Nisbah Kupas Pulang Pokok (Break Even Stripping Ratio) : BESR

2. Nisbah Kupas Instanteneous (Instanteneous Stripping Ratio) : SRINST 3. Nisbah Kupas Ekonomik (Economic Stripping Ratio) : SREC

4.2.1. Nisbah Kupas Pulang Pokok (Break Even Stripping Ratio)

Break Even Stripping Ratio (BESR) adalah perbandingan antara biaya penggalian batubara dengan baya pengupasan tanah penutup (overburden) atau merupakan perbandingan biaya penambangan bawah tanah dengan penambangan terbuka. Break Even Stripping Ratio inidisebut juga overall stripping ratio, yang dapat dinyatakan sebagai berikut : BESR = CMUG - CMSM CSOB

Dimana : CMUG : Cost Mining With Underground (Biaya Penambangan Bawah tanah), US$/ton. CMSM : Cost Mining With Surface (Biaya Penambangan dengan Tambang terbuka), US$/ton. CSOB : Cost Stripping Overburden (Biaya Pengupasan Tanah Penutup), US$/ton.

Untuk menganalisa kemungkinan metoda penambangan yang akan digunakan baik tambang terbuka maupun tambang bawah tanah, maka sangat penting mengetahui nilai BESR. Jika nila BESR lebih besar dari nilai SR maka metoda penambangan yang digunakan adalah tambang terbuka, apabila nilai BESR lebih kecil dari nilai SR maka metoda penambangan yang digunakan adalah tambang bawah tanah apabila hal tersebut masih memungkinkan untuk dilakukan dengan kondisi cadangan yang ada dan kondisi ekonomi yang berlaku.

4.2.2. Nisbah Kupas Instanteneous (Instanteneous Stripping Ratio)

Nisbah Kupas Instanteneous (SRINST) adalah nisbah kupas untuk pengembangan rencana penambangan yang nilainya lebih kecil dari nilai BESR setelah ditentukan bahwa akan digunakan metoda tambang terbuka, maka nisbah kupas ini dapat dinyatakan sebagai berikut : SRINST = RevM CMSM CL CP CT CH CO CSOB Dimana: RevM = Revenue Mining (Pendapatan atau harga jual dari 1 ton cadangan), US$/ton. CL = Cost Loading (Biaya Pemuatan), US$/ton. CP = Cost Prepare (Biaya Pengolahan), US$/ton. CT = Cost Trading (Biaya Pengangkutan), US$/ton. CH = Cost Harbour (Biaya Pelabuhan Untuk Pengapalan), US$/ton. CO = Cost Office (Biaya Non Teknis/Administratif), US$/ton. Dalam perhitungan stripping ratio ini, biaya produksi adalah total dari seluruh biaya untuk mendapatkan cadangan/ton, yaitu biaya penambangan, biaya pemuatan, biaya pengolahan, biaya pengangkutan, biaya pengapalan dan biaya non teknis. Namun biaya pengupasan tanah penutup tidak dihitung sebagai biaya produksi.

Untuk mengetahui laba yang diperoleh dari tambang terbuka (Profit Surface Mining = PSM, maka dapat dinyatakan sebagai berikut : PSM = RevM CSOB(SRINST) - CMSM CL CP CT CH CO

4.2.3. Nisbah Kupas Ekonomi (Economic Stripping Ratio)

Economic Stripping Ratio (SREC) artinya berapa besar keuntungan yang dapat diperoleh bila cadangan tersebut ditambang dengan metode tambang terbuka. Dari nilai SREC ini dapat diketahui berapa nilai SR yang menjadi batasan cadangan tertinggi yang dapat ditambang dengan metode tambang terbuka dan menguntungkan. Pada dasarnya, jika terjadi kenaikan harga cadangan di pasaran, maka akan dapat mengakibatkan perluasan tambang sehingga cadangan akan bertambah, sebaliknya jika harga cadangan turun, maka jumlah cadangan akan berkurang. Nisbah kupas ini dapat dinyatakan sebagai berikut : SREC = RevM CMSM CL CP CT CH CO - PSM CSOB Batas ekonomi tambang terbuka dicapai apabila PSM = 0 dimana SRINST = SREC. Apabila ada cadangan yang akan terus ditambang dengan metode tambang bawah tanah, maka harus ada laba (profit) yang diperoleh. Untuk mengetahui laba yang diperoleh dari tambang bawah tanah (Profit Underground Mining = PUG), maka dapat dinyatakan sebagai berikut : PUG = RevM CPUG Dimana : CMUG = Cost Production with Underground Mining (Biaya Produksi Tambang Bawah Tanah), US$/ton.

G. RENCANA JADWAL KEGIATAN PENELITIAN

Waktu (minggu)

No Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 Studi pustaka 2 Pengamatan 3 Pengambilan data 4 Pengolahan data 5 Analisa data 6 Pembuatan draft

J. RENCANA DAFTAR ISI

RINGKASAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG Bab I PENDAHULUAN II TINJAUAN UMUM 2.1 Sejarah Singkat Perusahaan 2.2 Struktur Organisasi 2.3 Tenaga Kerja dan Jam Kerja

2.4 Lokasi dan Kesampaian Daerah 2.5 Morfologi dan Topografi 2.6 Struktur Geologi 2.7 Stratigrafi Daerah Penelitian 2.8 Cadangan dan Kualitas Batubara 2.9 Produksi Batubara

III DASAR TEORI 3.1 Endapan Batubara (Coal Deposit) 3.2 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara 3.3 Pemodelan Endapan Batubara 3.4 Perhitungan Cadangan 3.5. Tahapan Perhitungan Nisbah Pengupasan

IV DATA DAN ANALISA DATA 4.1 Data 4.2 Analisa Data

V PEMBAHASAN 5.1 Nisbah Kupas (Stripping Ratio)Daerah Penelitian. 5.2 Nisbah Kupas Pulang Pokok (Break Even Strippig Ratio) 5.3 Nisbah Kupas Ekonomi (Economic Stripping Ratio) 5.4 Pengaruh Harga Jual Batubara Terhadap BESR dan SREC 5.5 Kesesuaian SREC Terhadap Harga Batubara Terendah

VI KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA

H. RENCANA DAFTAR PUSTAKA 1. Bukin Daulay, Dr.,MSc., Geologi dan Eksplorasi Batubara, Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara, Bandung, 2001.

2. Chairul Nas, Estimasi Cadangan Mineral, Pusat Pengembangan Tenaga Pertambangan, Bandung, 1994.

3. Eko Budiyanto, M.Si., Pemetaan Kontur dan Pemodelan Spasial 3 Dimensi Menggunakan Surfer, Penerbit Andi Yogyakarta, Yogyakarta, 2005.

4. Eugene P.Pfleider, Surface Mining, First Edition, The American Institute of Mining, Metallurgical and Petroleum Engineers, Inc., New York, 1968.

5. Hustrullid William, Kuchta Mark, Open Pit Mine Planning and Design, VolumeI Fundamentals, A.A.BALKEMA, ROTTERDAM, 1955.

6. Rudy Asaf Ayub Pesiwarissa, Ir.,Tambang Permukaan, Batas Ekonomiknya dan Kesinambungan Ke Tambang Bawah Tanah,

Anda mungkin juga menyukai