Anda di halaman 1dari 40

Marleni - 1102010156 Skenario 3 Hasil Riskesdas 2010 Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2010 yang dilaksanakan oleh

Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI didapatkan beberapa hasil terkait dengan status gizi anak sebagai berikut : prevalence rate anak pendek secara nasional pada kelompok umur 612 tahun adalah 35,6% yang terdiri dari 15,1% sangat pendek dan 20% pendek. Prevalence rate kekurusan padan anak umur 6-12 tahun adalah 12,2% terdiri dari 4,6% sangat kurus dan 7,6% kurus. Secara nasional masalah kegemukan pada anak umur 6-12 tahun masih tinggi yaitu 9,2% atau masih di atas 5,0%. RISKESDAS 2010 juga meneliti pola konsumsi energi dan protein penduduk. Hasilnya adalah masalah kekurangan konsumsi energi dan protein terjadi pada semua kelompok umur anak. Terutama pada anak usia sekolah (6-12 tahun), usia praremaja (13-15 tahun), usia remaja (16-18 tahun), dan kelompok ibu hamil, khususnya ibu hamil di pedesaan. Status gizi anak tidak saja dipengaruhi pola makan tetapi juga pola asuh keluarga serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) keluarga dan anak. Dua keadaan tersebut disebabkan karena perilaku yang kurang baik dan cenderung menyebabkan kegemukan pada anak adalah membiarkan anak duduk berjam-jam menonton TV, kurang olahraga, dan sering makan makanan junk food yang tinggi lemak, kalori, garam, dan rendah serat. Rekomendasi hasil RISKESDAS yang berhubungan dengan status gizi anak usia sekolah adalah anak-anak perlu diberi makanan tambahan. Program pemberian makanan tambahan di daerah miskin dapat dilaksanakan oleh Puskesmas dengan menjalin kerjasama pihak sekolah dan masyarakat. Dalam pandangan Islam, menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga melakukan pemberdayaan masyarakat agar masyarakat dapat mandiri adalah wajib. Sasbel & Pembahasan : 1. MM RISKESDAS Pengertian Riset Kesehatan Dasar adalah riset berbasis masyarakat untuk mendapatkan gambaran kesehatan dasar masyarakat, termasuk biomedis yang menggunakan sampel Susenas Kor dan informasinya mewakili tingkat kabupaten/kota, Propinsi dan nasional. Riset Kesehatan Nasional (RISKESDAS) yang dilaksanakan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) terdiri dari 3 kegiatan. a. Survei Kesehatan Nasional (SURKESNAS) b. Riset Fasilitas Kesehatan (RIFASKES) c. Riset Khusus (RIKUS) 1 Blok Kedkom

Marleni - 1102010156 Prinsip Riskesdas 1) Riset berskala nasional, dilaksanakan serentak dalam waktu yang sama, dengan sebagian besar informasi dapat mewakili tingkat kabupaten/kota. Beberapa data yang membutuhkan sampel besar (misalnya angka kematian bayi) yang diharapkan dapat mewakili kabupaten/kota, diharapkan dapat memberi estimasi tingkat Propinsi atau nasional. 2) Pengembangan indikator Riskesdas didasarkan atas kebutuhan untuk memonitor pencapaian indikator pembangunan kesehatan, seperti Millenium Development Goals (MDGs), Rencana Strategis (Renstra) Depkes, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). 3) Besar sampel yang terintegrasi dengan Susenas (sampel Kor), bila diperlukan, daerah dapat menambah sampel untuk mewakili kecamatan dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki oleh daerah. 4) Pengumpulan data dilakukan secara terintegrasi antara petugas kesehatan dan petugas statistik setempat yang terlatih, dengan pendampingan teknis dari tim Riskesdas. 5) Data kesehatan berbasis masyarakat dikumpulkan melalui metode wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan spesimen biomedis. 6) Informasi hasil pengolahan dan analisis data, dapat dimanfaatkan di tingkat nasional, Propinsi dan kabupaten/kota. Tujuan Penelitian a) Tujuan Umum Mengetahui data dasar kesehatan untuk keperluan perencanaan di tingkat kabupaten/kota, provinsi dan nasional. b) Tujuan Khusus a. Mengukur prevalensi penyakit menular dan tidak menular, riwayat penyakit keturunan termasuk data biomedisnya b. Mengetahui faktor risiko penyakit menular dan tidak menular c. Mengetahui ketanggapan sistem kesehatan di unit pelayanan kesehatan d. Mengukur angka kematian dan menelusuri sebab kematian c) Output yang diharapkan Tersedianya data dasar kesehatan meliputi : a. Status kesehatan 2

Marleni - 1102010156 - Tingkat Morbiditas (prevalensi penyakit menular dan tidak menular, tingkat kabupaten/kota untuk penyakit dengan prevalensi tinggi, atau tingkat provinsi bagi penyakit dengan prevalensi rendah) - Trauma dan kecelakaan di tingkat provinsi - Tingkat Mortalitas (angka kematian ibu, angka kematian bayi) di tingkat nasional - Tingkat Disabilitas (angka disabilitas/cacat, jenisnya dan alat bantu yang diperlukan) - Kesehatan gigi dan mulut di tingkat kabupaten/kota - Kesehatan mata (visus) di tingkat kabupaten/kota b. Status gizi (di tingkat kabupaten/kota). c. Pengetahuan-sikap-perilaku kesehatan (flu burung, HIV/AIDS, perilaku higienis, penggunaan tembakau, minum alkohol, pola konsumsi, dan aktivitas fisik) di tingkat kabupaten/kota. d. Ketanggapakan sistem kesehatan di tingkat kabupaten/kota. e. Pembiayaan kesehatan di tingkat kabupaten/kota f. Akses dan manajemen pelayanan kesehatan di tingkat kabupaten/kota g. Sanitasi di lingkungan rumah-tangga di tingkat kabupaten/kota h. Konsumsi makanan rumah-tangga di tingkat kabupaten/kota i. Kadar Yodium (semi kuantitatif) pada garam rumah tangga di tingkat kabupaten/kota j. Kadar Yodium (kuantitatif) pada garam dapur rumah tangga dan dalam urine di tingkat nasional k. Biomedis (penyakit menular, PD3I, penyakit tidak menular, penyakit kronik degeneratif, gizi dan penyakit kelainan bawaan) di daerah perkotaan dan pedesaan tingkat nasional Manfaat Penelitian 1. Untuk Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota - Mampu merencanakan, wilayahnya. melaksanakan survei kesehatan lanjutan di

- Mampu menyusun perencanaan program lebih akurat, sesuai situasi dan kondisi tiap kabupaten/kota. 3

Marleni - 1102010156 - Mempunyai bahan advokasi yang berbasis bukti. 2. Untuk Provinsi dan Pusat - Mampu memetakan masalah kesehatan pembangunan kesehatan antar wilayah. 2. MM Status gizi masyarakat Gizi Klinik dan Gizi Masyarakat Diihat dari segi sifatnya ilmu gizi dibedakan menjadi dua, yakni gizi yang berkaitan dengan kesehatan perseorangan yang disebut gizi kesehatan perorangan dan gizi yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat yang disebut gizi kesehatan masyarakat (public health nutrition). Kedua sifat keilmuan ini akhirnya masing-masing berkembang manjadi cabang ilmu sendiri, yakni cabang ilmu kesehatan perorangan atau disebut gizi klinik (clinical nutrition) dan cabang ilmu gizi kesehatan masyarakat atau gizi masyarakat (community nutrition). Kedua cabang ilmu gizi dibedakan berdasarkan hakikat masalahnya. Gizi klinik berkaitan dengan nasabah gizi pada individu yang sedang menderita gangguan kesehatan akibat kekurangan atau kelebihan gizi. Oleh sebab itu, sifat dari gizi klinik adalah lebih menitikberatkan pada kuratif daripada preventif dan promotifnya. Sedangkan gizi masyarakat berkaitan dengan gangguan gizi pada kelompok masyarakat, oleh sebab itu, sifat dari gizi masyarakat lebih ditekankan pada pencegahan (prevensi) dan peningkatan (promosi). Oleh karena sifat kedua keilmuan ini berbeda maka akan menyebabkan perbedaan jenis profesi yang menangani kedua pokok masalah tersebut. Gizi klinik berurusan dengan masalah klinik pada individu yang mengalami gangguan gizi. Maka profesi kedokteranlah yang lebih tepat menanganinya. Sebaliknya, gizi masyarakat berkaitan dengan gangguan gizi pada masyarakat, dimana masyarakat mempunyai aspek yang sangat luas maka penanganannya harus secara multisektor dan multidisiplin. Profesi dokter saja belum cukup untuk menangani masalah gizi masyarakat. Penanganan gizi masyarakat tidak cukup upaya terapi para penderita saja karena apabila setelah mereka sembuh akan kembali ke masyarakat. Oleh karena itu, terapi penderita gangguan gizi masyarakat tidak saja ditunjukkan kepada penderitanya saja, tetapi seluruh masyarakat tersebut. Masalah gizi masyarakat bukan menyangkut aspek kesehatan saja, melainkan aspekaspek terkait yang lain, seperti ekonomi, sosial-budya, pendidikan, kependudukanm dan sebagainya. Oleh sebab itu penanganan atau perbaikan gizi sebagai upaya terapi tidak hanya diarahkan pada gangguan gizi atau kesehatan saja, melainkan juga ke arah bidangbidang yang lain. Misalnya, penyakit KKP (Kekurangan kalori dan protein) pada anakanak balita, tidak cukup dengan hanya pemberian makanan tambahan saja (PMT), tetapi 4 dan menajamkan prioritas

Marleni - 1102010156 juga dilakukan perbaikan ekonomi keluarga, peningkatan pengetahuan tentang gizi dan sebagainya. Penyakit-penyakit Kekurangan Gizi Konsumsi gizi makanan pada seseorang dapat menentukan tercapainya tingkat kesehatan, atau sering disebut status gizi. Apabila tubuh berada dalam tingkat kesehatan gizi optimum, dimana jaringan jenuh oleh semua zat gizi, maka disebut status gizi optimum. Dalam kondisi demikian tubuh terbebas dari penyakit dan mempunyai daya tahan tubuh setinggi-tingginya. Apabila konsumsi gizi makanan pada seseorang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh maka akan terjadi kesalahan akibat gizi (malnutrition). Malnutrisi ini mencakup kelebihan nutrisi/gizi disebut gizi lebih (overnutrition), dan kekurangan gizi atau gizi kurang (undernutrition). Penyakit-penyakit atau gangguan-gangguan kesehatan akibat dari kelebihan atau kekurangan zat gizi, dan yang merupakan masalah kesehatan masyarakat, khususnya di Indonesia, antara lain : 1) Penyakit Kurang Kalori dan Protein (KKP) Penyakit ini terjadi karena ketidakseimbangan antara konsumsi kalori atau karbohidrat dan protein dengan kebutuhan energi, atau terjadinya defisiensi atau defisit energi dan protein. Pada umumnya penyakit ini terjadi pada anak balita, karena pada umur tersebut anak mengalami pertumbuhan yang pesat. Apabila konsumsi makanan tidak seimbang dengan kebutuhan kalori maka akan terjadi defisiensi tersebut (kurang kalori dan protein). Penyakit ini dibagi dalam tingkat-tingkat, yakni : a. KKP ringan, kalau berat badan anak mencapai antara 84-95% dari berat badan menurut standar Harvard. b. KKP sedang, kalau berat badan anak hanya mencapai 44-60% dari berat badan menurut standar Harvard. c. KKP berat ( gizi buruk), kalau berat badan anak kurang dari 60% dari berat badan menurut standar Harvard. Beberapa ahli hanya membedakan adanya dua macam KKP saja, yakni : KKP ringan dan KKP berat (gizi buruk) atau lebih sering disebut marasmus ( kwashiohor). Anak atau penderita marasmus ini tampak sangat kurus, berat badan kurang dari 60% dari berat badan ideal menurut umurnya, muka berkerut seperti orang tua, apatis terhadap sekitarnya, rambut kepala halus dan jarang berwarna kemerahan. Penyakit KKP pada orang dewasa memberikan tanda-tanda klinis : oedema (HO), atau juga disebut penyakit kurang makan, kelaparan atau busung lapar. Oedema pada penderita biasanya tampak pada daerah kaki.

Marleni - 1102010156 2) Penyakit Kegemukan (Obesitas) Penyakit ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara konsumsi kalori dan kebutuhan energi, yakni konsumsi kalori terlalu berlebih dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi. Kelebihan energi dalam tubuh ini disimpan dalam bentuk lemak. Pada keadaan normal, jaringan lemak ini ditimbun di tempat-tempat tertentu diantaranya dalam jaringan subkutan, dan di dalam jaringan tirai usus. Seseorang dikatakan menderita obesitas bila berat badannya pada laki-laki melebihi 15% dan pada wanita melebihi 20% dari berat badan ideal menurut umurnya. Pada orang yang menderita obesitas ini organ-organ tubuhnya dipaksa untuk bekerja lebih berat, karena harus membawa kelebihan berat badan. Oleh karena itu, pada umumnya lebih cepat gerah, capai, dan mempunyai kecenderungan untuk membuat kekeliruan dalam bekerja. Akibat dari penyakit obesitas ini, para penderitanya cenderung menderita penyakit-penyakit : kardiovaskular, hipertensi, dan diabetes melitus. Berat badan yang ideal pada orang dewasa menurut rumus Dubois ialah : B(kg) = (Tcm 10) + 10%, dengan : B = berat badan hasil perkiraan/pengukuran T = tinggi badan Oleh bagian gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dilakukan koreksi sebagai berikut : B (kg) = {(Tcm-100)-10%}+10% Dewasa ini ahli gizi menentukan seseorang kelebihan atau kekurangan gizi dengan indeks massa tubuh (IMT) body mass index (BMI), dengan rumus : IMT = BB(kg) / [TB(cm)/100]2 Bila hasilnya : <18,5 18,5-25 25-29,9 30+ : Kurus (kurang gizi) : Normal (gizi baik) : Gemuk (gizi lebih) : Kegemukan (obesitas) = Rendah = Rata-rata = BB lebih = BB kelebihan

3) Anemia (Penyakit Kurang Darah)

Marleni - 1102010156 Penyakit ini terjadi karena konsumsi zat besi (Fe) pada tubuh tidak seimbang atau kurrang dari kebutuhan tubuh. Zat besi merupakan mikro elemen yang esensial bagi tubuh, sangat diperlukan dalam pembentukan darah, yakni dalam hemoglobin (Hb). Di samping itu zat besi (Fe) juga diperlukan sebagai enzim. Fe lebih mudah diserap usus halus dalam bentuk Ferro. Penyerapan ini mempunyai mekanisme autoregular yang diatur oleh kadar Ferritin yang terdapat dalam sel-sel mukosa usus. Dalam kondisi Fe yang baik, hanya sekitar 10% saja dari Fe yang terdapat dalam makanan diserap ke dalam mukosa usus. Ekskresi Fe dilakukan melalui kulit, dalam bagianbagian tubuh yang aus dan dilepaskan oleh permukaan tubuh yang jumlahnya sangat kecil sekali. Sedangkan pada wanita ekskresi Fe lebih banyak melalui menstruasi. Oleh sebab itu, lebutuhan Fe pada wanita dewasa, lebih banyak dibandingkan dengan pria. Pada wanita hamil kebutuhan Fe meningkat karena bayi yang dikandung memerlukan Fe ini. Defisiensi Fe atau anemia besi di Indonesia jumlahnya besar sehingga sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat. Program penanggulangan anemia besi, khususnya untuk ibu hamil sudah dilakukan melalui pemberian Fe secara cuma-cuma melalui Puskesmas atau Posyandu. Akan tetapi karena masih rendahnya pengetahuan sebagian besar ibu-ibu hamil maka program ini berjalan lambat. 4) Zerophthalmia (Defisiensi Vitamin A) Penyakit ini disebabkan karena kekurangan konsumsi vitamin A dalam tubuh. Gejalagejala penyakit ini adalah kekeringan epithel biji mata dan kornea, karena glandula lacrimalis menurun. Terlihat selaput bola mata keriput dan kusam bila biji mata bergerak. Fungsi mata berkurang menjadi hemeralopia atau nictalpia, yang oleh awam disebut buta senja atau buta ayam, tidak sanggup melihat pada cahaya remangremang. Pada stadium lanjut mata mengoreng karena sel-selnya menjadi lunak yang disebut keratomalacia dan dapat menimbulkan kebutaan. Fungsi vitamin A sebenarnya mencakup tiga fungsi, yakni : fungsi dalam proses melihat, dalam proses metabolisme, dan proses reproduksi. Gangguan yang diakibatkan karena kekurangan vitamin A yang menonjol, khususnya di Indonesia adalah gangguan dalam proses melihat yang disebut zerophalmia. Oleh sebab itu, penanggulangan defisiensi vitamin A yang penting di sini ditujukan pada pencegahan kebutaan kepada anak belita. Program penanggulangan zerophalmia ditujukan kepada anak balita dengan pemberian vitamin A secara cuma-cuma melalui Puskesmas atau Posyandu. Di samping itu, program pencegahan dapat dilakukan melalui penyuluhan gizi masyarakat tentang makanan-makanan yang bergizi, khususnya makananmakanan sebagai sumber vitamin. 5) Penyakit Gondok Endemik Zat iodium merupakan zat gizi esensial bagi tubuh karena merupakan komponen dari hormon thyroxin. Zat iodium ini dikonsentrasikan dalam kelenjar gondok (glandula 7

Marleni - 1102010156 thyroidea) yang dipergunakan dalam sintesis hormon thyroxin. Hormon ini ditimbun dalam folikel kelenjar gondok, terkonjugasi dengan protein (globulin) maka disebut thyroglobulin. Apabila diperlukan thyroglobulin ini dipecah dan terlepas hormon thyroxin yang dikeluarkan dari folikel kelenjar ke dalam aliran darah. Kekurangan zat iodium ini berakibat kondisi hypothyroidisme (kekurangan iodium) dan tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan menambah jaringan kelenjar gondok. Akhirnya terjadi hyperthrophi (membesarnya kelenjar thyroid), yang kemudian disebut penyakit gondok. Apabila kelebihan zat iodium maka akan mengakibatkan gejala-gejala pada kulit yang disebut iodium dermatitis. Penyakit gondok ini di Indonesia merupakan endemik terutama di daerah-daerah terpencil di pegunungan, yang air minumnya kekurangan zat iodium. Oleh sebab itu, penyakit kekurangan iodium ini disebut gondok endemik. Kekurangan iodium juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan lain, yakni : Creatinisme. Creatinisme adalah suatu kondisi penderita dengan tinggi badan dibawah normal (cebol). Kondisi ini disertai berbagai tingkat keterlambatan perkembangan jiwa dan kecerdasan, dari hambatan ringan sampai dengan sangat berat (debil). Ekspresi muka seorang cretin ini dilahirkan dari ibu yang sewaktu hamil kekurangan zat iodium. Terapi penyakit ini pada penderita dewasa pada umumnya tidak memuaskan. Oleh sebab itu, penanggulangan yang paling baik adalah pencegahan, yaitu dengan memberikan dosis iodium kepada para ibu hamil. Untuk penanggulangan penyakit akibat kekurangan iodium dalam rangka peningkatan kesehatan masyarakat dapat dilakukan melalui program iodiumisasi. Yaitu dengan penyediaan garam dapur yang diperkaya dengan iodium. Dalam kaitan ini pemerintah Indonesia melalui Departemen Perindustrian telah memproduksi khusus garam iodium untuk daerah-daerah endemik gondok. Kelompok Rentan Gizi Kelompok rentan gizi adalah suatu kelompok dalam masyarakat yang paling mudah menderita gangguan kesehatan atau rentan karena kekurangan gizi. Biasanya kelompok rentan gizi ini berhubungan dengan proses kehidupan manusia, oleh sebab itu, kelompok ini terdiri dari kelompok umur tertentu dalam siklus kehidupan manusia. Pada kelompokkelopmok umur tersebut berada pada suatu siklus pertumbuhan atau perkembangan yang memerlukan zat-zat gizi dalam jumlah yang lebih besar dari kelompok umur yang lain. Oleh sebab itu, apabila kekurangan gizi maka akan terjadi gangguan gizi atau kesehatan. Kelompok-kelompok rentan gizi ini terdiri dari : a. Kelompok bayi umur 0-1 tahun b. Kelompok di bawah lima tahun (balita) 1-5 tahun c. Kelompok anak sekolah umur 6-12 tahun 8

Marleni - 1102010156 d. Kelompok remaja umur 13-20 tahun e. Kelompok ibu hamil dan menyusui f. Kelompok usia lanjut atau lansia kelompok usia lanjut termasuk kelompok rentan gizi, meskipun kelompok ini tidak dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini disebabkan karena pada usia lanjut terjadi proses degenerasi yang menyebabkan kelompok usia ini mengalami kelainan gizi. 1. Kelompok bayi Dalam siklus kehidupan manusia, bayi berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat. Bayi yang dilahirkan dengan sehat, pada umur 6 bulan akan mencapai pertumbuhan atau berat badan 2x lipat dari berat badan pada waktu dilahirkan. Agar bayi tumbuh dengan baik, zat-zat gizi yang sangat dibutuhkan ialah : a. Protein, dibutuhkan 3-4 gr/kgBB b. Kalsium (Ca) c. Vit. D, tetapi karena Indonesia berada di daerah tropis maka hal ini tidak begitu menjadi masalah d. Vit. A dan K yang harus diberikan sejak post natal e. Fe (zat besi) diperlukan karena dalam proses kelahiran sebagian Fe ikut terbuang Secara alamiah sebenarnya zat-zat gizi tersebut sudah terkandung dalam ASI (Air Susu Ibu). Oleh sebab itu, apabila gizi makan ibu cukup baik, dan anak diberi ASI pada umur 0 sampai 6 bulan, zat-zat gizi tersebut sudah dapat mencukupi. Pemberian ASI saja tanpa makanan tambahan lain sampai umur 6 bulan ini disebut pemberian ASI eksklusif. Di samping itu ASI juga mempunyai keunggulan, yakni mengandung immunoglobulin yang memberi daya tahan tubuh pada bayi, berasal dari tubuh ibu. Immunoglobulin ini dapat bertahan pada anak sampai dengan bayi berumur 6 bulan. Peralihan ASI pada makanan tambahan (PMT) harus dilakukan sesuai dengan kondisi anatomi dan fungsional alat pencernaan bayi. Setelah masa pemberian ASI eksklusif berakhir, maka mulai umur 4 tahun bayi diberi makanan tambahan, itupun makanan yang sangat halus. Kemudian mulai umur 9 bulan sudah dapat diberikan makanan tambahan lunak, sampai dengan umur 18 bulan. ASI tetap diteruskan, dan mulai berumur 18 bulan dapat diberikan makanan tambahan agak keras (semisolid), sampai dengan umur 2 tahun. Akhirnya pada umur 2 tahun ASI dihentikan, dan sudah dapat diberi makanan seperti orang dewasa. Mengenai jumlah makanan tambahan pun 9

Marleni - 1102010156 makin lama makin ditingkatkan, sesuai dengan kebutuhan kalori yang diperlukan bayi/anak untuk berkembang.

Tabel Peralihan ASI ke Makanan dan Kebutuhan Kalori Umur anak 0-6 bulan 6-9 bulan 9-12 bulan 18-24 bulan 24 bulan (2 tahun) ASI saja Makanan halus Makanan lunak Makanan semisolid Makanan dewasa PMT Kebutuhan Kalori 300 kalori 800 kalori 1.100 kalori 1.300 kalori

2. Kelompok anak balita Anak balita juga merupakan kelompok umur rawan gizi dan rawan penyakit. Kelompok ini merupakan kelompok umur yang paling menderita akibat gizi (KKP), dan jumlahnya dalam populasi besar. Beberapa kondisi atau anggapan yang menyebabkan anak balita ini rawan gizi dan rawan penyakit antara lain: a) Anak balita baru berada dalam masa transisi dari makanan bayi ke makanan dewasa b) Biasanya anak balita ini sudah mempunyai adik, atau ibunya sudah bekerja penuh sehingga perhatian ibu sudah berkurang c) Anak balita sudah mulai main di tanah, dan sudah dapat main di luar rumahnya sendiri, sehingga lebih terpapar dengan lingkungan yang kotor dan kondisi yang memungkinkan untuk terinfeksi dengan berbagai macam penyakit. d) Anak balita belum dapat mengurus dirinya sendiri, termasuk dalam memilih makanan. Di pihak lain ibunya sudah tidak begitu memperhatikan lagi makanan anak balita, karena dianggap sudah dapat makan sendiri. Dengan adanya Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), yang sasaran utamanya adalah anak balita sangat tepat untuk meningkatkan gizi dan kesehatan anak balita. 10

Marleni - 1102010156 3. Kelompok anak sekolah Pada umumnya kelompok umur ini mempunyai kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan kesehatan anak balita. Masalah-masalah yang timbul pada kelompok ini antara lain : BB rendah, defisiensi Fe (anemia) dan defisiensi vit. E. Masalah ini timbul karena pada umur-umur ini anak sangat aktif bermain dan banyak kegiatan, baik di sekolah maupun di lingkungan/tetangganya. Di pihak lain anak kelompok ini kadang-kadang nafsu makan mereka menurun, sehingga konsumsi makanan tidak seimbang dengan kalori yang diperlukan. Program UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) adalah kegiatan yang sangat tepat untuk membina dan meningkatkan gizi dan kesehatan kelompok ini. Di samping anak sekolah adalah kelompok yang sudah terorganisasi sehingga mudah untuk dijangkau program, juga karena kelompok ini merupakan kelompok yang mudah menerima upaya pendidikan. Ahli pendidikan berpendapat bahwa kelompok umur ini dangat sensitif untuk menerima pendidikan, termasuk pendidikan gizi. 4. Kelompok remaja Pertumbuhan anak remaja pada umur ini juga sangat pesat, kemudian juga kegiatankegiatan jasmani termasuk olahraga juga pada kondisi puncaknya. Oleh sebab itu, apabila konsumsi makanan tidak seimbang dengan kebutuhan kalori untuk pertumbuhan dan kegiatan-kegiatannya, maka akan terjadi defisiensi yang akhirnya menghambat pertumbuhannya. Pada anak remaja putri mulai terjadi menarche (awal menstruasi), yang berarti mulai terjadi pembuangan Fe. Oleh sebab itu, kalau kurang konsumsi makanan khususnya Fe, maka akan terjadi kekurangan Fe (anemia). Upaya untuk membina kesehatan dan gizi kelompok ini juga dapat dilakukan melalui sekolah (UKS), karena kelompok ini pada umumnya berada di bangku sekolah menengah pertama maupun umum (SMP atau SMU). Di samping itu, pembinaan melalui organisasi-organisasi kemasyarakatan misalnya : karang taruna, remaja/pemuda gereja, remaja masjid, dan sebagainya juga tepat. Karena kelompok pada remaja ini sudah mulai tertarik untuk berorganisasi atau senang berorganisasi. 5. Kelompok ibu hamil Ibu hamil sebenarnya juga berhubungan dengan proses pertumbuhan, yaitu pertumbuhan janin yang dikandungnya dan pertumbuhan berbagai organ tubunya sebagai pendukung proses kehamilan tersebut, misalnya mammae. Untuk mendukung berbagai proses pertumbuhan ini maka kebutuhan makanan sebagai sumber energi juga meningkat. Kebutuhan kalori tambahan bagi ibu hamil sekitar 300-350 kalori/hari. Demikian pula kebutuhan protein meningkat dengan 10 gr/hari. Peningkatan metabolisme berbagai zat gizi pada ibu hamil juga memerlukan peningkatan suplai vitamin, terutama thiamin, reboflavin, vitamin A dan D. Kebutuhan berbagai mineral khususnya Fe dan Ca juga meningkat. 11

Marleni - 1102010156 Apabila kebutuhan kalori, protein, vitamin, dan mineral yang meningkat ini tidak dapat dipenuhi melalui konsumsi makanan oleh ibu hamil, akan terjadi kekurangan gizi. Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat berakibat : f. g. e. Berat badan bayi pada waktu lahir rendah (BBLR) Kelahiran prematur Lahir dengan berbagai kesulitan dan lahir mati

1. Kelompok ibu menyusui Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan utama bayi oleh sebab itu, maka untuk menjamin kecukupan ASI bagi bayi, makanan ibu yang sedang menyusui harus diperhatikan. Sekresi ASI rata-rata 800-850 ml/hari, dan mengandung kalori 60-65 kalori, 1,0-1,2 gr protein dan lemak 2,5-3,5 gr setiap 100 ml. Zat-zat ini diambil dari tubuh ibu, dan harus digantikan dengan suplai makanan ibu sehari-hari. Untuk itu maka ibu yang sedang menyusui memerlukan tambahan 800 kalori sehari dan tambahan protein 25 gr sehari, di atas kebutuhan bila ibu tidak menyusui. Dalam batas-batas tertentu, kebutuhan bayi akan zat-zat gizi ini diambil dari tubuh ibunya tanpa menghiraukan apakah ibu mempunyai persediaan cukup atau tidak. Apabila konsumsi makanan ibu tidak mencukupi, zat-zat dalam ASI akan terpengaruh. Khusus untuk protein, meskipun konsumsi ibu tidak mencukupi, ASI akan tetap memberikan jatah yang diperlukan oleh anaknya dengan mengambil jaringan ibunya, akibatnya ibunya menjadi kurus. Bila konsumsi Ca ibu yang berkurang, akan diambil cadangan Ca jaringan ibunya, sehingga memberikan osteoporosis dan kerusakan gigi (caries dentis). 2. Kelompok usia lanjut (Usila) Meskipun usia ini sudah tidak mengalami penurunan fungsinya maka sering terjadi gangguan gizi. Contohnya pada usila, beberapa gigi-geligi bahkan semuanya tanggal sehingga kesulitan dalam mengunyah makanan. Oleh sebab itu, apabila makanan tidak diolah sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan pengunyahan, maka akan terjadi gangguan dalam pencernaan dan penyerapan oleh usus. Di samping itu, alat pencernaan dan kelenjar-kelenjarnya juga sudah menurun, oleh karena itu makan-makanan yang mudah dicerna dan tidak memberatkan fungsi kelenjar pencernaan. Makanan yang tidak banyak mengandung lemak pada umumnya mudah dicerna. Kadar serat yang tidak dapat dicerna sebaiknya tidak dikonsumsi oleh usila, namun demikian makanan yang mengandung serta yang lain harus banyak, agar dapat melancarkan peristaltik dan dengan demikian melancarkan buang air (defekasi). Keperluan energi pada usila sudah menurun, oleh sebab itu, konsumsi makanan untuk usila secara kuantitas tidak sama dengan kelompok rentan yang lain. Yang penting di 12

Marleni - 1102010156 sini kualitas makanan dalam arti keseimbangan zat gizi harus dijaga. Kegemukan oada usila sangat merugikan bagi usila itu sendiri, karena merupakan resiko berbagai penyakit seperti : karsiovaskuler, diabetes melitus, hipertensi, dan sebagainya. Pengukuran Status Gizi Masyarakat Pengukuran status gizi masyarakat dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu : Pengukuran langsung dan Pengukuran tidak langsung. Pengukuran langsung terdiri dari : 1) Antropometri Pengertian : Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Kegunaan : Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh. 2) Biokimia Pengertian : Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah, urin, tinja dan beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Kegunaan : Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penetuan kimia faal dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik. 3) Klinis Pengertian : Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang 13

Marleni - 1102010156 dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervicial epithelial tissue) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid Kegunaan : Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secaracepat (rapid clinical survey). Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Di samping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) atau gejala (symtome) atau riwayat penyakit. 4) Biofisik Pengertian : Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan. Kegunaan : Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindness). Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap. Pengukuran tidak langsung terdiri dari : 1) Survei konsumsi makanan Pengertian : Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi. Kegunaan : Pengumpulan data konsumsi pangan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga, dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan zat gizi. 2) Status vital Pengertian : Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi. 14

Marleni - 1102010156 Kegunaan : Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi. 3) Faktor ekologi Pengertian : Bengoa mengungkapkan bahwa nutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologi dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dan lainlain. Kegunaan : Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi gizi Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa diantara kelompok umur yang rentan terhadap penyakit-penyakit kekurangan gizi adalah kelompok bayi dan anak balita. Oleh sebab itu, indikator yang paling baik untuk mengukur status gizi masyarakat adalah melalui status gizi bayi (bayi dan anak balita). Selama ini telah banyak dihasilkan berbagai pengukuran status gizi tersebut, dan masing-masing ahli mempunyai argumentasi sendiri dalam mengembangkan pengukuran tersebut. Untuk berat dan tinggi per umur sebagai indikator status gizi anak, pada umumnya para peneliti cenderung mengacu kepada standar Harvard dengan berbagai modifikasi. Di bawah ini akan diuraikan 5 macam cara pengukuran yang sering digunakan di bidang gizi masyarakat serta klasifikasinya : 1) Berat Badan per Umur Berdasarkan klasifikasi dari universitas Harvard, keadaan gizi anak diklasifikasikan menjadi tiga tingkat, yakni : - Gizi lebih (over weight) - Gizi baik (well nourished) - Gizi kurang (under weight), yang mencakup kekurangan kalori dan protein (KKP) tingkat I dan II Untuk negara-negara berkembang pada umumnya menggunakan klasifikasi dari Harvard (Standart Harvard) tersebut, dengan berbagai modifikasi. Oleh karena standar Harvard tersebut dikembangkan untuk mengukur status gizi anak dari negaranegara Barat maka prinsip utama dalam modifikasi adalah disesuaikan dengan kondisi 15

Marleni - 1102010156 anak-anak dari negara-negara Asia dan Afrika. Sehingga untuk negara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia, klasifikasi status gizi anak didasarkan pada 50 percentile dari 100% standar Harvard. Klasifikasi dari standar Harvard yang sudah dimodifikasi tersebut adalah : - Gizi baik adalah apabila berat badan bayi/anak menurut umurnya >89% standar Harvard. - Gizi kurang adalah apabila berat badan bayi/anak menurut umur berada diantara 60,1%-80% standar Harvard. - Gizi buruk adalah apabila berat badan bayi/anak menurut umurnya 60% atau kurang dari standar Harvard. Secara terperinci, pengukuran status gizi bayi/anak balita berdasarkan berat dan tinggi badan adalah dengan menggunakan tabel. 2) Tinggi Badan per Umur Pengukuran status gizi bayi dan anak balita berdasarkan tinggi badan menurut umur juga menggunakan modifikasi standar Harvard, dengan klasifikasinya adalah : - Gizi baik, yakni apabila panjang/tinggi badan bayi/anak menurut umurnya >80% dari standar Harvard - Gizi kurang, apabila panjang/tinggi badan bayi/anak menurut umurnya berada diantara 70,1%-80% dari standar Harvard - Gizi buruk, apabila panjang/tinggi badan bayi/anak menurut umurnya 70% atau kurang dari standar Harvard 3) Berat Badan menurut Tinggi Pengukuran berat badan menurut tinggi badan ini diperoleh dengan mengkombinasikan berat badan dan tinggi badan per umur menurut standar Harvard. Klasifikasinya adalah : - Gizi baik, apabila berat badan bayi/anak menurut panjang/tingginya >90% dari standar Harvard - Gizi kurang, apabila berat badan bayi/anak menurut panjang/tingginya berada diantara 70,1%-90% dari standar Harvard - Gizi buruk, apabila berat badan bayi/anak menurut panjang/tingginya 70% atau kurang dari standar Harvard 4) Lingkar lengan atas (LLA) menurut Umur 16

Marleni - 1102010156 Klasifikasi pengukuran status gizi bayi/anak berdasarkan lingkar lengan atas, yang sering digunakan adalah mengacu kepada standar Harvard, klasifikasinya adalah : - Gizi baik, apabila LLA bayi/anak menurut umurnya >85% standar Wolanski - Gizi kurang, apabila LLA bayi/anak menurut umurnya diantara 70,1%-85% standar Wolanski - Gizi buruk, apabila Lla bayi/anak menurut umurnya 70% atau kurang dari standar Wolanski Pengukuran status gizi bayi/anak berdasarkan lingkar lengan atas secara terperinci adalah menggunakan tabel. 5) Indeks massa tubuh (IMT) Untuk menentukan status gizi orang dewasa dapat menggunakan indeks massa tubuh atau body mass index (BMI). Formula untuk menentukan IMT adalah : IMT = BB(kg) / [TB(cm)/100]2 Hasil perhitungan dengan formula ini akan mengindikasikan status gizi dengan klasifikasi sebagai berikut : a) < 18 b) 18-24 c) 25-30 d) >30 3. : kurus, gizi kurang : normal, gizi baik : gemuk, gizi lebih : gemuk sekali (obesitas), gizi berlebihan

MM Perilaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS) Pengertian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah bentuk perwujudan paradigma sehat dalam budaya perorangan, keluarga, dan masyarakat yang berorientasi sehat, bertujuan untuk meningkatkan, memelihara, dan melindungi kesehatannya baik fisik, mental, spiritual, maupun sosial. Selain itu juga program perilaku hidup bersih dan sehat bertujuan memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, kelompok, keluarga, dengan membuka jalur komunikasi, informasi, dan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku sehingga masyarakat sadar, mau, dan 17

Marleni - 1102010156 mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat melalui pendekatan pimpinan (advocacy), bina suasana (social support), dan pemberdayaan masyarakat (empowerment). Dengan demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri terutama pada tatanannya masing-masing (Depkes RI, 2002). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan individu/kelompok dapat menolong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan derajat kesehatan masyarakat (Dinkes Jabar, 2010). Tujuan PHBS Menurut Depkes RI (1997), Tujuan dari PHBS adalah untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, serta meningkatkan peran serta aktif masyarakat termasuk dunia usaha dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Strategi PHBS Strategi adalah cara atau pendekatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan PHBS. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan telah menetapkan tiga strategi dasar promosi kesehatan dan PHBS yaitu : 3. Gerakan Pemberdayaan (Empowerment) Pemberdayaan adalah proses pemberian informasi secara terus-menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan sasaran, serta proses membantu sasaran agar sasaran tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar ( aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude), dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice). Sasaran utama dari pemberdayaan adalah individu dan keluarga serta kelompok masyarakat. Bilamana sasaran sudah pindah dari mau ke mampu melaksanakan boleh jadi akan terkendala oleh dimensi ekonomi. Dalam hal ini kepada yang bersangkutan dapat diberikan bantuan langsung, tetapi yang sering kali dipraktikkan adalah dengan mengajaknya ke dalam proses pengorganisasian masyarakat (community organization) atau pembangunan masyarakat (community development). Untuk itu sejumlah individu yang telah mau dihimpun dalam suatu kelompok untuk bekerjasama memecahkan kesulitan yang dihadapi. Tidak jarang kelompok ini pun masih juga memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari pemerintah atau dari dermawan). Disinilah letak pentingnya sinkronisasi promosi kesehatan dan PHBS dengan program kesehatan yang didukungnya. 4. Bina Suasana (Social Support) Bina suasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendorong individu anggota masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan. Seseorang 18

Marleni - 1102010156 akan terdorong untuk mau melakukan sesuatu apabila lingkungan sosial dimanapun ia berada (keluarga di rumah, orang-orang yang menjadi panutan/idolanya, kelompok arisan, majelis agama, dan bahkan masyarakat umum) menyetujui atau mendukung perilaku tersebut. Oleh karena itu, untuk mendukung proses pemberdayaan masyarakat khususnya dalam upaya meningkatkan para individu dari fase tahu ke fase mau, perlu dilakukan Bina Suasana. Terdapat tiga pendekatan dalam Bina Suasana yaitu: pendekatan individu, pendekatan kelompok, dan pendekatan masyarakat umum. 5. Pendekatan Pimpinan (Advocacy) Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait (stakeholders). Pihak-pihak yang terkait ini bisa brupa tokoh masyarakat formal yang umumnya berperan sebagai penentu kebijakan pemerintahan dan penyandang dana pemerintah. Juga dapat berupa tokoh-tokoh masyarakat informal seperti tokoh agama, tokoh pengusaha, dan yang lain yang umumnya dapat berperan sebagai penentu kebijakan (tidak tertulis) dibidangnya dan atau sebagai penyandang dana non pemerintah. Perlu disadari bahwa komitmen dan dukungan yang diupayakan melalui advokasi jarang diperoleh dalam waktu yang singkat. Pada diri sasaran advokasi umumnya berlangsung tahapantahapan yaitu: a) mengetahui atau menyadari adanya masalah, b) tertarik untuk ikut mengatasi masalah, c) peduli terhadap pemecahan masalah dengan mempertimbangkan berbagai alternatif pemecahan masalah, d) sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif pemecahan masalah, dan e) memutuskan tindak lanjut kesepakatan. Tatanan PHBS Ada lima tatanan PHBS yakni: tatanan rumah tangga, tatanan pendidikan, tempat umum, tempat kerja, dan institusi kesehatan. PHBS di Rumah Tangga Kondisi sehat dapat dicapai dengan mengubah perilaku dari yang tidak sehat menjadi perilaku sehat dan menciptakan lingkungan sehat di rumah tangga. Oleh karena itu, kesehatan perlu dijaga, dipelihara dan ditingkatkan oleh setiap anggota rumah tangga serta diperjuangkan oleh semua pihak. Rumah Tangga ber-PHBS berarti mampu menjaga, meningkatkan dan melindungi kesehatan setiap anggota rumah tangga dari gangguan ancaman penyakit dan lingkungan yang kurang kondusif untuk hidup sehat. Penerapan PHBS di rumah tangga merupakan tanggung jawab setiap anggota rumah tangga, yang juga menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/ kota beserta jajaran sektor terkait untuk memfasilitasi kegiatan PHBS di rumah tangga agar dapat dijalankan secara efektif.

19

Marleni - 1102010156 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah salah satu strategi yang dapat ditempuh untuk menghasilkan kemandirian di bidang kesehatan, baik pada masyarakat maupun pada keluarga. Artinya harus ada komunikasi antara kader dengan keluarga/ masyarakat untuk memberikan informasi dan melakukan pendidikan kesehatan Tujuan PHBS Tujuan umum : Meningkatkan Rumah Tangga Ber-PHBS di desa kabupaten/ kota di seluruh Indonesia Tujuan khusus : Meningkatnya pengetahuan, kemauan dan kemampuan anggota rumah tangga untuk melaksanakan PHBS Berperan aktif dalam gerakan PHBS di masyarakat

Indikator PHBS Rumah Tangga Ber-PHBS adalah rumah tangga yang memenuhi 10 indikator PHBS di rumah tangga. Namun, jika dalam rumah tangga tidak ada ibu yang melahirkan, tidak ada bayi dan tidak ada balita, maka pengertian Rumah Tangga Ber-PHBS adalah rumah tangga yang memenuhi hanya 7 indikator. Indikator PHBS di rumah tangga adalah : 1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan adalah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan (dokter kandungan dan kebidanan, dokter umum dan bidan). 2. Memberi bayi ASI eksklusif adalah bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan. 3. Menimbang balita setiap bulan adalah balita (umur 12-60 bulan) ditimbang setiap bulan dan tercatat di KMS atau buku KIA. 4. Menggunakan air bersih adalah rumah tangga yang menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari yang berasal dari : air kemasan, air ledeng, air pompa, sumur terlindung, mata air terlindung dan penampungan air hujan serta memenuhi syarat air bersih yaitu tidak berasa, tidak berbau dan tidak berwarna. Sumber air pompa, sumur dan mata air terlindung berjarak minimal 10 meter dari sumber pencemar seperti tempat penampuangan kotoran atau limbah. 5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun adalah penduduk 5 tahun keatas mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar, sebelum memegang bayi, setelah mencebok anak, dan sebelum menyiapkan makanan menggunakan air bersih mengalir dan sabun. 20

Marleni - 1102010156 6. Menggunakan jamban sehat adalah anggota rumah tangga yang menggunakan jamban leher angsa dengan tangki septik atau lubang penampungan kotoran sebagai pembuangan akhir dan terpelihara kebersihannya. Untuk daerah yang sulit air dapat menggunakan jamban cemplung, jamban plengsengan. 7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu adalah rumah tangga melakukan pemberantasan jentik nyamuk di dalam atau di luar rumah tangga seminggu sekali dengan 3M plus/ abatisasi/ ikanisasi atau cara lain yang dianjurkan. 8. Makan sayur dan buah setiap hari adalah anggota rumah tangga umur 10 tahun keatas yang mengkonsumsi minimal 2 porsi sayur dan 3 porsi buah atau sebaliknya setiap hari. 9. Melakukan aktifitas fisik setiap hari adalah penduduk/ anggota keluarga umur 10 tahun keatas melakukan aktifitas fisil minimal 30 menit setiap hari. 10. Tidak merokok di dalam rumah adalah penduduk/ anggota rumah tangga umur 10 tahun keatas tidak merokok di dalam rumah ketika berada bersama anggota keluarga lainnya. PHBS di Sekolah Pengertian PHBS di sekolah adalah upaya untuk memperdayakan siswa, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah agar tahu, mau, dan mampu mempraktikkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan sekolah sehat. Perilaku hidup bersih dan sehat juga merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya , serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat (Depkes RI, 2007). Tujuan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah mempunyai tujuan yakni: Tujuan Umum : Memperdayakan setiap siswa, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah agar tau, mau, dan mampu menolong diri sendiri di bidang kesehatan dengan menerapkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan sekolah sehat. Tujuan Khusus : h. Meningkatkan pengetahuan tentang PHBS bagi setiap siswa, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah.

21

Marleni - 1102010156 i. Meningkatkan peran serta peran aktif setiap siswa, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah ber-PHBS di sekolah. j. Memandirikan setiap siswa, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah ber-PHBS. Manfaat Manfaat bagi siswa : a. Meningkatkan kesehatannya dan tidak mudah sakit b. Meningkatkan semangat belajar c. Meningkatkan produktivitas belajar d. Menurunkan angka absensi karena sakit Manfaat bagi warga sekolah : a. Meningkatkan semangat belajar siswa berdampak positif terhadap pencapaian target dan tujuan b. Menurunnya biaya kesehatan yang harus dikeluarkan oleh orangtua c. Meningkatkan citra sekolah yang positif Manfaat bagi sekolah : a. Adanya bimbingan teknis pelaksanaan pembinaan PHBS di sekolah b. Adanya dukungan buku pedoman dan media promosi PHBS di sekolah Manfaat bagi masyarakat : a. Mempunyai lingkungan sekolah yang sehat b. Dapat mencontoh perilaku hidup bersih dan sehat yang diterapkan oleh sekolah Manfaat bagi pemerintah provinsi/kabupaten/kota : a. Sekolah yang sehat menunjukkan provinsi/kabupaten/kota yang baik kinerja dan citra pemerintah

b. Dapat dijadikan pusat pembelajaran bagi daerah lain dalam pembinaan PHBS di sekolah Sasaran a. Siswa peserta didik b. Warga sekolah (kepala sekolah, guru, karyawan sekolah, komite sekolah, dan orangtua siswa) 22

Marleni - 1102010156 c. Masyarakat lingkungan sekolah (penjaga kantin, satpam, dll) Strata

Tabel Strata PHBS di Sekolah Strata Pratama Strata Madya Strata Utama

Memelihara rambut agar Perilaku di strata pratama Perilaku di strata bersih dan rapi ditambah : madya ditambah : Memakai pakaian bersih Memberantas jentik nyamuk dan rapi Mengonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah

Memelihara kuku agar Menggunakan jamban yang Menimbang berat selalu pendek dan bersih bersih dan sehat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan Memakai sepatu bersih dan Menggunakan air bersih rapi Berolahraga teratur dan Mencuci tangan dengan air terukur mengalir dan memakai sabun Tidak merokok di sekolah Membuang sampah ke tempat sampah yang terpilah (sampah basah, sampah kering, sampah berbahaya)

Tidak NAPZA

menggunakan

Indikator a. Memelihara rambut agar bersih dan rapi Mencuci rambut secara teratur dan menyisirnya sehingga terlihat rapih. Rambut yang bersih adalah rambut yang tidak kusam, tidak berbau, dan tidak berkutu. Memeriksa kebersihan dan kerapihan rambut dapat dilakukan oleh dokter kecil/kader kesehatan/guru UKS minimal seminggu sekali. b. Memakai pakaian bersih dan rapi Memakai baju yang tidak ada kotorannya, tidak berbau, dan rapih. Pakaian yang bersih dan rapih diperoleh dengan mencuci baju setelah dipakai dan dirapikan dengan

23

Marleni - 1102010156 disetrika. Memeriksa baju yang dipakai dapat dilakukan kesehatan/guru UKS minimal seminggu sekali. c. Memelihara kuku agar selalu pendek dan bersih Memotong kuku sebatas ujung jari tangan secara teratur dan membersihkannya sehingga tidak hitam/kotor. Memeriksa kuku secra rutin dapat dilakukan oleh dokter kecil/kader kesehatan/guru UKS minimal seminggu sekali. d. Memakai sepatu bersih dan rapi Memakai sepatu yang tidak ada kotoran menempel pada sepatu, rapih misalnya ditalikan bagi sepatu yang bertali. Sepatu bersih diperoleh bila sepatu dibersihkan setiap kali sepatu kotor. Memeriksa sepatu yang dipakai siswa dapat dilakukan oleh dokter kecil/kader kesehatan/guru UKS minimal seminggu sekali. e. Berolahraga teratur dan terukur Siswa/Guru/Masyarakat sekolah lainnya melakukan olahraga/aktivitas fisik secara teratur minimal tiga kali seminggu selang sehari. Olahraga teratur dapat memelihara kesehatan fisik dan mental serta meningkatkan kebugaran tubuh sehingga tubuh tetap sehat dan tidak mudah jatuh sakit. Olahraga dapat dilakukan di halaman secara bersama-sama, di ruangan olahraga khusus (bila tersedia), dan juga di ruangan kerja bagi guru/ karayawan sekolah berupa senam ringan dikala istirahat sejenak dari kesibukan kerja. Sekolah diharapkan membuat jadwal teratur untuk berolahraga bersama serta menyediakan alat/sarana untuk berolahraga. f. Tidak merokok di sekolah Anak sekolah/guru/masyarakat sekolah tidak merokok di lingkungan sekolah. Merokok berbahaya bagi kesehatan perokok dan orang yang berada di sekitar perokok. Dalam satu batang rokok yang diisap akan dikeluarkan 4000 bahan kimia berbahaya diantaranya: Nikotin (menyebabkan ketagihan dan kerusakan jantung serta pembuluh darah); Tar (menyebabkan kerusakan sel paru-paru dan kanker) dan CO (menyebabkan berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen sehingga sel-sel tubuh akan mati). Tidak merokok di sekolah dapat menghindarkan anak sekolah/guru/masyarkat sekolah dari kemungkinan terkena penyakit-penyakit tersebut diatas. Sekolah diharapkan membuat peraturan dilarang merokok di lingkungan sekolah. Siswa/guru/masyarakat sekolah bisa saling mengawasi diantara mereka untuk tidak merokok di lingkungan sekolah dan diharapkan mengembangkan kawasan tanpa rokok/kawasan bebas asap rokok. g. Tidak menggunakan NAPZA Anak sekolah/guru/masyarkat sekolah tidak menggunakan NAPZA (Narkotika Psikotropika Zat Adiktif). Penggunaan NAPZA membahayakan kesehatan fisik maupun psikis pemakainya. 24 oleh dokter kecil/kader

Marleni - 1102010156 h. Memberantas jentik nyamuk Upaya untuk memberantas jentik di lingkungan sekolah yang dibuktikan dengan tidak ditemukan jentik nyamuk pada: tempat-tempat penampungan air, bak mandi, gentong air, vas bunga, pot bunga/alas pot bunga, wadah pembuangan air dispenser, wadah pembuangan air kulkas, dan barang-barang bekas/tempat yang bisa menampung air yang ada di sekolah. Memberantas jentik di lingkungan sekolah dilakukan dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui kegiatan: menguras dan menutup tempat-tempat penampungan air, mengubur barang-barang bekas, dan menghindari gigitan nyamuk. Dengan lingkungan bebas jentik diharapkan dapat mencegah terkena penyakit akibat gigitan nyamuk seperti demam berdarah, cikungunya, malaria, dan kaki gajah. Sekolah diharapkan dapat membuat pengaturan untuk melaksanakan PSN minimal satu minggu sekali. i. Menggunakan jamban yang bersih dan sehat Anak sekolah/guru/masyarakat sekolah menggunakan jamban/WC/kakus leher angsa dengan tangki septic atau lubang penampungan kotoran sebagai pembuangan akhir saat buang air besar dan buang air kecil. Menggunakan jamban yang bersih setiap buang air kecil ataupun buang air besar dapat menjaga lingkungan di sekitar sekolah menjadi bersih, sehat, dan tidak berbau. Disamping itu tidak mencemari sumber air yang ada disekitar lingkungan sekolah serta menghindari datangnya lalat atau serangga yang dapat menularkan penyakit seperti: diare, disentri, tipus, kecacingan, dan penyakit lainnya. Sekolah diharapkan menyediakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan dalam jumlah yang cukup untuk seluruh siswa serta terpisah antara siswa laki-laki dan perempuan. Perbandingan jamban dengan pemakai adalah 1:30 untuk laki-laki dan 1:20 untuk perempuan. j. Menggunakan air bersih Anak sekolah/guru/masyarakat sekolah menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari di lingkungan sekolah. Sekolah diharapkan menyediakan sumber air yang bisa berasal dari air sumur terlindung, air pompa, mata air terlindung, penampungan air hujan, air ledeng, dan air dalam kemasan (sumber air berasal dari smur pompa, sumur, mata air terlindung berjarak minimal 10 meter dari tempat penampungan kotoran atau limbah/WC). Air diharapkan tersedia dalam jumlah yang memenuhi kebutuhan dan tersedia setiap saat. k. Mencuci tangan dengan air mengalir dan memakai sabun Sekolah/guru/masyarakat sekolah selalu mencuci tangan sebelum makan, sesudah buang air besar/sesudah buang air kecil, sesudah beraktivitas, dan atau setiap kali tangan kotor dengan memakai sabun dan air bersih yang mengalir. Air bersih yang mengalir akan membuang kuman-kuman yang ada pada tangan yang kotor, sedangkan sabun selain membersihkan kotoran juga dapat membunuh kuman yang ada di tangan. Diharapkan tangan menjadi bersih dan bebas dari kuman serta dapat mencegah 25

Marleni - 1102010156 terjadinya penularan penyakit seperti: diare, disentri, kolera, tipus, kecacingan, penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan flu burung. l. Membuang sampah ke tempat sampah yang terpilah Anak sekolah/guru/masyarakat sekolah membuang sampah ke tempat sampah yang tersedia. Diharapkan tersedia tempat sampah yang terpilah antara sampah organik, non-organik, dan sampah bahan berbahaya. Sampah selain kotor dan tidak sedap dipandang juga mengandung berbagai kuman penyakit. Membiasakan membuang sampah pada tempat sampah yang tersedia akan sangat membantu anak sekolah/guru/masyarakat sekolah terhindar dari berbagai kuman penyakit. m. Mengonsumsi jajanan sehat dari kantin sekolah Anak sekolah/guru/masyarakat sekolah mengkonsumsi jajanan sehat dari kantin/warung sekolah atau bekal yang dibawa dari rumah. Sebaiknya sekolah menyediakan warung sekolah sehat dengan makanan yang mengandung gizi seimbang dan bervariasi, sehingga membuat tubuh sehat dan kuat, angka absensi anak sekolah menurun, dan proses belajar berjalan dengan baik. n. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan Siswa ditimbang berat badan dan diukur tinggi badan setiap bulan agar diketahui tingkat pertumbuhannya. Hasil penimbangan dan pengukuran dibandingkan dengan standar berat badan dan tinggi badan sehingga diketahui apakah pertumbuhan siswa normal atau tidak normal. PHBS di Tempat Kerja PHBS di Tempat Kerja adalah upaya untuk member-dayakan para pekerja agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan Tempat Kerja Sehat. Tujuan Mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat di tempat kerja. Meningkatkan produktivitas kerja. Menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Menurunkan angka absensi tenaga kerja. Menurunkan angka penyakit akibat kerja dan lingkungan kerja. Memberikan dampak yang positif terhadap lingkungan kerja dan masyarakat. Indikator

26

Marleni - 1102010156 Semua PHBS diharapkan dilakukan di tempat kerja. Namun demikian, tempat kerja telah masuk kategori Tempat Kerja Sehat, bila masyarakat pekerja di tempat kerja : a. Tidak merokok di tempat kerja b. Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja. c. Melakukan olahraga secara teratur/aktivitas fisik d. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar dan buang air kecil e. Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja. f. Menggunakan air bersih. g. Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar. h. Membuang sampah pada tempatnya. i. Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan. Manfaat 1) Bagi Pekerja - Setiap pekerja meningkat kesehatannya dan tidak mudah sakit. - Produktivitasnya pekerja meningkat yang penghasilan pekerja dan ekonomi keluarga. berdampak pada peningkatan

- Pengeluaran biaya rumah tangga hanya ditujukan untuk peningkatan taraf hidup bukan untuk biaya pengobatan. 2) Bagi Masyarakat - Tetap mempunyai lingkungan yang sehat walaupun berada di sekitar tempat kerja. - Dapat mencontoh perilaku hidup bersih dan sehat yang diterapkan oleh tempat kerja setempat. 3) Bagi Tempat Kerja - Meningkatkan produktivitas kerja pekerja yang berdampak positif terhadap pencapaian target dan tujuan. - Menurunnya biaya kesehatan yang harus dikerluarkan. - Meningkatkan citra tempat kerja yang positif. 4) Bagi Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota

27

Marleni - 1102010156 - Peningkatan tempat kerja sehat menunjukkan kinerja dan citra pemerintah provinsi dan kabupaten/kota yang baik. - Anggaran pendapatan dan belanja daerah dapat dialihkan untuk peningkatan kesehatan bukan untuk menanggulangi masalah kesehatan. - Dapat dijadikan pusat pembelajaran bagi daerah lain dalam pembinaan PHBS. - Adanya bimbingan teknis pelaksaan pembinaan PHBS di tempat kerja. - Dukungan buku panduan dan media promosi. PHBS di Tempat Umum PHBS di tempat-tempat umum adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat pengunjung dan pengelola tempat-tempat umum agar tahu, mau dan mapu untuk mempraktikan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan tempat-tempat umum sehat. Adapun yang dimaksud dengan tempat-tempat umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah/swasta atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat seperti sarana pariwisata, transportasi, sarana ibadah, sarana perdagangan dan olah raga, rekreasi dan sarana social lainnya. Tujuan 1) Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat masyarakat di tempat-tempat umum. 2) Meningkatnya tempat-tempat umum sehat, khususnya tempat perbelanjaan, rumah makan, tempat ibadah dan angkatan-angkatan Sasaran masyarakat pengunjung/pembeli pedagang petugas kebersihan, keamanan pasar konsumen pengelola (pramusaji) jamaah pemelihara/pengelola tempat ibadah remaja tempat ibadah penumpang

28

Marleni - 1102010156 awak angkutan umum pengelola angkutan umum

Indikator a. PHBS di pasar 1. Menggunakan air bersih 2. Menggunakan jamban 3. Membuang sampah pada tempatnya 4. Tidak merokok di pasar 5. Tidak meludah sembarangan 6. Memberantas jentik nyamuk b. PHBS di tempat ibadah 1. Menggunakan air bersih 2. Menggunakan jamban 3. Membuang sampah pada tempatnya 4. Tidak merokok di tempat ibadah 5. Tidak meludah sembarangan 6. Memberantas jentik nyamuk c. PHBS di rumah makan 1. Menggunakan air bersih 2. Menggunakan Jamban 3. Membuang sampah pada tempatnya 4. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun 5. Tidak merokok di rumah makan 6. Menutup makanan dan minuman 7. Tidak meludah sembarangan 8. Memberantas jentik nyamuk d. PHBS di angkutan umum (bus, angkot, kereta, pesawat, kapal laut, dll) 29

Marleni - 1102010156 1. Menggunakan air bersih 2. Menggunakan Jamban 3. Membuang sampah pada tempatnya 4. Tidak merokok di angkutan umum 5. Tidak meludah sembarangan Manfaat Bagi masyarakat : Masyarakat menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat serta mampu mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan yang dihadapi

Bagi tempat umum : Lingkungan di sekitar tempat-tempat umum menjadi lebih bersih, indah dan sehat, sehingga meningkatkan citra tempat umum Meningkatkan pendapatan bagi tempat-tempat umum sebagai akibat dari meningkatnya kunjungan pengguna tempat-tempat umum

Bagi Pemerintah kabupaten/kota : Peningkatan persentase tempat umum sehat menunjukkan kinerja dan citra pemerintah kabupaten/kota yang baik Kabupaten/kota dapat dijadikan pusat pembelajaran bagi daerah lain dalam pembinaan PHBS di tempat-tempat umum

PHBS di Institusi Kesehatan PHBS di Institusi Kesehatan adalah upaya untuk memberdayakan pasien, masyarakat pengunjung dan petugas agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dan berperan aktif dalam mewujudkan Institusi Kesehatan Sehat. Tujuan Mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat di institusi kesehatan Mencegah terjadinya penularan penyakit di institusi kesehatan Menciptakan Institusi kesehatan yang sehat

Sasaran 30

Marleni - 1102010156 Pasien Keluarga pasien Pengunjung Petugas kesehatan di institusi kesehatan Karyawan di institusi kesehatan

Manfaat Bagi pasien/keluarga pasien/pengunjung : Memperoleh pelayanan kesehatan di institusi kesehatan yang sehat Terhindar dari penularan penyakit Mempercepat proses penyembuhan penyakit dan peningkatan kesehatan pasien

Bagi institusi kesehatan : Mencegah terjadinya penularan penyakit di institusi kesehatan Meningkatkan citra institusi kesehatan yang baik sebagai tempat untuk memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan kesehatan bagi masyarakat

Bagi pemerintah daerah : Peningkatan persentase institusi kesehatan sehat menunjukkan kinerja dan citra pemerintah kabupaten/kota yang baik Kabupaten/kota dapat dijadikan pusat pembelajaran bagi daerah lain dalam pembinaan PHBS di institusi kesehatan

Indikator Semua PHBS diharapkan dilakukan di Institusi Kesehatan. Namun demikian, institusi kesehatan teiah masuk kategori Institusi Kesehatan Sehat, bila pasien, masyarakat pengunjungdan petugas di institusi kesehatan ; 1. Menggunakan air bersih, 2. Menggunakan jamban. 3. Membuang sampan patla tempatnya, 4. Tidak merokok di institusi kesehatan. 5. Tidak meludah sembarangan. 31

Marleni - 1102010156 6. Memberantas Jentik nyamuk. 4. MM Pola asuh dalam keluarga Pola Asuh Pola asuh adalah kegiatan kompleks yang meliputi banyak perilaku spesifik yang bekerja sendiri atau bersama yang memiliki dampak pada anak. Tujuan utama pola asuh yang normal adalah menciptakan kontrol. Meskipun tiap orang tua berbeda dalam cara mengasuh anaknya, namun tujuan utama orang tua dalam mengasuh anak adalah sama yaitu untuk mempengaruhi, mengajari dan mengontrol anak mereka. Gaya Pola Asuh Gaya pola asuh memiliki 2 elemen penting, yaitu : parental responsiveness (respons orang tua) dan parental demandingness (tuntutan orang tua). Parental responsiveness (respons orang tua) Respons orang tua adalah orang tua yang secara sengaja dan mengatur dirinya sendiri untuk sejalan, mendukung dan menghargai kepentingan dan tuntutan anaknya. Parental demandingness (tuntutan orang tua) Tuntutan orang tua adalah orang tua menuntut anaknya untuk menjadi bagian dari keluarga dengan pengawasan, penegakkan disiplin dan tidak segan memberi hukuman jika anaknya tidak menuruti.

Selain respons dan tuntutan, gaya pola asuh juga ditentukan oleh faktor yang ketiga, yaitu kontrol psikologis (menyalahkan, kurang menyayangi atau mempermalukan). Pembagian Pola Asuh Secara Umum Secara individual, orang tua memiliki hubungan yang khas dengan anak namun para peneliti telah mengidentifikasikan 3 macam pola asuh yang umum. Ketiga pola asuh ini telah terbukti berhubungan dengan perilaku dan kepribadian anak. Pembagian 3 macam pola asuh secara umum ini dinamakan : Authoritative, Authoritarian, dan Permissive. 1) Pola asuh Authoritative/Demokrasi Pola asuh ini ditandai dengan orang tua yang memberikan kebebasan yang memadai pada anaknya tetapi memiliki standar perilaku yang jelas. Mereka memberikan alasan yang jelas dan mau mendengarkan anaknya tetapi juga tidak segan untuk menetapkan beberapa perilaku dan tegas dalam menentukan batasan. Mereka cenderung memiliki hubungan yang hangat dengan anaknya dan sensitive terhadap kebutuhan dan pandangan anaknya. Mereka cepat tanggap memuji keberhasilan anaknya dan memiliki kejelasan tentang apa yang mereka harapkan dan anaknya. 32

Marleni - 1102010156 Pola asuh yang paling baik adalah jenis Authoritative. Anak yang diasuh dengan pola ini tampak lebih bahagia, mandiri dan mampu untuk mengatasi stress. Mereka juga cenderung lebih disukai pada kelompok sebayanya, karena memiliki ketrampilan sosial dan kepercayaan diri yang baik. 2) Pola asuh Authoritarian/Otoriter Pola asuh ini cukup ketat dengan apa yang mereka harapkan dan anaknya dan hukuman dan perilaku anak yang kurang baik juga berat. Peraturan diterapkan secara kaku dan seringkali tidak dijelaskan secara memadal dan kurang memahami serta mendengarkan kemamuan anaknya. Penekanan pola asuh ini adalah ketaatan tanpa bertanya dan menghargai tingkat kekuasaan. Disiplin pada rumah tangga ini cenderung kasar dan banyak hukuman. Anak dan orang orang tua yang Authoritarian cenderung untuk lebih penurut, taat perintah dan tidak agresif, tetapi mereka tidak memiliki rasa percaya din dan kemampuan mengontrol dirinya terhadap teman sebayanya. Hubungan dengan orang tua tidak juga dekat. Pola asuh jenis ini terutama sulit untuk anak laki-laki, mereka cenderung untuk lebih pemarah dan kehilangan minat pada sekolahnya lebih awal. Anak dengan pola asuh ini jarang mendapat pujian dan orang tuanya sehingga pada saat mereka tumbuh dewasa, mereka cenderung untuk melakukan sesuatu karena adanya imbalan dan hukuman, bukan karena pertimbangan benar atau salah. 3) Pola asuh Permissive/Permisif Orang tua pada kelompok ini membiarkan anaknya untuk menampilkan dirinya dan tidak membuat aturan yang jelas serta kejelasan tentang perilaku yang mereka harapkan. Mereka seringkali menenima atau tidak peduli dengan perilaku yang buruk. Hubungan mereka dengan anaknya adalah hangat dan menerima. Pada saat menetukan batasan, mereka mencoba untuk memeberikan alasan kepada anaknya dan tidak menggunakan kekuasaan untuk mencapai keinginan mereka. Hasil pola asuh dan orang tua permisif tidak sebaik hasil pola asuh anak dengan orang tua Authoritative. Meskipun anak-anak ini terlihat bahagia tetapi mereka kurang dapat mengatasi stress dan akan marah jika mereka tidak memperoleh apa yang mereka inginkan. Anak-anak ini cenderung imatur. Mereka dapat menjadi agresif dan dominant pada teman sebayanya dan cenderung tidak berorientasi pada hasil. Meskipun hasil penelitian cukup jelas, tetapi perilaku manusia tidaklah hitam putih. Hampir semua orang tua melakukan ketiga jenis pola asuh ini. Cara Mengasuh 1. Sejak lahir sampai 1 tahun Dalam kandungan, anak hidup serba teratur, hangat, dan penuh penlindungan. Setelah dilahinkan, anak sepenuhnya bengantung terutama pada ibu atau pengasuhnya. Pada 33

Marleni - 1102010156 masa ini anak perlu dibantu untuk mempertahankan hidupnya. Pencapaian pada tahap ini untuk mengembangkan rasa percaya pada lingkungannya. Bila nasa percaya tak didapat, maka timbul rasa tak aman, rasa ketakutan dan kecemasan. Bayi belum bisa bercakap-cakap untuk menyampaikan keingmnannya, ia menangis untuk menarik perhatian orang. Tangisannya menunjukkan bahwa bayi membutuhkan bantuan. Ibu harus belajar mengerti maksud tangisan bayi. Keadaan dimana saat bayi membutuhkan bantuan, dan mendapat respon yang sesuai akan menimbulkan rasa percaya dan aman pada bayi. ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi. Dengan pemberian ASI seorang bayi akan didekap ke dada sehingga merasakan kehangatan tubuh ibu dan terjalinlah hubungan kasih sayang antara bayi dan ibunya. Segala hal yang dapat mengganggu proses menyusui dalam hubungan ibu anak pada tahap ini akan menyebabkan terganggunya pembentukan rasa percaya dan rasa aman. 2. Usia 1-3 tahun Pada tahap ini umumnya anak sudah dapat berjalan. Ia mulai menyadari bahwa gerakan badannya dapat diatur sendiri, dikuasai dan digunakannya untuk suatu maksud. Tahap ini merupakan tahap pembentukan kepercayaan diri. Pada tahap ini, akan tertanam dalam diri anak perasaan otonomi diri, makan sendiri, pakai baju sendiri dll. Orang tua hendaknya mendorong agar anak dapat bergerak bebas, menghargai dan meyakini kemampuannya. Usahakan anak mau bermain dengan anak yang lain untuk mengetahui aturan permainan. Hal ini jadi dasar terbentuknya rasa yakin pada diri dan harga diri di kemudian hari. 3. Usia 3-6 tahun (prasekolah) Tahap ini anak dapat meningkatnya kemampuan berbahasa dan kemampuan untuk melakukan kegiatan yang bertujuan, anak mulai memperhatikan dan berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Anak bersifat ingin tahu, banyak bertanya, dan meniru kegiatan sekitarnya, libatkan diri dalam kegiatan bersama dan menunjukkan inisiatif untuk mengerjakan sesuatu tapi tidak mementingkan hasilnya, mulai melihat adanya perbedaan jenis kelamin kadang-kadang terpaku pada alat kelaminnya sendiri. Pada tahap ini ayah punya peran penting bagi anak. Anak laki-laki merasa lebih sayang pada ibunya dan anak perempuan lebih sayang pada ayahnya. Melalui peristiwa ini anak dapat mengalami perasaan sayang, benci, iri hati, bersaing, memiliki, dll. Ia dapat pula mengalami perasaan takut dan cemas. Pada masa ini, kerjasama ayah-ibu amat penting artinya. 4. Usia 6-12 tahun Pada usia ini teman sangat penting dan ketrampilan sosial mereka semakin berkembang. Hubungan mereka menjadi lebih baik dalam berteman, mereka juga

34

Marleni - 1102010156 mudah untuk mendekati teman baru dan menjaga hubungan pertemanan yang sudah ada. Pada usia ini mereka juga menyukai kegiatan kelompok dan petualangan, keadaan ini terjadi karena terbentuknya identifikasi peran dan keberanian untuk mengambil risiko. Orang tua perlu membimbing mereka agar mereka memahami kemampuan mereka yang sebenarnya dan tidak melakukan tindakan yang berbahaya. Anak pada usia ini mulai tertarik dengan masalah seks dan bayi, sehingga orang tua perlu untuk memberikan informasi yang dianggap sensitif ini secara bijaksana Dalam perkembangan ketrampilan mentalnya, mereka dapat mempertahankan keteratrikannya dalam waktu yang lama dan kemampuan menulis mereka baik. Anak pada usia ini seringkali senang membaca buku ilmu pengetahuan atau CD ROM. Mereka menikmati mencari dan menemukan informasi yang menarik minat mereka. Anak mulai melawan orang tuanya, mereka menjadi suka berargumentasi dan tidak suka melakukan pekerjaan rumah. Orang tua perlu secara bijaksana menjelaskann pada mereka tugas dan tanggung jawabnya. Keberhasiln pada masa kanak akhir terlihat, jika mereka dapat berkarya dan produktif dikemudian hari. 5. Usia 12-18 tahun Masa remaja bervariasi pada setiap anak, tapi pada umumnya berlangsung antara usia 11 sampai 18 tahun. Di dalam masa remaja pembentukan identitas diri merupakan salah satu tugas utama, sehingga saat masa remaja selesai sudah terbentuk identitas diri yang mantap. Pertanyaan yang sering pada masa remaja saat pembentukan identitas diri adalah : siapakah saya?, serta : kemanakah arah hidup saya? Jika masa remaja telah berakhir dan pertanyaan itu tidak dapat dijawab dan diselesaikan dengan baik, dapat terjadi apa yang dinamakan : krisis identitas, pada krisis identitas terjadi dapat menimbulkan kebingungan/kekacauan identitas dirinya. Unsur-unsur yang memegang peran penting dalam pembentukan identitas diri adalah : pembentukan suatu rasa kemandirian, peran seksual, identifikasi gender, dan peran sosial serta perilaku. Berkembangnya masa remaja terlihat saat Ia mulai mengambil berbagai macam nilai-nilai etik, baik dan orang tua, remaja lain dan ia menggabungkannya menjadi suatu sistem nilai dan dirinya sendiri. Pada masa remaja, rumah merupakan landasan dasar (base), sedangkan dunianya adalah sekolah maka bagi remaja hubungan yang paling penting selain dengan keluarganya adalah dengan teman sebaya. Pengertian dari rumah sebagai landasan dasar adalah, anak dalam kehidupan seahari-hani tampaknya ia seolah-olah sangat bergantung kepada teman sebayanya, tapi sebenarnya Ia sangat membutuhkan dukungan dan orang tuanya yang sekaligus harus berfungsi sebagai pelindung di saat 35

Marleni - 1102010156 ia mengalami krisis, baik dalam dirinya atau karena faktor lain. Pada masa ini penting sekali sikap keluarga yang dapat berempati, mengerti, mendukung, dan dapat bersikap komunikatif dua anak dengan sang remaja dalam pembentukan identitas diri remaja itu. Dengan berakhirnya masa remaja dan memasuki usia dewasa, terbentuklah dalam suatu identias diri. Keberhasilan yang diperoleh atau kegagalan yang dialami dalam proses pencapaian kemandirian merupakan pengaruh dari fase-fase perkembangan sebelumnya. Kegagalan keluarga dalam memberikan bantuan/dukungan itu secara memadai, akan berakibat dalam ketidak mampuan anak untuk mengatur dan mengendalikan kehidupan emosinya. Sedangkan keberhasilan keluarga dalam pembentukan remaja telah mengambil nilai-nilai etik dari orang tua dan agama, ia mengambil nilai-nilai apa yang terbaik bagi dia dan masyanakat pada umumnya. Jadi penting bagi onang tua untuk memberi teladan yang baik bai remaja, dan bukan hanya menuntut remaja berperilaku baik, tapi orang tua sendiri tidak berbuat demikian. 5. MM Pandangan Islam dalam menjalankan PHBS Pandangan ajaran Islam dalam Kesehatan Uraian yang sederhana menyangkut ajaran agama Islam tentang kesehatan adalah merupakan upaya pengkajian nilai-nilai yang telah membudaya di lingkungan Pesantren yaitu nilai yang bersumber pada ajaran fiqih. Bertitik tolak dari tujuan syariat yang dibawa oleh Rasulullah SAW, yaitu penataan hal ihwal manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat dengan pandangan sepintas pada tubuh ajaran fiqih, maka dapat dilihat adanya garis besar dari pengamtan itu yakni : 1. Rabulibadat, yang menata hubungan manusia dengan sang pencipta. Misalnya sholat, dituntut untuk selalu bersih, baik rohaninya maupun jasadnya. Kebersihan di dalam sholat merupakan syarat mutlak yang harus dilaksanakan karena kalau tidak bersih (suci), maka shalatnya tidak sah. 2. Rubulmuamalat, yaitu masalah hubungan manusia dengan manusia. Dalam hubungan ini ada suatu rumus fiqh yang sangat terkenal di lingkugan Pondok {esantren yaitu yang disebut Alkalliyatul Khmas (Lima kepentingan dasar). Disebutkan kesehatan jiwa raga menempati posisi pokok> Hal tersebut sesuai dengan Hadist Rasulullah yang mentakan hMumin yang kuat lebih disukai dan disenangi oleh Allah dari pada mumin yang lemah. 3. Rubul Munkahat, yang menata hubungan manusia dalam lingkungan keluarga. Islam mengajarkan dalm perkawinan hendaknya mencari pasangan yang sehat, dan menghindari nasab (keturunan yang tidak sehat. 4. Rubul jinayat, yang menata ketentraman dalam pergaulan yang memperhatikan ketentraman dari lingkungan (kesehatan lingkungan). Sebagai contoh dilarang buang hajat disemberang tempat, karena akan mengganggu kesehatan lingkungan. 36

Marleni - 1102010156 Sehat dalam arti agama, yaitu terhibdar dari penyakit hati/rohaniyah meliputi unsure akal, nafsu, kalbu dan roh sekaligus terbibas dari penyakit jasmaniyah yang diakibatkan oleh penyalahgunaan fungsi farj (kelamin), hidung (menghirup dan mencium) kaki (yang mmengantarkan maksud dan tujuan), lidah (merasa dan mengecap), mata (melihat), perasa (perabaan dansentuhan), perut (penyimpanan dan pengatur makanan dan minuman), tangan (merasa, menyentuh dan memegang), telinga (mendengar). Di dalam Al Quran banyak disebutkan tentang pengertian sehat/ kesehatan diantaranya yaitu: As-sawiyyu : Kondisi tubuh yang sempurna, ditandai dengan berfungsinya seluruh organ tubuh secara prima seperti disebutkan dalam surah Maryam ayat 10 yang artinya : Zakariya berkata, Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda. Tuhan berfirman Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga mala, padahal kamu sehat. Sehat bisa juga diartikan terhindar dari penyakit atau lawan dari sakit. Bahasa populernya sehat walafiat seperti disebutkan dalam surah Shad ayat 34 yang artinya Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit). Kemudian ia bertaubat. Sehat dapat pula diartikan dengan sembuh setelah berobat, seperti ungkapan doa Nabi Ibrahim as pada surah as-Syuara ayat 80 yang artinya Dan apabila aku sakit, maka Dialah Allah yang menyembuhkan aku. Selain itu Rasul s.a.w bersabda yang artinya Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat itu tepat guna, maka penyakit itu akan sembuh dengan seijin Allah Azza wa jalla (HR.Muslim (4/2204) dan Ahmad dari Jabir Bin Abdullah.) Cukup jelas dari uraian di atas bahwa dalam agama Islam kesehatan merupakan penjabaran yang nyata dari rahmat kasih sayang Allah yang meliputi segala-galanya dan mamadai risalah Nabi Besar Muhammad SAW, dan itulah sesungguhnya wajah dari Islam. Perilaku hidup bersih, sehat, dan islami (PHBSI) Perilaku hidup bersih dan sehat, suatu program dari kementerian kesehatan yang selalu digemborkan-gemborkan. Namun, sangat susah untuk direalisasikan di negeri ini. Hal ini ditunjukkan dengan persentase rumah tangga yang memenuhi kriteria PHBS masih rendah. Menurut Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat 2010, rata-rata persentase PHBS nasional hanya 35,68 persen. Hal ini berarti bahwa hanya 35,68 persen dari total warga Indonesia yang yang notabene warga yang beragama Islam paling banyak di dunia telah berperilaku hidup bersih dan sehat. Tidak dapat dipungkiri, perubahan perilaku tidak bisa dilakukan dilakukan secara tiba-tiba. Sebenarnya perilaku ini senada dengan istilah akhlak. Akhlak yang baik akan terbentuk dari iman yang kuat (aqidah, red), di mana iman ini harus dimantapkan dalam 37

Marleni - 1102010156 hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Begitu juga dengan perilaku, didahului dengan pengetahuan yang baik, kemudian sikap yang baik, lalu muncul tindakan yang baik, sehingga membentuk perilaku yang baik pula. Mungkin, perilaku hidup bersih dan sehat tidak bisa diwujudkan karena masyarakat Indonesia rata-rata hanya lulusan sekolah dasar. Namun, alangkah mirisnya, saat kita masih melihat beberapa bahkan sebagian besar tenaga kesehatan yang belum bisa berperilaku hidup bersih dan sehat. Ini merupakan alasan yang tersembunyi di balik data-data yang menunjukkan PHBS di negara kita masih dalam kategori rendah. Patut diakui, bahwa tenaga kesehatan juga manusia, tetapi apakah masih wajar seorang tenaga kesehatan masih tidak mau melakukan salah satu PHBS yang mudah seperti cuci tangan menggunakan sabun sebelum makan. Sesungguhnya, seorang tenaga kesehatan memiliki peran yang hampir sama dengan pendakwah seperti Kiai dan Ustadz di mata masyarakat. Perkataan seorang Pendakwah hanya dianggap angin lalu apabila Pendakwah tersebut tidak melaksanakan apa yang disampaikannya. Sama halnya dengan tenaga kesehatan, apa yang disampaikan kepada masyarakat terutama hal yang berhubungan dengan PHBS, seharusnya bisa dilaksanakan terlebih dahulu agar bisa menimbulkan kepercayaan dalam diri masyarakat. Akan tetapi, akar dari alasan tersembunyi tersebut terletak pada spiritual tenaga kesehatan tersebut. Pada dasarnya, Islam telah mengajarkan kita cara berperilaku hidup bersih dan sehat Sesungguhnya Allah Taala adalah baik dan mencintai kebaikan, bersih dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, dermawan dan mencintai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai orang Yahudi. (HR. Tirmidzi) Sampai-sampai teori tentang mencuci tangan pun diatur dalam Islam. So, adakah yang bisa menyaingi teori Islam yang perlahan-lahan kita tinggalkan selama ini? PHBS yang dibuat oleh WHO yang diadopsi oleh kementerian kesehatan hanyalah sekedar pelengkap teori dalam Islam. Oleh karena itu, apabila kita bisa menjadi muslim dan muslimah sejati, tentu saja kebersihan tidak akan menjadi permasalahan lagi. Meskipun pada kenyataannya, sekarang Islam diikonkan sebagai agama yang cukup jorok. Nggak percaya? Banyak dari kaum lain yang mengatakan bahwa anak pesantren itu jorok, orang Islam jarang mandi, orang Islam mulutnya bau, dan celoteh-celoteh lain yang sangat tidak mengenakkan di hati. Mau marah? Tentu. Mau caci maki balik? Pasti. Itu sih, bukan Islamnya yang salah, tetapi orang-orang yang salah karena memandang Islam hanya sebuah ritual dan tidak melaksanakannya secara kaffah. Namun, penjelasan tersebut tidak mungkin didengarkan oleh kaum lain. Ya iyalah, biar kita tunjukkan ribuan Al-Qur;an, hadits, dan buku yang berhubungan dengan coletahan kaum lain tersebut, mereka tidak akan mau mendengarkan bahkan membaca buku tersebut. Hal ini disebabkan yang menjadi bukti nyata mereka untuk menilai Islam itu seperti apa, ya orang Islam itu sendiri. 38

Marleni - 1102010156 So, ternyata menjadi tenaga kesehatan itu, susah-susah gampang lho. Sebelum kita masuk lebih dalam menuju sepak terjang dunia kesehatan, pertama, kita ubah image Islam di mata kaum lain bahwa Islam dan orang Islam itu sangat mencintai kebersihan. Kedua, mumpung masih mahasiswa nih, belajarlah untuk berperilaku yang Islami secara kaffah, dengan hal tersebut maka akan terbentuk akhlak yang baik dalam diri kita, secara nggak langsung perilaku hidup bersih dan sehat juga akan menjadi bagian dari akhlak kita. Selain itu, jangan lupa sampaikan ke masyarakat betapa indahnya Islam itu agar masyarakat kita bisa menerapkan Islam secara kaffah. Manfaatnya???? Secara nggak langsung, tentu saja visi kementerian kesehatan tidak hanya menjadi angan-angan semata, masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan pun agar segera terwujud. Membiasakan Perilaku Hidup Sehat & Bersih Rasulullah SAW dalam suatu hadits mengatakan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman. Artinya Islam merupakan agama yang mencintai kebersihan. Terdapat banyak hadist Rasulullah yang berkaitan dengan perilaku hidup bersih dan sehat, diantaranya : Hadits yang diriwayatkan oleh Saad bin Abi Waqas dari bapaknya, Rasulullah SAW pernah bersabda : Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai halhal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Maha Mulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu. (HR. Tirmizi) Hadits yang diriwayatkan oleh Malik Al Syari, Rasulullah SAW pernah bersabda : Kebersihan adalah sebagian dari iman dan bacaan hamdalah dapat memenuhi mizan (timbangan). (HR.Tirmizi) Hadits yang diriwayatkan oleh Malik Al Syari, Rasulullah SAW pernah bersabda : Kebersihan adalah sebagian dari iman, shalat adalah pelita, dan shadaqah adalah cahaya. (HR. Tirmizi) Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 222 : Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menjaga kebersihan.

Ayat di atas mengingatkan kepada kita untuk selalu melakukan perilaku hidup bersih dan sehat. Sebab perilaku hidup bersih dan sehat sangat dianjurkan oleh Allah SWT. Pada ayat tersebut di atas terdapat makna tersirat tentang kebersihan yang harus dijaga. Kebersihan yang harus dijaga, tidak hanya kebersihan jasmani, tetapi juga kebersihan rohani dan lingkungan. Kebersihan harus dijaga oleh semua umat Islam yang mengaku dirinya beriman kepada Allah SWT dan rasul-Nya, karena Allah SWT sendiri Maha Bersih dan Mencintai kebersihan (Al-Quddus).

39

Marleni - 1102010156 Daftar Pustaka

http://www.riskesdas.litbang.depkes.go.id http://www.litbang.depkes.go.id/riskesnas http://dinkes.malangkota.go.id/index.php/artikel-kesehatan/119-perilaku-hidup-bersih-dansehat http://remisumartasaragih.blogspot.com/2013/01/v-behaviorurldefaultvmlo.html http://puskesmasrimbo9.blogspot.com/2011/07/perilaku-hidup-bersih-dan-sehat-phbsdi_1843.html http://mintotulus.wordpress.com/2012/12/13/pola-asuh-dalam-keluarga/ http://sheteyshidiq.blogspot.com/2011/05/phbs-ala-santri-di-pesantren.html http://maulinahardianti.wordpress.com/2012/02/22/perilaku-hidup-bersih-sehat-dan-islamiphbsi/ Notoatmodjo, Soekidjo;2011;Kesehatan Masyarakat Ilmu & Seni; Jakarta: Rineka Cipta http://www.scribd.com/doc/127195397/Status-Gizi-Masyarakat-Blok-3

40