Anda di halaman 1dari 8

MAKARA, SAINS, VOL. 13, NO.

2, NOVEMBER 2009: 117-124

117

TINGKAT PENCEMARAN LOGAM BERAT DALAM AIR LAUT DAN SEDIMEN DI PERAIRAN PULAU MUNA, KABAENA, DAN BUTON SULAWESI TENGGARA
Fasmi Ahmad
Stasiun Penelitian Lapangan, Pusat Penelitian Oseanografi, LIPI, Ternate 97712, Maluku Utara, Indonesia E-mail: fasmi_lipi@ymail.com

Abstrak
Pulau Muna, Kabena, dan Buton merupakan pulau-pulau yang terdapat di Sulawesi Tenggara. Salah satu diantaranya yakni Pulau Kabaena merupakan pulau yang mempunyai kandungan nikel tinggi. Beberapa perusahan pertambangan telah melakukan eksplorasi nikel (Ni) di daerah ini. Tailing yang dibuang ke laut diperkirakan akan dapat meningkatkan kandungan logam berat dalam air laut dan sedimen di perairan ketiga pulau ini, mengingat letaknya relatif berdekatan. Dalam rangka pemantauan pencemaran laut oleh logam berat, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI telah melakukan serangkaian penelitian di perairan ketiga pulau tersebut pada bulan April 2006. Tujuannya adalah untuk mengetahui dampak penambangan nikel di Pulau Kabaena terhadap kandungan logam berat dalam air laut dan sedimen di ketiga perairan pulau tersebut. Logam berat yang dipantau adalah Pb, Cd, Cu, Zn dan Ni. Hasilnya menunjukkan bahwa kandungan kelima logam berat tersebut di dalam air laut relatif masih rendah dan masih sesuai dengan Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditetapkan oleh Kep MNLH No. 51 Tahun 2004 untuk biota laut. Hal yang serupa juga dijumpai untuk sedimen di mana kadar Pb, Cd, Cu, Zn dan Ni relatif rendah, dan masih sesuai dengan kadar logam berat dalam sedimen yang dijumpai di perairan laut yang normal.

Abstract
The Degree of Heavy Metals Pollution in Seawater and Sediment in the Waters of Muna, Kabaena and Buton Island, Norteast of Sulawesi. Muna, Kabaena, and Buton are islands found in Northeast of Sulawesi. One of them, namely Kabaena Island is island which has high Nickel content. Some of mining industries has explored the Nickel content in this area. Tailing come from mining thrown to the sea, will increase the heavy metals content in seawater and sediment in the waters of that third island, remembering the position of that third island not so far. In order to marine pollution monitoring by heavy metals, Research Center for Oceanography has done some marine research in the waters of that third island in April 2006. The aim of this research is to know the impact of Nickel mining activities to heavy metals content in seawater and sediment in that third waters. Heavy metals monitored is Pb, Cd, Cu, Zn, and Ni. The results showed that the content of heavy metals Pb, Cd, Cu, Zn, and Ni in sea water still in line with the threshold value according to Kep MNLH No. 51, 2004 for sea biotas. The same condition also found in sediment, where the content of Pb, Cd, Cu, Zn, and Ni is low relative, and still in line with heavy metals content found in normal seawater. Keywords: heavy metal, Northeast of Sulawesi waters

1. Pendahuluan
Kabupaten Muna merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari sebagian Pulau Muna bagian utara dan sebagian Pulau Buton bagian utara yang diapit oleh selat Tiworo di sebelah barat Pulau Muna, Selat Buton di antara Pulau Muna dan Pulau Buton, serta laut Banda di sebelah timur Pulau Buton bagian utara dan Pulau Kabaena di bagian timur. Selain itu Kabupaten Muna memiliki kurang lebih 40 buah pulau-pulau kecil baik yang berpenghuni maupun tidak, dengan panjang garis

pantai lebih kurang 865 km dan luas lebh kurang 5.625 km2 sebagai sumberdaya perikanan yang sangat potensial dan sangat membutuhkan perhatian untuk dikelola secara bijak dan lestari. Pulau Kabaena mempunyai kandungan nikel yang cukup tinggi, pertama kali diketahui 1970, saat pertama kali PT. Inco Tbk, salah satu perusahaan nikel terbesar di Indonesia mengutus sejumlah ahli geologinya untuk melakukan survei dan memastikan 80 persen pulau tersebut memiliki kandungan nikel yang cukup besar

117

118

MAKARA, SAINS, VOL. 13, NO. 2, NOVEMBER 2009: 117-124

dan kadar yang lumayan tinggi. Tercatat, hingga saat ini ada 19 perusahaan yang mendapatkan legitimasi dari bupati Bombana untuk melakukan aktivitas pertambangan. Sembilan belas perusahaan tersebut adalah PT. Inco Tbk, PT. Billy Indonesia, PT. Multi Sejahtera, PT. Orextend Indonesia, PT. Lentera Dinamika, PT. Timah, PT. Intan Mining Jaya, PT. Margo Karya Mandiri, PT. Tekonindo, PT. Bahana Multi Energi, CV. Bumi Sejahtera, PT. Gerbang Multi Sejahtera, PT. Dharma Pahala Mulia, PT. Integra Mining Nusantara, PT. Makmur Lestari Primatama, PT. Lumbini Raya, PT. Arga Morini Indah, PT. Bukit Anugrah Abadi, dan PT. Konawe Inti Utama. Dari 19 persusahaan tersebut, satu diantaranya yakni PT. Billy Indonesia telah melakukan eksploitasi dan beberapa diantaranya masih tahap eksplorasi. Sejak beroperasinya perusahaan itu, banyak masyarakat pesisir terutama di Kelurahan Lambale dan desa Dongkala, telah kehilangan mata pencarian sebagai petani rumput laut dan nelayan, sebagai akibat pencemaran air yang berasal dari rembesan tanah galian oleh PT. Billy di atas perbukitan yang bermuara ke salah satu sungai yang langsung mengalir ke laut, dan bila hujan deras, air sungai merah dan air laut juga keruh, sehingga usaha budi daya rumput laut dan tangkapan ikan berkurang. Hasil tambang di P. Kabaena selain menghasilkan nikel, juga menghasilkan logam berat lain yang berasosiasi dengan mineral nikel, seperti Cu, As, Fe, dan sebagainya. Logam berat termasuk ke dalam golongan logam dengan kriteria sama dengan logam-logam lainnya. Perbedaanya terletak pada pengaruh yang dihasilkan bila logam berat tersebut membentuk ikatan atau masuk ke dalam tubuh organisme hidup [1]. Umumnya logam berat bersifat racun, meskipun dalam jumlah kecil logam berat dibutuhkan oleh tubuh, sifat racunnya akan timbul bila dalam kadar yang relatif tinggi. Ada 11 jenis logam berat yang diperlukan untuk kehidupan organisme, diantaranya adalah Cu dan Zn [2]. Leninger [3] menyatakan organisme perairan membutuhkan Cu dan Zn sebagai kofaktor dalam proses fisiologi enzim, di mana Cu terdapat sebagai haemocyanin, cytochrom bersama-sama dengan Fe, dan Zn sebagai karbonic anhidrase [2]. Sedangkan Hg, Pb, dan Cd belum diketahui manfaatnya bagi organisme, sebaliknya dapat menimbulkan penyakit [4]. Keracunan logam berat umumnya berawal dari kebiasaan memakan makanan yang berasal dari laut terutama ikan, udang, dan tiram yang sudah terkontaminasi oleh logam berat. Logam berat yang ada dalam air laut, selanjutnya dengan adanya proses biomagnifikasi yang bekerja di lautan, kadar logam berat yang masuk akan terus ditingkatkan, selanjutnya akan berasosiasi dengan sistem rantai makanan, masuk ke tubuh biota perairan, dan akhirnya ke tubuh manusia yang mengkonsumsinya.

Gambar 1. Pertambangan Nikel di P. Kabaena

Dalam tubuh manusia akan terakumulasi, sampai pada kadar tertentu, akan menimbulkan keracunan. Keberadaan logam berat di perairan laut dapat berasal dari berbagai sumber, antara lain adalah dari kegiatan pertambangan, rumah tangga, limbah dan buangan industri dan aliran pertanian [5]. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pencemaran logam berat Pb, Cd, Cu, Zn, Ni, Cr dan Mn dalam air laut dan sedimen sebagai akibat penambangan nikel di P. Kabaena terhadap perairan sekitarnya. Hasilnya diharapkan dapat dijadikan acuan baik oleh pemda setempat maupun pihak-pihak yang berkepentingan dengan penggunaan wilayah laut untuk berbagai kepentingan.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan di perairan Sulawesi Tenggara yakni Pulau Muna, Kabaena, dan Buton pada tanggal 12-22 April 2006 dengan menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VII. Penetapan posisi stasiun dilakukan secara purposif sesuai dengan tujuan penelitian. Contoh air laut diambil sebanyak 1 liter diambil pada lapisan permukaan dengan menggunakan water sampler pada 25 stasiun penelitian, dan contoh sedimen dengan menggunakan grab pada 10 stasiun penelitian (Gambar 1). Selanjutnya contoh air laut disaring dengan kertas saring selulosa nitrat (0,45 m) yang sebelumnya dicuci dengan HNO3 (1 N), dan diawetkan dengan HNO3 (pH<2). Di laboratorium, contoh air laut diambil sebanyak 250 mL dimasukkan ke dalam corong pisah teflon, kemudian diekstraksi dengan APDC/MIBK. Fase organik yang diperoleh kemudian diekstraksi kembali dengan HNO3. Contoh sedimen diambil pada lapisan permukaan (0-5 cm) dengan menggunakan grab yang terbuat dari stainless steel. Contoh sedimen dimasukkan ke dalam botol polietilen yang sebelumnya botol tersebut dicuci/ direndam dalam HNO3 (6 N) dan dibilas dengan air

MAKARA, SAINS, VOL. 13, NO. 2, NOVEMBER 2009: 117-124

119

-4.2S

SULAWESI
5

25

15
6

16 13

24

-4.6S

17
P. MUNA

23 -5S

4 3 5
2

11

18

22

P. KABAENA

10
P. BUTON

26
1 3

21

4
Bau-bau

-5.4S

7 9 20

1 121.6E 122E

8 122.4E

34 -5.8S 122.8E 123.2E

Stasiun Sampling CTD Stasiun Mooring Arus

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian

suling. Di laboratorium, contoh sedimen dimasukkan dalam cawan teflon dan dikeringkan dalam oven pada suhu 105oC selama 24 jam. Setelah kering dikocok beberapa kali dengan air suling [6]. Contoh sedimen dikeringkan kembali pada suhu 100oC selama 24 jam, kemudian digerus hingga halus. Sebanyak 5 gram contoh sedimen kering dimasukkan dalam cawan teflon, didestruksi dengan menggunakan HNO3/HCl pekat dan biarkan pada suhu ruang 4 jam. Destruksi dilanjutkan pada suhu 90oC selama 8 jam. Analisis Pb, Cd, Cu, Cr, Zn, Mn dan Ni ditentukan dengan AAS Varian SpectrAA-20 Plus menggunakan nyala campuran udara asetilen [7]. Penentuan tingkat pencemaran logam berat dilakukan dengan Metode Storet berdasarkan skor [8], dengan klas A, baik sekali, skor = 0 (memenuhi Baku Mutu), klas B, baik, skor= -1 sampai dengan -10 (tercemar ringan), klas C, sedang, skor = -11 sampai dengan -30 (tercemar sedang), dan klas D, buruk, skor -30 (tercemar berat). Penilaian yang sama juga dilakukan untuk sedimen dengan menggunakan Nilai Ambang Batas yang ditetapkan oleh beberapa peneliti [9-11].

Tabel 1. Kadar Pb dalam Air Laut, ppm

P. Kabaena P. Muna St Pb St Pb 2 0,006 15 0,002 3 0,004 16 0,001 4 0,006 17 <0,001 5 <0,001 18 <0,001 6 0,005 24 0,003 7 0,002 26 0,016 10 0,003 11 0,005 Min <0,0010 <0,0010 Max 0,0060 0,0160 Std 0,0015 0,0070 X 0,0044 0,0055 Rerata Total 0,0054
* St tambahan (pelabuhan Bau-Bau)

P. Buton St Pb 20 0,002 21 0,001 22 0,016 23 0,002 25 0,003 34 <0,001 39* 0,015 <0,0010 0,0160 0,0063 0,0065

3. Hasil dan Pembahasan


Kadar Logam Berat dalam Air Laut Plumbun (Pb). Hasil pengukuran kadar Pb dalam air laut di P. Kabaena, Muna dan Buton disajikan pada Tabel 1. Dari tabel tersebut dapat dilihat kadar Pb di P. Kabaena berkisar antara <0,0010,006 ppm, dengan rerata 0,0044 ppm, di P. Muna berkisar antara <0,001

0.016 ppm, dengan rerata 0,0055 ppm, dan di P. Buton berkisar antara <0,0010,016 ppm, dengan rerata 0,0065 ppm. Data ini menunjukkan bahwa perairan P. Buton lebih banyak menerima masukan limbah yang mengandung Pb. Limbah yang mengandung Pb ini diduga berasal dari Kota Bau-Bau dan sekitarnya mengingat aktivitas manusia di Kota Bau-Bau relatif tinggi dibandingkan dengan pulau-pulau lain yang ada di sekitarnya. Kadar Pb di perairan ketiga pulau ini lebih tinggi dari kadar Pb yang normal dalam air laut yakni 0,03 ppb [12], namun masih lebih rendah dari Nilai

120

MAKARA, SAINS, VOL. 13, NO. 2, NOVEMBER 2009: 117-124

Ambang Batas (NAB) yang ditetapkan oleh [8] untuk kepentingan biota laut yakni 0,008 ppm. Dengan demikian berdasarkan ketetapan KMNLH [8], kadar Pb hasil pengamatan ini masih baik dan belum berbahaya bagi kehidupan organisme perairan, mengingat kadar Pb sebesar 0,10,2 ppm telah dapat menyebabkan keracunan pada jenis ikan tertentu [13], dan pada kadar 188 ppm dapat membunuh ikan-ikan [1]. Murphy [14] melaporkan bahwa biota perairan seperti crustacea akan mengalami kematian setelah 245 jam, bila pada badan perairan mengandung Pb sebesar 2,7549 ppm. Biota perairan lainnya, dari golongan insekta akan mengalami kematian dalam rentang waktu yang lebih panjang yaitu antara 168-336 jam, bila pada perairan mengandung Pb sebesar 3,5-64 ppm Pb. Dengan demikian kadar Pb hasil pengamatan ini belum berbahaya bagi kehidupan biota di perairan ini. Kadmium. Hasil pengukuran kadar Cd di perairan Sulawesi Tenggara berdasarkan lokasi disajikan pada Tabel 2. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa kadar Cd rerata di perairan P. Kabaena, Muna, dan Buton relatif sama yakni <0,001 ppm. Data ini menunjukkan bahwa pola sebaran Cd relatif homogen. Kadar Cd ini masih sesuai dengan kadar Cd yang normal dalam air laut yakni 0,11 ppb [12], dan Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditetapkan oleh [8] untuk biota laut adalah 0,001 ppm. Berdasarkan kadar Cd ini, kualitas perairan ini masih aman untuk biota laut, mengingat Cd bersifat racun dan merugikan bagi semua organisme hidup, bahkan juga berbahaya untuk manusia. Dalam badan perairan, kelarutan Cd dalam konsentrasi tertentu dapat membunuh biota perairan. Biota-biota yang tergolong bangsa udang-udangan (crustacea) akan mengalami kematian dalam selang waktu 24-504 jam bila di dalam badan perairan di mana biota tersebut hidup terlarut logam atau persenyawaan
Tabel 2. Kadar Cd dalam Air Laut, ppm

Cd pada rentang konsentrasi antara 0,005-0,15 ppm. Untuk biota-biota yang tergolong ke dalam bangsa serangga (insecta) akan mengalami kematian dalam selang waktu 24-672 jam bila ditemukan di dalam badan perairan di mana biota tersebut hidup terlarut Cd atau persenyawaan Cd dalam rentang konsentrasi antara 0,003-18 ppm. Sedangkan untuk biota-biota perairan yang tergolong ke dalam keluarga Oligochaeta akan mengalami kematian dalam selang waktu 24-96 jam bila di dalam badan perairan terlarut logam Cd atau persenyawaannya dengan rentang konsentrasi antara 0,0028-4,6 ppm [1]. Tembaga (Cu). Hasil pengukuran kadar Cu di perairan Sulawesi Tenggara berdasarkan lokasi disajikan pada Tabel 3. Dari tersebut dapat dilihat kadar Cu di perairan P. Kabaena berkisar antara 0,001-0,005 ppm dengan rerata 0,002 ppm, di P. Muna antara 0,001-0,002 ppm dengan rerata 0,0015 ppm, dan di P. Buton antara 0,001-0,002 ppm dengan rerata 0,0011 ppm. Data ini menunjukkan bahwa secara rerata perairan P. Kabaena, lebih banyak menerima masukan limbah yang mengandung Cu. Kadar ini masih sesuai dengan kadar normal Cu yang ada dalam air laut. Kadar Cu normal dalam air laut berkisar antara 0,002-0,005 ppm [1] dan 2 ppb atau 0,002 ppm [12], begitu juga bila dibandingkan dengan Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditetapkan KMNLH [8] untuk kepentingan biota laut adalah 0,008 ppm. Dengan demikian bila mengacu pada NAB dari [8], maka dapat dikatakan dilihat dari kadar Cu-nya, kualitas perairan ini masih baik. Dilihat dari kepentingan biota perairan, Cu termasuk kedalam kelompok logam esensial, di mana dalam kadar yang rendah dibutuhkan oleh organisme sebagai Koenzim dalam proses metabolisme tubuh, sifat racunnya baru muncul dalam kadar yang tinggi. Biota perairan sangat peka terhadap kelebihan Cu dalam badan perairan di mana ia hidup. Konsentrasi Cu terlarut dalam air laut sebesar 0,01 ppm dapat mengakibatkan kematian fitoplankton. Kematian tersebut disebabkan daya racun Cu telah menghambat aktivitas enzim dalam pembelahan sel fitoplankton. Jenis-jenis yang termasuk dalam keluarga Crustasea akan mengalami kematian dalam tenggang waktu 96 jam, bila konsentrasi Cu berada dalam kisaran 0,17-100 ppm. Dalam tenggang waktu yang sama, biota yang tergolong ke dalam keluarga moluska akan mengalami kematian bila kadar Cu yang terlarut dalam badan perairan di mana biota tersebut hidup berkisar antara 0,16-0,5 ppm, dan kadar Cu sebesar 2,5-3,0 ppm dalam badan perairan telah dapat membunuh ikan-ikan [15]. Dengan demikian kadar Cu hasil pengamatan ini belum berbahaya bagi kepentingan biota tersebut Zink (Zn). Hasil pengukuran kadar Zn di perairan Sulawesi Tenggara berdasarkan lokasi disajikan pada Tabel 4. Dari tabel tersebut dapat dilihat kadar Zn di

P. Kabaena P. Muna St Cd St Cd 2 <0,001 15 <0,001 3 <0,001 16 <0,001 4 <0,001 17 <0,001 5 <0,001 18 <0,001 6 <0,001 24 <0,001 7 0,001 26 <0,001 10 <0,001 11 <0,001 Min <0,001 <0,001 Max 0,001 <0,001 Std 0,000 0,000 X <0,001 <0,001 Rerata Total <0,001
St tambahan (pelabuhan Bau-Bau)

P. Buton St Cd 20 <0,001 21 <0,001 22 <0,001 23 <0,001 25 <0,001 34 <0,001 39* <0,001 <0,001 <0,001 0,000 <0,001

MAKARA, SAINS, VOL. 13, NO. 2, NOVEMBER 2009: 117-124

121

Tabel 3. Kadar Cu dalam Air Laut, ppm

Tabel 4. Kadar Zn dalam Air Laut, ppm

P. Kabaena P. Muna St Cu St Cu 2 0,002 15 0,002 3 0,002 16 0,002 4 0,001 17 0,001 5 0,001 18 0,002 6 0,001 24 0,001 7 0,001 26 0,001 10 0,003 11 0,005 Min 0,001 0,001 Max 0,005 0,002 Std 0,001 0,000 X 0,002 0,0015 Rerata Total 0,0015
St tambahan (pelabuhan Bau-Bau)

P. Buton St Cu 20 0,001 21 0,001 22 0,001 23 0,001 25 0,001 34 0,001 39* 0,002 0,001 0,002 0,000 0,0011

P. Kabaena P. Muna St Zn St Zn 2 0,008 15 0,006 3 0,006 16 0,005 4 0,006 17 0,006 5 0,007 18 0,006 6 0,007 24 0,006 7 0,006 26 0,005 10 0,007 11 0,006 Min 0,006 0,005 Max 0,008 0,006 Std 0,000 0,000 X 0,0066 0,0056 Rerata Total 0,0058
St tambahan (pelabuhan Bau-Bau)

P. Buton St Zn 20 0,005 21 0,005 22 0,005 23 0,006 25 0,006 34 0,005 39* 0,005 0,005 0,006 0,000 0,0052

perairan P. Kabaena berkisar antara 0,006-0,008 ppm dengan rerata 0,0066 ppm, di P. Muna antara 0,0050,006 ppm dengan rerata 0,0056 ppm, dan di P. Buton antara 0,005-0,006 ppm dengan rerata 0,0052 ppm. Data ini menunjukkan bahwa secara rerata perairan P. Kabaena lebih banyak menerima masukan limbah yang mengandung Zn. Kadar normal Zn dalam air laut adalah 2,0 ppb atau 0,002 ppm [12]. Kadar Zn ini lebih tinggi dari kadar normal Zn yang ada dalam air laut, demikian juga bila dibandingkan dengan Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditetapkan oleh Baku Mutu Air Laut [8] untuk kepentingan biota laut yakni 0,005 ppm. Dengan demikian berdasarkan hasil pengukuran kadar Zn, kualitas perairan ini termasuk kategori jelek untuk kehidupan biota laut. Bila dilihat untuk kepentingan biota perairan, Zn juga bersifat racun dalam kadar tinggi, namun dalam kadar rendah dibutuhkan oleh organisme sebagai ko-enzim. Hasil percobaan LC50 selama 96 jam menunjukkan bahwa Zn pada kadar 60 ppm telah dapat menyebabkan kematian 50 hewan uji (ikan) [5], pada kadar 310 ppb telah dapat mematikan 50% emberio kerang C. virginica (LC50, 24 jam), dan pada kadar 166 ppb dan 195,4 ppb telah dapat mematikan embrio dan larva kerang M. marcenaria sebanyak 50% (LC50, 24 jam) [16,17]. Dengan Kadar Zn hasil pengamatan ini belum berbahaya bagi kepentingan biota di atas. Nikel (Ni). Hasil pengukuran kadar Ni di perairan Sulawesi Tenggara berdasarkan lokasi disajikan pada Tabel 5. Dari tabel tersebut dapat dilihat kadar Ni di perairan P. Kabaena berkisar antara 0,002-0,004 ppm dengan rerata 0,0023 ppm, di P. Muna antara 0,0010,003 ppm dengan rerata 0,002 ppm, dan di P. Buton antara 0,001-0,005 ppm dengan rerata 0,0028 ppm. Data ini menunjukkan bahwa secara rerata perairan P. Buton

Tabel 5. Kadar Ni dalam Air Laut, ppm

P. Kabaena P. Muna P. Buton St (n=8) Ni St (n=6) Ni St (n=7) Ni 2 0,002 15 0,001 20 0,001 3 0,002 16 0,002 21 0,003 4 0,004 17 0,001 22 0,001 5 0,002 18 0,002 23 0,002 6 0,002 24 0,003 25 0,005 7 0,002 26 0,003 34 0,005 10 0,003 39* 0,003 11 0,002 Min 0,002 0,001 0,001 Max 0,004 0,003 0,005 0,000 0,000 0,001 Std X 0,0023 0,002 0,0028 Rerata Total 0,0023
* St tambahan di dermaga Bau-Bau

lebih banyak menerima masukan limbah yang mengandung Ni. Kadar ini lebih rendah dari kadar normal Ni dalam air laut yakni 2,0 ppm [12] dan NAB yang ditetapkan oleh [8] untuk kepentingan biota laut yakni 0,005 ppm. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kualitas perairan ini dilihat dari kadar Ni termasuk kategori baik Untuk kepentingan biota perairan, seperti halnya logam berat yang lain, Ni juga bersifat racun terhadap organisme perairan. Hughes [5] melaporkan adanya pengaruh toksisitas Ni pada ikan salmon. Pada kadar 1200 ppb (1,2 ppm) logam Ni dapat mematikan 50% embrio dan larva kerang C. virginica (LC50, 24 jam), dan pada kadar 1300 ppb (1,3 ppm) dan 5700 ppb (5,7 ppm) dapat mematikan 50% embrio dan larva kerang M. marcenaria [16,17]. Dengan demikian kadar Ni hasil pengamatan ini belum berbahaya bagi kehidupan biota di atas.

122

MAKARA, SAINS, VOL. 13, NO. 2, NOVEMBER 2009: 117-124

Status Mutu Air Laut. Hasil penentuan status mutu air laut perairan Pulau Muna, Kabena dan Buton disajikan dalam Tabel 6. Dari tabel tersebut dapat dilihat kadar logam berat Pb, Cd, Cu, Zn dan Ni dalam air laut relatif rendah dan masih sesuai dengan NAB yang ditetapkan oleh [8] untuk kepentingan biota laut. Data ini memberi petunjuk bahwa masukan logam berat baik yang berasal dari peluruhan mineral logam secara alami, proses geologis yang terdapat di perairan maupun yang berasal dari limbah berbagai kegiatan baik di laut maupun di darat belum berpengaruh terhadap fluktuasi kadar logam berat. Dari tabel di atas dapat dilihat nilai status mutu air laut adalah = 0, yang berarti bahwa kualitas air laut di perairan ini termasuk kelas A (baik sekali). Dengan demikian kadar logam berat di perairan ini belum berbahaya bagi kehidupan biota laut. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan kadar logam berat antara stasiun yang dekat dengan pantai dengan stasiun yang jauh dari pantai maka dilakukan pengelompokkan stasiun berdasarkan jaraknya dari pantai (Tabel 7). Dari Tabel 7 dapat dilihat kadar Pb dan Cd rerata relatif tidak berbeda antara stasiun yang jauh dari pantai

dengan stasiun yang dekat dengan pantai. Sedangkan untuk Cu, Zn dan Ni terdapat perbedaan meskipun relatif kecil. Hal ini menunjukkan bahwa sebaran kelima logam berat tersebut relatif homogen. Logam Berat dalam Sedimen. Hasil pengukuran kadar logam berat dalam sedimen di perairan P. Kabaena, Muna dan Buton disajikan dalam Tabel 8. Dari tabel tersebut dapat dilihat kadar logam berat yang tertinggi adalah Ni dengan kadar rerata adalah 65,711 ppm, selanjutnya diikuti oleh Zn, Pb, Cu dan Cd yang kadarnya berturut-turut adalah 34,037 ppm, 5,124 ppm, 3,174 ppm dan 0,085 ppm. Data ini memberi petunjuk
Tabel 6. Status Mutu Air Laut Perairan P. Muna, Kabaena dan Buton, ppm

No Unsur Min Max Rerata NAB* [8] Skor 1 Pb <0,001 0,002 <0,00100 0,008 0 2 Cd <0,001 0,001 <0,00100 0,001 0 3 Cu <0,001 0,004 0,00175 0,008 0 4 Zn <0,001 0,004 0,00185 0,050 0 0 5 Ni <0,001 0,001 <0,00100 0,050 N=21 Total Skor 0
* Nilai Ambang Batas

Tabel 7. Perbandingan Kadar Logam Berat antara Stasiun (dekat pantai) dengan yang jauh dari Pantai

Pb JP DP 1 0,006 0,006 2 0,006 <0,001 3 0,004 0,005 4 <0,001 0,002 5 0,005 0,003 6 <0,001 0,005 7 0,007 8 0,002 9 0,001 10 <0,001 11 <0,001 12 <0,001 13 0,002 14 0,001 15 0,016 16 0,002 17 0,003 18 0,003 19 0,016 Min <0,0010 <0,0010 Max 0,0060 0,0160 Std 0,00095 0,0053 X 0,0052 0,0052

No

Cd JP <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 DP <0,001 <0,001 0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0.001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,000 <0,0010

<0,001 <0,001 0,000 <0,0010

Logam Berat Cu JP DP 0,002 0,001 0,002 0,001 0,002 0,001 0,001 0,001 0,001 0,003 0,001 0,002 0,001 0,002 0,002 0,001 0,002 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,0010 0,0010 0,0020 0,0030 0,0005 0,0005 0,0015 0,0013

Zn JP 0,007 0,008 0,006 0,007 0,009 0,005 DP 0,006 0,007 0,007 0,006 0,007 0,006 0,006 0,006 0,005 0,006 0,006 0,005 0,005 0,005 0,005 0,006 0,006 0,006 0,005 0,0050 0,0070 0,0006 0,0058 JP <0,001 0,002 0,002 <0,001 0,001 0,005

Ni DP 0,004 0,002 0,002 0,002 0,003 0,002 0,001 0,001 0,002 0,001 0,002 0,001 0,001 0,003 0,001 0,002 0,003 0,005 0,003 <0,0010 0,0050 0,0011 0,0022

0,0050 0,0090 0,0014 0,0070

<0,0010 0,0050 0,0017 0,0025

Ket: JP : Jauh dari pantai ( st 1, 2, 3, 8, 9, 34 ), DP (dekat pantai, selain st 1,2,3,8,9,34)

MAKARA, SAINS, VOL. 13, NO. 2, NOVEMBER 2009: 117-124

123

bahwa sedimen di perairan ini lebih banyak mengakumulasi logam Ni dan Zn baik yang berasal dari peluruhan mineral logam secara alami maupun proses geologi yang terdapat di perairan ini, dan yang berasal dari limbah berbagai kegiatan baik di laut maupun di darat. Dalam sedimen kadar Pb berkisar antara 0,059-11,207 ppm dengan rerata 5,1245 ppm. Kadar Pb rerata ini tergolong relatif rendah. Kadar Pb yang dijumpai di daerah Tor Bay Grand Bretagne yang relatif tidak tercemar, mempunyai kandungan Pb dengan kisaran antara 21,365,7 ppm [18]. Menurut Reseau National dObservation [10] kadar normal Pb dalam sedimen yang tidak terkontaminasi berkisar antara 1070 ppm. Sedangkan Moore & Ramamoorthy [11], menyatakan kadar logam berat yang terdapat dalam sedimen yang tidak terkontaminasi paling rendah adalah sebesar 0,01 ppm. Dengan demikian jika mengacu kepada apa yang diungkapkan [10] di atas maka sedimen di perairan ini belum tercemar oleh Pb, akan tetapi bila mengacu kepada Moore & Ramamoorthy [11], maka dapat dikatakan bahwa perairan telah kontaminasi oleh Pb. Kontaminasi ini seiring dengan berjalannya waktu akan dapat menimbulkan akumulasi baik pada tubuh biota yang hidup dan mencari makan di dalam maupun di sekitar sedimen atau dasar perairan, dan akan berbahaya bagi kehidupan biota, yang pada gilirannya akan berbahaya pula bagi manusia yang mengkonsumsi biota tersebut. Berdasarkan hasil pengukuran kadar Pb dalam sedimen ini, dapat dikatakan bahwa meskipun telah terkontaminasi, namun belum termasuk kategori tercemar. Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa kadar Pb dalam sedimen relatif lebih tinggi dibandingkan air laut. Data ini menunjukkan adanya akumulasi Pb dalam sedimen. Perbandingan kadar Pb dalam air laut dengan sedimen (Kd) adalah sebesar 1 : 948. Dari Tabel 8 juga dapat dilihat kadar Cd dalam sedimen berkisar antara 0,029-0,164 ppm dengan rerata 0,085 ppm. Kadar Cd ini relatif tinggi, menurut Taylor [18] kadar Cd di perairan Tor Bay Grand Bretagne yang relatif bersih berkisar antara 0,020-0,070 ppm. Menurut Reseau National dObservation [10] kadar normal Cd dalam sedimen yang tidak terkontaminasi berkisar antara 0,12,0 ppm. Sedangkan Moore & Ramamoorthy [11] menyatakan kadar logam berat yang terdapat dalam sedimen yang tidak terkontaminasi paling rendah adalah sebesar 0,01 ppm. Berdasarkan data di atas dapat dikatakan bahwa sedimen di dasar perairan ini telah terkontaminasi oleh Cd. Seiring dengan berjalannya waktu maka Cd ini juga akan terakumulasi di dalam sedimen dalam jumlah yang lebih banyak lagi, juga di dalam tubuh biota yang hidup dan mencari makan di dalamnya. Berdasarkan kenyataan ini dapat dikategorikan bahwa kualitas sedimen di perairan meskipun belum tercemar, tetapi sudah terkontaminasi oleh logam berat Cd. Kadar Cd dalam sedimen ini relatif lebih tinggi

Tabel 8. Kadar Logam Berat dalam Sedimen di Perairan P. Kabaena, Muna, dan Buton

St 10 13 15 16 17 18 19 23 26 39* Min Max St.Dev X

Pb 2,462 9,437 6,238 7,976 4,096 0,185 2,113 7,472 0,059 11,207 0,059 11,207 3,912 5,1245

Cd 0,086 0,008 0,078 0,082 0,029 0,092 0,104 0,108 0,164 0,099 0,029 0,164 0,042

Cu 1,852 5,712 4,249 6,631 1,804 2,542 3,142 1,985 2,564 1,265 1,265 5,712 1,795

Zn 36,611 74,981 47,769 71,856 40,139 3,996 27,312 24,873 6,494 6,341 3,996 74,981 25,596

Ni 134,643 155,877 84,026 134,047 32,784 3,774 51,066 40,973 6,025 13,897 3,774 155,877 57,620

0,085 3,1746 34,0372 65,7112

* Dermaga Kota Bau-Bau

dibandingkan air laut. Data ini menunjukkan adanya akumulasi Cd dalam sedimen. Perbandingan kadar Cd dalam air laut dengan sedimen (Kd) adalah sebesar <1:85. Kadar Cu dalam sedimen berkisar antara 1,265-5,712 ppm dengan rerata 3,1746 ppm. Kadar ini relatif lebih tinggi, kadar Cu di dalam sedimen di perairan Tor Bay Grand Bretagne yang relatif tidak tercemar berkisar 0,2 0,7 ppm [19]. Martin [18] menemukan kadar normal logam berat Cu dalam lumpur di perairan utara Bretagne berkisar 4,441,6 ppm. Menurut Reseau National dObservation [10] kadar normal Cu dalam sedimen yang tidak terkontaminasi adalah 5 ppm. Dengan demikian bila mengacu pada [10] di atas, dapat dikatakan bahwa kualitas sedimen di perairan Sulawesi Tenggara ini belum terkontaminasi oleh Cu, namun bila mengacu pada [19], maka sedimen di perairan ini termasuk kategori tercemar. Kadar Cu dalam sedimen ini juga lebih tinggi dibandingkan air laut, hal ini menunjukkan adanya akumulasi Cu dalam sedimen. Perbandingan kadar Cu dalam air laut dengan sedimen (Kd) adalah sebesar 1: 2497. Dalam sedimen kadar Zn berkisar antara 3,996-74,981 ppm dengan rerata 34,0372 ppm, kadar Zn ini relatif rendah. Kadar Zn dalam sedimen di perairan Tor Bay Grand Bretagne yang relatif tidak tercemar berkisar antara 10,742,0 ppm [19]. Martin [18] menemukan kadar normal logam berat Zn dalam lumpur di perairan utara Bretagne yaitu berkisar antara 38,8268,0 ppm. Menurut Reseau National dObservation [10] kadar normal Zn dalam sedimen yang tidak terkontaminasi berkisar antara 20150 ppm. Dengan demikian bila mengacu kepada hasil pengamatan [19] dan [10] dapat dikatakan bahwa perairan ini belum terkontaminasi oleh logam Zn. Dengan demikian dilihat dari kadar Zn dalam sedimen dapat dikatakan bahwa kualitas sedimen di perairan ini termasuk kategori baik. Kadar Zn dalam

124

MAKARA, SAINS, VOL. 13, NO. 2, NOVEMBER 2009: 117-124

Tabel 9. Status Mutu Kadar Logam Berat dalam Sedimen di Perairan P. Kabanea, Muna dan Buton (ppm), April 2006

No Unsur Min Max Rerata NAB Skor 1 Pb 0,059 11,207 5,124 33 [9] 0 2 Cd 0,029 0,164 0,085 1 [9] 0 3 Cu 1,265 5,712 3,174 30 [9] 0 4 Zn 3,996 74,981 34,037 20-150 [10], 0 <120 [20] Ni 3,774 155,877 65,711 <16 [20] -8 5 N=10 Total Skor -8
Sumber: [9,10,20]

sedimen ini relatif lebih tinggi dibandingkan dengan air laut. Hal ini menunjukkan adanya akumulasi Zn dalam sedimen dengan Kd = 1 : 5868. Dalam sedimen kadar Ni berkisar antara 3,774-155,877 ppm dengan rerata 65,7112 ppm, kadar ini lebih tinggi dibandingkan dengan kadar logam berat yang terdapat di suatu perairan yang relatif belum terkontaminasi yakni 0,01 ppm [11]. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sedimen di perairan ini meskipun belum tercemar, tetapi telah terkontamniasi oleh Ni. Kadar Ni dalam sedimen ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan air laut. Hal ini menunjukkan adanya akumulasi Ni dalam sedimen. Perbandingan kadar Ni dalam air laut dan sedimen (Kd) adalah 1 : 28570. Untuk mengetahui status mutu sedimen di perairan ketiga pulau tersebut, maka dilakukan penilaian berdasarkan skor (Tabel 9). Hasilnya menunjukkan nilai status mutu sedimen adalah -8, yang berarti bahwa kualitas sedimen termasuk kelas B (tercemar ringan). Dengan demikian secara umum kadar logam berat di perairan ini dapat membahayakan kehidupan biota laut.

4. Simpulan
Berdasarkan data yang dikaji maka dapat disimpulkan: Kadar logam berat Pb, Cd, Cu, Zn dan Ni dalam air laut relatif masih rendah dan sesuai dengan NAB untuk kepentingan biota laut. Dalam sedimen kecuali Ni, kadar logam berat Pb, Cd, Cu dan Zn relatif rendah dan masih sesuai dengan NAB aman untuk biota laut. Tingginya kadar logam berat dalam sedimen dibandingkan air laut menunjukkan adanya akumulasi logam berat dalam sedimen.

Daftar Acuan
[1] H. Palar, Pencemaran & Toksikologi Logam Berat. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1994, p.152. [2] R. Johnston, Marine Pollution. Academic Press, New York, 1976, p.729.

[3] H. Hutagalung dan S. Suwirma, Mar. Res. Indonesia 26 (1987) 51-58. [4] E.A. Laws, Aquatic Pollutions. Jhon Wiley & Son Inc., New York, 1981, 521. [5] W.D. Connel, dan J.M. Gregory, Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, 1995, p.520. [6] D.H. Loring and R.T.T. Rantala, Geochemical analyss of sediment and suspended particulated matter. Fisheries and Marine Service Technical Report No 20: 700, Environmental Canada, Canada, 1977, p.1-58. [7] S. Westerlund and B. Magnuson, Anal. Chim.Acta. 131 (1981) 63-72. [8] KMNLH, Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. Kantor Menteri Negara Kependudukan Lingkungan Hidup 2004. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Kep51/MNLH/2004. Sekretariat Negara, Jakarta, 2004. [9] G.J. Febris & G.F. Wagner, Characterization of Toxicants in Sediments from Post Philips Bay: Metals Final Report. Department of Conservation and natural Resources Melbourne, Australia, 2004. [10] S.S. Thayib dan H. Razak, Prosiding: Seminar dan Kongres Nasional Biologi VI, Surabaya, Indonesia, 1981, p.196-217. [11] J.M. Everaart, Netherland Journal of Sea Research 23/4 (1989) 403-413. [12] M. Waldichuck, in: Verberg & Venberg (Ed.) Some Biological Concern in Heavy Metals Pollution. Pollution and Psysiology of Marine Organism. Academic Press, London, 1974, 231. [13] L. Thamzil, S. Suwirna, dan S. Surtipanti, Majalah Batan, XIIII/3 (1980) 41-58. [14] M. Murphy, A manual for toxicity testswith freswater macroinvetebrates and a review of the effects of specific toxicants. University of Wales Institute of Science and Technology Publication, 1979, 134. [15] G.W. Bryan, in: A.P.M. Lockwood (Ed). Some Aspects of Heavy Metal Tolerance in Aquatic Organism. Effects of pollutants on Aquatic Organisms. Cambridge University Press, Cambridge, 1976, 431. [16] A. Calabrese, J.R. McInnes, D.A. Nelson, and J.E. Miller, Marine. Biol. 41 (1977) 179-184. [17] A. Calabrese, R.S. Collier, D.A. Nelson, and J.R. McInnes, Mar. Biol. 18 (1973) 162-166. [18] S.S. Thayib, dan H. Razak, Pengamatan Kandungan Bakteri Indikator, Logam Berat dan Pestisida di Perairan Pantai Teluk Ambon, Teluk Banten dan Teluk Jakarta. Buku Perairan Indonesia, Penerbit P3O-LIPI, Jakarta 1988, hal.114 131. [19] D. Taylor, Estuarine and Coastal Marine Science 2 (1974) 417-424. [20] A.L. Gray, Marine Bulletin Pollution, 33/7-12. (1996) 182-189.