Anda di halaman 1dari 17

2012

TUGAS MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT DIABETES

STIKES PANAKKUKANG MAKASSAR

NAMA KELAS NIM

: : B :

SULFIANA 11.01.101

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PANAKKUKANG MAKASSAR 2012 DIABETES MELLITUS I. PENGERTIAN Diabetes mellitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat. Diabetes mellitus terbagi atas 2 tipe, yaitu: Diabetes mellitus yang mengandung insulin (DMTI) atau DM tipe I Diabetes mellitus yang tidak mengandung insulin (DMTTI) atau DM tipe III DM sekunder DM gestasional

II. ETIOLOGI Ada bukti yang menunjukkan bahwa etiologi Diabetes mellitus bermacam-macam, meskipun berbagai lesi dengan jenis yang berbeda akhirnya akan mengarah pada insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada mayoritas penderita DM. Individu yang peka secara genetik tampaknya memberikan respon terhadap kejadian-kejadian pemicu yang diduga berupa infeksi virus, dengan memproduksi antibodi terhadap sel-sel beta, yang akan mengakibatkan berkurangnya sekresi insulin yang dirancang oleh glukosa. Manifestasi klinik dari DM terjadi jika lebih dari 90 % sel-sel beta menjadi rusak. Bukti untuk determinan genetik dari DMTI adalah adanya kaitan dengan tipe-tipe histokompatibilitas (H2A) spesifik. Tipe dari gen histokompatibilitas yang berkaitan dengan DMTI adalah yang memberi kode kepada protein-protein yang berperanan penting dalam interaksi monosit-limfosit. Proteinprotein itu mengatur respon sel T yang terganggu akan berperanan penting dalam patogenesis perusakan sel-sel pulau Langerhans. Kejadian pemicu yang menentukan proses autoimun pada individu yang peka secara genetik dapat berupa infeksi virus coxsarchie B4.

Pasien dengan DMTTI, penyakitnya mempunyai pola familial yang kuat. DMTTI ditandai dengan kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam kerja insulin. Pada pasien dengan DMTTI terdapat kelainan pada pengikatan insulin dengan reseptor. Akibatnya, terjadi penggabungan abnormal antara kompleks reseptor insulin dengan sistem transport glukosa. Sekitar 80 % pasien DMTTI mengalami obesitas. Karena obesitas berkaitan dengan resistensi insulin, maka kemungkinan besar gangguan toleransi glukosa dan Diabetes mellitus yang pada akhirnya terjadi pada pasien-pasien DMTTI merupakan akibat dari obesitasnya. III. GEJALA KLINIS 1. Kelainan kulit, gatal, bisul-bisul 2. Kelainan ginekologis, keputihan 3. Kesemutan 4. Kelemahan tubuh/somnolens 5. Luka atau bisul yang tidak sembuh-sembuh 6. Infeksi saluran kemih 7. Poliuri, polidipsi, polifaqia. IV. KOMPLIKASI 1. Makroangiopati 2. Mikroangiopati: - Retinopati diabetik - Nifropati diabetik 3. Diabetik ketoasidosis

V.

PATOFISIOLOGI

Diabetes mellitus

Angiopati

Neuropati

Gangguan metabolisme KH, protein, lemak

Makroangiopati Mikroangiopati Autonomik

Sensori

Motorik

Penggunaan Glukosa

Glukoneugenesis Lipolisis

Penyumbatan pembuluh darah

Perubahan kulit

Keringat

Sensasi

Atropi usus

Hiperglikemi Glikosuria Ketosis

Kulit kering Ulserasi fistula

Trauma tak terasa

Perubahan sikap tubuh Poliuri/Nocturi

diuresis osmotik Infeksi Ulserasi daerah Penekanan Gangren berat Gangren sedang Infeksi Hipotensi takikardia Kekurangan volume cairan Amputasi volume sirkulasi

Mual muntah

Nutrisi kurang dari kebutuhan

F. Riwayat Psikospiritual Pola koping: klien dapat menerima keadaan penyakitnya sebagai suatu yang wajar. Harapan klien tentang penyakitnya: klien berharap penyakitnya bisa segera sembuh atau paling tidak jangan sampai di rawat di RS. Faktor stressor: klien merasa bosan di rumah. Konsep diri: klien tidak merasa rendah diri karena bergantung pada orang lain. Pengetahuan klien: klien mengatakan bahwa penyakitnya terjadi karena terlalu banyak mengkonsumsi gula. Hubungan dengan anggota keluarga: baik, anak-anak dan cucunya sering berkumpul bersama-sama ke rumah klien. Hubungan dengan masyarakat: klien sering mengobrol dengan tetangganya khususnya dengan teman sebayanya. Aktivitas sosial: klien mau mengikuti kegiatan di masyarakat sebatas kemampuannya. Kegiatan keagamaan: klien rajin beribadah (shalat), mengaji dan melaksanakan ibadah puasa. G. Kebutuhan Dasar Pola makan: Keluarga dan klien makan 3 x sehari dengan komposisi nasi, sayur, lauk dan kadang kala buah-buahan. Selama ini selera makan klien tidak terganggu. Klien tidak mau memilih-milih makanan, kecuali makanan yang dipantangkan. Pola minum: Akhir-akhir ini klien banyak minum kira-kira 9 10 gelas sehari. Pola eliminasi: Eliminasi BAK

Terjadi perubahan pola berkemih (poliuria dan nokturia), klien merasa tidak kesulitan saat berkemih dengan warna urine pucat/dan juga kekuning-kuningan. Eliminasi BAB BAB lancar

Pola tidur: Klien mengeluh bahwa pola tidurnya terganggu. Aktivitas sehari-hari: Klien mengatakan bahwa ia tidak bekerja dan hanya membaca koran setiap pagi sambil berjalan-jalan di teras rumah dan kebanyakan santai dengan teman sebaya di warung sebelah rumahnya.

H. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum: Kelemahan diakibatkan kurangnya aktivitas karena pembatasan pergerakan, perubahan mood terjadi karena merasa bosan di rumah bila tidak ada pekerjaan dan vital sign meliputi: Kulit: Kulit sudah mulai keriput, kering, terdapat ulkus pada ekstremitas bawah, edema (-). Kepala: Tekanan darah Nadi Pernafasan Suhu : 120/80 mmHg : 86 x/menit : 18 x/menit : 37 C

Simetris tegak lurus dengan garis tengah tubuh, tidak ada luka, kulit kepala bersih, rambut beruban dan bentuk lurus. Mata: Ikterus (), pupil isokhor kiri dan kanan, refleks cahaya (+), tanda-tanda anemis tidak dijumpai. Telinga: Bentuk simetris kiri dan kanan, pendengaran tidak terganggu dan tidak ada nyeri, serumen sedikit, tidak mengganggu pendengaran dan tidak ditemukan cairan. Hidung: Bentuk simetris, fungsi penciuman baik, polip (), tidak ditemukan darah/cairan keluar dari hidung, tidak ada tanda-tanda peradangan. Mulut dan tenggorokan: Bibir agak kering, sianosis (-), lidah hiperemesis, dapat dijulurkan maksimal keluar dan bergerak bebas, refleks menelan baik dan tonsil tidak infeksi. Leher: Tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid, dan leher dapat digerakkan dengan bebas. Dada: Bentuk dada simetris, klavikula menonjol dan sternum terlihat rata, tidak ada nyeri yang timbul. Sistem pernafasan: Tampak kekurangan oksigen, batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi/tidak).

Sistem kardiovaskuler: Klien tidak mengalami takikardia dan tidak terjadi peningkatan tekanan darah. Sistem gastrointestinal: Tidak ditemukan kelainan, mual ada, selera makan meningkat, nyeri epigastrium tidak ada, kadang diare, dan konstipasi jarang. Sistem genitourinaria: Nyeri saat miksi (-), urine berwarna pucat dan kekuning-kuningan, tidak dijumpai partikel-partikel darah atau lainnya. Sistem muskuloskeletal: Klien mempunyai postur tubuh yang tinggi dengan massa otot yang sudah menurun (kurus). Sistem neurologi: Komunikasi lancar dan jelas, orientasi orang, waktu dan tempat baik, gelisah.

VI. PENGELOMPOKAN DATA 1. Data Subjektif Lemah Sulit berjalan/bergerak Penyembuhan yang lama (ulkus pada kaki) Stress Perubahan pola berkemih Haus Takikardia 7

2. Data Objektif

VII.

Penurunan kekuatan otot Ansietas, peka rangsang Urine encer, pucat, kuning, poliuri. Poliphagi Polidipsi. TD: 120/80 mmHg Nadi: 86 x/menit Pernafasan: 18 x/menit Suhu: 37 C Penurunan BB tiba-tiba

ANALISA DATA

No Data 1. DS: DO: Penurunan BB tiba-tiba Lemah Klien merasa haus

Kemungkinan Penyebab Gangguan metabolisme KH

Masalah Kekurangan volume cairan

Penggunaan glukosa

Hiperglikemi

Glikosuria

Diuresis osmotik menurun

Volume sirkulasi menurun

2.

DS: Klien merasa lemah

Kekurangan volume cairan Gangguan metabolisme KH

Nutrisi kurang dari kebutuhan

Lipolisis meningkat 8

DO: BB buruk Nutrisi 3. DS: DO: luka Adanya yang tidak Ulserasi sembuh-sembuh Perubahan kulit Klien mengeluh lemah Mikroangiopati kebutuhan Angiopati kurang dari Infeksi Tonus otot Mual muntah Penurunan Ketosis

Infeksi VIII. PENGERTIAN 1. Memperbaki cairan/elektrolit dan keseimbangan asam basa 2. Memperbaiki metabolisme abnormal 3. Mengidentifikasi/membantu penanganan terhadap penyebab/penyakit yang mendasarinya. IX. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan Diuresis osmotik (dari hiperglikemia) Kehilangan gastric berlebihan: muntah Masukan dibatasi: mual, kacau mental. Peningkatan haluaran urine, urine encer. Kelemahan; haus; penurunan BB tiba-tiba

Ditandai dengan:

Kulit/membran mukosa kering, turgor kulit buruk Hipotensi, takikardia, pelambatan pengisian kapiler.

Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi: Diharapkan pasien akan dapat: Mendemonstrasikan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urine tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal Tindakan/intervensi Mandiri: 1) Dapatkan riwayat pasien/orang terdekat sehubungan dengan lamanya/intensitas dari gejala seperti muntah, pengeluaran urine yang sangat berlebihan. 2) Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik 3) Periksa suhu, warna kulit atau kelembabannya 4) Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa 5) Pantau masukan dan pengeluaran, catat berat jenis urine. 6) Ukur berat badan setiap hari 7) Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan cairan melalui oral sudah dapat diberikan. 8) Tingkatkan lingkungan yang dapat menimbulkan rasa nyaman 9) Kaji adanya perubahan mental/sensori 10) Catat hal-hal yang dilaporkan seperti mual, nyeri abdomen, muntah dan distensi lambung. 11) Observasi adanya perasaan kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur, dan adanya distensi pada vaskuler. Kolaborasi: 1) Berikan terapi cairan sesuai dengan indikasi:

10

Normal salin atau setengah normal salin dengan atau tanpa dekstrosa. Albumin, plasma, atau dekstran.

2) Pasang/pertahankan kateter urine tetap terpasang 3) Pantau pemeriksaan lab seperti: Hematokrit (Ht) BUN/Kreatinin Osmolalitas darah Natrium Kalium

4) Berikan kalium/elektrolit yang lain melalui IV dan/atau melalui oral sesuai indikasi. 5) Berikan bikarbonat jika pH kurang dari 7,0. 2. Nutrisi, perubahan: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan: Ketidakcukupan insulin/penurunan ambilan dan penggunaan glukosa oleh jaringan mengakibatkan peningkatan metabolisme protein/lemak. Penurunan masukan oral, anoreksia, mual, lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran. Status hipermetabolisme, pelepasan hormon stress. Melaporkan makanan Penurunan BB, kelemahan, kelelahan, tonus otot buruk Diare. masukan makanan tak adekuat, kurang minat pada Ditandai dengan:

Tujuan: mencerna jumlah kalor/nutrien yang tepat Kriteria hasil: Menunjukkan tingkat energi biasanya Mendemonstrasikan BB stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya/yang diinginkan dengan nilai laboratorium normal. Tindakan/intervensi: 11

Mandiri: 1) Timbang BB setiap hari atau sesuai dengan indikasi 2) Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien. 3) Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen/perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi. 4) Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui pemberian cairan melalui oral. Dan selanjutnya terus mengupayakan pemberian makanan yang lebih padat sesuai dengan yang dapat ditoleransi. 5) Identifikasi makanan yang disukai/dikehendaki termasuk kebutuhan unik/kultural. 6) Libatkan keluarga pasien dalam perencanaan makan ini sesuai dengan indikasi. 7) Observasi tanda-tanda hipoglikemia, seperti perubahan tingkah laku, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala, pusing, sempoyongan. Kolaborasi: 1) Lakukan pemeriksaan gula darah dengan menggunakan finger stick 2) Pantau pemeriksaan lab, seperti glukosa darah, aseton, pH, HCO3. 3) Berikan pengobatan insulin secara teratur dengan metode IV secara intermittent atau secara kontinyu. Seperti bolus IV diikuti dengan tetesan yang kontinyu melalui alat pompa kira-kira 5 10 l/jam sampai glukosa darah mencapai 250 mg/ml. 4) Berikan larutan glukosa, misalnya dekstrosa dan setengah salin normal. 5) Lakukan konsultasi dengan ahli diet. 6) Berikan diet kira-kira 60 % karbohidrat, 20 % protein, dan 20 % lemak dalam penataan makan/pemberian makanan tambahan. 12

7) Berikan obat metaklopramid (riglan): tetrasiklin. 3. Infeksi. Resiko tinggi terhadap (sepsis) Tujuan: mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi. Kriteria evaluasi: mendemonstrasikan teknik, perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi. Tindakan/Intervensi Mandiri: 1) Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan, seperti demam, kemerahan, adanya pus pada luka, sputum purulen, urine warna keruh atau berkabut. 2) Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan dengan pasien termasuk pasiennya sendiri. 3) Pertahankan teknik aseptic pada prosedur invasive (seperti pemasangan infus, kateter folig, dsb) pemberian obat IV dan memberikan perawatan pemeliharaan. Lakukan pengobatan IV sesuai indikasi. 4) Pasang kateter/lakukan perawatan perineal dengan baik. Ajarkan pasien wanita untuk membersihkan daerah perinealnya dari depan ke arah belakang setelah eliminasi. 5) Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh, masase daerah tulang yang tertekan, jaga kulit tetap kering, linen kering dan tetap kencang (tidak berkerut). 6) Anjurkan untuk makan dan minum adekuat (pemasukan makanan dan minuman yang adekuat) kira-kira 3000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi). Kolaborasi: 1) Lakukan pemeriksaan kultur dan sensitivitas sesuai dengan indikasi 2) Berikan obat antibiotik yang sesuai.

13

X.

IMPLEMENTASI Dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan, menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan pedoman atau prosedur teknis yang telah ditentukan.

XI. EVALUASI Kriteria keberhasilan: Berhasil Menuliskan kriteria keberhasilannya dan menghentikan tindakan Tidak berhasil Menulis mana yang berhasil dan melanjutkan tindakan

14