Anda di halaman 1dari 50

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu kimia merupakan salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang menjelaskan tentang susunan, komposisi, struktur, sifat-sifat, perubahan materi, serta perubahan energi. Ilmu kimia juga tidak hanya mempelajari sifat zat, tetapi berusaha mencari prinsip yang mengatur sifatsifat materi tersebut serta merumuskan teori untuk menerangkan mengapa hal itu terjadi (Purba, 2006). Ilmu kimia memiliki karakteristik yang terdiri dari konsep yang kompleks dan konsep yang abstrak. Konsep yang kompleks yaitu fenomena kimia yang berhubungan dengan suatu gejala kimia yang dapat dilihat atau dirasakan dengan panca indra, contohnya bagaimana garam dapur dapat larut dalam air. Sedangkan konsep abstrak yaitu suatu fenomena kimia yang tidak mudah dilihat secara langsung, contohnya keberadaan atom, ion, dan molekul. Menurut Marsita, dkk (2009) bahwa konsep yang kompleks dan abstrak dalam ilmu kimia menjadikan siswa beranggapan bahwa pelajaran kimia merupakan pelajaran yang sulit. Atom, molekul dan ion merupakan materi dasar kimia yang tidak tampak, yang menuntut siswa dan mahasiswa membayangkan keberadaan materi tersebut tanpa mengalami secara langsung. Salah satu materi yang dianggap sulit oleh siswa adalah materi struktur atom. Materi struktur atom adalah salah satu materi yang bersifat abstrak dan kompleks. Bersifat abstrak karena materi ini tidak mudah

dilihat secara langsung dan membutuhkan daya imajinasi yang tinggi untuk bisa menguasainya, contohnya teori perkembangan atom. Bersifat kompleks karena materi struktur atom syarat dengan model-model, gambar-gambar, aljabar, dan bentuk komputasi yang membutuhkan keterampilan khusus untuk memahaminya. Salah satu contohnya yaitu menentukan massa atom relatif (Ar). Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara dengan guru bidang studi kimia SMA Negeri 1 Gunung Sari didapatkan informasi bahwa sebagian besar siswa belum mencapai ketuntasan minimal khususnya pada materi struktur atom, dimana nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah adalah 70. Hal ini disebabkan karena pengajar kesulitan didalam menganalogikan konsep yang bersifat abstrak didalam kehidupan sehari-hari. Selain itu pengajar kesulitan dalam mengkongkritkan pembelajaran yang bersifat abstrak tersebut. Rendahnya prestasi belajar juga dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang digunakan guru dalam proses pembelajaran berlangsung, dalam kegiatan proses belajar mengajar dikelas guru lebih banyak menggunakan metode ceramah. Sehingga dalam metode ini, yang berperan aktif dalam proses belajar mengajar adalah guru. Siswa hanya mendengarkan sambil mencatat sehingga penjelasan guru kurang diperhatikan, sehingga menyebabkan kesulitan untuk menumbuhkan keaktifan belajar siswa. Hal ini disebabkan oleh guru tidak mampu mengontrol sejauh mana siswa telah memahami uraian materi yang diajarkan, dan berdampak rendah pada prestasi belajar siswa.

Permasalahan yang sering muncul pada saat proses pembelajaran yaitu masih kurangnya partisipasi dan aktivitas siswa pada saat pembelajaran. Siswa enggan mengungkapkan pendapat atau bertanya kepada guru secara langsung meskipun ada materi yang belum dipahami sehingga interaksi antara guru dengan siswa tidak terjadi secara optimal. Permasalahan-permasalahan di atas berakibat pada rendahnya prestasi belajar siswa. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Question Student Have dengan Media Animasi. Pembelajaran question student have merupakan pembelajaran yang melatih peserta didik agar memiliki kemampuan dan keterampilan dalam bertanya. Model pembelajaran question student have digunakan untuk mempelajari tentang keinginan dan harapan siswa sebagai dasar untuk memaksimalkan potensi yang siswa miliki. Model pembelajaran question student have ini menggunakan sebuah teknik untuk mendapatkan partisipasi siswa melalui tulisan. Hal ini sangat baik digunakan pada siswa yang kurang berani mengungkapkan pertanyaan, keinginan dan harapan-harapannya melalui percakapan (Zainab, 2009). Untuk lebih memotivasi siswa dalam proses pembelajaran, maka model pembelajaran question student have dikombinasikan dengan media animasi. Menurut Furoidah (2009), media animasi pembelajaran merupakan media yang berisi kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerakan dan dilengkapi dengan audio sehingga

berkesan hidup serta menyimpan pesan-pesan pembelajaran. Media animasi pembelajaran dapat dijadikan sebagai perangkat ajar yang siap kapan pun digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran. Penggabungan pembelajaran dengan menggunakan Question Student Have dengan media animasi dapat membangkitkan keinginan dan minat belajar siswa. Question Student Have dikembangkan untuk melatih peserta didik agar memiliki kemampuan dan keterampilan bertanya. Media animasi dapat memperjelas konsep-konsep yang rumit dan dapat memotivasi siswa dalam belajar sehingga pembelajaran akan semakin menarik dan menyenangkan sehingga prestasi belajar siswa bisa meningkat. Dari uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian dengan judul Pengaruh Model Pembelajaran Question Student Have dengan Media Animasi terhadap prestasi belajar kimia siswa kelas X SMA Negeri I Gunung Sari tahun pelajaran 2012 / 2013.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah Apakah ada pengaruh model pembelajaran question student have dengan media animasi terhadap prestasi belajar kimia siswa kelas X SMA Negeri I Gunung Sari tahun pelajaran 2012/2013?

C. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran question student have dengan media animasi terhadap prestasi belajar kimia siswa kelas X SMA Negeri I Gunung Sari tahun pelajaran 2012/2013.

D. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini dapat ditinjau dari dua segi yaitu manfaat teoritis dan manfaat kritis. 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, mengembangkan strategi pembelajaran dan dapat menjadi alternative dalam mengatasi masalah pembelajaran. Penggabungan pembelajaran question student have dengan media animasi dapat mendorong siswa untuk berfikir dalam memecahkan suatu soal dan menilai penguasaan siswa tentang bahan pelajaran, membangkitkan minat siswa sehingga akan menimbulkan keinginan untuk mempelajarinya juga menarik perhatian siswa dalam belajar. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa Pengaruh model pembelajaran question student have dapat membantu siswa lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar

sehingga pembelajaran akan lebih bermakna dan diharapkan siswa terbiasa bisa belajar lebih mandiri dengan mengurangi

ketergantungan pada guru dan dengan adanya media animasi siswa dapat termotivasi dalam belajar. b. Bagi Guru Sebagai masukan untuk tenaga pengajar kimia bahwa dengan menggunakan model pembelajaran question student have sebagai salah satu model pembelajaran dapat menigkatkan prestasi belajar siswa, serta dapat mengurangi dominasi guru dalam pembelajaran. c. Bagi Sekolah Penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengelolah sekolah dalam rangka perbaikan teknik dan model pembelajaran yang bervariasi. E. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini terbatas pada hal-hal sebagai berikut : 1. Variabel Penelitian Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulnnya (Sugiyono, 2012). Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel independen (variabel bebas) dan variabel dependen (variabel terikat). Variabel independen (variabel bebas) merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya

variabel dependen (terikat). Variabel dependen (variabel terikat) merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2012). Adapun variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran question student have dengan media animasi dan variabel terikatnya adalah prestasi belajar. 2. Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Negeri 1 Gunung Sari tahun pelajaran 2012/2013. 3. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Gunung Sari tahun pelajaran 2012/2013. 4. Objek Penelitian Penelitian ini terbatas pada pengaruh model pembelajaran question student have dengan media animasi terhadap prestasi belajar kimia siswa kelas X SMA Negeri 1 Gunung Sari tahun pelajaran 2012/2013.

F. Definisi Operasional Agar menghindari terjadinya kesalah pahaman terhadap makna judul dalam penelitian ini, perlu dijelaskan istilah-istilah brikut:

1. Question Student Have Question Student Have merupakan suatu strategi yang melatih peserta didik agar memiliki kemampuan dan keterampilan bertanya dalam bentuk tulisan (Suprijono, 2009). Pertanyaan adalah stimulus yang mendorong siswa untuk berpikir dan belajar. Tujuan siswa dalam membuat pertanyaan adalah mendorong siswa untuk berpikir dalam memecahkan masalah suatu soal, menyelediki dan menilai penguasaan siswa tentang bahan pelajaran, membangkitkan minat siswa untuk sesuatu sehingga akan menimbulkan keinginan untuk mempelajarinya dan juga menarik perhatian siswa dalam belajar. Adapun untuk langkah-langkah dari pembelajaran question student have adalah sebagai berikut : Guru menjelaskan model pembelajaran question student have pada siswa, agar siswa tahu maksud dan tujuan model pembelajaran ini, guru menjelaskan garis besar materi yang akan disampaikan, guru membagi siswa kedalam kelompok belajar, guru menyuruh siswa menulis pertanyaan yang terkait dengan materi yag telah dipelajari, guru menyuruh siswa memutar kartu tersebut searah keliling jarum jam pada kelompoknya masing-masimg dan siswa memberikan tanda centang () jika pertanyaan tersebut dianggap penting dan sesuai dengan materi yang telah diajarkan. Perputaran berhenti sampai kartu tersebut kembali kepada pemiliknya masingmasing, setiap pemilik kartu dalam kelompok harus memeriksa pertanyaan mana yang mendapat suara terbanyak. Pertanyaan yang mendapat suara terbanyak kini menjadi milik kelompok, setiap

kelompok melaporkan secara tertulis pertanyaan yang telah menjadi milik kelompok, guru melakukan pemeriksaan terhadap pertanyaan dari tiap-tiap kelompok, pertanyaan yang sudah diseleksi oleh guru dikembalikan kepada siswa untuk dijawab secara mandiri maupun kelompok jawaban lisan maupun tulisan (Suprijono, 2009). 2. Media Animasi Media animasi pembelajaran merupakan media yang berisi kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerakan dan dilengkapi dengan audio sehingga berkesan hidup serta menyimpan pesan-pesan pembelajaran. Media animasi pembelajaran dapat dijadikan sebagai perangkat ajar yang siap kapan pun digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran (Furoidah, 2009). 3. Prestasi Belajar Prestasi belajar yang dimaksud disini adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah melaksanakan proses belajar. Prestasi belajar yang dimaksud dalam penelitian ini mencakup tiga aspek yaitu aspek kognitif, apektif dan psikomotor. Prestasi belajar yang diukur dalam penelitian ini yaitu aspek kognitif siswa saja. Pengukuran prestasi belajar degan memberikan tes hasil belajar berupa pilihan ganda pada sebelum dan setelah proses pembelajaran. Aspek kognitif terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian (Arifin, 2009).

10

4. Struktur Atom SK dan KD dari materi struktur atom adalah sebagai berikut : Standar Kompetensi : Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur, dan ikatan kimia. Kompetensi Dasar : Memahami struktur atom berdasarkan teori atom Bohr, sifat-sifat unsure, massa atom relatif, dan sifat-sifat periodik unsur dalam tabel periodik serta menyadari keteraturannya melalui pemahaman konfigurasi elektron. Pokok bahasan struktur atom meliputi perkembangan teori atom, partikel dasar atom, isotop, isobar, isoton, sifat-sifat unsur, massa atom relatif dari tabel periodik, sifat-sifat keperiodikan unsur serta konfigurasi elektron (Purba, 2007).

11

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori 1. Pembelajaran kimia di SMA Ilmu kimia merupakan salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), sehingga pembelajaran kimia harus disesuaikan dengan orientasi hakekat IPA yaitu sebagai proses dan produk. Artinya pembelajaran IPA tidak cukup dilaksanakan dengan penyampaian informasi mengenai konsep dan prinsip-prinsip IPA. Para siswa ketika belajar IPA harus memahami proses terjadi fenomena IPA melalui penginderaan sebanyak mungkin. Artinya ketika belajar IPA para siswa harus secara aktif mengamati, mencoba, berdiskusi dengan sesama siswa dan guru. IPA memiliki karakteristik yang membedakannya dengan bidang ilmu lain. Karakteristik khusus IPA tersebut adalah : a. IPA mempunyai nilai ilmiah artinya kebenaran dalam IPA dapat dibuktikan lagi oleh semua orang dengan menggunakan metode ilmiah dan prosedur seperti yang dilakukan terdahulu oleh penemunya. b. proses belajar IPA melibatkan hampir semua alat indera, seluruh proses berpikir, dan berbagai macam gerakan otot. c. belajar IPA biasanya dilakukan dengan menggunakan berbagai macam cara (teknik).

12

d.

belajar IPA memerlukan berbagai macam alat, terutama untuk membantu pengamatan. Hal ini dilakukan karena kemampuan alat indera manusia itu sangat terbatas. Selain itu ada hal-hal tertentu bila data yang diperoleh hanya berdasarkan

pengamatan dengan indera, akan memberikan hasil yang kurang objektif, sementara itu IPA mengutamakan

obyektifitas. e. Belajar IPA seringkali melibatkan kegiatan-kegiatan temu ilmiah (misal seminar-seminar, simposium-simposium), studi kepustakaan, mengunjungi suatu objek, penyusunan hipotesis, dan yang lainnya. Kegiatan seperti ini dilakukan semata-mata dalam rangka untuk memperoleh pengakuan kebenaran temuan yang benar-benar objektif. Pembelajaran IPA menurut teori konstruktivistik harus sesuai dengan teori belajar konstruktivistik yaitu siswa memiliki pengetahuan sebelum mengikuti pembelajaran. Pengetahuan yang dimiliki siswa sebelum mengikuti pembelajaran inilah yang disebut sebagai pengetahuan awal. Pengetahuan awal siswa dapat diperoleh dari sumber-sumber belajar yang tersedia di luar sekolah atau dari pembelajaran sebelumnya. Makna pembelajaran dalam paradigma konstruktivistik tentunya tidak akan lepas dari makna belajar dalam paradigma konstruktivistik. Dengan demikian pembelajaran konstruktivistik adalah pembelajaran yang menekankan kepada minimal tiga hal penting yaitu bahwa pertama belajar itu adalah proses aktif mengkonstruksi pengetahuan, kedua aktif

13

membentuk keterkaitan (link) antara pengetahuan yang telah dimiliki siswa dengan pengetahuan yang sedang dipelajari, ketiga melakukan interaksi dengan siswa yang lain. Salah satu tujuan pembelajaran ilmu kimia di SMA adalah agar siswa memahami konsep-konsep kimia dan saling keterkaitannya serta penerapannya baik dalam kehidupan sehari-hari maupun teknologi. Oleh sebab itu, siswa diharapkan mampu memahami dan menguasai konsepkonsep kimia khususnya pada materi struktur atom. Pembelajaran kimia di SMA seharusnya diterapkan sesuai dengan karakteristik materi kimia yang akan dipelajari. Karakteristik materi kimia yaitu bersifat makroskopis, mikroskopis dan simbolik. Bersifat

makroskopis artinya fenomena kimia yang nyata yang secara langsung atau tidak langsung sering menjadi bagian pengalaman siswa sehari-hari. Bersifat mikroskopis artinya fenomena kimia yang tidak nyata seperti pergerakan elektron, molekul, partikel atau atom. Bersifat simbolik yaitu berupa gambar, simbol-simbol dan aljabar. 2. Model Pembelajaran Question Student Have Question students have merupakan suatu strategi yang menuntut siswa bertanya dalam bentuk tulisan. Pertanyaan adalah stimulus yang mendorong siswa untuk berpikir dan belajar. Tujuan siswa dalam membuat pertanyaan adalah mendorong siswa untuk berpikir dalam memecahkan masalah suatu soal, menyelidiki dan menilai penguasaan siswa tentang bahan pelajaran, membangkitkan minat siswa untuk sesuatu

14

sehingga akan menimbulkan keinginan untuk mempelajarinya dan juga menarik perhatian siswa dalam belajar (Hartono, 2008 http://media.diknas.go-id ). Model pembelajaran question student have dikembangkan untuk melatih peserta didik agar memiliki kemampuan dan keterampilan bertanya. Pembelajaran dengan metode ini diawali dengan membagi kelas menjadi 4 kelompok. Jumlah kelompok sebaiknya desesuaikan dengan jumlah peserta didik. a. Langkah-langkah model pembelajaran Question Student Have Menururt (Suprijono, 2009) langkah-langkah dalam model pembelajaran Question Student Have adalah sebagai berikut: 1) Bagikan potongan-potongan kertas kepada siswa. 2) Minta setiap siswa untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang berkaitan dengan materi pelajaran. 3) Setelah semua selesai membuat pertanyaan, masing-masing diminta untuk memberikan kertas yang berisi pertanyaan kepada teman disamping kirinya. 4) Pada saat menerima kertas dari teman di sampingnya, siswa diminta untuk membaca pertanyaan yang ada. 5) Ketika kertas pertanyaan tadi kembali kepada pemiliknya, siswa diminta untuk menghitung tanda centang yang ada pada kertasnya.

15

6) Beri respon kepada pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jawaban langsung secara singkat, menunda jawaban sampai pada waktu yang tepat atau waktu membahas topik tersebut. 7) Jika waktu cukup, minta beberapa orang siswa untuk membacakan pertanyaan yang dia tulis meskipun tidak mendapatkan tanda centang yang banyak kemudian beri jawaban. 8) Kumpulkan semua kertas. Besar kemungkinan ada pertanyaanpertanyaan yang akan anda jawab pada pertemuan berikutnya. b. Kelebihan model pembelajaran question student have Menurut Hartono (2012) model pembelajaran question student have memiliki kelebihan yaitu sebagai berikut: 1) Pelaksanaan proses pembelajaran ditekankan pada keaktifan belajar siswa dan keaktifan guru dalam menciptakan

lingkungan belajar yang serasi dan menantang pola interaksi siswa. 2) Siswa termotivasi dalam belajar dan siswa akan mendapat kemudahan dalam menerima dan memahami materi yang diajarkan karena terjadi timbal balik antara guru dan siswa. 3) Mendapat partisipasi siswa melalui tulisan, sehingga sangat baik bagi siswa yang kurang dan berani mengungkapkan melalui

pertanyaan, percakapan.

keinginan,

harapan-harapan

16

4) Siswa tidak hanya mendengarkan tetapi perlu membaca, menulis, berdiskusi dan mendorong siswa untuk berfikir dalam memecahkan suatu soal dan menilai penguasaan siswa tentang bahan pelajaran, membangkitkan minat siswa sehingga akan menimbulkan keinginan untuk mempelajarinya juga menarik perhatian siswa dalam belajar. 5) Dapat menjaga perhatian siswa agar tetap tertuju pada proses pembelajaran, memperkuat dan memperlancar stimulus respon siswa, sehingga pembelajaran lebih menyenangkan dan mampu memberi kesan yang mendalam pada diri siswa. 6) Guru lebih mengetahui dimana letak ketidakpahaman siswa, karena semua siswa sudah mengajukan pertanyaan dan akan didiskusikan. c. Kelemahan Model Pembelajaran Question Student Have yaitu: 1) 2) Memakan waktu yang banyak. Tidak semua materi pelajaran bisa digunakan model pembelajaran question students have, misalnya: pada materi pelajaran singkat karena tidak terlalu banyak pertanyaan yang akan diajukan siswa (Hartono, 2008 http://media.diknas.go-id). 3. Media Animasi Animasi merupakan salah satu bentuk visual bergerak yang dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan materi pelajaran yang sulit disampaikan secara konvensional. Dengan diintergrasikan ke media lain seperti video, presentasi, atau sebagai bahan ajar tersendiri, animasi cocok untuk

17

menjelaskan materi-materi pelajaran yang secara langsung sulit dihadirkan di kelas atau disampaikan dalam bentuk buku. Menurut Furoidah (2009), media animasi pembelajaran merupakan media yang berisi kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerakan dan dilengkapi dengan audio sehingga berkesan hidup serta menyimpan pesan-pesan pembelajaran. Media animasi pembelajaran dapat dijadikan sebagai perangkat ajar yang siap kapan pun digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran. Media animasi termasuk jenis media visual audio, karena terdapat gerakan gambar dan suara. Menurut Sudrajat (2010), pembelajaran audio visual didefinisikan sebagai produksi dan pemanfaatan bahan yang berkaitan dengan pembelajaran melalui penglihatan dan pendengaran yang secara eksklusif tidak selalu harus bergantung kepada pemahaman katakata dan symbol sejenis. Menurut Sadiman (2003) dalam Anonim (2009) media animasi memiliki kelebihan dan kelemahan sebagai berikut: a. Kelebihan media animasi 1) Media animasi mempermudah orang menyampaikan dan menerima materi, fikiran dan pesan serta dapat menghindarkan salah pengertian. 2) Media animasi mendorong keinginan seseorang untuk mengetahui lebih lanjut informasi yang sedang dipelajarinya. 3) Media animasi dapat mengekalkan pengertian yang didapat dalam buku materi.

18

4) Media animasi sudah berkembang di masyarakat. b. Kelemahan media animasi 1) Memerlukan kreatifitas dan ketrampilan yang cukup memadai untuk mendesain animasi yang dapat secara efektif digunakan sebagai media pembelajaran. 2) Memerlukan software khusus untuk membukanya. 3) Guru sebagai komunikator dan fasilitator harus memiliki kemampuan memahami siswanya, bukan memanjakannya dengan berbagai animasi pembelajaran yang cukup jelas tanpa adanya usaha belajar dari mereka atau penyajian informasi yang terlalu banyak dalam satu frame cenderung akan sulit dicerna siswa. 4. Penerapan model pembelajaran question student have dengan media animasi Proses belajar mengajar (pembelajaran) sangat dipengaruhi oleh faktor metode dan media pembelajaran yang digunakan. Keduanya saling berkaitan, dimana pemilihan metode tertentu akan berpengaruh terhadap jenis media yang akan digunakan. Dalam arti bahwa harus ada kesesuaian diantara keduanya untuk mewujudkan tujuan pembelajaran. Media pembelajaran yang baik adalah media yang dipilih berdasarkan tujuan instruksional yang telah ditetapkan untuk mendukung isi pelajaran yang disampaikan, karakteristik siswa, dan jenis rangsangan belajar yang diinginkan, luas jangkauan yang ingin dilayani, serta mudah

penggunaannya.

19

Penggabungan media animasi dengan model pembelajaran question student have pada materi struktur atom akan dapat mempermudah siswa dalam memahami konsep tersebut sehingga proses pembelajaran akan lebih efektif dan efisien, karena penggunaan model pembelajaran question student have dengan media animasi sangat sesuai dengan karakteristik materi struktur atom yang bersifat abstrak dan kompleks. Penggunaan media animasi dalam penerapan model pembelajaran question student have akan mendukung kelancaran proses belajar dalam menerapkan model pembelajaran question student have dalam proses pembelajaran, karena dengan penggunaan media animasi akan mendorong keinginan siswa untuk mengetahui lebih lanjut informasi yang sedang dipelajarinya. Oleh sebab itu, penerapan penggunaan model pembelajaran question student have dengan media animasi diharapkan akan lebih meningkatkan prestasi belajar siswa. 5. Prestasi belajar Prestasi belajar terdiri dari dua kata yaitu prestasi dan belajar. Yang dimaksud dengan prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok. Prestasi tidak akan pernah dihasilkan selama seseorang tidak melakukan suatu kegiatan. Dalam kenyataan, untuk mendapatkan prestasi tidak semudah yang dibayangkan, tetapi penuh perjuangan dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi untuk mencapainya (Djamarah, 2012). Sedangkan belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari.

20

Hasil dari aktivitas belajar terjadilah perubahan dalam diri individu. Dengan demikian belajar dikatakan berhasil bila telah terjadi perubahan dalam diri individu. Sebaliknya, bila tidak tarjadi perubahan dalam diri individu, maka belajar dikatakan tidak berhasil. Jadi, yang dimaksud dengan prestasi belajar dalam penelitian ini adalah hasil belajar yang telah dicapai oleh setiap siswa setelah melakukan proses belajar dengan model pembelajaran question student have dengan media animasi menggunakan instrumen yang telah diuji validitas dan reabilitasnya terlebih dahulu. a. Faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar Ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Slameto, 2010) 1) Faktor Internal Terdapat tiga faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, yaitu: a) Faktor jasmaniah, meliputi: kesehatan dan cacat tubuh. b) Faktor pskologis, meliputi: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan. c) Faktor kesalahan, meliputi: kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis). 2) Faktor Eksternal Faktor eksternal yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa dapat dikelompokan menjadi 3 faktor, yaitu:

21

a) Faktor keluarga, meliputi: cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasanah rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dn latar belakang kebudayaan. b) Faktor sekolah, meliputi: metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah. c) Faktor masyarakat, meliputi: kegiatan siswa dalam

masyarakat, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat. b. Ranah prestasi belajar Ranah prestasi belajar yang diukur hanya pada ranah kognitif saja. Menurut Suharsimi (2012) ranah kognitif terdiri dari : 1) Pengetahuan (knowledge) Dalam pengetahuan, siswa diminta untuk memilih satu dari dua atau lebih jawaban. Ciri-ciri dari pengetahuan adalah mendefinisikan, mendeskripsikan, mengidentifikasi, mendaftarkan, menjodohkan, mereproduksi. 2) Pemahaman (comprehension) Dengan pemahaman, siswa diminta untuk membuktikan bahwa siswa dapat memahami hubungan yang sederhana diantara fakta-fakta atau konsep. Ciri-ciri dari pemahaman adalah mempertahankan, membedakan, menduga (estimates), menyebutkan, menyatakan (states) dan

22

menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menuliskan kembali dan memperkirakan. 3) Penerapan atau aplikasi (application) Dalam penerapan atau aplikasi ini, siswa dituntut memiliki kemampuan untuk menyeleksi atau memilih suatu abstrasi tertentu (konsep, hukum, dalil, aturan, gagasan dan cara) secara tepat untuk diterapkan dalam suatu situasi baru dan menerapkannya secara benar. Ciri-ciri aplikasi adalah mengubah, menghitung,

mendemonstrasikan, menemukan, memanipulasi, memodifikasi, mengoperasikan, meramalkan, menyiapkan, menghasilkan,

menghubungkan, menunjukkan, memecahkan dan menggunakan. 4) Analisis (analysis) Dalam tugas analisis ini, siswa diminta untuk menganalisis suatu hubungan atau situasi yang kompleks atau konsep-konsep dasar. Ciri-ciri analisis adalah memerinci, menyusun diagram, membedakan, menyimpulkan, mengidentifikasikan, menunjukkan, mengilustrasikan, memilih,

menghubungkan,

memisahkan dan membagi (subdivides). 5) Sintesis (synthesis) Apabila penyusunan soal tes bermaksud meminta siswa melakukan sintesis maka pertanyaan-pertanyaan disusun

sedemikian rupa sehingga meminta siswa untuk menggabungkan atau menyusun kembali (reorganize) hal-hal yang spesifik agar dapat dikatakan bahwa dengan soal sintesis ini siswa diminta untuk

23

melakukan generalisasi. Ciri-ciri sintesis adalah mengategorikan, mengombinasikan, mengarang, menciptakan, membuat desain, menjelaskan, memodifikasikan, mengorganisasikan, menyusun, membuat rencana, mengatur kembali, merekonstruksikan,

menghubungkan, merevisi, menuliskan kembali, dan menceritakan. 6) Evaluasi (evaluation) Apabila penyusunan soal bermaksud untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menerapkan pengetahuan dan kemampuannya yang telah dimiliki untuk menilai sesuatu kasus yang diajukan oleh penyusun soal. Ciri-ciri evaluasi adalah menilai, membandingkan, menyimpulkan, mempertentangkan, mengkritik, mendeskripsikan, membedakan, menerangkan, memutuskan, menafsirkan,

menghubungkan dan membantu (supports). 6. Tinjauan Materi Struktur Atom a. Perkembangan Teori Atom Pada awal perkembangan ilmu kimia, banyak berkembang teori-teori tentang atom. Setiap teori mempunyai kekurangan dan kelebihan. Macam-macam teori atom tersebut antara lain : 1) Teori atom Dalton Teori atom yang pertama kali dikemukakan dan dilandasi data ilmiah adalah teori Dalton. Pokok-pokok teori Dalton sebagai berikut: a. b. Atom adalah bagian terkecil dari suatu unsur. Atom tidak dapat dibagi-bagi.

24

c.

Atom-atom dari unsur yang sejenis mempunyai sifat yang sama, sedangkan atom-atom dari unsur yang berbeda mempunyai sifat yang berbeda pula.

d.

Reaksi kimia terjadi karena penggabungan dan pemisahan atom.

e.

Reaksi kimia terjadi jika atom-atom bergabung dan atau pemutusan atom. Model atom Dalton dapat digambarkan sebagai bola pejal

yang bulat masif. Kelemahan teori atom Dalton ini adalah pada kenyataannya atom dapat dibagi lagi menjadi partikel yang lebih kecil yang disebut pertikel subatomik 2) Teori Atom Thomson Teori atom Dalton sudah tidak berkembang lagi setelah ditemukannya elektron oleh Thompson dengan menggunakan tabung sinar katode. Atom merupakan bola bermuatan positif yang permukaannya tersebar elektron. Model atom Thompson

digambarkan sebagai kismis yang tersebar pada seluruh bagian roti sehingga sering disebut dengan model roti kismis. Kelemahan dari teori atom ini adalah belum menggambarkan letak dan lintasan elektron dalam suatu atom. 3) Teori atom Rutherford Menurut Rutherford atom terdiri dari inti atom yang bermuatan positif dan elektron-elektron bergerak mengelilingi inti. Inti atom yang bermuatan positif disebut dengan proton, dengan

25

jumlah proton sama dengan jumlah elektron. Karena jari-jari inti 10-13 cm dibandingkan dengan jari-jari atom 10 -8 cm, maka sebagian besar ruangan dalam atom adalah ruangan kosong. Kesimpulan Rutherford tersebut berdasarkan pada eksperimen hamburan partikel pada lempeng emas yang tipis. 4) Teori atom Niels Bohr Niels Bohr, seorang ahli fisika, memperbaiki teori atom Rutherford, yaitu dengan mengadakan spektrum hidrogen. Hasil percobaan ini dapat disimpulkan sebagai berikut : a. Elektron beredar mengelilingi inti pada lintasan-lintasan tertentu yang disebut orbit. b. Apabila elektron beredar mengelilingi inti pada orbitnya, tidak mengalami perubahan energi (keadaan stasioner). c. Apabila elektron berpindah dari orbit dalam ke orbit luar, diperlukan energi (menyerap energi). Sebaliknya jika elektron berpindah dari orbit luar ke orbit dalam, akan dipancarkan energi (melepaskan energi). Kelemahan dari teori ini adalah hanya tepat untuk atom-atom dengan nomor atom kecil. 5) Teori atom mekanika kuantum Pada tahun 1927, Erwin Schodinger seorang ahli matematika dari Austria mengejutkan teori atom yang disebut teori atom mekanika kuantum. Menurut teori ini, kedudukan elektron dalam inti atom tidak dapat ditentukan dengan pasti. Yang dapat

26

ditentukan adalah probabilitas menemukan elektron sebagai fungsi jarak dari inti atom. Daerah dengan probabilitas terbesar menemukan elektron itu disebut orbital. Orbital digambarkan berupa awan yang tebal tipisnya menyatakan besar kecilnya kebolehjadian menemukan elektron di daerah itu. Kemudian pada tahun 1927, Werner Heisenberg seorang ahli fisikawan bangsa Jerman, menguatkan teori atom mekanika kuantum dengan temuannya yang disebut azas ketidakpastian. Heisenberg mengemukakan bahwa metode eksperimen apa saja yang digunakan untuk menentukan posisi atau momentum suatu partikel kecil seperti elektron dapat menyebabkan perubahan baik pada posisi atau momentum atau kedua-duanya. Heisenberg mengembangkan persamaan-persamaan

matematika untuk menunjukkan bahwa tidak ada metode eksperimen yang dapat dirancang untuk mengukur dengan serempak posisi maupun momentum suatu partikel secara cermat. Jika suatu eksperimen dirancang untuk memastikan posisi elektron, maka momentumnya menjadi tidak pasti. Sebaliknya jika eksperimen dirancang untuk memastikan momentum atau

kecepatan elektron, maka posisinya menjadi tidak pasti. b. Teori Struktur atom Istilah Atom berasal dari bahasa yunani yaitu atomos yang artinya tidak dapat dibagi-bagi. Teori atom pertama kali dikemukakan oleh filsafat yunani Leocippus dan Demokritos, telah dikenal bahwa

27

atom adalah benda atau materi yang terdiri atas partikelpartikel yang sangat kecil, yang tidak dapat lagi dipecah dan pemecahan lebih lanjut tidak mungkin dilakukan. Sedangkan menurut John Dalton

menganggap atom sebagai bola kaku yang tidak dapat diuraikan lagi menjadi partikel-partikel yang lebih kecil. Dari pandangan diatas, mengenai atom itu sendiri ternyata tidak benar dan tidak berkembang lagi setelah ditemukannya partikelpartikel penyusun atom (proton, neutron, elektron). Jadi dapat disimpulkan bahwa atom tersusun atas partikel-partikel lebih kecil yang disebut subatom atau disebut partikel dasar penyusun atom yaitu proton, neutron, dan elektron. c. Partikel-partikel Penyusun Atom Partikel penyusun atom terdiri dari tiga macam partikel dasar yaitu proton, neutron, dan elektron.
1e ) 1) Elektron ( 0

Elektron adalah penyusun atom yang bermuatan negatif (muatan elektron = -1,6022.10-19 C) dan bermassa 9,10096.10-28 gram.
1 p) 2) Proton ( 1

Proton adalah partikel penyusun inti atom yang bermuatan positif ( muatan proton = +1,6022.10-19 C dan bermassa 1,6726 gram. Jadi massa proton kira-kira 1836 kali massa elektron.
1 n) 3) Neutron ( 0

28

Neutron adalah penyusun inti atom yang massanya hampir sama dengan massa proton, tetapi tidak bermuatan. Proton dan neutron merupakan penyusun inti atom yang dikenal dengan istilah nukleon. Mengenai partikel-partikel penyusun atom dapat dilihat pada tabel. Tabel 2.1 Partikel-Partikel Penyusun Atom Partikel Muatan Simbol Massa (gram) 1 Proton +1 1,67 x 10-24 1 p 1,67 x 10-24 Neutron Elektron 0 -1
1 0

Penemu Rutherford J.Chadwick

Lokasi Didalan inti Didalam inti Mengelilingi inti

n e

0 1

9,11 x 10

-28

J.J Thomson

d. Nomor atom dan Nomor massa 1) Nomor atom Nomor atom merupakan jumlah proton dalam inti tiap-tiap atom suatu unsur. Dalam atom netral jumlah proton sama dengan jumlah elektron, sehingga nomor atom juga menunjukkan banyaknya jumlah elektron yang terdapat pada atom. 2) Nomor massa Nomor massa suatu unsur menunjukkan jumlah nukleon (proton dan neutron) yang terdapat dalam inti atom jumlah nukleon dalam suatu unsur dinyatakan sebagai nomor massa atom unsur itu. Simbol atom yang dilengkapi dengan nomor atom dan nomor massa dapat ditulis sebagai berikut :
A Z

29

Keterangan X = Lambang atom suatu unsur Z = Nomor atom ( jumlah proton (p) = jumlah elektron (e) A = Nomor massa (jumlah proton (p) + jumlah neutron (n) Namun perlu diingat bahwa hubungan tersebut hanya berlaku untuk atom netral. Atom netral dapat melepaskan atau menerima elektron dari atom lain. Hal ini terjadi agar atom dapat berada dalam kondisi stabil. Atom yang melepaskan atau menerima elektron disebut ion. Ketika atom berubah menjadi ion, nomor atom dan jumlah protonnya tetap, tetapi jumlah elektronnya berubah. e. Isotop, Isobar, dan Isoton 1) Isotop Atom-atom sejenis yang mempunyai nomor atom yang sama tetapi mempunyai nomor massa yang berbeda disebut isotop. Contoh : Isotop atom struktur atom dan klorin :
12 6

C,

13 6

C, Cl

35 17

Cl,

37 17

2)

Isobar Atom dari unsur yang berbeda (mempunyai nomor atom berbeda), tetapi mempunyai nomor massa sama disebut isobar.

30

Contoh : Isobar dari beberapa unsur


14 6

C dengan Na dengan

14 7

N Mg

24 11

24 12

3)

Isoton Atom dari unsur yang berbeda (mempunyai nomor atom berbeda), tetapi mempunyai jumlah neutron sama disebut isoton. Contoh : Isoton beberapa unsur
13 6

C dengan P dengan

14 7

N S

31 15

32 16

f.

Massa atom dan Massa atom relatif 1) Massa atom Untuk menyatakan massa atom telah ditetapkan suatu satuan massa khusus, yaitu satuan massa atom (sma). Standar yang dipilih untuk satuan massa atom adalah isotop C-12, dengan ketentuan sebagai berikut : 1 atom C-12 = 12 sma 1sma =
1 x massa 1 atom C 12 atau dalam bentuk gram 12

1 sma = 1,66 x 10-24 gram 2) Massa atom relatif Massa atom relatif (Ar) adalah perbandingan antara massa 1 atom
1 massa 1 atom C-12. 12

suatu unsur terhadap

31

massa rata rata 1 atom unsur X 1 Ar unsur X = massa 1 atom C 12 12

Oleh karena

1 massa 1 atom C-12 sama dengan 1 sma, maka 12

definisi diatas dapat ditulis sebagai berikut : Ar unsur X =


massa rata rata 1 atom unsur X 1 sma

g. Konfigurasi elektron dan elektron valensi 1) Konfigurasi elektron Susunan elektron pada setiap kulitnya disebut konfigurasi elektron. Kulit pertama dinamakan kulit K, kulit kedua dinamakan kulit L, kulit ketiga dinamakan kulit M, dan seterusnya Jumlah maksimum elektron pada setiap kulit memenuhi rumus 2n2 (n = nomor kulit) Kulit K (n = 1), maksimum 2 x 12 = 2 elektron Kulit L (n = 2), maksimum 2 x 22 = 8 elektron Kulit M (n = 3), maksimum 2 x 32 = 18 elektron Kulit N (n = 4), maksimum 2 x 42 = 32 elektron, Contoh : Tentukan konfigurasi elektron dari unsur dibawah ini :
23 11

Na,

24 12

Mg,

35 17

Cl :

11

Na : 2.8.1. Mg : 2.8.2.

17

Cl : 2.8.7.

12

32

2)

Elektron valensi Elektron valensi merupakan jumlah elektron yang terletak pada kulit terluar. Untuk menentukan elektron valensi, terlebih dahulu kita menyusun konfigurasi elektron suatu unsur. Jumlah elektron yang terdapat pada kulit terluar dari konfigurasi elektron yang disusun merupakan elektron valensi unsur tersebut. Seperti contoh diatas unsur Na memiliki elektron valensi sebanyak 1 elektron, unsur Mg memiliki elektron valensi sebanyak 2 elektron, dan unsur Cl memiliki elektron valensi sebanyak 7 elektron. Elektron valensi menentukan sifat atom, unsur dengan elektron valensi yang sama mempunyai sifat yang sama pula (Michael Purba: 2007).

B. Hasil penelitian yang relevan Dalam penelitian ini dengan menggunakan model pembelajaran Question student Have dengan media animasi sudah ada yang mengadakan penelitian sebelumnya, yaitu sebagai berikut : 1. Hasil penelitian Nurrifda (2013) dalam penelitiannya yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Question Student Have Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Reaksi Reduksi Oksidasi Di Kelas X Man Kuok tahun ajaran 2012/2013 menunjukkan bahwa Penerapan model pembelajaran kooperatif Question Student Have dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan reaksi reduksi oksidasi di kelas X MAN Kuok. Peningkatan prestasi belajar siswa

33

di kelas X MAN Kuok melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Question Student Have sebesar 0,762 termasuk kategori tinggi. 2. Hasil penelitian Muhammad Rahmatullah (2011) dengan judul penelitian pengaruh pemanfaatan media film animasi terhadap hasil belajar pada mata pelajaran IPS siswa kelas VIII SMPN 66 Banjarmasin menunjukkan bahwa penggunaan film animasi dalam pelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa, ini dapat dilihat dari nilai rata rata hasil pre test kelas
kontrol sebesar 21,86 dengan standar deviasi sebesar 3,646. Rata rata hasil post test sebesar 22,69 dengan standar deviasi sebesar 3,53. Pada kelas eksperimen, rata rata hasil pre test sebesar 21,91 dengan standar deviasi sebesar 4,005. Rata rata hasil post test sebesar 24,23 dengan standar deviasi sebesar 3,257. Nilai terendah pre test pada kelas kontrol lebih baik dari kelas eksperimen (12 > 9). Demikian pula nilai tertinggi pre test pada kelas kontrol lebih baik dari kelas eksperimen (28 > 27). Nilai terendah post test pada kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol (16 > 13). Sedangkan nilai tertinggi post test pada kelas kontrol sama dengan kelas eksperimen yakni sebesar 30. Perubahan hasil belajar terendah pada kelas eksperimen masih lebih baik dari kelas kontrol (-1 > -2). Demikian pula perubahan hasil belajar tertinggi pada kelas eksperimen masih lebih baik dari kelas kontrol (7 > 4). Dilihat dari peningkatan (gain) hasil belajar, pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sama-sama terjadi peningkatan hasil belajar. Meskipun demikian, pada kelas eksperimen terjadi peningkatan (gain) yang lebih tinggi yakni sebesar 0,34 (sedang) sedangkan pada kelas kontrol hanya terjadi peningkatan (gain) sebesar 0,10 (rendah).

34

3. Hasil penelitian Sri Nurhayati (2009) dengan judul penelitian keefektifan pembelajaran berbasis question student have dengan bantuan chemoedutainment media key relation chart terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA N 1 Kedungwuni tahun pelajaran 2008/2009 menyatakan bahwa pembelajaran berbasis question student have dengan bantuan chemoedutainment media key relation chart efektif untuk pembelajaran materi pokok hidrokarbon dan minyak bumi dan mempunyai hasil belajar yang lebih baik. C. Kerangka Berfikir. Keberhasilan hasil belajar mengajar dapat mengukur kemampuan siswa selama mengikuti proses belajar mengajar. Penggunaan model pembelajaran dapat dikaitkan dengan media pembelajaran karena proses belajar mengajar (pembelajaran) sangat dipengaruhi oleh faktor metode dan media pembelajaran yang digunakan. Keduanya saling berkaitan, dimana pemilihan metode tertentu akan berpengaruh terhadap jenis media yang akan digunakan. Dalam arti bahwa harus ada kesesuaian diantara keduanya untuk mewujudkan tujuan pembelajaran. Pembelajaran akan memberikan hasil belajar yang baik apabila model pembelajaran yang digunakan adalah question student have yang

dikombinasikan dengan media animasi. Pembelajaran question student have merupakan pembelajaran yang melatih peserta didik agar memiliki kemampuan dalam bertanya. Model pembelajaran question student have digunakan untuk mempelajari tentang keinginan dan harapan siswa sebagai dasar untuk memaksimalkan potensi yang siswa miliki. Model pembelajaran

35

question student have ini menggunakan sebuah teknik untuk mendapatkan partisipasi siswa melalui tulisan. Media animasi dapat dimanfaatkan untuk untuk menjelaskan materi pelajaran yang bersifat abstrak seperti materi struktur atom karena merupakan media yang berisi kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerakan dan dilengkapi dengan audio sehingga berkesan hidup serta menyimpan pesan-pesan pembelajaran. Media animasi pembelajaran dapat dijadikan sebagai perangkat ajar yang siap kapanpun digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran. Dalam menerapkan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran question student have dengan media animasi bukanlah satusatunya faktor yang dapat menentukan tinggi rendahnya prestasi belajar siswa, namun dengan penggunaan model pembelajaran question student have dengan media animasi merupakan salah satu sarana atau alat bantu pengajaran yang digunakan untuk membantu dalam proses belajar mengajar sehingga apa yang telah diajarkan dapat dimengerti dan dipahami oleh peserta didik. Oleh karena itu, penggunaan model pembelajaran question student have dengan media animasi diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi struktur atom untuk mencapai pembelajaran yang efektif dan efisien. D. Hipotesis Penelitian Hipotesis penelitian adalah suatu anggapan yang masih dibuktikan lagi kebenarannya melalui penelitian atau suatu dugaan sementara yang mungkin benar atau salah (Arikunto, 2010). Berdasarkan definisi tersebut, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada pengaruh model pembelajaran question student have dengan media animasi terhadap prestasi belajar siswa.

36

BAB III METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh model pembelajaran question studen have dengan media animasi terhadap prestasi belajar siswa pada materi struktur atom kelas X SMA Negeri 1 Gunung Sari maka penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan quasi eksperimental design. Bentuk desain eksperimen ini merupakan

pengembangan dari true eksperimental design, yang sulit dilaksanakan. Desain ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan ekperimen. Quasi eksperimental design digunakan karena pada kenyataannya sulit mendapatkan kelompok kontrol yang digunakan untuk penelitian. Oleh karena itu, untuk mengatasi kesulitan dalam menentukan kelompok kontrol dalam penelitian, maka dikembangkan desain quasi eksperimental (Sugiyono, 2012). Rancangan penelitian yang digunakan adalah control pre-test-posttest design (Arikunto, 2006). Dalam design ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R), kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok yang lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Paparan dari rancangan diatas adalah sebagai berikut :

37

Tabel 3.1 Rancangan control pre-test-post-test design Kelas Pretest Perlakuan Posttest Eksperimen O1 X1 O2 Kontrol O3 X2 O4 Keterangan : X1 X2 O1 O2 O3 O4 : Perlakuan dengan menggunakan pembelajaran question student have dengan media animasi : Pembelajaran dengan metode konvensional : Pemberian pretes kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran question student have dengan media animasi : Pemberian postes kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran question student have dengan media animasi : Pemberian pretes kelas kontrol menggunakan metode konvensional : Pemberian postes kelas kontrol menggunakan metode konvensional B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya (Sugiyono, 2012), dan Arikunto (2010) berpendapat bahwa populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Didalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua siswa kelas X SMA Negeri 1 Gunung Sari tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 242 siswa yang terbagi dalam 8 kelas.

38

Tabel 3.2 Daftar populasi SMA Negeri 1 Gunung Sari Kelas Jumlah siswa X-1 36 siswa X-2 36 siswa X-3 33 siswa X-4 35 siswa X-5 34 siswa X-6 34 siswa X-7 34 siswa X-8 34 siswa Jumlah 242 siswa 2. Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel yang diambil harus betul-betul representatif atau mewakili (Sugiyono, 2012), dan Arikunto (2010) berpendapat bahwa sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang akan diteliti. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah cluster random sampling, yaitu pengambilan sampel yang dilakukan apabila populasi cukup besar sehingga perlu dibuat beberapa kelas/kelompok. sebagai berikut : a. Menentukan homogenitas dari semua kelas. b. Memilih dua kelas secara acak dengan teknik undi kelas dari 8 kelas yang ada. c. Memilih salah satu dari dua kelas terpilih dengan cara undi untuk dijadikan sebagai kelas eksperimen (yang diajar dengan Adapun langkah-langkah pengambilan sampel

menggunakan pembelajaran question student have dengan media

39

animasi) dan satu kelas lainnya sebagai kelas kontrol (yang diajar dengan menggunakan metode konvensional). d. Dari hasil undi, diperoleh kelas X-2 sebagai kelas eksperimen dengan jumlah siswa 36 orang dan kelas X-8 sebagai kelas kontrol dengan jumlah siswa 34 orang. Kelas X-2 dan kelas X-8 dijadikan kelas eksperimen dan kelas kontrol karena setelah dipilih secara acak maka yang keluar adalah kelas X-2 dan X-8. C. Instrumen Penelitian Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian disebut instrumen penelitian. Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena-fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik fenomena disebut variabel, tanpa instrumen kegiatan penelitian tidak akan dapat berjalan dengan baik, karena data-data yang diperlukan belum dipersiapkan secara sistematis sehingga arah penelitian menjadi tidak jelas (Sugiyono, 2012). Penelitian ini

menggunakan 2 jenis instumen yaitu instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. 1. Instrumen perlakuan Instumen pendukung disini maksudnya instrumen yang

mendukung dalam pelaksanaan model pembelajaran. Intrumen pendukung tersebut antara lain yaitu :

40

a.

Silabus Silabus merupakan rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran,

kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. b. RPP (Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran) RPP merupakan rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu

kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pelaksanaan Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih. 2. Instrumen pengukuran Dalam penelitian ini, instrumen pengukuran berupa lembar tes prestasi belajar siswa. Lembar tes (posttest) hasil belajar kimia siswa, yaitu tes yang digunakan untuk mengukur sejauh mana siswa menguasai materi yang telah diberikan. a. RPP Lembar observasi keterlaksanaan RPP merupakan Lembar observasi keterlaksanaan

serangkaian jenis kegiatan yang telah dirancang oleh peneliti yang

41

akan diamati pada saat pembelajaran. Kegiatan yang dimaksud terkait dengan keterlaksaan RPP dalam proses pembelajaran. Aspek-aspek yang dinilai dalam lembar observasi ini adalah segala kegiatan guru dari awal sampai akhir proses pembelajaran. b. Tes prestasi belajar Tes prestasi belajar ini dalam bentuk tes objektif atau dalam bentuk pilihan ganda. Bentuk option soal ada lima pilihan, yakni satu pilihan yang paling benar dan ada empat pilihan sebagai pengecoh. Jawaban yang benar untuk setiap soal diberi skor 1 dan jawaban yang salah diberi skor 0. Prosedur penyusunan tes prestasi belajar dilihat dari kisi-kisi soal, yakni materi pembelajaran, indikator pencapaian, bentuk soal berupa pilihan ganda, jenis soal dan jumlah soal. Tes prestasi belajar kimia diberikan sebelum dan setelah siswa mempelajari materi dengan model pembelajaran question student have dengan media animasi dan metode konvensional pada kelasnya masing-masing. Soal yang akan diberikan harus diuji validitas terlebih dahulu untuk mengetahui apakah soal itu sudah valid atau tidak sehingga sudah tepat untuk diberikan kapada siswa. Uji validitas tes digunakan untuk mengetahui apakah alat penelitian yang digunakan sudah dapat tepat atau betul-betul menilai apa yag seharusnya dinilai. Analisis validitas dilakukan dengan menggunakan Microsoft Office Excel 2007, untuk mengetahui apakah perbedaan ini signifikan atau tidak, maka harga

42

rhitung tersebut perlu dibandingkan dengan rtabel. Bila r hitung rtabel maka instrumen dikatakan valid. Bila r hitung rtabel maka instrumen dikatakan tidak valid. Pada taraf signifikan 5 0 0 (Sugiyono, 2012). Uji Validitas soal menggunakan rumus korelasi product moment dengan angka kasar (Arikunto, 2010) sebagai berikut
rXY = ( N X 2 (X ) 2 )( N Y 2 (Y ) 2 ) N XY (X )(Y )

(3.1)

Keterangan: rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, dua variabel yang dikorelasikan X Y N xy x2 y2 = Jumlah nilai variabel X = Jumlah nilai variabel Y = jumlah peserta tes = Jumlah hasil kali perkalian variabel x dan variabel y = Jumlah kuadrat nilai variabel x = Jumlah kuadrat nilai variabel y

(x)2= Jumlah nilai variabel x yang dikuadratkan (y)2= Jumlah nilai variabel y yang dikuadratkan Nilai rxy kemudian dikonsultasikan dengan table r product moment dengan taraf kepercayaan 95%. Untuk memperoleh instrumen yang baik tersebut maka perlu diuji cobakan terlebih dahulu. Tes diuji cobakan pada siswa

43

yang pernah mempelajari materi struktur atom. Ujicoba instrumen bertujuan untuk mengetahui kelayakan instrumen sebagai alat ukur. Uji statistik yang digunakan untuk menganalisis instrumen tersebut antara lain : 1) Uji reliabilitas Reliabilitas adalah apabila suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen sudah baik (Arikunto, 2010). Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat

kedalaman item. Untuk mencari reliabilitas tes dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 16 for windows (Hartono, 2008). Untuk mengetahui reliabel atau tidaknya suatu soal maka dapat menggunakan rumus K-R20 sebagai berikut :
s 2 pq n r = ...................................................... (3.2) 2 s n 1

Keterangan : r11 = Reliabel tes secara keseluruhan n = Banyaknya butir pertanyaan

S = varians total P = Proporsi subyek yang menjawab betul pada sesuatu butir (proporsi subjek yang mendapat skor 1) q = Proporsi subyek yang menjawab salah (q = 1-p)

44

pq = Jumlah hasil perkalian antara p dan q Kriteria: apabila r11> 0,05 maka butir soal tersebut reliabel (Arikunto, 2012).

Tabel tingkat reabilitas diklasifikasikan sebagai berikut : Tabel 3.3 Klasifikasi Tingkat Realibilitas Instrumen. Besarnya Nilai r11 Kriteria 0,800 1,000 Tinggi 0,600 0,800 Cukup 0,400 0,600 Sedang 0,200 0,400 Rendah 0,000 0,200 Sangat Rendah (Arikunto, 2012). 2) Uji Tingkat Kesukaran Tingkat kesukaran adalah bilangan yang

menunjukkan sukar mudahnya suatu soal. Menurut Arikunto (2012), soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak

mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya. Untuk menentukan taraf kesukaran soal digunakan rumus sebagai berikut :
P= B JS

(3.1)

Keterangan :

45

P = Indeks kesukaran JS = Jumlah seluruh siswa peserta test B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul Tabel 3.4 Klasifikasi Indeks Kesukaran Soal No Nilai Kriteria 1 0,00 0,30 Sukar 2 0,31 0,70 Sedang 3 0,71 1,00 Mudah (Arikunto, 2012) Semakin tinggi nilai indeks kesukaran soal, maka semakin mudah soal tersebut. Sebaliknya, semakin rendah nilai indeks kesukaran soal, maka semakin sukar soal tersebut. 3) Daya pembeda Menurut Arikunto (2012), daya beda soal

merupakan kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Persamaan yang digunakan untuk menentukan daya beda soal menggunakan Microsoft Office Excel 2007 dengan rumus sebagai berikut :
D= B A BB = PA PB JA JB

(3.2)

Keterangan : JA = Banyaknya peserta kelompok atas JB = Banyaknya peserta kelompok bawah

46

BA = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar BB = Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar PA = Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar (ingat, P sebagai indeks kesukaran) PB = Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar Tabel 3.5 Klasifikasi Daya Beda Soal No Nilai Kategori 1 0,00 0,20 Jelek 2 0,21 0,40 Cukup 3 0,41 0,70 Baik 4 0,71 1,00 Baik Sekali 5 Negatif Semua tidak baik (Arikunto, 2012) D. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data (Sugiyono, 2012). Adapun langkah-langkah dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut : 1. Sumber Data Sumber data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah subjek darimana data dapat diperoleh (Arikunto, 2010). Pada penelitian ini yang menjadi sumber data adalah siswa dan peneliti. a. Siswa, dengan

memberikan posttest b. Peneliti, dengan observasi kegiatan pembelajaran.

47

2. Jenis data Jenis data yang didapatkan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang dihimpun berdasarkan cara-cara yang melihat proses suatu objek penelitian. Data kualitatif lebih melihat kepada proses daripada hasil karena didasarkan pada deskripsi proses dan bukan pada perhitungan matematis, sedangkan data kuantitatif jelas berdasarkan hasil penelitian pada perhitungan-perhitungan matematis yang kemudian memberikan gambaran atas suatu fenomena kasus yang diajukan dalam penelitian. Adapun data kualitatif dan data kuantitatif yang terdiri dari : a. Data kualitatif berupa lembar observasi keterlaksanaan RPP Data hasil penelitian terhadap pelaksanaan pembelajaran dimana kelas kontrol menggunakan metode konvensional sedangkan kelas eksperimen menggunakan metode pembelajaran question student have dengan media animasi pada materi struktur atom. b. Data kuantitatif berupa hasil test Peneliti menggunakan data hasil test yang didapat dari hasil posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol pada materi struktur atom. Posttest diberikan setelah diterapkannya model

pembelajaran question student have dengan media animasi dan metode konvensional, posttest dilakukan untuk mengetahui kemampuan akhir siswa.

48

E. Teknik Analisis Data Pengolahan data merupakan salah satu langkah yang sangat penting terutama bila diinginkan generalisasinya/kesimpulan tentang masalah yang diteliti, sehingga nanti dapat dipertanggung jawabkan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji deskriptif dan uji statistik. a. Deskriptif Uji deskriptif dalam penelitian ini terkait dengan data terhadap proses belajar, data penilaian ranah kognitif siswa yang diperoleh dari hasil observasi pada saat berlangsungnya pembelajaran dikelas. b. Statistik 1. Uji Prasyarat a. Uji Normalitas Normalitas data dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi atau sebaran data pada sampel. Uji normalitas dicari dengan menggunakan SPSS versi 16 for windows, dengan kriteria sebagai berikut : Terdistribusi normal jika taraf signifikan > 0,05 Terdistribusi tidak normal jika taraf signifikan < 0,05 Uji Uji

b. Uji homogenitas Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang menjadi objek penelitian bersifat homogen atau tidak.

49

Uji homogenitas dicari dengan menggunakan SPSS versi 16 for windows, dengan kriteria sebagai berikut : Jika nilai signifikan 0,05, berarti kedua sampel homogen Jika nilai signifikan 0,05, berarti kedua sampel tidak homogen

2. Uji hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji one sample t-test, untuk mengetahui hasil dari uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas menggunakan kolmogrov-smirnov untuk mengetahui apakah data tes akhir terdistribuasi normal atau tidak. Setelah uji normalitas dilakukan uji homogenitas varians menggunakan test of

homogeneity of variances untuk membuktikan kedua sampel homogen atau tidak. Setelah uji prasyarat maka digunakan analisis uji one sample t-test. Uji one sample t-test digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh penggunaan model pembelajaran terhadap prestasi belajar kimia siswa. Data hasil analisis dibantu dengan SPSS versi 16 for windows. Adapun hipotesis statistik yang ingin diuji adalah sebagai berikut : Ho = Tidak ada pengaruh penggunaan moel pembelajaran Question Student Have dengan media animasi terhadap prestasi belajar

50

kimia siswa kelas X SMA Negeri 1 Gunung Sari tahun pelajaran 2012/2013 Ha = Tidak ada pengaruh penggunaan moel pembelajaran Question Student Have dengan media animasi terhadap prestasi belajar kimia siswa kelas X SMA Negeri 1 Gunung Sari tahun pelajaran 2012/2013.

Pengujian hipotesis menggunakan uji one sample t-test, jika thitung ttabel dengan taraf signifikan 5 %, maka Ho diterima dan Ha ditolak, jika thitung ttabel, dengan taraf signifikan 5 % maka Ha diterima dan Ho ditolak (Sugiyono, 2012).

Anda mungkin juga menyukai