Anda di halaman 1dari 61

PEMBANGKIT LISTRIK Pembangkit listrik adalah suatu rangkaian alat atau mesin yang merubah energi mekanikal untuk

menghasilkan energi listrik, biasanya rangkaian alat itu terdiri dari Turbin dan Generator Listrik. Fungsi dari Turbin adalah untuk memutar Rotor dari Generator Listrik, sehingga dari putaran Rotor itu dihasilkanlah energi listrik. Listrik yang dihasilkan dinaikkan dulu voltasenya menjadi 150 KV s/d 500 KV melalui Trafo Step Up. Penaikan tegangan ini berfungsi untuk mengurangi kerugian akibat hambatan pada kawat penghantar sela proses transmisi. Dengan tegangan yang ekstra tinggi maka arus yang mengalir pada kawat penghantar menjadi kecil. TEGANGAN YANG SUDAH DINAIKKAN KEMUDIAN DITRANSMISIKAN MELALUI JARINGAN SALURAN UDARA EKSTRA TINGGI (SUTET) KE GARDU INDUK/GI, UNTUK DITURUNKAN VOLTASENYA MENJADI TEGANGAN MENENGAH 20 KV,KEMUDIAN TEGANGAN MENENGAH DISALURKAN MELALUI JARINGAN TEGANGAN MENENGAH (JTM),KE TRAFO-TRAFO DISTRIBUSI.DI TRAFO-TRAFO DISTRIBUSI VOLTASENYA DITURUNKAN DARI 20 KV MENJADI 220 VOLT DARI TRAFO-TRAFO DISTRIBUSI DISALURKAN MELALUI JARINGAN TEGANGAN RENDAH (JTR) KE PELANGGAN LISTRIK.

KOMPETITOR ENERGI DI AKHIR MILENIUM KEDUA


HENDRI F. WINDARTO, HERI SISWONO DAN TEGAS SUTONDO (BATAN)

Pembangkit listrik sangat diperlukan untuk menggerakkan roda pembangunan di semua bidang. Pada saat sumber energi suatu pembangkit melimpah di saat itu pula biaya pembangkitan akan murah. Begitu juga sebaliknya, pada saat sumber energi mulai berkurang, maka di saat itu pula biaya pembangkitan akan menjadi mahal. Contoh yang nyata mengenai hal tersebut di atas adalah Pembangkit Listrik Berbahan Bakar Minyak Bumi atau Pembangkit Listrik Konvensional. BIAYA PEMBANGKITAN LISTRIK DIPENGARUHI OLEH DUA HAL UTAMA, YAITU BIAYA BAHAN BAKAR, DAN BIAYA OPERASI DAN PEMELIHARAAN. PADA PEMBANGKIT LISTRIK BERBAHAN BAKAR FOSIL MENUNJUKKAN BAHWA BIAYA BAHAN BAKAR MENCAPAI 80IAYA TOTAL PEMBANGKITAN LISTRIK. SEDANGKAN PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR, BIAYA BAHAN BAKAR MENCAPAI 50IAYA TOTAL PEMBANGKITAN LISTRIK. SISANYA ADALAH BIAYA OPERASI DAN PEMELIHARAAN, 20NTUK PEMBANGKIT LISTRIK BERBAHAN BAKAR FOSIL DAN 50NTUK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR. DARI HAL TERSEBUT DI ATAS DAPAT
TERLIHAT TINGKAT KETERGANTUNGAN PEMBANGKIT TERHADAP HARGA BAHAN BAKAR DI PASARAN. KOMPETISI BIAYA PEMBANGKITAN

Data yang diambil pada tahun 1981 sampai tahun 1994 di USA pada Gambar 1 menunjukkan bahwa biaya pembangkitan untuk nuklir paling rendah dibanding batubara, gas alam atau minyak bumi pada tahun 1981, kecuali terhadap tenaga air. Pada saat itu biaya pembangkitan oleh nuklir sebesar 0.02 dolar setiap kilowatt jam dan 0.03 dolar/kWh, 0.05 dolar/kWh, 0.09 dolar/kWh masing masing untuk batubara, gas alam dan minyak bumi. Setelah bertahun tahun sejak nuklir digunakan, sang kompetitor ini jatuh dan mensejajarkan diri dengan pembangkit batubara pada sekitar tahun 1986. Tahun tersebut untuk pertama kalinya biaya pembangkitan batubara di bawah nuklir. Sejak saat itu

pembangkit batubara menyatakan diri sebagai pembangkit paling murah. Nuklir jatuh disebabkab karena biaya tambahan yang makin meningkat untuk peningkatan pembinaan sumber daya manusia dan biaya operasi yang berhubungan dengan kecelakaan pembangkit Three Mile Island pada tahun 1979. Tetapi perbedaan biaya pembangkitan dua kompetitor ini cukup kecil, yaitu 0.0192 dolar/kWh untuk batubara dan 0.02 dolar/kWh untuk nuklir pada tahun 1994. Dan biaya pembangkitan untuk nuklir dan batubara masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan gas alam dan minyak bumi, masing masing sebesar 0.029 dolar/kWh dan 0.032 dolar/kWh. Dengan menerapkan perencanaan dan teknik manajemen baru secara terpadu dan menyeluruh, biaya pembangkitan nuklir masih dapat dikurangi. Biaya Bahan Bakar BIAYA BAHAN BAKAR UNTUK PEMBANGKIT BERBEDA ANTARA SATU DENGAN LAINNYA. SECARA UMUM, BIAYA BAHAN BAKAR UNTUK PEMBANGKIT BERBAHAN BAKAR FOSIL ADALAH 80ARI BIAYA PEMBANGKITAN. SEDANGKAN BIAYA BAHAN BAKAR UNTUK PEMBANGKIT NUKLIR ADALAH 50ARI BIAYA PEMBANGKITAN. DARI GAMBAR 1
MENUNJUKKAN PEMBANGKIT BAHAN BAKAR FOSIL MEMBERIKAN KONTRIBUSI BIAYA PEMBANGKITAN YANG MAKIN MURAH PADA SEKITAR TAHUN 1985. HAL INI DISEBABKAN JATUHNYA HARGA BAHAN BAKAR TERSEBUT DI PASAR DUNIA HINGGA SAAT INI. SAMPAI KAPAN HAL INI TERUS BERLANGSUNG MASIH MENINGGALKAN TANDA TANYA. DENGAN PROSENTASE BIAYA BAHAN BAKAR SEBESAR 80NTUK PEMBANGKIT BAHAN BAKAR FOSIL DAN KETERGANTUNGAN DENGAN SITUASI PASAR SEPERTI TERSEBUT DI ATAS DAPAT MENGGAMBARKAN KETIDAK STABILAN PEMBANGKIT TERSEBUT.

GAS "GREENHOUSE" Pada tahun 1990 di Rio de Janeiro, USA dan negara negara lain menyatakan perang terhadap musuh musuh kasat mata yaitu gas gas "greenhouse". Menurut hasil studi yang berjudul "Impact of Nuclear Energy on U.S. Electric Utility Fuel Use and Atmospheric Emissions: 1973 1995" menyebutkan bahwa energi nuklir adalah faktor tunggal yang paling penting di dalam pengurangan emisi karbon sebesar 1.9 milyar metrik ton CO2"> untuk sektor kelistrikan di USA. Tanpa nuklir, bahan bakar fosil sudah digunakan untuk memproduksi listrik bagi pertumbuhan ekonomi USA dan kebutuhan yang meningkat karena pertambahan penduduk. Dengan peningkatan kebutuhan listrik rata rata 40ejak tahun 1973 dan penggunaan bahan bakar fosil, 3.2 milyar ton batubara, 3.37 trilyun meter kubik gas alam dan 2.2 milyar barrel minyak bumi, dengan unjuk kerja nuklir pada tahun 1987 1989 sebagai dasar pertimbangan, maka emisi gas karbon atau CO2 dapat dikurangi sampai 37 juta ton per tahun dari tahun 1990 sampai tahun 1995. Emisi CO2 secara nasional telah menurun 25arena penggunaan pembangkit nuklir dibandingkan jika bahan bakar fosil digunakan. Pembangkit nuklir telah membantu mencegah pengeluaran 146 juta metrik ton emisi karbon pada tahun 1995. Dari hasil ini diharapkan tercapai program nasional pengurangan emisi karbon sampai 108 juta metrik ton per tahun, sehingga akan diperoleh stabilitas emisi gas "greenhouse" sebesar level tahun 1990 pada tahun 2000. Masih banyak dokumen dokumen hasil studi yang menyatakan keuntungan demi terciptanya lingkungan bersih dengan menggunakan energi nuklir. Studi tersebut menyatakan pembangkit nuklir telah membantu pengurangan emisi sebanyak 75 juta ton SO2 dan 32 juta ton NOx secara komulatif antara tahun 1973 sampai dengan tahun 1995. Pada tahun 1995, pembangkit nuklir mengurangi 5.1 juta ton SO2. Dan ini merupakan hampir setengah dari jumlah target yang disepakati oleh program yang disebut dengan

"Clean Air Act Amendments of 1990". Energi nuklir juga mecegah pelepasan 2.5 juta ton NOx, dimana nilai ini melebihi dari target yang ditentukan sebesar 2 juta ton NOx oleh Clean Air Act Amendments of 1990 tersebut di atas. Biaya Pembangkitan BIAYA
PEMBANGKITAN NUKLIR MENJADI PRIMADONA KEMBALI SETALAH ADA PENINGKATAN EFESIENSI. BIAYA PEMBANGKITAN NUKLIR TURUN DARI 0.0207 DOLAR/KWH MENJADI 0.0189 DOLAR/KWH PADA TAHUN 1995. PENURUNAN INI KONSTAN SEBESAR 8.7NTUK KURS DOLAR 1995. BEBERAPA PEMBANGKIT NUKLIR TERBARU MENCAPAI BIAYA PEMBANGKITAN SAMPAI 0.012 DOLAR/KWH. HAL TERSEBUT BISA DICAPAI KARENA BEBERAPA PEMBANGKIT NUKLIR TERBARU TERSEBUT MENINGKATKAN KAPASITAS FAKTOR DARI 75.1ENJADI 78.8KAPASITAS FAKTOR ADALAH UNJUK KERJA PEMBANGKIT NUKLIR YANG DIHITUNG BERDASARKAN JUMLAH LISTRIK YANG DIHASILKAN SECARA NYATA DIBAGI JUMLAH MAKSIMUM LISTRIK YANG BISA DICAPAI OLEH PEMBANGKIT TERSEBUT.

MAKIN MENURUNNYA BIAYA PEMBANGKITAN OLEH NUKLIR SEBAGAI SALAH SATU FAKTOR
YANG MENYEBABKAN BEBERAPA NEGARA YANG AKAN MENGEMBANGKAN ATAU MENINGKATKAN INDUSTRI NASIONALNYA, MENINGKATKAN PENGGUNAAN ENERGI NUKLIR BAGI NEGARANYA MASING MASING. KETERGANTUNGAN AKAN ENERGI NUKLIR DARI BEBERAPA NEGARA DAPAT TERLIHAT PADA GAMBAR 2. DIMANA PERANCIS MEMIMPIN DENGAN MEMENUHI KEBUTUHAN ENERGI LISTRIK DALAM NEGERINYA SEBANYAK 75ARI KEBUTUHANNYA MENGGUNAKAN ENERGI NUKLIR. MENYUSUL NEGARA NEGARA LAIN SEPERTI BELGIA, SWEDIA, DST. TERLIHAT PULA NEGARA INDUTRI BARU SEPERTI KOREA SELATAN MENGGUNAKAN ENERGI NUKLIR SEBESAR 36ARI KEBUTUHAN LISTRIK NASIONAL. KESIMPULAN

Kebutuhan energi di dunia akan terus meningkat dan proyeksi peningkatannya sebesar 2er tahun. Hal itu berarti bahwa negara-negara di dunia selalu membutuhkan dan harus memproduksi energi dalam jumlah yang besar sampai dua dekade mendatang. Minyak bumi sebagai sumber energi utama dunia diproyeksikan penggunaannya meningkat sebesar 2er tahun sampai tahun 2015 mendatang, tetapi dengan perkiraan harga minyak tidak melampaui 25 dolar per barrel sebelum tahun 2015. Pertambahan penggunaan batubara juga terus meningkat sampai 50ada tahun 2015. Kedua bahan bakar fosil tersebut masih menghadapi persaingan dan pengetatan aturan yang berhubungan dengan emisi karbon ke lingkungan. Penggunaan energi nuklir diproyeksikan mencapai 20ari penggunaan total energi dunia sampai tahun 2015. Pertumbuhan penggunaan energi nuklir berkembang pesat di negara Perancis dan Jepang. Sementara itu, negara-negara di Asia sedang memulai untuk menggunakan nuklir sebagai pendukung program energi nasional. Daftar Pustaka 1. NUCLEAR ENERGY INSTITUTE, "ELECTRICITY COSTS: NUCLEAR CLOSES GAP WITH COAL", NUCLEAR ENERGY INSIGHT 96, WASHINGTON-D.C., SEPTEMBER 1996. 2. NUCLEAR ENERGY INSTITUTE, "NUCLEAR ENERGY: SUPERHERO IN THE WAR AGAINST GREENHOUSE GASES", NUCLEAR ENERGY INSIGHT 96, WASHINGTOND.C., JULY 1996. 3. NUCLEAR ENERGY INSTITUTE, "NUCLEAR PRODUCTION COSTS: BRING ON THE COMPETITION", NUCLEAR ENERGY INSIGHT 96, WASHINGTON-D.C., MAY/JUNE 1996.

4. DEPARTMENT OF ENERGY-USA, "WORLD ENERGY CONSUMPTION", P.5-20, INTERNATIONAL ENERGY OUTLOOK 1996 - WITH PROJECTION TO 2015, WASHINGTON-D.C., MAY 1996. 5. DEPARTMENT OF ENERGY-USA, "COAL", P.49-56, INTERNATIONAL ENERGY OUTLOOK 1996 - WITH PROJECTION TO 2015, WASHINGTON-D.C., MAY 1996. 6. DEPARTMENT OF ENERGY-USA, "NUCLEAR POWER", P57-64, INTERNATIONAL ENERGY OUTLOOK 1996 - WITH PROJECTION TO 2015, WASHINGTON-D.C., MAY 1996.
SUMBER : ELEKTRO INDONESIA 5/1997

Kebutuhan Listrik di Riau Terus Meningkat


Dikirim Oleh: Adrizas Asdrizas pada 17 Desember 2007 2:12:55 PM PEKANBARU (Riau Online): Pesatnya pembangunan yang terjadi di Riau menyebabkan kebutuhan akan listrik di daerah ini makin meningkat pula. Sayangnya PLN sebagai perusahaan penyedia listrik tidak mampu menghadapi peningkatan kebutuhan listrik itu, sehingga krisis listrik semakin parah saja terjadi.

Bahkan berdasarkan data yang diperoleh dari kantor PLN Cabang Pekanbaru Senin (17/12) diketahui saat ini daftar tunggu warga yang rumahnya memerlukan aliran listrik sudah mencapai 38.000 warga. Jumlah tersebut dari waktu ke waktu akan terus mengalami peningkatan.

Kepala PLN Cabang Pekanbaru Awaluddin Hafid kepada wartawan membenarkan angka daftar tunggu tersebut. "Kita memang mengalami kekurangan listrik, sehingga tidak semua permintaan arus listrik dari masyarakat bisa kita layani sepenuhnya," ungkap dia.

Dikatakannya saat ini saja untuk wilayah Riau masih kekurangan arus listrik sebesar 130 MW. Untuk memenuhi kekurangan listrik tersebut terpaksa dipasok dari Sumatera Barat yang memiliki beberapa PLTA melalui jaringan interkoneksi Sumbar-Riau.

Sumber listrik yang berasal dari Riau sendiri hanya mampu menyediakan arus listrik sebesar 150 MW, masing-masing dari PLTA Kotopanjang, PLTD Teluk Lembu dan dari Riau Power. "Karena terbatasnya jumlah arus listrik yang dihasilkan Riau itu, kita terpaksa menutupi kebutuhan listrik itu dari Sumbar," tambahnya.(ak)

PEMADAMAN LISTRIK

Di Indonesia, mati lampu pada saat hujan deras itu biasa. Tapi mati lampu karena ada pemadaman bergilir? Itu baru luar biasa dan terjadi akhir-akhir ini. Pemerintah Indonesia tidak mampu menyuplai kebutuhan listrik yang terus meningkat, karena itu diadakan pemadaman listrik bergilir dengan dalih penghematan listrik. Sebenarnya penghematan listrik yang diserukan oleh pemerintah ini sangat merugikan. Jaman sekarang, listrik merupakan kebutuhan utama selain pangan, sandang, dan papan. Sebagai contoh, tadi sore (pk17.00, tanggal 23/7/2008 ) daerah gading pantai mengalami pemadaman listrik bergilir. Saya sebagai mahasiswa Informatika memiliki pekerjaan sampingan sebagai freelance dan membutuhkan komputer untuk pekerjaan saya. Pada saat listrik mati, otomatis komputer juga mati dan pekerjaan saya jadi terhambat. Mungkin itu tidak terlalu terlihat merugikan karena cuma menyangkut satu orang saja. Bayangkan sebuah pabrik yang memproduksi barang untuk ekspor impor. Bila listrik mati, mesin-mesin tidak akan bisa berjalan dan proses produksi terhenti. Ini akan berakibat jatuh tempo produksi menjadi kacau dan berakibat terkena denda karena terlewat dari tanggal jatuh tempo. Untuk mengatasi hal tersebut di atas, pemerintah memberlakukan jam kerja pada hari sabtu dan minggu. Hal ini juga dirasa kurang baik, salah satunya pada penghitungan gaji karyawan. Sebuah perusahaan tentu sudah menentukan prosedur penggajian karyawan pada hari kerja (Senin - Sabtu atau Senin - Jumat). Bila diberlakukan jam kerja pada hari Sabtu dan Minggu, prosedur tersebut akan menjadi kacau dan perusahaan terpaksa menata ulang prosedur baru yang memakan waktu cukup banyak. Setiap bulan, warga selalu membayar iuran listrik ke PLN. Iuran listrik tersebut juga cukup banyak jumlahnya. Hilang ke manakah uang sebanyak itu sehingga PLN tidak mampu menyuplai kebutuhan listrik? Untuk apa warga harus membayar bila listrik dipadamkan? Semoga hal ini tidak berlangsung lama. KEBUTUHAN LISTRIK TIDAK MENCUKUPI HINGGA 2012

Jakarta (ANTARA News) - Kebutuhan listrik untuk masyarakat maupun industri diperkirakan belum akan tercukupi sampai pemerintah menjalankan program pengadaan pembangkit listrik 10 ribu megawatt tahap II yang akan dilakukan pada 2009/2010 dan selesai tiga tahun kemudian. Menperin Fahmi Idris di Jakarta, Rabu, mengatakan saat ini krisis pasokan listrik tidak bisa dihindarkan karena program pembangunan pembangkit listrik batu bara 10 ribu megawatt (MW) belum selesai. "Kalau program (pembangkit listrik) 10 ribu MW berjalan dengan baik, maka krisis itu akan terhindar.

Tapi kalau pengadaan 10 ribu MW itu gagal, ada kemungkinan itu (krisis listrik) terjadi," ujarnya. Namun, lanjut dia, kalaupun pembangunan pembangkit listrik 10 ribu MW selesai pada 2009, tetap saja kebutuhan listrik di Indonesia belum tercukupi. "Karena itu, ada program 10 ribu MW berikutnya. Jadi barangkali dimulai (pembangunan pembangkit listrik dengan total kapasitas 10 ribu MW) pada 2009 atau 2010, (yang selesai ) tiga tahun ke depan," katanya. Fahmi yakin dengan tambahan sebesar pembangkit listrik sebesar 20 ribu MW, maka Indonesia akan lebih leluasa dalam pemakaian listrik untuk 5-10 tahun ke depan. "Katakan lima tahun kita aman. Setelah itu harus lagi disiapkan program pengadaan listrik berikutnya, sebab sebagai negara yang makin lama makin berkembang kebutuhan listrik sangat besar," ujarnya. Fahmi juga mengatakan kebutuhan listrik merupakan ukuran bagi daya beli dan kemajuan ekonomi suatu negara. Bila permintaan listrik tumbuh, berarti ada masyarakat pengguna dan industrinya berkembang. "Itu (permintaan listrik) juga salah satu indikator kemajuan ekonomi," katanya Menanggapi krisis listrik saat ini sehingga terjadi pemadaman bergilir dan adanya wacana melakukan "class action" oleh sejumlah industri yang dirugikan seperti industri tekstil dan produk tekstil (TPT), Fahmi mengatakan PLN harus mengubah sikap dalam pengadaan bahan bakar untuk pembangkitnya dengan ekspansi pada energi alternatif, seperti cangkang sawit, batu bara, dan lain-lain. "PLN harus mengubah sikap tentang pengadaan sendiri. Itu juga harus diperlakukan lebih berkembang, lebih maju, lebih akomodatif," katanya.(*) COPYRIGHT 2008 http://www.antara.co.id/arc/2008/6/4/kebutuhan-listrik-indonesia-belum-tercukupi-sampai-2012/

PLTU akan kan cocok untuk Indonesia Pemanfaatan sumber daya alam yang ada di Indonesia memberikan peluang untuk kita mengambil sebesar besarnya sumber daya alam tersebut, didalam tahun ini pemerintah telah melakukan awal pembangunan berbagai pembangkit listrik yang berbahan bakar batu bara, proyek 10.000 MW akan memanfaatkan sebagian besar berbahan bakar Batu Bara. diseluruh indonesia akan dibangun PLTU, dan pembangunana di Jawa lebih besar lagi dikarenakan industri yang ada di Indonesia rata-rata berada di jawa. untuk memberikan daya kepada industri dan masyarakat maka di daerah Indramayu, pelabuanratu dan awar-awar dibangun PLTU yang akan dioperasikan oleh PJB. pemakaian batu bara untuk PLTU akan meningkatkan harga dari batu bara itu sendiri, sama halnya dengan sumber energi lainnya seperti solar dan gas yang terus meningkat akan menaikkan harga. dengan peningkatan permintaan batu bara maka para produsen batu bara indonesia akan diminta untuk meningkatkan produksinya sehingga kebutuhan dari PLTU di seluruh Indonesia akan terpenuhi, oleh kerena itu diperlukan regulasi dari pemerintah soal pengaturan industri tambang batu bara ini. jika dilepaskan oleh mekanisme pasar maka PLTU yang telah dibangun akan mengalami kesulitan dalam men-supply bahan bakar atau bisa dikatakan antara PLTU akan terjadi persaingan dalam memperebutkan batu bara. disisi lingkungan akan terjadi peningkatan sulfida SOx dan COx serta zat lain hasil pembakaran masuk ke lingkungan. issue yang sedang hangat adalah global warming, tak ayal bangsa kita akan menjadi salah satu bagian besar dari pemanasan dunia. ini akan terlihat dari kulitas udara, tanah dan air hasil dari pembuangan limbah PLTU. maka didalam melakukan perencanaan pembangunan PLTU harus dipikirkan bagaimana waste tersebut kembali di kelola agar limbah yang masuk kelingkungan terkurangi kandungan racunnya. sesungguhnya ada cara yang paling innovative didalam menghasilkan energi listrik selain menggunakan PLTU yakni PLTN atau pembangkit listrik tenaga nuklir, teknologi nuklir sudah sangat maju sedangkan taknologi PLTU sudah menuju kadar staknan atau perkembangannya tidak rapid. indonesia membutuhkan energi listrik yang besar dan nuklir akan memberikan solusinya http://maulcaem.wordpress.com/

NUKLIR PEMBANGKIT ALTERNATIF Selasa, 26 Juli 2005 07:31 Kapanlagi.com - Anggota Komisi XI DPR, Dradjat Wibowo mengatakan, Indonesia harus memikirkan sumber energi alternatif dalam pembangkitan tenaga listrik yang bersih lingkungan seperti geo thermal dan nuklir. "KITA PATUT MEMPERTIMBANGKAN KEMBALI MENGENAI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN)

DAN MEMBUKA DISKUSI TENTANG PENGGUNAAN NUKLIR DI INDONESIA," KATA SENIN (25/7).

DRADJAT DI JAKARTA,

MENURUT DRADJAT, WACANA PEMBANGUNAN PLTN JANGAN DITUTUP MELAINKAN DIGIATKAN DENGAN MELIBATKAN PARA PAKAR ENERGI SUPAYA AMAN DALAM PENGGUNAANNYA. "BUKAN BERARTI SAYA MENGATAKAN SETUJU KARENA SAYA BUKAN PAKAR ENERGI, TETAPI SAYA AKAN MENGIKUTI KATA PAKAR," UJAR DRADJAT YANG ANGGOTA FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL (PAN) ITU. DIA MENGINGATKAN, "KESALAHAN" DI SEKTOR MIGAS SUDAH TERLALU DALAM SEHINGGA PENGGUNAAN SUMBER ENERGI SELAIN FOSIL PATUT DIPERTIMBANGKAN. DIA JUGA MENGATAKAN, PERTIMBANGAN LAINNYA KARENA SULIT BAGI INDONESIA MELAKUKAN
PENGHEMATAN ENERGI SECARA MAKSIMAL MENGINGAT PERTUMBUHAN EKONOMI YANG SEMAKIN PESAT.

"PERTUMBUHAN EKONOMI MENINGKAT DIIRINGI PERTUMBUHAN ENERGI," UJAR DRADJAT. SEMENTARA ITU SEBELUMNYA BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL (BATAN) MENYEBUTKAN INDONESIA MEMBUTUHKAN PEMBANGUNAN EMPAT PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN), UNTUK MEMENUHI 1,9% PASOKAN LISTRIK ATAU SETARA DENGAN 4.000 MEGAWATT. RENCANANYA PLTN PERTAMA INI AKAN DIBANGUN TUJUH KILOMETER DARI TANJUNG JATI B DI SEMENANJUNG MURIA, JEPARA. UNTUK PERSIAPAN PEMBANGUNANNYA, SUDAH ADA TIGA TEMPAT REAKTOR NUKLIR, SEPERTI DI BANDUNG, YOGYAKARTA DAN SERPONG. (*/DAR)

http://www.kapanlagi.com/h/0000074323.html

Listrik Jatim Padam Bergilir - Av4t4r - 19 Feb 2008 20:23 SURABAYA(SINDO) Jatim terancam gelap gulita.PT PLN hampir pasti melakukan pemadaman bergilir akibat produksi listrik dari PLTU Paiton menyusut separuh. Corporate Speaker PT PLN (Persero) Distribusi Jatim Faisal Asyhari mengatakan, akibat turunnya produksi hingga 50%, produksi listrik ke sistem kelistrikan Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) menjadi hanya 15.200 megawatt (MW). Ini berarti terjadi defisit sekitar 700 MW karena perkiraan beban puncak sistem Jamali adalah 15.900 MW. Jadi, mau tidak mau, harus terjadi pemadaman bergilir sebagai solusi terburuknya, tegas Faisal kemarin. Dia menjelaskan, akibat defisit listrik di sistem kelistrikan Jamali, sudah pasti berdampak ke Jatim.Soal wilayah mana saja yang akan terkena pemadaman bergilir, dia tidak menjelaskan spesifik. Menurutnya, pembagian wilayah pemadaman akan diatur di Area Pengatur Distribusi (APD).Yang jelas,kami akan memadamkannya secara merata,diutamakan di daerah yang penggunaan listriknya besar,tandas dia. Menurut Manajer Operasional Sistem Penyaluran & Pusat Pengatur Beban (P3B) Region Jawa Bali Choirul Anam, meski skenario buruk kemungkinan besar tidak dapat dihindari, pihaknya berupaya agar pasokan listrik di Jatim tetap aman. Pemadaman bergilir, lanjut dia, akan diupayakan pada saat beban puncak, sekitar pukul 18.00 hingga 20.00 WIB. Dengan demikian, tidak akan mengganggu aktivitas pelanggan PLN. Anam mengatakan,mekanisme pemadaman juga tergantung besarnya kuota bagi setiap provinsi.Biasanya,Jatim kebagian 20% dari jumlah listrik yang defisit, ujarnya. Kendati begitu, dia mengaku pihaknya belum menerima jumlah pembagian tersebut. Anam menambahkan, total kapasitas semua pembangkit di Jatim sebesar 6.100- 6.500 MW. Sementara, beban puncak untuk Jatim mencapai 3.000 MW. Meskipun surplus listrik,berdasarkan aturan sistem interkoneksi Jatim harus membaginya ke provinsi lain, seperti Jateng, Jabar, DKI, dan Bali.Pada kondisi normal, Jatim biasanya mengirim listrik sebanyak 1.7002.000 MW,namun karena adanya penurunan produksi di PLTU Paiton, Jatim, hanya mengirim 1.500 MW. Batu Bara Menipis Anam memaparkan,penurunan produksi listrik PLTU Paiton terkait menipisnya bahan bakar batu bara.Cuaca buruk yang terjadi belakangan ini membuat kapal-kapal pengangkut batu bara tidak ada yang berani merapat. Alhasil, pasokan terhambat. Saat ini produksi listrik yang bisa dihasilkan Paiton hanya 2x225 MW, dari kondisi normal 2x400 MW. Hal ini berakibat pada beban yang hilang dari sistem interkoneksi Jawa Bali sebesar 250 MW, katanya. Sekadar diketahui, produksi listrik dari PLTU Paiton menyumbang sekitar 21% listrik ke sistem Jamali. Manajer Bahan Bakar PT Pembangkit Jawa Bali (PJB) Amien Rizaq membenarkan

berkurangnya pasokan batu bara ini. Stok batu bara yang ada saat ini memiliki masa ketahanan 2 hingga 3 hari ke depan. Untuk mengatasi kekurangan itu, maka pihaknya mengupayakan meminjam dari Jawa Power, selaku operator lain. Jumlahnya kurang lebih 10.000 ton. Ini dilakukan dengan sistem meminjam. Bisa saja pengembaliannya berupa uang, ataupun batu bara itu sendiri, tukasnya. Dia mengatakan, dalam sebulan, PLTU Paiton membutuhkan pasokan batu bara sebanyak 270.000 ton. Selain meminjam, alternatif lain untuk mengatasi kekurangan bahan bakar itu dengan mengoptimalkan penggunaan gas. Langkah ini sesuai dengan RKAP 2008, di mana PLN beserta anak perusahaannya wajib menekan penggunaan BBM,jelasnya. Mei mendatang,PLTU Paiton akan mendapat pasokan gas dari Kodeco sebanyak 20 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), ditambah dari MKS (Grup Kodeco) dengan jumlah yang sama. Selain itu, untuk menjaga sistem, pembangkit Muara Tawar juga mendapat tambahan 70 juta kaki kubik yang berasal dari Conocco Phillips dan PT Pertamina (persero) melalui pipa bawah tanah milik Perusahaan Gas Negara. Rizaq mengaku, pihaknya sudah berupaya agar tongkang pengangkut batu bara dapat merapat ke dermaga. Sayangnya, meski pernah diupayakan maksimal, tongkang tetap kesulitan. Untuk diketahui, unit pembangkit yang berada di PLTU Paiton,antara lain unit I dan II yang dikelola oleh PT PJB (Pembangkit Jawa Bali) dengan kapasitas produksi 2x400 MW.Kemudian unit V dan VI dikelola PT Jawa Power yang memiliki kapasitas 2x600 MW, dan, unit VII dan VIII dikelola PT Paiton Energi dengan kapasitas 2x600 MW. Total dari kapasitas unit pembangkit yang ada di kompleks Paiton mencapai 3.200 MW. Sedangkan kebutuhan listrik secara nasional sekitar 25.000 megawatt. Direncanakan, di Paiton akan didirikan lagi pembangkit baru berkapasitas 600 MW.Pembangkit ini masuk dalam program 10.000 MW pemerintah pusat. Berdasarkan data PJB, batu bara merupakan bahan bakar yang mengambil kontribusi terbesar untuk pembangkit listrik di sistem Jawa Bali. Jumlahnya mencapai 48%,disusulminyak25,7%, airsekitar 6,8%,bahan bakar gas 12,6%, dan panas bumi sekitar 6,1%. Penggunaan minyak memang kecil, akan tetapi mampu menyedot anggaran dalam jumlah besar,atau sekitar 60- 70%. Beda dengan batu bara yang hanya 20%,tandasnya. http://forumbebas.com/printthread.php?tid=20984

Jumlah penduduk indonesia : 238.452.952


http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_jumlah_penduduk

PLTN

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir merupakan sumber energi alternativ yang bisa menjawab persoalan kelangkaan energi dunia. Tercatat sekarang ini ada 439 reaktor yang dijalankan oleh 35 negara di bumi ini. nah, 439 reaktor ini udah bisa memenuhi 16% kebutuhan total listrik dunia loh!! selain itu, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir ini juga ramah lingkungann, karena Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir sangat sedikit menghasilkan gas rumah kaca. sekarang mari aku jeLaskan tentang prosesnya, Penambangan Uranium Uranium ini dijadikan sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Penambanganya dilakukan di pertambangan bawah tanah, tempatnya itu ada di Kanada, Amerika Serikat, Brazil, Kazakhstan, Australia, Namibia, dll. Penambanganya ini di awasi ketat oleh IAEA. dan semua hasil tambang yang di ambil dari perut bumi ini, dicatat dengan seksama untuk menghindari penyalahgunaan hasil tambang tersebut. Pengangkutan Uranium Uranium di angkut oleh truk atau kereta dengan kontainer khusus untuk meminimalisir kebocoran dan bahaya radiasi. Pengayaan Uranium Umumnya sebagian besar hasil tambang tersebut merupakan campuran. Sedangkan Uranium Isotop 235 (U-235), yang merupakan bahan bakar yang di inginkan, hanya ada 0,7% saja, selebihnya sebesar 99,3% adalah bahan bakar isotop 238 (U-238). Untuk itu dilakukan proses pengayaan (enrichment) untuk mendapatkan uranium isotop 235 (U-235). Pembangkitan Listrik Uranium yang telah melalui proses pengayaan selanjutnya di jadikan bahan bakar. disini dilakukan reaksi pemecahan terhadap atom uranium yang sudah diperkaya tadi. Reaksi pemecahan atom uranium tersebut akan menghasilkan panas yang sangat tinggi yang akan memanaskan air di sekitar rektor. uap yang dihasilkan dari proses pemanasan itu akan memutar turbin. Selanjutnya, proses berjalan layaknya semua pembangkit. yaitu turbin berputar dan prinsip elektromagnetik menghasilkan listrik yang besar. Pengolahan Limbah Reaksi pemecahan di reaktor akan menghasilkan limbah radioaktif yang sangat berbahaya. Limbah tersebuttak bisa begitu saja di buang ke alam. diperlukan pengolahan khusus agar limbah ini tidak mencemari alam. Biasanya limbah ini akan diolah kembali dengan cara menambahkan beberapa bahan kimia, yang dapat menghasilkan plutonium. plutonium sendiri juga dapat di gunakan sebagai bahan pembuat nuklir. maka dari itu, dalam proses pengolaha ini tetap dengan pengawasan yang super ketat. Pembuangan Limbah Limbah yang sudah di olah, tidak semuanya dapat menghasilkan produk sampingan berupa plutonium. jadi limbah yang memang sudah tidak dapat di pakai lagi akan di buang. tapi, tempat membuangnya biasanya dilakukan di tempat-tempat terpencil seperti Yucca Mountain di AS, atau mungkin di timbun di dasar laut. hal ini untuk menghindari radiasi dari limbah tersebut. karena umur bertahanya keradioaktifan limbah tersebut, dapat mencapai ratusan tahun. PRINSIP KERJA REAKTOR PLTN ada yang berjenis PWR (pressurized-light water reactor) atau reaktor air tekan. PWR menggunakan 2 sistem pendingin, primer dan sekunder, berbeda dengan jenis BWR (boiling water reactor) yang hanya menggunakan satu sistem pendingin.

Reaktor ini merupakan reaktor yang teraman saat ini. Reaktor tipe ini adalah reaktor generasi ketiga, sementar rektor generasi ke empat masih dalam tahap desain dan baru bisa dipakai kira-kira tahun 2035. Tipe ini aman karena serba otomatis dalam penggunaanya. Reaktor akan secara otomatis mati jika ada kesalahan yang tidak di inginkan. http://emilynevercomes.files.wordpress.com/2008/05/mileniu1.jpg

Kecelakaan PLTN di dunia 12 desember 1952 - kecelakaan pertama PLTN. - Kecelakaan pada reaktor NRX milik Atomic Energy of Canada Limited di chalk river, ontario, Kanada. - 30 kg uranium tumpah - tak ada korban jiwa 28 maret 1979 - raktor three mile island di middletown, Pensylvania, USA - Karena kesalahan pekerja - inti fisi meleleh, darah sekitar terkena radiasi di bawah standar keamanan - tidak ada korban jiwa, dan kerusakan yang berarti 26 april 1986 - kecelakaan PLTN terparah - PLTN Chernobyl di uni soviet (sekarang di daerah ukraina) - terjadi ledakan besar - disebabkan oleh adanya percobaan yang tidak mengikuti aturan - sekitar 50 pekerja tewas, dan menyebabkan radiasi yang berdampak kanker hingga menimbulkan kematian 30 september 1999 - terjadi di jepang - terjadi di fasilitas pemrosesan kembali - 2 orang meninggal, dan 119 orang terkena radiasi, namun masih di bawah standar november 2005 - reaktor milik exelon bocor - tidak ada yang terkontaminasi, tanah dan air stabil - pihak exelon di hukum oleh Nuclear Regulatory Comission untuk menyediakan air bersih, sebagai tindakan preventif. 16 juli 2007 - Nigata, Jepang - terjadi kebocoran pada level 1 dari lima lapisan keamanan yang ada. - menyebabkan gempa berkekuatan 6,8 SR PLTN di Indonesia : :1954: : dibentuk komita nasional untuk investigasi radioaktif yg dipicu berbagai percobaan senjata atom yg

dilakukan di perairan pasifik yang di khawatirkan memberikan dampak buruk bagi indonesia. : : 1956 : : Berbagai seminar di yogyakarta dan bandung, guna menekankan urgensi pemanfaatan nuklir : :1958: : tanggal 5 desember dibentuk badan Dewan Tenaga Atom (BATAN) dan Lembaga Tenaga atom (LTA) : :1965: : reaktor pertama (TRIGA Mark II) diresmikan di Bandung : :1966: : Pusat Riset Nuklir didirikan di Jakarta : :1968: : Pusat Penelitian Tenaga Atom Gama diresmikan di babasari, yogyakarta : :1972: : Komisi persiapan Pembangunan PLTN dibentuk oleh BATAN : :1978: : Semenanjung Muria diputuskan sebagai tempat yg paling ideal untuk mendirikan PLTN, namun tertunda karena masalah dana dan menunggu riset di serpong selesai. : :1979: : Reaktor Kartini diresmikan di Yogyakarta : :1987: : Reaktor berdaya 30 megawatt diresmikan dengan nama GA Siwabessy di Puspitek, Serpong : :1966: : Studi kelayakan rencana PLTN Lemah Abang, semenanjung Muria selesai : :2004: : reaktor nuklir di muria diaktifkan kembali, akan tetapi mendapatkan tantangan keras dari masyarakat sekitar, sampai saat ini. Jadi pada hakikatnya, PLTN merupakan pembangkit Listrik yang sangat sangat sangat menguntungkan. seLain bahan bakarnya yang tidak mudah habis, PLTN juga ramah lingkungan. karena PLTN hanya sedikit menghasilkan gas rumah kaca. Namun di sisi lain, apabila terjadi kesalahan sedikit pada reaktornya, akibatnya bisa berujung dengan bencana alam. http://emilynevercomes.wordpress.com/2008/05/05/pltn-pembangkit-listrik-tenaga-nuklir/

Prospek Penggunaan Teknologi Bersih untuk Pembangkit Listrik dengan Bahan Bakar Batubara di Indonesia
Agus Sugiyono
*)

Abstrak

Hubungan yang erat antara penggunaan teknologi dan kerusakan lingkungan telah menyadarkan masyarakat untuk melakukan modifikasi dan inovasi dari teknologi yang ada SAAT INI. PENGGUNAAN BAHAN BAKAR FOSIL, SEPERTI BATUBARA UNTUK PEMBANGKIT
LISTRIK AKAN

dapat meningkatkan emisi partikel, SO 2 , NO


X

, DAN CO 2 . ADANYA PERATURAN PEMERINTAH


TENTANG STANDAR EMISI UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK DI INDONESIA, MENDORONG UPAYA UNTUK SELALU

mengurangi emisi tersebut. Batubara diperkirakan paling dominan digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik di masa datang. Penggunaan batubara dalam jumlah yang besar akan meningkatkan emisi gas buang di udara. Salah satu cara untuk mengurangi emisi adalah dengan menggunakan teknologi bersih. Ada dua cara dalam menerapkan teknologi tersebut, yaitu pertama diterapkan pada tahapan setelah pembakaran dan kedua diterapkan sebelum pembakaran batubara. Pada tahap pertama dapat digunakan teknologi denitrifikasi, desulfurisasi dan penggunaan electrostatic precipitator. Pada tahap kedua menggunakan teknologi fluidized bed combustion, gasifikasi batubara, dan magneto hydrodynamic. Kata kunci: pembangkit listrik, batubara, teknologi bersih *) PENELITI PADA DIREKTORAT TEKNOLOGI KONVERSI DAN KONSERVASI ENERGI, BPPT 1. PENDAHULUAN KETERSEDIAAN SUMBER ENERGI DAN ADANYA
TEKNOLOGI YANG DAPAT MENGUBAH SUMBER ENERGI MENJADI BENTUK YANG BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT, MERUPAKAN SALAH SATU FAKTOR PEMACU PERTUMBUHAN PEREKONOMIAN DUNIA. HAL INI TELAH TERCATAT DALAM SEJARAH REVOLUSI INDUSTRI YANG DIMULAI DARI PENEMUAN MESIN UAP. MESIN UAP MERUPAKAN SALAH SATU BENTUK TEKNOLOGI KONVERSI ENERGI. SETELAH ITU PENEMUAN DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI BARU YANG DAPAT MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TERUS MENINGKAT

JUMLAHNYA. TETAPI PERTUMBUHAN PEREKONOMIAN INI JUGA MEMBAWA DAMPAK YANG NEGATIF BAGI SUMBER LINGKUNGAN HIDUP SEPERTI AIR, UDARA, DAN TANAH.

Dampak negatif tersebut dapat berupa pencemaran sebagai akibat dari emisi polutan dan produk sampingan yang berupa limbah dari aktivitas penggunaan teknologi tersebut. Semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia akan mengakibatkan semakin meningkatkan jumlah emisi dan limbah. Oleh karena itu masyarakat internasional menaruh perhatian terhadap jumlah emisi dan limbah yang dapat ditoleransi oleh sumber lingkungan hidup. Apabila toleransi tersebut tidak dilampaui, maka sumber lingkungan hidup masih akan mampu untuk memperbarui diri. Hubungan yang erat antara penggunaan teknologi dan kerusakan lingkungan telah menyadarkan masyarakat untuk melakukan
MODIFIKASI DAN INOVASI DARI TEKNOLOGI YANG ADA SAAT INI. DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PENGGUNAAN ENERGI, TERUS DILAKUKAN INOVASI PADA TEKNOLOGI YANG MEMPRODUKSI, MENGKONVERSI, MENYALURKAN, DAN MENGGUNAKAN ENERGI SEHINGGA DIPEROLEH TEKNOLOGI YANG LEBIH EFISIEN DAN RAMAH

lingkungan. Teknologi inovasi tersebut di ANTARANYA ADALAH : REAKTOR FUSI NUKLIR, GASIFIKASI BATUBARA, SUPERKONDUKTIVITAS, DAN LAMPU HEMAT ENERGI. TEKNOLOGI INI SEBAGIAN MASIH DALAM TAHAP
RISET DAN SEBAGIAN SUDAH SAMPAI PADA TAHAP KOMERSIAL. SALAH SATU TEKNOLOGI KONVERSI ENERGI ADALAH PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK. DI INDONESIA

dampak lingkungan dari teknologi pembangkit listrik mendapat perhatian yang serius. Hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-13/MENLH/3/1995
TENTANG STANDAR EMISI UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK

(Tabel 1). Tabel 1. Standar Emisi untuk Pembangkit Listrik

Parameter BATAS MAKSIMUM (MG/M 3 ) BERLAKU 1995 BERLAKU 2000 TOTAL PARTIKEL 300 150 SULFUR DIOXIDA (SO 2 ) 1500 750 NITROGEN OKSIDA (NO 2 ) 1700 850 OPASITAS 40% 20% PARAMETER DALAM STANDAR EMISI TERSEBUT, seperti : partikel, SO 2 , dan NO x adalah bahan Page 2 91 Jurnal Teknologi Lingkungan, Vol.1, No.1, Januari 2000 : 90-95, ISSN 1411-318X polutan yang berhubungan langsung dengan
KESEHATAN MANUSIA.

DISAMPING ITU, MASYARAKAT

INTERNASIONAL JUGA MENARUH PERHATIAN TERHADAP ISU LINGKUNGAN GLOBAL SEPERTI TERJADINYA PEMANASAN

global. Emisi CO 2

merupakan parameter terbesar yang bertanggung jawab terhadap terjadinya pemanasan global. Emisi CO 2 tidak berhubungan langsung dengan kesehatan. Meskipun Indonesia belum mempunyai kewajiban untuk mengurangi emisi ini, namun sebagai anggota masyarakat global, Indonesia turut serta berinisiatif melakukan studi dan membuat strategi untuk mengurangi emisi CO 2 . Penggunaan bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik akan dapat meningkatkan emisi dari partikel, SO 2 , NO x , dan CO 2 . Saat ini bahan bakar pembangkit listrik di Indonesia masih didominasi oleh penggunaan bahan bakar fosil, salah satunya adalah batubara. Penggunan batubara untuk bahan bakar pembangkit listrik diperkirakan akan terus meningkat. Meskipun kandungan sulfur batubara Indonesia relatif kecil tetapi penggunaan dalam jumlah besar akan dapat meningkatkan emisi SO

2 sehingga dapat berdampak negatif terhadap manusia dan lingkungan hidup. Pengaruh partikel emisi terhadap kesehatan dan lingkungan seperti pada Tabel 2. Oleh karena ini perlu adanya kajian tentang penggunaan teknologi bersih untuk pembangkit listrik batubara yang mempunyai prospek untuk diterapkan di Indonesia di masa mendatang. Tabel 2. Pengaruh Partikel Emisi Terhadap Kesehatan dan Lingkungan [3] Emisi PENGARUH TERHADAP KESEHATAN PENGARUH TERHADAP LINGKUNGAN SO 2 - PROBLEM SALURAN
PERNAPASAN

- RADANG PARU-PARU MENAHUN

- HUJAN ASAM YANG


DAPAT MERUSAKKAN LINGKUNGAN DANAU,

sungai dan hutan - mengganggu jarak pandang NO x

- sakit pada saluran pernapasan - hujan asam - ozon menipis yang mengakibatkan kerusakan hutan Partikel/ Debu - iritasi pada mata dan tenggorokan - bronkitis dan kerusakan saluran pernapasan - mengganggu jarakpandang CO 2 Tidak berpengaruh secara langsung - pemanasan global - merusak ekosistem 2. PEMBANGKIT LISTRIK DI INDONESIA 2.1. Cadangan dan Penggunaan Energi Indonesia mempunyai banyak sumber energi seperti : batubara, gas alam, minyak bumi, energi air, dan geothermal. Batubara merupakan sumber energi dengan cadangan terbesar, yaitu 36,34 x 10 9 ton. Sedangkan cadangan gas alam sebesar 137,79 TSCF (Tera Standard Cubic Feet)

dan minyak bumi sebesar 9,09 x 10 9 SBM (SETARA BAREL MINYAK). SECARA RINGKAS CADANGAN DAN
PRODUKSI UNTUK MASING-MASING SUMBER ENERGI DITUNJUKKAN PADA

GAMBAR 1. DI DALAM PRODUKSI,

TERMASUK PENGGUNAAN DALAM NEGERI DAN UNTUK DIEKSPOR.

DARI GAMBAR 1 TERLIHAT BAHWA BATUBARA


MEMPUNYAI CADANGAN YANG MELIMPAH TETAPI PENGGUNAANNYA MASIH SANGAT SEDIKIT. DARI RASIO CADANGAN DIBAGI PRODUKSI

BILA DILIHAT

(R/P RATIO)

maka batubara masih mampu untuk digunakan selama lebih dari 500 tahun. Sedangkan gas alam dan minyak bumi mempunyai R/P Ratio masingmasing sebesar 43 tahun dan 16 tahun. Setelah
MELIHAT CADANGAN BATUBARA INI, DIPERKIRAKAN BAHWA DI MASA DEPAN BATUBARA MEMPUNYAI PERAN YANG BESAR SEBAGAI PENYEDIA ENERGI NASIONAL.

PRODUKSI CADANGAN BATUBARA 137,2 GAS ALAM 23.9 MINYAK BUMI 9,1 ENERGI FOSIL

ENERGI TERBARUKAN TENAGA AIR GEOTHERMAL

BATUBARA GAS ALAM MINYAK BUMI 0.58 0.55 0.24 10 9 SBM TENAGA AIR THERMAL GEO10 9 SBM 10 9 SBM 10 9 SBM 10

9 SBM 10 9 SBM GAMBAR 1. CADANGAN DAN PRODUKSI ENERGI [2][6] PENGGUNAAN ENERGI PRIMER DALAM NEGERI
PADA TAHUN

1997 MENCAPAI 575 JUTA SBM (TIDAK

TERMASUK PENGGUNAAN BIOMASA DI RUMAH TANGGA).

PENGGUNAAN TERBESAR ADALAH MINYAK BUMI DENGAN


PANGSA

58 % DAN DIIKUTI OLEH GAS ALAM 26 %, 11 % DAN SISANYA SEKITAR 5 % DIPENUHI SEKITAR 10 % DARI

BATUBARA

OLEH TENAGA AIR DAN GEOTHERMAL.

PENGGUNAAN ENERGI PRIMER INI DIPERGUNAKAN UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK.

2.2. Pembangkit Listrik SECARA GARIS BESAR PERUSAHAAN PEMBANGKIT listrik di Indonesia dikelompokkan menjadi dua,
YAITU PEMBANGKIT UNTUK KEPENTINGAN UMUM DAN

pembangkit
UNTUK KEPENTINGAN SENDIRI.

PEMBANGKIT UNTUK KEPENTINGAN UMUM SEBAGIAN besar dipasok oleh PT. PLN (Persero) dan sebagian kecil dipasok oleh perusahaan listrik swasta, yang sering disebut IPP (Independent Power Producer), dan koperasi. Sedangkan
PEMBANGKIT UNTUK KEPENTINGAN SENDIRI SERING

disebut captive power, yang diusahakan oleh

swasta untuk kepentingan operasi perusahaannya. PAGE 3 92 JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN, VOL.1, NO.1, JANUARI 2000 : 90-95, ISSN 1411318X Pada tahun 1997 kapasitas terpasang dari PT PLN mencapai 18,9 GW dengan total produksi listrik mencapai 76,6 TWh. Dari total produksi
TERSEBUT HANYA

2,3 % DIBELI DARI PERUSAHAAN LISTRIK

swasta maupun koperasi. Pembangkit listrik dengan bahan bakar batubara mempunyai pangsa yang paling besar yaitu sebesar 42,0 % dari total pembangkitan. Pangsa yang kedua adalah pembangkit listrik yang menggunakan gas alam yaitu sebesar 38,8 %. Sisanya adalah pembangkit listrik tenaga diesel (8,7 %), pembangkit listrik tenaga air (6,9 %) dan Pembangki listrik tenaga panas bumi (3,6 %). PADA TAHUN YANG SAMA KAPASITAS TERPASANG
CAPTIVE POWER MENCAPAI

12,4 GW DENGAN TOTAL

produksi listrik mencapai 39,1 TWh. Captive power sebagian besar menggunakan bahan bakar
DIESEL ALAM

(42,0 %) DIIKUTI OLEH BATUBARA (29,2 %), GAS PT PLN DAN CAPTIVE POWER

(17,6 %), DAN TENAGA AIR (11,2 %). BILA

PEMBANGKIT DARI

dijumlahkan maka batubara merupakan bahan


BAKAR YANG PALING BANYAK DIGUNAKAN UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK.

Batubara diperkirakan masih menjadi


BAHAN BAKAR YANG PALING DOMINAN UNTUK

PEMBANGKIT LISTRIK DI MASA DATANG.

PROYEKSI

produksi listrik untuk setiap bahan bakar ditunjukkan pada Gambar 2. Energi listrik selama periode proyeksi diperkirakan tumbuh rata-rata
SEBESAR

4,9 % PER TAHUN. BATUBARA MEMPUNYAI 7,6

PERTUMBUHAN YANG PALING TINGGI YAITU SEBESAR

% PER TAHUN. 0 50 100 150 200 250 300 350 400 1997 2000 2005 2010 2015 2020 2025 TWH BIOMASA GEOTHERMAL TENAGA AIR GAS ALAM MINYAK BATUBARA

GAMBAR 2. PROYEKSI PRODUKSI LISTRIK di Indonesia [4] Pada saat ini pangsa penggunaan batubara hanya sekitar 28,7 % dan akan meningkat pesat menjadi 74,1 % pada tahun 2025. Disamping batubara, gas alam dan energi air cukup berperan dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 2,7 %. Pangsa gas alam menurun dari 21,3 % pada saat ini menjadi sekitar 11,7 % pada tahun 2025. Tenaga air pangsanya juga mengalami sedikit penurunan dari 15,3 % pada saat ini menjadi 13 % pada akhir periode proyeksi. Bahan bakar minyak diperkirakan tidak akan berperan untuk masa depan. Berdasarkan proyeksi produksi listrik dapat dihitung emisi gas buang seperti partikel, SO 2 , NO
X

, SERTA CO 2
DAN DIPERLIHATKAN PADA

GAMBAR 3. EMISI UNTUK MASING-MASING GAS


MENINGKAT SEKITAR ANTARA

6-7 % PER TAHUN.

PENGGUNAAN BATUBARA YANG MENINGKAT PESAT

MERUPAKAN PENYEBAB UTAMA DARI MAKIN MENINGKATNYA EMISI GAS BUANG.

0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1997 2000 2005 2010 2015 2020 2025 RIBU TON (SO2, NO2, PARTIKEL) 0 20 40 60 80 100 120 140

160 180 200 JUTA TON (CO2) SO2 NO2 CO2 PARTIKEL *) DIHITUNG DARI [4] DENGAN MEMPERHITUNGKAN KOEFISIEN EMISI GAMBAR 3. EMISI DARI PEMBANGKIT LISTRIK DI Indonesia 3. TEKNOLOGI BERSIH LINGKUNGAN BERDASARKAN PEMBAHASAN SEBELUMNYA
TERLIHAT BAHWA BATUBARA SANGAT POTENSIAL DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN BAKAR PEMBANGKIT LISTRIK DI MASA

depan. Akan tetapi banyak kendala yang dihadapi


UNTUK MEMANFAATKAN BATUBARA SECARA BESARBESARAN.

KENDALA TERSEBUT ANTARA LAIN :

- BATUBARA BERBENTUK PADAT SEHINGGA SULIT DALAM


PENANGANANNYA.

- BATUBARA BANYAK MENGANDUNG UNSUR LAIN,


MISALNYA SULFUR DAN NITROGEN YANG BISA MENIMBULKAN EMISI POLUTAN.

- BATUBARA MENGANDUNG BANYAK UNSUR KARBON


YANG SECARA ALAMIAH BILA DIBAKAR AKAN MENGHASILKAN GAS

CO

2 . UNTUK MENGATASI KENDALA TERSEBUT, TEKNOLOGI


BERSIH MERUPAKAN ALTERNATIF YANG DAPAT DITERAPKAN.

TEKNOLOGI INI DAPAT DIKELOMPOKKAN MENJADI DUA


MACAM KATEGORI. YANG PERTAMA DITERAPKAN PADA TAHAPAN SETELAH PEMBAKARAN DAN YANG KEDUA DITERAPKAN SEBELUM PEMBAKARAN.

3.1. PENERAPAN TEKNOLOGI BERSIH SETELAH PROSES PEMBAKARAN BATUBARA YANG DIBAKAR DI BOILER AKAN
MENGHASILKAN TENAGA LISTRIK SERTA MENGHASILKAN

emisi seperti partikel, SO 2 , NO x , dan CO 2 . Emisi tersebut dapat dikurangi dengan menggunakan teknologi seperti denitrifikasi, desulfurisasi, electrostratic precipitator (penyaring debu), dan
SEPARATOR

CO

2 . KECUALI TEKNOLOGI SEPARATOR CO 2


YANG MASIH DALAM TAHAP PENELITIAN, TEKNOLOGI LAINNYA MERUPAKAN TEKNOLOGI KONVENSIONAL YANG

PAGE 4 93 JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN, VOL.1, NO.1, JANUARI 2000 : 90-95, ISSN 1411318X saat ini sudah banyak diterapkan. Pada Gambar 4 diperlihatkan skema penggunaan dari setiap

teknologi. 3.1.1 Teknologi Denitrifikasi Teknologi ini digunakan untuk mengurangi emisi NO x . Penerapannya dapat berupa perbaikan sistem boiler atau dengan memasang peralatan denitrifikasi pada saluran gas buang. Boiler dapat dimodifikasi sehingga menjadi : 1. boiler dengan metoda pembakaran dua tingkat, 2. boiler menggunakan alat pembakaran dengan NOx rendah, 3. boiler dengan sirkulasi gas buang, dan 4. boiler yang menggunakan alat denitrifikasi di dalam ruang bakar. Denitrifikasi dilakukan dengan menginjeksi amonia ke dalam peralatan denitrifikasi. Gas NO x di dalam gas buang akan bereaksi dengan amonia (dengan bantuan katalis) sehingga emisi NO x akan berkurang. Peralatan denitrifikasi sering disebut selective catalytic reduction (SCR). Dengan
PERALATAN INI, X

NO

DALAM GAS BUANG DAPAT DIKURANGI SEBESAR

80-90 %.

BOILER BATUBARA
O

METODA PEMBAKARAN 2 TINGKAT PEMBAKARAN DENGAN NOX RENDAH SIRKULASI ULANG GAS BUANG DENITRIFIKASI DALAM RUANG BAKAR

O ALAT O O

TEKNOLOGI DENITRIFIKASI PERALATAN DENITRIFIKASI PENGUMPUL DEBU PERALATAN DESULFURISASI TEKNOLOGI TEKNOLOGI DESULFURISASI DEDUSTING TEKNOLOGI CO2 REMOVAL SEPARATOR CO2 G TURBIN LISTRIK CEROBONG ABU GYPSUM DIBUANG

BAHAN BAKU INDUSTRI


KE

LAUT, DARAT

GAS BUANG GAMBAR 4. TAHAPAN SETELAH PEMBAKARAN [1] 3.1.2. TEKNOLOGI DEDUSTING Teknologi dedusting digunakan untuk mengurangi partikel yang berupa debu. Peralatan
INI DIPASANG SETELAH PERALATAN DENITRIFIKASI. SATU JENIS PERALATAN INI ADALAH ELECTROSTATIC

SALAH

precipitator (ESP). ESP berupa elektroda yang


DITEMPATKAN PADA ALIRAN GAS BUANG. DIBERI TEGANGAN ANTARA

ELEKTRODA

40-60 KV DC SEHINGGA

DALAM ELEKTRODA AKAN TIMBUL MEDAN MAGNET.

PARTIKEL DEBU DALAM GAS BUANG YANG MELEWATI


MEDAN MAGNET AKAN TERIONISASI DAN AKAN BERINTERAKSI DENGAN ELEKTRODE YANG MENGAKIBATKAN DEBU AKAN TERKUMPUL PADA LEMPENG PENGUMPUL.

LEMPENG PENGUMPUL DIGETARKAN UNTUK MEMBUANG


DEBU YANG SUDAH TERKUMPUL.

EFISIENSI ESP UNTUK

MENGHILANGKAN DEBU SANGAT BESAR YAITU MENCAPAI

99,9 %. 3.1.3. TEKNOLOGI DESULFURISASI TEKNOLOGI


INI DIGUNAKAN UNTUK MENGURANGI EMISI

SO

2 . NAMA YANG UMUM UNTUK

PERALATAN DESULFURISASI ADALAH FLUE GAS DESULFURIZATION

(FGD). ADA DUA TIPE FGD YAITU

FGD basah dan FGD kering. Pada FGD basah, campuran air dan gamping disemprotkan dalam gas buang. Cara ini dapat mengurangi emisi SO 2 sampai 70-95 %. Hasil samping adalah gypsum dalam bentuk cairan. FGD kering menggunakan campuran air dan batu kapur atau gamping yang diinjeksikan ke dalam ruang bakar. Cara ini dapat mengurangi emisi SO 2 sampai 70-97 %. FGD kering menghasilkan produk sampingan gypsum yang bercampur dengan limbah lainnya. 3.1.4. Teknologi CO 2 Removal Beberapa negara maju seperti Jepang telah melakukan riset untuk memisahkan gas CO 2 dari gas buang dengan menggunakan cara seperti pada pengurangan emisi SO 2 dan NO

x . Pemisahan ini mengggunakan bahan kimia amino dan memerlukan energi sebesar seperempat dari energi listrik yang dihasilkan. Cara ini belum efisien dan
MASIH PERLU DISEMPURNAKAN.

GAS CO

2
YANG TELAH DIPISAHKAN DAPAT DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN BAKU UNTUK INDUSTRI ATAU DIBUANG KE DALAM LAUT ATAU KE BEKAS TEMPAT PENAMBANGAN.

3.2. PENERAPAN TEKNOLOGI BERSIH SEBELUM PROSES PEMBAKARAN PENGURANGAN EMISI PADA TAHAPAN SETELAH
PEMBAKARAN BATUBARA BANYAK MEMERLUKAN ENERGI LISTRIK SEHINGGA KURANG EFISIEN DALAM PENGGUNAAN

energi. Cara yang lebih efisien adalah bila pengurangan emisi dilakukan pada tahap sebelum pembakaran dan sering disebut teknologi batubara bersih. Teknologi batubara bersih yang dibahas dalam makalah ini diantaranya adalah teknologi fluidized bed combustion (FBC), gasifikasi
BATUBARA, MAGNETO HYDRODYNAMIC

(MHD) DAN

kombinasi IGCC dengan fuel cell. 3.2.1. Teknologi FBC ADA DUA MACAM TEKNOLOGI FBC YAITU
ATMOSPHERIC FUIDIZED BED COMBUSTION

(AFBC) DAN

pressurized fuidized bed combustion (PFBC). TEKNOLOGI PFBC LEBIH CEPAT BERKEMBANG DARI
PADA AFBC KARENA MEMPUNYAI EFISIENSI YANG

LEBIH TINGGI.

SKEMA DARI PFBC DITUNJUKKAN PADA

GAMBAR 5. PADA PROSES PFBC, BATUBARA SEBELUM


DIMASUKKAN KE DALAM BOILER DIHALUSKAN HINGGA UKURAN

6-20 MM. BATUBARA DIMASUKKAN DENGAN BERSAMAAN DENGAN

CARA DIINJEKSIKAN MELALUI LUBANG YANG BERADA SEDIKIT DI ATAS DISTRIBUTOR UDARA.

BATUBARA DIINJEKSIKAN JUGA BATU KAPUR YANG SUDAH DIHALUSKAN SEHINGGA TERJADI PROSES DESULFURISASI.

PEMBAKARAN DALAM BOILER BERLANGSUNG PADA SUHU


YANG RELATIF RENDAH YAITU SEKITAR O

800

C. SUHU YANG
RELATIF RENDAH INI AKAN MENGURANGI EMISI X YANG DIHASILKAN.

NO

DENGAN MENGGUNAAN TEKNOLOGI PFBC, PAGE 5

94 JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN, VOL.1, NO.1, JANUARI 2000 : 90-95, ISSN 1411318X emisi SO 2 dapat dikurangi 90-95 % sedangkan emisi NO x dapat dikurangi 70-80 %. Turbin Gas Listrik Cerobong

Turbin Uap Batubara + Batu Kapur HRSG Boiler Listrik Kondensor Gas Clean Up Debu Abu HRSG = Heat Recovery Steam Generator G G Gambar 5. Skema Teknologi PFBC Gas hasil pembakaran mempunyai tekanan yang cukup tinggi dan bersih sehingga bisa digunakan untuk menggerakkan turbin gas. Disamping itu gabungan uap yang dihasilkan dari pembakaran dengan uap hasil HRSG (Heat Recovery Steam Generator) dapat digunakan untuk menggerakkan turbin uap. Dengan demikian dapat diperoleh siklus ganda sehingga akan menaikkan total efisiensinya. Efisiensi dari sistem ini berkisar antara 40-44 %. 3.2.2. Teknologi Gasifikasi Batubara Teknologi ini merupakan inovasi terbaru dalam memperbaiki metoda pembakaran batubara.

Batubara diubah bentuk dari padat menjadi gas. Perubahan bentuk ini meningkatkan efisiensi, yaitu dengan memperlakuan gas hasil gasifikasi seperti penggunaan gas alam. Gas tersebut bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin gas. Gas buang dari turbin gas yang masih mempunyai suhu yang cukup tinggi dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin uap dengan menggunakan HRSG. Siklus kombinasi ini sering dinamakan IGCC (Integrated Gasification Combined Cycle) (Gambar 6). TURBIN GAS LISTRIK CEROBONG TURBIN UAP BATUBARA HRSG LISTRIK ABU YANG MELELEH HRSG = HEAT RECOVERY STEAM GENERATOR G G PROSES : - PULVERIZATION - SLURRY

TUNGKU GASIFIKASI 1400-1500 C


O

KONDENSOR PEMBERSIH GAS - DESULFURISASI - DEDUSTING PERALATAN DENITRIFIKASI OKSIGEN ATAU UDARA BELERANG GAMBAR 6. SKEMA TEKNOLOGI IGCC [1][5] GASIFIKASI DILAKUKAN PADA TAHAP AWAL
PROSES, YAITU SETELAH PROSES MENGHALUSAN ATAU PEMBENTUKAN SLURRY.

GASIFIKASI DILAKUKAN PADA

suhu yang cukup tinggi yaitu sekitar 1400-1500 o C. Abu sisa pembakaran akan meleleh pada suhu tersebut. Gas hasil gasifikasi sebelum masuk turbin gas dibersihkan dengan menggunakan ESP dan desulfurisasi. Proses desulfurisasi ini akan menghasilkan belerang murni yang mempunyai nilai jual tinggi. Denitrifikasi dilakukan setelah HRSG. Teknologi IGCC masih dalam tahap pengembangan dan diperkirakan dalam 2-5 tahun mendatang dapat beroperasi secara komersial. Efisiensi IGCC dapat mencapai 43-47 %. Emisi SO

2 dan NO x dapat dikurangi masing-masing sekitar 95-99 % dan 40-95 %. 3.2.3. Teknologi MHD MHD bekerja berdasarkan efek Faraday yaitu arus listrik DC akan timbul bila ada konduktor yang bergerak melewati medan magnet. UNTUK MENDAPATKAN EFEK INI, BATUBARA DIBAKAR DI
RUANG BAKAR HINGGA TEMPERATUR MENCAPAI O

2630

C. PADA TEMPERATUR INI FLUIDA KERJA POTASSIUM DAPAT terionisasi menjadi gas yang berperan sebagai konduktor. Gas akan melewati medan magnet dan menghasilkan tegangan listrik DC. Tegangan DC diubah
MENJADI TEGANGAN

AC
DENGAN MENGGUNAKAN INVERTER

(GAMBAR 8).

GAS BUANG SETELAH MELEWATI MHD MASIH


DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MENGHASILKAN UAP DENGAN BANTUAN

HRSG. UAP AKAN MENGGERAKAN TURBIN UAP DENGAN SIKLUS

DAN MENGHASILKAN ENERGI LISTRIK.

kombinasi ini, efisiensi total dapat mencapai 55-60 %. Listrik

Cerobong Turbin Uap Batubara HRSG Slag HRSG = Heat Recovery Steam Generator G Ruang Bakar Kondensor Peralatan Dedusting Oksigen Udara Pemanasan Awal Magnet Magnet I nverter Listrik G Regenerasi Fluida Kerja Belerang + Abu MHD potassium pottassium sulfate Gambar 8. Skema Teknologi MHD [5] Pengurangan emisi SO

2 dalam MHD terjadi secara alami. Potassium sebagai fluida kerja akan bereaksi dengan belerang dari batubara dan
MEMBENTUK POTASSIUM SULFATE YANG TERKONDENSASI.

Fluida ini kemudian dipisahkan dari belerang dan diinjeksikan ulang ke dalam ruang bakar. Pengurangan emisi NO x dilakukan dengan metode pembakaran dua tahap. Tahap pertama dilakukan pada ruang bakar dan tahap kedua dilakukan di HRSG. Emisi partikel dapat dikurangi dengan Page 6 95 Jurnal Teknologi Lingkungan, Vol.1, No.1, Januari 2000 : 90-95, ISSN 1411-318X menggunakan peralatan konvensional ESP. SEDANGKAN EMISI CO 2
AKAN BERKURANG KARENA MENINGKATNYA TOTAL EFISIENSI.

3.2.4. TEKNOLOGI KOMBINASI IGCC DAN FUEL CELL Pada IGCC dapat ditambah satu proses lagi yaitu menggunakan teknologi fuel cell. Konfigurasi ini menghasilkan tiga buah gabungan
PEMBANGKIT LISTRIK SEPERTI DIPERLIHATKAN PADA

Gambar 7. TURBIN GAS LISTRIK CEROBONG

TURBIN UAP HRSG LISTRIK ABU YANG MELELEH HRSG = HEAT RECOVERY STEAM GENERATOR G G TUNGKU GASIFIKASI 1400-1500 C
O

KONDENSOR PEMBERSIH GAS - DESULFURISASI - DEDUSTING PERALATAN DENITRIFIKASI OKSIGEN BELERANG UDARA ATAU BATUBARA FUEL CELL LISTRIK G GAMBAR 7. SKEMA KOMBINASI IGCC DAN FUEL CELL [1] SAAT INI FUEL CELL YANG SUDAH DIGUNAKAN untuk temperatur tinggi adalah tipe molten carbonate fuel cell (MCFC) dan solid electrolitic

fuel cell (SOFC). Tipe MCFC beroperasi pada suhu sekitar 650 o C sedangkan tipe SOFC dapat mencapai 1000 o C. Total efisiensi dari sistem ini diperkirakan 50-55 %. 4. KESIMPULAN Batubara diperkirakan paling dominan digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik di Indonesia di masa datang. Penggunaan batubara dalam jumlah yang besar akan meningkatkan emisi seperti emisi partikel, SO 2 , NO x , dan CO 2 . Salah satu cara untuk mengurangi emisi adalah dengan menggunakan teknologi bersih. Di Indonesia teknologi denitrifikasi, desulfurisasi dan electrostatic precipitator yang sudah komersial dapat diterapkan untuk jangka pendek dan menengah. Sedangkan teknologi yang masih dalam pengembangan seperti teknologi fluidized bed combustion, gasifikasi batubara, dan MHD masih perlu dikaji penerapannya untuk jangka panjang.

DAFTAR PUSTAKA 1. Nishikawa, N., Contribution to the Global environment Measure Through Integrated GASIFICATION COMBINED CYCLE DEVELOPMENT, Proceedings on Clean Coal Day 1995 International Symposium, NEDO, Tokyo, 1995. 2. Pape, H., Captive Power in Indonesia, Development in the Period 1980 - 1997, The World Bank. 3. Princiotta, F.T., Pollution Control for Utility Power Generation, 1990 to 2020, Proceeding of Energy and the Environment un the 21 st , p. 624-649, The MIT Press, 1991. 4. PT PLN Persero, PLN Statistik 1997. 5. Siegel, J.S. and Temchin J.R., Role of Clean Coal Technology in Electric Power in the 21 st Century, Proceeding of Energy and the ENVIRONMENT UN THE 21
ST

, P. 623-630, THE MIT PRESS, 1991. 6. THE STATE MINISTRY FOR ENVIRONMENT THE REPUBLIC OF INDONESIA, GREENHOUSE GASES Inventory, Mitigation Options and National Strategy on Energy Sector, Final Report, May 1999.

RIWAYAT HIDUP AGUS SUGIYONO LAHIR DI KLATEN TANGGAL 29 JULI 1963. MENAMATKAN
PENDIDIKAN

S1 DI INSTITUT

TEKNOLOGI BANDUNG DAN S2 DI SCIENCE UNIVERSITY


OF TOKYO, JEPANG.

SAAT INI

BEKERJA SEBAGAI PENELITI DI

DIREKTORAT TEKNOLOGI ENERGI, BPP TEKNOLOGI. PENULIS


JUGA MENJADI ANGGOTA

KOMITE NASIONAL INDONESIA - WORLD

Energy Council.
HTTP://72.14.235.132/SEARCH? Q=CACHE:CG1YJAHWPN0J:WWW.GEOCITIES.COM/ATHENS/ACADEMY/1943/PAPER/P0001.PDF+STANDA R+PEMBANGKIT+LISTRIK+RAMAH+LINGKUNGAN&HL=ID&CT=CLNK&CD=6&GL=ID

HARUSKAH INDONESIA MENGGUNAKAN TENAGA NUKLIR? 03-SEP-2003; 16:34 - IP Jakarta, Suara Pembaruan - Niat pemerintah untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tampaknya semakin kencang. Seperti dikatakan Menteri Riset dan Teknologi, Hatta Rajasa, beberapa waktu lalu, pemerintah menargetkan PLTN mulai menghasilkan listrik tahun 2017. Tenaga Nuklir - Pembangkit Tenaga Listrik modern kini cenderung menggunakan tenaga nuklir karena bertenaga besar dengan bahan bakar sedikit. Hatta beralasan kebutuhan energi listrik masyarakat dari hari ke hari semakin banyak. Dengan pertumbuhan ekonomi hanya lima persen, kebutuhan energi listrik tumbuh lebih dari 10 persen atau tahun 2025 nanti menjadi empat kali lipat dari sekarang, yaitu 500 joule per kapita.

Alasan lain menurut Hudi Hastowo, Deputi Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) adalah cadangan minyak bumi dan gas Indonesia yang semakin menipis. Tahun 2015 Indonesia diperkirakan akan menjadi net importer minyak bumi, sedangkan gas bumi diekspor secara besar-besaran, padahal cadangannya hanya dua persen dari gas dunia. "Dengan demikian, generasi mendatang tidak dapat apa-apa. Karena itu, harus dicari alternatif sumber energi lain, salah satunya listrik dari PLTN," ujar Hudi. RISIKO BESAR MESKIPUN SETUJU DENGAN SUMBER ENERGI ALTERNATIF, BANYAK PIHAK YANG MENOLAK PLTN DIJADIKAN ALTERNATIF. "SELAIN INVESTASINYA BESAR, RISIKONYA TERHADAP MANUSIA DAN LINGKUNGAN JUGA BESAR," KATA NASRULLAH SALIM DARI YAYASAN PELANGI. MENURUT ERIEL SAPAAN AKRAB LULUSAN PERGURUAN TINGGI DI SWEDIA ITU, KEMAMPUAN BATAN DALAM HAL KESELAMATAN DAN KEAMANAN PLTN, PENANGANAN LIMBAH NUKLIR DAN RADIASI TERHADAP LINGKUNGAN MASIH SANGAT DIRAGUKAN. KARENA ITU, KENAPA TIDAK DIKEMBANGKAN ENERGI ALTERNATIF YANG SUDAH PASTI AMAN DAN BERSIFAT DAPAT PULIH (RENEWABLE). Hudi setuju bahwa investasi PLTN sangat besar, namun menurutnya secara ekonomis sangat kompetitif. Biaya operasionalnya sangat murah, yaitu hanya dengan biaya produksi dua sen dolar AS per kilowatt dan desalinasi air senilai 0,5 dolar per m3 yang digunakan untuk kebutuhan jaringan itu sendiri. Apalagi, pembangunannya tidak perlu dana pemerintah. Pembangunan PLTN di Indonesia akan diserahkan kepada swasta termasuk BUMN yang selanjutnya akan menjual listrik yang dihasilkan ke PLN. Sedangkan masalah keamanan, pascaledakan Chernobyl, PLTN yang dikembangkan saat ini sudah jauh lebih maju. Kini PLTN menggunakan teknologi generasi keempat dengan potensi kerusakan inti reaktor (core damaged) lebih kecil, yaitu 10-6 tahun reaktor. Jika, terjadi kecelakaan paling parah sekalipun, hanya perlu evakuasi penduduk pada radius 800 meter dari lokasi. "Selain itu, teknologi dewasa ini sudah mapan dan penggunaan uraniumnya sudah optimal, sehingga limbahnya sangat minimum," ujar Hudi. BELUM TERUJI ERIEL MASIH MERAGUKAN KEMAMPUAN TEKNOLOGI YANG DIYAKINI OLEH HUDI TERSEBUT. HINGGA KINI KEANDALAN TEKNOLOGI TERSEBUT MASIH SEBATAS TEORI DAN SEDANG DALAM UJI COBA. SEHINGGA, TIDAK ADA JAMINAN BAHWA PLTN YANG DIBANGUN NANTI AKAN AMAN, BAIK TERHADAP MANUSIA MAUPUN LINGKUNGAN. "APA KITA HARUS MENUNGGU LIMA TAHUN KEMUDIAN, YAITU PADA GENERASI SETELAH KITA, UNTUK MEMBUKTIKAN AMAN TIDAKNYA TEKNOLOGI TERSEBUT," TANYA ERIEL. HUDI TETAP YAKIN BAHWA SECARA TEKNOLOGI PLTN SUDAH BISA DIPANTAU TINGKAT KEAMANANNYA. POSISI BATAN SEBAGAI ANGGOTA INTERNATIONAL ATOMIC ENERGY AGENCY (IAEA) SETIAP AKTIVITASNYA TERUS DIPANTAU DENGAN STANDAR INTERNASIONAL. INDONESIA JUGA SUDAH MERATIFIKASI PERJANJIAN NON-PROLIFERASI NUKLIR DAN KESELAMATAN REAKTOR. SEHINGGA, TENTU PEMERINTAH TIDAK AKAN BERTINDAK GEGABAH DALAM MENGEMBANGKAN PLTN DI INDONESIA. HUDI JUGA MENOLAK KEKHAWATIRAN BANYAK PIHAK MENGENAI KEMUNGKINAN PENGGUNAAN ENERGI ITU PENGEMBANGAN SENJATA NUKLIR. LAGI PULA, TEKNOLOGI TERBARU TERSEBUT SUDAH BERSIFAT FREE OF PROLIFERATION. JADI, TIDAK MUNGKIN DIKEMBANGKAN MENJADI SENJATA NUKLIR. BAHKAN, PEMERINTAH AMERIKA SERIKAT PUN SUDAH MEMBERI LAMPU HIJAU UNTUK KERJA SAMA DENGAN PLTN.

"Jika Kongres setuju, September 2003 kerja sama itu akan mulai dijajaki. Negara maju lain seperti Jepang juga sudah melakukan penjajakan untuk bekerja sama dalam membangun PLTN di Indonesia. Menurut Hudi, penggunaan PLTN untuk memasok energi listrik juga banyak dilakukan oleh negaranegara maju seperti AS, Jepang, Prancis, dan Inggris. Kini AS memiliki sekitar 104 unit PLTN, Jepang (53 unit), Prancis (59 unit), dan Inggris (35 unit). Di seluruh dunia saat ini terdapat sekitar 438 unit PLTN dengan total energi 353.298 Mwe. "Secara keseluruhan, energi nuklir telah memasok 15 persen dari total energi dunia," kata Hudi. Itu menunjukkan teknologi nuklir telah teruji dapat digunakan sebagai sumber penghasil tenaga listrik yang handal dan aman. Yang menjadi persoalan, apakah betul PLTN akan aman seperti yang dituturkan Hudi. Eriel melihatnya bukan pada persoalan keandalan teknologi semata. Budaya dan mentalitas sumber daya manusia Indonesia masih diragukan untuk berdisiplin tinggi mengawasi proses yang terjadi di PLTN. Apalagi dengan tingkat pendapatan kecil, para pegawai kita sangat sulit untuk taat menjalankan seluruh prosedur sesuai standar internasional. Sebagai contoh, di reaktor penelitian di Bandung, dan Yogya milik Batan menurut pengamatan Eriel, standar prosedur belum diterapkan dengan benar. Misalnya, ketiadaan dossimeter, yaitu alat untuk mengukur tingkat radiasi setiap pegawai yang bertugas di sana. "Untuk skala penelitian saja sudah tidak disiplin, apalagi skala PLTN nantinya," gundah Eriel. Mengenai kesediaan negara-negara maju untuk bekerja sama membangun PLTN, Eriel malah curiga ada kepentingan lain dari mereka. Saat ini saja ada tekanan pada pemerintah di negara-negara maju untuk menyetop penggunaan PLTN. Sehingga, terjadi penurunan penggunaan listrik PLTN sebesar empat persen di negara-negara tersebut, padahal tingkat keamanan dan budaya pengawasan di sana sangat tinggi. Sebagai contoh Jerman dan Swedia yang sudah mencanangkan penghapusan PLTN secara bertahap. "Jangan-jangan mereka akan menjadikan Indonesia sebagai "sampah teknologi" yang di negara mereka sudah tidak digunakan lagi," kata Eriel. Tentu mereka memiliki kepentingan, agar biaya riset yang sangat besar yang mereka keluarkan harus bisa kembali modal. Sedangkan pejabat kita setuju karena orientasi proyek dengan komisi yang menggiurkan. "Jadi, hal itu tidak didasarkan pada kebutuhan energi listrik oleh rakyat, namun kalau pun diproduksi energi lebih untuk kepentingan industri" ujar pria berdarah Madura itu. Karena itu, Eriel menyarankan pemerintah untuk mengembangkan energi alternatif lain yang sudah pasti aman bagi lingkungan. Alternatif Lain Energi solar, angin, biomassa, ombak dan masih banyak sumber energi lain, yang sangat layak untuk dikembangkan. Tinggal pemerintah punya keinginan tidak untuk menuju ke arah sana. Sedangkan untuk kebutuhan listrik masyarakat di pelosok perdesaan sebetulnya tidak membutuhkan pembangkit energi berkapasitas besar. Dengan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) berkekuatan 20 Mwatt misalnya, masyarakat desadesa di Jepara atau pun Madura sudah cukup. Agar ramah lingkungan, bahan bakarnya digunakan biodiesel yang bisa didapat dari kelapa sawit, biji kapuk atau biji jarak. Karena itu, sebaiknya pemerintah mengurungkan niat untuk membangun atau mengembangkan PLTN. Selain masih berisiko, juga cukup banyak energi alternatif lain yang bisa dikembangkan di Indonesia.

Apalagi, kita memiliki keunggulan sumber daya alam dan sumber daya hayati yang begitu besar. Bagi pakar-pakar nuklir, masih banyak output teknologi nuklir yang bisa dikembangkan selain PLTN. Untuk dunia kesehatan, pertanian, atau yang lain juga bisa dikembangkan dengan sentuhan teknologi nuklir. http://www.pelangi.or.id/media.php?mid=104

Pengembangan Energi Terbarukan Sebagai Energi Aditif di Indonesia


Pendahuluan
MERUPAKAN SUATU KENYATAAN BAHWA KEBUTUHAN AKAN ENERGI, KHUSUSNYA ENERGI LISTRIK DI INDONESIA, MAKIN BERKEMBANG MENJADI BAGIAN TAK TERPISAHKAN DARI KEBUTUHAN HIDUP MASYARAKAT SEHARI-HARI SEIRING DENGAN PESATNYA PENINGKATAN PEMBANGUNAN DI BIDANG TEKNOLOGI, INDUSTRI DAN INFORMASI. NAMUN PELAKSANAAN PENYEDIAAN ENERGI LISTRIK YANG DILAKUKAN OLEH PT.PLN (PERSERO), SELAKU LEMBAGA RESMI YANG DITUNJUK OLEH PEMERINTAH UNTUK MENGELOLA MASALAH KELISTRIKAN DI INDONESIA, SAMPAI SAAT INI MASIH BELUM DAPAT MEMENUHI KEBUTUHAN MASYARAKAT AKAN ENERGI LISTRIK SECARA KESELURUHAN. KONDISI GEOGRAFIS NEGARA INDONESIA YANG TERDIRI ATAS RIBUAN PULAU DAN KEPULAUAN, TERSEBAR DAN TIDAK MERATANYA PUSAT-PUSAT BEBAN LISTRIK, RENDAHNYA TINGKAT PERMINTAAN LISTRIK DI BEBERAPA WILAYAH, TINGGINYA BIAYA MARGINAL PEMBANGUNAN SISTEM SUPLAI ENERGI LISTRIK (RAMANI,K.V,1992), SERTA TERBATASNYA KEMAMPUAN FINANSIAL, MERUPAKAN FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT PENYEDIAAN ENERGI LISTRIK DALAM SKALA NASIONAL. SELAIN ITU, MAKIN BERKURANGNYA KETERSEDIAAN SUMBER DAYA ENERGI FOSIL, KHUSUSNYA MINYAK BUMI, YANG SAMPAI SAAT INI MASIH MERUPAKAN TULANG PUNGGUNG DAN KOMPONEN UTAMA PENGHASIL ENERGI LISTRIK DI INDONESIA, SERTA MAKIN MENINGKATNYA KESADARAN AKAN USAHA UNTUK MELESTARIKAN LINGKUNGAN, MENYEBABKAN KITA HARUS BERPIKIR UNTUK MENCARI ALTEMATIF PENYEDIAAN ENERGI LISTRIK YANG MEMILIKI KARAKTER; 1. 2. 3. 4.
DAPAT MENGURANGI KETERGANTUNGAN TERHADAP PEMAKAIAN ENERGI FOSIL, KHUSUSNYA MINYAK BUMI DAPAT MENYEDIAKAN ENERGILISTRIK DALAM SKALA LOKAL REGIONAL MAMPU MEMANFAATKAN POTENSI SUMBER DAYA ENERGI SETEMPAT, SERTA CINTA LINGKUNGAN, DALAM ARTIAN PROSES PRODUKSI DAN PEMBUANGAN HASIL PRODUKSINYA TIDAK MERUSAK LINGKUNGAN HIDUP DISEKITARNYA.

SISTEM PENYEDIAAN ENERGI LISTRIK YANG DAPAT MEMENUHI KRITERIA DI ATAS ADALAH SISTEM KONVERSI ENERGI YANG MEMANFAATKAN SUMBER DAYA ENERGI TERBARUKAN, SEPERTI: MATAHARI, ANGIN, AIR, BIOMAS DAN LAIN SEBAGAINYA (DJOJONEGORO,1992). TAK BISA DIPUNGKIRI BAHWA KECENDERUNGAN UNTUK MENGEMBANGKAN DAN MEMANFAATKAN POTENSI SUMBER-SUMBER DAYA ENERGI TERBARUKAN DEWASA INI TELAH MENINGKAT DENGAN PESAT, KHUSUSNYA DI NEGARA-NEGARA SUDAH BERKEMBANG, YANG TELAH MENGUASAI REKAYASA DAN TEKNOLOGINYA, SERTA MEMPUNYAI DUKUNGAN FINANSIAL YANG KUAT. OLEH SEBAB ITU, MERUPAKAN HAL YANG MENARIK UNTUK DISIMAK LEBIH LANJUT, BAGAIMANA PELUANG DAN KENDALA PEMANFAATAN SUMBER-SUMBER DAYA

ENERGI TERBARUKAN INI DI NEGARA-NEGARA SEDANG BERKEMBANG, KHUSUSNYA DI INDONESIA.

Ramalan Kebutuhan dan Ketersediaan Energi Listrik di Indonesia


DENGAN MEMPERHATIKAN PERTUMBUHAN EKONOMI DALAM SEPULUH TAHUN TERAKHIR, SKENARIO "EXPORT-IMPORT" DAN PERTUMBUHAN PENDUDUK, PADA TAHUN 1990 DIRAMALKAN BAHWA TINGKAT PERTUMBUHAN KEBUTUHAN ENERGI LISTRIK NASIONAL DAPAT MENCAPAI 8,2% RATA-RATA PER TAHUN, SEPERTI DITUNJUKKAN DALAM TABEL-1 BERIKUT. TABEL-1 RAMALAN KEBUTUHAN ENERGI LISTRIK 1990 GWH INDUSTRI 35.305 68,0 RUMAH TANGGA 9.865 19.00 FASILITAS UMUM 3.634 7,0 KOMERSIAL 3.115 6.0 TOTAL 51.919 100.0 SUMBER: DJOJONEGORO, 1992 SEKTOR 2000 % 84.822 22.2392 6.731 8.811 122.603 2010 GWH 69,0 18.0 6.0 7,0 100.0 % 183.389 40.789 12.703 21.869 258.747 GWH 70,0 16.0 5.5 8.5 100.0

KEBUTUHAN ENERGI LISTRIK TERSEBUT DIHARAPKAN DAPAT DIPENUHI OLEH PUSAT-PUSAT PEMBANGKIT LISTRIK, BAIK YANG DIBANGUN OLEH PEMERINTAH MAUPUN NON-PEMERINTAH. SEBAGAI ILUSTRASI, PADA TAHUN 1990 KEBUTUHAN ENERGI LISTRIK SEBESAR 51.919 GWH TELAH DIPENUHI
OLEH SELURUH PUSAT PEMBANGKIT LISTRIK YANG ADA DENGAN KAPASITAS DAYA TERPASANG SEKITAR 22.000 MW. SEHINGGA PADA TAHUN 2010 DARI KEBUTUHAN ENERGI LISTRIK, YANG DIRAMALKAN MENCAPAI 258.747 GWH PER TAHUN, DIHARAPKAN DAPAT DIPENUHI OLEH SISTEM SUPLAI ENERGI LISTRIK DENGAN KAPASITAS TOTAL SEBESAR 68.760 MW, YANG KOMPOSISI SUMBER DAYA ENERGINYA SEPERTI DIPERLIHATKAN DALAM TABEL-2

TABEL-2 PRAKIRAAN PENYEDIAN ENERGI LISTRI DI INDONESIA SUMBER ENERGI 1990 MW 10.750 7.080 1.950 9.410 500 7.720 290 160 37.860 2000 % MW 28.4 18.7 5.2 24.8 1.3 20.4 0.8 0.4 100.0 2010 % 28.050 14.760 320 4.060 430 10.310 460 370 68.760 MW 35.3 21.5 0.5 5.9 0.6 15.0 0.7 0.5 100.0

BATUBARA 1.930 8.8 GAS 3.530 16.0 MINYAK 2.210 10.0 SOLAR 11.020 50.1 PANAS BUMI 170 0.8 AIR 2.850 13.0 BIOMASS 270 1.2 LAIN-LAIN 20 0.1 (SURYA ANGIN) TOTAL 22.000 100.0 SUMBER: DJOJONEGORO, 1992 & WIBAWA, 1996.

DARI TABEL-2 INI TAMPAK JELAS TERLIHAT, BAHWA PENGGUNAAN MINYAK BUMI, TERMASUK SOLAR/MINYAK DISEL, SEBAGAI BAHAN BAKAR PRODUKSI ENERGI LISTRIK AKAN SANGAT BERKURANG, SEBALIKNYA PEMANFAATAN SUMBER-SUMBER DAYA ENERGI BARU DAN TERBARUKAN, SEPERTI AIR,

MATAHARI, ANGIN DAN BIOMAS, MENGALAMI PENINGKATAN YANG CUKUP TAJAM. KECENDERUNGAN INI TENTU AKAN TERUS BERTAHAN SEIRING DENGAN MAKIN BERKURANGNYA CADANGAN MINYAK BUMI SERTA BATUBARA, YANG PADA SAAT INI MASIH MERUPAKAN PRIMADONA BANAN BAKAR BAGI PEMBANGKIT LISTRIK DI INDONESIA.

AKAN TETAPI SEJAK TAHUN 1992 KEBUTUHAN ENERGI LISTRIK NASIONAL MENINGKAT MENCAPAI 18% RATA-RATA PER TAHUN, ATAU SEKITAR DUA KALI LEBIH TINGGI DARI SKENARIO YANG DIBUAT PADA TAHUN 1990. HAL INI DISEBABKAN OLEH TINGGINYA PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL KAITANNYA DENGAN PERTUMBUHAN INDUSTRI DAN JASA KONSTRUKSI. JIKA KEADAAN INI TERUS BERTAHAN,
BERARTI DIPERLUKAN PULA PENGADAAN SISTEM PEMBANGKIT ENERGI LISTRIK TAMBAHAN GUNA MENGANTISIPASI PENINGKATAN KEBUTUHAN TERSEBUT. DILEMA YANG TIMBUL ADALAH BAHWA DI SATU SISI, PUSAT-PUSAT PEMBANGKIT ENERGI LISTRIK YANG BESAR TENTU AKAN DIORIENTASIKAN UNTUK MENCUKUPI KEBUTUHAN BEBAN BESAR, SEPERTI INDUSTRI DAN KOMERSIAL. DI SISI LAIN PERLU JUGA DIPIKIRKAN AGAR BEBAN KECIL, SEPERTI PERUMAHAN DAN WILAYAH TERPENCIL, DAPAT DIPENUHI KEBUTUHANNYA AKAN ENERGI LISTRIK. SALAH SATU ALTERNATIF YANG DAPAT DIUPAYAKAN ADALAH DENGAN MEMBANGUN PUSAT-PUSAT PEMBANGKIT KECIL SAMPAI SEDANG YANG MEMANFAATKAN POTENSI SUMBER DAYA ENERGI SETEMPAT, KHUSUSNYA SUMBER DAYA ENERGI BARU DAN TERBARUKAN.

Peluang Pengembangan Energi Terbarukan di Indonesia

A.MENIPISNYA CADANGAN MINYAK BUMI SETELAH TERJADINYA KRISIS ENERGI YANG MENCAPAI PUNCAK PADA DEKADE 1970, DUNIA MENGHADAPI KENYATAAN BAHWA PERSEDIAAN MINYAK BUMI, SEBAGAI SALAH SATU TULANG PUNGGUNG PRODUKSI ENERGI TERUS BERKURANG

BAHKAN BEBERAPA AHLI BERPENDAPAT, BAHWA DENGAN POLA KONSUMSI SEPERTI SEKARANG, MAKA DALAM WAKTU 50 TAHUN CADANGAN MINYAK BUMI DUNIA AKAN HABIS. KEADAAN INI BISA DIAMATI DENGAN KECENDERUNGAN MENINGKATNYA HARGA MINYAK DI PASAR DALAM NEGERI, SERTA KETIDAK STABILAN HARGA TERSEBUT DI PASAR INTERNASIONAL, KARENA BEBERAPA NEGARA MAJU SEBAGAI
KONSUMEN MINYAK TERBESAR MULAI MELEPASKAN DIRI DARI KETERGANTUNGANNYA KEPADA MINYAK BUMI SEKALIGUS BERUSAHA MENGENDALIKAN HARGA, AGAR TIDAK MENINGKAT. SEBAGAI CONTOH; PADA TAHUN 1970 NEGARA JERMAN MENGKONSUMSI MINYAK BUMI SEKITAR 75% DARI TOTAL KONSUMSI ENERGINYA, NAMUN PADA TAHUN 1990 KONSUMSI TERSEBUT MENURUN HINGGA TINGGAL 50% (PINSKE, 1993).

JIKA DIKAITKAN DENGAN PENGGUNAAN MINYAK BUMI SEBAGAI BAHAN BAKAR SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK, MAKA KECENDERUNGAN TERSEBUT BERARTI AKAN MENINGKATKAN PULA BIAYA OPERASIONAL
PEMBANGKITAN YANG BERPENGARUH LANGSUNG TERHADAP BIAYA SATUAN PRODUKSI ENERGI LISTRIKNYA. DI LAIN PIHAK BIAYA SATUAN PRODUKSI ENERGI LISTRIK DARI SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK YANG MEMANFAATKAN SUMBER DAYA ENERGI TERBARUKAN MENUNJUKKAN TENDENSI MENURUN, SEHINGGA BANYAK ILMUWAN PERCAYA, BAHWA PADA SUATU SAAT BIAYA SATUAN PRODUKSI TERSEBUT AKAN LEBIH RENDAH DARI BIAYA SATUAN PRODUKSI DENGAN MINYAK BUMI ATAU ENERGI FOSIL LAINNYA.

B.MENINGKATNYA KESADARAN MASYARAKAT AKAN PELESTARIAN LINGKUNGAN DALAM SEPULUH TAHUN TERAKHIR INI, PENGETAHUAN DAN KESADARAN MASYARAKAT AKAN PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP MENUNJUKKAN GEJALA YANG POSITIF. MASYARAKAT MAKIN PEDULI AKAN UPAYA PENANGGULANGAN SEGALA BENTUK POTUSI, MULAI DARI SEKEDAR MENJAGA KEBERSIHAN LINGKUNGAN SAMPAI DENGAN MENGONTROL LIMBAH BUANGAN DAN SISA PRODUKSI. BANYAK PEMBANGUNAN PROYEK FISIK YANG MEMPERHATIKAN FAKTOR PELESTARIAN LINGKUNGAN, SEHINGGA PERUSAKAN ATAUPUN PENGOTORAN YANG MERUGIKAN

LINGKUNGAN SEKITAR DAPAT DIHINDARI, MINIMAL DIKURANGI. SETIAP BENTUK PRODUKSI ENERGI DAN PEMAKAIAN ENERGI SECARA PRINSIP DAPAT MENIMBULKAN BAHAYA BAGI MANUSIA, KARENA PENCEMARAN UDARA, AIR DAN TANAH, AKIBAT PEMBAKARAN ENERGI FOSIL, SEPERTI BATUBARA, MINYAK DAN GAS DI INDUSTRI, PUSAT PEMBANGKIT MAUPUN KENDARAAN BERMOTOR. LIMBAH PRODUKSI ENERGI LISTRIK KONVENSIONAL, DARI SUMBER DAYA ENERGI FOSIL, SEBAGIAN BESAR MEMBERI KONTRIBUSI TERHADAP POLUSI UDARA, KHUSUSNYA BERPENGARUH TERHADAP KONDISI KLIMA.

PEMBAKARAN ENERGI FOSIL AKAN MEMBEBASKAN KARBONDIOKSIDA (CO ) DAN BEBERAPA GAS YANG 2 MERUGIKAN LAINNYA KE ATMOSFIR. PEMBEBASAN INI MERUBAH KOMPOSISI KIMIA LAPISAN UDARA DAN MENGAKIBATKAN TERBENTUKNYA EFEK RUMAH KACA (TREIBHOUSE EFFECT), YANG MEMBERI KONTRIBUSI PADA PENINGKATAN SUHU BUMI. GUNA MENGURANGI PENGARUH NEGATIF TERSEBUT,
SUDAH SEPANTASNYA DIKEMBANGKAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ENERGI TERBARUKAN DALAM PRODUKSI ENERGI LISTRIK. SEBAGAI ILUSTRASI, SETIAP KWH ENERGI LISTRIK YANG DIPRODUKSI DARI ENERGI TERBARUKAN DAPAT MENGHINDARKAN PEMBEBASAN 974 GR CO , 962 MG SO DAN 700 MG

2 2 NOX KE UDARA, DARI PADA JLKA DIPRODUKSI DARI ENERGI FOSIL. BISA DIHITUNG, JIKA PADA TAHUN 1990
YANG LALU 85% DARI PRODUKSI ENERGI LISTRIK DI INDONESIA (SEKITAR 43.200 GWH) DIHASILKAN OLEH ENERGI FOSIL, BERARTI TERJADI PEMBEBASAN 42 JUTA TON CO , 41,5 RIBU TON SO SERTA 30

RIBU TON

NOX. KITA TAHU BAHWA CO SO 2

MERUPAKAN SALAH SATU PENYEBAB TERJADINYA EFEK

RUMAH KACA,

MENGGANGGU PROSES FOTOSINTESIS PADA POHON, KARENA MERUSAK ZAT HIJAU

DAUNNYA, SERTA MENJADI PENYEBAB TERJADINYA HUJAN ASAM BERSAMA-SAMA DENGAN NOX. SEDANGKAN NOX SENDIRI SECARA UMUM DAPAT MENUMBUHKAN SEL-SEL BERACUN DALAM TUBUH MAHLUK HIDUP, SERTA MENINGKATKAN DERAJAT KEASAMAN TANAH DAN AIR JIKA BEREAKSI DENGAN

SO . 2

Kendala pengembangan Energi terbarukan di Indonesia


PEMANFAATAN SUMBER DAYA ENERGI TERBARUKAN SEBAGAI BAHAN BAKU PRODUKSI ENERGI LISTRIK MEMPUNYAI KELEBIHAN ANTARA LAIN; 1. 2. 3. 4. 5.
RELATIF MUDAH DIDAPAT, DAPAT DIPEROLEH DENGAN GRATIS, BERARTI BIAYA OPERASIONAL SANGAT RENDAH, TIDAK MENGENAL PROBLEM LIMBAH, PROSES PRODUKSINYA TIDAK MENYEBABKAN KENAIKAN TEMPERATUR BUMI, DAN TIDAK TERPENGARUH KENAIKKAN HARGA BAHAN BAKAR

(JARASS,1980).

AKAN TETAPI BUKAN BERARTI PENGEMBANGAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ENERGI TERBARUKAN INI TERBEBAS DARI SEGALA KENDALA. KHUSUSNYA DI INDONESIA ADA BEBERAPA KENDALA YANG MENGHAMBAT PENGEMBANGAN ENERGI TERBARUKAN BAGI PRODUKSI ENERGI LISTRIK, SEPERTI: 1.
HARGA JUAL ENERGI FOSIL, MISAL; MINYAK BUMI, SOLAR DAN BATUBARA, DI INDONESIA MASIH SANGAT RENDAH. SEBAGAI PERBANDINGAN, HARGA SOLAR/MINYAK DISEL DI INDONESIA RP.380,-/LITER SEMENTARA DI JERMAN MENCAPAI RP.2200,-/LITER, ATAU SEKITAR ENAM KALI LEBIH TINGGI.

2. 3. 4. 5. 6.

REKAYASA DAN TEKNOLOGI PEMBUATAN SEBAGIAN BESAR KOMPONEN UTAMANYA BELUM DAPAT DILAKSANAKAN DI INDONESIA, JADI MASIH HARUS MENGIMPORT DARI LUAR NEGERI. BIAYA INVESTASI PEMBANGUNAN YANG TINGGI MENIMBULKAN MASALAH FINANSIAL PADA PENYEDIAAN MODAL AWAL. BELUM TERSEDIANYA DATA POTENSI SUMBER DAYA YANG LENGKAP, KARENA MASIH TERBATASNYA STUDI DAN PENELITIAN YANG DILKAKUKAN. SECARA EKONOMIS BELUM DAPAT BERSAING DENGAN PEMAKAIAN ENERGI FOSIL. KONTINUITAS PENYEDIAAN ENERGI LISTRIK RENDAH, KARENA SUMBER DAYA ENERGINYA SANGAT BERGANTUNG PADA KONDISI ALAM YANG PERUBAHANNYA TIDAK TENTU.

POTENSI SUMBER DAYA ENERGI TERBARUKAN, SEPERTI; MATAHARI, ANGIN DAN AIR, INI SECARA PRINSIP MEMANG DAPAT DIPERBARUI, KARENA SELALU TERSEDIA DI ALAM. NAMUN PADA KENYATAANNYA POTENSI YANG DAPAT DIMANFAATKAN ADALAH TERBATAS. TIDAK DI SETIAP DAERAH DAN SETIAP WAKTU; MATAHARI BERSINAR CERAH AIR JATUH DARI KETINGGAN DAN MENGAILR DERAS SERTA ANGIN BERTIUP DENGAN KENCANG DI SEBABKAN OLEH KETERBATASAN-KETERBATASAN TERSEBUT, NILAII
SUMBER DAYA ENERGI SAMPAL SAAT INI BELUM DAPAT BEGITU MENGGANTIKAN KEDUDUKAN SUMBER DAYA ENERGI FOSIL SEBAGAI BAHAN BAKU PRODUKSI ENERGI LISTRIK. OLEH SEBAB ITU ENERGI TERBARUKAN INI LEBIH TEPAT DISEBUT SEBAGAI ENERGI ADITIF, YAITU SUMBER DAYA ENERGI TAMBAHAN UNTUK MEMENUHI PENINGKATAN KEBUTUHAN ENERGI LISTRIK, SERTA MENGHAMBAT ATAU MENGURANGI PERANAN SUMBER DAYA ENERGI FOSIL.

Strategi Pengembangan Energi Terbarukan di Indonesia


BERDASAR ATAS KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI DALAM UPAYA MENGEMBANGKAN DAN MENINGKATKAN PERAN ENERGI TERBARUKAN PADA PRODUKSI ENERGI LISTRIK KHUSUSNYA, MAKA BEBERAPA STRATEGI YANG MUNGKIN DITERAPKAN, ANTARA LAIN: 1.
MENINGKATKAN KEGIATAN STUDI DAN PENELITIAN YANG BERKAITAN DENGAN; PELAKSANAAN IDENTIFIKASI SETIAP JENIS POTENSI SUMBER DAYA ENERGI TERBARUKAN SECARA LENGKAP DI SETIAP WILAYAH; UPAYA PERUMUSAN SPESIFIKASI DASAR DAN STANDAR REKAYASA SISTEM KONVERSI ENERGINYA YANG SESUAI DENGAN KONDISI DI INDONESIA; PEMBUATAN "PROTOTYPE" YANG SESUAI DENGAN SPESIFIKASI DASAR DAN STANDAR REKAYASANYA; PERBAIKAN KONTINUITAS PENYEDIAAN ENERGI LISTRIK; PENGUMPULAN PENDAPAT DAN TANGGAPAN MASYARAKAT TENTANG PEMANFAATAN ENERGI TERBARUKAN TERSEBUT. MENEKAN BIAYA INVESTASI DENGAN MENJAJAGI KEMUNGKINAN PRODUKSI MASSAL SISTEM PEMBANGKITANNYA, DAN MENGUPAYAKAN AGAR SEBAGIAN KOMPONENNYA DAPAT DIPRODUKSI DI DALAM NEGERI, SEHINGGA TIDAK SEMUA KOMPONEN HARUS DIIMPORT DARI LUAR NEGERI. PENURUNAN BIAYA INVESTASI INI AKAN BERDAMPAK LANGSUNG TERHADAP BIAYA PRODUKSI. MEMASYARAKATKAN PEMANFAATAN ENERGI TERBARUKAN SEKALIGUS MENGADAKAN ANALISIS DAN EVALUASI LEBIH MENDALAM TENTANG KELAYAKAN OPERASI SISTEM DI LAPANGAN DENGAN PEMBANGUNAN BEBERAPA PROYEK PERCONTOHAN . MENINGKATKAN PROMOSI YANG BERKAITAN DENGAN PEMANFAATAN ENERGI DAN UPAYA PELESTARIAN LINGKUNGAN. MEMBERI PRIORITAS PEMBANGUNAN PADA DAERAH YANG MELIKI POTENSI SANGAT TINGGI, BAIK TEKNIS MAUPUN SOSIO-EKONOMISNYA. MEMBERIKAN SUBSIDI SILANG GUNA MERINGANKAN BEBAN FINANSIAL PADA TAHAP

2.

3.

4. 5. 6.

PEMBANGUNAN. SUBSIDI YANG DIBERIKAN, DIKEMBALIKAN OLEH KONSUMEN BERUPA REKENING YANG HARUS DIBAYARKAN PADA SETIAP PERIODE WAKTU TERTENTU. DANA YANG TERKUMPUL DARI REKENING TERSEBUT DIGUNAKAN UNTUK MENSUBSIDI PEMBANGUNAN SISTEM PEMBANGKIT ENERGI LISTRIK DI WILAYAH LAIN.

PEMBANGUNAN SISTEM PEMBANGKIT ENERGI LISTRIK YANG MEMANFAATKAN SUMBER DAYA ENERGI TERBARUKAN, TERUTAMA AIR, SUDAH BANYAK DILAKSANAKAN DI INDONESIA. PEMANFAATAN ENERGI ANGIN BANYAK DITERAPKAN DI DAERAH PANTAI, SEPERTI DI JEPARA, PULAU LOMBOK, SULAWESI DAN BALI. SEMENTARA ENERGI MATAHARI TELAH DIMANFAATKAN DI BEBERAPA WILAYAH DI JAWA TIMUR, JAWA TENGAH, JAWA BARAT DAN WLAYAH TIMUR INDONESIA. SEBAGIAN BESAR DARI PEMBANGUNAN TERSEBUT BERUPA PROYEA-PROYEK PERCONTOHAN.

Daftar Pustaka
DJOJONEGORO,W., 1992, PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN, LOKAKARYA "BIO MATURE UNIT" (BMU) UNTUK PENGEMBANGAN MASYARAKAT PEDESAAN, BPPT, JAKARTA. FRITZLER,M., 1993, STICHWORT-UMWELTGIFFE, WILHELM HEYNE VERLAG, MOENCHEN, GERMANY. JARASS, 1980, STROM AUS WIND - INTEGRATION EINER REGENERATIVEN ENERGIEQUELLE, SPRINGER-VERLAG, BERLIN. PINSKE,J.D., 1993, ELEKTRISCHE ENERGIEERZEUGUNG, 2.VOLLST. UEBERARB. AUFL., BG.TEUBNER, STUTTGART RAMANI,K.V., 1992, RURAL ELECTNECATION AND RURAL DEVELOPMENT, RURAL ELECTRIFICATION GUIDE BOOK FOR ASIA & PACIFIC, BANGKOK. SOETENDRO,H.,SOEDIRMAN,S.,SUDJA,N., 1992, RURAL ELECTNFICATION IN INDONESIA, RURAL ELECTRIFICATION GUIDE BOOK FOR ASIA & THE PACIFIC, BANGKOK. SCHLESWAG (HRSG.), 1993, ADDITIVE ENERGIEN-INTELLIGENT GENUTZT, FLENSBURG, GERMANY. WIBAWA,U., 1996, EFFAHRUNG MIT DEM BETNEB KLEINWINDHYBRID EANLAGE IN CIPARANTICIAMIS, ARTES-LNSTITU, FLENSBURG ZUHAL,1995, POLICY & DEVELOPMENT PROGRAMS ON RURAL ELECTRISCATION FOR NEXT 10 YEARS, DITJEN.LISTRIK & PENGEMBANGAN ENERGI, DEPARTEMEN PERTAMBANGAN DAN ENERGI, JAKARTA.
HTTP://WWW.ELEKTROINDONESIA.COM/ELEKTRO/ENERGI5A.HTML

KESIMPULAN DARI URAIAN SEBELUMNYA DAPAT DIAMBIL KESIMPULAN BAHWA PEMANFAATAN ENERGI NUKLIR
UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN ENERGI NASIONAL BERSINERGI DENGAN SUMBER DAYA ENERGI LAINNYA MAMPU MENDUKUNG PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN. BEBERAPA KESIMPULAN PENTING LAINNYA DAPAT DISAMPAIKAN SEBAGAI BERIKUT:

RAMAH LINGKUNGAN PEMANFAATAN ENERGI NUKLIR SELALU MENGUTAMAKAN KESELAMATAN, BERSIH SERTA BERWAWASAN

LINGKUNGAN. DI SAMPING ITU, LIMBAH NUKLIR BERVOLUME KECIL DIBANDINGKAN DENGAN LIMBAH YANG DIHASILKAN OLEH SUMBER DAYA ENERGI LAINNYA, SEHINGGA LIMBAH TERSEBUT MUDAH DIISOLASI DAN DISIMPAN DALAM RANGKA PROTEKSI KESELAMATAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN. OLEH KARENA ITU INTRODUKSI ENERGI NUKLIR LEBIH MENGUNTUNGKAN, BILA TIDAK PERLU MENUNGGU SAMPAI SUMBER DAYA ENERGI LAINNYA MENIPIS (NON-DEPLETATION STRATEGY).

MEMENUHI KEPENTINGAN ANTAR GENERASI PERSIAPAN, PEMBANGUNAN DAN PENGOPERASIAN PLTN MERUPAKAN SUATU PROGRAM NASIONAL JANGKA PANJANG YANG HARUS DIDUKUNG OLEH PENGUASAAN TEKNOLOGI DAN SDM YANG HANDAL,
BERDISIPLIN TINGGI DAN PROFESIONAL SERTA ADANYA ADANYA KEPASTIAN HUKUM TENTANG PERIZINAN PEMBANGUNAN DAN PENGOPERASIAN REAKTOR NUKLIR UNTUK MENJAMIN PERLINDUNGAN TERHADAP PEKERJA, ANGGOTA MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN HIDUP DARI BAHAYA RADIASI SELAMA REAKTOR NUKLIR BEROPERASI SAMPAI DENGAN DEKOMISIONING. HAL INI SANGAT DIPERLUKAN AGAR PERAN ENERGI NUKLIR DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN ENERGI NASIONAL SEJALAN DENGAN KEPENTINGAN ANTAR GENERASI DALAM MELAKSANAKAN PEMBANGUNAN YANG BERKELANJUTAN.

SEBAGAI PEMASOK ENERGI HANDAL DALAM SITUASI KETERSEDIAAN ENERGI PRIMER YANG SEMAKIN SULIT DAN TUNTUTAN PERSYARATAN LINGKUNGAN YANG KETAT SERTA ADANYA KESEMPATAN BERINVESTASI YANG SELUAS-LUASNYA KEPADA INVESTOR, MAKA UNTUK MENYEDIAKAN PASOKAN ENERGI YANG OPTIMAL (OPTIMUM ENERGY MIX) DENGAN PEMANFAATAN ENERGI NUKLIR PADA TAHUN 2016 MERUPAKAN SOLUSI YANG TEPAT MEMENUHI KEPENTINGAN SOSIAL POLITIK PERKEMBANGAN PEMANFAATAN ENERGI NUKLIR UNTUK PEMBANGKITAN ENERGI LISTRIK DAN NON
LISTRIK LEBIH BERTUMPU KEPADA PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DIBANDING DENGAN SUMBER DAYA ENERGINYA. OLEH KARENA ITU KEGIATAN LITBANG TEKNOLOGI PLTN PERLU TERUS DILAKSANAKAN SECARA KONSISTEN DAN SUNGGUH-SUNGGUH SEIRING DENGAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PLTN YANG SEMAKIN MAJU. SELAIN ITU PERLUNYA MERUMUSKAN KEPENTINGAN YANG TERKAIT DENGAN PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN SESUAI DENGAN PERKEMBANGAN KEBIJAKSANAAN NEGARA (GOVERNMENT POLICY) DAN MENGHARMONISASIKAN KEPENTINGAN PARA PELAKU UTAMA PROGRAM ENERGI NUKLIR YAITU : BADAN PENGAWAS, UTILITAS/OPERATOR PLTN, PEMASOK DAN BADAN PROMOTOR IPTEK NUKLIR MENUJU TINGKAT KESELAMATAN YANG TINGGI DAN HANDAL SELAMA PLTN BEROPERASI SAMPAI DENGAN DEKOMISIONING, SEHINGGA RESIKO TERHADAP KESELAMATAN DAN KEHIDUPAN SOSIAL AKIBAT DARI PENGOPERASIAN PLTN, PALING TIDAK HARUS SEBANDING ATAU BAHKAN LEBIH RENDAH DARI PADA RESIKO YANG DIAKIBATKAN OLEH TEKNOLOGI LAIN YANG BERSAING DALAM MENGHASILKAN LISTRIK DAN TIDAK MEMBERIKAN TAMBAHAN RESIKO LAINNYA YANG CUKUP BERARTI TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL.

MEMENUHI KEPENTINGAN GEOPOLITIK TELAH TERSEDIA CUKUP INSTRUMEN PERJANJIAN INTERNASIONAL UNTUK MEMANFAATKAN KORIDOR INSTITUSIONAL TERHADAP KEMUNGKINAN MAL PRAKTEK KETENAGANUKLIRAN DI INDONESIA KHUSUSNYA DALAM PROGRAM PLTN SEBAGAI JAMINAN KESELAMATAN DAN KEAMANAN. INDONESIA
TELAH MENJALIN KESEPAKATAN DALAM BERBAGAI PERJANJIAN INTERNASIONAL KETENAGANUKLIRAN SERTA TELAH MENJALIN KERJA SAMA BILATERAL, REGIONAL, DAN INTERNASIONAL DENGAN BERBAGAI PIHAK, SEHINGGA DITINJAU DARI ASPEK GEOPOLITIK PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR SEBAGAI OPSI PENYEDIA ENERGI NASIONAL SANGAT REALISTIS. PERJANJIAN INTERNASIONAL KETENAGANUKLIRAN YANG BELUM DIIKUTI OLEH INDONESIA DAPAT DILAKSANAKAN PROSES RATIFIKASINYA SESUAI DENGAN TUNTUTAN KEBUTUHAN TAHAP PEMBANGUNAN PLTN DI INDONESIA DAN KERJA SAMA INTERNASIONAL YANG TELAH ADA DI BIDANG PEMANFAATAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI NUKLIR AGAR

SENANTIASA DAPAT DIKEMBANGKAN DAN DIPELIHARA.

ONGKOS PEMBANGKITAN LISTRIK NUKLIR RELATIF EKONOMIS DARI SEGI EKONOMI, ONGKOS PEMBANGKITAN LISTRIK NUKLIR MENUNJUKKAN KECENDERUNGAN
MENURUN DARI TAHUN KE TAHUN DAN JAUH LEBIH RENDAH DARI HARGA POKOK PENJUALAN LISTRIK. HAL INI MENUNJUKKAN PROSPEK YANG MENJANJIKAN SEBAGAI SALAH SATU PEMASOK LISTRIK DI INDONESIA. ONGKOS PEMBANGKITAN LISTRIK NUKLIR TELAH MEMPERHITUNGKAN BIAYA PENYIMPANAN DAN PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF SERTA DEKOMISIONING. PORSI BIAYA BAHAN BAKAR DALAM ONGKOS PEMBANGKITAN SANGAT RENDAH, SEHINGGA TIDAK TERPENGARUHI FLUKTUASI HARGA PASAR BAHAN BAKAR. PEMBANGUNAN PLTN SELAIN AKAN MEMBANTU MENGAMANKAN PASOKAN LISTRIK NASIONAL JUGA AKAN MENJANJIKAN ADANYA EFEK TETESAN AIR (TRICKLE DOWN EFFECT). HAL INI DIMUNGKINKAN KARENA PEMBANGUNAN PLTN YANG BERSERI AKAN MEMBERIKAN PELUANG INDUSTRI NASIONAL UNTUK BERPARTISIPASI DAN MENINGKATKAN PENGUASAAN TEKNOLOGI TERKAIT YANG PADA AKHIRNYA AKAN DAPAT MENSTIMULIR PERKEMBANGAN INDUSTRI NASIONAL. DENGAN MENAIKNYA TINGKAT DAN LINGKUP PARTISIPASI NASIONAL AKAN MENGURANGI KETERGANTUNGAN KEPADA PIHAK LUAR, SEKALIGUS MENGURANGI PORSI PENDANAAN LUAR NEGERI.

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR PLTN bekerja tidak ubahnya seperti prinsip kerja dari sebuah pembangkit listrik yang memanfaatkan panas sebagai pembangkit uap. Uap air yang bertekanan tinggi dingunakan untuk menggerakkan turbin, kemudian turbin menggerakkan generator, dan generator menghasilkan listrik. Perbedaan utama antara PLTN dengan Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) konvensional adalah terletak pada pemanfaatan bahan bakar yang digunakan untuk menguapkan air. Kebanyakan PLTN saat menggunakan Uranium sebagai bahan bakarnya, sedangkan PLT konvensional untuk menghasilkan panas menggunakan bahan bakar berupa minyak, gas alam, batubara (energi fosil). Para pakar energi, membagi jenis energi dalam 3 bagian, yaitu: Energi Fosil, seperti: Minyak, Batubara, dan Gas Alam -Minyak: mudah digunakan dalam bentuk cair, berdampak besar terhadap lingkungan, terkonsentrasi di Timur Tengah -Batubara: cadangan besar, berdampak besar tehadap lingkungan -Gas Alam: dampak lingkungan lebih rendah, terkonsentrasi terutama di daerah Timur Tengah dan bekas negara Blok Komunis Energi Nuklir -Jaminan pasokan energi stabil -Ramah lingkungan -Harga relatif rendah dan stabil -Menghasilkan limbah radioaktif Mengenal Sifat-sifat Nuklir Dalam Memenuhi Kebutuhan Energi: 1. Energi alam yang paling fundamental 2. Konsentrasi energi sangat tinggi

----1 gm U-235 = 3.000.000 gm barubara (fisika/teori) ----1 gm U-235 = 100.000 gm batubara (teknologi - 90'an) ----1 gm PU = 1.000.000 gm batubara (teknologi - 90'an) 3. Bersifat intensif teknologi, tidak intensif sumberdaya alam 4. Reaktor Nuklir tidak bisa meledak karena:---Pengkayaan Uranium-235 kurang dari 20% ---Adanya zat struktural: SS, Zr ---Adanya zat pendingin H2O ---Adanya racun Neutron yang kuat ---Batang kendali (HF, B, SS) 5. Volume limbah kecil, mudah dikumpulkan, diproses dan disimpan (diisolasi dari lingkungan manusia) 6. Pembelahan melalui reaksi inti dengan neutron tidak menimbulkan polutan organik (sebaliknya batubara dibakar dengan oksigen, menimbulkan polutan organik dan non organik: VHC, SOX, NOX, dan lain lain yang berbahaya bagi kesehatan) 7. Polusi radiasi mudah diatasi dengan perisai dan sistem keselamatan lain 8. Bahan bakar bersifat kuasi - domestik (mudah diperoleh di pasar internasional dan dapat ditimbun) 9. Sumber daya energi nuklir mampu memasok energi dengan skala besar dan untuk jangka panjang

Prinsip Pertahanan Berlapis: TINGKAT: 1 FUNGSI: Pencegahan SISTEM DAN PRINSIP: ---Sistem Kendali ---Karakteristik Keselamatan Melekat ---Margin rancangan ---Jaminan mutu TINGKAT: 2 FUNGSI: Proteksi SISTEM DAN PRINSIP: ---Sistem Keselamatan ---Diversifikasi/Penggandaan alat TINGKAT: 3 FUNGSI: Pengurangan Dampak SISTEM DAN PRINSIP: ---Bangunan Pengungkung

---Sistem Penyerap Pencemar ---Rencana Kedaruratan Nuklir

Ketenaganukliran menyangkut kehidupan dan keselamatan orang banyak, oleh karena itu di Indonesia dikuasai oleh negara. Semua kegiatan untuk memproduksi listrik dengan tenaga nuklir diatur oleh Pemerintah Badan Pengawas adalah badan yang bertugas melaksanakan pengawasan terhadap segala kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir. Badan Pengawas bertanggungjawab untuk menyelenggarakan peraturan, perizinan, dan inspeksi IAEA menetapkan program dan standar jaminan mutu untuk diterapkan pada pembangunan PLTN. Kriteria jaminan mutu sebagai salah satu persyaratan keselamatan keselamatan harus dipenuhi oleh perancang PLTN. Program jaminan mutu harus disiapkan sesuai ketentuan yang diberikan IAEA untuk diterapkan pada tahap rancangan, fabrikasi, konstruksi maupun testing sistem PLTN. Standar mutu disesuaikan dengan tingkat pentingnya sistem atau peralatan bagi keselamatan PLTN. Standar mutu yang paling ketat dikenakan kepada peralatan keselamatan dengan prioritas tinggi. Sistem keselamatan reaktor berfungsi untuk memonitor dan memproteksi, mematikan reaktor dan menyediakan pendinginan darurat teras reaktor Model pengungkung reaktor yang dikembangkan di Amerika Serikat dengan skala 1/6 telah dapat menahan tekanan sebesar 3 kali lipat atas rancangan tanpa terjadi kerusakan selama testing tahun 1967 di Laboratorium Nasional Sandia Suatu kecelakaan terparah PLTN mengasumsikan bahwa satu kombinasi yang sangat tidak mungkin dari berbagai kejadian/kerusakan dapat terjadi. Bagaimanapun juga sederetan sistem proteksi yang direkayasa serta penghalang pelindung struktur harus digunakan untuk menjamin keselamatan PLTN. Sebagai contoh, suatu kerusakan pipa basis rancangan hipotesis hanya terjadi jika kejadian berikut berlaku sekaligus, yakni: 1. Gempa bumi, lebih besar dibandingkan dengan yang diperkirakan berdasar sejarah geologi dari daerah tapak, menggoncangkan sistem dan struktur keselamatan. 2. Kedua sumberdaya eksternal normal tidak tersedia untuk mengoperasikan sistem keselamatan 3. Pipa paling besar yang sangat membahayakan pecah 4. Pecahnya pipa terjadi tiba-tiba dan putus seketika

5. Kegagalan tunggal terjadi dari sembarang komponen aktif sistem keselamatan yang diperlukan untuk memproteksi PLTN Laboratorium Nasional Sandia menabrakkan satu jet phantom F-14 berkecepatan 480 MPH ke dinding beton bertulang (reinforced) besar untuk mempelajari apa yang terjadi seandainya satu pesawat menabrak PLTN. Kerusakan pada dinding sangat kecil. Badan pesawat membuat satu cekungan dengan kedalaman kurang dari 1 inchi Suatu reaktor tidak akan meledak seperti bom atom. Bahan bakar untuk PLTN Air Ringan memiliki Uranium 235 yang diperkaya sebesar 3%, sehingga tidak dapat meledak dalam situasi apapun Sistim Kerja PLTU Batu bara 1. Sistim pembakaran batu bara bersih Adapun prinsip kerja PLTU itu adalah batu bara yang akan digunakan/dipakai dibakar di dalam boiler secara bertingkat. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh laju pembakaran yang rendah dan tanpa mengurangi suhu yang diperlukan sehingga diperoleh pembentukan NOx yang rendah. Batu bara sebelum dibakar digiling hingga menyerupai butir-butir beras, kemudian dimasukkan ke wadah (boiler) dengan cara disemprot, di mana dasar wadah itu berbentuk rangka panggangan yang berlubang. Pembakaran bisa terjadi dengan bantuan udara dari dasar yang ditiupkan ke atas dan kecepatan tiup udara diatur sedemikian rupa, akibatnya butir bata bara agak terangkat sedikit tanpa terbawa sehingga terbentuklah lapisan butir-butir batu bara yang mengambang. Selain mengambang butir batu bara itu juga bergerak berarti hal ini menandakan terjadinya sirkulasi udara yang akan memberikan efek yang baik sehingga butir itu habis terbakar. Karena butir batu bara relatif mempunyai ukuran yang sama dan dengan jarak yang berdekatan akibatnya lapisan mengambang itu menjadi penghantar panas yang baik. Karena proses pembakaran suhunya rendah sehingga NOx yang dihasilkan kadarnya menjadi rendah, dengan demikian sistim pembakaran ini bisa mengurangi polutan. Bila ke dalam tungku boiler dimasukkan kapur (Ca) dan dari dasar tungku yang bersuhu 750 - 950 C dimasukkan udara akibatnya terbentuk lapisan mengambang yang membakar. Pada lapisan itu terjadi reaksi kimia yang menyebabkan sulfur terikat dengan kapur sehingga dihasilkan CaSO4 yang berupa debu sehingga mudah jatuh bersama abu sisa pembakaran. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya pengurangan emisi sampai 98% dan abu CaSO4-nya bisa dimanfaatkan. Keuntungan sistim pembakaran ini adalah bisa menggunakan batu bara bermutu rendah dengan kadar belerang yang tinggi dan batu bara seperti ini banyak terdapat di Indonesia. 2. Proses terjadinya energi listrik Pembakaran batu bara ini akan menghasilkan uap dan gas buang yang panas. Gas buang itu berfungsi juga untuk memanaskan pipa boiler yang berada di atas lapisan mengambang. Gas buang selanjutnya dialiri ke pembersih yang di dalamnya terdapat alat pengendap abu setelah gas itu bersih lalu dibuang ke udara melalui cerobong. Sedangkan uap dialiri ke turbin yang akan menyebabkan turbin bergerak, tapi karena poros turbin digandeng/dikopel dengan poros generator akibatnya gerakan turbin itu akan menyebabkan pula gerakan generator sehingga dihasilkan energi listrik. Uap itu kemudian dialiri ke kondensor sehingga berubah menjadi air dan dengan bantuan pompa air itu dialiri ke boiler sebagai air pengisi.

Generator biasanya berukuran besar dengan jumlah lebih dari satu unit dan dioperasikan secara berlainan. Sedangkan generator ukuran menengah didisain berdasarkan asumsi bahwa selama masa manfaatnya akan terjadi 10.000 kali star-stop. Berarti selama setahun dilakukan 250 x star-stop maka umur pembangkit bisa mencapai 40 tahun. Bila daya generator meningkat maka kecepatannya meningkat pula dan bila kecepatan kritikan dilalui maka perlu dilakukan pengendalian poros generator supaya tidak terjadi getaran. Untuk itu konstruksi rotor dan stator serta mutu instalasi perlu ditingkatkan. Boilernya menggunakan sirkulasi alam dan menghasilkan uap dengan tekanan 196,9 kg/cm2 dan suhu 554C. PLTU ini dilengkapi dengan presipitator elektro static yaitu suatu alat untuk mengendalikan partikel yang akan keluar cerobong dan alat pengolahan abu batu bara. Sedang uap yang sudah dipakai kemudian didinginkan dalam kondensor sehingga dihasilkan air yang dialirkan ke dalam boiler. Pada waktu PLTU batubara beroperasi suhu pada kondensor naiknya begitu cepat, sehingga mengakibatkan kondensor menjadi panas. Sedang untuk mendinginkan kondensor bisa digunakan air, tapi harus dalam jumlah besar, hal inilah yang menyebabkan PLTU dibangun dekat dengan sumber air yang banyak seperti di tepi sungai atau tepi pantai. Efisiensi Bila pada PLTU batu bara tekanan kondensornya turun, maka daya gunanya meningkat. Biasanya tekanan kondensor berhubungan langsung atau berbanding lurus dengan besarnya suhu air pendingin yang berasal dari uap pada kondensor. Jadi bila suhu itu rendah, maka tahanannya juga rendah dan pada suhu terendah akan dihasilkan/terjadi tekanan jenuh. Karena air pendingin itu biasanya terdiri dari air yang berasal dari uap turbin dan air berasal dari laut dan sungai. Akibatnya suhu terendah besarnya sesuai dengan air yang digunakan sehingga tekanan jenuh sulit diperoleh. Peningkatan daya guna bisa dilakukan dengan pemanasan ulang dan pembakaran batu bara yang kurang bermutu 1. Pemanasan Ulang Hal ini bisa dilakukan dengan membagi turbin menjadi dua bagian yaitu bagian tekanan tinggi (TT) dan bagian tekanan rendah (TR) yang berada pada satu poros. Dengan demikian pembangkit ini mempunyai susunan sebagai berikut : Boiler - TT - TR - Generator. Cara kerjanya : Uap dari boiler dimasukan/dialirkan ke bagian TT, setela h uap itu dipakai dialirkan kembali ke boiler untuk pemanasan ulang. Kemudian uap dari boiler itu dialirkan lagi ke turbin TR untuk dipakai sebagai penggerak generator. Dengan demikian jumlah energi yang bisa dimanfaatkan menjadi besar akibatnya daya guna atau efiseinsi menjadi besar pula. Dari sini bisa disimpulkan bila turbin dibagi menjadi tiga bagian yaitu TT, TM, dan TR maka energi yang diperoleh juga besar, hal ini biasanya digunakan pada mesin dengan ukuran besar. Meningkatnya suhu (hingga mencapai 560 C) dan tekanan (hingga mancapai 250 kg/cm2) uap tentunya menyebabkan pertumbuhan PLTU menjadi lebih pesat. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya efisiensi dan keandalan. Dengan meningkatnya daya berarti desain boiler juga harus diperbaiki yaitu dilengkapi dengan peralatan pengendalian NOx, peralatan untuk mengeluarkan sulfur dari gas buang dan peralatan untuk mencegah berbagai partikel keluar dari cerobong. Peningkatan efisiensi pada PLTU bisa juga dilakukan dengan cara menambah panjang sudu. Hal ini karena dengan sudu-sudu yang panjang berarti rugi-ruginya akan berkurang. 2. Pembakaran Lapisan Mengambang Bertekanan

Proses pembakarannya menggunakan udara bertekanan atau dikompres berarti perpindahan panasnya meningkat akibatnya suhu uap dan gas buang juga meningkat. Gas buang yang panas ini setelah dibersihkan bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin gas yang digandeng dengan generator sehingga dihasilkan energi listrik. Jadi energi listrik pada proses pembakaran ini dihasilkan oleh uap dan gas buang, hal inilah yang menyebabkan efisiensi pada pembakaran seperti ini meningkat. Selain dari itu turbin gas juga menghasilkan gas buang yang cukup panas yang bisa digunakan untuk memanaskan air yang keluar dari kondensor turbin uap yang selanjutnya dimasukkan ke boiler sedang gas yang sudah dingin di buang ke udara melalui cerobong. Dengan menggunakan pembakaran lapisan mengambang bertekanan, maka batu bara yang bermutu rendah bisa dimanfaatkan untuk menjadi energi listrik yang ramah lingkungan. Q http://www.elektroindonesia.com/elektro/ener35.html

Dampak PLTU Menjadi keharusan pada tahap mula bahwa studi lingkungan dilakukan menyangkut keadaan (rona atau warna) awal lingkungan pada tapak proyek dan sekitarnya. Kondisi awal lingkungan tersebut diinventarisasi untuk membuat prediksi dampak yang diakibatkan oleh kegiatan pembangunan dan pengoperasian PLTU. Keadaan dimaksud meliput keadaan fisik kimia, flora dan fauna serta sosial ekonomi dan budaya masyarakat di daerah sekitarnya . Ada tiga tahap kegiatan penting berkaitan dengan akan adanya proyek PLTU Labuan. Yaitu tahap prakonstruksi, tahap konstruksi dan tahap operasi. Menoleh ke kegiatan proyek-proyek serupa sebelumnya, dampak negatif yang menonjol dalam tahap prakonstruksi biasanya menyangkut pembebasan lahan untuk tapak proyek. Tetapi dengan pemberian ganti rugi yang memadai dan transparan, dampak ini umumnya dapat diatasi. Nahh kalau dikehendaki agar pemenang lelang proyek PLTU Labuan segera bisa membangun pembangkitannya, maka tim dari Pemerintah Pusat, PLN dan Pemerintah Daerah setempat harus bekerjasama dengan baik dalam mengupayakan pembebasan lahan. Kemudian dampak negatif yang umum terjadi pada tahap konstruksi adalah kebisingan atas pengoperasian alat-alat berat untuk konstruksi. Disamping itu kemungkinan adanya debu dan erosi yang dapat menimbulkan pendangkalan perairan terdekat. Dampak ini bersifat sementara. Dampak ini bisa dikurangi dengan dilakukan pemantauan dan pengelolaan sedemikian rupa. Sementara dampak negatif yang terjadi memasuki tahap operasi PLTU terutama menyangkut adanya gas buang SO2 dan NOx; abu (partikulat) batubara, limbah cair berupa air buangan yang mengandung senyawa kimia tertentu; limbah padat berupa abu (abu terbang dan abu dasar). Gas dan abu, limbah pembakaran batubara tersebut dikeluarkan ke atmosfer (lapisan udara yang menyelubungi bumi) melalui cerobong gas asap. Besarnya emisi tersebut harus memenuhi baku mutu

emisi yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Apabila nanti besaran emisi (SO2, NOx dan abu) dari PLTU itu melampaui baku mutu yang ditetapkan oleh KLH maka besaran emisi tersebut harus diupayakan untuk dikurangi menjadi lebih kecil dari ketetapan baku mutunya. Di pasaran, teknologi perangkat dan metode untuk itu sudah ada. Diantaranya dengan memasang alat kontrol emisi. Tentu pemasangan alat ini akan menambah biaya pembangunan PLTU. Setelah melewati alat kontrol, kandungan polutan pada gas buang tersebut diharapkan lebih kecil, dan memenuhi ambang baku mutu emisi. Gas buang itu kemudian dikeluarkan dari cerobong, lalu disebarkan ke udara bebas. Kualitas udara yang dipengaruhi oleh buangan polutan dari PLTU tersebut juga harus memenuhi baku mutu udara yang ditetapkan oleh KLH. Seperti telah disinggung diatas bahwa PLTU berbahan bakar batubara tersebut juga akan menghasilkan abu. Abu yang dihasilkan dari pembakaran batubara terdiri atas: 1) Abu dasar yang berasal dari bagian bawah ruang bekar. Jumlahnya kira-kira 20 % dari kandungan abu batubara; dan 2) Sekitar 80 % lainnya berupa abu terbang, yang sebagian besar bisa ditangkap dengan peralatan bernama ESP (Electrostatic Precipitator), menggunakan bag house filter. Dengan pengelolaan tersendiri, abu itu kemudian bisa dimanfaatkan sebagai bahan campuran semen, pembuatan jalan, conblock dan bahan keramik. Apabila tidak dimanfaatkan, abu tersebut mesti dibuang di tempat pembuangan abu yang dirancang khusus. Sehingga tidak terjadi rembesan ke dalam air tanah, akibat turunnya hujan. Pengoperasian PLTU juga bisa mengeluarkan limbah cair berupa air larian dari timbunan batubara dan abu, air limbah pembangkit. Misal limbah bahan kimia dari air ketel (blow down) dan limbah proses demineralisasi. Sebelum dibuang ke badan air, limbah cair sebagai keluaran dari operasi PLTU tersebut harus diolah terlebih dahulu di tempat pengolahan air limbah. Dan mutu air limbah yang akan dikeluarkan dari tempat pengolah air limbah tersebut harus memenuhi baku mutu air limbah. Suhu air pendingin yang keluar dari kondenser PLTU akan naik. Umumnya, kenaikan suhu tersebut dirancang sekitar 8 derajat Celsius. Air ini kemudian akan dikembalikan ke sumber asalnya, yang dalam hal ini air laut. Namun sebelum sampai di laut, proses pemenuhan baku mutu air tersebut harus dilalui agar tidak menimbulkan dampak pada biota perairan laut bersangkutan. Untuk memenuhi persyaratan baku mutu itu perlu dibangun saluran air pendingin yang cukup panjang agar penurunan suhu itu terjadi. Pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang berkaitan dengan limbah-limbah tersebut diatas harus dilakukan dengan baik secara berkelanjutan. Maksudnya agar limbah-limbah keluaran dari operasi PLTU tersebut tidak melampaui baku mutu lingkungan yang disyaratkan. Dalam kaitan ini, peran aktif, obyektif dan positif masyarakat yang tinggal di daerah sekitar lokasi proyek PLTU tersebut penting, untuk mengidentifikasi dampak yang mungkin/timbul dan mengantisipasi penanggulangan dampak negatifnya. ** http://asepmul.blogspot.com/2007/03/turun.html