Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

Reforma Agraria atau dalam pengertian terbatas dikenal sebagai land reform yaitu pendistribusian (pembangian) tanah kepada rakyat. Sedangkan istilah agraria berarti urusan tanah pertanian (perkebunan), secara luas agraria adalah sumber daya alam berupa bumi, air, ruang angkasa, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Reforma Agraria dikenal sejak zaman Yunani kuno pada masa pemerintahan Solon 549 SM yang membagikan tanah kepada rakyatnya lantaran khawatir atas pemberontakan rakyat kerena tanah hanya dikuasai oleh segelintir bangsawan kaya, juga pada zaman Romawi Kuno ketika Tiberius Gracchus seorang wakil rakyat yang mengajukan lex Agrarian (UU Agraria) pada tahun 134 SM sebagai legitimasi negara mengambil tanah yang dikuasai melewati batas maksimum untuk dibagikan kepada petani kecil, dan Reforma Agraria-lah yang menjadi agenda utama Revolusi Perancis tahun 1787. Atas dasar sejarah itulah yang menjadi inspirasi Founding Fathers membuat kodifikasi UUD 1945 sebagai landasan konstitusi berbangsa dan bernegara Indonesia dengan merumuskan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang berbunyi Bumi, air dan kekayaan alam yang tergantung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Begitu pula alasan kuat Presiden Soekarno mulai membentuk struktur agraria Indonesia dengan membuat Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No.5 tahun 1960 pada 24 September 1960 yang mengamanatkan bahwa Negara mengatur dan menyelenggarakan peruntukkan, penggunaan bumi, air, dan tanah milik Negara digunakan untuk mencapai sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Agraria (bumi, air, ruang angkasa, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya) sudah seharusnya dikuasai oleh Negara yang diperuntukkan bagi kesejahteraan seluruh rakyat, karena tujuan dibentuknya Negara (teori Negara) adalah untuk Material Rechtstaat yaitu mencapai kemakmuran rakyat, serta memberikan kebahagiaan yang sebesar-besarnya dan merata bagi tiap manusia dalam sebuah Negara, sedangkan alat-alat produksi dan distribusi yang penting yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dimiliki oleh Negara (sesuai Pasal 33 ayat 2 UUD 1945) bagi kesejahteraan seluruh rakyat. Termasuk pengaturan dan peruntukkan tanah Negara harus didistribusikan untuk kepentingan rakyat. Agenda Reforma Agraria adalah milik rakyat dan untuk rakyat. Reforma Agraria bukan hanya sekadar berbicara masalah tanah dan bagi-bagi tanah untuk rakyat, tetapi membicarakan struktur perekonomian suatu Negara dan peradaban suatu bangsa. Bagi
1

Negara yang ingin maju harus melakukan reforma agraria terlebih dahulu sebagai modal ekonomi rakyat, karena Yunani bisa menjadi peradaban besar, Romawi menjadi Imperium kuat, Inggris-Perancis-Rusia menjadi raksasa dunia, Amerika-Jepang-Korea Selatan-Taiwan menjadi Negara Industri karena telah melakukan reforma agraria. Jika tidak, kemajuan hanya akan menjadi progress floating, fatamorgana, atau kemajuan yang menipu, kemajuan di permukaan tetapi keropos di dalam, artinya kemajuan tidak dirasakan oleh rakyat, rakyat hanya menjadi penonton sebuah drama kemegahan yang diperankan oleh orang lain. Industrialisasi ekonomi suatu Negara harus melalui proses pembentukan struktur agraria yang pro kesejahteraan rakyat, sehingga industrialisasi ekonomi tidak menjadi liberal yang menjadikan bumi, air, mineral dan sumber daya alam, hutan , tanah perkebunan dan pertanian hanya dikuasai oleh segelintir pemodal dan pihak asing, sedangkan rakyat sendiri tergusur dari tanah dilahirkan. Pada akhirnya sekarang rakyat Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan dengan penghasilan USD2 sehari atau setara Rp18.000, padahal ada 1 persen kelompok elit politik dan pemodal yang hidup glamour di atas penderitaan rakyat mayoritas. Ini adalah sebuah indikasi bahwa kemajuan Industrialisasi dan struktur ekonomi kita berada di rel yang salah. Perlu kita kembalikan ke jalan yang lurus melalui redistribusi kepemilikan dan peruntukkan agraria (bumi/tanah, air, ruang angkasa, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya) atau yang kita sebut Reforma Agraria. Ketika Reforma Agraria diagendakan untuk kepentingan rakyat, maka tidak ada masyarakat desa yang lapar karena kemiskinan, yang menganggur karena tidak ada lapangan kerja, yang migrasi ke kota untuk menjadi buruh outsourching (kontrak), yang menjadi TKI atau TKW sebagai kuli dan pembantu. Lantaran tanah, hutan, pegunungan, pantai, pesisir, dan lautan Indonesia yang begitu luas akan menjadi sumber kehidupan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan malah dijual dengan harga murah kepada perusahaan swasta dan asing, sedangkan Negara hanya menjadi alat kapitalis/pemodal untuk menindas rakyat seperti yang dirasakan oleh rakyat Bima dan Mesuji, serta jutaan petani, buruh, nelayan kita lainnya. Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 sudah tidak dihiraukan oleh rezim Negara pro kapitalis, sudah dipetieskan, setelah amandemen ke-4 disusupkan pasal 33 ayat 4 di UUD 1945. Sehingga menjadi legal standing lahirnya UU Sumber Daya Air, UU Perkebunan, UU Kehutanan, UU Penanaman Modal Asing, UU Pengelolaan Wilayah Pesisir, UU Migas, UU Minerba, UU Telekomunikasi, UU Listrik, dan UU Pengadaan tanah yang baru saja disahkan oleh Pemerintah bersama DPR yang melegitimasi penguasaan asing dan pemodal terhadap seluruh sumber daya alam Indonesia.
2

Mungkin ada benarnya ketika para aktivis berteriak meminta dikembalikannya UUD 1945 pada khittah-nya; yaitu UUD 1945 yang asli sebelum diamandemen. Karena semangat UUD 1945 yang dirumuskan Founding Fathers yaitu dekolonialisasi, deimperialisasi, dan deliberalisasi. Sedangkan UUD 1945 kita sekarang setelah direkayasa sedemikian rupa melalui empat kali amandemen telah menjadi pintu masuk neoliberalisme, neokolonialisme, dan neoimperalisme yang menyengsarakan rakyat.

BAB II PEMBAHASAN

Secara konseptual, Agraria terdiri atas dua aspek utama yang berbeda, yaitu aspek penguasaan dan pemilikan dan aspekpenggunaan dan pemanfaatan. Hal ini terlihat secara tegas dalam batasan tentang reformasi agraria yang terdapat dalam Tap MPR No. IXtahun 2001 Pasal 2, yang menyebutkan bahwa: Pembaruan agraria mencakup suatu proses yang berkesinambungan berkenaan dengan penataan sumber kembali daya penguasaan, agraria. pemilikan, penggunaan, danpemanfaatan

Aspekpenguasaan/pemilikan jelas berbeda dengan aspek penggunaan/pemanfaatan, karena yang pertama berkenaan dengan bagaimana relasi hukum manusia dengan tanah, sedangkan yang kedua membicarakan bagaimana tanah (dan sumberdaya agraria lain) digunakan dan dimanfaatkan. Bentuk penguasaan tanah pada satu negara mengikuti ideologi ekonomi yang dianut negara tersebut. Kita mengenal setidaknya lima ideologi sistem ekonomi, yaitu kapitalisme, sosialisme, komunisme, fasisme, dan ekonomi Islam (Achyar, 2005). Secara umum, hak kepemilikan (property rights) yang berlaku dalam sistem ekonomi kapitalis adalah

kepemilikan yang tanpa batas. Bentuk kepemilikan tanpa batas ini berlaku untuk benda apa saja termasuk tanah. Si pemilik (owner) dapat menggunakan dan menguasaimiliknya sebagaimana yang ia sukai. Konsep dasar sistem ekonomi kapitalis adalah kebebasan tanpa batas untuk menciptakan pendapatan pribadi dan membelanjakannnya sesuai dengan kemauannya (personal propensities)(Heilbroner, 1986). Motif kepentingan individu

yang didorong oleh filsafat liberalisme kemudian melahirkan sistem ekonomi pasar bebas, yang pada akhirnya melahirkan ekonomi kapitalis.

Maksud dan tujuan reforma agraria sendiri adalah, Maksud reforma agraria:

1. Menciptakan sumber-sumber kesejahteraan masyarakat yang berbasis agrarian 2. Menata kehidupan masyarakat yang lebih berkeadilan 3. Meningkatkan berkelanjutan sistem kemasyarakatan kebangsaan dan kenegaraan indonesia, serta 4. Meningkatkan harmoni kemasyarakatan. Tujuan Reforma Agraria:

1. Mengurangi kemiskinan
4

2. Menciptakan lapangan kerja 3. Memperbaiki akses masyarakat kepada sumber-sumber ekonomi, terutama tanah 4. Menata ulang ketimpangan penguasaan pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah dan sumber-sumber agrarian 5. Mengurangi sengketa dan konflik pertanahan dan keagrariaan 6. Memperbaiki dan menjaga kualitas lingkungan hidup 7. Meningkatkan ketanahan pangan dan energi masyarakat.

Permasalahan agraria di Indonesia, diduga terjadi karena dua hal: Pertama, Ada tangan-tangan dari kekuatan-kekuatan yang memang ingin menguasai sumber-sumber alam Indonesia, merekayasa dan membelokkan masalahnya, sehingga masalah intinya terkaburkan. Kedua: Selama + 30 tahun lidah rakyat terpasung, sehingga sekalipun sudah masuk ke era reformasi, namun aspirasi yang sesungguhnya, menjadi tidak terekspresikan sebagaimana mestinya. Rakyat masih mengalami trauma masa lalu, akibat intimidasi oknum-oknum aparat bersenjata yang dengan mudah memberi cap bahwa mengangkat masalah agraria adalah berbau komunis. Akibatnya, rakyat mudah dibelokkan, isyu agraria digeser menjadi isyu sara. Sadar atau tidak, sengaja atau tidak sengaja, bangsa Indonesia, khususnya generasi Orde Baru telah melupakan sejarah bangsa. Sejarah UU Agraria kolonial 1870; sejarah kebijakan agraria jaman Jepang; sejarah perjanjian KMB (Konperensi Meja Bundar); sejarah pembatalan KMB; dan lain-lain fakta sejarah yang berkaitan dengan soal agraria; semuanya itu dilupakan! Atau, sengaja dihapus dari ingatan orang. Dapat dipahami bahwa karena hal-hal tersebut diatas itulah maka dalam Pemilu 2004 yang baru saja berlangsung ini, tidak ada satupun partai politik yang secara tegas mengangkat insyu agraria. Kalaupun ada satu dua partai politik yang mengangkat masalah agraria, namun gemanya hampir tak terdengar.

A. MAKNA DAN ISI REFORMA AGRARIA SECARA UMUM

1. Definisi/Pengertian Reforma Agraria atau Agrarian Reform adalah suatu penataan kembali (atau penataan ulang) susunan pemilikan, penguasaan dan penggunaan sumber-sumber agraria (terutama tanah), untuk kepentingan rakyat kecil (petani, buruh tani, tunakisma, dll), secara menyeluruh dan komprehensif.
5

2. Penjelasan Penataan ulang itu sendiri kemudian dikenal sebagai Land Reform. Menyeluruh dan komprehensif, artinya, pertama, sasarannya bukan hanya tanah pertanian tetapi juga tanahtanah kehutanan, perkebunan, pertambangan, pengairan, kelautan, dll. Pendeknya, semua sumber-sumber agraria. Kedua, program land reform itu harus disertai dengan programprogram penunjangnya seperti, penyuluhan dan pendidikan tentang teknologi produksi, program perkreditan, pemasaran, dlsb. Singkatannya, Reforma Agraria adalah Land Reform Plus program penunjang. Memang, intinya adalah Land Reform.

3. Tujuannya - Tujuan utamanya secara makro adalah mengubah struktur masyarakat, dari susunan masyarakat warisan stelsel feodalisme dan kolonialisme menjadi suatu susunan masyarakat yang lebih adil dan merata - Tujuan utamanya secara mikro adalah agar sedapat mungkin semua rakyat mempunyai asset produksi sehingga lebih produktif, dan pengangguran dapat diperkecil. 4. Reforma Agraria yang genuine (sejati) adalah - Sifatnya drastic, fixed in time. (menurut Christodoulou, 1990) - Status program itu Ad hock (menurut Peter Dorner, 1972) - Proses operasinya rapid (menurut Ellias Tuma, 1985)

5. Pada tingkat nasional harus ada sebuah Badan Otorita Reforma Agraria (BORA), yang hanya bertanggung jawab kepada Presiden. Kewenangan dan tugas BORA adalah - Mengkoordinir semua sector - Mempercepat proses - Menangani konflik

6. Prinsip-prinsip utama yang harus dipegang adalah - Tanah untuk mereka yang benar-benar mengerjakannya - Tanah tidak dijadikan komoditi, yaitu tidak boleh dijadikan barang dagangan (jual beli yang semata-mata untuk mencari keuntungan) - Tanah mempunyai fungsi social
6

7. Semuanya itu perlu dipayungi oleh payung hukum yang mewadahi semua aturanaturan sektoral. Artinya, semua Undang-Undang sektoral (Pertanian, Kehutanan, Perkebunan, Pertambangan, Pengairan, dll) seharusnya merujuk dan berada dalam koridor Undang-Undang Payung itu. Sebelum Orde Baru, Undang-Undang payung ini adalah UUPA-1960, beserta berbagai undang-undang turunannya.

8. Landasan filosofi UUPA-1960 adalah neo-populis (bukan komunis, bukan kapitalis). Atas dasar landasan ini, maka luas pemilikan/penguasaan tanah dibatasi. UU no. 56/1960 (yang secara popular dikenal sebagai UU Land reform) menetapkan batas batas luas maksimum dan batas luas minimum. 9. Untuk uraian yang lebih lengkap, lihat buku Gunawan Wiradi (2000): Reforma Agraria: Perjalanan yang Belum Berakhir (terbitan Insist press, Yogya).

B. OPERASIONALISASI DAN TAHAPANNYA Setiap negara tentu saja mempunyai cara pandang sendiri-sendiri, karena kondisinya memang berbeda-beda. Karena itu, dalam hal Reforma Agraria, maka landasan filosofinya, modelnya, grand designnya, dan pola implementasinya juga berbeda beda. Di Indonesia, dalam pelaksanaan program Land Reform tahun 1960-an, prioritas pertama ditujukan baru kepada penataan tanah-tanah pertanian, yaitu melaksanakan ketentuan batas maksimum luas penguasaan tanah pertanian, dan melakukan redistribusi. Dilihat dari segi teknis operasional, walaupun diberbagai negara model Reforma Agraria itu berbeda-beda, namun tahapan awalnya selalu sama, yaitu registrasi tanah. Tujuannya adalah untuk memperoleh peta struktur penguasaan tanah. (Siapa menguasai berapa; berapa persen pemilik/penguasa, menguasai berapa persen luas tanah yang ada). Strukturnya timpang atau tidak. Bukan untuk memberi sertifikat! Sertifikasi adalah program ikutan, yaitu, setelah redistribusi dilakukan, barulah sertifikasi dilakukan.

Reformasi agraria adalah suatu istilah yang dapat merujuk kepada dua hal. Secara sempit istilah tersebut merujuk pada distribusi ulang lahan pertanian atas prakarsa atau dukungan pemerintah (lihat reformasi pertanahan (land reform); sedangkan secara luas istilah tersebut merujuk pada peralihan sistem agraria suatu negara secara keseluruhan, yang sering kali juga meliputi reformasi pertanahan. Reformasi agraria dapat mencakup kebijakan dalam bidang kredit, pelatihan, penyuluhan, penyatuan tanah, dll. Bank Dunia mengevaluasi reformasi agraria menggunakan lima dimensi: I. II. III. IV. V. Harga dan liberalisasi pasar Reformasi pertanahan (termasuk pengembangan pasar pertanahan) Saluran pasokan atas pengolahan hasil dan input pertanian Keuangan pedesaan Institusi pasar.

C. CONTOH KASUS REFORMA AGRARIA YANG ADA DI INDONESIA 1. Konflik Agraria Petani Ogan Ilir, Sumatera Selatan Konflik agraria yang berkelanjutan serta tidak terselesaikannya masalah sampai akar persoalannya sangat linier hubungannya dengan semakin memarakkan perlawanan yang dilakukan oleh kaum tani. Hal ini terlihat dengan aksi 500-an petani dari Ogan Ilir, Sumatera Selatan yang didampingi oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) melakukan aksi demonstrasi selama seminggu di beberapa instansi seperti di Mabes Polri, BPN, Kementrian Keuangan, Kementrian BUMN, Istana, KPK dan DPR. Sengketa lahan masyarakat Ogan Ilir (20 desa, 6 kecamatan) dengan PTPN VII Unit Usaha Cinta Manis ini telah berlangsung selama 30 tahun, sejak tahun 1982 terkait perampasan tanah seluas 3000 ha. Begitu juga yang terjadi dengan adanya motivasi para masyarakat petani dari Pulau Padang, Riau yang ingin melakukan aksi bakar diri di depan istana terkait tidak terselesaikannya konflik agraria mereka dengan perusahaan pulp PT. Riau Andalan Pulp and Paper (berafiliasi dengan perusahaan PT. Toba Pulp Lestari, milik Sukanto Tanoto). Berbagai upaya telah mereka lakukan, mulai dari penyampaian aspirasi, mediasi ke instansi Jakarta sampai aksi jahit mulut di depan DPR yang mereka lakukan beberapa bulan yang lalu.

Namun hasil yang diterima masyarakat tidak ada, semua hanya janji palsu dan justru kebijakan yang terjadi hanya berpihak kepada pengusaha. Perlawanan petani yang diungkapkan di atas hanya merupakan sebagian kecil dari seluruh konflik agraria yang ada di Indonesia ini, mulai dari Sabang sampai Merauke. Bisa dipastikan pula bahwa persoalan yang marak di Tanah Air Indonesia ini adalah persoalan konflik agraria, seperti kasus Padang Halaban (Sumatera Utara), Mesuji (Lampung), Morowali (Sulawesi Tengah), MIFEE (Papua), dll. Perlawan Petani Konsekuensi Konflik Agraria Meletusnya perlawanan petani merupakan konsekuensi logis dari besarnya tekanan kapitalisme yang menggusur hak rakyat atas tanah, timbulnya krisis ekologis serta terjadinya komersialisasi pertanian yang dilakukan pengusaha atas penguasaan tanah yang sangat luas lewat cara perampasan tanah rakyat. Ketidakadilan yang dialami oleh petani serta terganggunya mata pencaharian penghidupannya jelas menjadi sebab besarnya arus perlawanan dan pembrontakan petani. Konflik yang terjadi di wilayah pertanian masyarakat akibat persinggungan kepentingan politik ekonomi pemerintah dan pengusaha atas gerakan sosial masyarakat inilah yang kerap menjadi tontonan bersama kita setiap harinya di media. Konflik yang tidak berkesudahan dan memang para pengusaha dan pemerintah berusaha sekeras mungkin supaya masyarakat tidak menang atas perjuangan haknya, sebab jika menang maka kemenangan ini bisa menjadi embrio gerakan sosial bagi masyarakat lainnya yang mengalami konflik agraria. Fakta di Indonesia saat ini bahwa, puluhan juta rakyat Indonesia khususnya petani hidup dalam lahan pertanian yang sempit dan tragisnya bahkan tidak memiliki tanah (baca: petani penggarap). Maka tidak heran bagi kita kerapnya perjuangan petani di seluruh Indonesia untuk mendapatkan akses atas tanah/lahan dengan sejumlah cara, mulai dari aksi massa, pemblokiran fasilitas umum dan pendudukan lahan milik negara atau perusahaan besar. Pemerintah jelas berpihak kepada pengusaha dengan menurunkan sejumlah aparat untuk melakukan tindakan represif, layaknya seperti zaman Orde Baru (rezim Soeharto). Saat ini tercatat jumlah terbesar orang miskin menetap di pedesaaan dan mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh tani, dimana dari 68.000 desa administratif, 45 persennya

merupakan desa tertinggal dan 75 persen penduduk yang mendiami desa bekerja sebagai buruh tani dan petani gurem. Fakta lainnya menurut Iwan, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) bahwa dari 28 juta Rumah tangga Petani (RTP) yang ada di Indonesia terdapat 6,1 juta RTP di Pulau Jawa yang tidak memiliki lahan pertanian sama sekali dan 5 juta RTP tak bertanah di luar Pulau Jawa. Rata-rata kepemilikan lahan mereka 0,36 ha yang artinya bahwa 32 juta petani Indonesia adalah buruh tani dan 90 juta jiwa lainnya adalah petani subsisten. Mengapa Harus Reforma Agraria? Ketimpangan agraria dan perampasan tanah yang cukup tinggi dan berujung pada konflik agraria mengharuskan republik ini harus segera berbenah untuk melakukan upaya maksimal peningkatan kesejahteraan kaum petani dan masyarakat secara umumnya. Tuntutan petani sebenarnya adalah diwujudkannya reforma agraria oleh pemerintah seperti yang termaktub dalam Undang - Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Undang -Undang Pokok Agraria (UUPA) yang merupakan turunan dari Pembukaan UUD 1945 dan pasal 33 UUD 1945 yang sampai saat ini tidak pernah dijalankan oleh negara, terutama rezim SBY (rezim massifnya konflik agraria). Menurut UUPA bahwa tujuan pembaruan agraria adalah penciptaan keadilan sosial, peningkatan produktivitas dan peningkatan kesejahteraan rakyat untuk mewujudkan tujuan kemerdekaan bangsa yang terangkum dalam pembukaan UUD 1945 dan terjemahan dari praktek ekonomi negara dalam pasal 33 UUD 1945. Intinya Land Reform (pembaruan agraria) adalah redistribusi kepemilikan dan penguasaan tanah dan harus didukung program penunjang, seperti pengairan, perkreditan, penyuluhan, pendidikan, pemasaran, dan sebagainya. Kemudian, lewat pembaruan agraria ini pemerintah harus menerapkan 10 aspek utama yang perlu diurus kelengkapannya jika memang pemerintah ingin melaksanakan pembaruan agraria sejati, yakni: (1) Mandat Konstitusional, (2) Hukum Agraria dan Penegakannya, (3) Organisasi Pelaksana, (4) Sistem Administrasi Agraria, (5) Peradilan, (6) Desain Rencana dan Evaluasi, (7) Pendidikan dan Latihan, (8) Pembiayaan, (9) Pemerintahan Lokal dan (10) Keterlibatan Penuh Organisasi Rakyat.

10

Kompleksnya hal yang terangkum dalam penegakkan dan pelaksanaan reforma agraria sejati menjadi tuntutan besar seluruh rakyat Indonesia atas rezim SBY - Boediono. Jika ditanya mengapa harus reforma agraria, karena hanya itulah senjata utama dan menjadi jawaban atas seluruh masalah rakyat Indonesia yang dirampas tanahnya serta miskin kehidupannya. Penguasaan lahan dalam skala besar oleh pengusaha, terutama investor asing mengakibatkan sempitnya lahan yang bisa dikelola oleh rakyat dan semakin tersingkirnya rakyat dari wilayah kelola mereka. Pemerintah (penguasa) dan aparat bersenjata telah bekerjasama untuk membela kekuatan pengusaha.

2. Konflik Agraria Bengkulu Ribuan massa petani Bengkulu menggelar aksi damai di Pemprov Bengkulu menuntut reformasi sistem Agraria dan meminta pemerintah untuk memberikan hak kelola tanah atas rakyat. Isu utama kita bawa adalah meminta kepada pemerintah pusat dan daerah melakukan reformasi total di bidang agraria dan perombakan sistem administrasi pertanahan, diharapkan, selain reformasi kinerja Agraria pihak kepolisian juga bisa bertindak lebih persuasif dalam menangani konflik masalah pertanahan, terutama antara masyarakat dengan perusahaan perkebunan. Di Bengkulu konflik agraria amatlah banyak dan sewaktu-waktu dapat meledak jika pemerintah tidak segera memperbaiki sistem agraria yang dewasa ini lebih berpihak pada kepentingan pemodal dan mengabaikan akses tanah untuk rakyat. Selain itu para petani mengharapkan, agar Kapolri segera menarik seluruh personelnya yang bertugas di beberapa objek pertambangan dan perkebunan karena justru hal tersebut banyak memicu terjadinya konflik. Polisi diminta dalam penanganan kasus-kasus agraria dan pertambangan lebih mengedepankan negosiasi ketimbang pengerahan personel untuk pengamanan. Peserta aksi itu sebagian besar korban dari konflik perkebunan dan pertambangan di Provinsi Bengkulu, mereka selama ini sangat terbatas menyampaikan orasinya kepada pemerintah.

11

Seorang petani dari Kabupaten Seluma Adrian mengatakan, sistem adminsitrasi agraria di Provinsi Bengkulu selama ini terindikasi selalu menyudutkan petani dan masyarakat kecil, terutama masalah lahan. Pihak Agraria sampai saat ini belum bisa mengatasi tumpang tindih sertifikat tanah baik tanah perkebunan maupun lahan pertanian, apalagi pada daerah pemekaran sangat menjadi objek empuk bagi Badan Pertahanan Nasional (BPN) untuk mengeruk ketuntungan pribadi. Hal itu terbukit ratusan warga masih dalam kasus pertanahan akibat setifikat ganda hal itu juga terjadi di Kota Bengkulu dan kabupaten lainnya, dengan demikian sistem di agraria akan reformasi. BPN Kota Bengkulu berupaya untuk menyelesaikan segala kasus diduga tumpang tindih sertifikat atau surat menyerat lainnya. Namun demikian harus didukung dari pemerintahan kelurahan dan kecamatan, mengenai data kepemeilikan tanah tersebut karena setiap tanah disertifikatkan sudah diketahui oleh Surat Keterangan Tanah (SKT) dari tingkat kelurahan dan kecamatan, katanya.

12

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Reforma Agraria atau dalam pengertian terbatas dikenal sebagai landreform yaitu pendistribusian (pembangian) tanah kepada rakyat. Sedangkan istilah agraria berarti urusan tanah pertanian (perkebunan), secara luas agraria adalah sumber daya alam berupa bumi, air, ruang angkasa, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Maksud dan tujuan reforma agraria sendiri adalah, Maksud reforma agraria: 1. Menciptakan sumber-sumber kesejahteraan masyarakat yang berbasis agrarian 2. Menata kehidupan masyarakat yang lebih berkeadilan 3. Meningkatkan berkelanjutan sistem kemasyarakatan kebangsaan dan kenegaraan indonesia, serta 4. Meningkatkan harmoni kemasyarakatan. Tujuan Reforma Agraria: 1. Mengurangi kemiskinan 2. Menciptakan lapangan kerja 3. Memperbaiki akses masyarakat kepada sumber-sumber ekonomi, terutama tanah 4. Menata ulang ketimpangan penguasaan pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah dan sumber-sumber agrarian 5. Mengurangi sengketa dan konflik pertanahan dan keagrariaan 6. Memperbaiki dan menjaga kualitas lingkungan hidup 7. Meningkatkan ketanahan pangan dan energi masyarakat. Penguasaan lahan dalam skala besar oleh pengusaha, terutama investor asing mengakibatkan sempitnya lahan yang bisa dikelola oleh rakyat dan semakin tersingkirnya rakyat dari wilayah kelola mereka. Pemerintah (penguasa) dan aparat bersenjata telah bekerjasama untuk membela kekuatan pengusaha.

13

DAFTAR PUSTAKA

(http://www.republika.co.id/berita/regional/nusantara/12/01/12/lxo206-ribuan-petanituntut-reformasi-agraria) http://rikasrimiati.blogspot.com/2012/03/maksud-dan-tujuan-reforma-agraria.html http://suar.okezone.com/read/2012/01/17/58/558349/reforma-agraria-untuk-rakyat http://xahrialzone.blogspot.com/2011/03/makalah-agraria-pelaksanaan-reforma.html http://rikasrimiati.blogspot.com/2012/03/maksud-dan-tujuan-reforma-agraria.html http://id.scribd.com/doc/26826803/MAKALAH-AGRARIA http://www.walhi.or.id/index.php/id/ruang-media/walhi-di-media/berita-perkebunanbesar/2764-mengapa-harus-reforma-agraria.html http://www.sapa.or.id/berita1-2/269-reforma-agraria-adalah-jawaban-untukmenanggulangi-kemiskinan-keadilan-sosial-dan-sebagai-alat-untuk-memenuhi-hakkebutuhan-dasar-sebagai-manusia.html

14