Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG Hidung merupakan organ penting yang seharusnya mendapat perhatian lebih dari biasanya,merupakan salah satu indera manusia yang berfungsi sebagai pembauan. Disamping itu, hidung secara faali juga sebagai pintu gerbang saluran pernafasan yang berfungsi sebagai proteksi jalan nafas. Hidung juga merupakan suatu bentukan yang paling menonjol yang terdapat di muka.Hidung ikut menentukan profil seseorang karena bentuknya yang menonjol di muka, hidung sering menjadi korban trauma fascialis. Hidung mempunyai beberapa fungsi; sebagai indra penghidu, menyiapkan udara inhalasi agar dapat digunakan paruparu, mempengaruhi refleks tertentu pada paru-paru dan memodifikasi bicara. Biasanya pada penyakit hidung yang dikeluhkan pasien adalah salah satunya pilek atau rinorhea . Banyak penyakit yang disebabkan karena rinorhea, bisa disebabkan oleh virus, bakteri , sampai trauma mekanik. rinorhea adalah salah satu tanda basis cranii.

BAB II PEMBAHASAN
II.1. ANATOMI HIDUNG 1. Hidung Luar Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian - bagiannya dari atas ke bawah: 1.Pangkal hidung (bridge) 2.Dorsum nasi 3.Puncak hidung 4.Ala nasi 5.Kolumela 6.Lubang hidung (nares anterior) Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars transversa dan M. Nasalis pars allaris. Kerja otot - otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan menyempit. Batas atas nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar), antara radiks sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi. Lubang yang terdapat pada bagian inferior disebut nares, yang dibatasi oleh : Superior : os frontal, os nasal, os maksila Inferior : kartilago septi nasi, kartilago nasi lateralis, kartilago alaris mayor dan kartilago alaris minor Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior menjadi fleksibel.

Perdarahan : A. Nasalis anterior (cabang A. Etmoidalis yang merupakan cabang dari A. Oftalmika, cabang dari a. Karotis interna). A.Nasalis posterior (cabang A.Sfenopalatinum, cabang dari A. Maksilaris interna, cabang dari A. Karotis interna) A. Angularis (cabang dari A. Fasialis)

Persarafan : Cabang dari N. Oftalmikus (N. Supratroklearis, N. Infratroklearis) Cabang dari N. Maksilaris (ramus eksternus N. Etmoidalis anterior)

2. Cavum Nasi Dengan adanya septum nasi maka cavum nasi di bagi menjadi 2 ruangan yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Cavum nasi ini berhubungan dengan sinus frontal, sinus sfenoid, fossa kranial anterior dan fossa kranial media. Batas batas Cavum nasi : Posterior : berhubungan dengan nasofaring. Atap : os nasa, os frontal, lamina kribriformis etmoidale, korpus sfenoidale dan sebagian os vomer. Lantai : merupakan bagian yang lunak, kedudukannya hampir horisontal, bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian atap. Bagian ini dipisahkan dengan cavum oris oleh palatum durum. Medial : septum nasi yang membagi cavum nasi menjadi 2 ruangan )dextra dan sinistra), pada bagian bawah apeks nasi, septum nasi dilapisi oleh kulit, jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. Bagian dari septum yang terdiri dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna=kolumela. Lateral : dibentuk oleh bagian dari os medial, os maksila, os lakrima, os etmoid, konka nasalis inferior, palatum dan os sfenoid. Terdapat 3 tonjolan memanjang , dari muka ke belakang yang disebut konka, dengan lorong di bawahnya disebut meatus a) Concha inferior (terpanjang) Mukosanya tebal Mengandung plehus cavernosus konkarum Rangka tulangnya melekat pada Krista konkalis os palatine, Krista konkalis os maxilla, Krista konkalis os lacrimalis, proc. Uncinatus os ethmoidalis Lorong dibawahnya adalah meatus nasi inferior, dibagian depan terdapat muara ductus nasolacrimalis yang dilindungi

lipatan mukosa yang disebut katub dari Hasner/ plica lacrimalis dari Hasner b) Concha nasi media Mukosanya sama dengan mukosa pada konka inferior Rangka tulangnya merupakan bagian dari os ethmoidalis Lorong dibawahnya adalah meatus medius. Bagian depan pada bagian lateral terdapat lekuk yang disebut infundibulum ethmoidalis. Dengan penonjolan membulat dari posterior superior di sebut bulla ethmoidalis Pintu masuk infudibulum adalah hiatus semilunaris Infundibulum ke anterior-superior berakhir pada duktus nasofrontalis kadang-kadang di celulae ethmoidalis anterior Dibagian tengah meatus medius terdapat lubang dari sinus maxillaris c) Concha nasi superior(terkecil) Mukosa tipis Rangka tulang merupakan bagian dari os ethmoidalis Lorong dibawahnya adalah meatus inferior. Disini bermuara celulae ethmoidalis posterior. Diantara atap cavum nasi dan concha superior terdapat recesus spheno-etmoidhalis Ostium sinus sphenoidalis terdapat pada dinding posterior d) Kadang-kadang ada concha keempat yaitu concha suprema

Perdarahan : Arteri yang paling penting pada perdarahan cavum nasi adalah A. Sfenopalatina yang merupakan cabang dari A. Maksilaris dan A. Etmoidale anterior yang merupakan cabang dari A. Oftalmika. Vena tampak sebagai pleksus yang terletak submukosa yang berjalan bersama - sama arteri.

Persyarafan : Anterior cavum nasi dipersyarafi oleh serabut saraf dari N. Trigeminus yaitu N. Etmoidalis anterior. Posterior cavum nasi dipersyarafi oleh serabut saraf dari ganglion pterigopalatinum masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N. Palatina mayor menjadi N. Sfenopalatinus.

3. Mukosa Hidung Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel - sel goblet. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang - kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel goblet. Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Dengan gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung. Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan, radang, sekret kental dan obat obatan. Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan.

II.2. FISIOLOGI HIDUNG Fungsi hidung ialah: 1. Sebagai jalan nafas Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi, udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah, sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring.

2. Pengatur kondisi udara (air conditioning) Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara yang akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan cara : a. Mengatur kelembaban udara.Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. Pada musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari lapisan ini sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya. b. Mengatur suhu.Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas, sehingga

radiasi dapat berlangsung secara optimal.Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih 37o C. 3. Sebagai penyaring dan pelindung Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri dan dilakukan oleh : a. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi b. Silia c. Palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan partikel - partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia. d. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, disebut lysozime. 4. Indra penghirup Hidung juga bekerja sebagai indra penghirup dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik nafas dengan kuat. 5. Resonansi suara Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara sengau. 6. Proses bicara Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m,n,ng) dimana rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle turun untuk aliran udara. 7. Refleks nasal Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh : iritasi mukosa hidung menyebabkan
8

refleks bersin dan nafas terhenti. Rangsang bau tertentu menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas. Rhinorrhea atau rhinorrhoea adalah suatu kondisi di mana rongga hidung dipenuhi dengan sejumlah besar cairan lendir. Kondisi, umumnya dikenal sebagai "meler hidung ", terjadi relatif sering dan biasanya tidak dianggap berbahaya. Rhinorrhea adalah umum gejala dari alergi atau penyakit tertentu, seperti flu biasa atau demam . Ini bisa menjadi efek samping dari menangis, paparan suhu dingin, atau penarikan , seperti dari opioid seperti methadone . Pengobatan untuk Rhinorrhea biasanya tidak diperlukan, tetapi ada sejumlah perawatan medis dan teknik pencegahan yang tersedia. Istilah ini diciptakan pada tahun 1866 dan merupakan kombinasi dari bahasa Yunani istilah "Rhin-" yang berarti "hidung" dan "-rhoia" yang berarti "debit atau aliran". Tanda dan gejala Rhinorrhea dicirikan oleh jumlah kelebihan lendir yang dihasilkan oleh selaput lendir yang melapisi rongga hidung. Membran membuat lendir lebih cepat daripada yang dapat diproses, menyebabkan cadangan dari lendir di rongga hidung. Seperti rongga penuh, itu blok dari jalan udara, menyebabkan kesulitan bernapas melalui hidung. Air terjebak di rongga hidung, yaitu rongga sinus , tidak bisa dilepaskan dan tekanan yang dihasilkan dapat menyebabkan sakit kepala atau nyeri wajah. Jika bagian sinus tetap diblokir, ada kemungkinan bahwa sinusitis bisa terjadi. Jika lendir punggung atas melalui pipa Eustachio , dapat menyebabkan sakit telinga atau infeksi telinga . Lendir yang berlebihan terakumulasi di tenggorokan atau belakang hidung dapat menyebabkan tetes pasca hidung , mengakibatkan sakit tenggorokan atau batuk. Gejala tambahan meliputi bersin , mimisan , dan debit hidung. Penyebab Dingin suhu Rhinorrhea sangat umum selama musim dingin. Dingin diinduksi Rhinorrhea terjadi karena kombinasi termodinamika dan reaksi alami tubuh terhadap rangsangan cuaca dingin. Salah satu tujuan dari lendir hidung adalah untuk menghangatkan udara yang dihirup dengan suhu tubuh karena memasuki tubuh. Agar hal ini terjadi, rongga hidung harus selalu dilapisi dengan lendir cair. Selama dingin, musim kering, lendir yang melapisi saluran hidung cenderung kering, yang berarti bahwa selaput lendir harus bekerja lebih keras, memproduksi lebih banyak lendir untuk menjaga rongga berjajar. Akibatnya, rongga hidung dapat mengisi dengan lendir. Pada saat yang sama, saat udara dihembuskan, uap air mengembun di napas sebagai udara hangat memenuhi dingin suhu di luar dekat lubang hidung. Hal ini menyebabkan jumlah kelebihan air untuk membangun di dalam rongga hidung. Dalam kasus ini, kelebihan cairan biasanya menciprat eksternal melalui lubang hidung. Infeksi Rhinorrhea dapat merupakan gejala penyakit lain, seperti common cold atau influenza. Selama infeksi ini, selaput lendir hidung memproduksi lendir berlebih, mengisi rongga hidung. Hal ini untuk mencegah infeksi dari penyebaran ke paru-paru dan saluran pernapasan, di mana ia dapat menyebabkan kerusakan jauh lebih buruk. rhinorrhea disebabkan oleh infeksi biasanya terjadi pada ritme sirkadian . Selama infeksi virus, sinusitis ,
9

yang peradangan pada jaringan hidung, dapat terjadi, menyebabkan membran mukosa untuk melepaskan lebih banyak lendir. Sinusitis akut terdiri dari saluran hidung bengkak selama infeksi virus. Sinusitis kronis terjadi ketika satu atau lebih polip hidung muncul. Hal ini dapat disebabkan oleh septum menyimpang serta infeksi virus. Alergi Serbuk sari dari berbagai tanaman yang umum dapat menyebabkan reaksi alergi. Rhinorrhea juga dapat terjadi ketika individu yang alergi terhadap zat tertentu, seperti serbuk sari, debu, lateks, kedelai, kerang, atau bulu binatang, terpapar terhadap alergen tersebut. Pada orang dengan sistem kekebalan yang peka, menghirup salah satu zat ini memicu produksi antibodi imunoglobulin E (IgE), yang mengikat sel mast dan basofil . IgE terikat pada sel mast dirangsang oleh serbuk sari dan debu, menyebabkan pelepasan mediator inflamasi seperti histamin . Pada gilirannya, ini penyebab, antara lain, peradangan dan pembengkakan pada jaringan dari rongga hidung serta lendir meningkat produksi. Materi partikulat di udara tercemar dan bahan kimia seperti klorin dan deterjen, yang biasanya bisa ditoleransi, dapat membuat kondisi jauh lebih buruk. lakrimasi Rhinorrhea juga berhubungan dengan air mata shedding, baik dari peristiwa emosional atau dari iritasi mata. Ketika jumlah yang lebih dari air mata yang diproduksi, cairan mengalir melalui sudut dalam kelopak mata , melalui saluran nasolacrimal , dan masuk ke rongga hidung. Seperti air mata lebih adalah gudang, arus lebih cair ke dalam rongga hidung. Penumpukan cairan biasanya diselesaikan melalui pengusiran lendir melalui lubang hidung. Kepala trauma Artikel utama: cairan serebrospinal rhinorrhoea Jika disebabkan oleh cedera kepala, Rhinorrhea dapat kondisi yang jauh lebih serius. Sebuah patah tulang tengkorak basilar dapat mengakibatkan pecahnya penghalang antara rongga sinonasal dan fosa kranial anterior atau fosa kranial tengah . Pecah ini dapat menyebabkan rongga hidung terisi dengan cairan cerebrospinal. Kondisi ini, dikenal sebagai cairan serebrospinal rhinorrhoea atau Rhinorrhea CSF, dapat menyebabkan sejumlah komplikasi yang serius dan kemungkinan kematian jika tidak ditangani dengan benar. Penyebab lain Rhinorrhea dapat terjadi sebagai gejala penarikan opioid disertai lachrymation. Penyebab lain termasuk cystic fibrosis , batuk rejan , tumor hidung, perubahan hormon, dan sakit kepala cluster . Rhinorrhea juga dapat menjadi efek samping dari gangguan genetik beberapa, seperti tardive ciliary primer .

Pengobatan Dalam kebanyakan kasus pengobatan untuk Rhinorrhea tidak perlu dan akan membersihkan sendiri - terutama jika itu adalah gejala dari infeksi. Untuk kasus umum, satu mungkin hanya
10

meniup hidung nya untuk menghilangkan penumpukan lendir. Atau, saline nasal spray dan vasokonstriktor semprotan hidung dapat juga digunakan, tetapi mungkin menjadi kontraproduktif setelah beberapa hari penggunaan, menyebabkan medicamentosa Rinitis . Dalam kasus berulang, seperti karena alergi, ada pengobatan obat tersedia. Untuk kasus yang disebabkan oleh penumpukan histamin, beberapa jenis antihistamin dapat diperoleh relatif murah dari toko obat. Orang-orang yang lebih memilih untuk menjaga saluran hidung yang jelas, seperti penyanyi, yang membutuhkan rongga hidung yang jelas untuk melakukan, dapat menggunakan teknik yang disebut " irigasi hidung "untuk mencegah Rhinorrhea. Irigasi hidung melibatkan membilas rongga hidung secara teratur dengan air asin atau toko membeli garam solusi.

ANAMNESA Banyak hal yang perlu kita tanyakan kepada pasien untuk menentukan diagnose. Ada beberapa pertanyaan diantaranya usia pasien, awalnya keluar ingus atau tidak, sudah lama atau mendadak, sifatnya hilang timbul atau makin buntu, terjadi hanya satu sisi atau dua sisi. Semua pertanyaan ini dapat lebih terarah walaupun hanya dengan keluhan hidung buntu saja. Tapi hidung buntu kadangkala disertai rhinorrhoe, oleh karena itu kedua-duanya saling berkaitan PEMERIKSAAN HIDUNG Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya kelainan hidung, yaitu dengan cara:

1. Pemeriksaan hidung luar


Dilakukan dengan cara inspeksi dan palpasi. Kelainan-kelainanyang mungkin di dapati adalah : kelainan congenital, misalnya agenesis hidung, hidung bifida, atresia sinus anterior, kista dermoid, meningokel dan meningo-ensefalokel. Radang : selulitis, infeksi spesifik (lues,lepra,tuberkulosis) Kelainan bentuk : hidung pelana (saddle nose), hidung betet (hump) Kelainan akibat trauma

11

Tumor : hemangioma, papiloma, basalioma, karsinoma sel skuamosa, tumor atau kista besar berasal dari daerah sinus atau rongga mulut yang mendorong dan mengubah bentuk hidung.

2. Rhinoskopi anterior
Adalah pemeriksaan rongga hidung dari depan dengan memakai speculum hidung. Di belakang vestibulum dapat dilihat bagian dalam hidung. Saluran udara harus bebas dan kurang lebih sama pada kedua sisi. Pada kedua dinding lateral dapat dilihat konka inferior. Hal-hal yang harus diperhatikan pada rhinoskopi anterior : Mukosa Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda. Pada radang berwarna merah, sedangkan pada alergi tampak pucat atau kebiru-biruan (livid) Septum Biasanya terletak di tengah dan lurus. Diperhatikan apakah terdapat deviasi, Krista, spina, perforasi, hematoma, abses dll. Konka Diperhatikan apakah konka besarnya normal (eutrofi), hipertrofi, hipotrofi atau atrofi. Sekret Bila ditemukan secret di dalam rongga hidung , harus diperhatikan banyaknya, sifatnya (serus, mukoid, muko purulen, purulen atau bercampur darah) dan

lokalisasinya (meatus inferior, medius atau superior). Lokasi secret ini penting artinya, sehubungan dengan letak ostium sinus-sinus paranasal dan dengan demikian dapat menunjukkan dari mana secret tersebut berasal. Krusta yang banyak ditemukan pada rhinitis atrofi. Massa Massa yang sering ditemukan di dalam rongga hidung adalah polip dan tumor. Pada anak dapat ditemukan benda asing.

3. Rhinoskopi posterior
Adalah pemeriksaan rongga hidung dari belakang, dengan menggunakan kaca nasofaring. Dengan mengubah-ngubah posisi kaca kita dapat melihat koana, ujung posterior septum, ujung posterior konka, secret yang mengalir dari hidung ke nasofaring (post nasal drip), torus tubanus, ostium tuba dan fossa Rosenmuller.
12

4. Nasoendokopi
Akhir-akhir ini di kembangkan cara pemeriksaan dengan endoskop, disebut nasoendoskopi. Dengan cara ini bagian-bagian rongga hidung yang tersembunyi yang sulit dilihat dengan rhinoskopi anterior maupun rhinoskopi posterior akan tampak lebih jelas.

II.5 PENATALAKSANAAN MEDIS Untuk pengobatan selain disebabkan karena radang akut, maka perlu evaluasi lebih lanjut. Seperti obstruksi nasi pada :

13

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA
1. EFIATY ARSYAD dan ENDANG MANGUNKUSUMO : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia, Jakarta. 2001 hal. 88-95 2. SUNARDI TEDJAMINATA .R dr : Anatomi Hidung, Fisiologi Hidung, Obstruksi Nasi. Fak. Kedokteran Unair / RS. Soetomo. 1972. 3. BOIES, R. L : Staf bagian Otolaryngology 3rd ed. M. D. Peter A. EGC. Jakarta 1994 hal. 173-188 4. www. Knoll.google.com
14

15