Anda di halaman 1dari 3

Begini Cara Singapura Memperoleh Air Bersih

Penulis :Farid Assifa Senin, 13 Mei 2013 | 11:48 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com Berbicara tentang Singapura bukan hanya tentang belanja barang mahal dan kawasan bisnis di Asia Tenggara, melainkan juga tentang kreativitas, ketertiban, disiplin, keharmonisan komunitas, keramahan, dan jiwa sosial. Salah satu kreativitasnya adalah daur ulang air bekas pemakaian masyarakat menjadi air bersih. Setidaknya hal itu berdasarkan pengalaman Kompas.com saat berkunjung ke Singapura dalam program Journalist Visit Programme yang diprakarsai Singapura International Foundation dari Senin, 6 Mei 2013 hingga Jumat, 10 Mei 2013 (selama 5 hari). Hari pertama kunjungan, Senin (6 Mei 2013), rombongan berkunjung ke NEWater Visitor Center di Public Utilities Board (PUB) di Gedung Lingkungan 22-01, 40 Scotts Road, Singapura. Lembaga PUB merupakan agensi air nasional di bawah Kementerian Lingkungan dan Sumber Daya Air. Agensi ini mengelola secara terpadu pasokan air untuk Singapura, penampungan air, dan air bekas pemakaian. Untuk menjamin sebuah pasokan air yang beragam dan berkesinambungan, Singapura mengandalkan Empat Keran Nasional (Four National Taps), yakni resapan air lokal, impor dari Malaysia, daur ulang dengan NEWater, dan desalinasi atau pemurnian air dari kadar garam. Resapan air lokal PUB memiliki tanggung jawab dalam pengumpulan, produksi, distribusi, dan reklamasi air di Singapura. Dalam proses pengumpulan, air hujan dikumpulkan melalui sungai, kanal, dan saluran air, lalu disimpan di 17 waduk (reservoir). Berbagai waduk dihubungkan oleh jaringan pipa sehingga kelebihan air dapat dipompa dari satu waduk ke waduk lainnya. Hal itu untuk

mengoptimalkan kapasitas penyimpanan. Waduk tersebut sekaligus juga untuk mencegah terjadinya banjir ketika hujan. Air dari waduk tersebut kemudian disalurkan ke saluran air untuk disaring. Setelah itu, air yang sudah disaring disimpan dalam waduk tertutup sebelum didistribusikan kepada pelanggan. NEWater Pengelolaan air tidak berakhir sampai di situ. Air bekas pemakaian pelanggan kemudian dikumpulkan lagi melalui sistem pembuangan kotoran dan dibersihkan di pabrik reklamasi air. Bagi Singapura, air bekas pemakaian bisa menjadi sumber daya untuk diolah kembali menjadi air bersih. Pengolahan air bekas pemakaian menggunakan teknologi membran canggih dan ultraviolet yang disebut NEWater. Air yang dihasilkan pun kembali murni, bahkan sangat murni. Air yang sangat murni ini sehat untuk diminum, dan rasanya hambar. "Oleh karena itu, sebagian besar air hasil NEWater ini biasanya disalurkan ke pabrik-pabrik yang membutuhkan air murni. Sisanya dicampur dengan air dari waduk, lalu diolah kembali dan didistribusikan ke masyarakat untuk siap diminum," kata George Madhavan, Direktur 3P Network Departement, kepada rombongan saat mengunjungi gedung NEWater Visitor Center. Gedung ini semacam tempat penerangan tentang pengelolaan air yang dikemas seperti pameran. Di dalamnya terdapat gambar-gambar serta replika teknologi yang diterapkan di NEWater. George menjelaskan, NEWater mampu menyumbang pasokan air bersih 30 persen dari total 273.000 meter kubik (60 juta galon) kebutuhan air masyarakat Singapura pada 2013. "Kami menargetkan pada 2060, NEWater bisa memenuhi 50 persen kebutuhan air bagi masyarakat Singapura," kata George. Impor dari Malaysia

Selain dari resapan air lokal dan NEWater, Singapura juga mengimpor dari Johor, Malaysia. George menyatakan, kerja sama air antara Singapura dan Malaysia diwujudkan dalam dua perjanjian bilateral. Perjanjian pertama berakhir pada Agustus 2011 dan perjanjian kedua berlaku hingga 2061. Meski demikian, kata George, pihaknya terus berusaha agar ketergantungan air terhadap negara tetangga dikurangi. Caranya dengan menggenjot sumber daya di Singapura, salah satunya NEWater yang ditargetkan memenuhi 50 persen kebutuhan air. Desalinasi air Singapura juga memanfaatkan sumber daya air laut untuk pemenuhan air bersih bagi rakyatnya. Air laut disaring dengan proses desalinasi. Desalinasi adalah proses pemisahan yang digunakan untuk mengurangi kandungan garam terlarut dari air garam hingga level tertentu sehingga air dapat digunakan. George Madhavan menyebutkan, pabrik desalinasi pertama Singapura adalah SingSpring Desalination Plant yang mulai beroperasi di Tuas pada September 2005. Pabrik ini merupakan proyek kemitraan pertama di Singapura antara negara dan pihak swasta. Menurut George, SingSpring mampu menghasilkan air bersih 30 juta galon atau 136.000 meter kubik per hari dan merupakan salah satu pabrik desalinasi terbesar di kawasan tersebut. Pabrik desalinasi kedua akan dibangun pada tahun ini. Pabrik ini diharapkan mampu menambah pasokan air menjadi 70 juta galon atau 318.500 meter kubik per hari. "Pada tahun 2060, air desalinasi diharapkan mampu memenuhi 30 persen kebutuhan air di Singapura," harapnya.