Anda di halaman 1dari 30

Referat herpes simpleks

REFERAT PENYAKIT HERPES SIMPLEKS

Disusun oleh : Muizzudin bin Ali 11 2011 161 Pembimbing : Dr Endang Soekmawati Sp KK

BAGIAN KULIT KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA RUMAH SAKIT UMUM MARDI RAHAYU

Referat herpes simpleks

Daftar isi
Latar belakang Pendahuluan Definisi dan sinonim 3 5 6

Epidemiologi Etiologi Cara penularan Patofisiologi Pemeriksaan Diagnosis Penatalaksanaan Pencegahan Komplikasi Prognosis

7 9 10 12 13 22 24 28 30 31

Latar belakang1
2

Referat herpes simpleks

Penyakit menular sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Insidens maupun prevalensi yang sebenarnya di berbagai negara tidak diketahui dengan pasti. World Health Organization (WHO) memperkirakan pada tahun 1999 di seluruh dunia terdapat sekitar 340 juta kasus baru penyakit menular yang salah satunya adalah penyakit herpes. Penyakit herpes ini disebabkan oleh virus Herpes simpleks (HSV) tipe 1 dan tipe 2. Penyakit herpes adalah penyakit yang sangat umum. Di Amerika Serikat kurang lebih 20 persen orang di atas usia 12 tahun terinfeksi virus herpes simpleks, dan diperkirakan ada satu juta infeksi baru setiap tahun. Angka prevalensi infeksi HSV sudah meningkat secara bermakna selama dasa warsa terakhir. Sekitar 80 persen orang dengan HIV juga terinfeksi herpes kelamin. Infeksi HSV-2 lebih umum pada perempuan. Di Amerika Serikat kurang lebih satu dari empat perempuan dan satu dari lima laki-laki terinfeksi HSV-2. HSV berpotensi menyebabkan kematian pada bayi yang terinfeksi. HSV paling mungkin kambuh pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Ini termasuk orang dengan HIV, dan siapapun berusia di atas 50 tahun. Beberapa ilmuwan juga berpendapat bahwa penyakit lebih mungkin kambuh pada orang yang sangat lelah atau mengalami banyak stres. HSV tidak termasuk infeksi yang mendefinisikan AIDS. Namun orang yang terinfeksi dengan HIV dan HSV bersamaan biasanya mengalami jangkitan herpes kambuh lebih sering. Jangkitan lebih parah dan bertahan lebih lama dibanding dengan orang HIV-negatif. Di Indonesia, sampai dengan saat ini belum diketahui yang terinfeksi oleh virus herpes. Akan tetapi, menurut hasil survei yang dilakukan oleh Direktorat Jendral Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPMPL) Departemen Kesehatan pada beberapa kelompok perilaku risiko tinggi, tampak bahwa banyak masyarakat kita yang terinfeksi oleh HIV. Hal ini akan menjadi penyebab terjangkitnya penyakit herpes, disamping itu dengan kemajuan sistem transportasi pada saat ini, tidak menutup kemungkinan virus herpes bisa mewabah di Indonesia. Untuk itu, diperlukan usaha pencegahan yang bisa diterapkan untuk mencegah masuknya virus Herpes di Indonesia mengingat virus ini sangat mudah menular dan pengobatan yang dilakukan kepada masyarakat kita jika sudah terinfeksi oleh virus Herpes.

Referat herpes simpleks

Pendahuluan1
Herpes simplex virus (HSVs) adalah virus DNA yang menyebabkan infeksi kulit akut dan muncul sebagai vesikel dengan dasar eritematosa. Jarang sekali virus ini dapat menyebabkan penyakit serius dan dapat mempengaruhi kehamilan, menyebabkan kerusakan signifikan terhadap janin. Kebanyakan infeksi adalah infeksi yang berulang dan cenderung untuk kembali pada atau dekat lokasi yang sama. Herpes labialis adalah infeksi paling umum disebabkan oleh HSV tipe 1 (HSV-1), sedangkan herpes genital biasanya disebabkan oleh HSV tipe 2 (HSV-2). Manifestasi klinis lain dari infeksi HSV adalah kurang umum.
4

Referat herpes simpleks

Definisi2
Infeksi akut yang disebabkan virus herpes simpleks (virus heper hominis) tipe I atau tipe II ditandai oleh vesikel berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa daerah mukokutan, sedangkan infeksi dapat berlangsung primer maupun rekurens.

Sinonim
Fever blister, cold sore, herpes febrilis, herpes labialis, herpes progenitalis (genitalis)

Referat herpes simpleks

Epidemiologi1,2
Frekuensi Internasional Bukti serologis infeksi HSV-1 pada dewasa muda berkisar antara 56-85%, bervariasi menurut negara. Seroprevalensi HSV-2 telah dilaporkan bervariasi 13-40% di seluruh dunia. Lebih dari sepertiga populasi dunia telah infeksi klinis berulang HSV. Di negara membangun, HSV-2 adalah penyebab umum dari penyakit ulkus kelamin, terutama di negara-negara dengan prevalensi tinggi infeksi HIV. Studi internasional menunjukkan bahwa prevalensi pada orang koinfeksi dengan HIV hampir 90% untuk HSV-1 dan 77% untuk HSV-2. Umur Frekuensi infeksi HSV-1 pada anak bervariasi dengan status sosial ekonomi. Kira-kira, sepertiga anak-anak dari keluarga sosial ekonomi yang rendah menunjukkan beberapa bukti infeksi HSV-1 pada usia 5 tahun. Frekuensi meningkat menjadi 70-80% oleh awal remaja / dewasa. Sebaliknya, hanya 20% dari anak-anak dari keluarga kelas menengah seroconvert.
6

Referat herpes simpleks

Frekuensi infeksi tetap cukup stabil sampai dekade ketiga kehidupan ketika itu meningkat menjadi 40-60%. tingkat serokonversi HSV-2 tertinggi pada orang dewasa muda yang aktif secara seksual. Jenis Kelamin Frekuensi antibodi HSV-1 dan HSV-2 sedikit lebih tinggi pada wanita dibandingkan pada pria. Namun, wanita lebih mungkin dilindungi dari infeksi HSV genital dibandingkan pria untuk dengan menggunakan metode penghalang. Dalam studi lebih dari 600 wanita hamil, 63% adalah seropositif untuk HSV-1, 22% untuk HSV-2, dan 13% untuk kedua, dan 28% adalah seronegatif. Ras Ras non-kulit putih dan yang telah memiliki 4 atau lebih pasangan seksual berkorelasi independen dengan peningkatan infeksi HSV-2. Wanita non-Hispanik kulit putih hamil memiliki persentase tertinggi seronegativity untuk kedua HSV 1 dan HSV-2. Namun, kelompok ini memiliki resiko tertinggi memiliki anak dengan herpes neonatal, menunjukkan kerentanan mereka terhadap infeksi baru HSV selama trimester ketiga kehamilan mereka (seorang ibu yang paling mungkin untuk menularkan infeksi kepada bayinya.) [4]

Referat herpes simpleks

Etiologi2

HSV-1 dan HSV-2 adalah virus DNA yang menyebabkan herpes genital, herpes labialis, herpes gladiatorum, herpes whitlow, herpes keratoconjunctivitis, herpeticum eczema, herpes folikulitis, herpes lumbosakral, herpes diseminata, herpes neonatal, dan herpes ensefalitis. Mereka juga terkait dengan beberapa kasus eritema multiforme. Penyakit demam, paparan sinar ultraviolet, trauma, infeksi saluran pernafasan atas, atau stres emosional dapat memicu herpes labialis berulang karena HSV-1.

Lokasi geografis pasien, status sosial ekonomi, dan umur mempengaruhi frekuensi infeksi HSV-1. Prevalensi tertinggi antibodi terhadap HSV-2 terjadi pada PSK wanita, laki-laki homoseksual, dan orang yang HIV-positif.

Referat herpes simpleks

Cara Penularan3
Seorang individu dapat terkena infeksi HSV karena adanya transmisi dari seorang individu yang seropositif di mana transmisi tersebut dapat berlangsung horisontal atau vertikal. Perbedaan nya adalah : Hosrisontal Transmisi secara horisontal terjadi ketika seorang individu yang seronegatif berkontak dengan individu yang seropositif melalui vesikel yang berisi virus aktif (81%-88%), ulkus atau lesi HSV yang telah mengering (36%) dan dari sekresi cairan tubuh yang lain seperti salivi, semen, cairan genital (3,6%-25%). Adanya kontak bahan-bahan tersebut dengan kulit dan mukosa yang luka atau pada beberapa kasus kulit atau mukosa tersebut intak maka virus dapat masuk ke dalam tubuh host yang baru dan mengadakan multiplikasi pada inti sel yang baru saja di masukinya untuk selanjut nya menetap seumur hidup dan sewaktu-waktu dapat menimbulkan gejala khas yaitu timbulnya lesi vesikel berkelompok dengan dasar eritem. Vertikel Transmisi HSV secara vertikal terjadi pada neonatus baik itu pada periode antenatal, intrapartum dan postnatal. Periode antenatal bertanggungjawab terhadap 5% dari kasus HSV pada neonatal. Transmisi ini terjadi pada saat ibu mengalami infeksi primer dan virus berada dalam fase viremia sehingga secara hematogen virus tersebut masuk ke dalam plasenta mengikuti sirkulasi uteroplasenta akhirnya menginfeksi fetus. Periode infeksi primer ibu juga berpengaruh terhadap prognosis bayi, apabila infeksi terjadi pada trimester pertama, biasanya akan terjadi abortus. Pada trimester kedua terjadi kelahiran prematuritas. Bayi dengan infeksi HSV antenatal mempunyai angka mortalitas 60% dan separoh dari yang hidup tersebut mengalami gangguan SSP dan mata. Infeksi primer yang terjadi pada trimester ketiga akan memberikan prognosis yang lebih buruk karena tubuh belum membentuk antibodi (terbentuk 3-4 minggu setelah virus masuk tubuh host) untuk selanjutnya disalurkan kepada fetus sebagai suatu antibodi neutralisasi transplasental dan hal ini akan mengakibatkan 30%-57% bayi yang
9

Referat herpes simpleks

dilahirkan terinfeksi HSV dengan berbagai komplikasi (mikrosefali, hidrosefalus, Kalsifikasi intrakranial, chorioretinis dan ensefalitis). 90% infeksi HSV neonatal terjadi saat intrapartum yaitu ketika bayi melalui jalan lahir dan berkontak dengan lesi maupun cairan genital ibu. Ibu dengan infeksi primer mampu menularkan HSV pada neonatus 50% dan infeksi laten 35% dan infeksi rekurren 0-4%. Periode postnatal bertanggungjawab terhadap 5-10% kasus infeksi HSV pada neonatal. Infeksi ini terjadi karena adanya kontak antara neonatus dengan ibu yang terinfeksi HSV dan juga kontak neonatus dengan tenaga kesehatan yang terinfeksi HSV.

Patofisiologi1,3
Kontak intim antara orang-orang yang rentan (tanpa antibodi terhadap virus) dan seorang individu yang secara aktif menularkan virus atau kontak dengan cairan tubuh yang mengandung
10

Referat herpes simpleks

virus adalah dibutuhkan untuk infeksi HSV terjadi. Kontak harus melibatkan selaput lendir atau kulit terbuka atau terkelupas. HSV menyerang dan mereproduksi di neuron dan dalam sel epidermal dan dermal. Virion bermigrasi dari lokasi awal infeksi pada kulit atau mukosa ke ganglion akar dorsal sensorik, dimana latensi didirikan. Replikasi virus di ganglia sensoris menyebabkan berjangkitnya penyakit klinis berulang. Wabah ini dapat disebabkan oleh berbagai rangsangan, seperti trauma, radiasi ultraviolet, suhu ekstrim, stres, imunosupresi, atau fluktuasi hormon. Pelepasan virus, yang menyebabkan transmisi mungkin terjadi selama infeksi primer, selama rekurensi berikutnya, dan selama periode shedding virus asimptomatis. HSV-1 paling efisien mengaktifkan kembali dari ganglia trigeminal (mempengaruhi wajah, dan mukosa orofaringeal dan okular), sedangkan HSV-2 memiliki reaktivasi yang lebih efisien dalam lumbosakral ganglia (mempengaruhi pinggul, pantat, alat kelamin, dan anggota tubuh lebih rendah). Perbedaan klinis dalam reaktivasi spesifik lokasi HSV-1 dan HSV-2 tampaknya karena, di bagian, masing-masing virus untuk membentuk infeksi laten pada populasi yang berbeda dari neuron ganglionic.

Pemeriksaan2,3

Anamnesa Infeksi primer dengan virus herpes simpleks (HSVs) secara klinis lebih berat dari wabah berulang. Namun, infeksi HSV-1 dan HSV-2 yang paling primer mungkin subklinis dan tidak pernah secara klinis didiagnosis.
11

Referat herpes simpleks

Herpes orolabial: labialis herpes (misalnya, cold sores, fever blisters) paling sering dikaitkan dengan infeksi HSV-1. Lesi oral disebabkan oleh HSV-2 telah diidentifikasi, biasanya sekunder dari kontak orogenital. Infeksi HSV-1 primer seringkali terjadi pada masa kanak-kanak dan biasanya tanpa gejala.
o

Infeksi primer: Tempat predileksi Hirus Herpes simpleks I di daerah pinggang ke atas terutama di daerah mulut dan hidung dan biasa nya di mulai masa anak-anak. Inokulasi dapat terjadi secara kebetulan misalkan kontak kulit pada perawat, dokter gigi atau orang yang suka menggigit jari (Herpetis Whitlow). Virus ini juga penyebab herpes ensefalitis. Virus Herpes simpleks II tempat predileksi nya di daerah pinggang ke bawah terutama daerah genital juga menyebabkan herpes meningitis dan infeksi neonatus. Daerah predileksi ini sering kacau dengan cara hubungan seksual seperti oro-genital sehingga herpes daerah genital kadang disebabkan Virus Herpes Simpleks I sedangkan daerah mulut disebabkan Virus Herpes Simpleks II. Infeksi primer berlangsung lebih lama dan lebih berat kira-kira 3 minggu dan sering disertai gejala sistemik seperti demam, malaise, anoreksia dan pembengkakan kelenjar getah bening regional. Kelaianan klinis yang dijumpai berupa vesikel berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seropurulen dan dapat menjadi krusta dan kadang mengalami ulserasi dangkal yang sembuh tanpa sikatriks. Pada perabaan tidak terdapat indurasi. Umumnya terdapat pada orang yang kekurangan antibodi virus herpes simpleks. pada serviks. Gejala-gejala herpes labialis mungkin termasuk demam prodrom, diikuti dengan sakit tenggorokan dan mulut dan submandibular atau limfadenopati servikal. Pada anak-anak, gingivostomatitis dan odynophagia juga diamati.
12

Pada

wanita,80% infeksi Virus Herpes Simpleks pada genitalia eksterna disertai infeksi

Referat herpes simpleks

Laten : Tidak ditemukan gejala klinis tetapi Virus Herpes Simpleks dapat ditemukan dalam keadaan non aktif pada gangglion dorsalis.

Rekurensi: Virus Herpes Simpleks pada gangglion dorsalis dalam keadaan tidak aktif dengan mekanisme pacu menjadi aktif dan mencapai kulit sehingga menimbulkan gejala. Mekanisme pacu dapat berupa trauma fisis (demam,infeksi, kurang tidur, hubungan seksual), trauma psikis (gangguan emosional, menstruasi) atau makanan dan minuman yang merangsang. Gejala lebih ringan dari infeksi primer dan berlangsung kira-kira 7 sampai 10 hari. Sering ditemukan gejala prodromal lokal sebelum timbul vesikel berupa rasa panas, gatal dan nyeri. Infeksi rekurens ini bisa timbul pada tempat yang sama atau tempat lain nya. Penyakit ini masih aktif untuk jumlah waktu yang variabel. Reaktivasi HSV-1 di ganglia sensoris trigeminal menyebabkan kekambuhan di wajah dan mukosa oral, bibir, dan okular.

Herpes genitalis: HSV-2 telah diidentifikasi sebagai penyebab paling umum dari herpes genital. Namun HSV-1 telah diidentifikasi semakin meningkat sebagai agen penyebab pada 30% kasus infeksi herpes genital primer dari dua kemungkinan kontak orogenital. Infeksi herpes genital berulang hampir secara eksklusif disebabkan oleh HSV-2.
o

Infeksi primer: herpes genital primer terjadi dalam waktu 2 hari sampai 2 minggu setelah terpapar virus dan memiliki manifestasi klinis yang paling parah. Gejala dari episode primer biasanya berlangsung 2-3 minggu.

Pada pria, lesi vesikuler yang nyeri, erythematous, yang membentuk ulkus paling sering terjadi pada penis, tetapi mereka juga dapat terjadi di anus dan perineum. Pada wanita, herpes genital primer terlihat sebagai vesikular /ulkus lesi pada serviks dan vesikel yang nyeri pada genitalia eksternal bilateral. Ia juga dapat terjadi pada vagina, perineum,

13

Referat herpes simpleks

bokong, dan kaki pada distribusi saraf sakral. Gejala yang menyertai termasuk demam, malaise, edema, limfadenopati inguinal, disuria, dan cairan vagina, atau penis.

Wanita juga bisa mendapat radikulopati lumbosakral, dan sebanyak 25% dari wanita dengan infeksi primer HSV-2 mungkin terkena associated aseptik meningitis.
o

Rekurensi: Setelah infeksi primer, virus akan laten selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun sampai rekurensinya kembali dipicu. Reaktivasi HSV-2 di ganglia lumbosakral menyebabkan kekambuhan di bawah pinggang. Outbreak klinis, biasanya lebih ringan dan sering didahului oleh rasa sakit, gatal, kesemutan terbakar, atau paresthesia yang prodormal.

Orang yang terkena HSV dan infeksi primer asimtomatik dapat mengalami sebuah episode klinis awal herpes genital dapat bulan hingga tahunan setelah infeksi. Episode tidak begitu separah seperti wabah utama sejati.

Lebih dari setengah individu yang seropositif HSV-2 tidak memiliki wabah klinis yang jelas. Namun, orang-orang ini masih memiliki episode shedding virus dan dapat menularkan virus ke pasangan seks mereka.

Infeksi HSF lain


o

Eczema herpeticum lokal atau diseminata, juga dikenal sebagai erupsi Kaposi varicelliform. Disebabkan oleh HSV-1, eczema herpeticum adalah varian dari infeksi HSV yang biasanya berkembang pada pasien dengan dermatitis atopik, luka bakar, atau kondisi kulit inflamasi. Anak-anak paling sering terkena.

Herpes whitlow, wabah vesikel di tangan dan digiti, paling sering disebabkan oleh infeksi HSV-1. Ini biasanya terjadi pada anak-anak yang menghisap jempol dan, sebelum meluasnya penggunaan sarung tangan, terhadap pekerja kesehatan gigi dan perawatan medis. Terjadinya herpes whitlow karena HSV-2 semakin dikenal, mungkin karena kontak yang digiti-genital.
14

Referat herpes simpleks

Herpes gladiatorum disebabkan oleh HSV-1 dan dilihat sebagai erupsi papular atau vesikel pada torsos atlet dalam olahraga yang melibatkan kontak fisik dekat (gulat klasik).

Infeksi HSV disseminasi (yang menyebar) dapat terjadi pada wanita yang sedang hamil dan individu immunocompromised. Pasien-pasien ini mungkin diketemukan dengan tanda-tanda dan gejala HSV atipikal, dan kondisi yang mungkin sulit untuk mendiagnosa.

HSV Neonatus
o

Infeksi HSV-2 pada kehamilan dapat memiliki pengaruh yang sangat buruk pada janin. HSV neonatal biasanya bermanifestasi dalam 2 minggu pertama kehidupan dari batasan klinis lokal kulit, mukosa, atau infeksi mata sehingga ensefalitis, pneumonitis, penyebaran infeksi, dan kematian.

Kebanyakan wanita yang melahirkan bayi dengan HSV neonatal tidak memiliki riwayat, tanda, atau gejala infeksi HSV sebelumnya. Risiko penularan tertinggi pada wanita hamil yang seronegatif untuk kedua HSV 1 dan HSV-2 dan mendapatkan infeksi HSV baru pada trimester ketiga kehamilan.

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko penularan dari ibu ke bayi termasuk jenis infeksi kelamin pada saat kelahiran (risiko lebih tinggi dengan infeksi primer aktif), lesi aktif, ketuban pecah lama, kelahiran pervaginam, dan kurangnya antibodi transplasenta. Angka kematian neonatal sangat tinggi (> 80%) jika tidak diobati.

Herpetic sycosis, iaitu infeksi folikel dengan HSV, dapat hadir sebagai erupsi vesiculopustular pada daerah jenggot. Infeksi ini sering terjadi karena autoinokulasi setelah mencukur melalui wabah herpes rekuren. Penyebab klasik oleh HSV-1, ada laporan langka folikulitis jenggot relaps (relapsing beard folliculitis) disebabkan oleh HSV tipe 2. [6]

15

Referat herpes simpleks

Pemeriksaan fisik

Infeksi klinis HSV muncul sebagai vesikel berkelompok dengan dasar eritem. Ia sering berkembang menjadi lesi pustul atau ulkus, dan mereka akhirnya membentuk krusta. Lesi HSV cenderung berulang pada atau dekat lokasi dengan distribusi saraf sensorik yang sama. Gejala sistemik seperti demam, malaise, dan toksisitas akut, dapat menyertai lesi, khususnya di infeksi primer. Setiap kondisi memiliki gejala yang terkait dan temuan klinis (lihat anamnesa).
o

Meskipun infeksi HSV dapat terjadi di manapun pada tubuh, 70-90% dari HSV-1 infeksi terjadi di atas pinggang. Sebaliknya, 70-90% dari HSV-2 infeksi terjadi di bawah pinggang.

Manifestasi fisik infeksi HSV pada pasien immunocompromised biasanya sama dengan pada pasien sehat. Namun, lesi yang lebih besar atau ulkus nekrotik mungkin terjadi, dan daerah yang besar mungkin terlibat.

HSV neonatal mungkin sulit untuk didiagnosis karena, seringkali, tidak ada lesi mukokutan yang hadir pada pemeriksaan fisik. kesulitan bernapas, sakit kuning, dan kejang dapat terjadi.

Pemeriksaan laboratorium 1. Tes virologi Tes viral secara kultur dibuat dengan mengambil sampel cairan dari lesi atau kultur sedini mungkin, idealnya dalam 3 hari pertama dari penampakan lesi. Virus, jika ada, akan bereproduksi dalam sampel cairan ini namun mungkin berlangsung selama 1 - 10 hari untuk melakukannya. Jika infeksi parah, teknologi pengujian dapat mempersingkat masa ini sampai 24 jam, tapi mempercepat jangka waktu selama tes ini dapat membuat hasil kurang akurat. Kultur virus sangat akurat jika lesi masih dalam tahap lecet jelas, tetapi mereka tidak bekerja sebagai ulserasi yang lama baik untuk luka, lesi yang kambuh, atau latensi. Pada tahap ini virus mungkin tidak cukup aktif untuk mereproduksi cukup untuk menghasilkan sebuah kultur yang terlihat

16

Referat herpes simpleks

Polymerase chain reaction (PCR) Tes jauh lebih akurat daripada kultur virus, dan CDC merekomendasikan tes ini untuk mendeteksi cairan herpes di tulang belakang ketika diagnosis herpes ensefalitis. PCR dapat membuat transkripsi virus DNA sehingga bahkan sejumlah kecil DNA dalam sampel dapat dideteksi. PCR jauh lebih mahal daripada kultur virus dan tidak disetujui FDA untuk pengujian spesimen kelamin. Namun, karena PCR sangat akurat, banyak laboratorium telah menggunakannya untuk pengujian herpes. Jenis pengujian lainnyya yaitu tes Tzanck smear merupakan jenis pengujian yang lebih tua dibandingkan tes virologi. Pengujian ini menggunakan teknik gores (scraping) dari lesi herpes. Hasil goresan diperiksa secara mikroskopis untuk melihat virus. Temuan spesifik sel raksasa dengan banyak nuklei atau partikel yang berbeda yang membawa virus (disebut inklusi tubuh) mengindikasikan infeksi herpes. Tes cepat dengan keakuratan 50 - 70% , Namun, tidak dapat membedakan antara jenis virus herpes simplex dan herpes zoster. Tes Tzanck tidak dapat diandalkan untuk menyediakan diagnosis konklusif infeksi herpes dan tidak direkomendasikan oleh CDC. 2. Tes Serologi Tes serologi (darah) dapat mengidentifikasi antibodi yang spesifik terhadap virus dan jenis virus herpes simpleks 1 (HSV-1) atau virus herpes simpleks 2 (HSV-2). Ketika virus herpes menginfeksi seseorang, sistem kekebalan tubuh mereka menghasilkan antibodi spesifik untuk melawan infeksi. Jika tes darah dapat mendeteksi antibodi terhadap herpes, itulah bukti bahwa telah terinfeksi virus, walaupun virus ini dalam keadaan non-aktif (tidak aktif). Kehadiran antibodi terhadap herpes juga menunjukkan bahwa seorang adalah pembawa virus dan mungkin menularkan kepada orang lain. Jenis tes antibodi spesifik terbaru untuk dua protein yang berbeda yang berkaitan dengan virus herpes adalah Glikoprotein gg-1 berhubungan dengan HSV-1 Glikoprotein gg-2 berhubungan dengan HSV-2

17

Referat herpes simpleks

Tes serologi yang paling akurat ketika diberikan 12-16 minggu setelah terpapar virus. Fitur tes meliputi: a. HerpeSelect Mencakup dua tes yaitu ELISA (enzyme-linked Immunosorbent assay) atau Immunoblot. Keduanya sangat akurat dalam mendeteksi kedua jenis herpes simplex virus. Sampel harus dikirim ke laboratorium, jadi untuk mengetahui hasilnya memakan waktu lebih lama daripada Biokit tes. b. Biokit HSV-2 (SureVue HSV-2) Tes ini mendeteksi HSV-2 saja. Keunggulan utamanya adalah tes ini hanya membutuhkan satu jari untuk diambil sampel darahnya dengan cara ditusuk dan hasil bisa didapatkan dalam waktu kurang dari 10 menit. Tes ini sangat akurat, meskipun sedikit lebih rendah daripada tes lainnya dan juga lebih murah. c. Western Blot Test Tes Ini merupakan standar terbaik bagi para peneliti dengan tingkat akurasi 99%. Tes ini mahal dan memakan waktu dan tidak tersedia secara luas seperti tes lainnya. Hasil negatif palsu dapat terjadi jika tes dilakukan pada tahap awal infeksi. Hasil positif palsu dapat juga terjadi, meskipun lebih jarang daripada negatif palsu. Dokter mungkin menyarankan melakukan tes ulang. Dokter menyarankan tes serologi terutama untuk Orang-orang yang telah berulang gejala genital tetapi tidak ada virus herpes negatif dalam tes kultur viral. Memantapkan infeksi pada orang yang memiliki gejala terlihat genital herpes Menentukan jika mitra sex seseorang didiagnosa menderita genital herpes telah diketahui. Orang yang memiliki banyak pasangan seks dan yang perlu diuji untuk berbagai jenis

penyakit menular seksual 3. Tes untuk Herpes Encephalitis


18

Referat herpes simpleks

Diperlukan sejumlah tes untuk mendiagnosa encefalitis herpes. a. Tes pencitraan Elektroensefalografi menangkap jejak gelombang otak dan dapat mengidentifikasi sekitar 80% dari kasus. Computed tomography atau magnetic resonance imaging scan dapat digunakan untuk membedakan ensefalitis dari kondisi lain. b. Biopsi otak Biopsi otak adalah metode yang paling dapat diandalkan untuk mendiagnosa herpes ensefalitis, tetapi juga yang paling invasif dan umumnya dilakukan hanya jika diagnosis tidak pasti. c. Polymerase Chain Reaction (PCR) Polymerase chain reaction (PCR) assay mencari potongan-potongan kecil dari DNA virus, dan kemudian bereplikasi mereka jutaan kali sampai virus terdeteksi. Tes ini dapat mengidentifikasi strain spesifik virus dan pelepasan virus asimtomatik. PCR Mengidentifikasi HSV di cairan tulang punggung ke otak dan memberikan diagnosis yang cepat herpes ensefalitis dalam kebanyakan kasus menghilangkan keharusan untuk biopsi. CDC merekomendasikan herpes PCR untuk mendiagnosis infeksi sistem saraf pusat. Temuan histologi Sel yang terinfeksi dengan HSV menunjukkan degenerasi balon dan degenerasi retikuler epidermis; acantholysis epidermal dan intraepidermal vesikel yang umum. Badan inklusi intranuklear, inti steel-grey, keratinosit giant multinuklear, dan vesikel multilocular juga bisa ditemukan.

19

Referat herpes simpleks

Diagnosis 1
Diagnosis klinis Tipe awitan, gejala konstitusi yang klasik, distribusi dan gambaran lesi yang khas berupa ulserasi oral superfisial, bentuk bulat, multipel, bersifat akut dan ada nya ginggivitis marginal generalisata pada pemeriksaan fisis, ditunjang oleh tidak adanya riwayat episode herpes sebelumnya, serta adanya riwayat terpajan HSV I membantu menegakkan diagnosis ginggivostomatitis herpetika primer. Herpes orofasial tipe ini perlu dibedakan dengan hand-footmouth-disease, herpangina, eritema multiformis, pemfigus vulgaris, acute necrotizing ulcerative ginggivitis. Herpes intraoral didiagnosis banding dengan stomatitis aftosa rekuren dan herpes zoster intraoral. Infeksi HSV genital perlu didiagnosis banding dengan penyebab ulkus genital lain nya baik berupa infeksi maupun bukan infeksi. Bila terdapat kelompokan vesikel multipel atau bila terdapat riwayat lesi sebelumnya yang berukuran sama, lama timbulnya dan sifat nya sama maka kemungkinan besar penyebabnya adalah HSV. Diagnosis banding HSV genital adalah ulkus pada sifilis, chancroid, linfogranuloma venerum, donovanosis, non infeksi penyakit Crohn, ulserasi mukosa yang dihubungkan dengan sindrom Behcet. Diagnosis laboratorium
1. Tes Tzank dwarnai dengan pengecatan Giemsa atau Wright terlihat sel raksasa berinti

banyak. Pemeriksaan ini tidak sensitif dan tidak spesifik.

20

Referat herpes simpleks

2. Kultur virus. Sensitivitasnya rendah ddan menurun dengan cepat saat lesi menyembuh. 3. Deteksi DNA HSV Virus dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) lebih sensitif

berbanding kultur virus.


4. Tes serologik IgM dan IgG tipe spesifik. IgM baru dapat dideteksi setelah 4-7hari infeksi,

mencapai puncak 2-4 minggu dan menetap 2-3 bulan bahkan sampai 9 bulan. Sedangkan IgG baru dapat dideteksi setelah 2-3 minggu infeksi, mencapai puncak setelah 4-6 minggu infeksi dan menetap lama bahkan seumur hidup. Antibodi IgM dan IgG hanya memberi gambaran keadaan infeksi akut atau kronik dari penyakit herpes genitalis. Tidak ditemukan antibodi HSV pada sampel serum akut dan ditemukannya IgM spesifik HSV atau peningkatan 4 kali antibodi IgG selama fase penyembuhan menunjukkan HSV primer. rekurren. Ditemukannya IgG anti HSV pada serum akut, IgM spesifik HSV dan peningkatan IgG anti HSV selama fase penyembuhan merupakan diagnostik infeksi HSV

Diagnosis differensial
Herpes Zoster Syphilis Hand-Foot-and-Mouth Disease Aphthous Stomatitis Chancroid Chickenpox Erythema Multiforme

21

Referat herpes simpleks

Penatalaksanaan4
Sebagian besar herpes simplex virus (HSV) infeksi adalah self-limited. Namun, terapi antiviral memperpendek gejala dan dapat mencegah penyebaran dan transmisi. Obat antivirus intravena dan oral, yang tersedia untuk pengobatan HSV dan yang paling efektif bila digunakan pada awal gejala. Terapi oral dapat diberikan selama episode atau sebagai terapi supresan kronis. Pengobatan herpes labialis dan herpes genitalis umumnya terdiri dari asiklovir oral, prodrug valacyclovir, dan famciclovir. Obat antivirus oral, acyclovir, valacyclovir, dan famciclovir, dapat digunakan (off label) sebagai terapi untuk kondisi HSV tidak rumit lain (misalnya, herpes whitlow), dan dosis yang sama seperti yang digunakan untuk pengobatan herpes genitalis umumnya direkomendasikan. Perawatan topikal tersedia secara komersial untuk herpes adalah jauh kurang efektif dibandingkan terapi oral. Dalam sebuah studi double-blind, kombinasi kepemilikan asiklovir 5% dan 1% hydrocortisone dioleskan 5 kali per hari pada kemunculan tanda-tanda awal cold sore rekuren untuk mencegah rekurensi 42% dari waktu, dibandingkan dengan 35% untuk asiklovir topikal saja dan 26% untuk plasebo. Infeksi HSV rumit (complicated), kulit dan atau penyebaran visceral, HSV neonatal, dan infeksi berat pada mereka dengan immunocompromised harus ditangani dengan acyclovir intravena. Pada pasien immunocompromised dan mengalami infeksi berulang HSV, strain HSV acyclovir-resistant telah diidentifikasi, dan pengobatan dengan foskarnet intravena atau sidofovir dapat digunakan. Penggunaan foskarnet topikal juga telah dilaporkan. Konsultasi Konsultasikan dengan dokter kulit dan spesialis penyakit menular dalam kasus-kasus infeksi rumit atau asiklovir-resistent.

22

Referat herpes simpleks

Aktivitas Menghindari pemicu yang diketahui berhubungan dengan kekambuhan HSV, seperti sinar UV dan merokok, dapat mengurangi jumlah wabah yang dialami oleh individu. Ringkasan pengobatan Acyclovir merupakan analog 2'-deoxyguanosine dan, bersama dengan analog nukleosida lain yang terdaftar di bawah ini, tetap menjadi obat pilihan untuk infeksi virus herpes simpleks (HSV). Antibiotik dapat digunakan jika infeksi bakteri sekunder berkembang. Agen antiviral Rangkuman Kelas Analog nukleosida awalnya terfosforilasi oleh timidin kinase virus untuk akhirnya membentuk nukleosida trifosfat. Molekul ini menghambat DNA polimerase HSV dengan 30-50 kali potensi alpha- DNA polimerase manusia. Acyclovir Topikal Menghambat aktivitas kedua HSV 1 dan HSV-2. Pasien merasakan nyeri yang lebih ringan dan resolusi lesi cutaneus lebih cepat bila digunakan dalam waktu 48 jam dari onset ruam. Dapat mencegah wabah berulang. Telah terbukti aman dan efektif dalam mencegah HSV neonatal dan menghilangkan kebutuhan untuk kelahiran sesar. Penciclovir (Denavir) Formulasi topikal. Untuk digunakan pada herpes labialis berulang ringan. Inhibitor DNA polimerase di strain HSV-1 dan HSV-2, menghambat replikasi virus. Famciclovir (Famvir) Prodrug, yang ketika biotransformasi ke metabolit aktif penciclovir dapat menghambat sintesis DNA / replikasi virus.
23

Referat herpes simpleks

Valacyclovir (Valtrex) Prodrug yang cepat dikonversi menjadi asiklovir aktif. Lebih mahal namun memiliki regimen dosis lebih nyaman dibandingkan asiklovir. Foscarnet (Foscavir) Analog organik dari pirofosfat anorganik yang menghambat replikasi herpes virus yang diketahui, termasuk CMV, HSV-1 dan HSV-2. Menghambat replikasi virus di situs bindingpirofosfat pada DNA polimerase spesifik-virus. Respon klinis yang buruk atau ekskresi virus persisten selama terapi mungkin karena resistensi virus. Pasien yang dapat mentoleransi foskarnet dapat mengambil manfaat dari inisiasi dosis pemeliharaan 120 mg / kg / d dari pengobatan awal. Dosis individual disesuaikan dengan status fungsi ginjal. Cidofovir (Vistide) Disetujui untuk pengobatan retinitis CMV. Campuran krim / gel (tidak disetujui FDA tapi direkomendasikan oleh CDC) dapat digunakan untuk HSV acyclovir-resisten lokal. Docosanol cream 10% (Abreva) Digunakan untuk infeksi HSV-1. Mencegah virus masuk dan replikasi pada tingkat sel. Gunakan sejak diketemukan tanda pertama dari cold sore atau fever blister.

Regimen pengobatan Lesi primer


1. Simptomatis : 2. Antivirus

Analgetik dan kompress

a. Asiklovir oral 5x200mg/hari selama 7-10 hari b. Komplikasi berat : Asiklovir IV 3x5mg/kgBB/hari selama 7-10 hari c. Valasiklovir oral 2x500mg/hari selama 7-10 hari
24

Referat herpes simpleks

d. Famciclovir oral 3x250mg/hari selama 7-10 hari

Lesi rekurren Ringan : Berat : Simptomatis dan kirm asiklovir Asiklovir 5x200mg/hari selama 5 hari Asiklovir 3x400mg/hari selama 5 hari Asiklovir 2x800mg/hari selama 5 hari Rekurren > 8 kali/tahun diberikan terapi supresif selam 6 bulan
-

Asiklovir 3-4x200mg/hari Valasiklovir 1x500mg/hari

Pencegahan1,2
Pelepasan virus Herpes simplex virus (HSV) adalah terbesar selama pecahnya terbukti secara klinis,; namun, transmisi dari individu yang seropositif ke pasangan mereka yang seronegatif
25

Referat herpes simpleks

biasanya terjadi selama periode shedding HSV asimtomatik. Oleh karena itu, untuk mencegah penularan membutuhkan lebih dari berpantang dari kontak intim selama wabah. Metode barrier, seperti kondom, memberi 10-15% perlindungan terhadap infeksi herpes genital.

Pembilasan cairan genital setelah berhubungan seksual Penggunaan antivirus pada yang seropositif Pnecegahan kontak dengan saliva penderita HSV dengan menghindari berciuman dan menggunakan alat makan serta menggunaka obat kumur yang mengandung antiseptik.

Berbagai vaksin HSV telah dan terus berada di bawah penelitian untuk pengobatan dan pencegahan herpes genital, meskipun sebagian besar belum terbukti efektif.

terapi supresi jangka panjang untuk herpes genital telah ditunjukkan untuk mengurangi shedding HSV asymptomatic, dan terapi valacyclovir jangka panjang secara signifikan mengurangi transmisi HSV kepada pasangan individu yang positif HSV-2 terhadap sebanyak 50-77%.

Infeksi HIV pada pasien HSV atau pasangan nya yang seronegatif juga harus dipertimbangkan sebagai kemungkinan indikasi untuk terapi supresi.

Pencegahan transmisi dapat dilakukan dengan screening awal di usia kehamilan 14-18 minggu selanjutnya dilakukan kultur serviks setiap minggu mulai dari minggu ke-34 kehamilan pada ibu hamil dengan riwayat infeksi HSV serta pemberian acyclovir 400mg 3x/hari atau 200mg 5x/hari yang secara signifikan dapat mengurangi periode rekurensi selama proses persalinan. Namun apabila menjelang persalinan, hasil kultur terakhir tetap positif dan terdapat lesi aktif didaerah genital maka kelahiran secara SC menjadi pilihan utama. Wanita yang HSV-2 negatif harus diberi konseling untuk tidak melakukan hubungan seks selama trimester ketiga kehamilan dengan pasangan yang bisa seropositif karena infeksi HSV primer selama waktu ini bisa menempatkan janin pada resiko infeksi tertinggi.

26

Referat herpes simpleks

Komplikasi1
Superinfeksi bakteri Meningitis aseptic Penyebaran CNS dan visceral

27

Referat herpes simpleks

Strain HSV thymidine kinase-negatif yang resisten acyclovir pada pasien AIDS Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HSV kongenital harus dimonitor terhadap sebarang tanda infeksi.

Prognosis
Bagi kebanyakan orang, infeksi HSV adalah sementara dan bisa sembuh tanpa gejala sisa yang merugikan, tetapi kekambuhan adalah umum. Sequelae jangka panjang (biasanya SSP) lebih sering terjadi pada infeksi HSV neonatal dibandingkan dengan jenis lain dari infeksi HSV. Parut mungkin terjadi dari lesi berat atau superinfected.

28

Referat herpes simpleks

Daftar Pustaka
1. Herpes Simplex-Diagnosis. University of Maryland Medical Centre.

http://www.umm.edu/patiented/articles/how_serious_herpes_simplex_000052_5.htm. Diakses tanggal 16 September 2013. 2. Ronny Handoko; Herpes Simpleks; Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin;Edisi keenam; FKUI: Halaman 380-2 3. Marques AR, Straus SE. Herpes simplex. Dalam: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ. Editor. Fitzpatricks Dermatology in general medicine. 7th ed. New York: Mc-Graw Hill Companies, 2008: 1873-85.
29

Referat herpes simpleks

4. CDC. Sexually transmitted diseases. Treatment guidelines 2006. MMWR 2006;16-20 (RR-11)

30