Anda di halaman 1dari 1

Mekanisme bernapas melalui mulut adalah ketika anak tidak bisa bernapas melalui hidung maka anak terpaksa

bernapas melalui mulut. Reseptor sensorik di pembuluh darah dan paru-paru memberikan sinyal kepada otak untuk lebih meningkatkan volume udara, salah satu jalan keluarnya adalah dengan menekan mandibula ke dasar mulut dan memposisikan lidah lebih ke arah anterior untuk memudahkan udara memasuki laring. Akibat kebiasaan bernapas melalui mulut akan terjadi kelainan pada gigi dan jaringan lunak, seperti open bite anterior, cross bite posterior yang disertai dengan penyempitan maxilla, dan maloklusi kelas II. Kebiasaan bernapas melalui mulut dapat pula menyebabkan terjadinya karies terutama pada gigi anterior atas karena tidak adanya daya membersihkan (self cleansing) sehingga terjadi ginggivitis. Bentuk muka dari anak yang mempunyai kebiasaan bernapas melalui mulut disebut Adenoid faces, yang mempunyai ciri seperti bentuk muka yang panjang dan bibir atas yang pendek dan tipis serta bentuk muka Dolicho facial. Perawatan terhadap kebiasaan bernapas melalui mulut dapat dilakukan dengan menghilangkan faktor penyebab. Umumnya perawatan penyebab penyumbatan di hidung dilakukan dengan sistem operasi / bedah. Akibat paling nyata dari pernapasan mulut kronis tanpa berupa perubahan craniomaksilofacial, umumnya disebabkan oleh pergeseran mandibula abnormal, dan dismorfisme lanjut dari struktur mulut dan perubahan sikap tubuh. Lidah bersandar pada bagian bawah mulut, sehingga memungkinkan alitan udara melalui jalur mulut. Pada kondisi hipertropi tonsilar, lidah mengalami pergerakam ke arah anterior lanjut, karena dasar lidah tertekan dari dinding pharingeal posterior karena kekeurangan ruang. (Buku dokter Harun hal 236-237)

Bernapas melalui mulut telah lama diketahui sebagai salah satu penyebab terjadinya penyimpangan pertumbuhan wajah. Penyimpangan tersebut timbul akibat ketidakseimbangan aktivitas otot-otot orofasial. Fungsi abnormal rongga mulut akan menyebabkan terjadinya perubahan tekanan otot yang bekerja pada tulanh kraniofasial, sehingga menghasilkan perubahan morfologi kraniofasial. Otot-otot di sekitar saluran napas atas seperti otot genioglossus, masseter, milohyoid, dan orbicularis oris, memiliki berbagai macam fungsi penting. Otot orbicularis oris merupakan otot yang melekat pada bagian utama bibir dan berfungsi dalam melakukan pergerakan bibir, cuping hidung, pipi, dan kulit dagu, sedangkan otot milohyoid merupakan otot yang berfungsi untuk mengangkat dasar mulut dan lidah saat menelan, juga menurunkan rahang bawah dan mengangkat tulang lidah. Proses bernapas lewat mulut dapat meningkatkan aktivitas otot orbicularis oris, genioglossus dan milohyoid, tetapi menghambat aktivitas otot masseter. Aktivitas otot milohyoid dan genioglossus meningkat, menyebabkan posisi lidah lebih rendah dari normal dan rahang bawah turun. Peningkatan aktivitas otot orbicularis oris menyebabkan bibir atas terangkat sehingga mulut tetap terbuka sebagai jalan napas