Anda di halaman 1dari 6

DEVOSI

PENGERTIAN DEVOSI Istilah devosi berasal dari bahasa Latin devotio, berarti: kebaktian, pengorbanan, penyerahan, sumpah, kesalehan, cinta bakti. Maka menurut arti katanya, devosi menunjuk sikap hati dan perwujudannya dari seseorang dalam mengarahkan diri kepada sesuatu atau seseorang yang dijunjung tinggi dan dicintai. Sedangkan dalam tradisi kristiani, istilah devosi biasa dipahami sebagai bentuk penghayatan dan pengungkapan iman kristiani di luar liturgi resmi. Dengan demikian devosi itu lebih merupakan praktek ungkapan iman umat yang spontan dan lebih bebas serta dapat dibawakan, baik secara pribadi maupun bersama. Devosi sangat dianjurkan oleh Gereja, (SC.no.12-13). Apa yang tidak tertampung dalam liturgi resmi dapat ditemukan dalam praktek devosi umat. Apabila liturgi resmi sering dialami sebagai sesuatu yang rutin, kering, resmi, dan kaku, maka devosi bisa dihayati oleh umat beriman sebagai sesuatu yang memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan kerinduan hati. Itulah sebabnya, devosi umat merupakan praktek keagamaan populer yang mudah diterima, dipahami, dan dilaksanakan oleh umat.
MEMAHAMI DEVOSI DARI DIMENSI HISTORIS LITURGIS, ANTHROPOLOGIS, DAN AGAMA KERAKYATAN

1.

Dimensi Historis Liturgis Devosi sudah ada sejak awal sejarah hidup Gereja. Sikap hormat kepada Tuhan Yesus Kristus yang hadir dalam Ekaristi, dalam sengsara-Nya, atau kepada Bunda-Nya, Santa Perawan Maria, ataupun orang-orang kudus sudah ada pada masa awal perkembangan Gereja, missalnya: Yoh 6:51-58 iman akan kehadiran Kristus dalam Ekaristi, Luk 1:39-56, Kis 1:14 penghormatan kepada Maria. Abad pertama penghormatan kepada orang-orang Kudus. Abad ke 2, penghormatan kepada para martir. Pada abad pertengahan, praktek devosi umat semakin berkembang pesat, apalagi dengan digunakannya bahasa Latin dalam perayaan liturgi. Liturgi menjadi urusan kaum klerus saja dan umat menjadi terasing dari liturgi resmi. Umat tidak memahami makna dan bahasa liturgi. Keterasingan dan ketidakterlibatan umat dalam liturgi menyebabkan kehausan dan kerinduan umat akan bentuk-bentuk pengungkapan iman yang lebih mudah, sederhana, dan memuaskan kebutuhan afeksinya. Baru pada Konsili Vatikan II terjadi pembaruan liturgi yang menekankan pentingnya pemahaman umat atas liturgi dan keterlibatan umat dalam liturgi secara penuh dan aktif. Devosi ditempatkan dalam keselarasannya dengan liturgi Gereja. Dimensi Anthropologis Secara anthropologis, devosi umat menjawab kebutuhan afeksi dan emosi. Dalam devosi, aspek perasaan, afeksi, dan emosi mendapat tempat yang penting dan utama. Dalam devosi yang penting bukanlah keindahan rumusan doa yang secara teologis lengkap dan bagus, tetapi unsur perasaan yang ditumbuhkan dan mendapat tempat yang cukup pada praktek doa devosi itu. Dimensi Agama Kerakyatan Dipandang dari dimensi agama kerakyatan, devosi itu sesuai dengan pengalaman religius umat manusia. Pengalaman religius adalah pengalaman dasar setiap manusia yang merindu kan kebahagiaan sejati yang diyakini ada dan dijamin oleh Yang Ilahi atau Yang Transenden Pengalaman kerinduan akan Yang ilahi ini merupakan pengalaman yang menyentuh setiap orang di mana pun dan kapan pun. Inti pengalaman religius itu selalu sama, namun bentuk ungkapannya amat berbeda-beda.

2.

3.

Dalam liturgi resmi, praktek religius setempat kurang mendapat tempat yang memadai. Dengan demikian devosi umat mempunyai peran menampung berbagai praktek religius setempat, yang barangkali masih harus dimurnikan seturut iman kristiani. TEOLOGI DEVOSI Misteri kehadiran Sang Sabda yang mau menjadi manusia menyatakan penerimaan Allah terhadap seluruh dimensi kehidupan manusia. Melalui misteri inkarnasi dan penjelmaan-Nya, Tuhan Yesus Kristus mengangkat seluruh kemanusiaan kita dengan segala budaya dan ungkapannya sebagai medan dan sarana perjumpaan kita dengan Allah. Roh Kudus selalu mengantar manusia kepada Allah, (Rom 5:5, Yoh 14:26, Rom 8:15). Devosi itu menampilkan sisi pemahaman dan penghayatan iman umat yang beragam. Secara teologis, dalam devosi bukan cara atau teknik ungkapan iman yang paling menentu kan, tetapi isi iman. Isi iman itu barangkali dipahami dan dihayati menurut taraf rakyat dan bukan taraf teolog, akan tetapi bisa sungguh-sungguh mengungkapkan kepercayaan total dan tanpa syarat kepada Allah sendiri. PERANAN DEVOSI DALAM LITURGI GEREJA Devosi atau olah kesalehan sangatlah dianjurkan oleh Gereja (SC.no.12-13) sebab memang memberi sumbangan yang sangat baik bagi liturgi Gereja. Namun beberapa hal harus diperhatikan. 1. Sumbangan Devosi Umat dalam Liturgi Gereja (SC.no.13) a. Devosi mengingatkan pentingnya dimensi afeksi-emosi dalam liturgi. Liturgi resmi memang cenderung dirasakan terlalu formal, rutin, rasional, dan kering. b. Devosi mengingatkan perlunya kesederhanaan ungkapan iman dalam liturgi. Devosi lebih menekankan kesederhanaan kata-kata. c. Devosi mengingatkan bahwa liturgi merupakan sebuah doa. Umumnya devosi memuat pengulang-ulangan doa. Pengulangan doa menimbulkan kepuasan dan kedalaman batin. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam devosi a. Devosi, semeriah apa pun, tidak pernah dipandang sebagai pengganti liturgi resmi. Devosi dapat dihubungkan atau digabungkan dengan liturgi resmi sejauh norma-norma liturgi memungkinkan, mis: Misa kudus dalam rangka novena. b. Praktek devosi harus dijauhkan dari bahaya praktek magis, yaitu pandangan atau keyakinan bahwa kekuatan dan daya pengudusan berasal dari barang, mantra, hitungan angka. Umat harus senantiasa diingatkan bahwa sumber daya, kekuatan, dan terkabulnya doa hanyalah pada Allah saja. Berkat iman kepada Allah sajalah ujud doa dikabulkan. c. Devosi harus tetap sesuai dengan iman Gereja yang benar, sebagaimana tertera dalam Kitab Suci dan Tradisi Gereja. Apa yang menjadi keyakinan devosional umat tidak selalu harus menjadi iman Gereja universal. Harus dibedakan antara penyembahan (latria) yang hanya dibaktikan kepada Allah saja dan penghormatan (dulia) yang ditujukan kepada orang-orang kudus. Devosi kepada orang-orang kudus termasuk penghormatan.

2.

KATA LATRIA DAN DULIA DI DALAM KITAB SUCI 1. Penyembahan/ Latria, nyata pada perintah pertama dalam kesepuluh Perintah Allah, yaitu untuk menyembah Allah saja dan jangan ada allah lain yang disembah selain Dia (Kel 20: 1-6). Penyembahan kepada Allah dengan sujud menyembah disebutkan dalam 2 Taw 7:3; 2 Taw 20:18; Neh 8:7; 1 Mak 4:55. 2. Penghormatan/ Dulia, nyata pada penghormatan para saudara Yusuf kepada Yusuf (lih. Kej 42:6) dan Yusuf yang sujud sampai ke tanah menghormati ayahnya Yakub (Kej 48:12). Demikian pula, Nabi Natan sujud ke tanah menghormati Daud (1 Raj 1: 23); Absalom sujud ke tanah menghormati ayahnya Daud (2 Sam 14:33). Tentu mereka ini bukan menyembah berhala, namun menghormati orang tua sesuai perintah Tuhan.

3. Penghormatan Dulia relatif ini misalnya saat Musa membuat ular dari tembaga yang dipasangnya di sebuah tiang, dan siapa yang memandang patung ular itu akan tetap hidup walaupun telah dipagut ular (Bil 21:8-9). Ular yang ditinggikan di tiang ini menjadi gambaran akan Yesus Kristus yang juga akan ditinggikan di kayu salib (lihat Yoh 3:14). Dalam Perjanjian Lama (PL), Allah menyuruh orang Israel memandang ke atas ular tembaga tersebut agar disembuhkan; sedangkan pada Perjanjian Baru (PB), siapa yang memandang Kristus yang ditinggikan di kayu salib dan percaya kepada-Nya, akan disembuhkan dari dosa. Tentu dalam PL, orang Israel tidak menyembah berhala, sebab Allah-lah yang menyuruh mereka menghormati/ memandang ke atas ular tembaga yang dibuat oleh Musa itu, yang merupakan gambaran Kristus yang kelak dinyatakan dalam PB.

Terdapat perbedaan cara penyembahan- latria dan penghormatan- dulia:


1. Penyembahan tertinggi- latria ini diwujudkan dalam perayaan Ekaristi, yaitu doa Gereja yang disampaikan dalam nama Kristus kepada Allah Bapa oleh kuasa Roh Kudus. 2. Penghormatan- dulia kepada Maria dinyatakan misalnya dalam doa-doa rosario, novena, nyanyian, baik sebagai doa pribadi ataupun kelompok. 3. Sedangkan penghormatan dulia relatif terlihat jika umat Katolik berlutut saat berdoa di depan patung Yesus dan patung Bunda Maria, karena yang dihormati bukan patungnya, tetapi pribadi yang diwakilkannya, yaitu Tuhan Yesus, dan Bunda Maria.

Devosi kepada Bunda Maria


1. Daftar Perayaan Santa Perawan Maria
a. Perayaan Santa Perawan Maria yang bertingkat "hari raya" adalah sebagai berikut: Santa Perawan Maria Bunda Allah (1 Januari = 01/01), Santa Perawan Maria dikandung tanpa dosa (08/12} dan Santa Perawan Maria diangkat ke sorga (15/08). b. Perayaan bertingkat "pesta" untuk Santa Perawan Maria adalah: Kelahiran Santa Perawan Maria (08/09) dan Santa Perawan Maria mengunjungi Elisabeth (31/05). c. Perayaan bertingkat "peringatan wajib" yang dirayakan untuk menghormati Santa Perawan Maria ialah: Hati tersuci Santa Perawan Maria (Sabtu lll sesudah Pentakosta), Santa Perawan Maria Ratu (22/08), Santa Perawan Maria berdukacita (15/09), Santa Perawan Maria Ratu Rosario (07/10), Santa Perawan Maria dipersembahkan kepada Allah (21/11). d. Perayaan Santa Perawan Maria bertingkat "peringatan fakultatif" adalah sebagai berikut: Santa Perawan Maria di Lourdes (11/02), Santa Perawan Maria di Fatima (13/05), Santa Perawan Maria Gunung Karmel (16/07) dan Santa Perawan Maria Hari Sabtu (tiap hari Sabtu di 'masa biasa').

2. Santa Perawan Maria dalam Misa Sepanjang Tahun


a. Dalam acara tobat di awal misa didapati kalimat "Saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah Tuhan kita". b. Dalam Liturgi Sabda di hari Minggu dan Hari Raya diucapkan Syahadat singkat atau Syahadat panjang. Dalam kedua syahadat tersebut terdapat kalimat tentang Yesus Kristus, yang "dilahirkan oleh Perawan Maria". c. Dalam Liturgi Ekaristi nama Santa Perawan Maria dijumpai di hampir semua "Doa Syukur Agung". Sebagai contoh dapat dikutip kalimat berikut: "..... kami memuliakan semua orang kudus, terutama Santa Perawan Maria, bunda Yesus Kristus, Allah dan Tuhan Kami" (DSA I), "Kami semua mohon.... supaya kami boleh mengambil baglan dalam kebahagiaan abadi, bersama Santa Maria, Perawan dan bunda Allah bersama para rasul dan semua orang kudus"

3. Dasar Kitab Suci:


Yoh. 19:26-27: Yesus memberikan Bunda Maria agar menjadi ibu bagi murid- murid-Nya. Luk 1:28: Salam Maria, Hail, full of grace Luk 1:42: Maria Bunda Allah Luk 1:48: Segala keturunan akan menyebut Maria berbahagia Luk 11:27: Berbahagialah ibu yang telah mengandung Yesus

4. Dasar Tradisi Suci:

Julius Africanus (160-240) Kemuliaanmu besar; sebab engkau ditinggikan di atas semua perempuan yang terkenal, dan engkau dinyatakan sebagai ratu di atas segala ratu. (Julius Africanus, Events in Persia: on the Incarnation of our Lord and God and Saviour Jesus Christ, St. Gregorius dari Neocaesarea (213-275) Maka dengan lemah lembut, rahmat membuat pilihan terhadap Maria yang murni, satu- satunya dari semua generasi . (St. Gregorius dari Neocaesarea, Four Homilies, The First Homily on the Annunciation to the Holy Virgin Mary. Doa Sub Tuum Presidium (250 AD), yaitu doa penghormatan kepada Bunda Maria, Bunda Allah, yang kepadanya jemaat memohon pertolongan: (Kami berlari kepada perlindunganmu, O Bunda Allah yang kudus. Jangan menolak permohonan-permohonan kami dalam kesesesakan kami tetapi bebaskanlah kami dari segala bahaya. O, Perawan yang termulia dan terberkati).

St. Basilius Agung (329-379) . bahwa Maria yang suci, yang melahirkan-Nya adalah Ibu Tuhan. Aku mengakui juga para rasul yang suci, para nabi dan para martir; dan memohon kepada mereka untuk memohon kepada Allah, bahwa melalui mereka, melalui pengantaraan mereka, Tuhan yang berbelas kasih dapat mendengarkan aku. Karena itu juga, aku menghormati dan mencium gambar -gambar mereka, seperti halnya yang diturunkan dari para rasul yang kudus, dan tidak dilarang, melainkan ada di dalam semua gereja- gereja kita. (St. Basil the Great, Letter 360. Of the Holy Trinity, the Incarnation, the invocation of Saints, and their Images). St. Ephrem dari Syria (wafat 373) Lagu hymne karangan St. Efrem tentang kelahiran Tuhan juga hampir sama menyanyikan lagu pujian kepada Bunda Perawan (Bardenhewer, Sermons on Mary II) St. Epiphanus (403) Maria harus dihormati, tetapi Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus harus disembah. Tak seorangpun boleh menyembah Maria. (St. Epiphanus, Haer 79,7)

5. Dasar Magisterium Gereja:

Konsili Efesus (431) dan Konsili Chalcedon (451): Maria adalah sungguh- sungguh Bunda Allah (De fide) Konsili Trente (1545- 1564) dan Paus Pius XII: Dalam konteks ini, istilah devosi digunakan untuk menggambarkan praktek eksternal (doa-doa, lagu- lagu pujian, pelaksanaan suatu kegiatan rohani yang berkaitan dengan waktu- waktu atau tempat- tempat tertentu, insignia, medali, kebiasaan- kebiasaan). Dihidupkan oleh sikap iman, praktek- praktek tersebut menyatakan hubungan yang khusus antara umat beriman dengan Pribadi Allah [Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus] atau kepada Perawan Maria yang terberkati, dalam hak- hak istimewanya tentang rahmat dan segala sebutannya yang mengekspresikan keistimewaan tersebut, atau dengan para Santo/a di dalam konfigurasi mereka dengan Kristus atau di dalam peran mereka di dalam kehidupan Gereja. (Lih. Konsili Trente, Decretum de invocatione, veneratione, et reliquiis Sanctorum, et sacris imaginibus (3. 12. 1563), dalam DS 1821-1825; Paus Pius XII, Surat ensiklik Mediator Dei, dalam AAS 39 (1947) 581-582; SC 104; LG 50) Dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium (LG):66. (Makna dan dasar bakti kepada Santa Perawan) Berkat rahmat Allah Maria diangkat di bawah Puteranya, di atas semua malaikat dan manusia, sebagai Bunda Allah yang tersuci, yang hadir pada misteri-misteri Kristus; dan tepatlah bahwa ia dihormati oleh Gereja dengan kebaktian yang istimewa. Memang sejak zaman kuno Santa Perawan dihormati dengan gelar Bunda Allah; dan dalam perlindungannya umat beriman memperoleh perlindungan dari bahaya serta kebutuhan mereka. Terutama sejak Konsili di Efesus kebaktian Umat Allah terhadap Maria meningkat secara mengagumkan, dalam penghormatan serta cinta kasih, dengan menyerukan namanya dan mencontoh teladannya, menurut ungkapan profetisnya sendiri: Segala keturunan akan menyebutku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan karya-karya besar padaku (Luk 1:48). Meskipun kebaktian itu, seperti selalu dijalankan dalam Gereja, memang bersifat istimewa, namun secara hakiki berbeda dengan bakti sembah sujud, yang dipersembahkan kepada Sabda yang menjelma seperti juga kepada Bapa dan Roh Kudus.. Dengan ungkapan-ungkapan itu, bila Bunda dihormati, Puteranya pun yang melalui-Nya segala sesuatu diciptakan (lih. Kol 1:15-16), dan yang di dalamnya Bapa menghendaki agar seluruh kepenuhan-Nya berdiam (Kol 1: 19), dikenal, dicintai dan dimuliakan sebagaimana harusnya, serta perintah-perintah-Nya dilaksanakan. (LG, 66) Maria, Bunda Allah, dihormati secara khusus, dengan istilah Hyperdulia (Sententia certa- lih. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, p. 215)

6. Dogma Tentang Maria


a. Dogma Maria Bunda Allah / Theotokos / Mater Dei Dirayakan setiap tanggal 1 Januari. Dogma ini dinyatakan melalui Konsili di Efesus (th 431) dan Konsili keempat di Chalcedon (th 451). Pengajaran ini diresmikan pada kedua konsili tersebut, namun tidak berarti bahwa sebelum tahun 431 Bunda Maria belum disebut sebagai Bunda Allah, dan bahwa Gereja baru menobatkan Maria sebagai Bunda Allah pada tahun 431. Kepercayaan gereja akan peran Maria sebagai Bunda Allah dan Hawa yang baru sudah berakar sejak abad awal. Keberadaan Konsili Efesus yang mengajarkan "Theotokos" tersebut adalah untuk menolak pengajaran sesat dari Nestorius (seorang pengkotbah popular yang menjadi uskup Konstantinopel pada tahun 428). Nestorius hanya mengakui Maria sebagai ibu kemanusiaan Yesus tapi bukan ibu Yesus sebagai Tuhan sebab menurut Nestorius yang dilahirkan oleh Maria adalah manusia yang di dalamnya Tuhan tinggal, dan bukan Tuhan sendiri yang sungguh menjelma menjadi manusia. b. Dogma Maria tetap perawan / Maria Virgini Konsili Konstantinopel II (553) menyebutkan Bunda Maria sebagai "kudus, mulia dan tetapPerawan Maria". Konsili ini merangkum ajaran-ajaran penting berkaitan dengan kepercayaan bahwa Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia. Termasuk dalam ajaran ini adalah tentang keperawanan Maria. Dogma ini lebih ditegaskan melalui Pengajaran Magisterium Gereja Katolik dimana doktrin dari keperawanan Maria, sebelum, pada saat dan sesudah kelahiran Yesus dinyatakan secara defintif oleh Paus St. Martin I di Sinode Lateran tahun 649, yang berbunyi: Maria yang tetap perawan dan tak bernoda yang terberkati, mengandung tanpa benih manusia, oleh Roh Kudus, dan tanpa kehilangan keutuhan melahirkan Dia dan sesudahnya tetap perawan. Maka, seperti Kritus yang bangkit dengan tubuh-Nya dapat menembus pintu-pintu rumah yang terkunci (lihat Yoh 20: 26), maka pada saat kelahiran-Nya, Ia pun lahir dengan tidak merusak keperawanan ibu-Nya, yaitu Bunda Maria.

c. Dogma Maria dikandung tanpa noda / Maria Immaculata Pada tanggal 8 Desember 1854 Paus Pius IX mengumumkan Dogma Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda melalui Ineffabilis Deus, yang menyatakan bahwa Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa asal. Bagi Gereja Katolik Roma, dogma Dikandung Tanpa Noda menjadi semakin penting setelah penampakannya di Lourdes pada tahun 1858. d. Dogma Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya / Maria Assumpta Perayaan ini dirayakan pada tanggal 15 Agustus. Doktrin ini ditetapkan sebagai dogmatis dan tidak dapat berunsur kesalahan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 Nov 1950 melalui Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus. Perlu kita ketahui bahwa Bunda Maria diangkat ke surga, dan bukan naik ke surga. Diangkat berarti bukan karena kekuatannya sendiri melainkan diangkat oleh kuasa Allah, sedangkan Yesus naik ke surga oleh kekuatan-Nya sendiri. Maria adalah anggota Gereja yang pertama yang diangkat ke surga. Dengan diangkatnya Bunda Maria ke surga, maka ia yang telah bersatu dengan Yesus akan menyertai kita yang masih berziarah di dunia ini dengan doa-doanya. Karena berpegang bahwa doa orang benar besar kuasanya (Yak 5: 16), maka betapa besarlah kuasa doa Bunda Maria yang telah dibenarkan oleh Allah, dengan diangkatnya ke surga. Sekali lagi dogma di atas adalah sebuah pernyataan iman sehingga apabila dicari secara historis maka tidak akan ditemukan. Selain itu seperti kita ketahui bersama bahwa agama Katolik mempunyai 3 sumber iman yaitu: Alkitab, Tradisi Gereja dan Magisterium (ajaran Gereja).