Anda di halaman 1dari 27

KIMIA LINGKUNGAN

MAKALAH KIMIA AIR

Nama NIM Kelas/Semester/

: Yusprit Paraso : PO 717133071012-71 : B/III

KEMENTRIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MANADO


JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca. Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik. Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Manado 27 Agustus 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................................................................i DAFTAR ISI............................................................................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN....................................................................................................................................1 A. Latar Belakang......................................................................................................................................1 B. Tujuan Makalah....................................................................................................................................2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................................................2 A. Penggolongan Air................................................................................................................................3 B. Standar Kualitas Air..........................................................................................................................................5 BAB III PENUTUP...........................................................................................................................................13 A. Kesimpulan..........................................................................................................................................23 B. Saran.......................................................................................................................................................23 DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................................................24

ii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen.Airbersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar,yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 C). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik. Air dialam meliputi : 1. air tanah yang berasal dari mata air atau dari sunur dangkal/artesis 2. air permukaan yang disebut juga air badan air,misalnya air sunga,air danau, air waduk,dll 3. Air laut 4. Air permandian umum. Air organik adalah istilah untuk air yang sama sekali tidak mengandung unsur kimia lain selain H2O (air) itu sendiri. Kandungan dalam air yang bersih dialam sangat banyak oleh standar kualitas tertentu dan dapat digolongangkan beberapa golongan.yakkni golongan A,golongan B,golongan C,golongan D,serta golongan E. Dalam Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan pada pasal 22 ayat 23 mengatakan bahwa Penyehatan Air meliputi pengamanan dan penetapan kualitas air untuk berbagai kebutuhan hidup manusia. Upaya penyehatan air bertujuan untuk menjamin tersedianya air minum ataupun air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan bagi seluruh masyarakat baik perkotaan maupun pedesaan. Untuk menjamin tersedianya kualitas air yang memenuhi persyaratan tersebut, berbagai upaya telah dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat, seperti pembangunan dan perbaikan sarana air bersih/air minum, Upaya pengawasan kualitas air dan penyuluhanpenyuluhan mengenai hubungan kesehatan dengan tersedianya air yang memenuhi persyaratan kesehatan.

Salah satu aspek yang sangat esensial untuk terjaminnya kualitas air yang memenuhi persyaratan tersebut adalah tersedianya suatu perangkat yang dapat nengatur dan mengawasi pihak yang memproduksi air dan pihak konsumen, yang meliputi hak, kewajiban dan tanggung jawab masing-masing demi terjaminnya kuantitas dan kualitas air. B. Tujuan Makalah Adapun tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui penggolongan air yang ada dialam serta mengetahui standar kualitas air yang baik yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penggolongan Air

Berdasarkan pasal 7, penggolongan air menurut peruntukannya dapat dibedakan menjadi : 1. Air golongan A :air pada sumber air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu. 2. Air golongan B : air yang dapat digunakan sebagai air baku untuk diolah menjadi air minum dan keperluan rumah tanga lainnya. 3. Air golongan C : air yang dapat dipergunakan untuk keperluan perikananperikanan dan petrnakan. 4. Air golongan D : air yang dapat dipergunakan untuk keperluan pertanian dan dapat dimanfaatkan untuk usaha diperkotaan,industry dan lstrik tenaga air. Pengolongan air yang diatas masih termasuk dalam bagian air badan air atau air permukaaan,dimana pada air badan air ini memiliki batas syarat yang disesuiakn dengan peruntukannya. Selain bahan-bahan beracun,adanhya pencemaran zat organic diketahui antara lain dengan memeriksa kadar ooksigen terlarut (dissolved oxygen=DO),kebutuhan biologic akan oksigen (bologycal oxygen demand = BOD),kebutuhan kimiawi akan oksigen (chemical oxygen demand=COD). Air badan air mempunyai daya pemurnian alami (self ppurification).Bila kemasukan bahan pencemar akan diuraikan secara biologic oleh mikroorganisme yang ada di dalam air dengan kebutuhan oksigen terlarut menjadi hasil uraian yang stabil.Dari zat organic diuraikan menjadi senyawa nitrat sulfat,karbonat,fosfat dan sebagainya oleh bakteri aerob.Akan tetapi bila bahan pencemar organiknya terlalu tinggi,oksigen terlarut yang ada akan makin berkurang sampai menjadi nol.Akibatnya yang bekerja adalah bakteri anaerob,dengan hasil akhir nitrit,amonia,asam sulfide dan sebagainya yang manimbulkan bau,dalam hal ini terjadi pembusukan.

BOD adalah banyaknya oksigen yang diperlukan untuk menguraikan zat organic dalam air secara biologic,sampai menjadi senyawa yang stabil.Makin tinggi kadar zat organic dalam air,makin tinggi angka BOD nya.begitu pula kadar DO dapat dipakai sebagai petunjuk adanya pencemaran organic.Sedangkan angka COD menunjukan banyaknya oksidator kuat yang diperluakan untuk mengoksidir zat organic dalam air,dihitung sebagai oksigen. Dalam melakukan pengolangan air kita harus mangetahui bagaimana melakukan analisa kimia air seyogyanya dikerjakan dengan tepat dan teliti ,agar diperoeh hasil yang benar.tepat (accurate) artinya didapat hasil yang dianggap mendekati hasil atau keadaan yang sebenarnya .Teliti(precise)artinya sedikit sekali selisih antara hasil beberapa penetapan dengan cara dan jumlah yang sama. Untuk mendapat hasil analisa yang tepat dan teliti, beberapa kesalahan yang dapat mempengaruhi hasil analisa harus dicegah.

Kesalaha-kesalahan itu antara lain : 1. Kesalahan cara bekerja dan perorangan Hal ini disebabkan pemeriksa tidak mengikuti teknik analisa yang benar.misalnya kehlangan bahan yang diperiksa secara mekanik pada langkah suatu analisa,endapan yang kurang atau terlalu banyak dicuci, pemijaran endapan pada suhu yang salah, krus yang belum dingin sudah ditimbang, membiarkan zat tang hidroskopik menyerap air selama pemincangan dan lain-lain. Kesalahan perorangan timbul bila pemeriksa tidak bekerjadengan teliti dan hati-hati. 2. Kesalahan alat dan reagensia Timbul karena kesalahan konstruksi timbangan, pemakaian alat penimbang atau pengukur volume yang tidak ditera,penggunaan reagensia yang mengandung kotoran. 3. Kesalah metoda Dapat berasal dari penimbangan sampel yang tidak banar, atau reaksi kimia yang tidak sempurna.pada grafimetri karena kelarutan endapan, ko-presipitasi, post-presipitasi, dekomposisi, atau penguapan zat yang akan ditimbang pada volumetric karena reaksi dari bahan pengganggu,perbedaan antara titik akhir pemeriksaan dengan titik akhir suatu reaksi stoichiometri. B. Standar Kualitas Air Bagaimana cara mengetahui kondisi kualitas air? Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang biasa dilakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan (bau dan warna). Sayangnya, cara-cara pengujian tersebut memerlukan biaya yang cukup mahal, disamping prosedur pengujian yang tidak mudah. Ada cara praktis yang bisa dilakukan oleh setiap orang untuk menilai kualitas air, yaitu dengan melihat hewan air (makroinvertebrata) yang spesifik hidup pada air berkualitas baik. Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air diselenggarakan secara terpadu dengan pendekatan ekosistem. Keterpaduan yang dimaksud adalah dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi. Pengelolaan kualitas air dilakukan untuk menjamin kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukannya agar tetap dalam kondisi alamiahnya. 5

Pengendalian pencemaran air dilakukan untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air melalui upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air. Upaya pengelolaan kualitas air dilakukan pada : 1. Sumber air yang terdapat di dalam hutan lindung; 2. Mata air yang terdapat di luar hutan lindung; dan 3. Akuifer air tanah dalam. Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemeliharaan air sehingga tercapai kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukannya untuk menjamin agar kualitas air tetap dalam kondisi alamiahnya. Penentuan standar kualitas air minum maupun air limbah berdasarkan pertimbangan bahwa :

Bahan-bahan beracun yang apabila kadarnya dalam air minum melebihi batas akan membahayakan kesehatan, misalnya timbal, selenium, arsen, kromium, sianida, cadmium, air raksa. Bahan-bahan kimia kimia spesifik yang dapat mempengaruhi kesehatan apaila kadarnya dalam air melebihi batas akan merugikan kesehatan misalnya,flourida, dan nitrat. Flourida yang kadarnya melebihi batas akan berpengaruh kurang baik terhadap gigi. Nitrat yang kadarya melebihi batas menimbulkan keracunan darah pada bayi yang disebut blue babies Bahan kimia atau sifat fisik yang mempengaruhi air minum yaitu mangan, tembaga,seng,kalsium fenol. Bahan kimia yang merupakan pejunjuk adanya pencemaran yaitu zat organic jumlah, kebutuhan biologic akan oksigen,kebutuhan kimiawi akan oksigen,nitrogen jummlah,nitrit,fosfat. Pengawasan kualitas air bertujuan untuk mencegah penurunan kualitas dan penggunaan air yang dapat mengganggu dan membahayakan kesehatan, serta meningkatkan kualitas air. Kegiatan pengawasan kualitas air mencakup : a. Pengamatana lapangan dan pengambilan contoh air termasuk pada proses produksi dan distribusi. b. Pemeriksaan contoh air. c. Analisis hasil pemeriksaan. d. Perumusan saran dan cara pemecahan masalah yang timbul dalam hasil kegiatan a,b, dan c e. Kegiatan tindak lanjut berupa pemantauan upaya penanggulangan/perbaikan termasuk kegiatan penyuluhan. Berdasarkan standar peraturan Menteri Kesehatan RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Persyaratan Kualitas Air Bersih terdiri dari: Persyaratan Fisik Kualitas fisik yang dipertahankan atau dicapai bukan hanya semata-mata dengan pertimbangan dari segi kesehatan saja akan tetapi juga menyangkut keamanan dan dapat diterima oleh masyarakat pengguna air dan mungkin pula menyangkut segi estetika.

Persyaratan Kimiawi: Kandungan unsur kimia di dalam air harus mempunyai kadar dan tingkat konsentrasi tertentu yang tidak membahayakan kesehatan manusia atau mahluk hidup lainnya, pertumbuhan tanaman, atau tidak membahayakan kesehatan pada penggunaannya dalam industri serta tidak minumbulkan kerusakan-kerusakan pada instalasi sistem penyediaan air minumnya sendiri. Beberapa unsur tertentu, sebaliknya diperlukan dalam jumlah yang cukup untuk penciptaan suatu kondisi air minum yang dapat mencegah suatu penyakit atau kondisi kualitas yang menguntungkan.

Dalam hubungannya dengan masalah kualitas kimiawi tersebut di atas pada dasarnya unsurunsur kimiawi dapat dibedakan atas 4 golongan: Unsur-unsur yang bersifat racun. Unsur-unsur tertentu yang dapat mengganggu kesehatan. Unsur-unsur yang dapat menimbulkan gangguan pada sistem atau penggunaannya untuk keperluan atau aktivitas manusia. Unsur-unsur yang merupakan indikator pengotoran. Persyaratan Bakteriologi.

Dalam persyaratan ini ditentukan batasan tentang jumlah bakteri pada umumnya dan khususnya bakteri penyebab penyakit (ekoli). Kualitas air yang baik adalah : a. Secara fisik 1) Rasa Kualitas air bersih yang baik adalah tidak berasa. Rasa dapat ditimbulkan karena adanya zat organik atau bakteri / unsur lain yang masuk ke badan air. 2) Bau Kualitas air bersih yang baik adalah tidak berbau, karena bau ini dapat ditimbulkan oleh pembusukan zat organik seperti bakteri serta kemungkinan akibat tidak langsung dari pencemaran lingkungan, terutama sistem sanitasi. 3)Suhu Secara umum, kenaikan suhu perairan akan mengakibatkan kenaikan aktivitas biologi sehingga akan membentuk O2 lebih banyak lagi. Kenaikan suhu perairan secara alamiah biasanya disebabkan oleh aktivitas penebangan vegetasi di sekitar sumber air tersebut, sehingga menyebabkan banyaknya cahaya matahari yang masuk tersebut mempengaruhi akuifer yang ada secara langsung atau tidak langsung (Chay, 1995: 54 ).

4)Kekeruhan Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan bahan organik dan anorganik, kekeruhan juga dapat mewakili warna. Sedang dari segi estetika kekeruhan air dihubungkan dengan kemungkinan hadirnya pencemaran melalui buangan dan warna air tergantung pada warna buangan yang memasuki badan air. 5) TDS atau jumlah zat padat terlarut (total dissolved solids) Bahan pada adalah bahan yang tertinggal sebagai residu pada penguapan dan pengeringan pada suhu 1030 105oC, dalam portable water kebanyakan bahan bakar terdapat dalam bentuk terlarut yang terdiri dari garam anorganik selain itu juga gas-gas yang terlarut. Kandungan total solids pada portable water biasanya berkisar antara 20 sampai dengan 1000 mg/l dan sebagai satu pedoman kekerasan dari air akan meningkatnya total solids, disamping itu pada semua bahan cair jumlah koloit yang tidak terlarut dan bahan yang tersuspensi akan meningkat sesuai derajat dari pencemaran (Sutrisno, 1991 : 33). Zat pada selalu terdapat dalam air dan kalau terlalu banyak tidak baik untuk air minum, banyaknya zat padat yang disyaratkan untuk air minum adalah kurang dari 500 mg/l. pengaruh yang menyangkut aspek kesehatan dari pada penyimpangan kualitas air minum dalam hal total solids ini yaitu bahwa air akan meberikan rasa tidak enak pada lidah dan rasa mual.

b. Secara kimia Kandungan zat atau mineral yang bermanfaat dan tidak mengandung zat beracun. 1) pH (derajat keasaman) Penting dalam proses penjernihan air karena keasaman air pada umumnya Cdisebabkan gas Oksida yang larut dalam air terutama karbondioksida. Pengaruh yang menyangkut aspek kesehatan dari pada penyimpangan standar kualitas air minum dalam hal pH yang lebih kecil 6,5 dan lebih besar dari 9,2 akan tetapi dapat menyebabkan beberapa senyawa kimia berubah menjadi racun yang sangat mengganggUkesehatan.

10

2)Kesadahan Kesadahan ada dua macam yaitu kesadahan sementara dan kesadahan nonkarbonat (permanen). Kesadahan sementara akibat keberadaan Kalsium dan Magnesium bikarbonat yang dihilangkan dengan memanaskan air hingga mendidih atau menambahkan kapur dalam air. Kesadahan nonkarbonat (permanen) disebabkan oleh sulfat dan karbonat, Chlorida dan Nitrat dari Magnesium dan Kalsium disamping Besi dan Alumunium. Konsentrasi kalsium dalam air minum yang lebih rendah dari 75 mg/l dapat menyebabkan penyakit tulang rapuh, sedangkan konsentrasi yang lebih tinggi dari 200 mg/l dapat menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa air. Dalam jumlah yang lebih kecil magnesium dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan tulang, akan tetapi dalam jumlah yang lebih besar 150 mg/l dapat menyebabkan rasa mual. 3)Besi Air yang mengandung banyak besi akan berwarna kuning dan menyebabkan rasa logam besi dalam air, serta menimbulkan korosi pada bahan yang terbuat dari metal. Besi merupakan salah satu unsur yang merupakan hasil pelapukan batuan induk yang banyak ditemukan diperairan umum. Batas maksimal yang terkandung didalam air adalah 1,0 mg/l 4)Aluminium Batas maksimal yang terkandung didalam air menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 82 / 2001 yaitu 0,2 mg/l. Air yang mengandung banyak aluminium menyebabkan rasa yang tidak enak apabila dikonsumsi. 5) Zat organic Larutan zat organik yang bersifat kompleks ini dapat berupa unsur hara makanan maupun sumber energi lainnya bagi flora dan fauna yang hidup di perairan (Chay, 1995:541) 6)Sulfat Kandungan sulfat yang berlebihan dalam air dapat mengakibatkan kerak air yang keras pada alat merebus air (panci / ketel)selain mengakibatkan bau dan korosi pada pipa. Sering dihubungkan dengan penanganan dan pengolahan air bekas.

11

7) Nitrat dan nitrit Pencemaran air dari nitrat dan nitrit bersumber dari tanah dan tanaman. Nitrat dapat terjadi baik dari NO2 atmosfer maupun dari pupuk-pupuk yang digunakan dan dari oksidasi NO2 oleh bakteri dari kelompok Nitrobacter. Jumlah Nitrat yang lebih besar dalam usus cenderung untuk berubah menjadi Nitrit yang dapat bereaksi langsung dengan hemoglobine dalam daerah membentuk methaemoglobine yang dapat menghalang perjalanan oksigen didalam tubuh. 8)Chlorida Dalam konsentrasi yang layak, tidak berbahaya bagi manusia. Chlorida dalam jumlah kecil dibutuhkan untuk desinfektan namun apabila berlebihan dan berinteraksi dengan ion Na+ dapat menyebabkan rasa asin dan korosi pada pipa air. 9) Zink atau Zn Batas maksimal Zink yang terkandung dalam air adalah 15 mg/l. penyimpangan terhadap standar kualitas ini menimbulkan rasa pahit, sepet, dan rasa mual. Dalam jumlah kecil, Zink merupakan unsur yang penting untuk metabolisme, karena kekurangan Zink dapat menyebabkan hambatan pada pertumbuhan anak. c. Secara Biologis 1) Colli Air minum tidak boleh mengandung bakteri-bakteri penyakit (patogen) sama sekali tidak boleh mengandung bakteri coli melebihi batasbatas yang telah ditentukan yaitu 1 coli/100 ml air (Sutrisno, 1991 : 23). 2) COD (Chemical Oxygen Demand) COD yaitu suatu uji yang menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidan misalnya kalium dikromat untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat dalam air (Nurdijanto, 2000 : 15). Kandungan COD dalam air bersih berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No 82 / 2001 mengenai baku mutu air minum golongan B maksimum yang dianjurkan adalah 12 mg/l. apabila nilai COD melebihi batas dianjurkan, maka kualitas air tersebut buruk.

12

3) BOD (Biochemical Oxygen Demand) Adalah jumlah zat terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk memecah bahan bahan buangan didalam air (Nurdijanto, 2000 : 15). Nilai BOD tidak menunjukkan jumlah bahan organik yang sebenarnya tetepi hanya mengukur secara relatif jumlah oksigen yang dibutuhkan. Penggunaan oksigen yang rendah menunjukkan kemungkinan air jernih, mikroorganisme tidak tertarik menggunakan bahan organik makin rendah BOD maka kualitas air minum tersebut semakin baik. Kandungan BOD dalam air bersih menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No 82 / 2001 mengenai baku mutu air dan air minum golongan B maksimum yang dianjurkan adalah 6 mg/l Pengendalian Kualitas Air Upaya untuk mempertahankan kualitas air, dilakukan penggantian air 10% 20% per hari. dengan kriteria parameter kualitas air sebagai berikut: a) Parameter fisika 1) Suhu : 28 C 32 C. 2) pH : 7,5 8,5. 3) Salinitas : 10 ppt 35 ppt . 4) Kedalaman air : 100 cm 120 cm (semi intensif) dan >120 cm (intensif). 5) Kecerahan : 35 cm 40 cm. b) Parameter kimia 1) Oksigen terlarut : > 3,5 ppm. 2) Amonia : < 0,01 ppm. 3) Nitrit : < 1 ppm. 4) Nitrat : < 10 ppm. 5) BOD : < 3 ppm. 6) Clorine : < 0,8 ppm. 7) Bahan organik : < 50 ppm. c) Parameter biologis Kepadatan plankton : 104 sel/ml 109 sel/ml.

13

Tata cara pengukuran 1. Parameter fisika a) Suhu Pengukuran suhu air dilakukan dengan menggunakan termometer, yang dinyatakan dalam satuan oC. b) pH Pengukuran pH air dilakukan dengan menggunakan pH meter atau kertas lakmus. c) Salinitas Pengukuran salinitas air dilakukan dengan menggunakan salinometer/refraktometer, yang dinyatakan dalam satuan ppt. d) Kedalaman Pengukuran kedalaman air dilakukan dengan menggunakan papan skala, yang dinyatakan dalam satuan sentimeter (cm). e) Kecerahan Pengukuran kecerahan air dilakukan dengan menggunakan piringan berwarna hitam putih (secchi disk), yang dinyatakan dalam satuan sentimeter (cm). 2. Parameter kimia Pengukuran kualitas air seperti oksigen terlarut, amonia, nitrit, nitrat dan bahan organiksesuai dengan APHA (American Public Health Association) dan AWWA (American WaterWorks Association).

14

3.Parameter biologi
Cara pengukuran plankton adalah dengan menghitung jumlah plankton dalam haemocytometer dengan menggunakan mikroskop, yang dinyatakan dalam satuan sel permililiter (sel/ml). Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengembalikan suatu kondisi lingkungan seperti semula selain dengan teknik Bioremediation. Salah satunya adalah dengan Artificial Wetland, yaitu suatu teknik dalam pengembalian suatu kualitas lingkungan dengan suatu metode pemanfaatan lahan basah untuk mengembalikan kondisi lingkungan, dimana lingkungan yang telah mengalami penurunan kualitas dengan suatu treatment dialirkan pada suatu instalasi pengolahan lingkungan. Biasanya digunakan untuk mengembalikan kualitas air tambak, dimana air yang telah digunakan dialirkan pada suatu tangki pengendapan untuk mengendapkan zat padat yang selanjutnya masuk pada tangki yang berisikan aerator untuk membunuh bakteri yang bersifat anaerob dan selanjutnya masuk kedalam wetland yang terdapat tumbuhan yang berperan dalam menjernihkan air tambak dan menambah kandungan oksigen dalam air selanjutnya air dapat digunakan kembali untuk tambak. Akan tetapi Secara ekonomis Bioremediation dengan organism lebih kompetitif dari pada teknik yang lain.

15

KRITERIA KUALITAS AIR YANG DAPAT DIGUNAKAN SEBAGAI AIR MINUM PARAMETER SATUAN MAKSIMUM YANG DIANJURKAN MAKSIMUM YANG DIBOLEHKAN KETERANGAN

Fisika Temperatur oC Temperatur air alam Temperatur air alam Warna mg Pt-Co/1 5 50 Bau Tidak berbau Tidak berbau Rasa Tidak berasa Tidak berasa Kekeruhan mg S1O2/1 5 25 Residu terlarut mg/1 500 1500 Daya hantar listrik micromholan 400 1250 Kimia pH 6,5 8,5 6,5 8,5 nilai antara (range) Kalsium (Ca) mg/1 75 200 Magnesium (Mg) mg/1 30 150 Kesadahan mg/1 350 - minimum 10 Barium (Ba) mg/1 Nihil 0,05 Besi (Fe) mg/1 0,1 1 Mangan (Mn) mg/1 0,05 0,5 Tembaga (Cu) mg/1 Nihil 1 Seng (Zn) mg/1 1 15 Krom heksavalen (Cr(VI)) mg/1 Nihil 0,05 Kadmium (Cd) mg/1 Nihil 0,01 Raksa Total (Hg) mg/1 0,0005 0,001 Timbal (pb) mg/1 0,05 0,1 Arsen (As) mg/1 Nihil 0,05 Salenium (Se) mg/1 Nihil 0,01 Sianida (CN) mg/1 Nihil 0,05 Sulfida (S) mg/1 Nihil Nihil Florida (F) mg/1 - 1,5 minimum 0,5
16

Klorida (C1) mg/1 200 600 Sulfat (SO4) mg/1 200 400 Fosfor ( P ) mg/1 0,3 2 Amoniak (NH3-N) mg/1 Nihil Nihil Nitrat ( NO3-N) mg/1 5 10 Nitrit ( NO2-N) mg/1 Nihil Nihil Nilai Permanganat mg KMn04/1 Nihil 10 Senyawa Aktif biru metilen mg/1 Nihil 0,5 Fenol mg/1 0,001 0,002 Miyak dan Lemak mg/1 Nihil Nihil Karbon Kloroform Ekstrak mg/l 0,04 0,5 PBC mg/1 Nihil Nihil Bakteriologi Coliform total MPN/100 ml Nihil Nihil Coliform total MPN/100 ml 5 Nihil Coli total MPN/100 ml Nihil Nihil Kuman patogenik/parasitic Nihil Nihil Nihil Radicaktifitas Aktivitas beta total pCi/1 _ 100 Strontium 90 pCi/1 - 2 Radium 226 pCi/1 - 1 Pestisida mg/1 Nihil Nihil

17

KRITERIA KUALITAS AIR YANG BAIK UNTUK PERIKANAN DAN PETERNAKAN PARAMETER SATUAN KADAR MAKSIMUM KETERANGAN Fisika Temperatur oC Temperatur air alam + 4oC Residu terlarut mg/1 2000 Kimia pH 6 9 Tembaga (Cu) mg/1 0,02 Seng (Zn) mg/1 0,02 Krom heksavalen (Cr(VI)) mg/1 0,05 Kadmium (Cd) mg/1 0,01 Raksa Total (Hg) mg/1 0,002 Timbal (pb) mg/1 0,03 Arsen (As) mg/1 1 Salenium (Se) mg/1 0,005 Sianida (CN) mg/1 0,02 Sulfida (S) mg/1 0,002 Fluorida ( F ) mg/1 1,5 Amoniak bebas (NH3-N) mg/1 0,016 Nitrit (NO2-N) mg/1 0,06 Klor aktif (Cl2) mg/1 0,03 Oksigen Terlarut (DO) mg/1 - Disyaratkan lebih besar dari 3. Diperbolehkan sama dengan 3, maksimum 8 jam dalam 1 hari Senyawa aktif biru metilen mg/l 0,2 Fenol mg/l 0,001 Minyak & Lemak mg/l 1

18

Radioaktifitas Aktifitas beta total pCi/l 1000 Aktifitas tanpa adanya Sr-90 dan Ra-226 Strontium 90 pCi/l 10 Radium 226 pCi/l 3 Pestisida DDT mg/l 0,002 Endrine mg/l 0,004 BHC mg/l 0,21 Methyl Parathion mg/l 0,10 Malathion mg/l 0,16

19

KRETERIA KUALITAS AIR YANG BAIK UNTUK PERTANIAN, INDUSTRI LISTRIK TENAGA AIR DAN LINTAS AIR PARAMETER SATUAN KADAR MAKSIMUM KETERANGAN Fisika Temperatur oC Temperatur normal Sesuai dengan kondisi setempat Residu terlarut mg/1 1000 2000 Daya hantar listrik micro mho/cm (25C) 1750 2250 1750 untuk tanaman peka Kimia pH 5 9 Mangan (Mn) mg/l 2 Tembaga (Cu) mg/1 0,02 Seng (Zn) mg/1 5 Krom heksavalen (Cr(VI)) mg/1 5 Kadmium (Cd) mg/1 0,01 Raksa Total (Hg) mg/1 0,005 Timbal (pb) mg/1 5 Arsen (As) mg/1 1 Salenium (Se) mg/1 0,05 Nikel ( Ni ) mg/1 0,5 Kobalt (Co) mg/1 0,2 Bor (B) mg/1 1 g Na (g garam alkali) mg/1 60 Sodium Absorption Ratio (SAR) 10 18 Maksimum 10 untuk tanaman peka, Maximum 18 untuk yang kurang peka Residual Sodium Carbonat (RSC) 1,25 2,5 Maksimum 1,25 untuk tanaman peka, Maksimum 2,5 untuk yang kurang peka Radioaktifitas Aktifitas beta total pCi/l 1000 Aktifitas tanpa adanya Sr-90 dan Ra-226 Strontium 90 pCi/l 10 Radium 226 pCi/l 3 20

KRITERIA STANDARD KUALITAS AIR LIMBAH PARAMETER SATUAN I II III IV MUTU AIR BAIK SEDANG KURANG KURANG SEKALI

Fisika Temperatur oC 45 45 45 45 Residu terlarut mg/1 1000 3000 3000 50.000 Residu terlarut mg/1 100 200 400 500 Kimia pH 6 9 5 9 4,5 9,5 4,0 10 Besi (Fe) mg/1 5 7 9 10 Mangan (Mn) mg/1 0,5 1 3 5 Tembaga (Cu) mg/1 0,5 2 3 5 Seng (Zn) mg/1 5 7 10 15 Krom heksavalen (Cr(VI)) mg/1 0,1 1 3 5 Kadmium (Cd) mg/1 0,01 0,1 0,5 1 Raksa Total (Hg) mg/1 0,005 0,01 0,05 0,1 Timbal (pb) mg/1 0,1 0,5 1 5 Arsen (As) mg/1 0,05 0,3 0,7 1 Salenium (Se) mg/1 0,01 0,05 0,5 1 Sianida (CN) mg/1 0,02 0,05 0,5 1 Sulfida (S) mg/1 0,01 0,05 0,1 1 Fluorida (F) mg/1 1,5 2 3 5 Klor aktif (Cl2) mg/1 1 2 3 5 Klorida (Cl) mg/1 600 1000 1500 2000 Sulfat (SO4) mg/1 400 600 800 1000 N Kjeldahl (N) mg/1 7 - - 80 Amoniak Bebas (NH3-N) mg/1 0,5 1 2 5 Nitrat ( NO3-N) mg/1 10 20 30 50 Nitrit ( NO2-N) mg/1 1 2 3 5 Kebutuhan Oksigen (BOD) mg/1 20 100 300 500 21

Biologi Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD) mg/1 40 200 500 1000 PARAMTER SATUAN I II III IV BERAT SEKALI BERAT SEDANG RINGAN Senyawa aktif biru metilen mg/1 0,5 1 3 5 Fenol mg/1 0,002 0,05 0,5 1 Minyak nabati mg/1 10 30 70 100 mg/1 10 30 70 100

22

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Adapun isi dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa,air dapat digolongkan menjadi empat golongan yaitu : air golongan A, air golongan B, air golongan C, dan air golongan C,Serta memiliki standar kualitas yang baik yang ditinjau dari persyaratan kualitas air yang bersih yang terdiri dari,persyaratan fisik,kimiawi dan bakteriologi. B. SARAN Penulis menyadari bahwa dalam segi penulisan serta isi dari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,oleh karena itu,saran dari pembaca sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini agar lebih baik untuk dibaca.

23

DAFTAR PUSTAKA

Kementrian Lingkungan Hidup, Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002. Marwah, Sitti, Daerah Aliran Sungai (Das) sebagai Satuan Unit Perencanaan Pembangunan Pertanian Lahan Kering Berkelanjutan, Program Pasca Sarjana / S3, Institut Pertanian Bogor, November 2001. Masnang, Andi, Konversi Penggunaan Lahan Kawasan Hulu Dan Dampaknya Terhadap Kualitas Sumberdaya Air Di Kawasan Hilir, Program Pasca Sarjana / S3, Institut Pertanian Bogor, Mei 2003. Rahmadi, Andi, Air sebagai Indikator Pembangunan Berkelanjutan (Studi Kasus: Pendekatan Daerah Aliran Sungai), Program Pasca Sarjana / S3, Institut Pertanian Bogor, Mei 2002. World Bank, 2004. Water Quality and Resource Protection Strategy Policy Review, Task 1 Data Collection, East Java Regional Sector Development and Prograam (EJRSDP). P.T. Waseco Tirta. Jakarta.

Sumber: http://irlanode.wordpress.com/2010/12/16/makalah-kimia-air-pengolongan-dan-klasifikasi-air/

24