Anda di halaman 1dari 28

3.

DAERAH TINGKAT I SUMATERA BARAT

3. DAERAH TINGKAT I SUMATERA BARAT I. GAMBARAN UMUM 1. Keadaan daerah Luas wilayah propinsi Sumatera Barat adalah 42.297 km2. Dari luas tersebut hanya 13,9% yang dapat diusahakan sebagai daerah pertanian, selebihnya berupa hutan lindung, sungai-sungai, danau-danau, dan tanah tandus. Di samping tanah daratan, Sumatera Barat juga mempunyai daerah kepulauan, yaitu Kepulauan Mentawai. Daerah ini didiami oleh suku terasing dengan tingkat kehidupan ekonomi dan sosial budaya yang relatif masih terkebelakang. Penduduk Sumatera Barat pada tahun 1980 adalah sebanyak 3.406.816 jiwa dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 2,23% per tahun dan kepadatan penduduk 81 jiwa per /km2. Propinsi Sumatera Barat terdiri dari 14 Daerah Tingkat II, yaitu 8 kabupaten dan 6 kotamadya, 100 kecamatan, dan 3.518 desa. Mata pencaharian penduduk yang utama adalah pertanian, terutama pertanian pangan seperti padi, hortikultura, dan kacang-kacangan, kemudian perkebunan yang menghasilkan komoditi ekspor seperti kelapa, kayu manis, cengkeh, gambir dan lada. Hasil pertanian lainnya ialah ikan, baik yang berasal dari perairan umum, danau-danau maupun budidaya. Hasil kehutanan juga cukup baik dan terdapat terutama di Kepulauan Mentawai. Mata pencaharian lainnya ialah di sektor jasa, perdagangan, dan industri yang akhir-akhir ini juga menunjukkan peranan

73

yang semakin penting di dalam menunjang pertumbuhan ekonomi penduduk. Di samping itu di Sumatera Barat terdapat potensi bahan-bahan galian seperti batubara, marmer, batu silika, kapur, trass dan lain sebagainya. Di samping itu Kepulauan Mentawai, Danau Maninjau, Danau Singkarak dan Bukittinggi merupakan daerah pariwisata yang masih dapat dikembangkan, dan mempunyai potensi untuk pengembangan tenaga pembangkit listrik. Dilihat dari komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Sumatera Barat tahun 1980, sumbangan sektor pertanian cukup besar, yaitu sebanyak Rp.99,1 milyar atau 34,5% dari PDRB Sumatera Barat. Perkembangan PDRB Sumatera Barat antara 1975 sampai dengan 1980 berdasarkan harga konstan 1975 adalah rata-rata 11,9% per tahun. Bila dibandingkan dengan total PDRB seluruh Indonesia maka kontribusi PDRB daerah ini pada tahun 1975 adalah 1,35%, dan pada tahun 1980 meningkat menjadi 1,6%. 2. Masalah-masalah yang dihadapi Propinsi Sumatera Barat sejak lama telah merupakan daerah surplus pangan yang menjual kelebihannya kepada propinsi tetangganya. Tetapi daerah pertanian di propinsi ini mengalami kekurangan tenaga kerja, sehingga upah menjadi tinggi, dan oleh karena itu banyak daerah-daerah pertanian yang belum diusahakan. Di samping itu sarana dan prasarana angkutan ke pedesaan belum memadai dan hal ini menyebabkan belum adanya sistim pemasaran hasil-hasil pertanian yang teratur. Dari luas sawah daerah Sumatera Barat sebesar 210.725 ha, yang berpengairan teknis adalah 5.769 ha, setengah teknis 74

90.776 ha, sederhana 84.561 ha dan sawah tadah hujan 29.619 ha. Yang sudah terjangkau oleh kegiatan intensifikasi barulah sawah yang berpengairan teknis dan setengah teknis. Di samping itu potensi untuk ekstensifikasi pertanian masih cukup tersedia, yang dapat dilihat dari potensi irigasi teknis seluas 7.335 ha dan irigasi setengah teknis seluas 100.119 ha. Masalah produksi pangan lainnya ialah belum selesainya pembangunan irigasi Panti Rio, Batang Tonggak, Batang Indrapura dan irigasi Sei Dareh di Sitiung. Hasil produksi perkebunan yang terbesar di Sumatera Barat berasal dari perkebunan rakyat (98%), sedangkan perkebunan besar swasta nasional yang berjumlah 27 buah dengan luas 50.007,82 ha masih amat kecil peranannya sebagai sumber devisa. Potensi lahan untuk perkebunan kayu manis, cengkeh, gambir dan lada masih cukup luas dan terdapat di Kabupaten Agam, Pasaman, Limapuluhkota, Tanah Datar, Solok, dan Pesisir Selatan. Di samping itu berbagai upaya rehabilitasi bekas perkebunan yang terlantar belum dapat diselesaikan seluruhnya selama Repelita III. Tingkat produksi ikan hingga kini masih rendah karena masih terbatasnya prasarana dan sarana produksi, dan masih kurangnya modal, tenaga kerja, penyuluhan dan lain-lain sebagainya. Sampai tahun 1982 baru tercatat 1.001 buah perahu motor. Bila jumlah ini dibandingkan dengan jumlah yang ada pada tahun 1978, maka sudah terjadi kenaikan sebesar 84,35%. Khusus mengenai budidaya ikan maka luas kolam yang ada baru 4.041 ha, dan bila dibandingkan dengan luasnya pada tahun 1978, hanya terdapat kenaikan 7,64%. Sedangkan PPI (Pangkalan Pendaratan Ikan) baru ada 5 buah yaitu di Bungus, Pariaman, Tiku, Painan dan Gaung. 75

Perbedaan pendapatan antara golongan ekonomi lemah dan ekonomi kuat di pedesaan tidak jauh. Pendapatan petani ratarata masih rendah, tetapi yang mengusahakan tanaman keras tingkat ekonominya berada di bawah petani yang menghasilkan tanaman pangan, apalagi petani nelayan pendapatannya masih lebih rendah daripada petani yang mengusahakan tanaman keras atau petani perkebunan. Untuk meningkatkan pendapatan petani dan untuk menampung tenaga kerja akan diusahakan peningkatan kegiatan industri yang mengolah hasil-hasil pertanian. Namun usaha-usaha ini akan terhambat oleh kurangnya modal dan terbatasnya tenaga kejuruan yang terampil. Di dalam rangka meningkatkan produksi semen Indarung IV dan produksi batu bara, maka prasarana pelabuhan, jalan raya dan kereta api yang merupakan sarana pendukung, pada Repelita I, II dan III telah ditingkatkan, namun masih belum seimbang dengan meningkatnya volume pembangunan itu sendiri, terutama dermaga Pelabuhan Teluk Bayur, pergudangan dan lapangan terbuka. Pada tahun-tahun yang lalu Sumatera Barat mengalami kelebihan tenaga guru dan mengirimkan kelebihannya ke daerah tetangga, tetapi sekarang Sumatera Barat sendiri mengalami kekurangan tenaga guru dan guru untuk sekolah luar biasa. Di samping itu daerah ini juga kekurangan tenaga kejuruan menengah, sedang tenaga-tenaga kejuruan yang ada belum siap pakai. Lapangan Udara Tabing sudah tidak mungkin diperluas lagi, sedangkan kebutuhan akan prasarana perhubungan udara semakin meningkat. Kebutuhan akan fasilitas rumah sakit di Sumatera Barat semakin meningkat, karena yang memanfaatkan rumah sakit itu 76

bukan hanya penduduk propinsi Sumatera Barat melainkan juga penduduk propinsi-propinsi di sekitarnya, yaitu Jambi dan Riau, sedang fasilitas yang ada kurang memadai. II. ARAH DAN KEBIJAKSANAAN PEMBANGUNAN DAERAH 1. Arah pembangunan daerah dalam rangka pembangunan nasional. Sesuai dengan Pola Umum Jangka Panjang, daerah Sumatera Barat maka dalam Repelita IV prioritas diberikan kepada pembangunan bidang ekonomi dengan titik berat pada sektor pertanian yang terpadu dalam pembangunan daerah pedesaan, dalam rangka mempertahankan kemantapan swasembada pangan, meningkatkan hasil-hasil pertanian, meningkatkan industri yang mendukung sektor pertanian dan industri lainnya yang sesuai dengan kondisi daerah, serta mengembangkan pariwisata. Kebijaksanaan pembangunan industri diarahkan pada usahausaha pembuatan mesin-mesin yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku dan barang jadi, khususnya hasil-hasil pertanian, baik yang berasal dari Sumatera Barat maupun dari daerah sekitarnya. Di samping itu akan ditingkatkan industri pengolahan hasil-hasil pertambangan dan bahan galian batubara, bahan baku semen, marmer, dan bahan galian lainnya. Dalam hal ini perhatian utama akan diberikan pada usaha-usaha perluasan kesempatan kerja, pemerataan kesempatan berusaha dan peningkatan ekspor. Pembangunan industri juga diarahkan pada pembangunan industri rumah tangga dan kerajinan yang sifatnya padat karya. Dalam pembangunan industri diusahakan agar industri besar, menengah dan kecil saling mengisi dengan memanfaatkan peranan koperasi industri kecil. 77

Pengembangan pariwisata dilakukan dengan memanfaatkan kekayaan kebudayaan lokal dan Cara hidup penduduk serta keindahan alam. Bidang pariwisata mempunyai pusat kegiatan di Bukittinggi, dan di samping itu dikembangkan obyek-obyek wisata di berbagai lokasi. Untuk meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan pembangunan akan dilanjutkan konsep perwilayahan dan akan disempurnakan sesuai dengan perkembangan yang terjadi. Kebijaksanaan pembangunan yang ditempuh dalam Repelita IV adalah dengan menggunakan pendekatan pembangunan secara wilayah dan pembangunan secara sektoral. Untuk ini daerah Sumatera Barat dibagi menjadi wilayah-wilayah pembangunan. Wilayah Pembangunan I dengan pusat pengembangan Lubuk Sikaping meliputi Kabupaten Pasaman yang mempunyai ciri daerah pinggiran yang mengutamakan produksi tanaman keras atau perkebunan dan peternakan, di samping tetap memanfaatkan potensi yang tersedia dalam produksi tanaman pangan, terutama padi. Wilayah Pembangunan II dengan pusat pengembangan Bukittinggi terdiri dari Kabupaten Agam, Kabupaten Limapuluhkota, Kabupaten Tanahdatar, Kotamadya Bukittinggi, Kotamadya Payakumbuh, dan Kotamadya Padang Panjang yang mempunyai ciri sebagai daerah penghasil bahan makanan beras dan sayuran dan di samping itu turut pula dalam produksi hasil industri kerajinan dan pariwisata. Wilayah Pembangunan III dengan pusat pengembangan Padang terdiri dari Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan, dan Kotamadya Padang yang mempunyai ciri kegiatan produksi dalam bidang perikanan, bahan makanan, industri kimia dasar, industri kecil, dan aneka industri. Wilayah Pembangunan IV dengan pusat pengembangan Solok terdiri dari kabupaten Solok, Kabupaten Sawahlunto Sijunjung dan Kotamadya Sawahlunto yang mempunyai ciri kegiatan produksi dalam bidang 78

tanaman keras atau perkebunan, bahan makanan, dan hasil pertambangan. Wilayah Pembangunan V dengan pusat pengembangan Sikakap meliputi Kepulauan Mentawai yang mempunyai ciri kegiatan produksi di bidang perkayuan, perikanan, dan tanaman perkebunan. Dalam Repelita IV daerah Sumatera Barat diperkirakan akan tumbuh dengan laju pertumbuhan rata-rata 6% setahun. 2. Kebijaksanaan pembangunan daerah Kebijaksanaan yang ditempuh selama Repelita IV tidak akan berbeda dengan kebijaksanaan dalam Repelita III, yaitu peningkatan sektor pertanian. Kalau pada Repelita III prioritas utama ditekankan kepada sub sektor pangan, maka pada Repelita IV yang diutamakan adalah sub sektor perkebunan sebagai penghasil bahan ekspor. Namun demikian sektor pangan akan tetap ditingkatkan baik dengan ekstensifikasi maupun intensifikasi dan di samping itu akan ditingkatkan sarana penunjangnya seperti irigasi teknis, setengah teknis maupun sederhana. Untuk meningkatkan penerimaan devisa dari sektor non minyak yang dikaitkan dengan kesempatan atau lapangan kerja di luar sektor pertanian, maka akan dibangun industri hulu dengan padat modal yang mengolah hasil pertambangan dan bahan galian, mengolah hasil-hasil pertanian menjadi barang jadi dan di samping itu juga akan ditingkatkan industri kerajinan dan rumah tangga dengan padat karya. Kecuali memberikan lapangan kerja, industri kerajinan ini juga merupakan faktor pendukung untuk pengembangan program pariwisata.

79

Pariwisata sebagai salah satu sumber pendapatan devisa non minyak dikembangkan dengan menjadikan Bukittinggi sebagai pusat kegiatan pariwisata. Untuk ini berbagai program prasarana dan sarana dikembangkan secara bertahap dan berkelanjutan. Pembangunan di Sumatera Barat baik pembangunan di bidang ekonomi maupun di bidang sosial bukan hanya untuk Sumatera Barat sendiri, melainkan juga untuk mengisi kebutuhan daerah tetangga lainnya dan untuk kebutuhan pasar internasional. Oleh karena itu peningkatan prasarana dan sarana perhubungan mendapat tempat utama sebagai sarana penunjang, antara lain yaitu peningkatan jalan yang menuju ke pedesaan dan ke pusat pusat perkembangan, pembangunan Pelabuhan Laut/Teluk Bayur, dan pemindahan Lapangan Udara Tabing ke Ketaping. Untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga yang menunjang industri hulu dan industri-industri lainnya, serta untuk keperluan irigasi, diperlukan tenaga penggerak seperti PLTA Maninjau, PLTU Ombilin dan PLTA Singkarak. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di bidang industri baik industri ringan, industri berat maupun industri kerajinan dan rumah tangga, diperlukan tenaga-tenaga yang berpendidikan tinggi dan kejuruan menengah yang akan diperoleh dengan meningkatkan sekolah kejuruan dan perguruan tinggi. Untuk dapat melayani kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan akan dididik 400 orang setiap tahun untuk berbagai keahlian yaitu tenaga medis, perawat, ahli gizi, dan penilik kesehatan. Agar siswa-siswa tersebut dapat belajar dengan baik akan dibangun kampusnya di Padang. Selanjutnya karena Rumah Sakit Umum di Padang juga melayani propinsi-propinsi 80

tetangga, maka Rumah Sakit Umum ini akan ditingkatkan menjadi kelas B. Kebijaksanaan khusus perlu pula dilakukan bagi daerah Kepulauan Mentawai dan daerah yang berbatasan dengan propinsi lainnya yang merupakan daerah "terpencil". Pembangunan Kepulauan Mentawai dikaitkan dengan strategi pertahanan dan keamanan. Sehubungan dengan keadaan penduduk yang tipis maka perlu dilancarkan program transmigrasi. Dengan adanya program ini kepulauan tersebut akan menjadi daerah transmigrasi Saptamarga. Program transmigrasi di Kepulauan Mentawai ini juga diarahkan untuk dapat mendukung program peningkatan produksi perikanan yang telah dirintis dalam Repelita III. Rehabilitasi serta penyempurnaan prasarana dan sarana Pelabuhan Teluk Bayur dipadukan dengan jalan kereta api dan jalan raya yang menghubungkan pelabuhan dengan kantong-kantong produksi sehingga dapat menampung arus lalu-lintas barang dan penumpang yang sepadan dengan lajunya pembangunan. Untuk meningkatkan ekspor dan pendapatan petani nelayan, terutama di pantai barat, akan dikembangkan areal tambak udang di Kabupaten Pesisir Selatan. Penyusunan rencana pembangunan kawasan industri di Kotamadya Padang yang telah dijajaki pada Repelita III, akan dilaksanakan pada Repelita IV. III.KEGIATAN-KEGIATAN PEMBANGUNAN SELAMA REPELITA IV Peningkatan produksi tanaman pangan akan dilaksanakan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi selain tanaman padi, palawija juga intensifikasi hortikultura akan terus ditingkatkan. 81

Untuk itu sarana pendukungnya seperti balai-balai benih, balai-balai penyuluhan pertanian, usaha-usaha perlindungan tanaman dan lain-lain akan terus ditingkatkan. Untuk menunjang pembangunan dibidang pertanian tanaman pangan akan ditingkatkan fasilitas yang mendukungnya yaitu dengan pembangunan irigasi baru maupun peningkatan irigasi yang sedang dikerjakan seperti irigasi Batang Tonggar, irigasi Indrapura, irigasi Sungai Dareh (Sitiung) dan irigasi Panti Rao dan di samping itu akan dilaksanakan pencetakan sawah-sawah baru. Pencetakan sawah dilaksanakan pada lahan irigasi sederhana di daerah Kabupaten Pesisir Selatan, Solok, Sawahlunto/Sijunjung, Tanah Datar, Padang Pariaman, Agam, Limapuluhkota; lahan irigasi sedang kecil di daerah Kabupaten: Pesisir Selatan, Solok, dan Agam; dan lahan rawa sederhana di daerah Kabupaten Pesisir Selatan, Limapuluhkota dan Pasaman. Di samping itu akan dilanjutkan usaha diversifikasi tanaman dan pemanfaatan pekarangan untuk tanaman bernilai gizi tinggi dari komoditi palawija dan hortikultura. Dalam rangka peningkatan produksi perkebunan, akan dilaksanakan melalui usaha-usaha pokok peremajaan/perluasan tanaman karat, kelapa, kelapa sawit, coklat, lada, cengkeh, tebu, pala, cassiavera yang akan mencakup areal 57.695 ha, serta intensifikasi dan rehabilitasi tanaman kelapa, lada, cengkeh, tembakau seluas 21.988 ha. Selain usaha peningkatan produksi, juga akan diikuti dengan usaha peningkatan mutu serta perbaikan tata niaga dengan pengikutsertaan PNP/PTP, perkebunan besar dan lembaga swasta lainnya dengan meningkatkan peranserta koperasi. Pelaksanaannya akan dilakukan dengan pola 82

UPP, pola PIR dan secara parsial. Di samping itu akan diusahakan pengembangan tanaman yang potensial non tradisional seperti linum, abaca, stevia, kenaf, melinjo, jarak, tanaman obat-obatan dan lain-lain. Pembangunan peternakan dilaksanakan melalui usaha pokok intensifikasi dan ekstensifikasi peternakan sapi, kerbau, sapi perah, kambing dan aneka ternak. Di samping itu akan ditingkatkan pusat pembibitan ternak sapi dan hijauan makanan ternak di Padang Mangatas, penyidikan penyakit hewan di Bukittinggi, pengembangan aneka ternak di beberapa kabupaten, serta peningkatan kegiatan penyuluhan. Di bidang perikanan peningkatan produksi perikanan akan dilaksanakan dengan meningkatkan prasarana dan sarana produksi, permodalan, tenaga kerja dan penyederhanaan peraturan-peraturan, penyuluhan dan pembinaan tani nelayan dalam hal perluasan tambak-tambak terutama udang. Di samping itu akan yakni dilakukan di Bungus pula dan penyempurnaan Sikakap dan

pelabuhan

perikanan

penyempurnaan BBI di Sicincin, Payakumbuh, dan Sijunjung. Di bidang industri akan dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan industri yang mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi dan barang jadi, industri yang mengolah hasil pertanian/perkebunan dan industri yang mengolah hasil pertambangan. Guna mendorong pembangunan industri akan dipersiapkan pembangunan kawasan industri. Di bidang pertambangan kegiatan eksplorasi batubara akan ditingkatkan pada daerah-daerah tambang antara lain Tanah Hitam, Sawah Luhung, Sugar, Waringin, Parambahan dan lain-lain. 83

Untuk meningkatkan produksi akan dilakukan penambahan dan rehabilitasi peralatan tambang, hingga produksi batubara Ombilin dan Sawahlunto pada akhir Repelita IV diharapkan dapat mencapai 1,3 juta ton per tahun. Di samping itu pemetaan geologi teknik akan dilaksanakan dalam rangka pengumpulan data dasar geologi teknik untuk pengembangan wilayah. Di bidang kelistrikan akan diusahakan peningkatan dengan pembangunan PLTA Singkarak, PLTU Solok/Sawahlunto, PLTU Ombilin, PLTA Danau Diatas dan Danau Dibawah, dan penyempurnaan PLTA Maninjau. Di bidang prasarana dan sarana perhubungan akan ditingkatkan fasilitas Pelabuhan Laut Teluk Bayur, serta akan diusahakan pemindahan Pelabuhan Udara Tabing ke Ketaping. Di samping itu akan ditingkatkan rel kereta api antara Lubukalung - Padangpanjang - Sawahlunto. Pembangunan di bidang jalan akan diprioritaskan pada program peningkatan jalan dan jembatan dengan pembukaan jalan baru antara Sumatera Barat - Sumatera Utara, melanjutkan pembangunan jalan Sumatera Barat - Jambi, yaitu antara Lubuk Selasih - Lubuk Gadang - batas Kerinci, melanjutkan pembangunan jalan untuk membuka daerah Solok Selatan yaitu antara Lubuk Gadang - Abai Siat. Dalam rangka mengembangkan kepariwisataan akan diusahakan penyediaan fasilitas untuk pariwisata di Bukittinggi, Danau Singkarak, Danau Maninjau, Danau Diatas dan Danau Dibawah serta Kepulauan Mentawai. Dalam rangka peningkatan kegiatan perdagangan akan dilaksanakan melalui penyempurnaan sistem administrasi termasuk 84

penyempurnaan perundang-undangan dan peraturannya, penyederhanaan sistem perizinan serta usaha-usaha penyempurnaan lembaga perdagangan dan pemasaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyaluran sarana produksi serta pemasaran hasil-hasil produksi. Demikian pula akan dilanjutkan usaha-usaha perluasan pasaran barang-barang produksi dalam negeri melalui pameran-pameran dagang dan penyebarluasan informasi pasar, perlindungan konsumen serta peningkatan dan pengembangan peranan pedagang golongan ekonomi lemah melalui penataran, penyuluhan dan pusat-pusat pembinaan/pelayanan pengusaha golongan ekonomi lemah. Usaha-usaha untuk meningkatkan ekspor non migas akan terus dilanjutkan dalam rangka pengembangan perdagangan luar negeri melalui penggarapan komoditi potensial, peningkatan koordinasi yang lebih terpadu antar instansi dan penyuluhan eksportir. Dalam rangka peningkatan daya tampung di bidang pendidikan untuk tingkat sekolah dasar akan dibangun tambahan sekitar 4.520 ruang kelas baru, perbaikan sekitar 2.620 gedung sekolah dasar dan TK yang ada. Pada tingkat SMTP, untuk SMP akan dibangun sekitar 125 unit sekolah baru, penambahan sekitar 834 ruang kelas baru, rehabilitasi 89 sekolah, serta pengembangan sejumlah SMTP Kejuruan dan Teknologi. Pada tingkat SMTA akan dibangun sekitar 23 unit SMA baru, 2 STM dan 1 SMT Pertanian, 2 SMEA, penambahan 308 ruang kelas baru untuk SMA dan pengembangan 10 SPG, serta rehabilitasi 21 gedung SMA, sekolah kejuruan dan teknologi negeri, 2 SGO serta sekolah kejuruan dan teknologi swasta. Untuk pelaksanaan dan pemantapan wajib belajar akan dibangun kantor pengelolaan pembinaan pendidikan dasar pada 25 kecamatan. Untuk meningkatkan mutu pada TK, SLB, SD, SMTP dan SMTA, 85

akan disediakan buku pelajaran pokok, buku bidang studi, buku perpustakaan, alat-alat pelajaran, alat peraga, dan alat keterampilan. Di samping itu akan diadakan penataran guru, kepala sekolah, dan pembina. Khusus pada tingkat SMTP dan SMTA akan dibangun 115 ruang laboratorium ilmu-ilmu alam untuk SMP dan 24 ruang untuk SMA, ruang keterampilan 170 ruang untuk SMP, dan 16 ruang untuk SMA. Dalam hal ini, penelusuran bakat dan kemampuan siswa akan terus ditingkatkan. Dalam rangka peningkatan pendidikan tinggi, Universitas Andalas akan ditingkatkan dan dikembangkan dengan prioritas bidang teknologi, sains, pertanian dan ekonomi. Untuk bidang teknologi akan dibuka fakultas teknik, sedangkan untuk program diploma akan didirikan diploma teknologi dan diploma Pertanian (Agro politek). IKIP Padang akan ditingkatkan terutama untuk pengadaan guru, guna memenuhi kebutuhan guru sekolah pembangunan. ASKI Padangpanjang akan dikembangkan dan diarahkan untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah melalui seni tari dan karawitan. Di samping itu pembinaan terhadap perguruan tinggi swasta akan ditingkatkan. Di bidang kebudayaan akan terus ditingkatkan antara lain dalam bidang kepurbakalaan, kesejarahan dan permuseuman melalui pemugaran obyek kepurbakalaan, serta pemugaran dan pemeliharaan berbagai situs kepurbakalaan; pengembangan permuseuman; serta pengembangan dan pembinaan bahasa daerah. Di bidang agama akan disediakan kitab suci berbagai agama, diberikan bantuan kepada masyarakat untuk pembangunan/rehabilitasi 1.250 tempat ibadah berbagai agama dan pembangunan 30 balai nikah dan penasehatan perkawinan, serta perluasan

86

sejumlah layah.

balai

sidang

pengadilan

agama

dan

kantor-kantor

urusan agama tingkat kecamatan, kabupaten/kotamadya dan wi-

Sebagai usaha peningkatan mutu perguruan agama, akan ditingkatkan dan disempurnakan prasarana dan sarana pendidikan pada madrasah ibtidaiyah negeri, madrasah tsanawiyah negeri dan madrasah aliyah negeri serta pendidikan guru agama negeri. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi rehabilitasi (termasuk madrasah ibtidaiyah swasta)/penambahan ruang kelas, penyediaan antara lain alat peraga, buku pelajaran dan buku perpustakaan serta penataran guru berbagai bidang studi. Di samping itu IAIN Imam Bonjol akan terus ditingkatkan sesuai dengan Tridharma Perguruan Tinggi. Demikian pula penerangan dan bimbingan hidup beragama terutama bagi masyarakat khusus. Pembangunan di bidang hukum dalam Repelita IV, direncanakan antara lain pembangunan sebuah gedung pengadilan negeri, perluasan/rehabilitasi sejumlah pengadilan negeri dan pembangunan beberapa tempat sidang di kota-kota kecil, pembangunan 1 lembaga pemasyarakatan, pembangunan 4 rumah tahanan Negara (RUTAN), pembangunan sejumlah rumah penitipan benda-benda sitaan negara (RUPBASAN); perubahan sejumlah lembaga pemasyarakatan menjadi RUTAN, pembangunan 1 asrama tahanan imigrasi dan sebuah pos imigrasi. Selain itu akan dibangun pula 2 kantor kejaksaan negeri di Kabupaten Solok dan Limapuluhkota; serta rehabilitasi/ perluasan sejumlah kantor kejaksaan Negeri. Kegiatan penyuluhan hukum akan lebih ditingkatkan dalam

87

rangka peningkatan kesadaran hukum masyarakat. Sementara itu dalam rangka memberikan kesempatan memperoleh keadilan dan perlindungan hukum, penyelenggaraan bantuan hukum dan konsultasi hukum terutama untuk golongan masyarakat yang kurang mampu akan lebih dimantapkan. Pelaksanaan operasi yustisi dalam rangka penegakan hukum akan lebih ditingkatkan pula. Dalam rangka pengembangan yurisprudensi termasuk kasus kasus hukum adat, akan lebih ditingkatkan kerjasama dengan Universitas Andalas. Dalam rangka upaya meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat melalui Puskesmas akan dilakukan pembangunan 15 Puskesmas dan 8 Puskesmas Pembantu terutama di daerah pemukiman baru termasuk daerah transmigrasi dan daerah terpencil. Untuk peningkatan pelayanan kesehatan di Kepulauan Mentawai diusahakan pengadaan Puskesmas Keliling dalam bentuk perahu bermotor. Untuk meningkatkan pemerataan dan perluasan jangkauan pelayanan kesehatan kepada masyarakat akan ditingkatkan pula penyuluhan kesehatan dengan menggunakan pendekatan pembangunan kesehatan masyarakat desa (PKMD). Selain itu akan ditingkatkan berbagai kegiatan yang ditujukan terutama kepada kelompok ibu dan anak serta usaha kesehatan sekolah. Dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan rujukan akan diusahakan peningkatan RSUP dr. Djamil, meningkatkan RSU dr. Achmad Mochtar Bukittinggi dari kelas C ke kelas B, meningkatkan 1 buah RS kelas C menjadi kelas C+, 4 buah RS kelas D menjadi kelas C dan 2 buah RS kelas D menjadi kelas D+ dan peningkatan rumah sakit umum lainnya yang ada, serta pelayan88

an kesehatan jiwa terutama melalui pelayanan rawat jalan dan peningkatan pelayanan laboratorium kesehatan. Untuk menjamin tercapainya sistem pengadaan dan distribusi obat pada unit-unit pelayanan kesehatan akan dibangun 8 buah sarana penyimpanan obat, alat dan perbekalan kesehatan. Peningkatan upaya kesehatan lainnya adalah pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, serta peningkatan pengendalian, pengadaan dan pengawasan obat, makanan, kosmetika, alat kesehatan dan bahan berbahaya. Selain itu juga dilakukan peningkatan perbaikan gizi melalui usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK), peningkatan pencegahan dan penanggulangan kekurangan vitamin A dan anemia gizi besi serta pencegahan gondok endemik. Untuk meningkatkan kemampuan dan pengelolaan program gizi, sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG) akan dikembangkan. Di samping itu akan ditingkatkan kesehatan lingkungan semua penduduk dan dilakukan usaha untuk menambah berbagai jenis sarana air bersih. Dalam rangka meningkatkan pembangunan sarana air bersih, terutama untuk penduduk pedesaan, akan dibangun 35 buah penampungan air dengan perpipaan, 15 buah sumur artesis, 40 buah perlindungan mata air, 1.200 buah penampungan air hujan, 17.964 buah sumur pompa tangan dangkal dan dalam serta sejumlah sarana air bersih jenis lainnya. Untuk memenuhi kekurangan tenaga kesehatan, khususnya tenaga paramedis akan dilakukan peningkatan jumlah lulusan tenaga kesehatan, dengan cara melipatgandakan jumlah penerimaan dengan membuka kelas paralel pada sekolah/akademi yang ada. Di samping itu akan ditingkatkan sarana pendidikan serta akan dibangun berbagai sekolah/akademi kesehatan sesuai keperluan-

89

nya, ditingkatkan sekolah/akademi yang ada dan dilaksanakan pendidikan pekarya kesehatan. Di biding tenaga kerja dilanjutkan kegiatan latihan, dan keterampilan serta kewiraswastaan di lembaga-lembaga latihan yang ada baik milik pemerintah, maupun lembaga latihan swasta dan perusahaan. Kegiatan latihan disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja dan kesempatan kerja daerah setempat. Selain itu lebih ditingkatkan perencanaan tenaga kerja yang menyeluruh, terkoordinasi dan terpadu mencakup semua sektor pembangunan pemerintah dan swasta baik di Daerah Tingkat I, maupun di Daerah Tingkat II. Penyebaran dan pemanfaatan tenaga kerja muda terdidik ke daerah pedesaan sebagai Tenaga Kerja Sukarela Pelopor Pembaharuan dan Pembangunan terus dilanjutkan dan disempurnakan. Proyek Padat Karya Gaya Baru (PKGB) yang ditujukan untuk mengatasi masalah kekurangan lapangan kerja dilaksanakan di kecamatan-kecamatan padat penduduk dan miskin baik di daerah perkotaan maupun pedesaan dengan mengutamakan wilayah-wilayah yang sering dilanda bencana alam dan kegiatan ekonomi yang menurun. Sejauh mungkin pelaksanaan kegiatan PKGB dipadukan dengan pembangunan wilayah kecamatan UDKP. Selama Repelita IV pelaksanaan transmigrasi dalam rangka penyebaran penduduk dan pembukaan areal pertanian baru akan dilanjutkan. Diperkirakan selama Repelita IV akan dilaksanakan penyiapan lahan seluas 6.518 ha untuk menampung sekitar 4.345 kepala keluarga penduduk di daerah pemukiman transmigrasi yang terdiri dari transmigran umum, transmigran swakarsa dan pemukiman kembali.

90

Dalam bidang perkoperasian, upaya peningkatan kemampuan organisasi, tata laksana, dan usaha akan dilanjutkan. Upaya peningkatan itu tetap akan diprioritaskan pada koperasi primer, khususnya Koperasi Unit Desa (KUD) yang melaksanakan usaha dalam bidang pertanian pangan, peternakan rakyat, perikanan rakyat, perkebunan rakyat, kerajinan rakyat, industri kecil, perkreditan/simpan pinjam, kelistrikan desa, jasa angkutan pedesaan, dan berbagai jenis komoditi ekspor yang diproduksi masyarakat pedesaan Sumatera Barat. Lain dari pada itu, mutu dan intensitas pelayanan koperasi kepada anggotanya juga akan ditingkatkan. Untuk mendukung upaya peningkatan di atas akan diusahakan adanya penyempurnaan metoda, materi, dan penyelenggaraan pendidikan, penataran dan latihan keterampilan pengurus, badan pemeriksa, manajer, dan karyawan koperasi serta penyempurnaan cara pemberian bantuan tenaga manajemen yang terdidik/terlatih kepada KUD yang dianggap masih memerlukan bantuan dimaksud. Untuk menciptakan iklim masyarakat yang mendukung pengembangan koperasi yang sehat, maka penerangan dan penyuluhan perkoperasian akan dilanjutkan dan ditingkatkan. Untuk membantu golongan ekonomi lemah maka usaha-usaha yang telah dilaksanakan dalam Repelita III, seperti bimbingan, latihan keterampilan untuk meningkatkan mutu, penyediaan fasilitas pasar dan bantuan modal (kredit candak kulak dan sebagainya) akan terus dilanjutkan dan ditingkatkan, sedangkan potensi pengusaha kecil akan terus dikembangkan antara lain melalui program KIK dan KMKP. Di bidang kesejahteraan sosial akan dilakukan kegiatan antara lain: memberikan penyantunan dan pengentasan kepada 91

para anak terlantar, lanjut usia, fakir miskin, korban bencana alam dan tuna sosial, dan para cacat serta meningkatkan pembinaan organisasi yayasan-yayasan yang bergerak di bidang sosial untuk meningkatkan partisipasi sosial masyarakat. Untuk menjangkau sasaran pelayanan dan pembangunan bidang kesejahteraan sosial di daerah pedesaan akan dikembangkan dan dibina tenaga-tenaga pembimbing sosial masyarakat; demikian pula karang taruna akan ditingkatkan dan kegiatannya akan dipadukan dengan program pembinaan generasi muda dan di samping itu akan ditingkatkan jumlah karang taruna baru. Peningkatan peranan dan fungsi wanita akan lebih digairahkan untuk menangani masalah kesejahteraan sosial. Pembangunan di bidang perumahan yang mencakup pembangunan perumahan sederhana dan perumahan inti dan perintisan perbaikan lingkungan perumahan kota akan dilakukan antara lain di kota-kota Padang, Bukittinggi, Padangpanjang, Solok dan Payakumbuh. Perintisan pemugaran perumahan desa akan dilakukan pada kurang lebih 150 desa. Sedangkan perintisan pembuangan sampah dan pembangunan saluran air hujan (drainase) akan dilakukan di Padang dan beberapa kota lainnya. Kegiatan dalam program penyediaan air bersih akan dite kankan pada penyelesaian kegiatan-kegiatan yang telah dimulai pada Repelita III serta perluasan dan peningkatan pelayanan air bersih antara lain di kota Padang, Bukittinggi, Padangpanjang, serta pelayanan air bersih untuk beberapa IKK (Ibukota Kecamatan). Untuk mengurangi laju pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kesejahteraan keluarga, kegiatan program keluarga berencana dilanjutkan. Diharapkan dapat dicapai sejumlah kurang 92

lebih 423.000 peserta baru dan sekitar 321.000 peserta lestari. ada. Di bidang penerangan akan dilanjutkan tugas-tugas penerangan operasional antara lain melalui sarasehan dengan memanfaatkan Puspenmas sebagai pusat pelayanan informasi, pameran, kegiatan sosio-drama dan pertunjukan tradisional yang komunikatif. Untuk meningkatkan penyebaran arus informasi ke pedesaan, kegiatan koran masuk desa (KMD) dilanjutkan dengan mengikut sertakan secara aktif peranan pers daerah setempat. Di samping itu akan dilaksanakan rehabilitasi/pembangunan stasiun RRI dan peningkatan siarannya serta pembangunan stasiun pemancar TV. Di bidang pengelolaan sumber alam dan lingkungan hidup serta guna mempertahankan keseimbangan ekologi, terutama dalam rangka rehabilitasi tanah kritis, akan dilanjutkan kegiatan penghijauan dan reboisasi. Pelaksanaannya akan diutamakan pada daerah-daerah kritis terutama pada DAS Agam dan Kuantan. Demikian pula pencegahan pencemaran lingkungan, baik di desa maupun di perkotaan, pembinaan suaka alam dan hutanhutan lindung, akan dilanjutkan. Dalam rangka mengkoordinasikan dan menyerasikan pelaksanaan kegiatan pembangunan yang dilakukan secara sektoral dalam berbagai program, baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun yang dilakukan masyarakat, penyusunan rencana tata ruang kota dan wilayah akan dilanjutkan. Kualitas rencana kota dan rencana wilayah akan ditingkatkan dan disempurnakan hingga dapat dipergunakan secara efektif baik sebagai pedoman Di samping itu dilanjutkan pembinaan untuk menjaga kelangsungan peserta program keluarga berencana yang sudah

93

pelaksanaan pembangunan kota dan wilayah maupun pembinaan tertib tata ruang kota dan tata ruang wilayah. Prioritas akan diberikan kepada kota-kota pusat pembangunan dan wilayah-wilayah yang berkembang dengan cepat. Untuk mengusahakan keserasian dan pemerataan pembangunan di seluruh daerah, maka pembangunan sektoral ditunjang dengan program-program bantuan kepada daerah. Program-program dimaksud adalah Bantuan Pembangunan Desa, Bantuan Pembangunan Daerah Tingkat II, Bantuan Pembangunan Daerah Tingkat I, Bantuan Pembangunan Sekolah Dasar, Bantuan Pembangunan Sarana Kesehatan, Bantuan Pembangunan Reboisasi dan Penghijauan, Bantuan Penunjangan Jalan Kabupaten dan Bantuan Kredit Pembangunan/ Pemugaran Pasar.

94

TABEL LUAS WILAYAH, SATUAN PEMERINTAHAN DAN KEPADATAN PENDUDUK DA6RAH TINGKAT I SUMATERA BARAT, TAHUN 1980

No.

Kabupaten/Kotamadya

1. Kab. Pesisir Selatan 2. Kab. S o 1 o k 3. Kab. Sawahlunto/Sijunjung 4. Kab. Tanah Datar 5. Kab. Padang Pariaman 6. Kab. A g a m 7. Kab. Limapuluhkota 8. Kab. Pasaman 9. Kodya Padang 10. Kodya Solok 11. Kodya Sawahlunto 12. Kodya Padang Panjang 13. Kodya Bukittinggi 14. Kodya Payakumbuh DAERAH TINGKAT I:

Luas Wilayah (km2) 5.700,60 7.119,20 6.371,10 1.336,00 7.419,50 2.232,30 3.354,30 7.835,40 766,00 25,00 6,30 26,60 24,90 80,10 42.297,30

Jumlah Kecamatan 7 12 9 10 13 11 7 8 11 2 2 2 3 3 100

Jumlah Desa/ Kelurahan 310 529 281 386 475 417 366 415 193 13 20 16 24 73 3.518

Jumlah Penduduk (1980) 315.954 355.539 244.446 319.632 459.666 389.027 272.071 360.149 480.922 31.724 13.561 34.517 105.288 78.836 3.406.816

Kepadatan Penduduk per km2 (1980) 55 50 38 239 62 174 81 46 628 1.269 2.153 1.298 4.228 984 81

95

PROPINSI S U M A T E R A BARAT

PUSAT WILAYAH PEMBANGUNAN

97