Anda di halaman 1dari 27

CASE 1 Seorang dokter gigi pada lokasi X dihubungi dari pihak manajemen DVI untuk membantu proses identifikasi

dari bencana masal, korban kebakaran dari suatu hotel dengan jumlah korban yang meninggal kurang lebih 400 orang dari berbagai daerah dan mancanegara, apakah yang harus dilakukan oleh dokter gigi tersebut dan apa yang melatarbelakangi Tim DVI melibatkan dokter gigi dalam proses mengidentifikasi serta dasar hukum apa dokter gigi berperan untuk membantu tim DVI. Apa yang menjadi permasalahan dalam kasus ini ? Berikan hipotesis dari permasalahan ini ! Apakah topik utama dalam permasalahan ini ?

Ilmu kedokteran gigi forensik adalah semua aplikasi dari disiplin ilmu kedokteran gigi yang terkait dalam suatu penyelidikan dalam memperoleh data-data postmortem, berguna untuk menentukan otentitas dan identitas korban maupun pelaku demi kepentingan hukum dalam suatu proses peradilan dan menegakkan kebenaran. Ada beberapa jenis identifikasi melalui gigi geligi dan rongga mulut yang dapat dilakukan dalam terapan semua disiplin Ilmu Kedokteran Gigi yang terkait dalam penyelidikan demi kepentingan umum dan peradilan serta dalam membuat surat keterangan ahli. Apabila seorang dokter gigi dengan suatu surat permintaan sebagai anggota penyidik, anggota tim identifikasi, dan sebagai saksi ahli apabila hakim sulit memutuskan suatu perkara dalam suatu sidang peradilan sedangkan pada tubuh korban terdapat pola bekas gigitan, menggunakan protesa, dan serta seluruh data-data gigi yang telah dilakukan dari semua disiplin ilmu kedokteran gigi maka hakim akan meminta seorang ahli untuk memastikan hal tersebut di atas demi memantapkan keputusan yang akan diambilnya. Ini sesuai dengan dasar hukum pasal 133, pasal 244, pasal 242, pasal 130, dan pasal 5 KUHP.

Disaster Victim Identification (DVI) adalah suatu defenisi yang diberikan sebagai prosedur untuk mengidentifikasi korban mati akibat bencana massal secara ilmiah yang dapat dipertanggung-jawabkan dan mangacu pada standar baku Interpol. Tim DVI sendiri terdiri dari dokter spesialis forensik, dokter gigi, ahli anthropology (ilmu yang mempelajari tulang), kepolisian, fotografi, dan ada yang berasal dari masyarakat juga. Tugasnya adalah mengidentifikasi korban. Latar Belakang Tim DVI Melibatkan Dokter Gigi dalam Proses Identifikasi 1. The Odontologists Role Sebagai Saksi yang Ahli Forensic odontologist tidak boleh lupa bahwa dasar peran dalam judicial system adalah untuk membantu jaksa dan juri dalam pencarian mereka untuk mendapatkan kebenaran. Peran dari ahli berbeda dengan pengacara. Pengacara adalah penyokong, dimana berperan untuk mendorong pihak yang bersangkutan. Sebaliknya, padandangan ahli sebaiknya berdiri sendiri dan objektif. Jika konklusi dari ahli tidak membantu pihak yang bersangkutan, ini sebaiknya diselesaikan oleh pengacara. Jaksa bebas dalam menerima atau menolak pendangan ahli, bahkan jika tidak ada bukti yang berkaitan disajikan. 2. Pre-Trial Preparation Persiapan untuk permulaan hari pemeriksaan pengadilan yang pertama forensic odontologist dihubungi mengenai kasus yang terjadi. Mencatat waktu dan tanggal dari peristiwa tersebut. Demikian pula, setiap waktu ahli bekerja pada kasus, mereka sebaiknya mencatat apa yang telah didapatkan sehinga informasi dapat tersedia. Bukti harus ditangani dengan benar untuk mempertahankan rantai dari penjagaan. Ketika bukti pertama kali diterima itu sebaiknya diresmikan dan diberi tanggal tanpa merugikan bukti tersebut. Jika bukti dimodifikasi sebagai hasil dari uji ahli, atau di berikan kepada orang lain, informasi ini sebaiknya dicatat dengan hati-hati. Sangatlah penting untuk menyediakan bukti yang terbaik untuk digunakan di pengadilan. Original x-rays, charts, casts, dll sebaiknya di perlihatkan sebagai bukti dimana itu memungkinkan. Persiapan untuk menulis laporan dengan hati-hati, karena ahli harus siap untuk

setiap kata di pengadilan. Ahli pun dianjurkan untuk memberikan pandangan visual yang membantu jaksa untuk mengerti dan menerima informasi secara relevan. Selain itu, ahli forensik harus dengan seksama memeriksa fakta-fakta yang ada yang terkait dengan kasus, termasuk tanggal-tanggal penting, sepeti tanggal kejadian pembunuhan, tanggal penemuan mayat, dan sebagainya. Penemuan-penemuan yang familiar sangat penting guna melengkapi hasil otopsi, seperti apakah pola gigitan menyebabkan inflamasi jaringan, dan sebagainya. Kontak langsung antara tim forensik dan pengacara sebaiknya dihindari, sebab hal ini dapat mempengaruhi pembelaan dan hasil yang bisa berat sebelah. Tapi jika memang harus bertemu langsung, harus dalam koridor yang terkontrol. Selain itu juga harus disertai saksi untuk meyakinkan pernyataan-pernyataan yang muncul agar tidak nantinya terjadi kesalahpahaman. 3. Syarat Saksi Ahli Ketika pengadilan bersiap untuk menerima kesaksian, saksi ahli akan dipanggil untuk memberi kesaksian. Sebelum memberikan kesaksian, terlebih dahulu disumpah untuk tidak memberikan kesaksian palsu. Setelah itu pengacara biasanya diberikan kesempatan untuk bertanya. Pertanyaan pertama yang biasanya muncul adalah apa pekerjaan atau jabatan anda? pertanyaan ini secara umum juga diikuti beberapa pertanyaan tentang pendidikan, pelatihan yang terkait dengan forensik kedokteran gigi dan pengalaman saksi di lapangan. Hal ini untuk memastikan apakah saksi yang dipanggil sudah sesuai dengan bidangnya. Terkadang pengacara juga mendapatkan informasi tentang keabsahan saksi ahli dengan cara meminta saksi untuk menjelaskan sendiri secara singkat dan jelas, atau bahkan dapat juga dengan cara tes kemampuan. Seorang odontologist tidak perlu cemas ketika kemampunnya dipetanyakan. Jika sudah memiliki banya pengalaman, maka harus menjawab jika ditanyakan, tetapi tetapi juga dapat menekankan jumlah dan kualitas pelayanan pelatihan yang diterima.

Adapun proses DVI meliputi 5 fase yang saling berkaitan, yaitu : a. Initial Action at the Disaster Site Merupakan tindakan awal yang dilakukan di tempat kejadian peristiwa (TKP) bencana. Ketika suatu bencana terjadi, prioritas yang paling utama adalah untuk mengetahui seberapa luas jangkauan bencana. Sebuah organisasi resmi harus mengasumsikan komando operasi secara keseluruhan untuk memastikan koordinasi personil dan sumber daya material yang efektif dalam penanganan bencana. Dalam kebanyakan kasus, polisi memikul tanggung jawab komando untuk operasi secara keseluruhan. Sebuah tim pendahulu (kepala tim DVI, ahli patologi forensik dan petugas polisi) harus sedini mungkin dikirim ke TKP untuk mengevaluasi situasi berikut : b. Keluasan TKP, pemetaan jangkauan bencana dan pemberian koordinat untuk area bencana. Perkiraan jumlah korban. Keadaan mayat. Evaluasi durasi yang dibutuhkan untuk melakukan DVI. Institusi medikolegal yang mampu merespon dan membantu proses DVI. Metode untuk menangani mayat. Transportasi mayat. Penyimpanan mayat. Kerusakan properti yang terjadi.

Collecting Post Mortem Data Pengumpulan data post-mortem atau data yang diperoleh paska kematian dilakukan oleh post-mortem unit yang diberi wewenang oleh organisasi yang memimpin komando DVI. Pemeriksaan dan pencatatan data jenazah yang dilakukan diantaranya meliputi : Dokumentasi korban dengan mengabadikan foto kondisi jenazah korban. Pemeriksaan fisik, baik pemeriksaan luar maupun pemeriksaan dalam jika diperlukan. Pemeriksaan sidik jari. Pemeriksaan rontgen.

Pemeriksaan odontologi forensik: bentuk gigi dan rahang merupakan ciri khusus tiap orang ; tidak ada profil gigi yang identik pada 2 orang yang berbeda. Pemeriksaan DNA. Pemeriksaan antropologi forensik : pemeriksaan fisik secara keseluruhan, dari bentuk tubuh, tinggi badan, berat badan, tatto hingga cacat tubuh dan bekas luka yang ada di tubuh korban. Data data hasil pemeriksaan tersebut kemudian digolongkan ke dalam data primer

dan data sekunder sebagai berikut : PRIMER SECONDARY : sidik jari, profil gigi, DNA : visual, fotografi, properti jenazah, medik-antropologi (tinggi badan, ras, dll.) c. Collecting Ante Mortem Data Pada fase ini dilakukan pengumpulan data mengenai jenazah sebelum kematian. Data ini biasanya diperoleh dari keluarga jenazah maupun orang yang terdekat dengan jenazah. Data yang diperoleh dapat berupa foto korban semasa hidup, interpretasi ciri ciri spesifik jenazah (tattoo, tindikan, bekas luka, dll), rekaman pemeriksaan gigi korban, data sidik jari korban semasa hidup, d. Reconciliation Dilakukan pembandingan data post mortem dengan data ante mortem. Ahli forensik dan profesional lain yang terkait dalam proses identifikasi menentukan apakah temuan post mortem pada jenazah sesuai dengan data ante mortem milik korban yang dicurigai sebagai jenazah. e. Returning to the Family Korban yang telah diidentifikasi direkonstruksi hingga didapatkan kondisi kosmetik terbaik kemudian dikembalikan pada keluarganya untuk dimakamkan. Apabila korban tidak teridentifikasi maka data post mortem jenazah tetap disimpan sampai ditemukan data ante mortem yang sesuai dengan temuan post mortem jenazah,

Pemeriksaan Mayat Pegawai yang memeriksa sebab kematian seseorang mempunyai yurisdiksi untuk memimpin suatu pemeriksaan kematian, yang terjadi karena kebakaran, dan phenomena lainnya. Sebab kematian merupakan fakta terjadinya kematian. Jika terjadi ketidakpuasan dalam memeriksa sebab kematian seseorang, pegawai tidak dapat menangani pemeriksaan seluruhnya atau jika pemeriksaan telah dilakukan, pegawai tidak akan dapat menemukan sebab kematian seluruhnya.

Pembuktian Kematian Bukti bahwa seseorang telah meninggal atau sisa-sisa tubuhnya dapat dipecahkan oleh bukti-bukti yang didapat oleh para ahli.Dalam hal ini, aturan standar bukti ahli berlaku: orang yang memberikan bukti harus memiliki pengetahuan khusus dalam kaitannya dengan buktibukti yang akan diberikan, baik berdasarkan keahlian, pengalaman pelatihan; bukti harus berasal dari bidang keahlian, yaitu tidak keluar dari lingkup intelektual untuk dapat diandalkan atau tidak berlaku umum di antara pakar relevan, dan data yang didapat dari pendapat ahli harus didasarkan pada bukti yang relevan. Gambaran langsung dari parameter para ahli dan kepastian sangat penting dalam kaitannya dengan identifikasi tetap atau konstruksi identitas dan modus dan waktu kematian yang diajukan ke pengadilan. Bukti pendapat(opini) tidak dapat berfungsi sebagai alasan untuk spekulasi yang tidak didapat dari data. Bukti ahli seringkali hanya merupakan bagian dari upaya untuk merekonstruksi identitas dari sisa-sisa yang ada dan waktu kematian. Ahli bukti hanya berupa salah satu bagian dari mosaik informasi yang disajikan ke pengadilan. Sebagian akan terdiri dari bukti dari fakta, beberapa, bukti dalam bentuk kesimpulan yang ditarik dari fakta. Tugas pemeriksa silang adalah untuk membuat kedua bentuk bukti yang benar akuntabel dengan mengeksplorasi hubungan logis antara data dan pendapat, yang potensial untuk hipotesis alternatif, saksi ahli dan kebenaran dasar dari kesaksian.

Prosedur Yang Dilakukan Saat terjadi Bencana Masal Pada saat bencana alam terjadi, anda mungkin akan dipanggil oleh petugas medis/koroner atau petugas polisi yang berkuasa, untuk membentuk tim pengidentifikasi korban; atau anda mungkin akan diminta bergabung dalam tim yang telah terbentuk oleh kolega anda. Tim pengidentifikasi ini terbagi atas dua kelompok. Kelompok yang pertama dikenal sebagai home team yang tugasnya mengumpulkan data antemortem dental pada korban yang dilaporkan hilang atau diduga terkait dalam dalam bencana dan mengirimkan informasi ini pada kelompok ke dua; yang dikenal sebagai away team, yang bersituasi di tempat penyimpanan jenazah sementara di dekat lokasi bencana. Fungsi away team adalah pemeriksaan dental dari tiap korban yang berhasil ditemukan, persiapan data postmortem dental, kemudian membandingkan data ini dengan data antemortem dari orang hilang dan, jika mungkin, dental identifikasi dari korban.

Cara Mengidentifikasi Korban 1. Identifikasi Jenis Kelamin Korban a. Identifikasi jenis kelamin melalui gigi geligi

Menurut Cotton (1982), identifikasi pria dan wanita antara lain : Gigi Geligi Outline gigi Lapisan email dan dentin Bentuk lengkung gigi Ukuran cervico incisal dan mesio distal gigi caninus bawah Outline incisivus pertama atas Ukuran lengkung gigi Wanita Relatif lebih kecil Relatif lebih tipis Cenderung oval Lebih kecil Lebih bulat Relatif lebih kecil Pria Relatif lebih besar Relatif lebih tebal Tapered Lebih besar Lebih persegi Relatif lebih besar

b. Identifikasi jenis kelamin melalui tulang rahang Identifikasi jenis kelamin melalui lengkung rahang atas Lengkung rahang pria lebih besar daripada wanita, hal ini disebabkan karena jarak mesio-distal gigi pria lebih besar daripada wanita. Selain itu palatum wanita lebih kecil dan berbentuk parabola sedangkan palatum pria lebih luas dan berbentuk huruf U.

a. b. c. d. e.

f.

Identifikasi jenis kelamin melalui lengkung rahang bawah

Sama halny dengan lengkung rahang atas. Lengkung rahang pria lebih besar daripada wanita karena ukuran mesio-distal gigi wanita lebih kecil daripada pria.

Identifikasi jenis kelamin melalui sudut gonion Sudut gonion pria lebih kecil dibanding sudut gonion wanita.

Identifikasi jenis kelamin melalui tinggi dan lebar ramus ascendens Ramus ascendens pria lebih tinggi dan lebih lebar daripada wanita

Identifikasi jenis kelamin melalui inter processus Jarak proc. Condyloideus dengan proc. Coronoideus pria lebih besar atau lebih

panjang dibanding pada wanita. Tinggi tulang proc. Coronoideus pria lebih tinggi daripada pria dalam arah vertical

Identifikasi jenis kelamin melalui tulang menton Tulang menton pria lebih tebal dan lebih ke anterior daripada wanita.

- Identifikasi jenis kelamin melalui pars basalis mandibula Dalam bidang horizontal pars basalis mandibula pria lebih panjang dibandingkan dengan wanita.

2.

Identifikasi Umur Korban Identifikasi umur korban melalui gigi geligi harus diingat kembali periode tumbuh

kembang gigi sulung dan gigi permanen. Selain itu juga harus diingat adanya periode geligi campuran.

Menurut Gusstafson (1996), identifikasi umur dari gigi tetap terdapat enam criteria yang disebut six changes of the physiological age process in teeth, yaitu : 1. The degress of attrition Maksudnya adalah derajat keparahan dari atrisi pada permukaan kunyah gigi baik incisal maupun oclusal sesuai dengan penggunaannya. Makin lanjut usia maka derajat atrisi makin parah.

2. Alteration in the level of the gingival attachment Perubahan fisiologis akibat penggunaan gigi dari epitel attachment ditandai dengan dalamnya sulkus gingival yang melebihi 2 mm sesuai dengan pertambahan usia. Sehingga terkesan bahwa seakan-akan mahkota gigi lebih panjang.

3. The amount of secondary dentine

Pembentukan dentin sekunder karena penggunaan gigi biasanya terbentuk di atas atap pulpa sehingga makin lanjut usia pulpa seakan-akan terlihat menyempit secara roentgenografis. Ini disebabkan karena semakin menebalnya dentin karena pembentukan dentin sekunder tersebut.

4. The thickness of cementum around the root Dengan bertambahnya usia maka akan bertambah ketebalan jaringan sementum pada akar gigi. Pembentukan ini oleh karena pelekatan serat-serat periodontal dengan aposisi yang terus-menerus dari gigi tersebut selama hidup.

5.

Transluecency of the root

Dengan pertambahan usia maka terjadi proses kristalisasi dari bahan-bahan mineral akar gigi hingga jaringan dentin pada akar gigi berangsur-angsur mulai dari akar gigi kea rah cervical menjadi transparan. Translusensi dentin ini dimulai pada decade ketiga.

6. Root resorption Menurut Gusstaffon (1950) resorbsi akar gigi tetap akibat tekanan fisiologis seiring dengan pertambahan usia.

3. a.

Identifikasi Ras korban Identifikasi ras korban dari gigi geligi Identifikasi ras dapat dilakukan dengan melihat anatomi cingulum gigi incisivus dan jarak mesiodistal dengan buccopalatal atau buccolingual gigi premolar serta anatomi fisur, jumlah pit, ada atau tidaknya tuberculum carabeli, dan jumlah gigi molar. Identifikasi ras antara lain :

Ras Caucasoid Permukaan lingual yang rata pada gigi 1.2 ; 1.1 ; 2.1 ; 2.2 (tidak terdapat cingulum) Gigi geligi sering crowded Gigi molar pertama bawah (3.6 dan 4.6) lebih panjang dan tapered Pada gigi premolar 2 atas (1.5 dan 2.5), jarak bucco-palatal lebih besar dari jarak mesio-distal Tuberculum carabeli gigi 1.6 dan 2.6 sering kali di bagian palatal Bentuk lengkung rahang yang sempit

Ras Mongoloid Gigi incisivus 1.1 ; 1.2 ; 2.1 ; 2.2 mempunyai pertumbuhan penuh pada permukaan palatal bahkan lingual sehingga shoves shaped incisor cingulum jelas dominan (Herdlicka, 1921) Bentuk gigi molar berupa segiempat dominan

b. Ras Negroid Akar gigi premolar 1.4 ; 1.5 ; 2.4 ; 2.5 cenderung membelah atau terdapat tiga akar (R. Biggerstaf) Cenderung potrusi bimaksilaris dan terlihat monyong

Banyak ditemukan kasus adanya molar keempat Gigi premolar pertama 1.4 dan 2.4 memiliki 2 atau 3 cups Gigi molar berbentuk segiempat membulat

c.

Ras Australoid

d. Ras Khusus Menurut Nursial Luth dan Daniel Fernandez (1995) ras khusus yaitu : Bushman Suku ini bermukim di Spanyol Vedoid Suku ini bermukim di afrika tengah

Polynesian Yang termasuk suku ini yang bermukim di pulau-pulau kecil di lautan Hindia dan lautan Afrika

Ainu Suku ini bermukim di kepulauan kecil Jepang

b.

Identifikasi ras korban dari lengkung gigi Identifikasi ras melalui lengkung gigi mempunyai lima jenis, yaitu : a. Ras Mongoloid Lengkung gigi berbentuk ellipsoid b. Ras Negroid Lengkung gigi berbentuk huruf U c. Ras Caucasoid Lengkung gigi berbentuk parabola d. Ras Australoid Lengkung gigi berbentuk parabola lebar dengan gigi incisivus yang besar e. Ras Khusus

Lengkung gigi berbentuk U yang sangat nyata dengan gigi incisivus berukuran kecil

4.

Identifikasi Korban melalui Restorasi dan Protesa yang Digunakan Restorasi dan protesa yang digunakan setiap orang bersifat individual dimana tidak sama

satu dengan yang lainnya dan memiliki ciri-ciri khusus yang tergantung pada pemakainya. Restorasi dan protesa yang ditemukan pada korban harus dicatat secara teliti. Jika ditemukan adanya restorasi, harus dicatat jenis restorasi yang dipakai, pada gigi apa, permukaan yang

terkena, dan luasnya restorasi. Pada protesa harus diperhatikan gigi sandarannya, jumlah dan bentuk pontik, serta desain protesa. Beberapa ciri individu konstruksi dari protesa diketahui melalui : Bentuk daerah relief di bagian langit-langit Bentuk dan kedalaman post-dam Disain sayap labial Penutupan daerah retromolar Warna akrilik Bentuk, ukuran dan bahan gigi artifisial Bentuk dan ukuran lingir alveolar

5.

Identifikasi korban melalui golongan darah dari jaringan pulpa

Menurut Alfonsius dan penelitian Ladokpol tahun 1992 serta Forum Ilmiah International FKG Usakti tahun 1993, analisis golongan darah dari jaringan pulpa merupakan identifikasi golongan darah untuk pelaku dan korban dengan cara Absorpsi-Erupsi. Analisa golongan darah dengan metode absorpsi-erupsi dari jaringan pulpa gigi adalah sebagai berikut : 1. Gigi yang masih memiliki jaringan pulpa diambil sebagai bahan. Gigi tersebut ditumbuk dalam lubang besi hingga hancur menjadi bubuk dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang terbagi menjadi 3 tabung. 2. Ke dalam masing-masing tabung dimasukkan antisera, yaitu: ke tabung I, ke tabung II, dan ke tabung III

3. Ketiga tabung tersebut disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu 5 C sellama 24 jam 4. Lalu dicuci dengan saline solution sebanyak 7 kali, kemudian larutan saline dibuang dari tabung tetapi endapan tidak terbuang. 5. Ketiga tabung diteteskan aquades sebanyak 2 tetes dengan pipet dan dipanaskan dengan suhu 56 C selama 12 menit lalu diangkat dari tunggu pemanas 6. Kedalam tabung dimasukkan sel indicator A,B, dan O dengan konsentrasi 3% - 5%. Kemudian ketiga tabung disentrifugasi dengan alat pemutar agar terjadi aglutinasi 7. Perhatikan pada tabung mana yang mengalami aglutinasi. Pada tabung yang mengalami aglutinasi ini merupakan identifikasi golongan darah dari hasil analisa laboratories tersebut

Kesimpulan Kasus

Seorang dokter gigi pada lokasi X dihubungi dari pihak manajemen DVI untuk membantu proses identifikasi dari bencana masal, korban kebakaran dari suatu hotel dengan jumlah korban yang meninggal kurang lebih 400 orang dari berbagai daerah dan mancanegara, apakah yang harus dilakukan oleh dokter gigi tersebut dan apa yang melatarbelakangi Tim DVI melibatkan dokter gigi dalam proses mengidentifikasi serta dasar hukum apa dokter gigi berperan untuk membantu tim DVI.

Permasalahan dalam kasus Memberikan dasar hukum akan suatu peran dokter gigi dalam tim DVI. Sulitnya mengidentifikasi korban kebakaran karena jumlah korban yang sangat banyak dan bervariasi rasnya. Identifikasi ini juga dipersulit oleh keadaan mayat korban yang sebagian besar sudah hangus dan bahkan tidak utuh karena terbakar.

Hipotesis dari permasalahan Dalam kasus ini, dokter gigi akan bekerja sama dengan tenaga medis lainnya. Proses identifikasi dimulai apabila tubuh korban sudah berada di kamar mayat. Namun bila memungkinkan pemeriksaan gigi pasca kematian dilakukan di tempat korban ditemukan, ini bertujuan untuk menghindari hilangnya bagian-bagian tubuh korban pada saat proses pengangkutan tubuh ke kamar mayat. Struktur rongga mulut harus diamati secara superfisial dan segera dicari kemungkinan adanya bagian-bagian gigi yang hilang. Catatan gambaran gigi yang dapat di ambil untuk proses identifikasi adalah: a. Bentuk anatomi gigi b. Lengkung rahang c. Restorasi dan protesa d. Karies gigi dan kehilangan gigi

Topik Utama dalam Permasalahan

Topik utama yang dibahas dalam kasus ini adalah dasar-dasar hukum peran seorang dokter gigi dalam tim DVI dan berbagai cara untuk mengidentifikasi korban dengan jumlah banyak dan ras yang bervariatif

Bowers, MC and Bell GL. 1995. Manual of Forensic Odontology. Pub. Of the American Society of Forensic Odontology. Page 106-147.