Anda di halaman 1dari 12

JALAN ANGKUT TAMBANG Berdasarkan jenisnya jalan terdiri dari jalan tambang, jalan utama, jalan pengupasan, jalan

pembuangan. Secara garis besar jalan angkut tambang mempunyai persyaratan hampir sama dengan jalan angkut di kota dan di desa. Perbedaan yang utama antara jalan raya dengan jalan tambang adalah pada bagian permukaan jalan road surface. Untuk jalan angkut tambang permukaannya jarang sekali ditutupi dengan aspal karena jalan angkut tersebut sifatnya tidak permanen dan akan sering dilalui oleh alat-alat berat. Fungsi utama jalan angkut tambang secara umum adalah untuk menunjang kelancaran operasi penambangan terutama dalam kegiatan pengangkutan. Dalam merencanakan jalan angkut ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan seperti : Geometrik jalan Perkerasan jalan angkut Bangunan pelengkap jalan

1. Geometrik Jalan Geometrik jalan merupakan bagian bentuk jalan yang dapat memenuhi fungsi dasar dari jalan. Fungsi jalan adalah memberikan pelayanan yang optimum. Dalam merencanakan geometrik jalan sedapat mungkin disesuaikan dengan kondisi topografi pada daerah yang akan dibuat jalan tambang sehingga jalan tambang yang akan dibuat dapat dipergunakan untuk meningkatkan target produksi yang diinginkan oleh perusahaan tanpa mengabaikan standar keselamatan yang telah ada. Dalam pembuatan geometric jalan yang perlu diperhatikan, antara lain : A. Lebar Jalan Lurus Lebar jalan sangat mempengaruhi operasi penambangan, sehingga untuk menentukan lebar jalan yang paling penting adalah lebar alat angkut dan jumlah lajur yang digunakan. Untuk menentukan lebar pada jalan lurus diambil standar dengan memperhitungkan lebar dari alat angkut. Lebar jalan angkut minimum untuk jalur ganda atau lebih menurut AHSHO Manual Rulal High Way Design, pada jalan lurus di tepi kiri dan tepi kanan harus ditambah dengan setengah lebar alat angkut (lihat Gambar A). Rumus untuk menetukan lebar jalan lurus adalah :

Lmin = n.Wt + (n+1)( Wt)

Dimana : L = Lebar jalan angkut (meter) n = Jumlah jalur Wt = Lebar alat angkut (meter)

Bila lebar kendaraan (Wt) 1 satuan panjang, maka Lmin seperti pada tabel berikut:

Bila lebar Cat773D = 5,076 m, maka untuk 2 lajur jalan: Lmin = 2 (5,076) + (2+1)( x 5,076) = 17,77 ~ 18 m

B. Lebar Jalan Pada Belokan Lebar jalan pada belokan selalu lebih besar dari lebar jalan lurus. Untuk jalur ganda lebar minimum pada belokan didasarkan pada : 1. Lebar jejak roda. 2. Lebar juntai (overhand) alat angkut bagian depan dan belakang pada saat membelok.

3. 4.

Jarak antara alat angkut pada saat bersimpangan. Jarak dari kedua tepi jalan (lihat Gambar B).

Rumus yang digunakan adalah : W = n (u + Fa +Fb + Z) + C Z = (u + Fa + Fb) / 2

Dimana : W = Lebar jalan angkut pada belokan (meter) n = Jumlah jalur u = Lebar jejak roda (meter) Fa = Lebar juntai depan (meter) Fb = Lebar juntai belakang (meter) Z = Lebar bagian tepi jalan (meter) C = Jarak aman antar kendaraan (meter)

Contoh perhitungan Wmin pada tikungan: Lebar jejak ban pada saat bermuatan = 0,70 m Jarak antar pusat ban = 3,30 m Saat belok lebar jejak ban depan = 0,80 m; lebar jejak ban belakang = 1,65 m Jarak antar dua truck = 4,50 m

Z = (3,30+0,80+1,65)/2 = 2,875 m W = 2(3,3+0,8+1,65+2,875) + 4,5 = 21,75 m ~ 20 m

C. Kemiringan Memanjang Jalan Kemiringan memanjang jalan mempengaruhi langsung kemampuan alat angkut baik dalam pengereman maupun dalam mengatasi tanjakan. Kemiringan jalan pada umumnya dinyatakan dalam persen (%). Kemiringan 1 % berarti jalan itu naik atau turun 1 meter untuk tiap jarak mendatar 100 meter. Kemiringan jalan maksimum yang dilalui dengan baik oleh alat angkut berkisar antara 10 15 %, tetapi pada saat bermuatan aman apabila kemiringan jalan maksimum kira-kira <10 %. Kemiringan memanjang merupakan perbandingan antara beda tinggi dengan jarak datar jalan yang akan dibuat dikali dengan 100%.

Kemiringan maksimum vs kecepatan

Jarak miring kritis (meter)

D. Kemiringan Melintang Jalan Kemiringan melintang jalan dibuat untuk keperluan drainase jalan. Air yang jatuh di atas permukaan jalan akan cepat dialirkan ke saluran-saluran pembuangan. Kemiringan melintang untuk jalan yang tidak menggunakan bahan pengikat (unbound method) dibuat 3 5 %. Untuk menghitung kemiringan jalan digunakan persamaan :

Grade

h x100% PP

Dimana : h = Beda tinggi antara tiap patok

PP = JD = Panjang jalan di atas peta atau jarak datar G = Persen kemiringan jalan (%)

E. Derajat Kelengkungan Derajat kelengkungan sangat mempengaruhi jarak pandang bagi operator dan menghindari adanya kecelakaan pada kendaraan yang berpapasan. Dapat dihitung dengan menggunakan persamaan : D = 1432,4 / R min

Dimana : D = Derajat Kelengkungan ( 0 ) R min = Jari Jari Kelengkungan (meter)

F. Crosslope Sudut yang dibentuk oleh dua sisi permukaan jalan thd bidang horizontal

Cross

slope

sebaiknya

1/50

s.d

1/25

(20

mm/m

s.d.

40

mm/m)

G. JariJari Tikungan dan Superelevasi Jarijari tikungan jalan angkut berhubungan dengan kecepatan rata-rata rencana alat angkut yang digunakan. Superelevasi jalan adalah kemiringan melintang pada tikungan jalan. Penentuan kemiringan jalan ini dipengaruhi oleh kecepatan yang direncanakan dan besarnya jari-jari tikungan.

JARI-JARI TIKUNGAN

Perhitungan matematis berdasarkan kenampakan gambar diatas diperoleh jari-jari tikungan sbb: Apabila: R= jari-jari belokan jalan, m W= jarak poros roda depan-belakang, m B= sudut simpangan roda depan, maka:

Rumus sebelumnya tidak mempertimbangan kecepatan (V), gesekan roda (f), dan superelevasi (e). Bila dipertimbangkan, maka rumusnya menjadi:

Jari-jari tikungan minimum untuk e.max= 10%

Jenis-jenis Busur Lengkung Pada Tikungan Lingkaran (Full Circle)

Spiral-Lingkaran-Spiral (S-C-S):

SUPERELEVASI Badan jalan yang dimiringkan ke arah titik pusat pada belokan/tikungan Fungsinya untuk mengatasi gaya sentrifugal kendaraan pada saat membelok

2. Perkerasan Jalan Angkut Perkerasan jalan angkut harus cukup kuat untuk memenuhi dua syarat yaitu : a. Secara keseluruhan harus cukup kuat menahan beban kendaraan dan muatan yang melaluinya. Bila tidak, maka jalan tersebut akan mengalami penurunan dan pergeseran baik pada bagian perkerasan itu sendiri maupun pada tanah dasarnya sehingga akan menyebabkan jalan menjadi bergelombang, berlubang bahkan bisa rusak berat. b. Permukaan jalan harus dapat menahan gesekan roda kendaraan, pengaruh air limpasan dan air hujan. Bila tidak terpenuhi maka permukaan perkerasan jalan akan mengalami kerusakan.

Tujuan utama perkerasan jalan angkut adalah untuk membangun dasar jalan yang mampu menahan beban pada poros roda yang diteruskan melalui lapisan pondasi sehingga tidak melampaui daya dukung tanah dasar (sub-grade). Perkerasan jalan angkut dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut : - Kepadatan lalu-lintas kendaraan - Sifat fisik dan mekanis bahan yang digunakan - Daya dukung tanah dasar

Lebar perkerasan jalan pada umumnya ditentukan oleh lebar jalur lalu lintas normal. Lebar jalan lalu lintas normal adalah 3,50 m. Persamaan yang digunakan dalam menentukan tebal perkerasan pada jalan angkut adalah :
h 20 Po (1 0,7 log no) CBR

no = U x x x n

Dimana : Po = tekanan ganda atau tunggal standar (dalam ton) h = tebal perkerasan (cm)

no = lalu lintas ekuivalen yang diperhitungan n = lalu lintas ekuivalen yang direncanakan U = umur (tahun) = faktor keadaan drainase = faktor curah hujan

Perkerasan jalan angkut yang direncanakan meliputi dua bagian, yaitu bagian permukaan jalan (road surface) dan bagian dasar (sub- grade). Bagian permukaan

material perkerasan adalah sirtu (pasir batu) dengan ketebalan sekitar 25-30 cm. Bagian dasar atau tanah dasar adalah permukaan tanah asli yang merupakan perletakan bagian permukaan jalan. 1. Kemampuan Tanah Dasar Jenis tanah dasar pada lokasi yang direncanakan adalah tanah liat. Kelemahankelemahan jenis tanah ini : Mengalami deformasi permanen akibat rendahnya daya dukung tanah terhadap beban ban alat angkut yang melampaui daya dukungnya. Mengembang atau swelling akibat perubahan kadar air.

2. Perkerasan Tambahan Perkerasan tambahan dilakukan pada saat kondisi jalan mengalami kerusakan. Pada lokasi pengamatan kondisi jalan terkadang bergelombang dan berlumpur, pada saat jalan basah permukaan jalan kasar. Pada keadaan jalan demikian, maka dilakukan perkerasan tambahan dengan membuang dan menambahkan material perkerasan.

Perkerasan jalan ada 3 jenis, yaitu: perkerasan lentur (flexible pavement) perkerasan kaku (rigid pavement) perkerasan kombinasi lentur-kaku (composite pavement)

Perkerasan jalan tersusun sbb: lapisan dasar (subgrade) lapisan fondasi bawah (subbase course) lapisan fondasi atas (base course) lapisan permukaan (surface course)

Lapisan Perkerasan Susunan lapisan perkerasan lentur

Susunan lapisan perkerasan rigid

Karakteristik lapisan perkerasan lentur: elastis jika menerima beban, shg nyaman bagi pengguna jalan umumnya menggunakan bhn pengikat aspal seluruh lapisan ikut menanggung beban penyebaran tegangan diupayakan tdk merusak lapisan subgrade (dasar) bisa berusia 20 tahun dgn perawatan secara rutin.

Lapisan perkerasan rigid adalah lapisan per-mukaannya terbuat dari plat beton (concrete slab). Penentuan tebal lapisan ditentukan oleh: kekuatan lap. Subgrade atau harga CBR atau Modulus Reaksi Tanah Dasar kekuatan beton yg digunakan utk lapisan perkerasan prediksi volume dan komposisi lalulintas selama usia layanan

ketebalan dan kondisi lap fondasi bawah (sub-base) sgb penopang konstruksi, lalulintas kendaraan, penurunan akibat air, dan perub volume lap tanah dasar (subgrade)

Merupakan lapisan asli bumi yang sangat menentukan kekuatan daya dukung terhadap kendaraan yang lewat. Dalam mengevaluasi subgrade (di lab mektan) perlu diuji dan diketahui: kadar air kepadatan (compaction) perubahan kadar air selama usia pelayanan variabilitas tanah dasar ketebalan lap perkerasan total yg dpt diterima oleh lap lunak yang ada dibawahnya.

Lapisan Pondasi Bawah Merupakan bagian perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar untuk mengurangi tebal lapisan di atasnya krn material utk lapisan ini lebih murah dibanding dgn lapisan atasnya sebagai lapisan peresapan air tanah merupakan lapisan pertama yg hrs diselesaikan agar kualitas lapisan tanah dasar tetap terjaga mencegah partikel-pertikel halus dari tanah dasar naik ke lapisan fondasi

Lapisan Pondasi Atas Bagian perkerasan utk menahan gaya melintang dari roda dan menyebarkan ke lapisan dibawahnya sebagai lapisan peresapan air dari bawah sebagai bantalan bagi lapisan permukaan

lapisan Permukaan Sebagai lapisan perkerasan penahan beban roda yg memp stabilitas tinggi selama umur layanan lapisan kedap air, shg air hujan dpt mengalir diatasnya dan tidak meresap kebawahnya serta tidak melemahkan lapisan tersebut

sebagai lapis aus (wearing course), krn lapisan ini dapat mengikis ban shg gundul lapisan untuk menyebarkan beban ke lap bawah

3. Bangunan Pelengkap Jalan


a. Rambu -Rambu Jalan

Rambu -rambu jalan perlu dipasang untuk lebih menjamin keamanan sehubungan dengan dioperasikannya suatu jalan. Rambu jalan yang perlu dipasang adalah : Rambu-rambu lalu lintas seperti tanda tikungan, tanda hati-hati dan tanda kurangi kecepatan. Guide Post (patok pengarah) Guard rail (rel pengaman)

b. Lampu Penerangan

Lampu penerangan perlu dipasang karena aktifitas penambangan juga berlangsung pada malam hari. Pemasangan lampu ini didasarkan pada jarak dan tingkat bahayanya. Lampu-lampu tersebut terutarna dipasang pada belokan jalan, turunan jalan, jembatan dan perempatan jalan atau pertigaan.