Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Matematika merupakan pengetahuan yang mempunyai peran sangat penting baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan lain. Secara formal pelajaran Matematika diberikan kepada siswa sejak sekolah dasar (SD) dengan tujuan antara lain mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi kehidupan yang selalu berkembang melalui pemikiran yang logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efisisen dan efektif (Depdikbud, 1993). Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu materi yang perlu dipelajari siswa adalah Trigonometri.

Menurut Ruseffendi (1985) dengan mempelajari Trigonometri dapat menumbuhkan berfikir logis. Selain itu pengalaman yang diperoleh dari mempelajari Trigonometri dapat mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan pemberian alasan serta mendukung topik lainnya dalam Matematika (Kennedy dan Tipps, 1994). Dengan demikian disimpulkan bahwa Trigonometri berperan dalam menumbuhkan

kemampuan berfikir secara logis. Mengingat peran penting Trigonometri dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan Matematika, materi Trigonometri hendaknya dipahami dengan baik dan benar oleh siswa SMA.

Berdasarkan penelitian Setiawan (1995) tentang kesulitan belajar Trigonometri antara lain menyimpulkan bahwa prestasi yang rendah dalam Trigonometri disebabkan siswa kurang memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip Trigonometri.

Selanjutnya materi trigonometri semakin berkembang Konsep trigonometri dipelajari di SMA, di antaranya terkait dengan fungsi-fungsi trigonometri dan hubunganhubungannya. Di kelas XI IPA SMAN 3 Bandar Lampung ditemukan banyaknya ( >65%) siswa sulit memahami konsep persamaan fungsi trigonometri.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan hasil penelitian dan temuan di atas, dilakukan observasi ke beberapa kelas XI IPA di SMAN 3 Bandar Lampung yang sengaja difokuskan pada pembelajaran konsep persamaan fungsi trigonometri. Hasil observasi menunjukkan proses pembelajaran umumnya masih didominasi guru, sehingga komunikasi antara guru dan siswa belum optimal. Dalam pembelajaran konsep persamaan fungsi

trigonometri, guru langsung memberikan persamaannya, siswa hanya menghafalkan identitas trigonometri tetapi tidak dapat menggunakannya dalam menyelesaikan persamaan terkait. Oleh Karena itu dapat dirumuskan bahwa pemahaman konsep persamaan fungsi trigonometri rendah sehingga diperlukan upaya untuk

meningkatkan pemahaman konsep ini.

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penerapan Teori Atribusi Weiner bagi siswa dalam mencapai ketuntasan belajar dan hasil belajar tentang

persamaan fungsi trigonometri. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan Two Groups pre test post test design seperti pada Tabel 3.

C. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik bagi peneliti sendiri maupun peneliti lain, khususnya guru bidang studi Matematika dalam upaya meningkatkan prestasi belajar trigonometri khususnya dan Matematika pada umumnya.

BAB II

LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka

Secara formal pelajaran Matematika diberikan kepada siswa sejak sekolah dasar (SD) dengan tujuan antara lain mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi kehidupan yang selalu berkembang melalui pemikiran yang logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efisisen dan efektif (Depdikbud, 1993). Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu materi yang perlu dipelajari siswa adalah Trigonometri. Materi ini dipelajari mulai kelas I SD melalui bangun-bangun yang akrab dengan lingkungan siswa, seperti bentuk tegel, bentuk jendela, bentuk rumah.

Menurut Ruseffendi (1985) dengan mempelajari Trigonometri dapat menumbuhkan berfikir logis. Selain itu pengalaman yang diperoleh dari mempelajari Trigonometri dapat mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan pemberian alasan serta mendukung topik lainnya dalam Matematika (Kennedy dan Tipps, 1994). Dengan demikian disimpulkan bahwa Trigonometri berperan dalam menumbuhkan

kemampuan berfikir secara logis. Mengingat peran penting Trigonometri dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan Matematika, materi hendaknya dipahami dengan baik dan benar oleh siswa SMA.

Penelitian Setiawan (1995) tentang kesulitan belajar antara lain menyimpulkan bahwa prestasi yang rendah dalam geometri disebabkan siswa kurang memahami konsepkonsep dan prinsip-prinsip. Sebagai contoh kurangnya pemahaman siswa terhadap Konsep Trigonometri ditemukan oleh Soedjadi (1998/1999) pada saat pelatihan guru yang membahas masalah pembelajaran Matematika, yaitu tentang banyaknya siswa yang kurang memahami konsep matematika.

Untuk mengatasi pembelajaran tersebut, Soedjadi (1998/1999) mengatakan perlunya diupayakan pembelajaran yang memberi kesempatan luas pada siswa untuk aktif belajar. Dengan demikian pembelajaran yang semula terpusat pada guru (teacher oriented) hendaknya berubah menjadi terpusat pada siswa (student oriented). Pada kesempatan ini dipilih alternative pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dan meningkatkan komunikasi antara guru dan siswa, yaitu pembelajaran dengan menerapkan Teori Atribusi dari Bernard Weiner (Teori Atribusi Weiner).

Kelly (dalam Bell-Gredler & Margaret, 1986) mengatakan arti dari atribusi adalah mengacu ke penyebab suatu kejadian atau hasil menurut persepsi individu. Adapun yang menjadi pusat penelitian di bidang ini adalah cara-cara bagaimana siswa memberikan alasan jawaban dan implikasi dari jawaban tersebut. Jadi fokus dari Teori Atribusi pada bentuk pertanyaan Mengapa? Khusus dalam pembelajaran persamaan fungsi trigonometri, Teori Atribusi dimaksudkan untuk mengetahui proses berfikir siswa dalam memahami konsep ini.

Ada tiga langkah penerapan Teori Atribusi dalam pembelajaran yang terdiri dari: (1) menyusun kembali tujuan pembelajaran dalam pengertian siasat belajar; (2) mengenali kegiatan kelas yang meniadakan persaingan pribadi dan membantu pengembangan siasat; dan (3) menyusun pernyataan balikan verbal dengan pesan atribusi yang tepat (Bell-Gredler & Margaret, 1986).

Pelaksanaan penerapan Teori Atribusi Weiner ini secara eksplisit disisipkan dalam Model Pembelajaran Langsung. Model Pembelajaran Langsung merupakan model pembelajaran yang sering digunakan oleh sebagian besar guru. Menurut Arends (1997), pembelajaran langsung disajikan dalam lima tahap, yaitu: (1) penyampaian tujuan pembelajaran; (2) mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan; (3) pemberian latihan terbimbing; (4) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik; dan (5) pemberian perluasan latihan dan pemindahan ilmu. Penerapan Teori Atribusi Weiner dalam pembelajaran langsung dimaksudkan untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada siswa agar mengembangkan lingkungan proaktif yang positif. Dengan kata lain suasana pembelajaran menjadi berpusat pada siswa (student oriented).

Untuk menerapkan Teori Atribusi Weiner dalam proses pembelajaran langsung tentang persamaan fungsi trigonometri diurutkan materinya sebagai berikut. (1) mengenal definisi fungsi trigonometri, (2) menentukan solusi persamaan trigonometri sederhana, dan (3) menentukan solusi persamaan trigonometri menggunakan identitas

trigonometri. Selanjutnya Teori Atribusi Weiner dalam pembelajaran langsung untuk persamaan fungsi trigonometri dideskripsikan pada Tabel 1.

Secara umum keberhasilan pesan-pesan atribusi yang disisipkan dalam pembelajaran langsung dapat digunakan untuk melihat ketercapaian ketuntasan belajar siswa sesuai rumusan TPK yang dituangkan dalam soal-soal Tes Hasil Belajar tentang persamaan fungsi trigonometri. Dijelaskan dalam Kurikulum 1994 Pendidikan Dasar, ketuntasan belajar secara individu adalah jika siswa dapat mencapai skor 65% sedangkan ketuntasan klasikal tercapai jika 85% siswa di kelas tersebut mencapai ketuntasan belajar.

Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian eksperimen yang dilakukan untuk mengetahui empat hal: (1) tingkat pencapaian ketuntasan belajar siswa yang pembelajarannya dengan menerapkan Teori Atribusi Weiner, (2) sejauh mana peningkatan hasil belajar siswa yang menerapkan Teori Atribusi Weiner, (3) apakah hasil belajar siswa yang menerapkan Teori Atribusi Weiner lebih baik dari hasil belajar siswa yang tidak menerapkan Teori Atribusi Weiner, dan (4) respon siswa dan guru terhadap penerapan Teori Atribusi Weiner dalam pembelajaran.

Unjuk kerja Keputusan guru Benar/Tidak Benar 1) Verbal : balikan kepada siswa tentang benarnya Unjuk kerja

Informasi anteseden

Atribusi guru

Reaksi Guru 2) Non verbal ekspresi wajah keraguan Tingkah laku guru: Pujian, celaan, simpati, marah, bantuan, dan sebagainya

Atribusi Siswa Siswa mengenal unjuk kerjanya berupa keberhasilan atau kegagalan Siswa menarik inferensi tentang apa kepercayaan guru Informasi anteseden lainnya

Gambar 1. Interaksi Guru-Siswa dalam Perumusan Atribusi untuk Keberhasilan dan Kegagalan (Sumber: Bell-Gredler & Margaret, 1986)

B. Kerangka Pemikiran

Sesuai langkah pembelajaran dengan penerapan Teori Atribusi Weiner dan tahaptahap Model Pembelajaran Langsung, maka pesan-pesan atribusi disisipkan pada tahap ke 2, ke 3, dan ke 4. Pesan atribusi yang diberikan dikhususkan untuk mencari penyebab terjadinya kesalahan siswa dalam memahami persamaan fungsi

trigonometri yaitu:(1) membangun persamaan fungsi trigonometri dimulai dengan peragaan menurunkan definisi fungsi trigonometri, (2) menanggapi hasil kerja siswa menentukan nilai fungsi trigonometri untuk sudut yang berbeda, dan (3) memantapkan pemahaman konsep persamaan fungsi trigonometri dengan

mengerjakan soal-soal tentang persamaan fungsi trigonometri

Untuk melukiskan pengaruh guru pada atribusi yang dibuat siswa dalam menjelaskan benar atau salah berkaitan dengan penyelesaian tugas-tugas pembelajaran dapat dilihat pada Gambar 3.

C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis sbb: Langkah pembelajaran dengan penerapan Teori Atribusi Weiner dan tahap-tahap Model Pembelajaran Langsun dapat meningkatkan prestasi belajar trigonometri, Untuk hasil analisis parametrik uji-t beda dua perlakuan dirumuskan hipotesis dengan Ha dan Ho sebagai berikut.

Ha : Hasil belajar siswa yang pembelajarannya menerapkan Teori Atribusi

Weiner

lebih baik daripada hasil belajar siswa yang pembelajarannya tidak menerapkan Teori Atribusi Weiner Ho : Hasil belajar siswa yang pembelajarannya menerapkan Teori Atribusi Weiner sama dengan hasil belajar siswa yang pembelajarannya tidak menerapkan Teori Atrbusi Weiner

10

BAB III

METODE PENELITIAN
A. Setting Penelitian

Penelitian yang dilaporkan adalah menerapkan Teori Atribusi Weiner dalam Model Pembelajaran Langsung tentang persamaan fungsi trigonometri di kelas XI IPA SMAN 3 Bandar Lampung..

Penelitian ini dilakukan di kelas XI IPA SMAN 3 Bandar Lampung yang ada di kotamadya Bandar Lampung dengan pertimbangan dari hasil observasi ditemukan suasana pembelajaran tentang persamaan fungsi trigonometri yang masih didominasi guru sehingga siswa kurang memahami konsep ini. Dua kelas XI IPA dipilih secara random sebagai sampel. Setelah diundi, ditetapkan subjek penelitian sejumlah 19 siswa kelas XI IPA-1 sebagai Kelas Eksperimen dan sejumlah 19 siswa kelas XI IPA2 sebagai Kelas Kontrol. Tabel 1. Rancangan Penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Keterangan : T1 : Tes awal (pre test) yaitu tes sebelum perlakuan (treatment) T2 : Tes akhir (post test) yaitu tes sesudah perlakuan (treatment) T1 = T2 TTAW = Treatment dengan Teori Atribusi Weiner TTTAW = Treatment tanpa Teori Atribusi Weiner . . Tes T1 T1 Treatment T TAW T TTAW Tes T2 T2

11

B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adfalah siswa kelas XI IPA SMAN 3 Bandar Lampung tahun pelajaran 2006/2007

C. Variabel Penelitian (faktor yang diselidiki)


Sebagai faktor yang akan diteliti adalah prestasi belajar siswa sebagai indikator penguasaan konsep yaitu nilai pretest dan post test.

D. Teknik pengumpulan data (Data dan Cara Pengambilannya)


Instrumen dalam penelitian ini terdiri dari: (1) tes hasil belajar untuk memperoleh data hasil belajar siswa, (2) angket respon siswa untuk memperoleh tanggapan siswa terhadap penerapan Teori Atribusi Weiner, dan (3) angket respon guru untuk memperoleh pendapat guru terhadap penerapan Teori Atribusi Weiner dalam pembelajaran. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari: (1) data perolehan skor tes hasil belajar siswa pada saat pre test dan post test, (2) data respon siswa berupa jawaban siswa dalam mengisi angket respon siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan menerapkan Teori Atribusi Weiner, dan (3) data respon guru berupa tanggapan guru setelah menerapkan Teori Atribusi Weiner dalam pembelajaran dengan mengisi angket respon guru.

12

A. Indikator Kinerja Sesuai Kurikulum 1994 ketuntasan belajar klasikal tercapai jika 85% siswa di kelas tersebut tuntas belajar. Selanjutnya pencapaian tujuan pembelajaran khusus (TPK) pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol berdasarkan skor post test bila dapat dicapai oleh >65% siswa

B. Analisis Data Teknik analisis data dilakukan dengan analisis statistik deskriptif untuk mengolah data ketuntasan hasil belajar, respon siswa dan respon guru. Sedangkan analisis parametrik uji-t untuk mengolah data hasil belajar yang didapat dari hasil post test Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol. Uji-t yang digunakan adalah uji-t beda dua perlakuan yaitu Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

C. Prosedur Penelitian (langkah-langkah PTK) Prosedur dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu: (1) tahap persiapan dengan kegiatan: observasi, menyusun rencana pembelajaran da tes hasil belajar, (2) tahap pelaksanaan dengan kegiatan pre test, melaksanakan pembelajaran pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol, post test, dan membagi angket siswa dan guru kelas eksperimen, dan (3) tahap analisis data.

13