Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Nenas (Ananas comosus (L) Merr) merupakan salah satu tanaman buah yang banyak dibudidayakan di daerah tropis dan subtropis. Tanaman ini mempunyai banyak manfaat terutama pada buahnya. Nanas mempunyai sifat yang mudah rusak dan busuk sehingga tidak tahan lama disimpan. Selain dikonsumsi sebagai buah segar, juga dimanfaatkan dalam industri pengolahan buah nanas untuk pembuatan sari buah, jem dan jeli. Dalam industri pengolahan buah nanas selalu meninggalkan sisa limbah yang cukup banyak. Umumnya limbah nanas berupa batang, daun, kulit dan bonggol belum dimanfaatkan secara optimal. Data Badan Pusat Statistik (2010) menyatakan bahwa produksi buah nanas di Indonesia pada tahun 2009 mencapai 1.558.049 ton. Sebagai komoditi hortikultura, buah nanas diolah menjadi berbagai macam produk seperti selai, sirup, sari buah, nectar serta buah dalam botol atau kaleng. Berbagai macam pengolahan tersebut menimbulkan limbah kulit yang belum dimanfaatkan atau relatif hanya dibuang, sehingga menimbulkan masalah bagi lingkungan. Nanas adalah salah satu jenis tumbuhan yang bermanfaat dan bervitamin. Nanas banyak ditaman di kebun / sawah. Tumbuhan nanas ini mempunyai banyak manfaat, mulai buah, ampas, dan kulitnya yang dapat digunakan sebagai minuman yang bevitamin. Kulit nanas dapat diolah menjadi minuman yang lebih menarik dan juga memiliki banyak khasiat, salah satunya dapat digunakan menjadi minuman bervitamin seperti nata de pina dari kulit nanas, namun pada umumnya banyak konsumen yang tidak mengetahuinya. Larutan atau media yang mengandung glukosa dapat dijadikan selulosa dari proses sintesis dengan bakteri (selulosa mikrobial) (Lapuz et al. 1967). Selain itu, Yoshinaga et al. (1997) menyatakan bahwa selulosa mikrobial seperti nata de coco mempunyai kekhasan sifat struktural dan fisikokimiawi dibandingkan selulosa kayu. Pada kulit nanas terdapat kandungan glukosa atau dalam bentuk

polisakarida yaitu karbohidrat. Hal tersebut memberikan peluang untuk kulit buah nanas dapat disintesis menjadi selulosa mikrobial (nata de pina) sebagai upaya pemanfaatan dalam peningkatan kualitasnya. 1.2 Identifikasi Masalah 1. Kulit nanas dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan nata 2. Peningkatan luas perkebunan nanas dan perkembangan produksi berbagai jenis makanan yang berbahan dasar buah nanas yang menyebabkan limbah kulit nanas yang dihasilkan semakin menumpuk. 3. Kulit nanas bahan dasar pembuatan nata memiliki banyak manfaa 4. Terdapat perbandingan nilai ekonomis antara kulit nanas dan daging nanas 5. Terdapat perbedaan tingkat keawetan antara kulit nanas dan daging nanas 1.3 Rumusan Masalah Permasalahan yang akan dibahas dalam laporan ini adalah bagaimana cara mendesain sebuah produk nata de pina yang berasal dari kulit nanas dengan tujuan meminimalkan limbah yang dihasilkan dari produksi bahan makanan yang berasal dari buah nanas sehingga limbah yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk bahan yang bernilai jual, dan juga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia akan permintaan minuman nata dengan berbagai rasa. 1.4 Batasan Masalah Dalam laporan ini, penulis membatasi ruang lingkup pada masalah yang ada agar pembahasan dan pemecahan masalah dapat dilakukan dengan baik dan terarah. Batasan-batasan masalah tersebut adalah: 1. Kulit nanas merupakan bahan baku utama pada proses pengolahan produk ini. 2. Produk yang akan dihasilkan adalah nata de pina yang memiliki kandungan gizi yang tinggi. 3. Sasaran pasar adalah masyarakat Indonesia.