Anda di halaman 1dari 11

NUR CHAYATI PENGAUDITAN I / F0311088 RANGKUMAN MATA KULIAH

PERENCANAAN AUDIT DAN PROSEDUR ANALITIS

PERENCANAAN Standar auditing yang berlaku umum pertama untuk pekerjaan lapangan mengharuskan perencanaan yang memadai. Auditor harus merencanakan pekerjaan secara memadai dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya. Hal itu sesuai dengan standar

auditing yang berlaku umum pertama untuk pekerjaan lapangan. Ada tiga alasan utama mengapa auditor harus merencanakan penugasan yang tepat, yaitu : 1. Untuk memungkinkan auditor mendapatkan bukti yang tepat dan mencukupi pada situasi yang dihadapi. 2. Membantu menjaga biaya audit tetap wajar 3. Menghindari kesalahpahaman dengan klien Delapan bagian utama dari perencanaan audit atau perencanaan audit dan perancangan pendekatan audit, yaitu : 1. Menerima klien dan melakukan perencanaan audit awal 2. Memahami bisnis dan industri klien 3. Menilai risiko bisnis klien 4. Melaksanakan prosedur analitis pendahuluan 5. Menetapkan materialitas dan menilai risiko audit yang dapat diterima dan risiko inheren 6. Memahami pengendalian internal dan menilai risiko pengendalian 7. Mengumpulkan informasi untuk menilai risiko kecurangan 8. Mengembangkan perencanaan audit dan program audit secara keseluruhan Sebelum memulai pembahasan materi, akan diperkenalkan dua istilah risiko, yaitu : 1. Risiko audit yang dapat diterima (acceptable audit risk) merupakan ukuran seberapa besar auditor bersedia menerima bahwa laporan keuangan akan salah saji secara material setelah audit diselesaikan dan pendapat wajar tanpa pengecualian telah dikeluarkan 2. Risiko inheren merupakan ukuran penilaian auditor atas kemungkinan adanya salah saji yang material dalam suatu saldo akun sebelum mempertimbangkan keefektifan pengendalian internal

Perencanaan Audit dan Prosedur Analitis

Kedua jenis risiko diatas sangat mempengaruhi pelaksanaan dan biaya audit serta membantu menentukan jumlah bukti yang harus dikumpulkan dan staf yang dibutuhkan untuk penugasan itu.

MENERIMA KLIEN DAN MELAKUKAN PERENCANAAN AUDIT AWAL Perencanaan audit awal melibatkan empat hal yang semuanya harus dilakukan terlebih dahulu dalam audit, antara lain : 1. Auditor memutuskan apakah akan menerima klien baru atau terus melayani klien yang ada sekarang. 2. Auditor mengidentifikasi mengapa klien menginginkan atau membutuhkan audit. 3. Untuk menghindari kesalahpahaman, auditor harus memehami syarat penugasan yang ditetapkan klien. 4. Auditor mengembangkan strategi audit secara keseluruhan, termasuk staf penugasan dan setiap spesialisasi audit yang diperlukan

MEMAHAMI BISNIS DAN INTRUKSI KLIEN Pemahaman yang meneyluruh atas bisnis dan industri klien serta pengetahuan tentang operasi perusahaan sangat penting untuk melaksanakan audit yang memadai. Faktor-faktor yang meningkatkan arti penting dari pemahaman atas bisnis dan industri klien, yaitu : 1. Teknologi informasi yang menghubungkan perusahaan klien dengan pelanggan dan pemasok utama. 2. Klien telah memperluas operasinya secara global yang seringkali melalui joint venture. 3. Teknologi informasi mempengaruhi proses internal klien yang meningkatkan mutu dan ketepatan waktu informasi akuntansi. 4. Semakin pentingnya modal manusia dan aktiva tak berwujud lainnya telah meningkatkan kerumitan akuntansi serta pentingnya penilaian dan estimasi manajemen. 5. Auditor membutuhkan pemahaman yang lebih baik atas bisnis dan industri klien untuk memberikan jasa bernilai tambah kepada klien. Tinjauan menyangkut pemahaman sistem strategi atas bisnis dan industri klien, antara lain adalah : 1. Memahani bisnis dan industri klien 2. Industri dan lingkungan eksternal 3. Operasi dan proses bisnis 4. Manajemen dan tata kelola
Perencanaan Audit dan Prosedur Analitis 2

5. Tujuan dan strategi 6. Pengukuran dan kinerja Ada tiga tujuan utama untuk mendapatkan pemahaman yang baik tentang industri klien dan lingkungan eksternal adalah: 1. Risiko yang berkaitan dengan industri tertentu dapat mempengaruhi penilaian auditor atas risiko bisnis klien dan resiko yang dapat diterima- dan bahkan dapat mempengaruhi auditor dalam menerima penugasan pada industri yang lenih berisik, seperti industri simpan pinjam dan asuransi. 2. Risiko inheren tertentu sudah umum bagi semua klien dalam industri tertentu. Familiaritas dengan risiko-risiko tersebut akan membantu auditor dalam menilai relevansinya bagi klien bersangkutan. 3. Banyak industri memiliki persyaratan akuntansi yang unik yang harus dipahami oleh auditor untuk mengevaluasi apakah laporan keuangan klien telah sesuai dengan prinsipprinsip akuntansi yang berlaku umum.

MENILAI RESIKO BISNIS KLIEN Risiko bisnis klien dapat timbul dari banyak faktor yang mempengarui klien dan lingkungannya. Perhatian utama auditor tertuju pada risiko salah saji yang material dalam laporan keuangan yang disebabkan oleh risiko bisnis klien. Penilaiaan auditor atas risiko bisnis klien mempertimbangkan industri yang digeluti klien dan faktor eksternal lainnya, serta strategi bisnis klien, proses dan faktor internal lainnya. Auditor juga

mempertimbangkan pengendalian manajemen yang dapat mengurangi risiko bisnis. Manajemen adalah sumber utama untuk mengidentifikasikan rsiko bisnis klien.

MELAKSANAKAN PROSEDUR ANALITIS PENDAHULUAN Auditor melaksanakan prosedur analitis pendahuluan untuk memahami dengan lebih baik bisnis klien dan untuk menilai risiko bisnis klien. Salah satu prosedur tersebut membandingkan rasio klien dengan benchmark industri/ pesaing. Pengujian pendahuluan dapat mengungkapkan perubahan yang tidak biasa dalam rasio yang membandingkan dengan tahun sebelumnya/ dengan rata-rata industri. Hal itu membantu auditor mengidentifikasi area yang mengalami kenaikan risiko salah saji yang membutuhkan perhatian lebih lanjut selama audit.

Perencanaan Audit dan Prosedur Analitis

IKHTISAR BAGIAN DARI PERENCANAAN AUDIT Tujuan utama dari perencanaan audit adalah memahami bisnis dan industri klien yang akan digunakan untuk menilai risiko audit yang dapat diterima, risiko bisnis klien, dan risiko salah saji yang material dalam laporan keuangan.

PROSEDUR ANALITIS Prosedur analitis dapat dilaksanakan pada salah satu dari ketiga waktu selama penugasan, antara lain : 1. Prosedur analitis diwajibkan dalam tahap perencanaan untuk membantu menentukan sifat, luas dan penetapan waktu prosedur audit. 2. Prosedur analitis sering kali dilakukan selama tahap pengujian audit sebagai pengujian substantif untuk mendukung saldo akun. 3. Prosedur analitis juga diwajibkan dalam tahap penyelesaiaan audit.

LIMA JENIS PROSEDUR ANALITIS Biasanya auditor membandingkan saldo dan rasio klien dengan saldo dan rasio yang diharapkan dengan menggunakan satu atau lebih jenis prosedur analitis berikut. Dalam setiap kasus, auditor membandingkan data klien dengan : 1. Data industri 2. Data periode sebelumnya yang serupa 3. Hasil yang diharapkan yang ditentukan klien 4. Hasil yang diharapkan yang ditentukan auditor 5. Hasil yang diharapkan dengan menggunakan data non keuangan

RASIO KEUANGAN YANG UMUM Penggunaan rasio keuangan dalam prosedur analitis auditor berguna untuk memahami peristiwa terkini dan status keuangan perusahaan serta untuk menelaah laporan itu dari perspektif pemakai

Kemampuan membayar utang jangka pendek Rasio kas = Rasio cepat =

Perencanaan Audit dan Prosedur Analitis

Rasio kas = Rasio aktivitas perputaran piutang usaha = Jumlah hari penagihan utang = Perputaran persediaan = Jumlah hari penjualan persediaan =

Kemampuan memenuhi kewajiban utang jangka panjang Utang terhadap ekuitas = Times interest earned =

Rasio profitabilitas Laba per saham = Persentase laba kotor = Margin laba = Pengembalian atas aktiva = Pengembalian atas akuitas saham biasa =

PENERIMAAN PERIKATAN DAN PERENCANAAN AUDIT

Sebelum audit atas laporan keuangan dilaksanakan, auditor perlu mempertimbangkan apakah ia akan menerima atau menolak perikatan audit (audit engagement) dari calon kliennya. Jika auditor memutuskan untuk menerima perikatan audit dari calon kliennya, ia akan melaksanakan audit dalam beberapa tahap.

Perencanaan Audit dan Prosedur Analitis

Tahap-Tahap Audit atas Laporan Keuangan Proses audit atas laporan keuangan dibagi menjadi empat tahap berikut ini 1. Penerimaan perikatan audit 2. Perencanaan audit 3. Pelaksanaan pengujian audit 4. Pelaporan audit

Tahap-Tahap Penerimaan Perikatan Audit Di dalam memutuskan apakah suatu perikatan audit dapat diterima atau tidak, auditor menempuh suatu proses yang terdiri dari enam tahap berikut ini: 1. Mengevaluasi integritas manajemen 2. Mengidentifikasi keadaan khusus dan resiko luar biasa 3. Menentukan kompetensi untuk melaksanakan audit 4. Menilai independensi 5. Menentukan kemampuan untuk menggunakan kemahiran profesionalnya dangan kecermatan dan keseksamaan 6. Membuat surat perikatan audit

Mengevaluasi Integritas Manajemen Berbagai cara yang ditempuh oleh auditor dalam mengevaluasi integritas manajemen adalah: 1. Melakukan komunikasi dangan auditor pendahulu 2. Meminta keterangan pada pihak ketiga 3. Melakukan review terhadap pengalaman auditor di masa lalu dalam berhubungan dengan klien yang bersangkutan

Mengidentifikasi Keadaan Khusus dan Resiko Luar Biasa Berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan oleh auditor tentang kondisi khusus dan risiko luar biasa yang mungkin berdampak terhadap penerimaan perikatan audit dari calon klien dapat diketahui dengan cara: 1. Mengidentifikasi pemakai laporan audit 2. Mendapatkan informasi tentang stabilitas keuangan dan legal calon klien di masa depan 3. Mengevaluasi kemungkinan dapat atau tidaknya laporan keuangan calon klie yang diaudit

Perencanaan Audit dan Prosedur Analitis

Menentukan Kompetensi untuk Melaksanakan Audit Sebelum auditor menerima perikatan audit, ia harus mempertimbangkan apakah ia dan anggota tim auditornya memiliki kompetensi memadai untuk menyelesaikan perikatan tersebut, sesuai dengan standar auditing yang ditetapkan oleh IAI. Beberapa tahap yang dilakukan auditor untuk pertimbangan tersebut adalah: Mengidentifikasi tim audit, dimana tim audit terdiri dari: 1. Seorang partner yang akan bertanggung jawab terhadap penyelesaian keseluruhan perikatan audit 2. Satu atau lebih manajer yang akan mengkoordinasi dan mengawasi pelaksanaan program audit 3. Staf assisten yang akan melaksanakan berbagai prosedur audit yang diperlukan dalam pelaksanaan program audit. Mempertimbangkan kebutuhan konsultasi dan penggunaan spesialis untuk masalah: 1. Penilaian 2. Penentuan karakteristik fisik yang berhubungan dengan kuantitas yang tersedia 3. Penentuan nilai yang diperoleh dengan menggunakan teknik atau metode khusus 4. Penafsiran persyaratan teknis, peraturan atau persetujuan

Menilai Independensi Sebelum auditor menerima perikatan audit, ia harus memastikan bahwa setiap profesional yang menjadi anggota tim auditnya tidak terlibat atau memiliki kondisi yang menjadikan independensi tim auditornya diragukan.

Menentukan Kemampuan untuk Menggunakan Kemahiran Profesionalnya dengan Kecermatan dan Keseksamaan Dalam mempertimbangkan penerimaan atau penolakan suatu perikatan audit, auditor harus mempertimbangkan apakah ia dapat melaksanakan audit dan menyusun laporan auditnya secara cermat dan seksama. Kecermatan dan keseksamaan penggunaan kemahiran profesional auditor ditentukan oleh beberapa hal: a. Penentuan waktu perikatan b. Pertimbangan jadwal pekerjaan lapangan c. Pemanfaatan personel klien

Perencanaan Audit dan Prosedur Analitis

Membuat Surat Perikatan Audit Surat perikatan audit dibuat oleh auditor untuk kliennya yang berfungsi untuk mendokumentasikan dan menegaskan penerimaan auditor atas penunjukan oleh klien, tujuan dan lingkup audit, lingkup tanggung jawab yang dipikul oleh auditor bagi kliennya, kesepakatan tentang reproduksi laporan keuangan auditan, serta bentuk laporan yang akan diterbitkan oleh auditor.

PERENCANAAN AUDIT Setelah auditor memutuskan untuk menerima perikatan audit dari kliennya, langkah berikutnya yang perlu ditempuh adalah merencanakan audit. Ada tujuh tahap yang harus ditempuh oleh auditor dalam merencankan auditnya: 1. Memahami bisnis dari industri klien Sebelum auditor melakukan verifikasi dan analisis transaksi atas akun-akun tertentu, ia perlu mengenal lebih baik industri tempat klien berusaha serta kekhususan bisnis klien. Beberapa sumber informasi bagi auditor untuk memahami bisnis dan industri klien: a. Pengalaman sebelumnya tentang entitas dan industrinya b. Diskusi dengan orang dalam tentang entitas c. Diskusi dengan personel dari fungsi audit intern dan review terhadap laporan auditor intern. d. Diskusi dengan auditor lain dan dengan penasihat hukum atau penasihat lain yang telah memberikan jasa kepada entitas atau dalam industri e. Diskusi dengan orang yang berpengetahuan di luar entitas f. Publikasi yang berkaitan dengan industri g. Perundangan dan peraturan yang secara signifikan berdampak terhadap entitas h. Kunjungan ke tempat atau fasilitas pabrik entitas i. Dokumen yang dihasilkan entitas 2. Melaksanakan prosedur analitik Prosedur analitik meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat atau ratio yang dihitung dari jumlah-jumlah yang tercatat, dibandingkan dengan harapan yang dikembangkan oleh auditor. Tujuan prosedur analitik dalam perencanaan audit adalah membantu perencanaan sifat, saat, dan luas prosedur audit yang akan digunakan untuk memperoleh bukti tentang saldo akun atau jenis transaksi tertentu. a. Tahap-tahap prosedur analitik b. Mengidentifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat
Perencanaan Audit dan Prosedur Analitis 8

c. Mengembangkan harapan d. Melaksanakan perhitungan/perbandingan e. Menganalisis data dan mengidentifikasi perbedaan signifikan f. Menyelidiki perbedaan signifikan yang tidak terduga dan mengevaluasi perbedaan tersebut. g. Menentukan dampak hasil prosedur analitik terhadap perencanaan audit. 3. Mempertimbangkan tingkat materialitas awal Auditor perlu mempertimbangkan materialitas awal pada dua tahap: (1) tingkat laporan keuangan, dan (2) tingkat saldo akun. 4. Mempertimbangkan risiko bawaan Dalam keseluruhan proses audit, auditor mempertimbangkan berbagai risiko, sesuai dengan tahap-tahap proses auditnya. Risiko-risiko yang harus dipertimbangkan oleh auditor dalam setiap tahap proses auditnya adalah: a. Tahap perencanaan audit: penaksiran risiko bawaan b. Tahap pemahaman dan pengujian pengendalian intern: penaksiran risiko pengendalian c. Tahap pelaksanaan pengujian substantif: penetapan risiko deteksi d. Tahap penerbitan laporan audit: penilaian risiko audit 5. Mempertimbangkan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap saldo awal, jika perikatan dengan klien berupa audit tahun pertama Auditor harus memahami hal-hal bersyarat (configencies) dan komitmen yang ada pada awal tahun. Auditor harus memperoleh bukti audit kompeten yang cukup untuk meyakini bahwa: a. Saldo awal tidak mengandung salah saji yang mempunyai dampak material terhadap laporan keuangan berjalan. b. Saldo penutup tahun sebelumnya telah ditransfer dengan benar ke tahun berjalan atau telah dinyatakan kembali. c. Kebijakan akuntansi yang semestinya telah diterapkan secara konsisten. Sifat dan lingkup bukti audit yang harus diperoleh auditor berkenaan dengan saldo awal tergantung pada: a. Kebijakan akuntansi yang dipakai oleh entitas yang bersangkutan. b. Apakah laporan keuangan entitas tahun sebelumnya telah diaudit, dan jika demikian, apakah pendapat auditor atas laporan keuangan berupa pendapat selain pendapat wajar tanpa pengecualian. c. Sifat akun dan risiko salah saji dalam laporan keuangan tahun berjalan.
Perencanaan Audit dan Prosedur Analitis 9

6. Mengembangkan strategi audit awal terhadap asersi signifikan Tujuan akhir perencanaan dan pelaksanaan audit adalah adalah untuk mengurangi risiko audit ke tingkat yang rendah, untuk mendukung pendapat apakah, dalam semua hal yang material, laporan keuangan disajikan secara wajar. Tujuan ini diwujudkan melalui pengumpulan dan evaluasi bukti tentang asersi yang terkandung dalam laporan keuangan yang disajikan oleh manajeman. Dalam perencanaan audit terhadap asersi individual atau golongan transaksi, auditor dapat memilih strategi audit awal: a. Primarily subtantive approach b. Lower assessed level of control risk approach.

7. Memahami pengendalian intern klien. Langkah pertama dalam memahami pengendalian intern klien adalah dengan mempelajari unsur-unsur pengendalian intern yang berlaku. Langkah berikutnya adalah melakukan penilaian terhadap efektivitas pengendalian intern dengan menentukan kekuatan dan kelemahan pengendalian intern tersebut. Jika auditor telah mengetahui bahwa pengendalian intern klien di bidang tertentu adalah kuat, maka ia akan

mempercayai informasi keuangan yang dihasilkan. Oleh karena itu ia akan mengurangi jumlah bukti yang dikumpulkan dalam audit yang bersangkutan dengan bidang tersebut. Untuk mendukung keyakinannya atas efektivitas pengendalian intern tersebut, auditor melakukan pengujian pengendalian (test of control).

PENGUJIAN AUDIT Dalam audit, auditor melakukan berbagai macam pengujian (test), yang secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 golongan berikut ini: 1. Pengujian analitik (analytical test) 2. Pengujian pengendalian (test of control) 3. Pengujian substantif (substantif test)

Pengujian Analitik (Analytical Test) Pengujian ini dilakukan oleh auditor pada tahap awal proses auditnya dan pada tahap review menyeluruh terhadap hasil audit. Pengujian ini dilakukan oleh auditor dengan cara mempelajari perbandingan dan hubungan antara data yang satu dengan data yang lain. Pada
Perencanaan Audit dan Prosedur Analitis 10

tahap awal proses audit, pengujian analitik dimaksudkan untuk membantu proses auditor dalam memahami bisnis klien dan dalam menemukan bidang yang memerlukan audit lebih intensif.

Pengujian Pengendalian (Test of Control) Pengujian pengendalian merupakan prosedur audit yang dirancang untuk memverifikasi efektivitas pengendalian intern klien. mendapatkan informasi mengenai: 1. Frekuensi pelaksanaan aktivitas pengendalian yang ditetapkan 2. Mutu pelaksanaan aktivitas pengendalian tersebut 3. Karyawan yang melaksanakan aktivitas pengendalian tersebut Pengujian pengendalian terutama ditujukan untuk

Pengujian Substantif (Substantif Test) Pengujian substantif merupakan prosedur audit yang dirancang untuk menemukan kemungkinan kesalahan moneter yang secara langsung mempengaruhi kewajaran penyajian laporan keuangan. Kesalahan moneter yang terdapat dalam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan kemungkinan terjadi kesalahan dalam: 1. Penerapan prinsip akuntansi berterima umum di indonesia 2. Tidak diterapkannya prinsip akuntansi berterima umum di indonesia 3. Ketidakkonsistenan dalam penerapan prinsip akuntansi berterima umum di indonesia 4. Ketidak tepatan pisah batas (cutoff) pencatatan transaksi 5. Perhitungan (penambahan, pengurangan, pengalian, dan pembagian) 6. Pekerjaan penyalinan, penggolongan dan peringkasan informasi 7. Pencantuman pengungkapan (disclosure) unsur tertentu dalam laporan keuangan.

Perencanaan Audit dan Prosedur Analitis

11