Anda di halaman 1dari 5

AKLIMATISASI ANGGREK Oleh : Amanda Sari Widyanti / A24100050 TINJAUAN PUSTAKA Menurut Torres (1989) aklimatisasi adalah suatu

proses dimana suatu tanaman beradaptasi dengan perubahan lingkungan barunya. Sehingga pada tahap ini (aklimatisasi) diperlukan ketelitian tinggi karena tahap aklimatisasi merupakan tahap kritis dan seringkali menyebabkan kematian planlet. Aklimatisasi merupaka tahap akhir teknik kultur jaringan yang dilakukan melalui proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol (aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup dalam kondisi autotrof, sehingga jika tanaman yang dipindahkan (planlet) tidak diaklimatisasi dulu, maka tanaman tersebuk tidak akan dapat bertahan dikondisi lapang yang tidak dapat dikontrol. Menurut Wetherell (1982) bibit yang ditumbuhkan secara in vitro memiliki kutikula yang lebih tipis dan jaringan pembuluh yang belum sempurna. Sehingga aklimatisasi perlu dilakukan untuk menyiapkan tanaman yang ditumbuhkan secara kultur jaringan agar dapat beradaptasi di lapang dan hidup di kondisi sub optimum. Pada tahap aklimatisasi juga diperlukan suatu media yang dapat mempermudah pertumbuhan akar dan dapat menyediakan hara yang cukup bagi planlet yang diaklimatisasi tersebut. Media yang remah akan memudahkan pertumbuhan akar dan melancarkan aliran air, mudah mengikat air dan hara, tidak mengandung toksin atau racun, kandungan unsur haranya tinggi, dan tahan lapuk dalam waktu yang cukup lama. Sebagai contoh, media aklimatisasi bibit kultur jaringan krisan dan kentang di Indonesia saat ini adalah media arang sekam atau media campuran arang sekam dan pupuk kandang (Marzuki 1999; Sinaga 2001). Arang sekam merupakan salah satu media hidroponik yang baik karena memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut; mampu menahan air dalam waktu yang relative lama, termasuk media organic sehingga ramah lingkungan, lebih steril dari bakteri dan jamur karena telah dibakar terlebih dahulu, dan hemat karena bias digunakan hingga beberapa kali pemakaian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Kegiatan praktikum dilaksanakan di Kebun Percobaan Leuwikopo, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Praktikum dilaksanakan pada Selasa 7 Mei 2013 dimulai pukul 07.00 hingga 08.30 WIB. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan adalah anggrek Dendrobium spectabile dan Phalaenopsis sp, media tanam (bahan organik) berupa pakis dan kaliandra, dhytane, dan agrimicyn. Alat yang digunakan antara lain wadah berupa mika dan kawat untuk mengambil planlet.

Metode Pelaksanaan Setiap kelompok menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. Menyiapkan media tanam bahan organik yang merupakan gabungan antara pakis dan kaliandra dengan perbandingan 2 :1. Media kemudian direndam di larutan dhytane konsentrasi 1 g/l selama 30 menit. Selama menunggu media tanam, bahan tanam harus disiapkan. Bahan tanam (planlet) di botol dikocok dengan air agar akar lebih mudah diambil dan tidak merusak planlet. Planlet diambil menggunakan kawat dan kemudian dicuci air bersih hingga tidak ada sisa agar supaya tidak mengundang cendawan. Akar planlet yang sudah bersih kemudian direndam dengan larutan campuran dhytane dan agrimicyn. Akar kemudian dikering anginkan. Selanjutnya planlet dapat ditanam di sela-sela media tanam yang sudah direndan dhytane. Bagian bawah mika harus dilubangi dan wadah ditutup selama seminggu. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut adalah data hasil pengamatan yang dilaksanakan pada tanggal 14 dan 21 Mei 2013 (1 MST dan 2 MST). Tabel 1. Hasil pengamatan aklimatisasi anggrek Tanaman Parameter Dendrodium spectabile Hidup Mati Jumlah Tanaman Persentase Tumbuh (%) Phalaenopsis sp Hidup Mati Jumlah Tanaman Persentase Tumbuh (%)

MST 1 26.2 6.65 31.7 80.76 21 0 21 100

MST 2 16.7 15 31.7 54.59 21 0 21 100

Grafik 1. Persentase tumbuh anggrek Dendrobium spectabile

Persentase Tumbuh Dendrobium spectabile (%)


100 80 60 40 20 0 Series1 1 MST 80.76 2 MST 54.59

Grafik 2. Persentase tumbuh Phalaenopsis sp

Persentase Tumbuh Phalaenopsis sp(%)


120 100 80 60 40 20 0 Series1 1 MST 100 2 MST 100

Aklimatisasi merupakan tahap akhir dari proses kultur jaringan. Tahapan aklimatisasi sangat penting karena planlet akan diadaptasikan agar dapat hidup di lingkungan yang umumnya sulit dikontrol dan kurang optimum. Planlet yang sebelumnya terbiasa hidup di lingkungan optimum bersifat aseptic dan heterotrof. Daun planlet belum mampu berfotosintesis normal, sangat rentan terhadap respirasi berlebih, dan dipastikan mempunyai potensi kematian yang tinggi jika langsung ditanam di lapang tanpa adanya proses aklimatisasi sebagai perantara. Percobaan ini menggunakan bibit anggrek Dendrobium spectabile dan Phalaenopsis sp hasil kultur jaringan yang disimpan di botol. Data pengamatan menunjukkan bahwa persentase tumbuh Phalaenopsis sp hingga 2 MST lebih tinggi daripada persentase tumbuh Dendrobium spectabile. Planlet Phaleonopsis bahkan tumbuh 100 % baik pada 1 MST dan 2 MST. Sementara jumlah planlet hidup Dendrobium spectabile mengalami penurunan (grafik 1). Kematian planlet terjadi karena adanya serangan cendawan, busuk akar, dan lingkungan serta media tanam yang terlalu lembab. Serangan cendawan kemungkinan terjadi karena masih ada sisa agar di planlet yang diaklimatisasi. KESIMPULAN Aklimatisasi merupakan tahapan rawan dan sangat penting dalam kultur jaringan karena pada tahap ini planlet hasil kultur jaringan akan beradaptasi secara morfologi dan fisiologi untuk dapat bertahan hidup di lapang. Praktikum ini memberikan gambaran bahwa melakukan tahapan aklimatisasi dibutuhkan ketelitian dan pengetahuan yang baik agar tingkat persentase tumbuh planlet dapat ditingkatkan. Menurut data, tingkat adaptasi tanaman Dendrobium spectabile terhadap lingkungan di luar botol masih lemah dibanding dengan tingkat adaptasi tanaman Phalaeonopsis sp. Kematian planlet pada umumnya disebabkan oleh serangan cendawan, busuk akar, dan lingkungan yang terlalu lembab.

DAFTAR PUSTAKA Marzuki A. 1999. Pengaruh lama penyimpanan, konsentrasi sukrosa dan cahaya penyimpanan terhadap vigor planlet kentang (Solanum tuberosum L) [skripsi]. Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor. Sinaga NAK. 2001. Pengaruh sukrosa dan lama simpan gelap terhadap vigor bibit krisan (Chrysanthemum sp) [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Torres KC. 1989. Tissue Culture Techniques for Horticultural Crops. London (GB): Chapman and Hall Wetherell DF. 1982. Introduction to In Vitro Propagation. New Jersey (US): Avery Publishing Group Inc.