Anda di halaman 1dari 21

KOMERSIALISASI HASIL RUSNAS: WACANA KEBIJAKAN

1.

PENDAHULUAN

Program Riset Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS) merupakan salah satu instrumen kebijakan dari Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) yang dikembangkan dengan pertimbangan bahwa masih banyaknya sektor produksi strategis yang belum dapat dikembangkan karena penguasaan teknologi yang masih lemah. Di sisi lain, kemajuan teknologi di sektor produksi yang terkait mengalami kemajuan yang cukup pesat. Dengan demikian, jika tidak ada usaha yang sistematis dan berkelanjutan dalam jangka panjang untuk mengimbangi kemajuan teknologi tersebut dan dinamika persaingan, maka sektor produksi tersebut akan semakin tidak memiliki daya saing. Program RUSNAS dirancang untuk memfasilitasi upaya yang komprehensif melalui penyusunan suatu petarencana teknologi/ technology roadmap (khususnya petarencana teknologi produk dan petarencana teknologi proses) dari suatu sektor produksi yang dinilai strategis. Hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan penguasaan dan mendorong pemanfaatannya secara nyata ke dalam kegiatan produksi. Oleh karena itu, Program RUSNAS diarahkan juga untuk memperkuat klaster potensial bagi setiap bidang usaha. Salah satu isu spesifik dalam RUSNAS adalah mendorong pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan (libang) yang saling menguntungkan pemasok dan pengguna teknologi dalam klaster industri tertentu, sehingga agenda komersialisasi harus bersifat saling menguntungkan (mutual benefit). Ini tentu menjadi kunci bukan saja bagi berkembangnya keuntungan bisnis (private return) tetapi juga dampak ekonomi (public return) yang lebih luas terutama dalam bentuk (melalui) eksternalitas, termasuk knowledge spillover. Keduanya tentu penting bagi jastifikasi Program RUSNAS sebagi suatu bentuk intervensi pemerintah. Tulisan ini mendiskusikan suatu tinjauan dari perspektif kebijakan tentang komersialisasi hasil RUSNAS dalam rangka mencapai tujuan program, untuk menggali kemungkinan alternatif intervensi (instrumen kebijakan) pendukung yang perlu dilakukan sebagai bahan masukan bagi pihak Manajemen Program RUSNAS (KRT). Hal ini dinilai penting dalam rangka meningkatkan keberhasilan komersialisasi hasil RUSNAS. Yang dimaksud dengan instrumen kebijakan pendukung di sini adalah perangkat langkah atau tindakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk merealisasikan kebijakan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini yang dimaksud adalah kebijakan untuk mendorong/ meningkatkan komersialisasi hasil dari Program RUSNAS.

127

PENYEDIAAN TEKNOLOGI, KOMERSIALISASI HASIL LITBANG DAN ALIANSI STRATEGIS

2.

TINJAUAN PROGRAM RUSNAS DALAM PERSPEKTIF KEBIJAKAN

Intervensi tertentu dari pemerintah seringkali dipandang perlu manakala kegagalan (terutama alasan kegagalan pasar dan distorsi pemerintah) terjadi dan adanya upaya tertentu dinilai urgen untuk memperbaiki keadaan tersebut. Dalam konteks pengetahuan, teknologi, inovasi atau litbang, beberapa argumen umum yang muncul utamanya adalah market failure, antara lain karena:1 Aktivitas litbang atau pengembangan pengetahuan/teknologi bersifat public goods, walaupun adakalanya tidak sepenuhnya. Sektor swasta yang cenderung under-invest dalam pengetahuan (knowledge). Diskusi tentang ini dalam literatur antara lain menyangkut tekanan pada alternatif solusi misalnya: a. Solusi swasta: Di antara solusi yang dinilai penting dan secara empiris banyak berkembang adalah Internalisasi eksternalitas. Contoh bentuk ini misalnya peningkatan awareness, perlindungan HKI; dan kolaborasi; Intervensi pemerintah: di antara beberapa bentuk umum yang dikenal misalnya subsidi dan insentif finansial lain (misalnya pajak) bagi eksternalitas posiitif;

b.

Persaingan pasar yang umumnya tidak sempurna (imperfect); Sifat increasing returns dari pengetahuan/teknologi; Eksternalitas (misalnya: knowledge spill-over) sehingga intervensi yang tepat diharapkan dapat meningkatkan rate of return dari investasi litbang dan orientasi ekonomi pada perencanaan dan pelaksanaan litbang akan menguat.

Eksternalitas berpotensi mengakibatkan alokasi sumber daya yang dilakukan pasar tidak efisien. Dalam hal ini, maka pemerintah dapat melakukan salah satu dari dua pilihan tindakan yang ada. Pilihan pertama adalah menerapkan kebijakan-kebijakan atau pendekatan komando dan kontrol ( command-and-control policies). Pilihan kedua adalah menerapkan kebijakan-kebijakan berdasarkan pendekatan pasar (market-based policies). Bagi para ekonom, pilihan kedua lebih baik, karena kebijakan berdasarkan pendekatan pasar diharapkan akan mendorong para pembuat keputusan di pasar swasta, untuk secara sukarela memilih mengatasi masalahnya sendiri. Dalam kerangka supply-demand, seringkali dibutuhkan instrumen kebijakan yang ditujukan untuk mempengaruhi salah satu sisi, keduanya dan/atau keterkaitan antar keduanya. Dalam kebijakan inovasi teknologi, ini umumnya diperlukan untuk tujuan seperti berikut: Demand side policy diperlukan untuk menumbuhkan iklim bisnis yang menstimulasi perkembangan kemampuan inovasi. Supply side policy diperlukan untuk memperkuat daya dukung teknologi (technology supply chain).

Isu/argumen tersebut sebenarnya merupakan hal yang saling terkait satu dengan lainnya.

128

KOMERSIALISASI HASIL RUSNAS: WACANA KEBIJAKAN

Linkage policy diperlukan untuk meningkatkan komplementaritas dan mengurangi hambatan transaksi antar industri, baik dalam hubungan vertikal dengan industri penunjang maupun dalam hubungan horisontal dengan industri lain yang terkait, serta membentuk keterkaitan dengan lembaga litbang dan perguruan tinggi.

Upaya meningkatkan aliran inovasi/teknologi dari pengembang kepada pengguna dan interaksi antar pihak merupakan agenda umum semua negara. Dalam tataran nasional, di antara landasan legal bagi hal ini juga tertuang dalam UU No. 18/2002 (SISNAS P3 Iptek), Pasal 16, Ayat (1). Beragam kajian teori dan empiris mengungkapkan bahwa proses inovasi dan difusi teknologi pada umumnya bukan merupakan proses yang terisolasi, melainkan terjadi melalui interaksi sejumlah pelaku yang terlibat dalam proses pertambahan nilai produksi, serta berakar pada kombinasi kemampuan sejumlah badan usaha, lembaga penelitian, perguruan tinggi, serta lembaga-lembaga penunjang secara komplementatif. Dengan menggunakan kerangka analisis Porter (1990) tentang determinan keunggulan daya saing, maka perkembangan kemampuan inovasi dan difusi teknologi (dalam konteks peningkatan keunggulan daya saing) pada dasarnya dipengaruhi oleh sejumlah determinan seperti kondisi faktor (factor conditions), kondisi permintaan (demand conditions), strategi perusahaan dan persaingan antar perusahaan (competitive/rivalry conditions), dan kondisi klaster (cluster conditions). Melalui kebijakan insentif, peraturan perundang-undangan, dan inisiatif kelembagaan, pemerintah diharapkan dapat mengembangkan inisiatif untuk membentuk lingkungan usaha yang inovatif, membentuk komplementaritas dan mereduksi berbagai bentuk hambatan interaksi dan transaksi antara para aktor, serta memperbesar knowledge externalities. Mekanisme perubahan yang dikembangkan oleh pemerintah diarahkan untuk memperkecil berbagai kesenjangan (gaps) yang mempengaruhi kondisi dan interaksi keempat determinan tersebut. Penyikapan atas hal ini dari perspektif KRT secara ringkas dapat dilihat pada KRT (2000). Di antara beberapa instrumen kebijakan dalam mempengaruhi keristekan di Indonesia yang dikeluarkan oleh KRT adalah program -program unggulan seperti RUSNAS. Dalam kaitan ini, tekanan Program RUSNAS utamanya adalah pada pengembangan technoindustrial cluster yang tujuan utamanya adalah meningkatkan komplementaritas dan transaksi antar industri, lembaga litbang dan perguruan tinggi untuk memperkuat pembentukan techno-industrial cluster, dan pada "peningkatan daya dukung iptek" yang bertujuan "memperkuat daya dukung teknologi." Program Riset Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS) dikembangkan dengan pertimbangan sebagai berikut: Banyak sektor produksi yang strategis kurang dapat berkembang karena lemahnya penguasaan berbagai bidang teknologi yang terkait. Di pihak lain bidang-bidang teknologi yang terkait dengan suatu sektor produksi yang strategis juga mengalami kemajuan-kemajuan yang semakin cepat, sehingga tanpa usaha yang ekstensif dan berjangka panjang untuk menguasai kemajuan teknologi-teknologi tersebut perkembangan sektor produksi itu akan semakin tertinggal.

P2KDT DB PKT

129

PENYEDIAAN TEKNOLOGI, KOMERSIALISASI HASIL LITBANG DAN ALIANSI STRATEGIS

Oleh karena itu diperlukan usaha yang secara komprehensif memetakan technology roadmap yang terkait dengan perkembangan suatu sektor produksi yang strategis, menumbuhkan penguasaannya, serta mendorong pemanfaatannya secara nyata ke dalam kegiatan produksi.

Berbeda dengan program riset unggulan lain dan skema insentif (instrumen kebijakan) lain dari KRT, Program RUSNAS dikembangkan dengan 3 elemen penekanan penting, yaitu: sifat strategis bidang yang diprioritaskan, keterkaitan antara rantai penyediaan teknologi (inovasi) dengan rantai nilai produksi, dan perkembangan klaster industri (Gambar 1).

Gambar 1. Program Riset Unggulan KRT. Program RUSNAS dirancang sebagai suatu instrumen kebijakan KRT yang bertujuan untuk: 1. Mengorientasikan kemampuan yang telah terakumulasi di lembaga penelitian dan pengembangan dan perguruan tinggi, untuk mendorong penguasaan sejumlah petarencana teknologi (technology roadmap) yang diperlukan untuk mendukung perkembangan sektor produksi yang strategis. Membangun jaringan kerja sama antara sejumlah industri, lembaga penelitian, dan perguruan tinggi agar dapat secara bersama-sama membentuk kemampuan mengembangkan teknologi produk dan proses produksi yang diperlukan, serta menumbuhkan kapasitas inovasi sejalan dengan kemajuan teknologi (state of the art technologies).

2.

130

KOMERSIALISASI HASIL RUSNAS: WACANA KEBIJAKAN

3.

Mendorong perkembangan klaster industri yang terkait, termasuk penguatan peran serta usaha kecil dan menengah yang berbasis teknologi. Program RUSNAS ditandai dengan karakteristik antara lain seperti berikut:

1. 2.

Bersifat top-down, dalam menentukan area permasalahan. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin nilai kestrategisannya. Mengkaitkan kemampuan penelitian di lembaga litbang dan perguruan tinggi sebagai penyedia ilmu pengetahuan dan solusi teknologi (know-how and technology solution provider) dengan rantai pertambahan nilai di sektor produksi. Besifat jangka panjang dan diupayakan secara sistematis untuk meningkatkan komplementaritas antara kegiatan litbang dan kegiatan produksi, dan mengembangkan saluran transaksi untuk menjamin alih teknologi dari tahapan penelitian ke tahapan komersialisasi, serta menumbuhkan kemampuan inovasi pada kegiatan bisnis.

3.

3.

TINJAUAN UMUM PENCAPAIAN TUJUAN PROGRAM RUSNAS


Keberhasilan Program RUSNAS diukur berdasarkan parameter berikut:

1.

Dihasilkannya teknologi produk dan teknologi proses produksi yang dapat diadopsi oleh pelaku bisnis, dengan sejauh mungkin menggunakan state of the art technologies. Terbentuknya mata rantai dukungan teknologi yang terkait dengan penguasaan dan pengembangan technology roadmap yang relevan dengan perkembangan sektor produksi yang dituju. Terbentuknya techno-industrial cluster, yakni jaringan kemitraan antara lembaga penelitian dan perguruan tinggi dengan klaster (cluster) kegiatan produksi yang dituju.

2.

3.

3.1

Tujuan Pengembangan/Inovasi Teknologi (Produk/Proses)

Salah satu tujuan utama Program RUSNAS adalah menghasilkan inovasi teknologi produk dan teknologi proses produksi yang dapat diadopsi oleh pelaku bisnis, dengan sejauh mungkin menggunakan state of the art technologies. Beberapa tinjauan atas capaian kinerja tentang tujuan pertama Program RUSNAS sejauh ini antara lain adalah:

P2KDT DB PKT

131

PENYEDIAAN TEKNOLOGI, KOMERSIALISASI HASIL LITBANG DAN ALIANSI STRATEGIS

1. 2. 3. 4.

Sebagian telah menghasilkan, sebagian dalam proses pengembangan. Beberapa program/sub-program (aktivitas) menghasilkan kesiapan teknologi yang memiliki potensi komersial. Beberapa dalam proses diadopsi oleh pelaku bisnis. Potensi unique advantage: Beberapa mengindikasikan potensi keunggulan teknis pada tingkat konsep, beberapa pada tingkat prototipe lab.

Sebagian besar upaya (efforts) dalam Program RUSNAS nampaknya diarahkan pada tujuan ini. Walaupun begitu, dari segi komersialisasi sejauh ini, yang nampaknya masih menjadi isu umum adalah tentang tingkat kematangannya. Bila menggunakan keran gka pengukuran tingkat kesiapan teknologi/TKT (technology readiness level/TRL) dari NASA, nampaknya sebagian besar Program RUSNAS (kecuali beberapa sub-kegiatan) belum menghasilkan inovasi teknologi di atas level 6, yang menunjukkan tingkat kelayakan enjineering (engineering feasibility).

3.2

Tujuan Pembentukan Mata Rantai Dukungan Teknologi

Tujuan kedua Program RUSNAS adalah pembentukan mata rantai dukungan teknologi, terkait dengan penguasaan dan pengembangan technology roadmap yang relevan dengan perkembangan sektor produksi yang dituju. Berikut adalah rangkuman atas beberapa temuan penting yang bersifat umum berkaitan dengan pemetarencanaan teknologi dari keenam program RUSNAS: 1. Technology roadmap ditentukan (diasumsikan) oleh lembaga litbang/perguruan tinggi. Sebagian besar petarencana yang disusun pada dasarnya merupakan petarencana organisasi individual, dalam hal ini lembaga pengelola program. Karena itu, nampaknya petarencana teknologi yang dihasilkan lebih sebagai alat komunikasi internal o rganisasi pengelola (dan kepada KRT) dan belum merupakan (digunakan sebagai) alat untuk menggali dan mempersiapkan komersialisasi hasilnya. Nilai kestrategisan agenda aktivitas litbang (dan hasil yang direncanakan) dalam setiap program lebih berdasarkan asumsi pengembang teknologi. Pelibatan dan/atau interaksi dengan industri yang relevan umumnya sangat terbatas. Pihak lembaga pengelola umumnya sebagai pelaku tunggal dari mata rantai dukungan teknologi. Terdapat perbedaan tingkat detail petarencana antar program. Sebagian pengelola program membuat petarencana teknologi yang cukup spesifik dan detail, sementara sebagian lainnya membuat dalam bentuk yang masih umum/generik. Inklusi/integrasi program/aktivitas terkait lain (di luar Program RUSNAS) umumnya tidak dilakukan secara eksplisit. Terdapat beberapa program/kegiatan yang pada saat bersamaan dilaksanakan oleh pengelola program, yang sebenarnya berpotensi saling komplementatif dengan kegiatan dalam program RUSNAS terkait, namun karena bukan/tidak termasuk Program RUSNAS, maka tidak (belum) digabungkan/diintegrasikan dalam petarencana teknologi.

2.

3. 4.

5.

132

KOMERSIALISASI HASIL RUSNAS: WACANA KEBIJAKAN

6.

Penciptaan bisnis baru atau perusahaan pemula berbasis teknologi sebenarnya merupakan hal positif dari Program RUSNAS dan merupakan keluaran yang sah dari upaya inovasi, sehingga merupakan salah satu indikator keberhasilan yang penting. Namun nampaknya masih ada kesan kekhawatiran dinilai kurang patut jika hal ini secara eksplisit terpublikasikan. Sejauh ini secara umum belum nampak agenda peninjauan (review) dan pemutakhiran petarencana teknologi secara terencana (deliberately) oleh pengelola program. Jika dilihat dari keterlibatan stakeholder kunci, terutama calon klien potensial dan knowledge pool lain, daya jangkau Program RUSNAS sejauh ini masih relatif terbatas, kecuali untuk beberapa program yang telah dan sedang memperluas jejaring kolaborasi.

7.

8.

3.3

Tujuan Pembentukan Techno-industrial Cluster

Tujuan utama Program RUSNAS berikutnya adalah pembentukan techno-industrial cluster, yakni jaringan kemitraan antara lembaga penelitian dan perguruan tinggi dengan klaster (cluster) kegiatan produksi yang dituju. Beberapa tinjauan atas capaian kinerja sejauh ini antara lain adalah: 1. Pengembangan/penguatan klaster industri tidak/belum menjadi bagian dari agenda prioritas pelaksanaan program. Klaster industri seakan diasumsikan akan terbentuk dengan sendirinya (alami), yang sebenarnya bertentangan dengan kenyataan atau keyakinan bahwa justru karena hal yang alamiah atau mekanisme pasar tidak bekerjalah maka diperlukan intervensi (antara lain yaitu melalui Program RUSNAS). Sebagian besar pelaksanaan program berada pada tahap pemetaan (mapping) klaster industri secara umum (peta klaster potensial). Sebagian kecil mengindikasikan telah memiliki peta spesifik. Pelibatan/interaksi stakeholder kunci yang minimal dinilai merupakan salah satu faktor penting yang turut mempengaruhi kelemahan upaya peningkatan keterkaitan dengan, dan pengembangan/penguatan klaster industri yang dituju. Interaksi pihak lembaga pengelola program dengan pelaku industri yang berpotensi menjadi adopter dan/atau investor umumnya terbatas. Ini nampaknya mempengaruhi kesiapan komersialisasi baik dari pihak pengembang teknologi maupun kesiapan pasar (market readiness) dari calon pengguna dalam mengadopsi teknologi (inovasi) yang dikembangkan. Pada umumnya upaya/aktivitas dalam program tersita untuk bidang teknis teknologi, sementara upaya yang berhubungan dengan aspek komersial relatif (seperti misalnya pengkajian pasar secara dini) masih sangat terbatas. Pendekatan aktivitas secara sekuensial demikian nampaknya merupakan fenomena umum dalam pelaksanaan program.

2.

3.

4.

5.

P2KDT DB PKT

133

PENYEDIAAN TEKNOLOGI, KOMERSIALISASI HASIL LITBANG DAN ALIANSI STRATEGIS

4.

ISU KEBIJAKAN

Salah satu tujuan Program RUSNAS yang dirancang sebagai suatu instrumen kebijakan KRT adalah membangun jaringan kerja sama antara sejumlah industri, lembaga penelitian, dan perguruan tinggi agar dapat secara bersama-sama membentuk kemampuan mengembangkan teknologi produk dan proses produksi yang diperlukan, serta menumbuhkan kapasitas inovasi sejalan dengan kemajuan teknologi (state of the art technologies). Tujuan lain adalah mendorong perkembangan klaster industri yang terkait, termasuk penguatan peran serta usaha kecil menengah yang berbasis teknologi; dan mengorientasikan kemampuan yang telah terakumulasi di lembaga penelitian dan perguruan tinggi, untuk mendorong penguasaan sejumlah technology roadmap yang diperlukan untuk mendukung perkembangan sektor produksi yang strategis. Oleh karena itu, RUSNAS bertujuan membentuk rantai dukungan teknologi (technology supply chain) bagi perkembangan klaster produksi yang strategis (terbatas) dan mensyaratkan keterlibatan badan usaha/industri. Skema insentif ini adalah untuk mengatasi tantangan pada tahap komersial, namun memungkinkan pelaksanaan riset dan pengembangan jangka panjang yang relevan dengan pembentukan keunggulan klaster produksi yang dituju. Dengan demikian program ini bersifat jangka panjang dan harus dapat dirasakan sebagai upaya yang sistematis untuk meningkatkan komplementaritas antara kegiatan litbang dan kegiatan produksi, mengembangkan saluran transaksi untuk menjamin alih teknologi dari tahapan penelitian ke tahapan komersialisasi, serta menumbuhkan kemampuan inovasi pada kegiatan bisnis. Dalam pelaksanaannya sejauh ini, Program RUSNAS dinilai belum memberikan kinerja komersial yang diharapkan (sebagaimana ukuran keberhasilan yang ditetapkan). Walaupun program ini relatif baru berjalan, namun indikasi persoalan komersialisasi hasil, sebagaimana umumnya dihadapi oleh (terjadi pada) program/keg iatan litbangyasa dipandang perlu segera diatasi/diantisipasi untuk mewujudkan keberhasilan program. Isu kebijakan dalam hal ini dipandang muncul jika pencapaian tujuan program tidak/belum terwujud karena faktor/kondisi/persoalan yang apabila dibiarkan/ diserahkan kepada proses/mekanisme alamiah dinilai tidak akan (sangat sulit) terpecahkan dengan sendirinya. Berdasarkan tinjauan atas pelaksanaan komersialisasi, praktik pengembangan klaster (cluster initiative) dan pemetarencanaan teknologi dalam Program RUSNAS sejauh ini sebagaimana disampaikan sebelumnya, maka teridentifikasi tiga kelompok isu yang dipandang membutuhkan pemecahan. Ketiga isu tersebut adalah seperti ditunjukkan pada Tabel 1.

4.1

Persoalan Implementasi Substansi Konsep Desain Program

Persoalan umum pertama menyangkut konsep desain program sebagai suatu upaya intervensi pemerintah dengan 3 elemen substansi kunci (inovasi yang diadopsi, pengembangan rantai dukungan teknologi melalui pemetarencanaan, dan penguatan klaster industri relevan).

134

KOMERSIALISASI HASIL RUSNAS: WACANA KEBIJAKAN

Inti kegiatan dari Program RUSNAS adalah penelitian dan pengembangan (litbang) teknologi yang diarahkan untuk menumbuhkembangkan klaster industri. Ini artinya bahwa kegiatan Program RUSNAS sangat terkait dengan technology supply chain (mata rantai dukungan teknologi) pada kegiatan produksi yang spesifik. Dalam rangka pelaksanaan Program RUSNAS, secara umum institusi yang terlibat menurut bidang pekerjaannya dapat dibedakan menjadi: 1. 2. 3. Manajemen/pengelola yaitu: Kementerian Riset dan Teknologi Pelaksanaan teknis yaitu: Lembaga Pengelola (lembaga litbang atau perguruan tinggi) dan sektor industri terkait. Institusi Pendukung yaitu: Komisi VIII DPR, Biro Iptek BAPPENAS, Dit. Jen. Anggaran DEPKEU, DEPPERINDAG, Meneg KOP-UKM, DEPKEH & HAM, dan para Pengusaha (swasta) yang terkait.

Tim Evaluasi (DRN)

Tim Pengendali

Tim Pengarah Kegiatan

Gugus Tugas RUSNAS

Lembaga Lembaga Pengelola Pengelola

Proyek RUSNAS

Gambar 2. Pengelolaan Program RUSNAS.

P2KDT DB PKT

135

PENYEDIAAN TEKNOLOGI, KOMERSIALISASI HASIL LITBANG DAN ALIANSI STRATEGIS

Tabel 1. Desain Program RUSNAS. ASPEK / SEGI Pemilihan Topik Pembiayaan KETERANGAN Ditentukan oleh KRT Pada tahap litbang didanai oleh KRT, untuk kemudian didukung oleh pendanaan oleh pihak industri pada tahap follow-up. Dilaksanakan oleh suatu konsorsium antara lembaga penelitian, perguruan tinggi dan industri Harus dilandaskan pada roadmap produk, teknologi dan kompetensi saintifik yang jelas Koordinasi dilakukan oleh lembaga pengelola yang ditunjuk oleh KRT Oleh DRN (Dewan Riset Nasional)

Pelaksanaan

Evaluasi Sumber: KRT (2001).

Dalam implementasi pada umumnya, lembaga pengelola sangat mendominasi seluruh aktivitas dalam program. Hampir dalam seluruh (enam) Program RUSNAS, ketiga elemen substansi kunci dilaksanakan (bukan dikoordinasikan) oleh lembaga pengelola. Upaya pelibatan stakeholders kunci lain sejak perencanaan aktivitas secara umum sangat minimum. Ketentuan pelibatan stakeholders kunci dalam setiap program sejak perencanaan agenda aktivitas merupakan titik lemah dalam segi ini. Berkaitan dengan ini, agenda komersialisasi hasil RUSNAS (kalaupun ada/direncanakan) juga menjadi agenda yang harus dilaksanakan sepenuhnya oleh pihak lembaga pengelola. Karena itu, agar sejalan dengan ketiga tujuan utama program yang hendak dicapai, maka pola perencanaan, pengelolaan dan pelaksanaannya memerlukan ketegasan bahwa Program RUSNAS adalah upaya (dan proses) kolaboratif merupakan kunci dari isu ini.

4.2

Persoalan Teknis/Manajemen Program

Isu kedua yang teridentifikasi menyangkut teknis/manajemen program yang dapat membantu memperjelas implementasi program, khususnya komersialisasi hasil, yaitu: Tidak/belum adanya sistem yang eksplisit tentang keberhasilan yang terukur; Tidak/belum adanya aturan/panduan bagaimana komersialisasi dalam Program RUSNAS idealnya dilaksanakan.

Beberapa outcome yang diharapkan dari program RUSNAS adalah sebagai berikut (KRT, 2001): Kemampuan menghasilkan produk sendiri yang kompetitif; Peningkatan alih teknologi antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan industri;

136

KOMERSIALISASI HASIL RUSNAS: WACANA KEBIJAKAN

Investasi industri untuk menindaklanjuti inisiatif RUSNAS; Mekanisme pasar yang mendorong perkembangan technology supply-demand chain.

Walaupun begitu, nampak hampir tidak ada logical framework yang secara tegas disampaikan dalam dokumen para pengelola yang menunjukkan bagaimana dan/atau kapan hal tersebut dicapai dan bagaimana komersialisasi merupakan bagian integral sangat penting dalam logical framework tersebut.

4.3

Persoalan Generik Kebijakan/Institusional dalam Program

Yang dimaksud dengan persoalan generik kebijakan/institusional dalam hal ini adalah menyangkut kesenjangan komersialisasi hasil litbang yang merupakan fenomena umum pelaksanaan program. Kelemahan umum yang menonjol menyangkut iklim dan proses (termasuk misalnya interaksi, proses perencanaan, pengelolaan, pelaksanaan hingga infrastruktur dan sarana, dalam setiap program RUSNAS) yang memungkinkan para stakeholders kunci berinteraksi dan memperbesar potensi terjadinya komersialisasi hasil RUSNAS. Perkembangan implementasi aktivitas dalam Program RUSNAS sejauh ini (sebagai bentuk penjabaran instrumen kebijakan) belum mampu menstimulasi proses komersialisasi hasil RUSNAS secara signifikan.

5.
5.1

REKOMENDASI
Isu Implementasi Substansi Konsep Desain Program
Terkait dengan isu ini, direkomendasikan bahwa para pihak pengelola program:

1.

Mengadopsi pendekatan kolaboratif dan simultan ketiga elemen subtansi program RUSNAS (inovasi teknologi yang diadopsi, pengembangan rantai dukungan teknologi melalui pemetarencanaan, dan penguatan klaster industri relevan) untuk keberhasilan komersialisasi. Mengembangkan petarencana teknologi (technology roadmap) kolaboratif (terutama bersama industri yang terkait dengan bidang/topik RUSNAS yang relevan). Melakukan pemutakhiran (updating) petarencana teknologi (technology roadmap) secara reguler (tahunan). Mengembangkan rencana komersialisasi (termasuk model bisnis hasil RUSNAS dan penyusunan business prospecting dan business plan) dalam setiap program. Melaksanakan agenda pengembangan/penguatan klaster industri relevan (cluster initiatives) sebagai bagian integral dari setiap program.

2. 3. 4. 5.

P2KDT DB PKT

137

PENYEDIAAN TEKNOLOGI, KOMERSIALISASI HASIL LITBANG DAN ALIANSI STRATEGIS

Sehubungan dengan itu, pihak Manajemen Program RUSNAS (KRT) sebaiknya menetapkan butir 25 di atas sebagai bagian integral dari setiap program dan harus dilaksanakan oleh pengelola program.

5.2

Isu Teknis/Manajemen Program

Untuk mengatasi hal ini, direkomendasikan kepada Manajemen Program RUSNAS melalui Gugus Tugas RUSNAS untuk menyusun: 1. Metric system (sistem pengukuran), khususnya menyangkut deliverables Program RUSNAS yang diakui sebagai indikator keberhasilan secara eksplisit (terutama yang terkait dengan indikator keberhasilan komersialisasi, lihat contoh ilustratif Gambar 3 dan 4).2 Tentunya evaluasi keselarasan Program RUSNAS (menyangkut tujuan, karakteristik permasalahan, outcome yang diharapkan, pola kebijakan, desain program dan evaluasi kemajuan dan keberhasilan) sebagai instrumen kebijakan secara umum, sebagaimana telah diungkapkan dalam KRT (2001), perlu terus dilakukan secara reguler. Panduan Komersialisasi Hasil RUSNAS.

2.

EVALUASI

Masukan

Keluaran

Outcomes

Dampak

Pembiayaan Kompetensi stakeholders kunci Keterlibatan/ kontribusi industri (konsensus agenda dan mekanisme kolaborasi)

Institusi kolaborasi/ kemitraan litbang Teknologi inovatif Akumulasi keahlian Perbaikan fasilitas

HKI Penguasaan teknologi Investasi industri Akselerasi adopsi Aktivitas komersial

Produktivitas klaster relevan (Daya saing klaster) Kapasitas inovatif Manfaat ekonomi luas

FEEDBACK

Gambar 3. Ilustrasi Penetapan Sistem Pengukuran.


2

Elemen penciptaan dan diseminasi pengetahuan/teknologi/inovasi serta kemajuan komersialisasi dan difusi merupakan bagian dari sistem komposit pengukuran keberhasilan yang dapat dikembangkan bagi setiap program RUSNAS.

138

KOMERSIALISASI HASIL RUSNAS: WACANA KEBIJAKAN

Jangka Pendek

Jangka Menengah

Jangka Panjang

DAMPAK EKONOMI

Kolaborasi litbang Akselerasi litbang & komersialisasi hasil Pengembangan teknologi inovatif
Paten Publikasi Keunggulan daya

Aktivitas komersial:
Produk baru Proses baru Lisensi

Dampak ekonomi luas:

Return on investment

Public Private Social

Attraction of capital Aliansi strategis Company growth

saing

Inter-industry diffusion Bisnis baru Peluang kerja baru Peningkatan PDB & hasil pajak Dampak sosial

Manfaat ekonomi keseluruhan

Prototipe produk &

proses

Manfaat bagi pihak yang terlibat


-1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Kompetisi Proposal

Awal program

Penyelesaian Program/ Sub-program (Aktivitas) Post-Project Period

Tahun

Gambar 4. Ilustrasi Pengukuran Keberhasilan Program.

5.3 A.

Isu Generik Kebijakan (Institusional) Komersialisasi Jangka Pendek Menengah

Upaya menstimulasi komersialisasi hasil RUSNAS dalam jangka pendek menengah dapat dilakukan melalui: 1. Skema pembiayaan yang dialokasikan dari setiap anggaran pelaksanaan masingmasing program (atau mengupayakan dari sumber pihak ketiga/mitra/donor/ investor dan/atau skema insentif KRT lainnya atau instansi lainnya, termasuk Pemda). Skema pembiayaan, dengan alokasi tambahan yang disediakan oleh KRT untuk setiap program (ProDuK RUSNAS - Program Dukungan Komersialisasi RUSNAS). Penyesuaian skema komersial (model bisnis). Sebagai contoh misalnya mulai dengan pola deal driven dengan 13 pengguna (adopters) dan kombinasi produk dalam penyampaiannya.

2. 3.

P2KDT DB PKT

139

PENYEDIAAN TEKNOLOGI, KOMERSIALISASI HASIL LITBANG DAN ALIANSI STRATEGIS

4.

Untuk mendorong tarikan demand, dapat dikembangkan beberapa alternatif intervensi yang perlu ditelaah lebih lanjut. Beberapa contoh alternatif (termasuk kombinasinya) adalah: Pengadaan pemerintah (dan ketentuan teknis tertentu). Sebagai contohnya, terkait dengan biodisel adalah ketentuan ambang batas emisi untuk kendaraan-kendaraan dinas lembaga pemerintah (tertentu, seperti pemerintah daerah atau instansi sektoral, atau secara luas/nasional). Model voucher: dukungan pembiayaan sementara kepada pengguna (segmen tertentu dan atas pertimbangan tertentu) untuk membeli produk/hasil RUSNAS. Sebagai contoh adalah voucher untuk pembelian bibit buah unggul kepada petani (kelompok tani) di sentra-sentra produksi tertentu.

5.

Penyesuaian program RUSNAS sebagai skema intervensi one-side policy (dalam hal ini dari sisi supply) menjadi skema intervensi komprehensif. Ini juga diharapkan dapat mengubah perspektif agar Program RUSNAS dapat menjadi skema yang memungkinkan kerangka integrasi bagi skema-skema insentif KRT lainnya secara eksplisit. Penyediaan infrastruktur dan/atau bantuan teknis. Beberapa bidang intervensi yang dinilai penting antara lain adalah:

6.

1. 2.

Pembentukan/penguatan institusi kolaborasi bagi klaster industri yang relevan pada masing-masing topik Program RUSNAS. Pengembangan/penyediaan media komersialisasi (misalnya infrastruktur komersialisasi/outreach, techno-business showcase, publikasi, press release, dan sebagainya). Pengembangan skema komersial/model bisnis. Aspek legal seperti birokrasi dan aturan/kebijakan intern organisasi yang terkait dan pemerintah (PNBP/BHMN) sejauh ini banyak dinilai turut menghambat komersialisasi hasil litbang. Pengembangan skema komersial (model bisnis) tertentu dapat menjadi suatu alternatif. Sebagai contoh, pola deal driven dengan value-added fee contract untuk jasa layanan teknologi dapat dikaji untuk mengatasi persoalan hambatan aliran pendanaan dalam aturan skema pembiayaan litbang di lembaga pemerintah/perguruan tinggi. Bidang-bidang penting penyiapan teknologi (inovasi), sisi demand (misalnya diseminasi informasi dan edukasi kepada calon pengguna dan butir 4 pada bagian 5.1 di atas), dan keterkaitan, yang berhubungan dengan komersialisasi dan bersifat spesifik program. Pengembangan/penyediaan bantuan teknis (technical assistance) komersialisasi (misalnya untuk penyusunan business prospecting dan business plan, capacity building dalam bidang komersialisasi teknologi/litbang). Pola outsourcing bagi upaya komersialisasi merupakan salah satu alternatif yang perlu digali pada masing-masing program.

3.

4.

5.

140

KOMERSIALISASI HASIL RUSNAS: WACANA KEBIJAKAN

Pengembangan/penyediaan bantuan teknis (technical assistance) komersialisasi (dan/atau infrastruktur komersialisasi) dinilai perlu selain berdasarkan hasil tinjauan seperti yang telah disampaikan sebelumnya juga mengingat beberapa hal berikut: Inventor/entrepeneur naivet. Penemu/peneliti umumnya tidak/kurang obyektif jika melihat peluang pasar bagi (yang terkait dengan) produk yang dikembangkannya. Hal ini tidak berarti bahwa engineer tidak mungkin menjadi entrepreneur. Sebagai contoh, lebih dari 90% bisnis di Silicon Valley dikembangkan oleh engineer, bukan para pelaku bisnis (contohnya misalnya: Hewlett-Packard, Sun Microsystems, Apple Computer). Kemampuan melihat emerging technology yang berpotensi bisnis merupakan nilai plus (dibanding pelaku bisnis yang ada. Contoh: Andy Bectolsheim dari Sun Microsystems yang mengembangkan workstation dan pizza box). Tidak ada (lemahnya) kesejalanan strategi antara pihak yang berpotensi terlibat (pengembang, pengguna teknologi, investor, entrepreneur, organisasi yang menaunginya, dan lain-lain). Hasil RUSNAS yang umumnya belum siap untuk investasi. Hasil RUSNAS yang umumnya belum terlindungi HKI-nya, dan belum dapat menjadi aset intelektual komersial. Walaupun dalam dokumen rencana induk terdapat exit strategy program, hal ini belum sepenuhnya menunjukkan bagaimana mekanisme exit komersialisasi yang akan ditempuh oleh lembaga pengelola. Konsumen biasanya tidak membeli sesuatu yang tidak/belum pernah didengarnya (terutama untuk industrial products, yang biasanya sangat didasarkan atas pertimbangan rasional). Pemasaran/upaya komersialisasi merupakan suatu investasi jangka panjang. Komersialisasi membutuhkan pengetahuan dan keterampilan tersendiri, sama halnya dengan engineering, finance, dan sebagainya. Karenanya upaya ini membutuhkan SDM/tim yang memang memiliki kapabilitas memadai di bidang ini. Apabila tidak mungkin (terlampau mahal) untuk dilakukan sendiri oleh organisasi, maka strategi sumber luar (outsourcing) atau kolaborasi dengan pihak yang kompeten perlu dipertimbangkan sebagai alternatif. Para calon pengguna dan/atau investor tentu akan mempertimbangkan keterlibatannya berdasarkan kepentingan mereka masing-masing. Untuk itu biasanya perlu ada pihak yang mampu mengembangkan interaksi dan pola hubungan dari perspektif yang saling menguntungkan banyak pihak (mutually beneficial perspective). Lemahnya keterkaitan antara pasar, teknologi, dan strategi. Aspek legal: birokrasi dan aturan/kebijakan (pemerintah dan organisasi yang terkait) yang menghambat komersialisasi hasil litbang. Kelemahan saluran distribusi jaringan.

P2KDT DB PKT

141

PENYEDIAAN TEKNOLOGI, KOMERSIALISASI HASIL LITBANG DAN ALIANSI STRATEGIS

B.

Jangka Menengah Panjang

Untuk jangka menengah - panjang, penggalian beberapa alternatif intervensi perlu dijajaki. Beberapa bidang skema intervensi yang dinilai penting antara lain adalah: 1. Beberapa hasil RUSNAS berpotensi untuk penggunaan di sektor pemerintah atau yang berkaitan dengan sektor pemerintah (contoh misalnya biodiesel). Dalam hal ini, pengadaan pemerintah (government procurement) dapat merupakan salah satu alternatif instrumen yang perlu dikaji. Dalam kasus biodiesel misalnya, pengadaan pemerintah (pemenuhan kebutuhan bagi pelaksanaan operasional tugas dan fungsi tertentu pemerintahan) yang berkaitan pemanfaatan sumber daya energi bahan bakar solar merupakan sasaran potensial. Penetapan standar emisi tertentu (untuk perlindungan lingkungan) merupakan suatu instrumen yang dapat membuka peluang pasar awal yang positif bagi pemanfaatan biodiesel di lingkungan lembaga pemerintah (Pusat dan Daerah). Insentif finansial bagi industri yang memanfaatkan hasil RUSNAS (untuk mengatasi persoalan risiko dan pembiayaan adopsi dan asimilasi dalam bisnis; promosi pemanfaatan hasil RUSNAS, misalnya dalam bentuk iklan generik). Selain bentuk subsidi, deduksi pajak tertentu (kepada industri yang mengadopsi hasil litbang, termasuk RUSNAS) merupakan alternatif bagi insentif finansial. Skema waiver & election bagi program/sub-program tertentu dapat menjadi instrumen untuk memperluas adopsi hasil RUSNAS. Perbaikan organisasional pada lembaga pengelola agar lebih dapat mengembangkan skema komersialisasi hasil litbangnya, termasuk RUSNAS. Aspek legal seperti birokrasi dan aturan/kebijakan (dari organisasi yang terkait) sering menjadi penghambat komersialisasi hasil litbang.

2.

3. 4.

Suatu kerangka cara pandang integratif atas Program RUSNAS sebagai suatu instrumen kebijakan penulis ajukan untuk meningkatkan potensi keberhasilan komersialisasi hasilnya. Dalam cara pandang ini pada dasarnya setiap agenda, pengelolaan (termasuk peran), dan mekanisme sejak perencanaan hingga implementasi kegiatan/elemen kegiatan dirancang sebagai proses kolaboratif dan merupakan konsensus yang berorientasi pada penciptaan nilai bagi beragam stakeholders kunci dalam setiap program RUSNAS (value-led approach). Gagasan awal ini, yang tentunya perlu dikaji lebih lanjut, secara skematik seperti ditunjukkan pada Gambar 5 9 berikut.

142

KOMERSIALISASI HASIL RUSNAS: WACANA KEBIJAKAN

Gambar 5. Program RUSNAS Dalam Perspektif Komersialisasi: Value-led Approach.

Gambar 6. Kerangka Prakarsa Program RUSNAS.

P2KDT DB PKT

143

PENYEDIAAN TEKNOLOGI, KOMERSIALISASI HASIL LITBANG DAN ALIANSI STRATEGIS

Gambar 7. Perspektif Sisi Penawaran.

Gambar 8. Perspektif Sisi Permintaan.

144

KOMERSIALISASI HASIL RUSNAS: WACANA KEBIJAKAN

Gambar 9. Perspektif Komersial.

6.

PENUTUP

Penemuan-penemuan baru sangat penting bagi perkembangan iptek. Namun hal itu tidaklah cukup. Kemanfaatan dan dampaknya bagi perkembangan industri dan kehidupan manusia membutuhkan keberhasilan komersialisasi beragam penemuan tersebut. Beberapa kenyataan berikut hanyalah sekedar contoh: Amerika Serikat (AS) tidak menemukan mesin jet, namun memiliki Boeing; AS tidak menemukan rangkaian DNA, tetapi menjadi fokus dunia bagi bioteknologi; AS juga tidak menemukan antibiotik, namun mengendalikan industri kesehatan dunia; AS tidaklah menemukan komputer, tetapi menjadi pusat teknologi komputer dan software.

P2KDT DB PKT

145

PENYEDIAAN TEKNOLOGI, KOMERSIALISASI HASIL LITBANG DAN ALIANSI STRATEGIS

Keberhasilan komersialisasi Program RUSNAS menjadi kunci yang tidak dapat diabaikan oleh para pengelola program. Strategi yang berorientasi pasar hakikatnya didorong oleh kombinasi atas kebutuhan teknis (technical needs), yang terkait dengan apa yang diketahui oleh penyedia teknologi/pengetahuan, dan kebutuhan pasar (market needs), yang terkait dengan apa yang dikehendaki oleh pasar (pengguna teknologi/ pengetahuan). Di antara beberapa hal yang perlu ditelaah lebih lanjut misalnya: 1. 2. Potensi pasar. Potensi pasar yang terlampau kecil tidak akan memberikan dampak yang signifikan. Instrumen yang bersifat tidak langsung lebih sesuai untuk mempercepat tahapan perluasan komersialisasi.

Beberapa isu kunci yang perlu diprioritaskan dalam perbaikan Program RUSNAS adalah: 1. Keterlibatan/interaksi dengan stakeholders kunci klaster industri relevan (khususnya calon adopter potensial) terbatas: Pemahaman pengembang teknologi tentang pasar minimum (minimum size of the market). Pemahaman industri tentang potensi bisnis dari teknologi/inovasi yang dikembangkan minimum. Pemahaman, ownership, dan keterlibatan (terutama resource & benefit sharing) para stakeholders kunci tentang Program RUSNAS terbatas.

2.

Agenda aktivitas yang dikembangkan umumnya kurang memperhatikan dukungan bagi persiapan komersialisasi teknologi Prakarsa klaster belum menjadi prioritas: Keseimbangan agenda: petarencana terlampau sepihak ~ technology-push, pendekatan sekuensial-linier. Klaster industri belum sepenuhnya menjadi common platform. Institusi kolaborasi yang kurang berkembang.

3.

Keseluruhan alternatif instrumen kebijakan yang dibahas di sini perlu diarahkan terutama pada pemecahan hal tersebut dan perlu dikaji lebih dalam. Sebagai penutup, para pihak yang terlibat perlu bersama mengupayakan beberapa hal antara lain: 1. 2. Meningkatkan interaksi dengan pelaku industri relevan. Mempercepat upaya untuk menghasilkan kisah sukses (success story), memperluas praktik baik, alat (tools) dan metode untuk melakukan komersialisasi hasil RUSNAS ke seluruh daerah yang relevan.

146

KOMERSIALISASI HASIL RUSNAS: WACANA KEBIJAKAN

3. 4. 5. 6. 7.

Menggali skema-skema kebijakan insentif di lembaga pemerintah lain dan di tingkat daerah untuk mendorong percepatan komersialisasi. Menggali upaya-upaya untuk lebih memperkuat kolaborasi institusional antara stakeholder kunci klaster industri pada masing-masing program. Mendorong pihak-pihak yang berkompeten di masing-masing klaster industri untuk melaksanakan/memfasilitasi/mempercepat upaya komersialisasi hasil RUSNAS. Mengembangkan dukungan untuk pengembangan entrepreneurship. mendorong keterkaitan dengan elemen

Mengatasi hambatan legal komersialisasi teknologi dari PT/litbang ke swasta, termasuk pengembangan perusahaan baru.

P2KDT DB PKT

147