Anda di halaman 1dari 5

AKTIVA SUMBER ALAM DAN DEPLESI

Aktiva sumber alam (wasting asset) adalah aktiva yang memiliki karakteristik, (1) habis digunakan melalui penambangan, (2) tidak dapat diganti (kecuali kayu), (3) penggantian sumber alam berlangsung secara alamiah. Pada umumnya aktiva sumber alam berada di atas /dalam tanah, di dasar laut. Contoh aktiva sumber alam adalah minyak, batubara, biji besi, logam mulia dan kayu.

Klasifikasi Aktiva Sumber Alam Berdasarkan cara perolehannya, aktiva sumber alam dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu : 1. Sumber alam yang diperoleh dari kegiatan ekstratif 2. Melalui pengorbanan dalam tanah 3. Melalui pemungutan hasil tanaman liar yang tumbuh dari proses alam.

Akuntansi Aktiva Sumber Alam Masalah akuntansi aktiva sumber alam pada hakekatnya serupa dengan aktiva tetap. Masalah akuntansi yang utama adalah (1) penentuan dasar deplesi (depletion base) dan (2) penghapusan kos aktiva sumber alam. I. Penentuan Dasar Deplesi (Depletion Base) Kos aktiva sumber alam dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu : (1) kos perolehan (acquisition cost), (2) kos eksplorasi (exploration cost), dan (3) kos pengembangan (development cost). Kos perolehan adalah harga yang dibayarkan untuk memperoleh hak melakukan penyelidikan untuk mencari dan menemukan lokasi aktiva sumber alam, atau memanfaatkan aktiva sumber alam yang sudah ada. Ada beberapa perlakuan terhadap kos perolehan aktiva sumber alam, yaitu : 1. Dibebankan sebagai biaya periodik

2. Dikapitalisasi sebagai bagian harga perolehan aktiva sumber alam 3. Sebagian dibebankan sebagai harga perolehan dan sebagian dibebankan sebagai biaya periodik. Kos eksplorasi adalah pengorbanan sumber ekonomik untuk mendapat dan mengolah aktiva sumber alam. Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk memperlakukan kos eksplorasi, yaitu : (a) Pendekatan temuan (successful efforts approach) , dan (b) pendekatan total kos( full-cost approach). a. Pendekatan Temuan (successful efforts approach) Berdasarkan pendekatan ini, hanya biaya-biaya eksplorasi yang langsung terjadi dan dapat menghasilkan aktiva sumber alam produktif yang dikapitalisasi sebagai kos aktiva sumber alam. Pendakatan ini didukung argumentasi : (a) usaha dan prestasi yang dihasilkan harus dapat dipertemukan secara layak, (b) Aktiva sumber alam yang melampui nilai mineral yang sesungguhnya terkandung dapat dihindarkan,(c) Pendekatan ini menggambarkan prinsip kos historis dari masing-masing pusat kos. b. Pendekatan total kos( full-cost approach) Berdasarkan pendekatan ini pusat kos (cost center) adalah perusahaan secara keseluruhan. Oleh karena itu semua pengorbanan sumber ekonomik untuk menemukan aktiva sumber alam baik yang berhasil, maupun yang tidak berhasil harus dikapitalisasi sebagai kos perolehan aktiva sumber alam yang berhasil. Dalam pendekatan ini, kos eksplorasi yang tidak menghasilkan aktiva sumber alam yang produktif dianggap sebagai bagian harga perolehan aktiva sumber alam lain yang ditemukan. Pendekatan ini didasarkan pada argumentasi sebagai berikut : (1) Biaya eksplorasi dan pengembangan tidak dapat dihindarkan, (2) Keberhasilan perusahaan diukur dari kemampuannya untuk menemukan dan mengembangkan sumber alam, (3) Harga perolehan sumber alam didasarkan pada keseluruhan sumber alam yang menghasilkan.

Kos Pengembangan meliputi (a) kos peralatan berwujud (tangible equipment cost), (b) Kos pengembangan tidak berwujud (intangible development cost). Kos pengembangan berwujud meliputi semua peralatan transportasi dan peralatan berat yang diperlukan untuk produksi dan tidak merupakan deplesi basis. Peralatan harus dikelola terpisah layaknya aktiva tetap. Kos pengembangan tidak berwujud harus dipertimbangkan sebagai bagian dasar deplesi.

II.

Penghapusan Kos Aktiva Sumber Alam Setelah dasar deplesi ditentukan, masalah berikutnya adalah menentukan kos sumber

alam harus dialokasikan pada periode akuntansi tertentu, proses ini dikenal dengan deplesi. Deplesi merupakan alokasi kos perolehan sumber-sumber alam ke periode-periode yang menerima manfaat dari sumber itu. Biaya deplesi dihitung dengan metode satuan produksi yang berarti bahwa biaya deplesi merupakan fungsi jumlah satuan yang dieksploitasi selama satu periode.

Deplesi dihitung dengan tarif deplesi yang diperoleh dari Beban yang dikeluarkan untuk mendapatkan hak penambangan dibagi estimasi hasil yang akan diperoleh.

Ilustrasi 1 : PT Andalan Tambang memperoleh hak penambangan sebesar Rp. 500.000.000.000,Estimasi hasil yang terkandung didalamnya sebesar 1.000.000 ton bahan tambang. Tahun pertama berhasil ditambang sebesar 26.500 ton, maka Jurnal Deplesi yang dilakukan akhir tahun pertama adalah :

D : Beban Deplesi=== Rp. 13.250.000.000,K : Akumulasi Deplesi====== Rp. 13.250.000.000,-

Keterangan:

Besarnya deplesi tergantung pada jumlah ton yang berhasil ditambang.

Ilustrasi 2 :

Pada tanggal 5 Januari 20 A PT Perkasa membeli tanah yang mengandung bijih besi seharga Rp. 100 milyar. Estimasi nilai sisa tanah seharga Rp. 20 milyar. Hasil survey geologi pada saat pembelian terdapat 2 juta bijih besi yang dapat diambil. Pada tahun 20A dikeluarkan biaya untuk pembuatan jalan dan proses pengeluaran bijih besi sejumlah Rp. 750 juta. Pada tahun 20A, 50.000 ton telah ditambang. Survey baru dilakukan pada akhir tahun 20B dan diperkirakan ada 3 juta ton bijih besi yang terkandung didalam

tambang. Pada tahun 20B, 125.000 ton bijih besi berhasil ditambang.

Instruksi:

Hitunglah beban deplesi tahun 20A dan 20B

Solusi : Beban Deplesi tahun 20A : Harga sumber daya -nilai sisa Rp. 80.000.000.000,Perbaikan lahan jalan............Rp 750.000.000,Jumlah..................................Rp.80.750.000.000,-

Estimasi bijih besi dalam ton = 2.000.000 ton

Biaya deplesi per ton Rp. 40.375,-

Beban Deplesi Tahun 20A =

* 50.000 ton x Rp. 40.375 = Rp. 2.018.750.000,-

Beban Deplesi tahun 20B :

Harga sumber daya (neto) Rp. 80.750.000.000,-

Beban Deplesi tahun 20A... Rp. 2.018.750.000,-

Sisa pada awal tahun 20A...Rp. 78.731.250.000,-

Sisa bijih besi setelah survey ( ton) = 3.125.000 ton

( 3.000.000 + 125.000)

Biaya Deplesi per ton Rp. 25.194,-

Biaya deplesi tahun 20B =

* 125.000 ton x Rp. 25.194,- = Rp. 3.149.250.000,-