Anda di halaman 1dari 7

MATERI PENYULUHAN PASUNG A.

PENDAHULUAN Gangguan jiwa merupakan masalah yang sangat serius, penting dan berbahaya diseluruh dunia. Karena dapat menyangkut keselamatan dan kerugian dari diri sendiri maupun seorang lain, tidak hanya itu gangguan jiwa merupakan penyakit medis yang kompleks, meliputi segi fisik, pola hidup dan juga riwayat kejiwaan seseorang (Videbeck, 2008). Penanganan penderita gangguan jiwa bersifat holistic atau menyeluruh, tidak sekedar minum obat saja, tetapi meliputi terapi psikologi, terapi psikoreligius dan terapo psikososial yang melibatkan berbagai pihak sebagai oleh beberapa pendidikan gaya yang dapat ditemui berbagai dunia (Hawari,2007) Peningkatan angka gangguan jiwa ditimbulan oleh beberapa haldari perilaku penderita gangguan jiwa yang aneh dan amarah (Videbeck, 2002). Sebagai konsekuensi hal tersebut, menjadikan terkadang penderita gangguan jiwa tidak dibawa berobat ke dokter melainkan hanya di bawa ke orang pintar (Hawari, 2007) Hal tersebut diperkuat dari pendapat Dr. H. Aminullah , Sp., KjMM., Ketua Ikatan Rumah Sakit Jiwa di Indonesia (IRJI). Banyak orang yang mengalami gangguan jiwa , tetapi tidak mau dating untuk berobat ke Rumah Sakit Jiwa. Umumnya yang dating ke rumah sakit jiwa itu, ketika pasien sudah dalam taraf gangguan jiwa. Tidak hanya itu, sejak jaman dahulu kala sampai abad ke-19 gangguan jiwa dipandang sebagai kerasukan setan, hukuman karena

pelanggaran social atau agama, kurang minat atau semangat dan pelanggaran norma social. Penderita gangguan jiwa dianiaya, dihukum, dikucilkan dari masyarakat normal (American Pedhiatric Association dalam Videbeck, 2008). Karena hal tersebut, penanganan klien gangguan jiwa di masyarakat menjadi salah. Sebagai contoh, ada keluarga melakukan pemasungan, mengurung penderita gangguan jiwa dan memperlakukan dengan tidak manusiawi. Bahkan masyarakat maupun dari pihak keluarga dengan sengaja mengasingkan anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, karena menampakkan gejala gangguan jiwa dan dianggap kemasukan roh halus dijauhi, di ejek, dikucilkan dari masyarakat normal (Videbeck, 2008 ) B. Pengertian Pasung Memasung sama artinya dengan merampas hak sehat dan hak hidup seseorang dan bertentangan dengan Undang-Undang. Pemasungan diartikan sebagai segala tindakan yang dapat mengakibatkan kehilangan kebebasan seseorang akibat tindakan pengikatan dan pengekangan fisik walaupun telah ada larangan terhadap pemasungan. Pemasungan di Indonesia telah dilarang sejak tahun 1977 dengan Surat Mentri Dalam Negri Nomor PEM 29/6/15 tanggal 11 November 1977. Pemasungan adalah segala tindakan pengikatan dan pengekangan fisik yang dapat mengakibatkan kehilangan kebebasan seseorang. Pemasungan, termasuk penelantaran tidak boleh terjadi karena bertentangan dengan rasa kemanusiaan dan merupakan pelanggaran berarti terhadap HAM penderita. Dalam Undang- Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan disebutkan bahwa setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan

yang aman, bermutu, dan terjangkau. Disebutkan pula bahwa penderita gangguan jiwa yang terlantar, menggelandang, mengancam keselamatan dirinya dan orang lain, mengganggu ketertiban keamanan umumn wajib mendapatkan pengobatan dan perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Hal ini berarti juga termasuk bagi mereka penderita gangguan jiwa yang dipasung. Menurut Badan Kesehatan Sedunia (WHO), penderita gangguan jiwa adalah orang yang mengalami gangguan cara berfikir, berperilaku, gangguan kemampuan untuk melindungi kepentingan dirinya dan kemampuan mengambil keputusan. Meskipun gangguan kesehatan jiwa tidak

menyebabkan kematian secara langsung, tetapi gangguan ini dapat membuat penderita menjadi tidak produktif dan bergantung pada orang lain, sehingga menyebabkan penderitaan berkepanjangan baik bagi penderita, keluarga, masyarakat maupun Negara.

C. Penyebab Pemasungan Kasus pemasungan terjadi karena : 1. Kurangnya ketersediaan layanan kesehatan jiwa di masyarakat, 2. Tidak ada kesinambungan program layanan antara Rumah Sakit dan Komunitas, 3. Stigma dan kurangnya pemahaman masyarakat akan masalah kesehatan jiwa, 4. Kurangnya dukungan keluarga, dan

5. Kurangnya dukungan pemerintah terutama terkait hokum, kebijakan, dan system pembiayaan yang adekuat. Banyak alasan mengapa keluarga harus memasung orang dengan masalah kejiwaan, antara lain : 1. Mengganggu orang lain atau tetangga 2. Membahayakan dirinya sendiri 3. Jauhnya akses pelayanan kesehatan 4. Tidak ada biaya 5. Ketidakpahaman keluarga dan masyarakat tentang gangguan jiwa Gangguan jiwa bisa disembuhkan dan penderita gangguan jiwa berhak mendapatkan pelayan pengobatan dan perlakuan yang manusiawi. Indonesia Bebas Pasung adalah upaya untuk membuat Indonesia bebas secara nasional dari adanya praktek pasung dan penelantaran terhadap penderita gangguan jiwa. Upaya ini telah di deklarasikan oleh Menteri Kesehatan RI pada 10 Oktober 2010. D. Akibat dari Pemasungan Seseorang dengan gangguan jiwa umumnya berhadapan dengan stigma, diskriminasi dan marginalisasi. Stigma menyebabkan mereka tidak mencari pengobatan yang sangat mereka butuhkan, atau mereka akan mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu rendah. Bahkan sebagian diantara mereka dipasung dengan kondisi-kondisi yang sangat memprihatinkan seperti dipasung dengan kayu, dirantai, dikandang, atau diasingkan ditengah hutan jauh dari masyarakat. Dengan alasan karena mengganggu orang lain, membahayakan dirinya sendiri, jauh dari akses pelayanan kesehatan, tidak

mempunyai biaya serta ketidak pahaman tentang gangguan jiwa (Kementerian Kesehatan,2010). Akibat tindakan pemasungan pada penderita gangguan jiwa adalah : 1. Terjadinya gangguan pada salah satu anggota tubuh contohnya : Kaki penderita menjadi lumpuh. 2. Proses penyembuhan menjadi lama bahkan penyakitnya tidak sembuh 3. Penyakit akan semakin parah 4. Kebersihan diri tidak terawatt lagi dan bisa menimbulkan penyakit 5. Menimbulkan perlukaan 6. Sendi menjadi kaku 7. Dikenakan sanksi undang-undang, karena saat ini mulai dicanangkan Indonesia Bebas Pasung 2014

E. Pencegahan Adanya stigma negative yang melekat bahwa penderita gangguan jiwa adalah memalukan sehingga mereka lebih suka mengurungnya dan menjauhkan penderita dari lingkungan social. Untuk itu perlu adanya destigmatisasi, yaitu pemberian pemahaman yang benar tentang penyakit jiwa serta penangananya. Karena, lingkungan keluarga sangat mempengaruhi kesembuhan bagi penderita penyakit gangguan jiwa. Pendekatan secara personal, memberikan perhatian yang lebih berusaha untuk mengerti dan memahami segala tindakan kemudian mencoba untuk memberikan pengertian harus bagaimana sedikit banyak bisa membantu pemulihan. Upaya pencegahan dan penanggulangan permasalahan psikososial yang ada di masyarakat dapat juga dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan

(knowledge), sikap (attitude), dan perilaku (practice) petugas puskesmas terhadap setiap permasalahan psikososial yang timbul. Edukasi, kurasi (penyembuhan) dan rehabilitasi yang lebih baik memanfaatkan sumber dana dari JPS-BK; penciptaan Therapeutic Community (lingkungan yang mendukung proses penyembuhan).

F. Pengobatan Untuk gangguan jiwa berat pengobatan awal dapat dilakukan di Puseksmas kemudian pengobatan lanjutan dapat dilakukan dengan rawat inap di RSU / RS Jiwa. Rawat inap akan dilakukan sampai kondisi kejiwaan menjadi stabil, mampu minum obat secara teratur dan tidak ada kecendrungan melakukan kekerasan / tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri, keluarga maupun kepentingan umum. Pengobatan dapat dilakukan di Puskesmas dengan pengawasan

pengobatan oleh keluarga maupun partisipasi masyarakat melalui kader kesehatan / kelompok swa bantu. Dengan melakukan rehabilitasi, yang bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan atau upaya untuk membantu mencapai kualitas hidup yang optimal bagi penderita gangguan jiwa. Rehabilitasi akan membantu proses penyembuhan dan kembalinya kepercayaan diri merka. Masyarakat dapat membantu proses rehabilitasi dengan menerima dan mendorong penderita melakukan aktifitas social sesuai dengan keadaannya. Karena dengan memberikan perhatian, penderita tidak merasa terabaikan dan merasa diakui aksistensi dalam lingkungan lambat laun penderita akan mulai membuka diri. Salah satu seseorang menderita gangguan jiwa adalah ketika dia menanggung

sendiri persoalan hidupnya dan cenderung menutup diri. Lebih banyak memberikan waktu penderita untuk bicara dan berbagi mungkin bisa meringankan sedikit beban yang ditanggungnya. Selain itu ditingkatkan pula sarana dan prasarana seperti klinik, alat medis, obat-obatan dan tenaga ahli kejiwaan. Selain itu, memberikan sosialisasi ke daerah-daerah yang jauh dari jangkauan teknologi informatika bagaimana seharusnya memberikan penanganan kepada penderita gangguan jiwa. Untuk membuat destigmatisasi bahwa penyakit gangguan kejiwaan bukanlah penyakit yang memalukan dan sebaiknya ditangani sama dengan penyakit jasmani, sehingga tidak perlu menyembunyikan anggota keluarga yang gangguan jiwa. Adanya penyuluhan mengenai penanganan pasien penyakit jiwa untuk tenaga medis untuk di setiap puskesmas-puskesmas maupun ditingkat pedesaan. Bagi instansi terkait di daerah bisa memberikan perhatian yang sama porsinya dengan penyakit jasmani dengan memberikan bantuan pengobatan dan perawatan bagi penderita gangguan jiwa khususnya penderita yang mengalami pemasungan. Diharapkan kedepan lambat laun semakin berkurang jiwa-jiwa yang terpasang sehingga tercapai masyafakat Indonesia sehat baik jasmani maupun rohani