Anda di halaman 1dari 19

Derajat Hadits Shalat Tarawih Al-Hafidz (Ibnu Hajar) berkata di kitabnya Al- ulama diam tentangnya dan mereka

m tentangnya dan mereka (ahli hadits)


Fath (syarah Bukhari) : "Isnadnya dla'if". meninggalkan haditsnya".
Dua Puluh Tiga Raka'at [6]. Kata Ibnu Sa'ad : "Adalah dia Dla'iful Hadits".
Al-Hafidz Zaila'i telah mendla'ifkan isnadnya di [7]. Kata Imam Jauzajaniy : "Orang yang putus"
Kategori Shalat kitabnya Nashbur Rayah (2/153). (satu istilah untuk lemah tingkat ketiga).
[8]. Kata Abu Ali Naisaburi : "Bukan orang yang
Selasa, 19 Oktober 2004 13:05:14 WIB Demikian juga Imam Shan'ani di kitabnya kuat (riwayatnya)'.
Subulus Salam (syarah Bulughul Maram) [9]. Kata Imam Ad-Daruquthni : "Dla'if".
DERAJAT HADITS SHALAT TARAWIH mengatakan tidak ada yang sah tentang Nabi [10]. Al-Hafidz menerangkan : "Bahwa ia
DUA PULUH TIGA RAKA'AT shalat di bulan Ramadlan dua puluh raka'at. meriwayatkan dari Al-Hakam hadits-hadits
oleh munkar".
Al-Utadz Abdul Hakim bin Amir Abdat Saya berkata : Bahwa hadits ini "Dlai'fun Jiddan"
Hadits Pertama (sangat leamhf). Bahkan muhaddits Syaikh Periksalah kitab-kitab :
Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengatakan :
"Artinya : Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya "Maudlu". Tentang kemaudlu'an hadits ini telah [1]. Irwaul Ghalil, oleh Muhaddits Syaikh Al-
Nabi Shallahu 'alaihi wa sallam, shalat di bulan beliau terangkan di kitabnya "Silsilah Hadits Albani. 2 : 191, 192, 193.
Ramadlan dua puluh raka'at, [Hadits riwayat : Dla'if wal Maudlu" dan "Shalat Tarawih" dan [2]. Nashbur Raayah, oleh Al-Hafidz Zaila'i. 2 :
Ibnu Abi Syaibah, Abdu bin Humaid, Thabrani "Irwaul Ghalil". Siapa yang ingin mengetahui 153.
di kitabnya Al-Mu'jam Kabir dan Awsath, lebih luas lagi tentang masalah ini, bacalah tiga [3]. Al-Jarh wat Ta'dil, oleh Imam Ibnu Abi Hatim.
Baihaqi dan bnu Adi dan lain-lain] kitab Al-Albani di atas, khususnya kitab shalat 2 : 115
tarawih. [4]. Tahdzibut-Tahdzib, oleh Imam Ibnu Hajar. 1 :
Di riwayat lain ada tambahan : "Dan (Nabi 144, 145
Shallallahu 'alaihi wa sallam) witir (setelah Sebagaimana telah kita ketahui dari keterangan [5]. Mizanul I'tidal, oleh Imam Adz-Dzahabi. 1 :
shalat dua puluh raka'at)". Riwayat ini beberapa ulama di atas sebab lemahnya hadits 47, 48
semuanya dari jalan Abu Syaibah, yang ini, yakni karena di isnadnya ada seorang rawi
namanya : Ibrahim bin Utsman dari Al-Hakam tercela, yaitu Ibrahim bin Utsman Abu Syaibah.
dari Miqsam dari Ibnu Abbas. Tentang dia ini, ulama-ulama ahli hadits Hadits kedua.
menerangkan kepada kita :
Imam Thabrani berkata : "Tidak diriwayatkan "Artinya : Dari Yazid bin Ruman, ia berkata :
dari Ibnu Abbas melainkan dengan isnad ini". [1]. Kata Imam Ahmad, Abu Dawud, Muslim, Adalah manusia pada zaman Umar bin Khattab
Yahya, Ibnu Main dan lain-lain : "Dla'if". mereka shalat (tarawih) di bulan Ramadlan dua
Imam Baihaqi berkata : "Abu Syaibah [2]. Kata Imam Tirmidzi : "Munkarul Hadits". puluh tiga raka'at". [Hadits Riwayat : Imam Malik
menyendiri dengannya, sedang dia itu dla'if". [3]. Kata Imam Bukhari : "Ulama-ulama (ahli di kitabnya Al-Muwath-tha 1/115]
hadits) mereka diam tentangnya" (ini satu istilah
Imam Al-Haistami berkata di kitabnya untuk rawi lemah tingkat tiga). Keterangan :
"Majmauz Zawaid (3/172) : "Sesungguhnya [4]. Kata Imam Nasa'i dan Daulaby : "Matrukul Hadits ini tidak sah ! Ketidaksahannya ini
Abu Syaibah ini dla'if". Hadits". disebabkan karena dua penyakit :
[5]. Kata Abu Hatim : "Dla'iful Hadits, Ulama-

1
Pertama : [2]. Muhammad bin Yusuf seorang kepercayaan Sumber :
"Munqati" (Terputus Sanadnya). Karena Yazid yang dipakai riwayatnya oleh Imam Bukhari dan http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&artic
bin Ruman yang meriwayatkan hadits ini tidak Muslim. le_id=1115&bagian=0
bertemu dengan Umar bin Khaththab atau tidak [3]. Sedang Saib bin Yazid seorang shahabat
sezaman dengannya. Imam Baihaqi sendiri kecil yang bertemu dan sezaman dengan Umar
mengatakan : Yazid bin Ruman tidak bertemu bin Khatab.
dengan Umar. Dengan demikian sanad hadits [4] Dengan demikian sanad hadits ini
ini terputus. Sanad yang demikian oleh Ulama- Muttashil/bersambung.
ulama ahli hadits namakan Munqati'. Sedang
hadits yang sanadnya munqati' menurut ilmu Kesimpulan.
Musthalah Hadits yang telah disepakati, masuk [1]. Riwayat-riwayat yang menerangkan bahwa
kebagian hadits Dla'if yang tidak boleh dibuat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat di bulan
alasan atau dalil. Ramadlan (shalat tarawih) 20 raka'at atau 21 atau
23 raka'at tidak ada satupun yang shahih. Tentang
Tentang tidak bertemunya Yazid bin Ruman ini ini tidak tersembunyi bagi mereka yang alim
dengan Umar telah saya periksa seteliti dalam ilmu hadits.
mungkin di kitab-kitab rijalul hadits yang
ternyata memang benar bahwa ia tidak pernah [2]. Riwayat-riwayat yang menerangkan bahwa
bertemu atau sezaman dengan Umar bin di zaman Umar bin Khattab para shahabat shalat
Khattab. tarawih 23 raka'at tidak ada satupun yang shahih
sebagaimana keterangan di atas. Bahkan dari
riwayat yang Shahih kita ketahui bahwa Umar
Kedua. bin Khattab memerintahkan shalat tarawih
Riwayat diatas bertentangan dengan riwayat dilaksanakan sebelas raka'at sesuai dengan
yang sudah shahih di bawah ini : contoh Rasululullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
[1].
Hadits Ketiga.
"Artinya : Dari Imam Malik dari Muhammad
bin Yusuf dari Saib bin Yazid, ia berkata : [Disalin dari kitab Al-Masaa-il (Masalah-
"Umar bin Khattab telah memerintahkan Ubay Masalah Agama)- Jilid ke satu, Penulis Al-
bin Ka'ab dan Tamim Ad-Dariy supaya Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan
keduanya shalat mengimami manusia dengan Darul Qolam - Jakarta, Cetakan ke III Th
sebelas rakaat". 1423/2002M]
_________
Sanad hadits ini shahih, karena : Foote Note
[1]. Imam Malik seorang Imam besar lagi [1]. Ditulis tanggal 14-3-1986
sangat kepercayaan yang telah diterima umat
riwayatnya.

2
Kemudian beliau shalat (witir) tiga raka'at.
Kategori Shalat Dalam "Fathul Bari" (IV : 205-206) Ibnu Hajar
Hadits tersebut diatas, diriwayatkan oleh Al- ketika menjelaskan hadits yang pertama, beliau
Jumat, 22 Oktober 2004 08:10:58 WIB Bukhari (III : 25, IV : 205), Muslim (II : 166), menyatakan : "Adapun yang diriwayatkan oleh
NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI Abu 'Uwanah (II : 327), Abu Dawud (I : 210), Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu Abbas, bahwa
At-Tirmidzi (II : 302-303 cetakan Ahmad Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat di
WA SALLAM TIDAK PERNAH Syakir), An-Nasa'i (I : 248), Malik (I : 134), Al- bulan Ramadhan dua puluh raka'at ditambah witir,
SHALAT TARAWIH MELEBIHI Baihaqi (II : 495-496) dan Ahmad (VI : 36,73, sanad hadist ini adalah dha'if. Hadits 'Aisyah yang
SEBELAS RAKA'AT 104). disebut dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim ini
juga bertentangan dengan hadits itu, padahal
Oleh Yang Kedua : 'Aisyah sendiri lebih mengetahui seluk beluk
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu 'anhu bahwa kehidupan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
beliau menuturkan : "Rasulullah Shallallahu pada waktu malam daripada yang lainnya".
'alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di Pendapat serupa juga telah lebih dahulu
Setelah kita menetapkan, disyariatkannya bulan Ramadhan sebanyak delapan raka'at lalu diungkapkan oleh Az-Zailai' dalam "Nashbu ar-
berjama'ah dalam shalat tarawih berdasarkan beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kamipun Rayah" (II : 153).
ketetapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan
perbuatan beliau dan juga anjurannya ; Maka keluar. Kami terus menantikan beliau disitu Saya mengatakan : "Hadits Ibnu Abbas ini dha'if
sudah seharusnya kami jelaskan juga beberapa hingga datang waktu fajar. Kemudian kami sekali, sebagaimana dinyatakan oleh As-Suyuthi
jumlah raka'at yang dilaksanakan Nabi menemui beliau dan bertanya : "Wahai dalam "Al-Hawi Lil Fatawa" (II : 73). Adapun
Shallallahu 'alaihi wa sallam pada malam- Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu cacat hadits itu yang tersembunyi, adanya perawi
malam yang beliau hidupkan bersama para tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bernama Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman. Al-
sahabat. Dan perlu diketahui, bahwa dalam hal bersama kami". Beliau menjawab : Hafizh dalam "At-Taqrib" menyatakan :
ini kami memiliki dua dalil. "Sesungguhnya aku khawatir kalau (akhirnya) "Haditsnya matruk (perawinya dituduh pendusta)".
shalat itu menjadi wajib atas dirimu". Aku telah menyelidiki sumber-sumber
Yang Pertama : [Diriwayatkan oleh Ibnu Nashar (hal 90), Ath- pengambilan hadits itu, namun yang aku temui
Dari Abi Salamah bin Abdir-Rahman, Thabrani dalam "Al-Mu'jamu Ash-Shagir" (hal cuma jalannya. Ibnu Abi Syaibah juga
bahwasanya ia pernah bertanya kepada 'Aisyah 108). Dengan hadits yang sebelumnya, mengeluarkannya dalam "Al-Mushannaf " (II :
Radhiallahu 'anha tentang bagaimana shalat derajatnya hadist ini hasan. Dalam "Fathul Bari" 90/2), Abdu bin Hamid dalam "Al-Muntakhab
Rasulullah Shallallahu 'alihi wa sallam di bulan demikian juga dalam "At-Talkhish" Al-Hafizh Minal Musnad" (43 : 1-2), Ath-Thabarani dalam
Ramadhan ? Beliau menjawab : "Baik pada Ibnu Hajar mengisyaratkan bahwa hadits itu "Al-Mu'jamu Al-Kabir" (III : 148/2) dan juga
bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan shahih, Namun beliau menyandarkan hadits itu dalam "Al-Ausath" serta dalam "Al-Muntaqa"
yang lain, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah (edisi tersaring) dari kitab itu, oleh Adz-Dzahabi
tidak pernah shalat malam melebihi sebelas masing-masing dalam Shahih-nya]. (II : 3), atau dalam "Al-Jam'u" (rangkuman) Al-
raka'at[1] . Beliau shalat empat raka'at[2] ; Mu'jam Ash-Shaghir dalam Al-Kabir oleh penulis
jangan tanya soal bagus dan panjangnya. Hadits Tarawih Dua Puluh Raka'at Dha'if Sekali lain (119 : I), Ibnu 'Adiy dalam "Al-Kamil" (I : 2),
Kemudian beliau shalat lagi empat raka'at, dan Tidak Dapat Dijadikan Hujjah Untuk Al-Khatib dalam "Al-Muwaddhih" (I : 219) dan
jangan juga tanya soal bagus dan panjangnya. Beramal Al-Baihaqi dalam "Sunan"-nya (II : 496).

3
Seluruhnya dari jalur Ibrahim (yang tersebut) perawinya, dengan celaan dan hinaan. Diantara delapan raka'at, lalu menutupnya dengan witir tiga
tadi, dari Al-Hakam, dari Muqsim, dari Ibnu bentuk celaan dan hinaan itu (dalam kaedah ilmu raka'at, sehingga berjumlah 11 raka'at. Satu hal lagi
Abbas hanya melalui jalan ini". Imam Al- hadits) : Ia perawi hadits-hadits palsu, seperti yang menjadi dalil, bahwa Nabi apabila
Baihaqi juga menyatakan : "Hadits ini hanya hadits yang berbunyi : "Umat ini hanya akan mengamalkan satu amalan, beliau selalu
diriwayatkan melalui Abu Syaibah, sedangkan binasa di Aadzar (nama tempat) " juga hadits : melestarikannya. Sebagaimana beliau selalu meng-
ia perawi dha'if ". Demikian juga yang "Kiamat itu hanya akan terjadi di Aadzar ". qadha shalat sunnah Dhuhur sesudah Ashar ;
dinyatakan oleh Al-Haitsami dalam "Majmu' Hadits-hadistnya yang berkenaan dengan padahal shalat waktu itu pada asalnya haram.
Az-Zawaid" (III : 172) bahwa ia perawi yang masalah tarawih ini tergolong jenis hadits-hadits Seandainya beliau telah mengamalkan shalat
dha'if. Kenyataannya, ia malah perawi yang munkarnya. Imam As-Subki itu sendiri tarawih 20 raka'at itu, tentu beliau akan
dha'if sekali, seperti diisyaratkan oleh Al- menjelaskan bahwa (diantara) persyaratan hadist mengulanginya. Kalau sudah begitu, tak mungkin
Hafizh Ibnu Hajar tadi bahwa ia Matrukul dha'if untuk dapat diamalkan adalah ; hadits itu 'Aisyah tidak mengetahui hal itu, sehingga ia
hadits (ditinggal haditsnya karena dituduh tak terlalu lemah sekali. Imam Adz-Dzahabi membuat pernyataan seperti tersebut tadi".
berdusta). Inilah yang benar, seperti juga menyatakan : "orang yang dianggap berdusta
dinyatakan oleh Ibnu Ma'in : "Ia sama sekali oleh orang semisal Syu'bah, tak perlu ditoleh lagi Saya mengatakan : "Ucapannya itu mengandung
tak bisa dipercaya". Al-Jauzajani menyatakan : haditsnya". isyarat yang kuat bahwa beliau lebih memilih
"Jatuh martabatnya" (celaan yang keras). sebelas raka'at dan menolak riwayat yang 20
Bahkan Syu'bah menganggapnya berdusta Saya mengatakan : "Apa yang dinukil beliau dari raka'at dari Ibnu Abbas karena terlalu lemah, coba
dalam satu kisah. Imam Al-Bukhari As-Subki itu mengandung isyarat lembut dari Al- renungkan".
berkomentar :"Dia tak dianggap para ulama". Haitami bahwa beliau sendiri tak sependapat
Padahal Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan dengan mereka yang mengamalkan hadits
dalam "Ikhti-shar 'Ulumi Al-Hadits" (hal 118) tentang shalat tarawih 20 raka'at itu, simaklah". [Disalin dari buku Shalatu At-Tarawih, edisi
:"Orang yang dikomentari oleh Al-Bukhari Indonesia Shalat Tarawih, Penyusun Syaikh
dengan ucapan beliau seperti tadi, berarti sudah Kemudian, setelah beliau menyebutkan hadits Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan
terkena celaan yang paling keras dan buruk, Jabir dari riwayat Ibnu Hibban, Imam As-Suyuthi Pustaka At-Tibyan hal. 28 - 36 Penerjemah Abu
menurut versi beliau". Oleh sebab itu, saya berkomentar : "Kesimpulannya, riwayat tarawih Umar Basyir Al-Maidani]
menganggap hadits ini dalam kategori Hadits 20 raka'at itu tak ada yang shahih dari perbuatan _________
Maudhu' alias palsu. Disebabkan (disamping Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Apa Foote Note
kelemahannya) ia bertentangan dengan hadits yang tersebut dalam riwayat Ibnu Hibban [1]. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah (II/116/1),
'Aisyah dan Jabir yang terdahulu sebagaimana merupakan klimaks apa yang menjadi pendapat Muslim dan lain-lain : "Shalat Rasulullah
tadi diungkapkan oleh Al-Hafizh Az-Zaila'i dan kami, karena (sebelumnya) kami telah berpegang Shallallahu 'alaihi wa sallam baik pada bulan
Al-Asqalani. Imam Al-Hafidz Adz-Dzahabi dengan apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain
juga memaparkan hadits-haditsnya yang dari 'Aisyah Radhiallahu 'anha, yaitu : Bahwa adalah tiga belas raka'at. Diantaranya dua raka'at
munkar. Al-Faqih Ibnu Hajar Al-Haitami beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam baik dalam fajar". Namun dalam riwayat lain yang dikeluarkan
menyatakan dalam "Al-Fatawa Al-Kubra" (I : bulan Ramadhan maupun dalam bulan lainnya oleh Imam Malik (I : 142), juga oleh Al-Bukhari
195) setelah beliau menyebutkan hadits ini. tak pernah shalat malam melebihi 11 raka'at. (III : 35) dan lain-lain, diceritakan bahwa 'Aisyah
Kedua hadits itu (Hadits Riwayat Ibnu Hibban menuturkan :"Beliau shalat pada waktu malam tiga
"Hadits ini sungguh amat dha'if ; para ulama dan Al-Bukhari) selaras, karena disebutkan disitu belas raka'at. Lalu bila datang adzan subuh
telah bersikap keras terhadap salah seorang bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat memanggil, beliau shalat dua raka'at yang ringan".

4
Al-Hafidzh Ibnu Hajar mengatakan : "Pada kurang dari 11 raka'at (hal 81). tiga belas raka'at" (hadits ini diriwayatkan oleh
dzahirnya, hadits itu nampakl bertentangan Ibnu Nashar (hal 48). Hadits ini juga sebagai nash
dengan hadits terdahulu. Bisa jadi, 'Aisyah Penyelesaian yang dikemukakan oleh Ibnu hajar yang jelas, bahwa shalat sunnah 'Isya termasuk
menggabungkan dengan dua raka'at shalat itu ditopang oleh riwayat Imam Malik yang hitungan yang tiga belas tadi. Seluruh perawi
sesudah Isya, karena beliau memang secara lebih rinci menyebutkan dua raka'at ringan hadits tersebut tsiqah (terpercaya), selain Syurahbil
melakukannya di rumah. Atau mungkin juga tersebut ; yaitu dari jalur hadits Zaid bin Khalid bin Sa'ad. Dia memiliki kelemahan.
dengan dua raka'at yang dilakukan Nabi Al-Juhani bahwasanya ia berkata : "Aku betul-
sebagai pembuka shalat malam. Karena dalam betul berhasrat menyelidiki shalat Rasulullah [2]. Yakni dengan satu kali salam. Imam Nawawi
hadits shahih riwayat Muslim disebutkan Shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu malam. dalam ''Syarhu Muslim" menyebutkan :"Hadits ini
bahwa beliau memang memulai shalat malam Beliau shalat terlebih dahulu dua raka'at ringan. menunjukkan bolehnya shalat dengan hitungan itu.
dengan dua raka'at ringan. Dan yang kedua ini Kemudian beliau shalat dua raka'at panjang, lalu Adapun yang dikenal dari perbuatan Nabi
lebih kuat, menurut hemat saya. Karena Abu dua raka'at panjang, lalu dua raka'at panjang. Dua Shallallahu 'alaihi wa sallam bahkan beliau
Salamah yang mengkisahkan kriteria shalat raka'at yang kedua tidak sepanjang yang pertama. memerintahkan, yaitu agar shalat malam itu dibuat
beliau yang tak melebihi 11 raka'at dengan Demikian juga yang ketiga tak sepanjang yang dua-dua (raka'at).
empat-empat plus tiga raka'at, hal itu jelas kedua. Yang keempat juga tak sepanjang yang
belum mencakup dua raka'at ringan (pembuka) ketiga. Setelah itu beliau menutup dengan witir. Saya mengatakan : Yang dinyatakan oleh beliau itu
tadi, dua raka'at itulah yang tercakup dalam Semuanya berjumlah tiga belas raka'at. sungguh benar adanya. Adapun pendapat madzhab
riwayat Imam Malik. Sedangkan tambahan Syafi'iyyah bahwa (Wajib kita bersalam pada setiap
matan hadits dari seorang hafizh (seperti [Diriwayatkan oleh Imam Malik (I:143-144), dua raka'at. Barangsiapa yang melakukannya
Malik) bisa diterima. Pendapat ini lebih Muslim (II:183), Abu 'Uwanah (II:319) Abu dengan satu salam, maka tidak shah) sebagaimana
dikuatkan lagi dengan apa yang tertera pada Dawud (I:215) dan Ibnu Nashar (hal.48] tersebut dalam "Al-Fiqhu Ala Al-Madzahibi Al-
riwayat Ahmad dan Abu Dawud dari jalur Arba'ah" (I: 298) dan juga dalam "Syarhu Al-
riwayat Abdullah bin Abi Qais dari 'Aisyah Menurut hemat saya, ada kemungkinan dua Qasthalani" Terhadap shahih Al-Bukhari (V : 4)
Radhiallahu 'anha dengan lafazh : "Beliau raka'at disitu adalah shalat sunnah sesudah Isya. dan lain-lain, pendapat itu jelas bertentangan
melakukan witir tiga raka'at setelah shalat Bahkan itulah yang nampak (berdasarkan dengan hadits shahih ini dan juga bersebrangan
empat raka'at ; atau tiga setelah sepuluh. Dan hukum) secara zhahir. Karena saya belum dengan pernyataan Imam An-Nawawi yang
beliau belum pernah berwitir -plus shalat mendapatkan satu haditspun yang menyebutkan menyatakan dibolehkannya cara itu. Padahal beliau
malamnya- labih dari tiga belas raka'at. Dan dua raka'at itu berseiringan dengan penyebutan termasuk ulama besar dan alhi tahqiq (peneliti) dari
juga tidak pernah kurang -bersama shalat raka'at yang tiga belas. Bahkan sebaliknya, saya kalangan Syafi'iyyah. maka jelas tak ada alasan
malamnya- dari tujuh raka'at. Inilah riwayat justru mendapatkan riwayat yang menopang apa bagi seseorang untuk menfatwakan hal yang
paling shahih yang berhasil saya dapatkan yang saya perkirakan. Yaitu hadits Jabir bin sebaliknya.!
dalam masalah itu. Dengan demikian, Abdullah, dimana beliau menyampaikan
perselisihan seputar hadits 'Aisyah itu dapat :"Dahulu kami bersama-sama beranjak dengan
disatukan". Rasulullah dari Hudaibiyyah. Tatkala kami Sumber :
sampai di Suqya (yaitu perkampungan antara http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&artic
Saya mengatakan : Adapun hadits Ibnu Abi Mekkah dan Madinah), tiba-tiba beliau berhenti le_id=1129&bagian=0
Qais ini akan kembali disebutkan Insya Allah -dan jabir kala itu disampingnya- lalu melakukan
dalam bahasan "Dibolehkannya shalat malam shalat isya' kemudian setelah itu beliau shalat

5
Kategori Shalat, Senin, 25 September 2006 menunju masjid. Ternyata kami dapati Demikian juga Ibnu Sa’ad (V : 42) dan Al-
00:00:47 WIB manusia berpencar-pencar disana sini. Ada Firyabi dari jalur lain (74 : 2)
yang shalat sendirian, ada juga yang shalat meriwayatkannya dengan lafazh : “kalau yang
UMAR BIN AL-KHATTAB mengimami beberapa gelintir orang. Beliau seperti ini dianggap bid’ah, maka sungguh satu
berkomentar : “(Demi Allah), seandainya aku bid’ah yang amat baik sekali”. Para perawinya
MENGHIDUPKAN kumpulkan orang-orang itu untuk shalat terpercaya, kecuali Naufal bin Iyyas. Imam Al-
KEMBALI SHALAT bermakmum kepada satu imam, tentu lebih Hafizh mengomentarinya dalam “At-Taqrib” ;
TARAWIH (BERJAMA’AH) baik lagi”. Kemudian beliau melaksanakan “Bisa diterima”, maksudnya apabila diiringi
tekadnya, beliau mengumpulkan mereka hadits penguat, kalau tidak, maka tergolong
DAN MENYURUH untuk shalat bermakmum kepada Ubay bin hadits yang agak lemah. Begitu penjelasan
MENUSIA KALA ITU Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu. Abdurrahman beliau dalam mukaddimah buku tersebut.
UNTUK SHALAT SEBELAS melanjutkan : “Pada malam yang lain, aku
kembali keluar bersama beliau, ternyata Perlu diketahui, bahwa dikalangan para ulama
RAKA’AT orang-orang sudah sedang shalat belakangan ini, cukup dikenal penggunaan
bermakmum kepada salah seorang qari ucapan Umar diatas, yaitu ucapan beliau :
mereka. Beliaupun berkomentar : “Sebaik-baiknya bid’ah …. “ sebagai dalil
Oleh dalam dua perkara :
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani “Sebaik-baik bid’ah, adalah seperti ini”.
Pertama
Telah kami sebutkan sebelumnya, bahwa Namun mereka yang tidur dahulu (sebelum Berjama’ah dalam shalat tarawih adalah bid’ah
semenjak kematian Nabi Shallallahu ‘alaihi shalat) lebih utama dari mereka yang shalat yang tidak penah ada di zaman Nabi
wa sallam para sahabat Radhiyallahu sekarang” Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Persepsi ini jelas
‘anhum terus menjalankan shalat tarawih amatlah keliru, tidak perlu banyak dikomentari
dengan berpencar-pencar dan bermakmum Yang beliau maksudkan yaitu mereka yang karena sudah demikian jelasnya. Sebagai
kepada imam yang berbeda-beda [1] shalat di akhir waktu malam. Sedangkan dalilnya, cukup bagi kita hadits-hadits
orang-orang tadi shalat di awal waktu terdahulu ; yaitu yang mengkisahkan bahwa
Itu terjadi di masa kekhalifahan Abu Bakar malam” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan di awal kekahlifahan Umar mengumpulkan manusia kala itu dalam tiga
Radhiyallahu ‘anhuma. Kemudan akhirnya Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al- malam bulan Ramadhan. Kalaupun akhirnya
Umar bin Al-Khattab menyatukan mereka Muwattha (I : 136-137), demikian juga Al- beliau meninggalkan berjama’ah, semata-mata
untuk bermakmum kepada satu imam. Bukhari (IV : 203), Al-Firyabi (II : 73, 74 : hanya karena takut dianggap wajib.
Abdurrahman bin Abdul Qariy berkata : 1-2). Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi
Syaibah (II : 91 : 1) dengan lafazh yang Kedua.
“Suatu malam di bulan Ramadhan, aku mirip, namun tanpa ucapan beliau : “sebaik- Bahwa diantara bid’ah itu ada yang terpuji.
keluar bersama Umar bin Al-Khattab baiknya bid’ah, ya yang seperti ini”. Dengan (ucapan Umar) tadi, mereka
6
mengkhususkan keumuman hadits Nabi Pengertian seperti inilah yang dipegang oleh yang tidak dimiliki yang lainnya”. As-Subki
Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap para ulama ahli tahqiq (peneliti) dalam menyatakan.
bid’ah itu adalah sesat”. Dan juga hadits- menafsirkan ucapan Umar tadi. Abdul
hadits lain yang sejenis. Pendapat ini juga Wahhab As-Subki dalam “Isyraqul “Kalau melakukan tarawih berjama’ah itu
bathil ; hadits tersebut harus diartikan Mashabiih Fi Shalati At-Tarawih” yang tidaklah memiliki tuntunan, tentu ia termasuk
dengan keumumannya, sebagaimana yang berupa kumpulan fatwa (I : 168) menyatakan bid’ah yang tercela ; sebagaimana shalat
dijelaskan nanti dalam tulisan khusus : sunnah hajat di malam Nishfu Sya’ban, atau di
mengenai bid’ah, insya Allahu Ta’ala. Jum’at pertama bulan Rajab. Itu harus
Adapun ucapan Umar : Sebaik-baik bid’ah, “Ibnu Abdil Barr berkata : “Dalam hal itu diingkari dan jelas kebatilannya (yakni
adalah yang seperti ini”, yang beliau Umar tidak sedikitpun membuat-buat sesuatu kebatilan pendapat yang mengingkari bolehnya
maksudkan bukanlah bid’ah dalam melainkan sekedar menjalani apa yang shalat tarawih berjama’ah). Dan kebatilan
pengertian istilah; yang berarti : Mengada- disunnahkan, disukai dan diridhai Nabi perkara tersebut merupakan pengertian yang
ada dalam menjalankan ibadah tanpa Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dimana yang sudah baku dalam pandangan Islam”.
tuntunan (dari Nabi). Sebagaimana yang menghalangi beliau Shallallahu ‘alaihi wa
kita tahu, beliau tidak pernah melakukan sallam untuk melakukan secara kontinyu Al-Allamah Ibnu Hajar Al-Haitami didalam
sedikitpun. Bahkan sebaliknya, beliau semata-mata karena takut dianggap wajib fatwa yang ditulisnya menyatakan.
menghidupkan banyak sekali dari sunnah atas umatnya. Sedangkan beliau adalah orang
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun yang pengasih lagi pemurah terhadap “Mengeluarkan orang-orang Yahudi dari
yang beliau maksudkan dengan bid’ah umatnya. Tatkala Umar mengetahui alasan semenanjung jazirah Arab, dan memerangi
adalah dalam salah satu pengertiannya itu dari Rasulullah, sementara ia mengerti Turki (Konstantinopel, pent) adalah perbuatan
menurut bahasa. Yaitu suatu kejadian yang bahwa amalan-amalan yang wajib tidak akan yang dilakukan berdasarkan perintah Nabi
baru yang belumlah dikenal sebelum beliau bertambah ataupun berkurang lagi sesudah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak
perkenalkan. Dan tidak diragukan lagi, kematian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; termasuk katagori bid’ah, meskipun belum
bahwa tarawih berjama’ah belumlah maka beliaupun mulai menghidupkannya dan pernah dilakukan di masa hidup beliau.
dikenal dan belum diamalkan semenjak menyuruh manusia untuk melakukannya. Sedangkan ucapan Umar berkenaan dengan
zaman khalifah Abu Bakar dan juga di Kejadian itu berlangsung pada tahun 14 H. tarawih : “Sebaik-baiknya bid’ah…” yang
awal-awal kekhalifahan Umar sendiri Itu adalah keutamaan yang Allah simpan lalu dimaksud adalah bid’ah secara bahasa. Yaitu
Radhiyallahu anhuma –sebagaimana telah diperuntukkan bagi beliau Radhiyallahu sesuatu yang diperbuat tanpa contoh
dijelaskan sebelumnya-. Dalam pengertian ‘anhu. Yang mana Abu Bakar sekalipun tidak sebeumnya ; sebagaimana difirmankan Allah
begini, ia memang bid’ah. Namun dalam pernah terinspirasi untuk melakukannya. Subhanahu wa Ta’ala.
kacamata pengertian bahwa ia sesuai Meskipun, beliau lebih utama dan lebih
dengan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi segera melakukan kebaikan –secara umum- “Artinya : Katakanlah : “Aku bukanlah rasul
wa sallam, ia adalah sunnah, bukannya daripada Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Akan yang pertama di antara raul-rasul…” [Al-
bid’ah. Hanya dengan alasan itulah beliau tetapi masing-masing dari keduanya Ahqaf : 9]
memberikan tambahan kata “baik”. dianugerahi Allah keutamaan-keutamaan
7
Jadi yang dimaksud bukanlah bid’ah secara sallam karena adanya penghalang seperti berthaji bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
istilah. Karena bid’ah secara istilah shalat tarawih berjama’ah misalnya ; maka sallam tatkala beliau masih kecil. Lalu dari
menurut syari’at adalah sesat, sebagaimana apabila ada kemungkinan yang pasti [2], jalur sanad Imam Malik juga, Abu Bakar An-
yang ditegaskan Nabi Shallallahu ‘alaihi berarti hilanglah penghalang yang ada Naisaburi mengeluarkan hadits itu dalam “Al-
wa sallam. Adapun sebagian ulama yang tersebut. [3] Fawaid” (I : 153), Al-Firyabi (75 : II-76 : I)
membaginya menjadi bid’ah yang baik dan dan Al-Baihaqi dalam “As-Sunan Al-Kubra” (I
tidak baik, sesungguhnya yang mereka bagi UMAR RADHIYALLAHU ‘ANHU : 196)
hanyalah bid’ah menurut bahasa. MEMERINTAHKAN MANUSIA UNTUK
Sedangkan orang yang mengatakan setiap SHALAT 11 RAKA’AT Riwayat Malik tentang tarawih 11 raka’at tadi
bid’ah itu sesat maksudnya adalah bid’ah diiringi dengan penguat dari Yahya bin Sa’id
menurut istilah. Bukankah kita mengetahui Adapun perintah Umar Radhiyallahu ‘anhu Al-Qatthan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “Al-
bahwa para shahabat Radhiyallahu ‘anhum untuk didirikannya tarawih 11 raka’at, adalah Mushannaf” (II : 89 : 2), juga dengan riwayat
dan juga para tabi’in yang mengikuti berdasarkan apa yang diriwayatkan Imam dari Isma’il bin Umayyah, Usamah bin Zaid,
mereka dengan kebaikan juga menyalahi Malik dalam “Al-Muwaththa” (I : 137) (dan Muhammad bin Ishaq oleh Imam An-
adzan pada selain shalat yang lima waktu, No. 248), dari Muhammad bin Yusuf, dari Naisaburi ; juga dengan riwayat Ismail bin
misalnya shalat dua Hari Ied, padahal tidak As-Saib bin Yazid bahwasanya beliau Ja’far Al-Madani oleh Ibnu Khuzaimah dalam
ada larangannya (secara khusus). Mereka menuturkan. hadits Ali bin Hajar (IV : 186 : 1). Mereka
juga menganggap makruh mencium dua semua mengatakan : Dari Muhammad bin
rukun Syami (di Masjidil Haram), atau “Umar bin Al-Khattab memerintahkan Ubay Yusuf dengan lafazh tadi, kecuali Ibnu Ishaq,
shalat seusai sa’i antara Shafa dan Marwah bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari untuk beliau mengatakan : “Tiga belas raka’at”
yang dikiaskan dengan shalat seusai mengimami manusia (shalat tarawih) 11 demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu
berthawaf. Demikian juga halnya segala raka’at”. Beliau melanjutkan : “Dan kala itu, Nashar dalam ‘Qiyamu Al-Lail” (91), dan
yang ditinggalkan Rasulullah Shallallahu seorang qari/imam biasa membaca ratusan beliau menambahkan:
‘alaihi wa sallam sementara itu mungkin ayat sehingga kami terpaksa bertelekan pada
dilakukan, maka meninggalkan amalan itu tongkat kami karena terlalu lama berdiri. “Ibnu Ishaq menyatakan : “Tidak pernah aku
menjadi sunnah ; sementara Lalu kami baru bubar shalat menjelang mendengar dalam masalah itu (yakni bilangan
mengamalkannya menjadi bid’ah yang fajar”. raka’at tarawih pada bulan Ramadhan) riwayat
tercela. Maka seperti : Mengusir orang- yang lebih shahih dan lebih meyakinkan
orang Yahudi dari tanah Arab dan Saya katakan : Derajat sanad hadits ini daripada hadits As-Saib. Yaitu bahwa
mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu shahih sekali. Sesungguhnya Muhammad bin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa
mushaf, tidaklah masuk dalam konteks Yusuf, syaikh/guru Imam Malik adalah orang melaksanakannya pada malam hari 13
pembicaraan kita tentang “yang mungkin” yang terpercaya berdasarkan kesepakatan raka’at”.
dikerjakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa ahli hadits. Beliau juga dijadikan hujjah oleh
sallam dimasa hidupnya. Segala yang Al-Bukhari dan Muslim. Sedangkan As-Saib Saya katakan : Jumlah bilangan 13 raka’at ini,
ditinggalkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa bin Yazid adalah seorang shahabat yang ikut hanya diriwayatkan secara menyendiri oleh
8
Ishaq. Dan riwayat itu, bersesuaian dengan digabungkan dengan beberapa riwayat meninggal, kekhawitran itu sudah tidak
riwayat lain dari Aisyah Radhiyallahu penguat lainnya yang –saya lihat- tidak berlaku lagi. Umar lebih mengutamakan
‘anha tentang shalat Nabi Shallallahu seorangpun yang mendahului saya dalam kesimpulan demikian, karena berpencar-
‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan. Hal mengumpulkan riwayat-riwayat itu. Wal pencarnya kaum muslimin dapat menimbulkan
ini dijelaskan dalam riwayat lain, bahwa hamdulillah ‘ala taufiqihi. perpecahan. Dan juga karena berjama’ah
termasuk dalam yang 13 rakaat itu dua dengan satu imam itu lebih membawa
rakaat sunnah fajar, sebagaimana dalam [Disalin dari kitab Shalatu At-Tarawih, Edisi semanngat bagi banyak orang yang shalat ….
komentar sebelumnya. Hadits Ibnu Ishaq Indonesia Shalat Tarwih, Penulis Syaikh Dan terhadap ucapan Umar itu, mayoritas
inipun bisa dipahami dengan cara itu Muhammad Nashiruddin Al-Albani, umat lebih cenderung …” [Fathul Bari IV :
sehingga menyepakati riwayat jama’ah Penerjemah Abu Umar Basyir Al-Maidani, 203-204]
Penerbit At-Tibyan] [2]. Yang dimaksud dengan kemungkinan yang
Dari penjelasan terdahulu, dapat dipahami _________ pasti : Adalah ketidak adaan penghalang itu
bahwa ucapan Ibnu Abdil Barr : “saya tidak Foote Note sendiri. Contohnya shalat tarawih berjama’ah.
pernah mendengar seorangpun yang [1]. Saya katakan : “Demikianlah kondisi Kemungkinan untuk melaksanakan perbuatan
mengatakan 11 raka’at, kecuali Imam yang terjadi di masa hidup Nabi Shallallahu itu ada di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
Malik ; adalah ucapan yang jelas keliru. Al- ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau mengimami sallam, akan tetapi ada penghalangnya, yaitu
Mubarakfuri mengomentari dalam mereka selam tiga malam. Kemudian beliau takut dianggap wajib. Maka pada saat itu,
“Tuhfatul Ahwadzi (II : 74) : “itu adalah meninggalkannya karena takut dianggap kemungkinannya tidaklah pasti.
dugaan yang bathil”. Oleh sebab itu, Az- wajib atas mereka sebagai hadits Aisyah [3]. Lihat Al-Ibda Fi Mudhaaril ibtida hal. 22-
Zarqani juga menyanggahnya dalam terdahulu. Sehingga kembalilah kaum 24
“Syarhu Al-Muwattha (I : 25)” dengan muslimin kepada kebiasaan semula, hingga
ucapannya : “Hal itu tidak sebagaimana Umar mengumpulkan mereka. Semoga Allah
yang diucapkannnya (Ibnu Abdil Barr), mengganjarinya dengan kebaikan atas jasa
karena dari jalur sanad yang lain Ibnu beliau terhadap Islam. Ibnu At-Tiien dan
Manshur meriwayatkan juga dari yang lainnya berkata : “Umar bin Al-Khattab Sumber :
Muhamamd bin Yusuf : “11 raka’at”, mengambil kesimpulan, denghan ketetapan http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&
sebagaimana yang diriwayatkan Imam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan article_id=1952&bagian=0
Malik”. keabsahan shalat orang-orang yang
bermakmum kepada beliau pada beberapa
Saya mengatakan : Derajat sanad hadits ini malam itu. Kalaupun ada yang beliu benci,
sungguh amat shahih, sebagaimana yang hanya sebatas karena beliau khawatir
diutarakan oleh Imam As-Suyuthi dalam akhirnya menjadi wajib atas mereka. Inilah
“Al-Mashabih”, (riwayat) ini saja sudah yang menjadi rahasia kenapa Al-Bukhari
cukup untuk menyanggah pernyataan Ibnu mengutip hadits Aisyah yang terdahulu
Abdil Barr. Bagaimana lagi kalau sesudah hadits Umar. Setelah nabi
9
Kamis, 28 Oktober 2004 07:29:40 WIB mengamalkannya" bersama imam mereka, Umar-pun berkata,
SHALAT TARAWIH "Sebaik-baik bid'ah adalah ini, orang yang
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidur lebih baik dari yang bangun, ketika itu
Oleh wafat dalam keadaan tidak pernah lagi manusia shalat di awal malam".[Dikeluarkan
Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilaaly melakukan shalat tarawih secara berjama'ah" Bukhari 4/218 dan tambahannya dalam
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid [Hadits Riwayat Bukhari 3/220 dan Muslim riwayat Malik 1/114, Abdurrazaq 7733]
761]
[1]. Pensyari'atannya [2]. Jumlah Raka'atnya
Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
Shalat tarawih disyari'atkan secara sallam menemui Rabbnya (dalam keadaan Manusia berbeda pendapat tentang batasan
berjama'ah berdasarkan hadits Aisyah seperti keterangan hadits diatas) maka berarti raka'atnya, pendapat yang mencocoki petunjuk
Radhiyallahu 'anha. syari'at ini telah tetap, maka shalat tarawih Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah
berjama'ah disyari'atkan karena kekhawatiran delapan raka'at tanpa witir berdasarkan hadits
"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut sudah hilang dan 'illat telah hilang Aisyah Radhiyallahu 'anha.
pada suatu malam keluar dan shalat di (juga). Sesungguhnya 'illat itu berputar
masjid, orang-orang pun ikut shalat bersama ma'lulnya, adanya atau tidak "Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersamanya, dan mereka adanya. tidak pernah shalat malam di bulan Ramadhan
memperbincangkan shalat tersebut, hingga atau selainnya lebih dari sebelas raka'at"
berkumpullah banyak orang, ketika beliau Dan yang menghidupkan kembali sunnah ini [Dikeluarkan oleh Bukhari 3/16 dan Muslim
shalat, mereka-pun ikut shalat bersamanya, adalah Khulafa'ur Rasyidin Umar bin Al- 736 Al-Hafidz berkata (Fath 4/54)]
mereka meperbincangkan lagi, hingga Khaththab Radhiyallahu 'anhu sebagaimana
bertambah banyaklah penghuni masjid dikabarkan yang demikian oleh Yang telah mencocoki Aisyah adalah Ibnu
pada malam ketiga, Rasulullah Shallalalhu Abdurrahman bin Abdin Al-Qoriy[1] beliau Umar Radhiyallahu anhuma, beliau
'alaihi wa sallam keluar dan shalat, ketika berkata : "Aku keluar bersama Umar bin Al- menyebutkan, "Nabi Shallallahu 'alaihi wa
malam keempat masjid tidak mampu Khaththab Radhiyallahu 'anhu suatu malam sallam menghidupkan malam Ramadhan
menampung jama'ah, hingga beliau hanya di bulan Ramadhan ke masjid, ketika itu bersama manusia delapan raka'at kemudian
keluar untuk melakukan shalat Shubuh. manusia berkelompok-kelompok[2] Ada witir[3]
Setelah selesai shalat beliau menghadap yang shalat sendirian dan ada yang
manusia dan bersyahadat kemudian berjama'ah, maka Umar berkata : "Aku Ketika Umar bin Al-Khaththab menghidupkan
bersabda. berpendapat kalau mereka dikumpulkan sunnah ini beliau mengumpulkan manusia
dalam satu imam, niscaya akan lebih baik". dengan sebelas raka'at sesuai dengan sunnah
"Artinya : Amma ba'du. Sesungguhnya aku Kemudian beliau mengumpulkan mereka shahihah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh
mengetahui perbuatan kalian semalam, dalam satu jama'ah dengan imam Ubay bin Malik 1/115 dengan sanad yang shahih dari
namun aku khawatir diwajibkan atas Ka'ab, setelah itu aku keluar bersamanya jalan Muhammad bin Yusuf dari Saib bin
kalian, sehingga kalian tidak mampu pada satu malam, manusia tengah shalat Yazid, ia berkata : "Umar bin Al-Khaththab
10
menyuruh Ubay bin Ka'ab dan Tamim Ad- Ramadhan, dengan dua puluh satu raka'at,
Daari untuk mengimami manusia dengan membaca dua ratus ayat, selesai ketika awal [1]. Yang meriwayatkan Mushannaf dari Abdur
sebelas raka'at". Ia berkata : "Ketika itu fajar" Razaq lebih dari seorang, diantaranya adalah
imam membaca dua ratus ayat hingga kami Ishaq bin Ibrahim bin Ubbad Ad-Dabari
bersandar/bertelekan pada tongkat karena Riwayat ini menyelisihi yang diriwayatkan [2]. Hadits ini dari riwayat Ad-Dabari dari
lamanya berdiri, kami tidak pulang kecuali oleh Malik dari Muhamad bin Yusuf dari Abdur Razaq, dia pula yang meriwayatkan
ketika furu' fajar" [4] Saib bin Yazid, dhahir sanad Abdur Razaq Kitabus Shaum [Al-Mushannaf 4/153]
shahih seluruh rawinya tsiqah. [3]. Ad-Dabari mendengar dari Abdur Razaq
Riwayat beliau ini diselisihi oleh Yazid bin karangan-karangannya ketika berumur tujuh
Khashifah, beliau berkata : "Dua puluh Sebagian orang-orang yang berhujjah dengan tahun [Mizanul I'tidal 1/181]
raka'at" riwayat ini, mereka menyangka riwayat [4]. Ad-Dabari bukan perawi hadits yang
Muhammad bin Yusuf mudhtharib, hingga dianggap shahih haditsnya, juga bukan seorang
Riwayat Yazid ini syadz (ganjil/menyelisihi selamatlah pendapat mereka dua puluh yang membidangi ilmu ini [Mizanul I'tidal
yang lebih shahih), karena Muhammad bin raka'at yang terdapat dalam hadits Yazid bin 1/181]
Yusuf lebih tsiqah dari Yazid bin Khashifah. [5] Oleh karena itu dia banyak keliru dalam
Khashifah. Riwayat Yazid tidak bisa meriwayatkan dari Abdur Razaq, dia banyak
dikatakan ziyadah tsiqah kalau kasusnya Sedangkan mereka ini tertolak, karena hadits meriwayatkan dari Abdur Razaq hadits-hadits
seperti ini, karena ziyadah tsiqah itu tidak mudhtarib adalah hadits yang diriwayatkan yang mungkar, sebagian ahlul ilmi telah
ada perselisihan, tapi hanya sekedar dari seorang rawi satu kali atau lebih, atau mengumpulkan kesalahan-kesalahan Ad-
tambahan ilmu saja dari riwayat tsiqah diriwayatkan oleh dua orang atau lebih Dabari dan tashif-tashifnya dalam Mushannaf
yang pertama sebagaimana (yang dengan lafadz yang berbeda-beda, mirip dan Abdur Razaq, dalam Mushannaf [Mizanul
disebutkan) dalam Fathul Mughit (1/199), sama, tapi tidak ada yang bisa menguatkan I'tidal 1/181]
Muhashinul Istilah hal. 185, Al-Kifayah hal (mana yang lebih kuat). [Tadribur Rawi
424-425. Kalaulah sendainya riwayat Yazid 1/262] Dari keterangan di atas maka jelaslah bahwa
tersebut shahih, itu adalah perbuatan, riwayat ini mungkar, Ad-Dabari dalam
sedangkan riwayat Muhammad bin Yusuf Namun syarat seperti ini tidak terdapat dalam meriwayatkan hadits diselisihi oleh orang yang
adalah perkataan, dan perkataan lebih hadits Muhammad bin Yusuf karena riwayat lebih tsiqah darinya, yang menentramkan
diutamakan dari perbuatan sebagaimana Malik lebih kuat dari riwayat Abdur Razaq hadits ini kalau kita nyatakan kalau hadits
telah ditetapkan dalam ilmu ushul fiqh. dari segi hapalan. inipun termasuk tashifnya Ad-Dabari, dia
mentashifkan dari sebelas raka'at
Abdur Razaq meriwayatkan dalam Al- Kami ketengahkan hal ini kalau kita anggap (menggantinya menjadi dua puluh satu rakaat),
Mushannaf 7730 dari Daud bin Qais dan sanad Abdur Razaq selamat dari illat (cacat), dan engkau telah mengetahui bahwa dia
lainnya dari Muhammad bin Yusuf dari akan tetapi kenyatannya tidak demikian banyak berbuat tashif [Lihat Tahdzibut
Saib bin Yazid : "Bahwa Umar (karena hadits tersebut mempunyai cacat, Tahdzib 6310 dan Mizanul I'tidal 1/181]
mengumpulkan manusia di bulan pent) kita jelaskan sebagai berikut.
11
bantahan dari Syubhat ini, maka lihatlah :
[a] Al-Kasyfus Sharih 'an Aghlathis Shabun
Oleh karena itu riwayat ini mungkar dan fii Shalatit Tarawih oleh Syaikh Ali Hasan
mushahaf (hasil tashif), sehingga tidak bisa Abdul Hamid
dijadikan hujjah, dan menjadi tetaplah [b] Al-Mashabih fii Shalatit Tarawih oleh
sunnah yang shahih yang diriwayatkan di Imam Suyuthi, dengan ta'liq Syaikh Ali
dalam Al-Muwatha' 1/115 dengan sanad Hasan Abdul Hamid, cetakan Dar'Ammar
Shahih dari Muhammad bin Yusuf dari
Saib bin Yazid. Perhatikanlah.[5]

Sumber :
[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi http://almanhaj.or.id/index.php?action=more
Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii &article_id=1151&bagian=0
Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh
Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh
Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka
Al-Haura, penerjemah Abdurrahman
Mubarak Ata]
_________
Foote Note.
[1]. Dengan tanwin ('abdin) dan (alqoriyyi)
dengan bertasydid -tanpa dimudhofkan-
lihat Al-Bab fi Tahdzib 3/6-7 karya Ibnul
Atsir.
[2]. Berkelompok-kelompok tidak ada
bentuk tunggalnya, seperti nisa' ibil ... dan
seterusnya
[3]. Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam
Shahihnya 920, Thabrani dalam As-Shagir
halaman 108 dan Ibnu Nasr (Qiyamul Lail)
halaman 90, sanadnya hasan sebagaimana
syahidnya.
[4] Furu' fajar : awalnya, permulaan
[5]. Dan tambahan terperinci mengenai
12
Selasa, 26 Oktober 2004 11:37:24 WIB Ramadhan dari sisi kebagusan dan keduanya [2], sehingga kita dapat merasakan --
panjangnya. Sebagaimana yang diungkapkan meskipun hanya sedikit-- satu kekhusyu'an
ANJURAN MEMPERBAGUS 'Aisyah Radhiallahu 'anha : " ... beliau shalat yang merupakan ruh dan saripati dari shalat itu
empat raka'at ; jangan tanya soal bagus dan sendiri. Kekhusyu'an inilah yang dilalaikan
SHALAT DAN ANCAMAN panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi oleh banyak orang yang melakukan shalat itu
BAGI SHALAT TANPA empat raka'at ; jangan tanya juga soal bagus saking bernafsunya mereka mengejar shalat 20
ATURAN dan panjangnya.." Juga seperti yang raka'at yang mereka yakini dari Umar !
Oleh diungkapkannya : "..beliau tak bergeming Mereka takperdulikan lagi tuma'ninah. Bahkan
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam bersujud, selama kalau seorang mereka shalat ibarat ayam mematuk. Seolah-
diantara kamu membaca lima puluh ayat .." olah mereka itu alat ataupun perangkat yang
Pembaca yang budiman. Atau seperti yang dituturkan oleh Hudzaifah naik turun dengan cepat, sehingga mereka tak
: "Kemudian beliau membaca surat Al- sempat lagi merenungkan ayat-ayat Allah yang
Kita sekarang sedang dalam bulan penuh Baqarah (yakni dalam raka'at pertama), mereka dengar. Sampai-sampai orang lainpun
ibadah, dan bulan berpuasa ; yaitu bulan setelah itu beliau ruku'. Dan ruku'nya itu hanya bisa mengikuti mereka kalau berusaha
Ramadhan nan penuh berkah. Hendaknya sama panjang dengan berdirinya tadi ... " setengah mati !.
di dalam bulan puasa ini kita dapat tampil Kemudian ia menceritakan bahwa berdirinya
selaku mukmin yang shalih ; yang taat beliau sesudah ruku' dan sujudnya beliaupun Saya ungkapkan hal ini, dengan tetap
kepada Rabb-nya, dan mengikuti sunnah sepanjang/selama itu juga. Kitapun menyadari bahwa tidak sedikit diantara para
Nabi-Nya dalam segala ajaran yang beliau mengetahui, bahwa para ulama As-Salaf imam masjid pada akhir-akhir ini yang mulai
bawa dari Rabb-nya, terutama yang pada masa Umar Radhiallahu 'anhu juga sadar dengan kondisi shalat tarawihnya yang
berkaitan dengan menegakkan ibadah nan biasa memanjangkan bacaan pada shalat sudah sampai sedemikian bobroknya.
agung ini ; yakni shalat tarawih. Dalam hal tarawih, sehingga dalam shalat itu mereka Merekapun kembali melaksanakannya dengan
ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca tak kurang dari tiga ratus ayat, 11 raka'at yang diimbangi dengan tuma'ninah
pernah bersabda. sampai-sampai mereka terpaksa bertelekan dan kekhusyu'an. Semoga Allah menambah
pada tongkat-tongkat mereka karena oleh taufik-Nya atas mereka untuk mengamalkan
"Artinya : Barangsiapa yang beribadah sebab lamanya berdiri. Dan mereka hanya dan menghidupkan As-Sunnah. Orang-orang
dibulan Ramadhan ini dengan penuh baru usai menunaikan shalat menjelang semacam mereka itu banyak terdapat di
keimanan dan perhitungan, niscaya akan fajar.[1] Damaskus dan di tempat-tempat lain.
diampuni baginya dosa-dosanya yang
terdahulu". Semua ini harus menjadi motivator bagi kita Hadist-hadits Yang Menganjurkan
sekalian untuk sebisa mungkin menjadikan Dibaguskannya Shalat, Serta Mengancam
Kita telah mengetahui, hal-hal yang baik shalat tarawih kita mendekati kualitas shalat Shalat Yang Tanpa Aturan
sekali lewat pembahasan terdahulu dalam mereka. Hendaknya kita memanjangkan
tulisan ini. Diantaranya tata cara shalat bacaannya, memperbanyak membaca tasbih Sebagai support bagi mereka agar terus
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di bulan dan dzikir dalam ruku', sujud dan diantara memperbagus dan menambah kualitas shalat,
13
serta sebagai peringatan bagi mereka untuk dari sujud hingga kamu tuma'ninnah dalam Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu
tidak shalat serampangan, saya akan duduk. Kemudian bersujud lagi hingga kamu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
membeberkan beberapa hadits shahih yang tuma'ninah dalam sujud. Kemudian sallam bersabda.
diriwayatkan berkaitan dengan anjuran bangkitlah dari sujud, hingga kamu tegak
memperbagus shalat dan ancaman terhadap berdiri. Kemudian lakukanlah itu dalam "Sesungguhnya manusia yang paling jelek cara
mereka yang shalat tanpa aturan. Saya shalat kamu seluruhnya". malingnya adalah orang yang mencuri dari
katakan. shalat-nya". Mereka bertanya : "Wahai
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (II : 1919, Rasulullah, bagaimana ia bisa mencuri dari
Yang Pertama : 219, 222, XI : 31, 467) Muslim (II : 10,11) shalatnya ?" Beliau menjawab : "Bisa, yaitu
Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu dan lain-lain. ketika ia tidak menyempurnakan ruku' dan
diceritakan bahwa seorang lelaki pernah sujudnya".
masuk masjid dan shalat, sedangkan Nabi Yang Kedua :
Shallallahu 'alaihi wa sallam berada di Dari Abu Mas'ud Al-Badri, bahwa ia berkata Dikeluarkan oleh Al-Hakim (I : 229), beliau
pojok masjid tersebut. (Seusai shalat) Ia : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-
mendatangi beliau seraya mengucapkan bersabda. Dzahabi. Hadits itu juga memiliki penguat dari
salam. Setelah menjawab salamnya, beliau hadits Abu Qatadah dan yang lainnya dalam
bersabda : "Shalatlah kamu,sesungguhnya "Artinya : Shalat seseorang itu tidak shah, riwayat Imam Malik (I : 181) dari hadits
tadi kamu belum shalat ". Orang itu balik sebelum ia meluruskan punggungnya baik Nu'man bin Murrah. Sanadnya shahih, tapi
lagi dan kembali shalat. Lalu menemui dalam ruku' maupun sujud". Mursal (terputusnya sanad dari Malik hingga
beliau lagi dan memberi salam. Setelah Rasul). Riwayat lain oleh Ath-Thayalisi, dari
menjawab salamnya, beliau bersabda lagi : Diriwayatkan oleh Abu Dawud (I : 136), An- hadits Abu Sa'id (I : 97) dan dishahihkan oleh
"Shalatlah kamu, sesungguhnya kamu Nasa'i (I : 157), At-Tirmidzi (II : 51), Ibnu Imam As-Suyuthi dalam bukunya "Tanwirul
belum lagi shalat". Pada kali yang ketiga Majah (I : 284), Ad-Darimi (I : 304), Ath- Hawalik".
lelaki itu berujar : "Tolong ajarkan aku". Thahawi dalam "Al-Musykil" (I : 80), Ath-
Beliaupun bersabda : Thayalisi (I : 97), Ahmad (IV : 119) dan Ad- Yang Keempat :
Daruquthni (hal 133) dan beliau berkomentar Dari para panglima perang ; Amru bin Al-'Ash,
"Apabila kamu hendak shalat, maka : Khalid bin Al-Walid, Syurahbil bin Hasanah
berwudhulah dengan sempurna kemudian dan Yazid bin Abu Sufyan ; mereka semua
menghadaplah kearah kiblat dan "Sanadnya shahih sekali". Dan memang bertutur.
bertakbirlah. Lalu bacalah ayat Al-Qur'an demikianlah adanya. Al-A'masy jelas
yang mudah bagimu, kemudian ruku'lah, meriwayatkannya dengan ucapan : "Telah "Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
hingga kamu tuma'ninah dalam ruku'. Lalu berbicara kepadaku ..." dalam riwayat Ath- sallam pernah melihat seorang lelaki yang
tegaklah berdiri, hingga kamu berdiri lurus. Thayalisi. tidak menyempurnakan ruku' dan sujud ibarat
kemudian bersujudlah hingga kamu ayam mematuk sedangkan ia dalam shalat.
tuma'ninah dalam sujud. Lalu bangkitlah Yang Ketiga : Maka beliau bersabda : "Seandainya lelaki ini
14
meninggal dalam kondisi semacam itu, 525). Para perawinya terpercaya dan Nasa'i (I : 179), Al-Baihaqi (II : 251), dan
berarti ia meninggal diluar garis agama dishahihkan oleh Al-Hafizh Al-Iraqi dalam Ahmad (IV : 25,26) dengan derajad sanad
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam "Takhriju Al-Ihya" (I/132). Al-Mundziri yang shahih berdasarkan persyaratan Muslim.
[ia mematuk dalam shalatnya itu tak berkomentar (I: 183) : "Sanadnya bagus ! Diriwayatkan juga oleh Ibnu Khuzaimah dan
ubahnya bagai seekor gagak yang " [3] Ibnu Hibban masing-masing dalam Shahihnya,
mematuki darah !] Perumpamaan orang sebagainya juga diriwayatkan dalam "Shahih
yang tak menyempurnakan ruku; dan ibarat Yang Keenam : At-Trghib wa At-Tarhib" (No. 5445).
ayam mematuk itu, seperti orang lapar Dari Ammar bin Yasir Radhiallahu 'anhu
yang makan satu dua biji kurma, artinya ia bahwa beliau berkata : Aku pernah Hadits-hadits nan mulia ini, secara umum dan
tak akan mendapat pahala sama sekali". mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa bebas meliputi seluruh jenis shalat. Baik itu
sallam bersabda. shalat wajib maupun sunnat, baik itu siang
Diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam "Al- maupun malam. Sehubungan dengan shalat
Arba'in", Al-Baihaqi (II : 89) dengan "Sesungguhnya seorang hamba itu terkadang tarawih, para ulama telah mengingatkan
derajad sanad yang hasan. Al-Mundziri shalat, namun hanya dicatat ganjarannya pentingnya hal ini. Imam An-Nawawi dalam
berkomentar (I : 182) :"Hadits ini seper sepuluh, seper sembilan, seper delapan, "Al-Adzkar" (IV : 297) dengan penjelasan
diriwayatkn oleh Ath-Thabrani dalam "Al- seper tujuh, seper enam, seper lima, seper Ibnu 'Allan pada bab dzikir-dzikir shalat
Kabir" dan Abu Ya'la dengan sanad yang empat, seper tiga, atau setengahnya" [4] tarawih menyatakan :
hasan serta Ibnu Khuzaimah dalam Diriwayatkan oleh Abu Daud (I : 127), Al-
shahihnya. Baihaqi (II : 281) dan Ahmad (IV : 319-321), "Tata cara shalat ini (tarawih) seperti juga
dari dua jalur sanad. Salah satunya shalat-shalat yang lain yang telah dijelaskan
Yang Kelima : Dari Thalaq bin Ali dishahihkan oleh Al-Hafizh Al-Iraqi dan sebelumnya. Maka didalamnya disyari'atkan
Radhiallahu 'anhuma bahwa beliau berkata dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam do'a-do'a tersebut, seperti doa Al-Istiftah,
: Rasulullah Shallalalhu 'alaihi wa sallam Shahihnya, sebagiamana juga dinyatakan membaca dengan sempurna dzikir-dzikir yang
berbsada : dalam "At-Taqrib" (I: 184) lain, melengkapinya dengan tasyahud dan doa
sesudahnya serta hal-hal yang lain. Hal ini,
"Artinya : Allah tak akan mamandang Yang Ketujuh : Dari Abdullah bin Asy- meskipun dhahirnya sudah kita ketahui, namun
shalat seorang hamba yang tidak Syikhir, bahwa ia bertutur : saya sengaja mengingatkannya karena saya
menegakkan punggunngnya ketika ruku lihat kebanyakan manusia meremehkannya,
dan sujud". "Artinya : Aku pernah mendatangi Nabi sehingga mereka meninggalkan sebagian
Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau dzikir-dzikirnya. Padahal yang benar adalah
Dikeluarkan oleh Ahmad (IV : 22), Ath- sedang shalat. Dari dalam perutnya terdengar apa yang telah kami paparkan".
Thabrani dalam "Al-Kabir", Adh-Dhayya gemericik, seperti gemerciknya air (yang
Al-Maqdisi dalam "Al-Mukhtarah" (II : 37) dimasak) dalam panci ; yakni karena Al-Amiri dalam "Bajhatul Mahafil wa
dan derajad sanadnya shahih. Hadits itu tangisan". Bughyatu Al-Amatsil fi Talkhisi As-Siyari wal
memiliki penguat dalam "Al-Musnad" (II : Diriwayatkan oleh Abu Dawud (I : 243), An- Mu'jizati wa Asy-Syamail" Pada akhir buku itu
15
menyatakan : "Artinya : Hari Kiamat baru akan datang, mereka justru habis-habisan mengurus
apabila yang benar sudah dianggap salah, persoalan lain ; yaitu mempertahankan shalat
Termasuk kekeliruan yang perlu dan yang salah sudah dianggap benar". 20 raka'at, bagaimanapun cara
diperhatikan dan diingat-ingat adalah apa pelaksanaannya. Meskipun bertentangan
yang menjadi kebiasaan banyak para imam Maka hendaknya, kita sekalian berpegang dengan cara shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wa
shalat tarawih, dimana mereka membaca teguh pada As-Sunnah. Kita harus berupaya sallam baik dari sisi kualitas maupun
ayat dengan cepat, melakukan rukun- menggapainya ; barangsiapa yang mengikuti kuantitas! Padahal salah seorang diantara
rukunnya dengan diringan-ringankan, dan kita (dalam As-Sunnah) maka ia akan mereka adalah imam masjid. Coba kita lihat
membuang dzikir-dzikir didalamnya. berhasil, selamat dan bahagia. As-Sayyid Al- bagaimana dia melakukan shalatnya.
Padahal para ulama telah menyatakan : Jalil Abu Ali Al-Fudhail bin Iyyadh [2]. Untuk mengetahui dzikir-dzikir tersebut,
Tata cara shalat itu tak beda dengan shalat- Rahimahullahu Ta'ala wa Radhiallahu 'anhu - silahkan gunakan buku kami " Shifat Shalat
shalat lainnya, baik dalam syarat, adab- semoga Allah melimpahkan manfaat karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam".
adab dan dzikir-dzikirnya, seperti ; do'a beliau-- menyatakan : Sesungguhnya buku itu adalah buku yang
istiftah, dzikir-dzikir pada setiap rukun, doa paling shahih dan lengkap dalam pembahasan
seusai tasyahud, dan lain-lain. Diantaranya "Janganlah kamu merasa phobi dengan jalan- itu, Alhamdulillah.
lagi, kebiasaaan mencari-cari ayat jalan kebenaran karena sedikit peminatnya, [3]. Adapun keraguna perawi (yang
"Rahmat", dimana mereka hanya ruku' dan jangan kamu terpedaya dengan meriwayatkan) dari Thalaq, tak membikin
setelah membaca ayat-ayat tersebut. banyaknya jumlah orang-orang yang akan hadits itu cacat.
Terkadang hal itu menggiring mereka binasa" [4]. Yang dimaksudkan, bahwa ganjaran itu
untuk melalaikan dua hal penting yang beragam, karena perbedaan orang yang shalat
termasuk adab-adab shalat dan bacaan, dalam kekhusyu'an, daya renungnya dan hal-
yaitu : Lebih memanjangkan raka'at [Disalin dari buku Shalatu At-Tarawih, edisi hal lain yang menimbulkan kesempurnaan
pertama dari kedua, dan memahami makna Indonesia Shalat Tarawih Penyusun Syaikh (Lihat "Al-Faidhul Qadir oleh Al-Manawi).
firman Allah yang saling terkait satu Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan
dengan yang lain. Penyebab semua adalah : Pustaka At-Tibyan hal. 151-162, Penerjemah
Sikap meremehkan sunnah-sunnah Nabi Abu Umar Basyir Al-Maidani]
Shallallahu 'alaihi wa sallam sehingga _________
hilanglah sunnah-sunnah itu, karena jarang Foote Note. Sumber :
digunakan. Sehingga orang yang [1] Para penulis "Al-Ishabah" sungguh tak http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&
menggunakannya malah dianggap asing mengacuhkan hal ini. Mereka tak sedikitpun article_id=1143&bagian=0
ditengah umumnya manusia, karena menyinggung-nyinggung persoalan ini, atau
menyelisihi kebiasaan mayoritas, dan itu menulis satu kata saja berkenaan dengan ini,
akibat kerusakan zaman. Rasulullah dalam upaya mendorong umat untuk
Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri pernah melakukannya. Seolah-olah hal itu tak
mengingatkan : penting bagi mereka sama sekali, tetapi
16
Kategori Bid'ah Dan Bahayanya bahkan telah banyak sebelumku dari para Macam :
rasul yang telah mendahuluiku.
Rabu, 10 Maret 2004 16:49:28 WIB [1] Bid'ah qauliyah 'itiqadiyah : Bid'ah
PENGERTIAN BID'AH Dan dikatakan juga : "Fulan mengada- perkataan yang keluar dari keyakinan, seperti
adakan bid'ah", maksudnya : memulai satu ucapan-ucapan orang Jahmiyah, Mu'tazilah,
MACAM-MACAM BID'AH cara yang belum ada sebelumnya. dan Rafidhah serta semua firqah-firqah
DAN HUKUM-HUKUMNYA (kelompok-kelompok) yang sesat sekaligus
Dan perbuatan bid'ah itu ada dua bagian : keyakinan-keyakinan mereka.
Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al- [1] Perbuatan bid'ah dalam adat istiadat [2] Bid'ah fil ibadah : Bid'ah dalam ibadah :
Fauzan (kebiasaan) ; seperti adanya penemuan- seperti beribadah kepada Allah dengan apa
penemuan baru dibidang IPTEK (juga yang tidak disyari'atkan oleh Allah : dan bid'ah
PENGERTIAN BID'AH termasuk didalamnya penyingkapan- dalam ibadah ini ada beberapa bagian yaitu :
penyingkapan ilmu dengan berbagai macam-
Bid'ah menurut bahasa, diambil dari bida' macamnya). Ini adalah mubah [a]. Bid'ah yang berhubungan dengan pokok-
yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada (diperbolehkan) ; karena asal dari semua adat pokok ibadah : yaitu mengadakan suatu ibadah
contoh. Sebelumnya Allah berfirman. istiadat (kebiasaan) adalah mubah. yang tidak ada dasarnya dalam syari'at Allah
Ta'ala, seperti mengerjakan shalat yang tidak
Badiiu' as-samaawaati wal ardli [2] Perbuatan bid'ah di dalam Ad-Dien disyari'atkan, shiyam yang tidak disyari'atkan,
"Artinya : Allah pencipta langit dan bumi" (Islam) hukumnya haram, karena yang ada atau mengadakan hari-hari besar yang tidak
[Al-Baqarah : 117] dalam dien itu adalah tauqifi (tidak bisa disyariatkan seperti pesta ulang tahun,
dirubah-rubah) ; Rasulullah Shallallahu kelahiran dan lain sebagainya.
Artinya adalah Allah yang mengadakannya 'alaihi wa sallam bersabda : "Artinya :
tanpa ada contoh sebelumnya. Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru [b]. Bid'ah yang bentuknya menambah-
(berbuat yang baru) di dalam urusan kami ini nambah terhadap ibadah yang disyariatkan,
Juga firman Allah. yang bukan dari urusan tersebut, maka seperti menambah rakaat kelima pada shalat
perbuatannya di tolak (tidak diterima)". Dan Dhuhur atau shalat Ashar.
Qul maa kuntu bid'an min ar-rusuli di dalam riwayat lain disebutkan : "Artinya :
"Artinya : Katakanlah : 'Aku bukanlah Barangsiapa yang berbuat suatu amalan yang [c]. Bid'ah yang terdapat pada sifat
rasul yang pertama di antara rasul-rasul". bukan didasarkan urusan kami, maka pelaksanaan ibadah. Yaitu menunaikan ibadah
[Al-Ahqaf : 9]. perbuatannya di tolak". yang sifatnya tidak disyari'atkan seperti
membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan
Maksudnya adalah : Aku bukanlah orang MACAM-MACAM BID'AH dengan cara berjama'ah dan suara yang keras.
yang pertama kali datang dengan risalah ini Juga seperti membebani diri (memberatkan
dari Allah Ta'ala kepada hamba-hambanya, Bid'ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua diri) dalam ibadah sampai keluar dari batas-
17
batas sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi Dan dalam riwayat lain disebutkan : yang beribadah yang keluar dari batas-batas
wa sallam sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
"Artinya : Barangsiapa beramal suatu amalan sallam dan shiyam yang dengan berdiri di terik
[d]. Bid'ah yang bentuknya menghususkan yang tidak didasari oleh urusan kami maka matahari, juga memotong tempat sperma
suatu ibadah yang disari'atkan, tapi tidak amalannya tertolak". dengan tujuan menghentikan syahwat jima'
dikhususkan oleh syari'at yang ada. Seperti (bersetubuh).
menghususkan hari dan malam nisfu Maka hadits tersebut menunjukkan bahwa
Sya'ban (tanggal 15 bulan Sya'ban) untuk segala yang diada-adakan dalam Ad-Dien Catatan :
shiyam dan qiyamullail. Memang pada (Islam) adalah bid'ah, dan setiap bid'ah Orang yang membagi bid'ah menjadi bid'ah
dasarnya shiyam dan qiyamullail itu di adalah sesat dan tertolak. hasanah (baik) dan bid'ah syayyiah (jelek)
syari'atkan, akan tetapi pengkhususannya adalah salah dan menyelesihi sabda Rasulullah
dengan pembatasan waktu memerlukan Artinya bahwa bid'ah di dalam ibadah dan Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Artinya :
suatu dalil. aqidah itu hukumnya haram. Sesungguhnya setiap bentuk bid'ah adalah
sesat".
HUKUM BID'AH DALAM AD-DIEN Tetapi pengharaman tersebut tergantung pada
bentuk bid'ahnya, ada diantaranya yang Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
Segala bentuk bid'ah dalam Ad-Dien menyebabkan kafir (kekufuran), seperti sallam telah menghukumi semua bentuk bid'ah
hukumnya adalah haram dan sesat, thawaf mengelilingi kuburan untuk itu adalah sesat ; dan orang ini (yang membagi
sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu mendekatkan diri kepada ahli kubur, bid'ah) mengatakan tidak setiap bid'ah itu
'alaihi wa sallam mempersembahkan sembelihan dan nadzar- sesat, tapi ada bid'ah yang baik !
nadzar kepada kuburan-kuburan itu, berdo'a
"Artinya : Janganlah kamu sekalian kepada ahli kubur dan minta pertolongan Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan dalam
mengada-adakan urusan-urusan yang baru, kepada mereka, dan seterusnya. Begitu juga kitabnya "Syarh Arba'in" mengenai sabda
karena sesungguhnya mengadakan hal bid'ah seperti bid'ahnya perkataan-perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
yang baru adalah bid'ah, dan setiap bid'ah orang-orang yang melampui batas dari "Setiap bid'ah adalah sesat", merupakan
adalah sesat". [Hadits Riwayat Abdu Daud, golongan Jahmiyah dan Mu'tazilah. Ada juga (perkataan yang mencakup keseluruhan) tidak
dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih]. bid'ah yang merupakan sarana menuju ada sesuatupun yang keluar dari kalimat
kesyirikan, seperti membangun bangunan di tersebut dan itu merupakan dasar dari dasar
Dan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi atas kubur, shalat berdo'a disisinya. Ada juga Ad-Dien, yang senada dengan sabdanya :
wa sallam bid'ah yang merupakan fasiq secara aqidah "Artinya : Barangsiapa mengadakan hal baru
sebagaimana halnya bid'ah Khawarij, yang bukan dari urusan kami, maka
"Artinya : Barangsiapa mengadakan hal Qadariyah dan Murji'ah dalam perkataan- perbuatannya ditolak". Jadi setiap orang yang
yang baru yang bukan dari kami maka perkataan mereka dan keyakinan Al-Qur'an mengada-ada sesuatu kemudian
perbuatannya tertolak". dan As-Sunnah. Dan ada juga bid'ah yang menisbahkannya kepada Ad-Dien, padahal
merupakan maksiat seperti bid'ahnya orang tidak ada dasarnya dalam Ad-Dien sebagai
18
rujukannya, maka orang itu sesat, dan memerintahkan penulisan Al-Qur'an, tapi disesuaikan sebelum wafat Rasulullah
Islam berlepas diri darinya ; baik pada penulisannya masih terpisah-pisah, maka Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka setelah itu
masalah-masalah aqidah, perbuatan atau dikumpulkan oleh para sahabat Radhiyallahu kaum muslimin mengumpulkan hadits-hadits
perkataan-perkataan, baik lahir maupun anhum pada satu mushaf (menjadi satu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
batin. mushaf) untuk menjaga keutuhannya. sebagai usaha untuk menjaga agar supaya tidak
hilang ; semoga Allah Ta'ala memberi balasan
Dan mereka itu tidak mempunyai dalil atas Juga shalat Tarawih, Rasulullah Shallallahu yang baik kepada mereka semua, karena
apa yang mereka katakan bahwa bid'ah itu 'alaihi wa sallam pernah shalat secara mereka telah menjaga kitab Allah dan Sunnah
ada yang baik, kecuali perkataan sahabat berjama'ah bersama para sahabat beberapa Nabi mereka Shallallahu 'alaihi wa sallam agar
Umar Radhiyallahu 'anhu pada shalat malam, lalu pada akhirnya tidak bersama tidak kehilangan dan tidak rancu akibat ulah
Tarawih : "Sebaik-baik bid'ah adalah ini", mereka (sahabat) khawatir kalau dijadikan perbuatan orang-orang yang selalu tidak
juga mereka berkata : "Sesungguhnya telah sebagai satu kewajiban dan para sahabat bertanggung jawab.
ada hal-hal baru (pada Islam ini)", yang terus sahalat Tarawih secara berkelompok-
tidak diingkari oleh ulama salaf, seperti kelompok di masa Rasulullah Shallallahu
mengumpulkan Al-Qur'an menjadi satu 'alaihi wa sallam masih hidup juga setelah [Disalin dari buku Al-Wala & Al-Bara Tentang
kitab, juga penulisan hadits dan wafat beliau sampai sahabat Umar Siapa Yang harus Dicintai & Harus Dimusuhi
penyusunannya". Radhiyallahu 'anhu menjadikan mereka satu oleh Orang Islam, oleh Syaikh Shalih bin
jama'ah di belakang satu imam. Sebagaimana Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan At-
Adapun jawaban terhadap mereka adalah : mereka dahulu di belakang (shalat) seorang Tibyan Solo, hal 47-55, penerjemah Endang
bahwa sesungguhnya masalah-masalah ini dan hal ini bukan merupakan bid'ah dalam Saefuddin.]
ada rujukannya dalam syari'at, jadi bukan Ad-Dien.
diada-adakan. Dan ucapan Umar
Radhiyallahu 'anhu : "Sebaik-baik bid'ah Begitu juga halnya penulisan hadits itu ada
adalah ini", maksudnya adalah bid'ah rujukannya dalam syariat. Rasulullah Sumber :
menurut bahasa dan bukan bid'ah menurut Shallallahu 'alaihi wa sallam telah http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&
syariat. Apa saja yang ada dalilnya dalam memerintahkan untuk menulis sebagian article_id=439&bagian=0
syariat sebagai rujukannya jika dikatakan hadits-hadist kepada sebagian sahabat karena
"itu bid'ah" maksudnya adalah bid'ah ada permintaan kepada beliau dan yang
menurut arti bahasa bukan menurut syari'at, dikhawatirkan pada penulisan hadits masa
karena bid'ah menurut syariat itu tidak ada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
dasarnya dalam syariat sebagai rujukannya. secara umum adalah ditakutkan tercampur
dengan penulisan Al-Qur'an. Ketika
Dan pengumpulan Al-Qur'an dalam satu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
kitab, ada rujukannya dalam syariat karena wafat, hilanglah kekhawatiran tersebut ;
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah sebab Al-Qur'an sudah sempurna dan telah
19