Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MATAKULIAH PENDIDIKAN MATEMATIKA KELAS RENDAH

Karakteristik Anak Sekolah Dasar dan Teori-teori Pembelajaran Matematika

di Susun Oleh:

Wahyu Hidayat Tarmizi Ihksan -

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MATARAM 2012

A.

KARAKTERISTIK ANAK SEKOLAH DASAR Berkaitan dengan atmosfir di sekolah, ada sejumlah karakteristik yang dapat diidentifikasi pada siswa SD berdasarkan kelas-kelas yang terdapat di SD.

1.

Karakteristik pada Masa Kelas Rendah SD (Kelas 1,2, dan 3) a. b. c. Ada hubungan kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah Suka memuji diri sendiri Apabila tidak dapat menyelesaikan sesuatu, hal itu dianggapnya tidak penting d. Suka membandingkan dirinya dengan anak lain dalam hal yang menguntungkan dirinya e. Suka meremehkan orang lain

2.

Karakteristik pada Masa Kelas Tinggi SD (Kelas 4,5, dan 6). a. b. c. d. Perhatianya tertuju pada kehidupan praktis sehari-hari Ingin tahu, ingin belajar, dan realistis Timbul minat pada pelajaran-pelajaran khusus Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah.

Menurut Jean Piagiet, usia siswa SD (7-12 tahun) ada pada stadium operasional konkrit. Oleh karena itu guru harus mampu merancang pembelajaran yang dapat membangkitkan siswa, misalnya penggalan waktu belajar tidak terlalu panjang, peristiwa belajar harus bervariasi, dan yang tidak kalah pentingnya sajian harus dibuat menarik bagi siswa. Hal ini dilakukan karena perhatian anak pada tingkat usia tersebut masih mudah beralih, artinya dalam jangka waktu tertentu perhatian anak dapat tertarik kepada banyak hal, tetapi waktu tertentu pula perhatian anak berpindahpindah. Sifat lain bahwa perhatian anak sering berfokus pada lingkungan terdekat. Kedekatan ini dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Bersifat langsung, misalnya dalam melihat pesawat terbang akan lebih tertarik pada bentuk dan warnanya dari pada fungsinya, artinya dalam memahami suatu konsep anak-anak lebih tertarik pada ujud benda

konkritnya. Begitu juga pengalaman yang termediasipun akan membawa anak kepada perhatian, misalnya bahan bacaan atau ceritera, sajian TV dapat mendekatkan anak pada dunia yang lebih luas.

B.

TEORI PEMBELAJARAN MATEMATIKA Dalam pembelajaran matematika.guru perlu memahami teori-teori belajar yang nantinya itulah yang dijadikan pedoman dalam membuat suatu metode pembelajaran. Ada beberapa teori-teori pembelajaran matematika menurut para ahli :

1.

Teori Belajar Menurut Van Hiele Teori ini menyatakan bahwa :Tiga unsur utama dalam pengajaran geometri, yaitu waktu, materi pengajaran dan metode pengajaran yang diterapkan, jika secara terpadu akan dapat meningkatkan kemapuan berfikir siswa kepada tingkatan berfikir yang lebih tinggi. Van Hiele menyatakan bahwa terdapat 5 tahap belajar siswa dalam belajar geometri, yaitu : a. Tahap Pengenalan Pada tahap ini siswa mulai belajar mengenal suatu bangun geometri secara keseluruhan namun belum mampu mengetahui adanya sifat-sifat dari bangun geometri yang dilihatnya. b. Tahap Analisis Pada tahap ini siswa sudah mulai mengenal sifat-sifat yang dimiliki bangun geometri yang diamatinya. c. Tahap Pengurutan Pada tahap ini siswa sudah mengenal dan memahami sifat-sifat suatu bangun geometri serta sudah dapat mengurutkan bangunbangun geometri yang satu sama yang lainnya saling

berhubungan. d. Tahap Deduksi Pada tahap ini siswa telah mampu menarik kesimpulan secara deduktif, yaitu menarik kesimpulan yang bersifat umum dan menuju ke hal yang bersifat khusus serta dapat mengambil kesimpulan.

e.

Tahap Akurasi Pada tahap ini siswa mulai menyadari pentingnya ketepatan

prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Tahap berfikir ini merupakan tahap berfikir yang paling tinggi, rumit, dan kompleks, karena di luar jangkauan usia anak-anak SD sampai tingakat SMP.

2.

Teori Belajar Menurut William Brownell Teori ini menyatakan bahwa :Belajar matematika merupakan belajar bermakna, dalam arti setiap konsep yang dipelajari harus benar-benar dimengerti sebelum sampai pada latihan atau hafalan. Brownell mengemukakan tentang Teori Makna (Meaning Theory) sebagai pengganti Teori Latihan Hafal/Ulangan (Drill Theory).

Intisari dari teori Drill adalah : a. Matematika untuk tujuan pembelajaran dianalisis sebagai

kumpulan fakta yang berdiri sendiri dan tidak saling berkaitan. b. Anak diharuskan menguasai unsur-unsur yang banyak sekali tanpa diperhatikan pengertiannya. c. Anak mempelajari unsur-unsur dalam bentuk seperti yang akan digunakan nanti dalam kesempatan lain. d. Anak akan mencapai tujuan ini secara efektif dan efisien dengan melalui pengulangan.

Brownell mengemukakan ada 3 keberatan utama berkenaan dengan teori Drill dalam pengajaran matematika, yaitu : 1. Teori drill memberikan tugas yang harus dipelajari siswa yang hampir tidak mungkin dicapai. 2. Keberatan yang lainnya berkaitan dengan reaksi yang dihasilkan oleh drill. 3. Tidak memadai dalam pengajaran aritmatika, karena tidak menyediakan kegiatan untuk berfikir secara kuantitatif.

Sedangkan intisari dari teori makna adalah : 1. 2. Anak harus melihat makna dari apa yang dipelajarinya. Teori drill dipakai setelah konsep, prisip, dan proses telah dipahami oleh siswa. 3. 4. Mengembangkan kemampuan berfikir dalam situasi kuantitatif. Program aritmatika membahas tentang pentingnya dan makna dari bilangan.

3.

Teori Belajar Menurut Jerome S. Brunner Teori ini menyatakan bahwa :Belajar matematika akan lebih berhasil jika proses pengajaran di arahkan kepada konsep-konsep dan stuktur yang termuat dalam pokok bahasan yang diajarkan dan dengan menggunakan alat peraga serta diperlukannya keaktifan siswa tersebut.

Brunner mengemukakan bahwa dalam proses belajar siswa melewati 3 tahap yaitu : a. Tahap Enaktif Dalam tahap ini siswa secara langsung terlibat dalam

memanipulasi objek.Yaitu dengan menggunakan benda-benda yang konkrit atau peritiwa yang biasa terjadi. Contoh: Budi mempunyai 2 pinsil, kemudian ibunya

memberikannya lagi 3 pinsil. Berapa banyak pinsil Budi sekarang ? b. Tahap Ikonik Dalam tahap ini kegiatan dilakukan siswa berhubungan dengan mental, di mana siswa mengubah, menandai, dan menyimpan peristiwa atau benda dalam bentuk bayangan mental.Misalnya dengan membayangkan dalam pikirannya tentang benda atau peristiwa yang dialaminya, walaupun benda tersebut tidak ada dihadapannya lagi atau dengan menggunakan gambar. Contoh :

+ =

c.

Tahap Simbolik Dalam tahap ini anak dapat mengutarakan bayangan mental tersebut dalam bentuk simpul dan bahasa.Anak tidak terikat lagi dengan objek-objek pada tahap sebelumnya dan sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek real. Contoh: 2 pinsil + 3 pinsil = pinsil

Berdasarkan hasil pengamatannya, Brunner merumuskan 5 teorema dalam pembelajaran matematika, yaitu : Teorema Penyusunan Menerangkan bahwa cara yang terbaik memulai belajar suatu konsep matematika, dalil, defenisi, dan semacamnya adalah dengan cara menyusun penyajiannya. Misalnya dalam

mempelajari penjumlahan bilangan positif dan negatif siswa mencoba sendiri dengan menggunakan garis bilangan. Teorema Notasi Menerangkan bahwa dalam pengajaran suatu konsep,

penggunaan notasi-notasi matematika harus diberikan secara bertahap, dari yang sederhana ke yang lebih kompleks. Teorema Pengkontrasan dan Keanekaragaman Menerangkan bahwa pengontrasan dan keanekaragaman sangat penting dalam melakukan pengubahan konsep matematika dari yang konkrit ke yang lebih abstrak.Dalam hal ini diperlukan banyak contoh.Contoh yang diberikan harus sesuai dengan rumusan yang diberikan.Misalnya menjelaskan persegi panjang, disertai juga kemungkinan jajaran genjang dan segi empat lainnya selain persegi panjnag.Dengan demikian siswa dapat

membedakan apakah segi empat yang diberikan padanya termasuk persegi panjang atau tidak. Teorema Pengaitan Menerangkan bahwa dalam matematika terdapat hubungan yang berkaitan antara satu konsep dengan konsep yang lain. Di mana materi yang satu merupakan prasyarat yang harus diketahui untuk mempelajari materi yang lain.

4.

Teori Belajar Menurut Prof. Robert M. Gagne Teori ini menyatakan bahwa Dalam pembelajaran matematika di SD diperlukan objek belajar matematika dan tipe-tipe belajar.

a.

Objek Belajar Matematika Menurut Gagne bahwa dalam belajar matematika dua objek yaitu objek langsung dan objek tidak langsung.Objek tidak langsung mencangkup kemampuan menyelidik, memecahkan masalah, disiplin diri, bersikap positif, dan tahu bagaimana semestinya belajar.

Objek-objek langsung pembelajaran matematika terdiri atas : 1. 2. 3. 4. Fakta-fakta matematika Ketrampilan-ketrampilan matematika Konsep-konsep matematika Prinsip-prinsip matematika

Objek-objek tak langsung pembelajaran matematika adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Kemampuan berfikir logis Kemampuan memecahkan masalah Sikap positif terhadap matematika Ketekunan Ketelitian

b.

Tipe-Tipe Belajar Telah dibedakan dari ke dalam 8 tipe belajar sampai yang kepada terurut yang

kesukarannya

yang

sederhana

kompleks. Urutan ke 8 tipe belajar itu adalah : 1. Belajar isyarat(signal learning), yaitu belajar sesuatu yang tidak disengaja. 2. Belajar stimulus respon(stimulus responses learning), yaitu belajar sesuatu dengan sengaja dan responnya adalah jasmani.

3.

Rangkaian gerak(motor learning), yaitu belajar dalam bentuk perbuatan jasmaniah terurut dari dua kegiatan atau lebih stimulus respon.

4.

Rangkaian verbal, yaitu berupa perbuatan lisan terurut dari dua kegiatan atau lebih stimulus respon.

5.

Belajar membedakan, yaitu belajar memisahkan rangkaian yang bervariasi. Ada dua macam belajar membedakan, yaitu a. Membedakan tunggal, yaitu berupa pengertian siswa terhadap suatu lambang. b. Membedakan jamak, yaitu membedakan beberapa lambang tertentu.

6.

Belajar konsep( concept learning), yaitu belajar atau melihat sifat bersama dari suatu benda atau peristiwa.

7.

Belajar aturan(rule learning), yaitu memberikan respon terhadap semua stimulus dengan segala macam perbuatan.

8.

Pemecahan masalah(problem solving), yaitu masalah bagi siswa bila sesuatu itu baru dikenalnya tetapi siswa telah memiliki prasyarat hanya siswa belum tahu proses

algoritmanya.

c.

Taksonomi Gagne Menurut Gagne tingkah laku manusia sangat bervariasi dan berbeda dihasilkan dari belajar. Kita dapat mengklasifikasikan tingkah laku sedemikian rupa sehingga dapat diambil implikasinya yang bermanfaat dalam proses belajar.Gagne mengemukakan bahwa ketrampilan-ketrampilan yang dapat diamati sebagai hasilhasil belajar disebut kemampuan-kemampuan atau disebut juga kapabilitas.

d.

Lima Macam Hasil Belajar Gagne Gagne mengemukakan 5 macam hasil belajar atau kapabilitas tiga bersifat kognitif, satu bersifat afektif dan satu bersifat

psikomotor.Hasil belajar menjadi lima kategori kapabilitas sebagai berikut :

1.

Informasi verbal Kapabilitas informasi verbal merupakan kemampuan untuk mengkomunikasikan secara lisan pengetahuannya tentang fakta-fakta.

2.

Ketrampilan Intelektual Kapabilitas ketrampilan intelektual merupakan kemampuan untuk dapat membedakan, menguasai konsep aturan, dan memecahkan masalah. Kapabilitas Ketrampilan Intelektual oleh Gagne dikelompokkan dalam 8 tipe belajar yaitu : a. b. c. d. e. f. g. h. Belajar Isyarat Belajar stimulus Respon Belajar Rangkaian Gerak Belajar Rangkaian Verbal Belajar membedakan Belajar Pembentukan konsep Belajar Pembentukan Aturan Belajar Memecahkan Masalah

3.

Strategi Kognitif Kapabilitas Strategi Kognitif adalah Kemampuan untuk mengkoordinasikan serta mengembangkan proses berfikir dengan cara merekam, membuat analisis dan sintesis.

4.

Sikap Kapabilitas Sikap adalah kecenderungan untuk merespon secara tepat terhadap stimulus atas dasar penilaian terhadap stimulus tersebut.

5.

Ketrampilan motorik Untuk dapat mengetahui seseorang memiliki kapabilitas ketrampilan motorik dapat dilihat dari segi kecepatan, ketepatan, dan kelancaran gerakan otot-otot serta anggota badan yang diperlihatkan orang tersebut.

e.

Fase-fase kegiatan Belajar menurut Gagne Robert M.Gagne adalah seorang ahli psikologi yang banyak melakukan penelitian diantaranya fase-fase kegiatan belajar yang dibagi dalam empat fase yaitu : a. b. c. d. Fase Aprehensi Fase Akuisisi Fase Penyimpanan Fase Pemanggilan

5.

Teori Belajar Menurut Jean Peaget Teori ini menyatakan bahwa Jika kita akan memberikan pelajaran tentang sesuatu kepada anak didik, maka kita harus memperhatikan tingkat perkembangan berfikir anak tersebut. Dengan teori belajar yang disebut Teori Perkembangan Mental Anak (Mental atau Intelektual dan Kognitif) atau ada pula yang menyebutnya Teori Tingkat Perkembangan Berfikir Anak telah membagi tahapan kemampuan berfikir anak menjadi empat tahapan yaitu : a. Tahap Sensori Motorik (sejak lahir sampai dengan 2 tahun) Bagi anak yang berada pada tahap ini,pengalaman diperoleh melalui perbuatan fisik(gerakan anggota tubuh)dan

sensori(koordinasi alat indra). b. Tahap Pra Operasinal (2 tahunsampaidengan7 tahun) Ini merupakan tahap persiapan untuk pengorganisasian operasi konkrit.Operasi konkrit adalahberupa tindakan- tindakan kognitif seperti mengklasifikasikan sekelompok objek,menata letak benda berdasarkan urutan tertentu,dan membilang c. Tahap Operasional Konkrit(7 tahunsampaidengan11 tahun) Umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami konsep kekekalan, kemampuan mengklasifikasi, mampu memandang

suatu objek dari sudut pandang yang berbeda secara objektif, dan mampu berfikir reversible. d. Tahap Operasional Formal (11 tahundanseterusnya)

Tahap ini merupakantahap akhir dari perkembangan kognitif secara kualitas.Anak pada tahap ini sudah mampu malakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang abstrak.Anak mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan objek atau peristiwanya langsung, dengan hanya menggunakan simbolsimbol, ide-ide, abstraksi dan generalisasi. Jadi, agar pelajaran matematika di SD dapat dimengerti oleh para siswa dengan baik, maka seyogianya mengajarkan sesuatu bahasan harus diberikan kepada siswa yang sudah siap untuk dapat menerimanya.

Tahapan perkembangan intelektual atau berfikir siswa di SD dalam Pembelajran Matematika yaitu : a. Kekekalan Bilangan (Banyak) Bila anak telah memahami kekekalan bilangan, amak ia akan mengerti bahwa banyaknya benda-benda itu akan tetap walaupun letaknya berbeda-beda. Konsep kekekalan bilangan umumnya dicapai oleh siswa usia 6 sampai 7 tahun. b. Kekekalan Materi (Zat) Anak baru bisa memahami yang sama atau berbeda itu dari satu sudut pandang yang tampak olehnya. Belum bisa melihat perbedaan atau persamaan dari dua karakteristik atau lebih. Hukum kekekalan materi umumnya dicapai oleh siswa usia 7 sampai 8 tahun. c. Kekekalan panjang Konsep kekekalan panjang umumnya dicapai oleh siswa usia 8 sampai 9 tahun. d. Kekekalan luas Hukum kekekalan luas umumnya dicapai oleh siswa usia 8 sampai 9 tahun. e. Kekekalan berat Hukum kekekalan sampai 10 tahun. berat umumnya dicapai oleh siswa usia 9

f.

Kekekalan isi Usia sekitar 14-15 tahun atau 11-14 tahun anak sudah memiliki hukum kekekalan isi.

g.

Tingkat pemahaman Tingkat pemahaman di usia SD masih mengalami kesulitan merumuskan defenisi dengan kata-katanya sendiri. Mereka belum dapat membuktikan dalil secara baik.

6.

Teori Belajar Menurut Van Eugen Teori ini menyatakan bahwa Tujuan pengajaran aritmatika adalah untuk membantu anak memahami suatu simbol yang mewakili suatu himpunan, kejadian, dam serentetan kegiatan yang diberi simbol itu harus langsung dialami oleh anak. Van Eugen (1949), seorang penganut teori makna mengatakan bahwa dalam situasi yang bermakna selalu terdapat 3 unsur, yaitu : a. b. Ada suatu kejadian (event), benda (object), atau tindakan (action). Adanya simbol (lambang/notasi/gambar) yang digunakan sebagai penyataan yang mewakili unsur pertama di atas. c. Adanya individu yang menafsirkan simbol-simbol yang mengacu kepada unsur pertama di atas. Van Eugen membedakan makna (meaning) dan mengerti

(understanding),.Mengerti mengacu pada sesuatu yang dimiliki oleh individu.Individu yang mengerti telah memiliki hubungan sebab akibat, implikasi logis dan sebaris pemikiran yang mengandungkan dua atau lebih pernyataan secata logis makna adalah sesuatu yang dibaca dari sebuah simbol oleh seorang anak. Dengan kata lain anak menyadari bahwa simbol adalah sesuatu pengganti suatu objek.

7.

Teori Belajar Menurut Edward L. Thondike Teori belajar ini menyatakan bahwa Pada hakekatnya belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respon dan belajar lebih berhasil bila respon siswa terhadap suatu stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasan.

Teori belajar stimulus-respon yang dikemukakan oleh Thorndike disebut juga dengan koneksionisme. Teori ini menyatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukkan hubungan antara stimulus dan respon.

8.

Teori Belajar Menurut Zoltan P. Dienes Teori ini menyatakan bahwa Tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkrit akan dapat dipahami dengan baik dan benda atau objek dalam bentuk pemainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika.

Dalam konsepnya itu, Dienes membagi tahap-tahap belajar dalam 6 tahap, yaitu : a. Permainan Bebas (Free Play) Yaitu dengan melakukan aktifitas yang tidak berstruktur dan tidak diarahkan.Di mana siswa mengadakan percobaan yang

mengotak-atik benda-benda konkrit dan abstrak dari unsur yang sedang dipelajarinya itu. b. Permainan yang Disertai Aturan (Games) Siswa meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. c. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for comunities) Siswa diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. d. Representasi (Representasi) Yaitu tahap pengambilan kesamaan sifat dari beberapa situasi yang sejenis.Para siswa menentukan representasi dari konsepkonsep tertentu yang bersifat abstrak.Dengan demikian telah mengarah pada pengertian struktur matematika yang sifatnya abtrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. e. Simbolisasi (Symbolization) Yaitu merumuskan representasi dari setiap konsep dengan menggunakan simbol matematika.

f.

Formalisasi (Formalization) Dalam hal ini siswa dituntut untuk menurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut.

9.

Teori Belajar Ausubel Teori ini terkenal dengan belajar bermaknanya dan pentingnya pengulangan sebelum belajar dimulai dan bahan pelajaran akan lebih mudah dipahami jika bahan itu dirasakan bermakna bagi siswa . Ausubel membedakan antara belajar menemukan dan belajar

menerima.Dalam belajar menerima siswa hanya menerima dan tinggal meghapalkan materi.Sedangkan pada belajar menemukan,siswa tidak menerima pelajaran begitu saja,tetapi konsep ditemukan oleh

siswa.Belajar bermakna lebih dilakukan dengan metode penemuan (discovery). Namun demikian, metode ceramah (ekspositori) bisa juga menjadi belajar bermakna jika berlajarnya dikaitkan dengan

permasalahan kehidupan sehari-hari, tidak hanya sampai pada tahap hapalan; bahan pelajaran harus cocok dengan kemampuan siswa dan sesuai dengan struktur kognitif siswa.

10. Teori Belajar Skinner Burhus Frederic Skinner menyatakan bahwa ganjaran atau penguatan mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses

belajar.Ganjaran merupakan respon yang sifatnya menggembirakan dan merupakan tingkah laku yang sifatnya subjektif.Penguatan merupakan sesuatu yang mengakibatkan meningkatnya kemungkinan suatu respon dan lebih mengarah kepada hal-hal yang sifatnya dapat diamati dan diukur. Dalam teori Skinner dinyatakan bahwa penguatan terdiri atas penguatan positif dan penguatan negatif.Contoh penguatan positif diantaranya adalah pujian yang diberikan pada anak setelah berhasil menyelesaikan tugas dan sikap guru yang bergembira pada saat anak menjawab pertanyaan.Skiner menambahkan bahwa jika respon siswa baik(menunjang efektivitas pencapaian tujuan)harus segera diberi

penguatan positif agar respon tersebut lebih baik lagi,atau minimalnya perbuatan baik itu dipertahankan

11. Teori Belajar Baruda (Belajar dengan Meniru) Baruda melihat juga adanya kelemahan dalam teori Skinner, yaitu bahwa respon yang diberikan siswa yang kemudian diberi penguatan tidaklah esensial, menurutnya yang eseinsial adalah bahwa seseorang akan belajar dengan baik melalui peniruan, melalui apa yang dilihatnya dari seseorng, tayangan, dll yang menjadi model untuk ditiru. Pengertian meniru ini bukan berarti mencontek,tetapi meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang lain,terutama guru.

12. Teori Belajar Polya Pemecahan masalah merupakan aktivitas intelektual yang paling tinggi. Pemecahan masalah harus didasarkan atas adanya kesesuaian dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa, supaya tidak terjadi stagnasi Tahapan pemecahan masalah: 1. 2. 3. Memahami masalah membuat rencana/cara penyelesaian masalah menjalankan rencana/menyelesaikan masalahdan mericek atau melihat kembali

13. Teori Belajar Pavlov Pavlov mengemukakan konsep pembiasaan(conditioning). Dalam kegiatan belajar, agar siswa belajar dengan baik maka harus

dibiasakan. Misalnya, agar siswa mengerjakan Pekerjaan Rumah dengan baik, biasakanlah dengan memeriksanya, menjelaskannya,

atau member nilai terhadap hasil pekerjaannya.

14. Teori Belajar Gestalt Gestalt menyatakan bahwa penguasaan akan diperoleh apabila ada prasyaratndan latihan hafal atau drill yang diulang-ulang sehingga tidak

mengherankan jika ada topic-topik di tata secara urut seperti perkalian bilangan cacah kurang dari sepuluh ( Rosseffendi,19993:115-116). Tokoh aliran ini adalah John Dewey.Ia mengemukakan bahwa pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan oleh guru harus memperhatikan hal-hal berikut ini: a. b. c. Penyajian konsep harus lebih mengutamakan pengertian Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar harus memperhatikan kesiapan intelektual siswa. Mengatur suasana kelas agar siswa siap belajar.

15. Teori Belajar Clark Hull Clark Hull mengemukaan konsep pokok teorinya yang sangat dipengaruhi oleh teori evolusi.Menurutnya tingkah laku seseorang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup.

16. Teori Belajar Bloom dan Krathwohl Teori Bloom dan Krathwohl mengemukakan tiga hal yang bisa dikuasai oleh siswa, meliputi: ranah kognitif, ranah psikomotor dan ranah Afektif. Tiga ranah itu tercakup dalam teori yang lebih dikenal sebagai Taksonomi Bloom.

17. Teori Belajar Kolb Kolb membagi tahapan belajar ke dalam empat tahapan, yaitu: a. b. c. d. pengalaman konkret pengamatan aktif dan reflektif konseptualisasi eksperimentasi aktif

18. Teori BelajarHabermas Habermas berpendapat bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia. Lebih lanjut ia mengelompokkan tipe belajar menjadi tiga bagian, yaitu: a. b. c. belajar teknis belajar praktis belajar emansipatoris

19. Teori Belajar Pask dan Scott Pask dan Scott juga membagi proses berpikir manjadi dua macam. Pertama pendekatan serialis yang menyerupai pendekatan algoritmik yang dikemukakan Landa. Jenis kedua adalah cara berpikir menyeluruh yaitu berpikir yang cenderung melompat ke depan, langsung ke gambaran lengkap sebuah sistem informasi.

20. Teori Belajar Landa Menurut Landa ada dua proses berpikir. Pertama disebut proses berpikir algoritmik, yaitu proses berpikir linier, konvergen, lurus menuju ke satu sasaran. Jenis kedua adalah cara berpikir heuristik, yakni cara berpikir divergen menuju ke beberapa sasaran sekaligus.

21. John Belajar Dewey (CTL) Teori ini menyatakan bahwa matematika itu harus mengkaitkan bahan pelajaran dengan situasi dunia nyata dengan dan mendorong siswa

menghubungkan

yang

dipelajari

kehidupan

sehari-hari,

pengalaman sesungguhnya dan penerapannya / manfaatnya Contoh strategi yang digunakan: authentic, inkuiri, praktek kerja,

pemecahan masalah

22. Teori Belajar Konstruktivisme Dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran matematika, yaitu: 1. Siswa mengkonstruksi pengetahuan matematika dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki, 2. 3. 4. Matematika menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti, Strategi siswa lebih bernilai, Siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.

Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme, tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran, sebagai berikut: 1. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, 2. Memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif, 3. 4. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru, Memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa, Mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

5. 6.