Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Manusia merupakan mahluk hidup yang membutuhkan air, dan di bumi air menutupi 70% dari permukaan. Namun air yang merupakan sumber kehidupan, dapat menjadi bencana dan kerugian bagi umat manusia bila tidak di atur sesuai dengan kebutuhan. Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada daerah tropis, sehingga hanya mempunyai dua iklim, yaitu panas dan hujan. Problematika banjir sering terjadi di Indonesia, khususnya kota-kota besar seperti Jakarta. Banyak faktor yang menyebakan hal tersebut, namun faktor yang paling besar di Indonesia adalah faktor sosial, dimana manusia-manusia di dalamnya yang kurang memahami sistem drainase. Kurangnya wawasan tersebut menimbulkan kurangnya kesadaran dan akhirnya prioritas permasalahan drainase menjadi berkurang. Selain itu kondisi drainase di Jakarta tidak memenuhi persyaratan dan tidak dapat menampung air hujan. Perencanaan drainasepun juga terkadang tidak memikirkan hirarki dari sistem drainase tersebut sehingga drainase asal dibuat saja. 1.2 Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai pentingnya drainase, dan konsep perancangan dan sistem drainase yang benar. Dengan adanya makalah ini harapan penulis adalah masyarakat sadar mengenai pentingnya drainasi dan konsep-konsep perancangan yang benar akan drainase. 1.3 Ruang lingkup Ruang lingkup dari makalah ini adalah penjelasan mengenai sistem drainase (tujuan dan konsep) dan perancangan drainase yang sesuai dengan perhitungan dan survei lapangan dari studi kasus Villa Nusa Indah III yang terletak pada daerah Cibubur. Batasan pembahasan makalah ini adalah sampai dengan desain dari sistem drainase tersebut. Sistem dimodifikasi dari eksisting dan direncanakan sistem baru yang lebih efektif. 1.4 Metode penulisan Metode penulisan laporan ini adalah sistem deskriptif, yaitu menggambarkan dan memaparkan kondisi eksisting dari sistem drainase dari Villa Nusa Indah III, sekaligus memaparkan tahapan perancangan sistem drainase yang didasarkan atas teori-teori dan perhitungan, sehingga dapat menampung beban hujan yang terjadi pada daerah tersebut. 1.5 Teknik pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan dengan sistem survei daerah eksisting, yaitu Villa Nusa Indah III. Survei dilakukan dengan melihat langsung kondisi lapangan, dan meminta data

dari developer kompleks tersebut. Teori-teori untuk pengolahan data tersebut didapat melalui kuliah Perancang Infrastruktur Keairan, dan literatur baik buku dan Internet. 1.6 Sistematika penulisan Bab I : Pendahuluan Bab ini mengenalkan hal-hal umum mengenai laporan. Dimulai dari latar belakang penulisan laporan, tujuannya, ruang lingkup penulisan, metode penulisan, teknik pengumpulan danta, hingga sistematika penulisannya. Bab II : Landasan Teori Bab ini memberikan penjelasan mengenai teori-teori yang digunakan, dan aplikasinya dalam perancangan. Bab III : Kondisi Umum Villa Nusa Indah III Bab ini berisikan sistem drainase dan kondisi eksisting dari Villa Nusa Indah III. Bab ini disertai dengan foto-foto kondisi eksisting. Bab IV : Perencanaan sistem drainase Villa Nusa Indah III Bab ini membahas mengenai perhitungan beban hujan sehingga didapat dimensi dari saluran dan desain dari sistem drainase keseluruhan kompleks. Bab V : Kesimpulan Bab terakhir ini menjadi penutup laporan dengan isi kesimpulan dari laporan ini.

BAB II LANDASAN TEORI


Ada dua landasan teori yang kami pergunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan tugas besar kami merancang desain hidrologi saluran di lingkungan kompleks Villa Nusa Indah III, yaitu landasan teori filosofis serta landasan teori perhitungan. Untuk landasan teori filosofis, kami berdasar atas kuliah yang diberikan oleh Bapak Herr yaiit Filosofi Pelestarian. Yang pertama dipahami adalah mengenai siklus hidrologi itu sendiri, bagaimana air itu memiliki siklus terhadap ruang dan waktu. Lalu kami mengaplikasikan cara mendelineasi atau membuat batas batas DAS dari komplek Villa Nusa Indah III dengan yang diberi kuliah oleh Bapak Herr tersebut. Setelah mendelineasi DAS, kami lalu harus memahami dan mengaplikasikan tentang rainfall run off model serta storm water runoff management yang terjadi di kompleks Villa Nusa Indah III. Untuk storm water runoff management, ada dua prinsip yang wajib untuk diingat yakni : 1. Memperlambat waktu puncak Tp untuk mengurangi debit puncak Qp. 2. Memperbesar infiltrasi I air ke dalam tanah untuk mengurangi air limpasan RO yang akan mengurangi debit puncak Qp. Dan bagian terakhir tetapi juga penting dari bagian terakhir kuliah Bapak Herr tersebut adalah perencanaan dan pembangunan desain hidrologi saluran harus lebih ramah dan berwawaskan lingkungan. Ini adalah cara yang alami untuk storm water runoff management seperti yang telah dijelaskan.

Untuk landasan teori perhitungan yang kami pergunakan diantaranya adalah dengan metode Thiessen, metode Gumbel, serta metode Mononobe. Metode Thiessen adalah metode yang dipergunakan dengan cara membagi DAS yang telah didelineasi menjadi beberapa bagian dimana bagian bagian tersebut bertemu di satu titik atau jika menjadi dua titik, maka ditarik garis untuk mempertemukan kedua titik tersebut. Setelah DAS terbagi menjadi beberapa sub DAS, maka dihitung luasan tiap sub DAS berdasarkan berapa banyak kotak yang meliputi sub DAS tersebut untuk kemudian dikalikan dengan skala yang dipergunakan. Metode Gumbel dipergunakan untuk melakukan perhitungan dari tabel yang tersedia dari stasiun hujan yang terdapat diantara sub DAS sub DAS yang telah dibuat dengan memepergunakan metode Thiessen. Misalkan terdapat sejumlah data dari tiap stasiun hujan sebesar n, maka yang pertama dicari adalah rata rata dari banyak data tersebut. Setelah mendapatkan rata rata dari tiap stasiun hujan, kita lalu menentukan S x dari tiap stasiun hujan. Setelah itu, ditentukan Ytr dari tiap stasiun hujan sesuai dengan periode hujan yang dipergunakan, misal periode hujan 2 tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, dan lain sebagainya. Setelah didapatkan Ytr, kita kemudian menentukan Yn serta Sn berdasarkan banyaknya data n yang ada. Dengan adanya Ytr, Yn, serta Sn, maka kita dapat menentukan Ktr dengan mengurangi Ytr dengan Yn lalu dibagi dengan Sn. Setelah mendapatkan nilai Ktr, kita dapat menentukan nilai Xtr atau Pdas dengan menjumlahkan Xrata rata dengan Ktr dengan dikalikan nilai Sx yang sebelumnya telah didapatkan. Lalu dengan membagikan Pdas dengan luas bobot area sub DAS, maka kita akan mendapatkan nilai P area. Terakhir, kami mempergunakan teori Mononobe untuk mengubah hujan harian maksimum dari periode yang telah kami dapatkan menjadi hujan lima menitan selama satu jam. Semua rumus dapat dilihat pada lembar lampiran.

BAB III KONDISI UMUM VILLA NUSA INDAH III


Nama Kompleks : Vila Nusa Indah 3 Lokasi wilayah : Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Bogor. Luas Lahan : 350000 m2 Tata guna lahan : Perumahan Tempat Ibadah Taman Ruang Serba Guna Pemakaman Batas-batas : Utara : Perkampungan Selatan: Perkampungan Barat : Sungai Cikeas, Kecamatan Jati Asih Timur : Perkampungan, Jalan Raya Ciangsana

BAB IV. PERENCANAAN SISTEM DRAINASE VILA NUSA INDAH III


Pada bab ini, akan dijelaskan mengenai aplikasi teori-teori pada bab sebelumnya. Teoriteori tersebut akan digunakan untuk menentukan dimensi saluran di Kompleks Vila Nusa Indah 3. Kompleks Vila Nusa Indah 3 memiliki banyak outlet, outlet-outlet tersebut langsung menuju ke Sungai Cikeas. Hal tersebut tidak baik, karena dapat mempercepat waktu untuk air di Sungai Cikeas cikeas mencapai Debit maksimum. Oleh karena itu, saluran air di Kompleks Vila Nusa Indah 3 perlu didesain ulang dengan membuat 1 outlet untuk satu kompleks agar air dari Kompleks Vila Nusa Indah 3 tidak cepat-cepat masuk ke sungai Cikeas dan juga tidak menggenang di Kompleks tersebut. IV.1. Penentuan DAS dan Sub DAS Dalam mendesain Saluran Air, Pertama-tama DAS dari Kompleks Vila Nusa Indah 3 perlu ditentukan. Selanjutnya dibuat Saluran Air Primer yang menuju ke sungai Cikeas. Kemudian Menentukan Sub DAS dari Kompleks Vila Nusa Indah 3, dan juga outputnya ke Saluran Primer. Penentuan Sub DAS ini berdasarkan arah aliran yang diketahui dari elevasi Kompleks Vila Nusa Indah 3. Saluran-saluran pada Sub DAS kompleks ini merupakan Saluran Sekunder.

Kompleks Vila Nusa Indah 3 ini dikelilingi oleh pagar sehingga air dari luar kompleks tidak masuk, namun pada area Kompleks Vila Nusa Indah 3 di Sub DAS D terdapat

saluran dari luar kompleks, sehingga pada Sub DAS D memperhitungkan aliran dari luar Kompleks, sehingga area diluar kompleks tersebut digabung ke dalam Sub DAS D. Setelah menetukan Sub DAS komplek, jarak aliran terjauh, elevasi maksimum, elevasi minimum, tata guna lahan dan luas area pada masing-masing Sub DAS perlu diketahui. Jarak aliran antar outlet tiap Sub DAS juga perlu diketahui. Berikut ini adalah data-data yang diperlukan dari tiap Sub DAS: a. Sub DAS A L = 560 m d. Sub DAS D Elevasi muka tanah maksimum = 50.2 m L=751.7 m Elevasi muka tanah minimum = 41.5 m Elevasi muka tanah maksimum = 55.5 m = 124.5 ft Elevasi muka tanah minimum = 46 m C = 0.405 = 138 ft A = 70000 m2 C = 0.435 CN = 85 A = 70000 m2 CN =75 b. Sub DAS B L=577 m e. Sub DAS E Elevasi muka tanah maksimum = 50.1 m L= 441 m Elevasi muka tanah minimum = 42 m Elevasi muka tanah maksimum = 44 m =126 ft Elevasi muka tanah minimum = 42.5 m C = 0.415 = 127.5 ft A = 105000 m2 C = 0.41 CN = 72 A = 35000 m2 CN = 85 c. Sub DAS C L=525 m f. Primer Elevasi muka tanah maksimum = 47.75 L= 1973.33 m m Elevasi muka tanah maksimum = 55.5 m Elevasi muka tanah minimum = 43 m Elevasi muka tanah minimum = 41 m = = 129 ft 123 ft C = 0.42 C = 0.41 CN = 75 A = 350000 m2 A = 70000 m2 Keterangan: L = Panjang Saluran terjauh C = Koefisien pengaliran A = Luas Area IV.2. Periode Ulang Hujan Jika data-data tersebut sudah cukup, dilanjutkan dengan mencari data curah hujan maksimum tahunan di Stasiun Hujan terdekat. Untuk Kompleks Vila Nusa Indah 3,

diambil data dari Stasiun Hujan Cikeas, karena Stasiun tersebut merupakan stasiun terdekat dan juga Stasiun yang mewakili. Dari data curah hujan maksimum tersebut, kita bisa mengetahui Curah Hujan Harian untuk Kompleks Vila Nusa Indah 3,. Dari data curah hujan harian kita dapat mengetahui Periode Ulang Hujan. Untuk Kompleks Vila Nusa Indah 3, digunakan Periode Ulang Hujan 20 tahunan saluran Primer, dan Periode Ulang Hujan 5 tahunan untuk Saluran Sekunder. IV.3. Debit Saluran Debit Saluran dapat dihitung dengan mengetahui Time Concentration (Tc) dari tiap Sub DAS. Time of Concentration didapatkan dari perbandingan Jarak aliran terjauh (L) dengan Kecepatan Manning (V), pada kompleks Vila Nusa Indah 3 digunakan V = 2.5 cfs (0.75 m/s). Setelah itu dengan menggunakan rumus Mononobe, bisa didapatkan Intensitas hujan Tc (Itc). Sebelumnya kita sudah mengetahui Luas Area (A) tiap Sub DAS dan juga tata guna lahan di area tersebut. Dari Tata guna lahan masing-masing Sub DAS, Koefisien Pengaliran (C) dari tiap Sub DAS bisa dihitung. Jika nilai Itc, A, dan C dari masing-masing Sub DAS sudah didapatkan maka kita bisa menentukan Debit Saluran (Q) dari tiap Sub DAS. Berikut adalah nilai Debit dari Tiap Sub DAS: a. Sub DAS A Tc=0.2 jam Itc= 116 mm/jam Q=C.Itc.A=0.9 m3/s b. Sub DAS B Tc=0.21 jam Itc= 132 mm/jam Q=C.Itc.A=1.6 m3/s c. Sub DAS C Tc=0.2 jam Itc= 122 mm/jam Q=C.Itc.A=1 m3/s IV.4. Dimensi Saluran Awal Berikutnya adalah menghitung Dimensi Saluran, mulai dari Saluran Primer hingga Saluran Sekunder. Untuk menghitung dimensi saluran diperlukan Debit (Q) dari saluran, d. Sub DAS D Tc=0.27 jam Itc= 96 mm/jam Q=C.Itc.A=0.9 m3/s e. Sub DAS E Tc=0.16 jam Itc= 137 mm/jam Q=C.Itc.A=0.6 m3/s f. Primer Tc=0.5 jam Itc= 63 mm/jam Q=C.Itc.A= 2.5 m3/s

Luas Penampang (A), Keliling Permukaan Saluran yang Terkena Air (P), Koefisien Manning (n) dan Koefisien Kemiringan (So). Dalam penghitungan dimensi saluran, Lebar Saluran (B) yang digunakan adalah 0.5 m untuk Saluran Sekunder dan 1 m untuk Saluran Primer. Lebar Saluran dengan nilai tersebut didasarkan pada Lebar Saluran eksisting. Hal ini dilakukan untuk mempermudah penghitungan dan juga dalam aplikasinya, kita tidak perlu lagi memperlebar saluran pada eksisting, cukup memperdalam tinggi saluran (H) jika diperlukan. Dari segi ekonomi juga dengan memperlebar saluran, kita juga perlu biaya untuk membeli tanah. Selain itu pada kondisi eksisting, di samping saluran air sudah terdapat Rumah dan juga Jalan. Penampang Saluran air pada kompleks Vila Nusa Indah 3 ini menggunakan material beton, sehingga koefisien manning (n) yang digunakan adalah 0.012. Untuk Koefisien kemiringan (So) didapatkan dari beda elevasi dari titik tertinggi dengan terendah DAS (Y) dibandingkan dengan jarak saluran terjauh (S). Tinggi Saluran (H) dibuat berdasarkan tinggi muka air (y) yang telah ditambahkan 30 % dari tinggi muka air sebenarnya. Dari data-data diatas, didapatkan dimensi tiap saluran sebagai berikut: a. Sub DAS A d. Sub DAS D B=0.5 m B=0.5 m So= 0.015 So= 0.012 y= 0.6 m y= 0.78 m H= 1 m H= 1 m b. Sub DAS B B=0.5 m So= 0.014 y= 0.95 m H= 1.5 m c. Sub DAS C B=0.5 m So= 0.01 y= 0.75 m H= 1 m e. Sub DAS E B=0.5 m So= 0.001 y= 0.5 m H= 1 m f. Primer B= 1 m So= 0.007 y= 0.8 m H= 1 m Saluran-saluran primer ini kemudian diuji kapasistasnya. Untuk menguji kapasitas dari tiap saluran, bisa digunakan program TR 20. Dalam TR 20, penampang saluran air memiliki diberi nama Cross Section, berikut adalah penamaan saluran airnya beserta panjangnya: a. xsect1 = Saluran air pada Sub DAS D b. xsect 2 = Saluran air pada Sub DAS C

c. xsect 3 = saluran air pada Sub DAS E d. xsect 4 = saluran air pada Sub DAS B e. xsect 5 = saluran air pada Sub DAS A f. xsect 6 = Saluran air dari output Sub DAS D ke output Sub DAS C = 560ft g. xsect 7 = Saluran air dari output Sub DAS C ke output Sub DAS E = 1533.33ft h. xsect 8 = Saluran air dari output Sub DAS E ke output Sub DAS B = 1426.66 ft i xsect 9 = Saluran air dari output Sub DAS B ke output Sub DAS A = 1466.66 ft j. xsect 10 = Saluran air dari output Sub DAS A ke sungai cikeas = 933.34 ft Untuk Xsect 1 hingga xsect 5 tidak ditampilkan, karena tidak digunakan secara langsung dalam penggunaan program TR20.

Input yang dibutuhkan dalam mengerjakan TR 20 adalah sebagai berikut: - Data Periode Ulang Hujan : Data yang digunakan adalah dengan siklus 20 tahun, dan dengan increment 15 menit (0.25 jam) - Data tiap Cross Section: Data yang dibutuhkan dari tiap cross section adalah Elevasi (H), Debit (Q) dan Luas Penampang (A) Saluran saat belum terisi hingga terisi. - Luas Area Tiap Sub DAS - Panjang tiap Saluran - CN tiap saluran - Time Concentration tiap saluran: Xsect 1 = 1.21 Jam Xsect 2 = 0.77 Jam Xsect 3 = 0.65 Jam Xsect 4 = 0.85 Jam Xsect 5 = 1.5 Jam

Setelah semua data-data diatas didapatkan, program TR 20 dapat dijalankan untuk mengetahui debit maksimum (Q), waktu saat debit mencapai maksimum (Tpeak) dan Elevasi air saat debit mencapai maksimum. Hasil pengujian menggunakan TR 20 adalah sebagai berikut: a. xsect 1 f. xsect 6 T peak = 2.46 jam T peak = 2.65 jam Q peak = 18.2 cfs Q peak = 18 cfs Elevasi maksimum = 136.85 ft Elevasi maksimum = 127 ft Elevasi muka tanah = 138 ft elevasi muka tanah = 129 ft b. xsect 2 T peak = 2.20 jam Q peak = 19.7 cfs Elevasi maksimum = 127.97 ft elevasi muka tanah = 139 ft c. xsect 3 T peak = 1.25 jam & 2.06 jam Q peak = 13.2 cfs & 12.7 cfs Elevasi maksimum = 125.92 ft elevasi muka tanah = 127.5 ft d. xsect 4 T peak = 2.27 jam Q peak = 26.6 cfs Elevasi maksimum = 126.14 ft elevasi muka tanah = 127.5 ft e. xsect 5 T peak = 2.47 jam Q peak = 23.0 cfs Elevasi maksimum = 124.06 ft elevasi muka tanah = 124.5 ft g. xsect 7 T peak = 2.93 jam Q peak = 33.7 cfs Elevasi maksimum = 126.08 ft elevasi muka tanah = 127.5 ft h. xsect 8 T peak = 3.25 jam Q peak = 42.0 cfs Elevasi maksimum = 124.87 ft elevasi muka tanah = 126ft i. xsect 9 T peak = 3.49 jam Q peak = 62.4 cfs Elevasi maksimum = 124.06 ft elevasi muka tanah = 124.5 ft j. xsect 10 T peak = 3.56 jam Q peak = 80.8 cfs Elevasi maksimum = 123.15 ft elevasi muka tanah = 123 ft

Keterangan: T peak = Waktu saat saluran air mencapai debit maksimum Q peak = debit maksimum Elevasi maksimum = tinggi air pada saat debit maksimum. Dari hasil pengujian menggunakan TR 20, Semua Saluran air dapat menampung air tanpa membuat limpasan, kecuali pada Cross Section 10. Karena elevasi muka tanah pada cross section 10 lebih kecil dari elevasi maksimumnya, maka air pada Cross Section 10 melimpas, sehingga dimensi saluran air pada cross section 10 perlu didesain ulang.

IV.5. Desain ulang Cross Section (xsect) 10 Cross Section 10 didesain ulang dengan memperdalam saluran. Desain yang dibuat adalah dengan menambah 30% dari desain sebelumnya yaitu dari H=1m menjadi H=1.25m. Setelah didesain ulang dengan H=1.25 m, Cross Section 10 kembali diuji menggunakan program TR 20. Hasil dari peorgram TR 20 menunjukan: T peak = 3.56 jam Q peak = 80.8 cfs Elevasi maksimum = 122.4 ft elevasi muka tanah = 123 ft Karena elevasi muka tanah sudah lebih besar dari elevasi maksimum, maka air tidak melimpas. Sehingga Desain ulang Cross Section 10 dapat digunakan. IV.6. Back Water Back Water adalah air yang masuk ke saluran akibat saluran utama mengalami elevasi maksimum. DAS A = XSect 3 = 2 Q peak = 13.2 cfs = 0.48 m3/s n = 0.012 A = 0.236 m2 P = 1.446 V = 2.03 m3/s R=0.16 DAS Primer = XSect 7 =1 Q peak = 33.7 cfs = 1.24 m3/s n = 0.012 A = 0.526 m2 P = 2.052 V = 2.35 m3/s R= 0.256 H1 XSect 7 = 0.526 m H2 XSect 3 = 0.473 m z1 = 0 z2 = 1.5 m maka didapatkan x = 4.6 m

Karena pada Cross Section 3 didapatkan x = 4.6 m, maka pada Output Cross Section 3 Perlu dibuat Tanggul kecil sepanjang 4.6 m dengan tinggi di hilir seharusnya 5.3 cm, tetapi dibulatkan menjadi 10 cm IV.7. Dimensi Saluran Akhir

10

Dimensi saluran akhir merupakan dimensi saluran yang akan digunakan dalam pengerjaan. Sehingga nilai pada dimensi saluran dibulatkan agar mempermudah pekerjaan. Berikut ini adalah data-data penampang tiap Saluran: a.xsect1 B=0.5 m H= 1 m b.xsect2 B=0.5 m H= 1 m c.xsect 3 B=0.5 m H= 1 m Dihilir ditambahkan tanggul dengan tinggi 10 cm, sejauh 4.6m. d.xsect 4 B=0.5 m H= 1.5 m e.xsect 5 B=0.5 m H= 1 m f.xsect 6 B= 1 m H= 1 m g.xsect 7 B= 1 m H= 1 m h.xsect 8 B= 1 m H= 1 m i.xsect 9 B= 1 m H= 1 m j.xsect 10 B= 1 m H= 1.25 m

V. KESIMPULAN
1. Desain system drainasi di suatu wilayah/komplek, harus memperhatikan filosofi drainase. Pada desain existing di komplek villa nusa indah 3, saluran drainase dari masing-masing sub DAS lansung dialirkan ke sungai cikeas, hal ini tentunya akan mengakibatkan puncak banjir dari sungai Cikeas akan lebih tinggi dan time concentration akan lebih pendek. Untuk menghindari hal ini, maka output saluran drainasi dari masing-masing Sub DAS tidak langsung dialirkan kesungai Cikeas, aliran ini dialirkan melalui saluran utama drainasi komplek. 2. Setelah dianalisa dengan TR20 didapat hasil sebagai berikut : a. Pada Sub DAS 1,2,3,4 dan 5 air pada saluran drainasi tidak melimpas. Ini berarti saluran yang direncanakan telah mampu mengalirkan air hujan periode kembali 20 tahunan. b. Pada Saluran utama, yang dibagi menjadi cross section 6,7 8,9 dan 10. seluruh aliran air pada saluran utama tidak melimpas, ini berarti dimensi saluran yang direncanakan mampu mengalirkan air hujan periode kembali 20 tahunan.

11

3.

Untuk melihat fenomena back water, maka dilakukan perhitungan di satu titik pertemuan aliran air, yaitu antara output cross section 3 dan output cross section 7. Setelah dilakukan perhitungan, didapat nilai back water sejauh 4,6 m.

DAFTAR PUSTAKA
Potter, M.C., dan Wiggert, D.C., Mechanics of Fluids, New Jersey: Prentice Hall, 1997 United States Deprtement of Agriculture, Urban Hydrology for Small Watersheds, Technical Release 55. Washhington D.C., 1986 The Hydrology Unit and The Technology development Support Stuff, Project Formulation Hydrology, Technical Release 20. (revisi) 1992.

12

LAMPIRAN
Rumus yang digunakan : Rumus Mononobe Contoh Perhitungan:
R 24 24 P= 24 t
2/3

145 24 P= 24 5

2/3

= 214.78

& Xtr = & x + Ktr + Sx 1 n Xi n i =n

& & x =

Ktr

Ytr Yn Sn & x ) (x &


i n 1 n 2

Sx =

n 1 m x100% n +1

P=

Q = C.I . A Q= 1 2/3 R So . A n

13

Perhitungan Periode Ulang Hujan 20 Tahunan

Periode Ulang Hujan 20 Tahunan

Positioning Villa Nusa Indah 3 Terhadap DAS Cikeas

14

15

Input TR 20

16

17

18

19

20

Gambar saluran existing

21