Anda di halaman 1dari 70

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI PERCOBAAN 1 PEMBUATAN SIMPLISIA

Disusun oleh : KELOMPOK 2 1. 2. 3. 4. 5. 6. IIN SOLIHATI KURNIA PUSPA HARLEYNDA IMROATUL KANZA A.A WIGATI NURAENI ABNER EDI S ADE RIZKI NUR A (G1F011013) (G1F011015) (G1F011017) (G1F011019) (G1F011021) (G1F011023)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2011

PERCOBAAN 1 PEMBUATAN SIMPLISIA

I. Tujuan Percobaan Mampu membuat simplisia dengan kandungan zat yang berkhasiat tidak mengalami kerusakan dan dapat disimpan (tahan lama).

II. Dasar Teori Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dibedakan simplisia nabati, simplisia hewani, dan simplisia pelikan (mineral). Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian tumbuhan, atau eksudat tumbuhan.Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni, misalnya minyak ikan (Oleum iecoris asselli) dan madu (Mel depuratum). Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni, contoh serbuk seng dan serbuk tembaga. Eksudat tumbuhan ialah isi sel yang secara spontan keluar dari tumbuhan isi sel yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya, atau senyawa nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tumbuhannya dan belum berupa senyawa kimia murni. Prinsip percobaan dalam pembuatan simplisia yaitu pengurangan kadar air. Dengan menurunkan kadar air dapat mencegah tumbuhnya kapang dan menurunkan reaksi enzimatik sehingga dapat dicegah terjadinya penurunan mutu atau pengrusakan simplisia. Selain itu untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan maupun kegunaannya, maka simplisia harus memenuhi persyaratan minimal. Untuk dapat memenuhi persyaratn minimal tersebut, ada beberapa faktor yang berpengaruh antara lain bahan baku simplisia, proses pembuatan, serta cara pengepakan dan penyimpanan.

Pemilihan sumber tanaman sebagai bahan baku simplisia nabati merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada mutu simplisia, termasuk di dalamnya pemilihan bibit (untuk tumbuhan hasil budidaya) dan pengolahan maupun jenis tanah tempat tumbuh tanaman obat. Proses pemanenan dan preparasi simplisia merupakan proses yang dapat memenuhi mutu simplisia dalam berbagai artian yaitu komposisi senyawa kandungan, kontaminasi dan stabilitas bahan. Namun demikian, simplisia sebagai produk olahan, variasi senyawa kandungan dapat diperkecil, diatur, dan diajegkan. Hal ini karena penerapan (aplikasi) IPTEK pertanian pasca panen yang terstandar. Berikut tahap-tahap pembuatan simplisia secara garis besar, diantaranya: 1. Pengolahan bahan baku Daun : daun tua atau muda (daerah pucuk) dipetik dengan tangan satu persatu Herba : tanaman dicabut dari tanah, diambil dengan umur yang seragam 2. Sortasi basah Sortasi basah dilakukan pada saat bahan masih segar. Proses ini untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing lainnya dari bahan simplisia. 3. Pencucian Pencucian bertujuan untuk menghilangkan kotoran dan mengurangi mikroba-mikroba yang menempel pada bahan. Pencucian harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin untuk menghindari larut dan terbuangnya zat yang terkandung dalam simplisia.

4.

Perajangan Pengubahan bentuk dilakukan dengan menggunakan pisau tajam yang terbuat dari bahan steinles.

5.

Pengeringan Pengeringan dilakukan untuk mengeluarkan atau menghilangkan air dari suatu bahan.keringDengan menurunkan kadar air dapat mencegah tumbuhnya kapang dan menurunkan reaksi enzimatik sehingga dapat

dicegah terjadinya penurunan mutu atau pengrusakan simplisia. Secara umum kadar air simplisia tanaman obat maksimal 10%. 6. Sortasi kering. Tujuan sortasi adalah untuk memisahkan benda asing, seperti bagianbagian yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang masih ada dan tertinggal. 7. Pengepakan dan penyimpanan Setelah bersih, simplisia dikemas dengan menggunakan bahan yang tidak berracun/tidak bereaksi dengan bahan yang disimpan. Pada kemasan diberi dicantumkan nama bahan dan bagian tanaman yang digunakan. Tujuan pengepakan dan penyimpanan adalah untuk melindungi agar simplisia tidak rusak atau berubah mutunya karena beberapa faktor, baik dari dalam maupun dari luar. Simplisia disimpan di tempat yang kering, tidak lembab, dan terhindar dari sinar matahari langsung.

III.

Alat dan Bahan 3.1 Alat Alat-alat yang digunakan dalam percobaan pembuatan simplisia yakni timbangan, pisau, gunting, aluminium foil, nampan. 3.2 Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum pembuatan simplisia yaitu daun dari bunga Hibiscus rosa-sinensis .

IV.

PROSEDUR PERCOBAAN 4.1 Cara Kerja 1. Bahan baku yang sudah dikumpulkan kemudian disiapkan dan ditimbang seksama sebanyak 50 gram (dicatat maassanya), kemudian ditempatkan diatas nampan bambu. 2. Disortasi basah terhadap tanah dan kerikil, rumput-rumputan, bahan/bagian tanaman lain, bagian tanaman yang rusak. 3. Dilakukan pencucian terhadap simplisia.

4. Diubah bentuknya meliputi perajangan (rimpang, daun, herba), pengupasan (buah, biji-bijian yang besar), pemotongan (akar, batang, ranting). 5. Ditempatkan dalam nampan dan dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 70o C. 6. Disortasi kering. 7. Ditimbang lagi dengan seksama dan dicatat massanya. 8. Dilakukan pengepakan dan disimpan. 9. Dibuat laporan kerja hasil praktikum

V. Hasil Bobot awal Lama pengeringan Suhu pengeringan Bobot akhir Rendemen : 49.9 gram : 7 jam : 70o C : 10,5gram : : x 100 x 100%

: 21,04%

Gambar 1.1 Bahan Baku Simplisia (Hibiscus rosa-sinensis folium)

Gambar 1.2 Simplisia Hibiscus rosa-sinensis folium VI. Pembahasan Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apa pun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang dikeringkan. Simplisia dibedakan menjadi simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan (mineral). 1. Simplisia nabati Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya, misalnya Datura Folium dan Piperis nigri Fructus. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat atau bahan-bahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan/diisolasi dari tanamannya. 2. Simplisia Hewani

Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zatzat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni, misalnya minyak ikan (Oleum iecoris asselli) dan madu (Mel depuratum). 3. Simplisia Pelikan atau Mineral Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni, contoh serbuk seng dan serbuk tembaga. Simplisia sebagai produk hasil pertanian atau pengumpulan tumbuhan liar (wild crop) tentu saja kandungan kimianya tidak dapat dijamin selalu ajeg (konstan) karena disadari adanya variabel bibit, tempat tumbuh, iklim, kondisi (umum dan cara) panen, serta proses pascapanen dan preparasi akhir. Walaupun ada juga yang berpendapat bahwa variabel tersebut tidak berakibat besar pada mutu ekstrak nantinya. Variabel tersebut juga dapat dikompensasi dengan penambahan/pengurangan bahan setelah sedikit prosedur analisis kimia dan sentuhan inovasi teknologi farmasi lanjutan sehingga tidak berdampak banyak pada khasiat produksi. Usaha untuk menjaga variabel tersebut dianggap sebagai usaha untuk menjaga mutu simplisia (Anonim, 1985). Syarat simplisia nabati / hewani meliputi : 1. Harus bebas serangga, fragmen hewan, kotoran hewan 2. Tidak boleh menyimpang dari bau, warna 3. Tidak boleh mengandung lendir, cendawan, menun jukkan tanda-tanda pengotoran lain 4. Tidak boleh mengandung bahan lain yang beracun atau berbahaya 5. Kadar abu yang tidak larut dalam asam maksimal 2% Sedangkan syarat pada simplisia pelican bahwa simplia tersebut harus bebas dari pengotoran tanah, batu, hewan, fragmen hewan dan bahan asing lainnya. Dalam hal simplisia sebagai bahan baku (awal) dan produk siap dikonsumsi langsung, dapat dipertimbangkan tiga konsep untuk menyusun parameter standar mutu yaitu sebagai berikut : 1. Bahwa simplisia sebagai bahan kefarmasian seharusnya mempunyai tiga parameter mutu umum suatu bahan (material), yaitu kebenaran

jenis(identifikasi), kemurnian (bebas dari kontaminasi kimia dan biologis), sertaaturan penstabilan (wadah, penyimpanan dan transportasi). 2. Bahwa simplisia sebagai bahan dan produk konsumsi manusia sebagai obattetap diupayakan memiliki tiga paradigma seperti produk kefarmasian lainnya,yaitu Quality-Safety-Efficacy (mutu-aman-manfaat). 3. Bahwa simplisia sebagai bahan dengan kandungan kimia yang

bertanggungjawab terhadap respons biologis untuk mempunyai spesifikasi kimia, yaituinformasi komposisi (jenis dan kadar) senyawa kandungan (Anonim,2008).

Proses pembuatan simplisia :

Pengumpulan bahan baku . Tahapan ini sangat menentukan kualitas bahan baku, dimana faktor yang paling berperan adalah masa panen. Misal : Biji, pada saat mulai mengeringnya buah atau sebelum semuanya pecah.

Sortasi basah . Sortasi basah adalah pemilahan hasil panen ketika tanaman masih segar, dilakukan terhadap : tanah dan kerikil, rumput-rumputan, bahan tanaman lain atau bagian lain dari tanaman yang tidak digunakan, serta bagian tanaman yang rusak (dimakan ulat).

Pencucian. Bertujuan untuk membersihkan kotoran yang melekat pada tanaman, terutama yang berasal dari dalam tanah (akar, umbi, rimpang, dsb), dan yang tercemar oleh pestisida.

Pengubahan bentuk. Bertujuan untuk meningkatkan luas permukaan bahan baku sehingga proses pengeringan akan berlangsung cepat. Contoh perlakuan untuk pengubahan bentuk: Perajangan pada rimpang, daun dan herba.

Pengeringan. Mengurangi kandungan air sampai kadar kurang lebih 10 %, proses pengeringan simplisia bertujuan untuk : 1. 2. 3. 4. Mengurangi kadar air, sehingga simplisia tidak mudah dikontaminasi oleh fungi/jamur dan bakteri Menghentikan aktivitas / kerja enzim Mengurangi atau mencegah perubahan kimia kandunngan yang berkhasiat Ringkas, mudah disimpan, tahan lama.

Sortasi kering. Merupakan pemilihan bahan setelah proses pengeringan, dimana bahan-bahan yang rusak( terlalu gosong, terlindas kendaraan) dan kotoran hewan yang mungkin terdapat didalamnya harus disortasi/dibuang.

Pengepakan dan penyimpanan. Pengepakan dilakukan dalam wadah tersendiri tiap-tiap simplisia dengan identitas (label) dan disimpan dengan baik. Persyaratan wadah yang digunakan : inert, tidak beracun, mampu melindungi simplisia dari cemaran, penguapan kandungan aktif, pengaruh cahaya, oksigen dan uap air. Wadah simplisia umumnya dipakai : karung goni, plastik, peti kayu, karton, kaleng tahan air, dan alumunium. Bahan cair menggunakan botol kaca, atau guci porselen. Bahan beraroma menggunakan peti kayu yang dilapisi timah atau kertas timah (Anonim, 1985).

Setelah dilakukan pengepakan dan penyimpanan, untuk menjaga keajegan mutu simplisia perlu dilakukan pemeriksaan mutu. Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan atau pemberiaanya dari pengumpul atau pedagang simplisia. Simplisia yang diterima harus berupa simplisia murni dan memenuhi persyaratan umum untuk simplisia. Simplisia yang bermutu adalah simplisia yang memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia, Materia Medika Indonesia. Kontrol kualitas merupakan parameter yang digunakan dalam proses standarisai suatu simplisia . Parameter standardisasi simplisia meliputi parameter nonspesifik dan spesifik. Parameter nonspesifik lebih terkait dengan faktor lingkungan dalam pembuatan simplisia sedangkan parameter spesifik terkait langsung dengan senyawa yang ada di dalam tanaman. Penjelasan lebih lanjut mengenai parameter standardisasi simplisia sebagai berikut: 1. Kebenaran simplisia Pemeriksaan makroskopik mutu dan simplisia dilakukan dengan caraorganoleptik, organoleptik dan

mikroskopik.

Pemeriksaan

makroskopik dilakukan dengan menggunakan indera manusia dengan memeriksa kemurnian dan mutu simplisia dengan mengamati bentuk dan ciri-ciri luar serta warna dan bau simplisia. Sebaiknya pemeriksaan mutu organoleptik dilanjutkan dengan mengamati ciri-ciri anatomi histologi terutama untuk menegaskan keaslian simplisia (Anonim, 2009). 2. Parameter nonspesifik Parameter nonspesifik meliputi uji terkait dengan pencemaran yang disebabkan oleh pestisida, jamur, aflatoxin, logam berat, dan lain-lain. a) Penetapan kadar abu Penentuan kadar abu dilakukan untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai diperoleh simplisia dan ekstrak baik yang berasal dari tanaman secara alami maupun kontaminan selama proses, seperti pisau yang digunakan telah berkarat). Jumlah kadar abu maksimal yang diperbolehkan terkait dengan kemurnian dan kontaminasi. Prinsip penentuan kadar abu ini yaitu sejumlah bahan dipanaskan

pada temperatur dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik yang tersisa. kadar abu = bobot akhir/bobot awal x 100% Penyebab kadar abu tinggi dapat berupa cemaran logam maupun cemaran tanah. b) Penetapan susut pengeringan Susut pengeringan adalah persentase senyawa yang menghilang selama proses pemanasan (tidak hanya menggambarkan air yang hilang, tetapi juga senyawa menguap lain yang hilang).Pengukuran sisa zat dilakukan dengan pengeringan pada temperatur 105C selama 30 menit atau sampai berat konstan dan dinyatakan dalam persen (metode gravimetri). Susut pengeringan = (bobot awal - bobot akhir)/bobot awal x100% Untuk simplisia yang tidak mengandung minyak atsiri dan sisa pelarut organik menguap, susut pengeringan diidentikkan dengan kadar air, yaitu kandungan air karena simplisia berada di atmosfer dan lingkungan terbuka sehingga dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan penyimpanan. c) Kadar air Tujuan dari penetapan kadar air adalah untuk mengetahui batasan maksimal atau rentang tentang besarnya kandungan air di dalam bahan. Hal ini terkait dengan kemurnian dan adanya kontaminan dalam simplisia tersebut. Dengan demikian, penghilangan kadar air hingga jumlah tertentu berguna untuk memperpanjang daya tahan bahan selama penyimpanan. Simplisia dinilai cukup aman bila mempunyai kadar air kurang dari 10%. Penetapan kadar air dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu: Metode titrimetri Metode ini berdasarkan atas reaksi secra kuantitatif air dengan larutan anhidrat belerang dioksida dan iodium dengan adanya dapar yang bereaksi dengan ion hidrogen.Kelemahan metode ini adalah stoikiometri reaksi tidak tepat dan reprodusibilitas bergantung pada beberapa faktor seperti kadar relatif komponen pereaksi, sifat pelarut inert yang digunakan untuk melarutkan zat dan teknik yang digunakan pada penetapan tertentu. Metode ini juga perlu

pengamatan titik akhir titrasi yang bersifat relatif dan diperlukan sistem yang terbebas dari kelembaban udara (Anonim, 1995). Metode azeotropi (destilasi toluena) Metode ini efektif untuk penetapan kadar air karena terjadi penyulingan berulang kali di dalam labu dan menggunakan pendingin balik untuk mencegah adanya penguapan berlebih. Sistem yangdigunakan tertutup dan tidak dipengaruhi oleh kelembaban(Anonim, 1995). kadar air ( v/b) = volume air yang terukur / bobot awal simplisia x 100% d) Kadar minyak atsiri Tujuan dari penetapan kadar minyak atsiri adalah untuk mengukur berapa banyak kadar minyak atsiri yang terdapat dalam simplisia. Penetapan dengan destilasi air dapat dilakukan karena minyak atsiri tidak dapat bercampur dengan air, sehingga batas antara minyak dan air dapat terlihat dan diukur berapa banyak kadar minyak atsiri yang ada pada simplisia tersebut. kadar minyak atsiri = volume minyak atsiri yang terukur/bobot sampel x 100%

e) Uji cemaran mikroba Uji aflatoksin Untuk mengetahi cemaran aflatoksin yang dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus. Uji angka lempeng total Untuk mengetahui jumlah mikroba/ bakteri dalam sampel. Batasan angka lempeng total yang ditetapkan oleh Departemen kesehatan yaitu 10^6 CFU/ gram. Uji angka kapang Untuk mengetahui adanya cemaran kapang.Batasan angka lempeng total yang ditetapkan oleh Departemen kesehatan yaitu 10^4 CFU/ gram. Most probably number (MPN)

Untuk mengetahui seberapa banyak cemaran bakteri coliform(bakteri yang hidup di saluran pencernaan) (Anonim, 2009).

3. Parameter spesifik Parameter ini digunakan untuk mengetahui identitas kimia dari simplisia.Uji kandungan kimia simplisia digunakan untuk menetapkan kandungan senyawa tertentu dari simplisia. Biasanya dilkukan dengan analisis kromatografi lapis tipis (Anonim, 2009). Pada umumnya cara kerja pembuatan simplisia yang dilakukan praktikan pada percobaan 1 dengan cara kerja pembuatan simplisia dalam pustaka sama. Berikut penjelasan mengenai cara kerja pembuatan simplisia yang dilakukan pada percobaan 1 : 1. Bahan baku (daun) yang telah disediakan dipilih menurut kriteria masingmasing bahan, tentunya bahan yang masih segar. Bahan baku kemudian ditimbang hingga diperoleh bobot awal kurang lebih 50 gram. Penimbangan ini dilakukan untuk mengontrol bobot simplisia akhir. Kemudian bahan baku diletakkan di wadah. 2. Bahan baku (daun) kemudian disortasi basah menggunakan air untuk memisahkan atau membuang benda-benda asing seperti tanah, kerikil, rumput liar, dan lain-lain dari bahan baku simplisia sehingga didapatkan bahan baku yang benar-benar layak untuk diproses selanjutnya. 3. Bahan baku (daun) dicuci sampai bersih. 4. Bahan simplisia diubah bentuk sesuai keadaan bahan. Dalam hal ini praktikan mendapatkan bahan baku simplisia berupa daun. Sehingga tidak perlu dilakukan pengubahan bentuk seperti perajangan, pemotongan, dan lain-lain dikarenakan bentuk daun sudah cukup kecil dan tipis. 5. Bahan baku (daun) ditempatkan pada wadah sesuai jenis bagian tanaman dan kandungan zat aktifnya untuk dilakukan pengeringan. 6. Bahan baku (daun) yang telah dikeringkan kemudian disortasi kering untuk memastikan simplisia berupa daun yang benar-benar memenuhi syarat (dalam artian tidak mengalami kerusakan) setelah dilakukan

pengeringan. Setelah pengeringan, daun sudah dapat disebut sebagai simplisia. 7. Simplisia ditimbang untuk mengetahui rendemen simplisia. Digunakan metode gravimetri, yaitu : Rendemen = berat akhir / berat awal x 100% 8. Simplisia dikemas dengan wadah yang sesuai dengan sifatnya, selanjutnya disimpan di tempat yang kering (Anonim, 2000).

Monografi simplisia Nama latin Nama lain Nama Tanaman Asal Keluarga : Hibiscus rosa-sinensis : Daun kembang sepatu : Hibiscus rosa-sinensis (L) : Malvaceae

Zat Berkhasiat Utama / Isi : Hibisetin, zat pahit, lender Penggunaan Pemerian : kompres, peluruh dahak : tidak berbau, rasa agak asin, berlendir

Bagian Yang Digunakan : Daun Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Morfologi daun kembang sepatu yaitu daun tunggal berwarna hijau kecokelatan dan tersusun spiral, helaian daun berbentuk bundar telur, panjang helaian daun 3,5 - 9,5 cm, lebar 2,0 - 6,0 cm, ujung daun meruncing, tepi daun bergerigi kasar, tulang daun menjari, tangkai daun panjang 1,0 - 3,7 cm (Anonim, 1995). Fungsi simplisia Hibiscus rosa-sinensis Akarnya berkhasiat menyejukkan dan menurunkan panasdemam yang keras Akar Hibiscus rosa - sinensis jika dicampur dengan akar Hibiscus tiliaceus danakar bahar putih bila digosokkan dan dimakan akan menyembuhkan rasa menusuk - nusuk pada lambung Daun berlendir,menyejukkan dan dapat mematangkan bisul Daun kembang sepatu ini dapat digunakan sebagai obat demam pada anak anak, obat batuk, dan obat sariawan Daun digunakan untuk membantu persalinan,diminum mempercepat kelahiran

Daun dan bunga yang dilumatkan dipakai sebagai obat bisul dan borok Daun atau bunga ditambah sedikit air dan gula batu diembunkan selama satu malam dan rendamannya diminum sebagai obat pereda pada penyakit kencing bernanah ( gonorrhoe ) Bunga jika dilumatkan dan diminum, berfungsi untuk memperlancar haid Bunga dapat dipakai sebagai bahan pewarna makanan, misal mewarnai cuka nira enau ( aren ) menjadi merah (Anonim, 1977).

Hasil rendemen yang didapatkan setelah percobaan yaitu %. Adapun hasil tersebut diperoleh dari : Rendemen = = x 100% x 100%

= 21,04% Rendemen merupakan perbandingan bobot akhir simplisia dengan bobot awal simplisia yang dinyatakan dalam persen. Hasil rendemen tersebut menggambarkan bahwa terjadi perbedaan bobot simplisia yang tergolong cukup besar yakni 21,04%. Hal ini menunjukkan bahwa faktor pengeringan memberikan pengaruh penting dalam susut pengeringan simplisia yakni dari bobot simplisia yang mula-mula 49,9 gram menjadi 10,5 gram.

VII.

Kesimpulan

Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apa pun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang dikeringkan Proses pembuatan simplisia : - Pengumpulan bahan baku - Sortasi basah - Pencucian - Pengubahan bentuk - Pengeringan - Sortasi kering Pengepakan dan penyimpanan Simplisia yang bermutu adalah simplisia yang memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia, Materia Medika Indonesia. Parameter standarisasi simplisia meliputi nonspesifik ( kadar air, kadar abu total, kadar abu tak larut asam, cemaran residu pestisida, cemaran logam berat, dan cemaran mikroba ) dan spesifik ( kadar sari larut air dan kadar sari larut alkohol serta kadar zat aktif ).

VIII. Daftar Pustaka

Anonim. 1985. Cara Pembuatan Simplisia. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Anonim. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Anonim. 1977. Materia Medika Indonesia, Jilid II. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Anonim. 2000. Simplisia.http://www.farmasi.usd.ac.id/projects/simplisia/. Diakses tanggal 12 Desember 2012 Anonim. 2009. Teknologi Pembuatan Simplisia. http://benkafarma.blogspot.com/2009/06/bagaimana-cara-membuat-ekstrakyang.html. Diakses tanggal 12 Desember 2012 Anonim. 2008. Definisi Simplisia. http://thepharmacyst.blogspot.com/2008/12/definisi-simplisia-definisisimplisia.html. Diakses tanggal 12 Desember 2012

PERCOBAAN 2 PEMERIKSAAN MAKROSKOPIK, ORGANOLEPTIK, DAN KADAR AIR

I.

Tujuan Percobaan 1. Mampu membedakan simplisia secara makroskopik (bentuk, ukuran, keadaan fisik lain yang spesifik) dan organoleptik (warna, bau, dan rasa) 2. Melakukan standarisasi mutu dengan penentuan kadar air simplisia.

II.

Dasar Teori Simplisia dapat berupa batang,kulit batang, daun,biji, buah,kulit buah,

bunga, ranting, atau tanaman utuh (bila merupakan tanaman kecil atau perdu) sehingga harus dapat dibedakan antara simplisia satu dan dengan lainnya. Salah satu cara yaitu membedakan simplisia secara makroskopik, yaitu membedakan simplisia berdasarkan bentuk, ukuran,dan keadaan fisik lain yang spesifik. Cara lain dalam membedakan simplisia yaitu secara organoleptik yaitu dengan mengamati warna, bau, rasa dari masing-masing simplisia. Hal ini perlu dilakukan karena simplisia memiliki kandungan zat aktif yang menyebabkan simplisia mempunyai rasa bau yang spesifik (Anonim, 2009) Setelah pembuatan simplisia penting untuk melakukan pemeriksaan mutu karena simplisia harus memenuhi persyaratan umum edisi terakhir dari buku-buku resmi (standar) yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI, seperti farmakope Indonesia, Ekstra Farmakope Indonesia, dan Materia Medika Indonesia (M M I). Jika tidak terantum maka harus memenuhi persyaratan seperti yang disebut pada paparannya (monografi). Kontrol prosesstandarisasi kualitas suatu merupakan simplisia. parameter Pemeriksaan yang mutu digunakan bertujuan dalam agar

simplisiamemenuhi syarat FI, EFI, MMI dan buku resmi yang disetujui pemerintah. Bermaksud agar adanya keseragaman komponen aktif, aman, berguna/ berkhasiat dan obat/ sediaan selalu tetap mutunya. Serangkaian parameter, prosedur dan cara pengukuran yang hasilnya merupakan unsur-unsur terkait paradigma mutu

kefarmasian, mutu dalam artian memenuhi syarat standar (kimia, biologi, dan farmasi). Tujuannya menjamin bahwa produk akhir (obat,ekstrak, atau produk ekstrak) mempunyai nilai parameter tertentu yangkonstan (ajeg) menjadi bahan obat yang berkualitas, aman, dan bermanfaat Bahan nabati masih mengandung kadar air yang cukup tinggi, sehingga untuk dijadikan simplisia perlu dikeringkan Standardisasi mutu dengan penentuan kadar air simplisia diperlukan agar simplisia tidak mudah rusak karena tercemar kapang atau jamur dan mikroba sebagai akibat dari kadar air yang cukup tinggi dalam bahan nabati, maka perlu dikeringkan.Pengeringan dilakukan sampai kadar air dalam bahan kurang dari 10 % (standar WHO) (Anonim, 1985) Pengkuran kadar air dapat dilakukan dengan cara titrasi, distilasi, atau gravimetri. Tujuannya untuk memberikan batasan maksimal atau rentang tentang besarnya kandungan air di dalam bahan. Nilai maksimal/ rentang yang diperbolehkan terkait dengan kemurnian dan kontaminasi (Siskhana, 2010) III. 1. Alat dan Bahan Alat Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu : oven, desikator, neraca analitik. 2. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu simplisia yang telah dibuat pada percobaan 1 dan beberapa simpilisia yang disediakan pada laboratorium yaitu : Orthosiphon folium, Foeniculli frucitus, Caryophily flos, Cardamomi fructus, Guazumae folium, Alstonia cortex, Piper cubeba, Biji klabet, Tinosporae caulis, Rosella flos, Star Anise fruit, Boesenbergiae rhizoma, Liquiritiae radix. IV. Cara Kerja

1. Pengamatan makroskopik Simplisia yang telah dibuat pada percobaan 1 disiapkan Simplisia yang tersedia pada laboratorium disiapkan Diamati bentuk simplisianya Diamati ukurannya

Dicatat hasilnya dalam tabel laporan percobaan dalam pemeriksaan

makroskopik, organoleptik, dan kadar air 2. Pengamatan organoleptik Simplisia pada percobaan 1 dan yang tersedia sisiapkan Diperiksa dengan cara dibaui ( dengan hidung ) dan dirasa ( dengan lidah ) Diamati warnanya Dicatat hasilnya dalam tabel laporan percobaan dalam pemeriksaan

makroskopik, organoleptik, dan kadar air 3. Uji kadar air secara gravimetri Simplisia hasil percobaan 1 disiapkan Ditimbang dengan seksama 10 gram Dikeringkan pada suhu 105C selama 1 jam Diambil dari oven Dimasukkan dalam desikator hingga suhu kamar Ditimbang lagi bobotnya Dimasukkan kembali ke dalam oven pada suhu 105oC selama 30 menit Diambil dan dimasukkan dalam desikator hingga suhu kamar Dihitung persen kadar air Ditimbang pada jarak 1 jam sampai perbedaan antara dua penimbangan

berturut tidak lebih dari 0,25 % Dicatat dalam tabel pengamatan pada laporan

V.

Hasil percobaan Uji makroskopik : Bentuk Ukuran : daun kering : sedang : kering

Keadaan fisik Uji organoleptik : Rasa Bau Warna

: hambar : tidak berbau : hijau kekuningan

Uji kadar air : Simplisia awal Berat alumuniun foil Penimbangan awal Penimbangan 1 jam Penimbangan 30 menit Kadar air : 10 gram : 1,5 gram : 11,5 gram : 9,2 gram : 8,8 gram : bobot awal-bobot akhir x 100% bobot awal : 10 gram 8,8 gram x 100% 10 gram : 12 % Bobot tetap : bobot setelah 1 jam-bobot akhir x 100% bobot setelah 1 jam : 92 gram 8,8 gram x 100% 9,2 gram : 4,3 %

Nama Gambar simplisia ,tanaman asal,famili Nama simplisia : Orthosiphon folium Tanaman asal : Orthosiphon oristatum Familia : Lamiacea Nama simplisia : Foeniculli fructus Tanaman asal : Familia : Apeaceae

Makroskopik

Mikroskopik

Bentuk : batang kering dan daun kering Ukuran : sedang

Warna : hitam kehijauan Rasa : tidak berasa Bau : khas menyengat

Bentuk : seperti padi Ukuran : kescil

Warna : kuning kehijauan Rasa : asin Bau : khas aromatic

Nama simplisia : Caryophilly flos Tanaman asal : Eugenia Caryophyllata Thunb Familia : Myulaceae Nama simplisia : Cardamomi fructus Tanaman asal : Amomum Cardamomum Auct. Familia : Zingiberacea Nama simplisia : Guazumae folium Tanaman asal : Guazuma ulmifolia Lamk. Familia : Sterculiacea Nama simplisia : Alostonia cortex Tanaman asal : Alostonia scolaris Familia : Apocynaceae Nama simplisia : Piper cubeba Tanaman asal : Piper cuceba L.K Familia : Piperaceae

Bentuk : seperti obor Ukuran : sedang

Warna : hitam kecoklatan Rasa : tidak berasa Bau : khas

Bentuk : bulat seperti bola Ukuran : sedang

Warna : coklat Rasa : mint Bau : khas

Bentuk : daun kering Ukuran : besar

Warna : hijau kecoklatan Rasa : tidak berasa Bau : khas

Bentuk : batang kayu Ukuran : besar

Warna : coklat kekuningan Rasa : hambar Bau : seperti kayu lapuk Warna : hitam Rasa : mint Bau : aromatik khas

Bentuk : bulat Ukuran : kecil

Nama simplisia : Biji klabet Tanaman asal : Trigonella folenum graceum L. Familia : Fabacea Nama simplisia : Tinosporae caulis Tanaman asal : Tinospora tuberculata Beumae Familia : Menispermacea Nama simplisia: Rosella flos Tanaman asal : Hibiscus sabdaniffa L. Familia : Illiceae Nama simplisia : Star Anise fruit Tanaman asal : Filicum verum Hools F Familia : Illiceae Nama simplisia : Boesenbergiae rhizoma Tanaman asal : Boesenbergiae pandurata Familia : Zingiberaceae

Bentuk : bulat lonjong Ukuran : kecil

Warna : coklat kehitaman Rasa : tidak berasa Bau : khas menyengat

Bentuk : batang bergerigi Ukuran : panjang(rajangan)

Warna : coklat Rasa : pahit Bau : khas aromatic

Bentuk : daun kering Ukuran : kecil

Warna : coklat kehitaman Rasa : asam Bau : khas menyengat Warna : merah kecoklatan Rasa : manis Bau : khas aromatic Warna : orange / putih kecoklatan Rasa : khas dan mint lemak,sedikit sepat Bau : khas lemah

Bentuk : seperti bintang Ukuran : sedang

Bentuk : rajangan pipih Ukuran : kecil

Nama simplisia : Kayu manis Tanaman asal : Cinnamomum burmanni Familia : Lauraceae VI. Pembahasan

Bentuk : batang panjang Ukuran : panjang agak besar

Warna : coklat muda Rasa : manis Bau : khas lemah

Monografi Hibiscus rosa-sinensis folium Daun Hibiscus rosa-sinensis merupakan daun tunggal berwarna hijau kecokelatan dan tersusun spiral, helaian daun berbentuk bundar telur, panjang helaian daun 3,5 - 9,5 cm, lebar 2,0 - 6,0 cm, ujung daun meruncing, tepi daun bergerigi kasar, tulang daun menjari, tangkai daun panjang 1,0 - 3,7 cm (Anonim,1995) Daun terdiri dari epidermis atas, kolenkim, rambut penutup, mesofi; dengan hablur kalsium oksalat bentuk roset, berkas pembuluh, palisade dengan hablur kalsium oksalat, jaringan bunga karang, stomata, dan epidermis bawah.Epidermis atas terdiri dari satu lapis sel berbentuk empat persegi panjang kadang - kadang diselingi lendir, lebih besar dari sel epidermis lainnya; rambut penutup jarang, berbentuk bintang dan mempunyai sel tunggal, serta dinding tebal.Epidermis bawah terdiri dari satu lapis sel yang serupa dengan sel epidermis atas; stomata hanya terdapat pada epidermis bawah. Mesofil meliputi jaringan palisade terdiri dari satu lapis sel; jaringan bunga karang berbentuk tidak teratur terdiri dari beberapa lapis sel, berongga; berkas pembuluh tipe kolateral. Pada sayatan paradermal tampak epidermis atas berbentuk poligonal, dinding antiklinal rata. Epidermis bawah dinding antiklinalnya berombak; stomata tipe anisositik (Anonim, 2010). Kegunaan Hibiscus rosa-sinensis diantaranya yaitu :

keras

Akarnya berkhasiat menyejukkan dan menurunkan panas demam yang

Akar Hibiscus rosa - sinensis jika dicampur dengan akar Hibiscus tiliaceus

dan akar bahar putih bila digosokkan dan dimakan akan menyembuhkan rasa menusuk - nusuk pada lambung Daun berlendir,menyejukkan dan dapat mematangkan bisul Daun kembang sepatu ini dapat digunakan sebagai obat demam pada anak

- anak, obat batuk, dan obat sariawan Daun digunakan untuk membantu persalinan,diminum mempercepat

kelahiran Daun dan bunga yang dilumatkan dipakai sebagai obat bisul dan borok Daun atau bunga ditambah sedikit air dan gula batu diembunkan selama

satumalam dan rendamannya diminum sebagai obat pereda pada penyakit kencing bernanah ( gonorrhoe ) Bunga jika dilumatkan dan diminum, berfungsi untuk memperlancar haid Bunga dapat dipakai sebagai bahan pewarna makanan, misal mewarnai

cuka nira enau ( aren ) menjadi merah (Anonim, 1979). Nama daerah : Rose de Chine ; Jerman: Chinesische Rose ; Inggris: Chinarose ; : Bunga raya, Kembang sepatu.Sumatera : Bungong raja, bunga -

Perancis Indonesia

bunga, soma - soma, bunga raja, kembang sepatu. Jawa : Uribang, kembang wera, wora - wari, bunga rebhang, mandhaleka. Nusa tenggara : Pucuk, Waribang. Sulawesi : Amburanga, embuhanga, kuyanga, ulango, bunga bisu, bunga sepatu. Maluku : Hua hualo, ubo - ubo. Irian : Dioh, gerasa, kando (Yashinta, 2011) Kandungan kimia

Daun : flavonoida, saponin dan polifenol Bunga : flavonoida, polifenol Akar : flavonoida, tanin dan saponin (Yashinta, 2011)

Simplisia yang memliliki mutu yang baik apabila telah sesuai dengan tolak ukur dari Farmakope Indonesia 1). Organoleptik Adalah pemeriksaan warna, bau dan rasa dari bahan simplisia . dalam buku resmi dinyatakan pemerian yaitu memuat paparan mengenai bentuk dan rasa yang dimaksudkan untuk menjadi petunjuk mengenal simplisia sebagai syarat baku 2). Makroskopik Yaitu memuat uraian makroskopik paparan mengenai bentuk, ukuran, warna, dan bidang patahan/ irisan (Anonim, 1979) . Praktikum yang dilakukan meliputi uji makroskopik, uji organoleptik, dan uji kadar air. Pada praktikum pengamatan mikroskopik, hanya diamatu bentuk simplisaia dan ukurannya tanpa diukur. Pada pengujian organoleptik, kami melakukan pengamatan terhadap warna, bau, dan rasa. Berikut ini prosedur yang hendaknya dilakukan. 1. Uji makroskopik

a.Simplisia diamati bentuknya Simplisia berupa daun (folium) diamati bentuk daun, bentuk tulang daun, bentuk tepi daun, bentuk ujung daun, bentuk pangkal daun, dan lain-lain. b.Simplisia diukur (panjang dan lebar) Simplisia diukur menggunakan penggaris meliputi panjang dan lebar daun. c.Simplisia diamati karakteristik makroskopik lainnya Simplisia yang mempunyai bentuk karakteristik lain yang dapat membedakan simplisia satu dengan simplisia lain diamati. 2. Uji organoleptik

a. Simplisia diamati warnanya Simplisia diamati warnanya, baik sisi bagian atas maupun bawah. b.Simplisia dibaui menggunakan hidung c.Simplisia dirasakan rasanya menggunakan lidah Penentuan kadar air simplisisa dilakukan terhadap simplisia yang telah dibuat pada percobaan 1 yaitu Hibiscus rosa-sinensis folium. Menurut literatur (Anonim,1995) prosedur penetapan kadar air yaitu :

Uji kadar air a. Simplisia ditimbang kurang lebih 10 gram

Penimbangan di awal percobaan bertujuan untuk mengetahui susut pengeringan setelah dilakukan pengeringan di akhir percobaan. b. c. d. e. Simplisia dimasukkan ke dalam wadah untuk dikeringkan Simplisia dikeringkan dalam oven dalam suhu 105o dalam waktu 30 s Simplisia kembali ditimbang Dilakukan pengeringan dalam interval 30 menit sampai bobot konstan Sebagian besar simplisia adalah simplisia nabati, yaitu simplisia yang berasal dari tumbuhan. Simplisia sebagai bahan baku (awal) dan produk siap konsumsi langsung harus memenuhi parameter mutu bahan, yaitu : 1. 2. 3. a. b. Kebenaran jenis (identifikasi) Kemurnian (bebas kontaminasi kimia & biologi) Stabilitas (wadah, penyimpanan, transportasi) meliputi : Trilogy produk kefermasian : Quality-Safety-Efficacy Spesifikasi kimia : komposisi (jenis & kadar) senyawa. Standarisasi (secara kefarmasian) adalah serangkaian parameter, prosedur dan cara pengukuran yang hasilnya merupakan unsur-unsur terkait paradigm mutu kefarmasian, mutu dalam artian memenuhi syarat standart (kimia,biologi, dan farmasi). Tujuan dari standarisasi yaitu untuk menjamin bahwa produk akhir (obat, ekstrak atau produk ekstrak) mempunyai nilai parameter tertentuyang konstan (ajeg), agar menghasilkan bahan obat yang berkualitas, aman, dan bermanfaat (Siskhana, 2010). Simplisia harus memenuhi persyaratan umum edisi terakhir dari bukubuku resmi Departmen Kesehatan RI, seperti Farmakope Indonesia, Ekstra Farmakope Indonesia, dan Materia Medika Indonesia (MMI). Untuk memenuhi persyaratan umum tersebut harus dilakukan pemeriksaan mutu fisis secara tepat, yaitu : 1.Kurang kering atau mengandung air 2.Termakan serangga atau hewan lain 3.Ada atau tidak pertumbuhan kapang 4.Perubahan warna atau bau (Anonim, 1979).

Selain itu, perlu juga dilakukan pemeriksaan secara lengkap, meliputi pemeriksaan organoleptik, mikroskopik, makroskopik, pemeriksaan kimiawi fisika, dan uji biologi. Beberapa persyaratan simplisia yang terdapat pada Farmakope Indonesiayaitu : 1. 2. Tidak boleh mengandung organisme pathogen. Harus bebas dari cemaran mikroorganisme, serangga & binatang lain,

maupun kotoran hewan. 3. 4. 5. Tidak boleh ada penyimpangan bau & warna. Tidak boleh mengandung lender atau menunjukkan adanya kerusakan. Kadar abu yang tidak larut dalam asam tidak boleh lebih dari 2%, kecuali

dinyatakan lain. Pemeriksaan makroskopik, dilakukan dengan mata telanjang mengamati keadaan morfologi dari simplisia uji yaitu daun kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis L.) untuk mencari kekhususan morfologi dan ukuran simplisia. Sedangkan pemeriksaan organoleptik dilakukan dengan mengamati warna, bau, dan rasa dari simplisia. Pada pemeriksaan organoleptik yang telah dilakukan, mendapatkan hasil, rasa hambar, tidak berbau, warna permukaan hijau kekuningan. Penetapan kadar air diperlukan untuk mengetahui batasan maksimal atau rentang tentang besarnya kandungan air didalam bahan. Hal ini terkait dengan kemurnian dan adanya kontaminan dalam simplisia tersebut. Dengan demikian penghilangan kadar air hingga jumlah tertentu berguna untuk memperpanjang daya tahan bahan selama penyimpanan. Simplisia dinilai cukup aman bila mempunyai kadar air kurang dari 10% (Anonim,1985). Penetapan kadar air dalam percobaan ini dilakukan dengan cara memasukkan 10 gr esimplisia yang telah disiapkan dan ditimbang dalam wadah yang telah ditara, kemudian keringkan pada suhu 105 C selama 1 jam dan ditimbang. Selanjutnya dilakukan pengeringan dan timbang pada jarak 1 jam sampai perbedaan antara dua penimbangan berturut-turut tidak lebih dari 0,25%. Namun, hasil yang diperoleh dari percobaan uji kadar air yang dilakukan tidak sesuai dengan pustaka yang ada, yaitu diproleh hasil 12 %. Sedangkan perbedaan antara dua penimbangan berturut-turut selama 1 jam diperoleh hasil 4,3 %. Hasil

ini juga tidak sesuai dengan pustaka. Beberapa faktor yang menyebabkan ketidaksesuaian tersebut diantaranya yaitu : 1. Waktu yang digunakan untuk pengeringan kurang lama, sehingga kandungan air di dalam bahan tidak menguap dengan maksimal. 2. Ketika pengepakan atau penyimpanan kurang teliti dan hati-hati, sehingga udara di dalam wadah simplisia tersebut menjadi lembab dan kadar air simplisia kembali naik. Makroskopik simplisia yang diamati berdasarkan literatur 1. 1. Daun Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus) Klasifikasi Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies 2. : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Lamiales : Lamiaceae : Orthosiphon : Orthosiphon spp.

Nama Daerah : Sumatera ; kumis kucing (Melayu), Jawa : Kumis kucing

(Sunda), remujung (Jawa), se-salaseyan, soengat koceng (Madura) (Materia Medika Indonesia Jilid IV,1980). 3. Morfologi tumbuhan : Kumis kucing merupakan tanaman terna yang

tumbuh tegak, pada bagian bawah berakar di bagian buku-bukunya, tinggi sampai 2 m, batang bersegi empat agak beralur, berambut pendek atau gundul. Helai daun berbentuk bundar telur lonjong, lanset, bundar telur atau belah ketupat yang dimulai dari pangkalnya, lancip atau tumpul, panjang 1 cm sampai 10 cm, lebar 7,5 mm sampai 5 cm; urat daun sepanjang tepi berambut tipis atau gundul, kedua permukaan berbintik-bintik karena adanya kelenjar yang jumlahnya sangat banyak, panjang tangkai 3 cm. Perbungaan berupa tandan yang keluar di ujung cabang, panjang 7 cm sampai 29 cm, di tutupi oleh rambut pendek berwarna ungu dan kemudian menjadi putih; gagang berambut pendek dan jarang, panjang 1 mm

sampai 6 mm. Kelopak bunga berkelenjar, urat dan pangkal berambut pendek dan jarang sedangkan di bagian yang paling atas gundul. Bunga bibir, mahkota berwarna ungu pucat atau putih, panjang 13 mm sampai 27 mm, di bagian atas di tutupi oleh rambut pendek yang berwarna ungu atau putih, panjang tabung 10 mm sampai 18 mm, panjang bibir 4,5 mm sampai 10 mm, helai bunga tumpul, bundar. Benang sari lebih panjang dari tabung bunga dan melebihi bibir bunga bagian atas. Buah geluk berwarna coklat gelap, panjang 1,75 mm sampai 2 mm. (Materia Medika Indonesia Jilid IV, 1980). 4. Penggunaan Simplisia 1. Infeksi saluran kencing atau sering kencing 2. Kencing yang tersendat dan disertai rasa sakit. 3. Darah tinggi 4. Demam. 5. Khasiat lain (infeksi ginjal dan kencing batu, penambah nafsu makan, panas dan encok). (Tanaman Obat Keluarga, 2008) 2. Eugenia caryophyllata Thunb 1. Divisi Sub divisi Kelas Bangsa Suku Marga Klasifikasi : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Myrtales : Myrtaceae : Eugenia

2.

Nama daerah : Baungeu lawang ( Gayo ),Bunga lawamg ( Batak ),Singhe ( Karo

Sumatera

),Bunga lasang (Toba ),Bunga cengkeh ( Minangkabau ),Cengkih ( Lampung ),Cengkeh ( Melayu ) Jawa Bali : Cengkeh ( Sunda ) Cengkeh ( Jawa ) Cengkeh ( Madura ) : Cengkeh

Kalimantan

: Cangke ( Dayak ngaju )

Nusa tenggara : Cangke ( Bima ) Sinke ( Flores ) Sulawesi laango Maluku : Bunga rawan ( Sangir ) Pungo lawan ( Gorontalo ) Bwungo ( Buol ) Cangke ( Makasar ) Cengke ( Bugis ) : Poirawane ( Seram ) Buglawa ( Buru ) Balawala ( Ternate )

Gomode ( Tidore ) 3. Morfologi tumbuhan : Pohon, tinggi 10 m : Berkayu, bercabang banyak, bulat, mengkilap, masih muda hijau,

Habitus Batang

setelah tua keunguan Daun : Tunggal, bulat telur, ujung dan pangkal runcing, tepi rata,

pertulangan menyirip, permukaan atas mengkilap, panjang 6-13,5 cm, lebar 2,5-5 cm, tangkai panjang 1-2 cm, masih muda merah setelah tua hijau Bunga : Majemuk, malai, tumbuh di ujung batang, kelopak bentuk corong,

pangkal berlekatan, mahkota bentuk bintang, panjang 4-5 mm, benang sari banyak, tangkai putik pendek, masih muda hijau setelah tua merah Khasiat gigi (Anonim,2010) 3. Amomum cardamomum 1. Klasifikasi : Plantae (Tumbuhan) : Bunga eugenia aromatica sebagai pelega perut, obat batuk, sakit

Kingdom

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Liliopsida (berkeping satu / monokotil) : Commelinidae : Zingiberales : Zingiberaceae (suku jahe-jahean) : Amomum : Amomum cardamomum L.

2.

Nama daerah Kapulaga, kapulogo, kadar-munggu, palago (Sumatera); kapol, kapulaga,

kapolagha, palagha (Jawa); kapulaha, karkolaka (Bali); garidimong, kapulaga (Sulawesi) 3. Morfologi tanaman Tinggi tanaman perdu berbatang semu ini mencapai 1,5 m. Rimpang berdaging agak keras dan bercabang. Daun duduk berbentuk lanset warna kuning merah dengan bagian pangkal meruncing atau berbentuk hati. Daun ini bereraroma terpentin bila diremas. Buah bulat telur dengan permukaan licin atau beralur. Tumbuhnya di hutan primer atau hutan jati pada ketinggian 200-1000 m dpl. Tanaman ini tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan. Ada 3 kultivar kapulaga, yaitu kapulaga merah besar dengan buah berkulit merah dan berdiameter sekitar 2 cm, kapulaga merah kecil dengan buah berkulit merah dengan diameter 1,2 cm, serta kapulaga putih dengan buah berkulit putih dan berdiameter 2 cm. Perbanyakan kapulaga bisa secara vegetatif maupun generatif. 4. Khasiat Kandungan minyak asiri kapulaga berkhasiat sebagai pengencer dahak (ekspektoran), pelancar pengeluaran gas dari perut (karminatif), penambah aroma, obat encok, obat mulas dan obat demam. (Mursito,2001) 4. Foeniculum vulgare Mill. 1. Klasifikasi : Plantae (Tumbuhan)

Kingdom

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Rosidae : Apiales : Apiaceae : Foeniculum : Foeniculum vulgare P. Mill.

2.

Morfologi tumbuhan

Terna berumur panjang, tinggi 50 cm-2 m, tumbuh merumpun. Satu rumpun biasanya terdiri dari 3-5 batang. batang jau kebiru-biruan, beralur, beruas, berlubang, bila memar baunya wangi. Letak daun berseling, majemuk menyirip ganda dua dengan siripsirip yang sempit, bentuk jarum, ujung dan pangkal runcing, tepi rata berseludang warna putih, seludang berselaput dengan bagian atasnya berbentuk topi. Perbungaan tersusun sebagai bunga payung majemuk dengan 6-40 gagang bunga, panjang ibu gagang bunga 5-10 cm, panjang gagang bunga 2-5 mm, mahkota berwarna kuning, keluar dari ujung batang. Buah lonjong, berusuk, panjang 6-10 mm, lebar 3-4 mm, masih muda hijau setelah tua cokelat agak hijau atau cokelat agak kuning sampai sepenuhnya cokelat. Namun, warna buahnya ini berbeda-beda, tergantung negara asalnya. Buah masak mempunyai bau khas aromatik, bila dicicipi rasanya mirip kanfer. 4. Khasiat

Buah masak mengandung bau aromatik, rasa sedikit manis, pedas, hangat, masuk meridian hati,ginjal, limpa, dan lambung. Berkhasiat menghilangkan dingin, melancarkan peredaran darah,penghilang nyeri (analgesik), menyehatkan

lambung, meningkatkan nafsu makan (stomakik),peluruh dahak, peluruh kentut (karminatif), dan merangsang produksi ASI (laktagoga). Daun berbau aromatik dan berkhasiat sebagai stimulan, peluruh kencing (diuretik), laktagoga,stomakik, dan menerangkan penglihatan. Herba berkhasiat sebagai anti-emetik. Akar sebagai pencahar dan diuretik. Sedangkan minyak dari buah (minyak adas, fennel oil) berkhasiat sebagai stimulan, karminatif, antibakteri, dan antelmintik. (Setiawan,1999)

5. Piper cubeba 1. Klasifikasi : Plantae : Magnoliophyta :Magnoliopsida :Piperales :Piperaceae :Piper : P.cubeba Nama daerah

Kerajaan Divisio Kelas Ordo Suku Marga Spesies 2.

Nama lokal : Kemukus 3. Morfologi tumbuhan

Kemukus (Piper cubeba) tumbuh memanjat hingga ketinggian 15 meter dan tebal batangnya bisa mencapai 2 cm Akar Bunga kemukus : Berakar serabut , kuning kecoklatan : Majemuk,bentuk bulir, panjang rinu berbentuk 3 10 cm . Bunga biasanya bersila bulir , yang

sering disebut

berhadap- hadapan dengan daun yang muncul pada buku daerah pucuk cabang . Buah yang akan tumbuh dari bulir itu berupa buah buni yang bertangkai . Batang Daun daun sirih : Berbuku - buku : Daun berbentuk bulat telur , dengan ujung runcing, mirip dan berwarna hijau gelap. Pada pangkal buku juga bisa keluar

tunas cabang yang baru, atau bunganya yang kelak menjadi buah . 4. Khasiat

Buah Piper cubeba berkhasiat sebagai obat sesak nafas , penghangat badan dan penghilang bau mulut . (Anonim,2007) 6. Guazumae ulmifolia Lamk 1. KLASIFIKASI : Plantae (Tumbuhan)

Kingdom

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Dilleniidae : Malvales : Sterculiaceae : Guazuma : Guazuma tomentosa Kunth.

Nama umum : jati belanda Sinonim 2. : Guazuyna tomentosa Kunth.

MORFOLOGI Tanaman pohon, tinggi kurang lebih 10 meter. Batang keras, bulat,

permukaan kasar, banyak alur, berkayu, bercabang, warna hijau keputih putihan. Daun tunggal, bulat telur, permukaan kasar, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal berlekuk, pertulangan menyirip, panjang 10-16 cm, lebar 3-6 cm, warna hijau. Bunga tunggal, bulat di ketiak daun, warna hijau muda. Buah kotak, bulat, keras, permukaan berduri, warna hitam. 3. MANFAAT Berkhasiat sebagai obat pelangsing tubuh menciutkan urat darah, sakit perut, kolera, adstringens, batuk, perut kembung, rasa sesak dan bijinya sebagai obat mencret,obat penyakit cacing,kaki gajah (Anonim,2011) 7. Cinnamomum burmannii 1. Klasifikasi Kingdom Division Class Order Family Genus Species 2. Nama daerah Nama daerahnya yaitu di Sumatra : holim, holim manis, modang siak-siak (Batak), kanigar, kayu manis (Melayu), madang kulit manih (Minangkabau). Jawa Huru mentek, kiamis (Sunda), kanyengar (Kangean). Kesingar (Nusa : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Laurales : Lauraceae : Cinnamon : Cinnamomum burmannii

Tenggara), kecingar, cingar (Bali), onte (Sasak), kaninggu (Sumba), Puu ndinga (Flores). 3. Morfologi Cinnamomum memiliki akar tunggang dan batang yang kuat dan keras, berkayu dan bercabang. Berbentuk pohon dengan tinggi 6-12 m. Kadang pula mencapai 15 m. Ranting tua gundul. Kulit dan daun kalau diremas berbau kayu manis yang kuat. Dimana semua bagian memiliki bau khas aromatik kayu manis. Daunnya merupakan daun tunggal (kadang-kadang bertulang melengkung) yang duduknya tersebar, kadang-kadang berhadapan, tidak mempunyai penumpu. Daun berpenulangan 3 ; panjang tangkai daun 0.5 cm sampai 1.5 cm. Pada prosesnya, daun berlawanan atau berganti warnanya. Awalnya berwarna merah muda kemudian berwarna hijau muda di atas. Daunnya berbentuk bulat telur atau elips memanjang dengan ujung membulat atau tumpul meruncing, 6-15 kali 4-7 cm, seperti kulit kuat. Bunga berada ditangkai yang yang panjang, lemah, dan kuncupnya lembut, bercabang dan duduk di ketiak dengan cabang yang berambut abu-abu. Merupakan bunga malai. Bunganya berkelamin tunggal dan taju tenda bunga biasanya 2-5 dan panjang 3-5 mm, berwarna putih kekuningan dimana dilihat dari luar terlihat berambut abu-abu keperak-perakan, Sedikit membuka tetapi tidak rontok dan dalam waktu yang sangat cukup setelah mekar akan sobek melintang. Biasanya tertanam pada tepi sumbu bunga. Bunga ini memiliki 4 ruang sari. Bunga Cinnamomum burmannii ini memiliki 12 benang sari dalam 3-4 lingkaran, biasanya tersusun dalam 4 lingkaran terdalam yang steril. Benangsari lingkaran ketiga mempunyai kelenjar di tengah-tengah tangkai sari. Buah adalah buah buni, panjang lebih kurang 1 cm. Didalam lingkaran tersebut terdiri atas sejumlah benang sari yang sama dengan jumlah daun-daun tenda bunga dalam lingkarannya, yang pada lingkaran dalam sering bersifat mandul sebagai staminodium dimana kepala sari membuka dengan katup. Bakal buah menumpang atau terdapat dalam lekukan dasar bunganya. Dimana mempunyai 1 bakal biji yang anatrop dengan 2 in-tegumen. Bakal buah menyerupai buah batu. Bijinya tidak memiliki endosperm, dimana lembaga memiliki daun lembaga yang besar

didalamnya. Daun, dan kulit batang (gelam) terdapat sel-sel yang mengandung minyak atsiri. Tanaman ini termasuk dalam tanaman CAM. 4. Manfaat Minyak cassia bersifat anti bakteri, biasa digunakan dalam pasta gigi, obat pencuci mulut dan dalam pem-buatan obat tonic. Selain itu banyak digunakan dalam flavor makanan dan minuman termasuk minuman beral-kohol dan minuman ringan. Dalam jumlah kecil digunakan dalam parfum dan kosmetik. Minyak cinnamon mempunyai sifat aniseptik, anti mikroba dan sebagai parasitisida. Minyak kulit dan daun cinnamon banyak digunakan sebagai pewangi sekaligus pengobatan dalam pasta gigi, pencuci mulut, obat batuk dan perawatan gigi, juga sebagai flavor dalam makanan dan minuman seperti dalam coca cola. Minyak daun cinnamon digunakan dalam sabun, kosmetik, toilet deodoran, dan parfum. Batas maksimum pemakaian dalam makanan dan minuman adalah 0,057% untuk minyak cinnamon dan 0,047% untuk minyak cassia (Anonimous, 2008) 8. Trigonella foenum-graecum L. 1. Klasifikasi : Plantae (Tumbuhan)

Kingdom

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies 2. : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Rosidae : Fabales : Fabaceae (suku polong-polongan) : Trigonella : Trigonella foenum-graecum L. Morfologi Terna tahunan, tumbuh tegak, tinggi 30 cm sampai 60 cm. Daun berbentuk bundar telur terbalik sampai bentuk baji. Bunga tunggal atau sepasang, keluar di ketiak daun, mahkota berwarna kuning terang. Buah polong gundul, memanjang atau berbentuk lanset. Buah berisi 10 sampai 20 biji.

3. Manfaat 1. Asma. 2. Batuk. 3. Haid tidak teratur. 4. Membangkitkan nafsu makan. 5. Pencernaan tidak baik. 6. Radang lambung. 7. Sakit kerongkongan. 8. Wasir. 9. Bisul (obat luar). 10. Rambut rontok (obat luar). 11. Rematik nyeri otot (obat luar). 12. Pelembut kulit (kosmetika). 9. Tinospora tuberculata Beumee 1. Klasifikasi : Plantae (Tumbuhan)

Kingdom

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies 2. : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Magnoliidae : Ranunculales : Menispermaceae : Tinospora : Tinospora tuberculata Beumee Morfologi

Deskripsi tanaman : tasnaman ini merupakan tanama perdu yang memanjat. Batang sebesar jari manis dengan banyak mata dan kutil. Bentuk tidak beraturan, berasa pahit, tidak keras dan berair. Daun berbentuk jantung atau panah dengan tangkai panjang dan besar. Bunga berwarna hijau muda, tiga seuntai dan tidak sempurna. Buah terdapat dalam tandan berwarna merah muda. 3. Manfaat

Antipiretikum, Tonikum, Antiperiodikum, Diuretikum, Antidiabetik. 10. Hibiscus sabdariffa L. 1. Klasifikasi : Plantae (Tumbuhan)

Kingdom

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies 2. a. : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Dilleniidae : Malvales : Malvaceae (suku kapas-kapasan) : Hibiscus : Hibiscus sabdariffa L. Morfologi tanaman rosella Batang Tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa L) mempunyai batang bulat, tegak, berkayu dan berwarna merah.tumbuh dari biji dengan ketinggian bisa mencapai 35 meter. b. Akar

Tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa L) mempunyai akar tunggal. c. Daun Tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa L) mempunyai daun tunggal berbentuk bulat telur, bertulang menjari, ujung tumpul, tepi bergerigi dan pangkal berlekuk, Panjang daun 6-15 cm dan lebar 5- 8 cm. Tangkai daun bulat berwarna hijau dengan panjang 4-7 cm d. Bunga

Tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa L) mempunyai bunga berwarna cerah, Kelopak bunga atau kaliksnya berwarna merah gelap dan lebih tebal jika dibandingkan dengan bunga raya/sepatu. Bunganya keluar dari ketiak daun dan merupakan bunga tunggal, yang berarti pada setiap tangkai hanya terdapat 1 (satu) bunga. Bunga ini mempunyai 8-11 helai kelopak yang berbulu, panjangnya 1 cm, yang pangkalnya saling berlekatan dan berwarna merah. Kelopak bunga ini sering dianggap sebagai bunga oleh masyarakat. Bagian inilah yang sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan minuman. e. Biji Tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa L) mempunyai biji berbentuk seperti ginjal hingga triangular dengan sudut runcing, berbulu, panjang 5 mm dan lebar 4 mm. 3. 1. Manfaat Kelopaknya yang mengandung ANTIOKSIDAN. Manfaat ANTIOKSIDAN

adalah: a. Dapat menghambat terakumulsinya radikal bebas penyebab penyakit kronis,

seperti kerusakan ginjal, diabetes, jantung koroner, dan kanker (darah) b. 2. Dapat mencegah penuaan dini Zat aktif pada kelopak bunga meliputi gossypetin, antosianin, dan glucoside

hibiscin. Semua itu bermanfaat untuk: a. b. c. d. 3. Diuretik (peluruh air seni) Menurunkan kekentalan darah Menurunkan tekanan darah Menstimulasi gerakan usus (antiseptic usus dan antiradang) Berkhasiat sebagai antisariawan dan pereda nyeri

11. Illicium verum Hook.f. 1. Klasifikasi : Plantae (Tumbuhan)

Kingdom

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi Kelas : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies 2.

: Magnoliidaeada : Illiciales : Illiciaceae : Illicium : Illicium verum Hook.f.

Morfologi

Pokok setinggi 8-20 meter ; kulit kayu putih. Daun berselang-seling,jenis ringkas,tangkai daun lebih kurang 1 cm panjang,lai daun 5-15 cm panjang dan I,5-5 cm lebar. Bunga dwijantina,1 kuntum tunggal dihasilkan pada satu ketiak daun,petal merah jambu keputihan,merah atau kuning kehijauan. Buah berbentuk bintang,2,5-4,5 cm ukuran garis pusat,setiap buah ada 5 -13 jejari dalam sususnan seperti sinar,jejari berwarna perang kemerahan merekah setelah masak,satu jejari satu biji. Biji berwarna perang cerah dan berkilat. 3. Manfaat Bunga lawang dijadikan rempah untuk menjadi penyedap rasa untuk makanan, sama seperti kulit kayu manis dan bunga cengkeh. Bunga lawang juga banyak dipakai dalam masakan India yang kaya rempah misalnya untuk kari. Bangsa Thailand, Vietnam, dan Indonesia juga banyak memakai bunga lawang untuk penyedap masakan. Di Indonesia, bumbu ini digunakan di beberapa daerah yang memiliki ciri khas masakan berbumbu tajam. Misalnya saja gulai Aceh, Rendang Padang, masakan Jawa, dan Bali. Selain menyedapkan masakan, bunga lawang juga memiliki khasiat kesehatan. Bumbu ini baik untuk mengatasi gangguan pencernaan dan memiliki fungsi diuretik atau melancarkan saluran kencing. Selain itu digunakan juga untuk pengobatan tradisional di Asia, contohnya untuk sakit sendi. 12. Boesenbergia pandurata 1. Divisi Kelas Klasifikasi tumbuhan : Magnoliophyta : Liliopsida

Ordo Famili Genus Spesies 2.

: Zingiberales : Zingiberaceae : Boesenbergia : Boesenbergia pandurata Uraian tumbuhan

Temu kunci berperawakan herba rendah, merayap di dalam tanah. Dalam satu tahun pertumbuhannya 0,3-0,9 cm. Batangnya merupakan batang asli di dalam tanah sebagai rimpang, berwarna kuning coklat, aromatik, menebal, berukuran 5-30 x 0,5-2 cm. Batang di atas tanah berupa batang semu (pelepah daun). Daun tanaman ini pada umumnya 2-7 helai, daun bawah berupa pelepah daun berwarna merah tanpa helaian daun. Tangkai daun tanaman ini beralur, tidak berambut, panjangnya 7-16 cm, lidah-lidah berbentuk segitiga melebar, menyerupai selaput, panjang 1-1,5 cm, pelepah daun sering sama panjang dengan tangkai daun; helai daunnya tegak, bentuk lanset lebar atau agak jorong, ujung daun runcing, permukaan halus tetapi bagian bawah agak berambut terutama sepanjang pertulangan, warna helai daun hijau muda, lebarnya 5-11 cm. Bunga tanaman ini berupa susunan bulir tidak berbatas, di ketiak daun, dilindungi oleh 2 spatha, panjang tangkai 41 cm, umumnya tangkai tersembunyi dalam 2 helai daun terujung. Kelopak bunganya 3 buah lepas, runcing. Mahkota bunganya 3 buah, warnanya merah muda atau kuning-putih, berbentuk tabung 5052 mm, bagian atas tajuk berbelah-belah, berbentuk lanset dengan lebar 4 mm dan panjang 18 mm. Benang sarinya 1 fertil besar, kepala sarinya bentuk garis membuka secara memanjang. Lainnya berupa bibir-bibiran (staminodia) bulat telur terbalik tumpul, merah muda atau kuning lemon, gundul, 6 pertulangan, dan ukurannya 257 cm. Putik bunganya berupa bakal buah 3 ruang, banyak biji dalam setiap ruang (Plantus, 2008). 3. Manfaat

Secara umum, masyarakat menggunakan rimpang temu kunci sebagai peluruh dahak atau untuk menanggulangi batuk, peluruh kentut, penambah nafsu makan, menyembuhkan sariawan, bumbu masak, dan pemacu keluarnya Air Susu Ibu

(ASI). Minyak atsiri rimpang temu kunci ( Boesenbergia pandurata) juga berefek pada pertumbuhan Entamoeba coli, Staphyllococus aureus dan Candida albicans; selain itu dapat berefek pada pelarutan batu ginjal kalsium secara in vitro. Perasan dan infusa rimpang temu kunci memiliki daya analgetik dan antipiretik. Di samping itu dapat mempunyai efek abortivum, resorpsi dan berpengaruh pada berat janin tikus. Ekstrak rimpang yang larut dalam etanol dan aseton berefek sebagai antioksidan pada percobaan dengan minyak ikan sehingga mampu menghambat proses ketengikan. Dari penelitian lain diperoleh informasi bahwa ekstrak rimpang temu kunci dapat menghambat bakteri isolat penyakit Orf (Ektima kontagiosa) (Plantus, 2008).

VII.

Kesimpulan Simplisia dapat berupa batang, kulit batang, daun, biji, buah, kulit buah, bunga, ranting atau tanaman utuh (bila merupakan tanaman kecil atau perdu).

Pengeringan simplisia dilakukan sampai kadar air dalam bahan kurang dari 10% (standar WHO). Menghitung kadar air dalam bahan menggunakan cara berat simplisia awal dikurang berat simplisia akhir di bagi dengan berat simplisia awal dikali 100%

VIII. Daftar Pustaka

Anonim. 1979. Materia Medika Indonesia, Jilid V. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Anonim. 1985. Cara Pembuatan Simplisia. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Anonim. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Anonim. 2009. Teknologi Pembuatan Simplisia. http://benkafarma.blogspot.com/2009/06/bagaimana-cara-membuat-ekstrakyang.html. diakses tanggal 7 Desember 2012. Anonim. 2010. Hibiscus rosa-sinensis. http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=82. diakses tanggal 7 Desember 2012 Anonim.1980.Materia Medika Indonesia Jilid IV. Jakarta : Depkes RI Anonim.2010.Cengkeh.http://www.plantamor.com diakses pada 10 Desember 2012 Plantus. 2008. Tanaman Obat. http://www.iptek.net diakses pada 10 Desember 2012 Sarwono, B. dan Setiadi, R.,2008, Tanaman Obat Keluarga : 200 Resep Herbal untuk 100 Penyakit. Jakarta : PT.Gramedia. Siskhana. 2010. Pembuatan dan Penetapan Kontrol Kualitas Simplisia. http://siskhana.blogspot.com/2010/01/pembuatan-dan-penetapan-kontrol.html. Diakses tanggal 7 Desember 2012. Yashinta. 2011. Hibiscus rosa-sinensis. http://toiusd.multiply.com diakses pada 7 Desember 2012

PERCOBAAN 3 PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK BAHAN NABATI

I. 1.

Tujuan Percobaan Mengetahui anatomi (irisan melintang dan membujur) bagian tumbuhan

(akar, batang, daun, bunga, buah, dan, biji) termasuk isi sel yang memiliki bentuk tertentu 2. Mampu mengidentifikasi simplisia dengan menggunakan mikroskop serta

menyebutkan ciri khas simpleks yang diperiksa.

II.

Dasar Teori

Pengujian mikroskopik yaitu pengujian yang dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran tertentu yang disesuaikan dengan keperluan. Simplisia yang diuji dapat berupa sayatan melintang, radial, paradermal, membujur, atau berupa serbuk. Uji mikroskop dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang derajat perbesarannya disesuaikan dengan keperluan. Pada uji mikroskopis dicari unsur-unsur anatomi jaringan yang khas. Pada pengujian ini akan diketahui jenis simplisia berdasarkan fragmen pengenal yang spesifik bagi masing-masing simplisia. Prinsip percobaan ini yaitu mengamati fragmen menggunakan mikroskop dengan perbesaran tertentu. Alasan dilakukannya pengujian mikroskopik yaitu untuk menegaskan kebenaran dan keaslian simplisia. Kebenaran simplisia dapat diuji dengan mengamati struktur dalam tumbuhan tersebut, biasanya juga dijumpai fragmen pengenal dari serbuk simplisia tersebut. Berikut adalah fragmen-fragmen yang diamati dalam percobaan ini. 1. Jaringan

Jaringan adalah sekumpulan sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. a. Jaringan epidermis: jaringan terluar suatu organ tumbuhan yang terdiri

dari sel-sel berbentuk seragam serta mempunyai ukuran serba sama, tidak mempunyai ruang antar sel.

b.

Jaringan parenkim : jaringan yang terletak di sebelah dalam jaringan

epidermis. Pada daun disebut jaringan mesofil yang terdiri dari jaringan palisade dan jaringan bunga karang. c. Korteks : jaringan yang umum terdapat pada batang, akar, rimpang,

terletak antara epidermis dan endodermis, sebagian besar bersifat parenkimatis d. Endodermis : jaringan yang merupakan pembatas antara korteks dan

perisikel. e. f. Perisikel (kambium) : jaringan yang terletak di sebelah dalam endodermis. Silinder pusat : semua jaringan yang terletak di sebelah dalam endodermis,

namun terdapat pada akar dan batang g. Jari-jari empulur : jaringan penghubung atara empulur dengan korteks dan

perisikel, terdapat di antara berkas pembuluh parenkimatik. Terdapat pada akar dan batang. h. i. Empulur : bagian tengah batang, terdiri dari jaringan-jaringan parenkim Periderm : jaringan terluar dari suatu tumbuhan. Dari luar ke arah dalam

mempunyai susunan berurutan dimulai dari jaringan gabus(felogen) dan feloderm. Periderm ini termasuk jaringan sekunder yang umum terdapat pada batang dan akar. j. Ritidom : Jaringan mat terluar akibat terbentuknya periderm berulang-

ulang. Ritidom juga merupakan jaringan sekunder. k. Jaringan pembuluh : jaringan yang terdiri dari pembuluh tapis (floem) dan (Rini, 2012)

pembuluh kayu (xylem)

2.

Tipe Stomata

Tipe stomata ditetapkan berdasarkan pada jumlah, perbandingan ukuran, dan sel tetangga. Dikenal enam tipe sel stomata yaitu: a. Stomata tipe anomositik : jumlah sel tetangga tiga atau lebih, satu sama

lain sukar dibedakan b. Stomata tipe anisositik : jumlah sel tetangga tiga atau lebih, satu sel jelas

lebih kecil dari sel, lainnya. c. Stomata tipe diasitik : jumlah sel tetangga dua, bidang persekutuan

menyilang celah stomata.

d.

Stomata tipe parasitik : julah sel tetangga dua, bidang persekutuan segaris

dengan celah stomata e. Stomata tipe aktinositik : tipe stomata merupakan variasi dari tipe

anomositik. Sel tetangga berbentuk pipih, mengelilingi stomata dalam susunan berbentuk lingkaran. f. Stomata tipe bidiasitik : tipe stomata yang sel tetangganya dikelilingi oleh ( Dunggio, 2011 ).

dua sel epidermis

3.

Jenis-jenis rambut

Dikenal dua jenis rambut pada tumbuhan yaitu: a. b. Rambut penutup: rambut yang tidak bersekresi Rambut kelenjar : rambut yang bersekresi

Terdapat dua tipe utama rambut kelenjar yaitu: (1). Rambut kelenjar tipe Asteraceae : terdiri dari satu deret sel tangkai dan dua baris sel kelenjar (2). Rambut kelenjar tipe Labiatae : terdiri atas satu sel pangkal yang lebar, satu atau beberapa sel tangkai dan sebaris mendatar sel kelenjar sebanyak 4, 8, 12, atau lebih sel( Dunggio, 2011 ).

4. Tipe sel a. Idioblas :sel yang isi atau bentuknya jelas berbeda dengan jaringan di sekitarnya, misalnya idioblas hablur, idioblas lendir, idioblas minyak. b. Sklerenkim : terdiri dari dua tipe sel yaitu:Sklerenkim merupakan jaringan penyokong tumbuhan, yang sel - selnya mengalami penebalan sekunder dengan lignin dan menunjukkan sifat elastis. Sklerenkim tersusun atas dua kelompok sel, yaitu sklereid dan serabut. Sklereid disebut juga sel batu yang terdiri atas sel - sel pendek, sedangkan serabut sel selnya. panjangsklereid berasal dari sel-sel parenkim, sedangkan serabut berasal dari sel - sel meristem. Sklereid terdapat di berbagai bagian tubuh. Sel selnya membentuk jaringan yang keras, misalnya pada tempurung kelapa, kulit biji dan mesofil daun. Serabut berbentuk pita dengan anyaman menurut pola yang khas. Serabut sklerenkim banyak menyusun jaringan pengangkut.

III. 1.

Alat dan Bahan Alat

Alat-alat yang dibutuhkan untuk melakukan percobaan pemeriksaan mikroskopik bahan nabati yaitu : mikroskop, gelas objek, gelas penutup, lampu spiritus, kertas saring. 2. Bahan

Bahan yang dibutuhkan untuk melakukan percobaan ini yaitu Amylum serbuk (Amylum maizena, Amylum tritici, dan Amylum manihot) dan serbuk simplisia yang terdiri dari Guazumae folium, Alstonia cortex, Glycyrrhizae radix, Foeniculli Fructus, Kampfreriae rhizoma, Cardamomi fructus, dan Caryophyli flos serta larutan Kloralhidrat 70% LP dan Akuades.

IV. 1. a.

Cara Kerja Pengamatan Serbuk Simplisia Sedikit serbuk simplisia diletakkan diatas kaca objek ditetesi dengan

larutan kloralhidrat 70% b. kering c. d. Selanjutnya ditutup dengan gelas penutup Dilihat dibawah mikroskop, diamati dengan perbesaran lemah (12,5 x 10) Kemudian dipanaskan diatas lampu bunsen dan dijaga jangan sampai

dan perbesaran kuat ( 12,5 x 40) e. f. g. Amati warna dan fragmen-fragmen pengenalnya Bandingkan dengan monografi dalam MMI Buat hasil laporan kerjanya

2. a.

Pengamatan Amylum Sedikit serbuk amylum yang disediakan, diletakan diatas kaca objek, dan

ditetesi akuades secukupnya, dijaga jangan sampai kering b. c. Selamjutnya ditutup dengan gelas penutup Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran lemah (12,5 x 10) dan

perbesaran kuat ( 12,5 x 40) d. Amati warna dan fragmen-fragmen pengenalnya

e. f.

Bandingkan dengan monografi dalam MMI Buat hasil laporan kerjanya

V.

Hasil

Pengamatan Amylum

No

Nama Amylum dan perbesarannya

Gambar

Keterangan

1.

Amylum maizena Perbesaran : 40 x 10

1.

Hilus

2.

Amylum tritici Perbesaran : 40 x 10

1. Hilus 2. Lamella

3.

Amylum manihot Perbesaran : 40 x 10

1. Hilus 2. Lamella

Pengamatan serbuk simplisia

No

Nama serbuk simplisia dan perbesarannya

Gambar

Keterangan

1.

Caryophylli flos Perbesaran 40 x 10

1. Fragmen dinding tebal berlignin 2. Parenkim mempunyai sel batu dengan bentuk yang khas

2.

Glycyrrhizae radix Perbesaran 40 x 10

1. Frgamen trakea berwarna kuning 2. Fragmen parenkim berdinding jernih

3.

Kampferiae rhizoma Perbesaran 40 x 10

1. 2.

Parenkim Parenkim dan sel minyak

3.

Pembuluh kayu dengan penebalan spiral

4.

Butir pati

4.

Cardamomi fructus Perbesaran 40 x 10

1.

Fragmen epidermis luar dari kulit biji yang berdinding tebal memanjang.

2.

Fragmen sel batu pada mesokarp

5.

Guazumae folium Perbesaran 40 x 10

1. Epidermis atas 2. Rambut penutup bentuk bintang 3. Hablur kalsium oksalat

6.

Foeniculum fructus Perbesaran 40 x 10

1. Retikulat parenkim dari mesocarp 2. Elemen dari jaringan fibro vaskular

VI.

Pembahasan Manografi semua bahan percobaan : Amylum maizena Amylum maydis ( pati jagung) adalah pati yang diperoleh dari biji zea mays L. ( familia Poaceae) yang berupa serbuk sangat halus dan putih. Secara mikroskopik yaitu berupa butir bersegi banyak, bersudut, ukuran 2 m sampai 23 m atau butir bulat dengan diameter 25 m sampai 32 m, hilus ditengah berupa rongga yang nyata atau celah berjumlah 2 sampai 5, tidak ada lamella. Jika diamati dibawah cahaya terpolarisasi, tampak bentuk silang berwarna hitam, memotong pada hilus.

Dengan pembesaran 40 X 10, tidak punya lamella (tidak terlihat), Bentuk amylum maydis ini berupa butir bersegi banyak, bersudut, atau butir bulat,kemudian terdapat butir pati dan hilus yang berupa rongga atau celah (Anonim, 1985).

Amylum tritici Amylum tritici ( pati gandum) yaitu berupa serbuk sangat halus dan putih. Secara mikroskopik yaitu berupa butir tunggal, tidak beraturan, atau bulat telur ukuran 30 m sampai 100 m, atau membulat ukuran 10 m sampai 35 m, butir majemuk jarang, terdiri dari 2 sampai 4, hilus berupa titik pada ujung yang sempit dengan lamella konsentris jelas terlihat, jika diamati dibawah cahaya terpolarisasi, tampak bentuk silang berwarna hitam memotong pada hilus. Untuk idetifikasi secara kimiawi sama dengan amylum manihot. Di dalam mikroskop yang pembesarannya 40 X 10 amylum tritici ini berbentuk butir tunggal, tidak beraturan, atau bulat telur, terdapat butir pati juga lamella tapi tidak terlihat jelas (Anonim, 1995).

Amylum manihot Amylum manihot ( pati singkong) adalah pati yang diperoleh dari umbi akar manihot utilissima Pohl (familia Euphorbiaceae) yang berupa serbuk sangat halus dan putih, secara mikroskopik berupa butir tunggal, agak bulat atau bersegi banyak butir kecil dengan diameter 5m sampai 10 m, butir besar bergaris tengah 20 m sampai 35 m, hilus tengah berupa titik, garis lurus atau bercabang tiga, lamella tidak jelas, konsentris, butir majemuk sedikit, terdiri dari 2 atau 3 butir tunggal yang tidak sama bentuknya. Identifikasi kimiawi yaitu dengan Iodium dimana akan terjadi biru tua yang hilang pada pemanasan dan timbul kembali pada pendinginan. Amylum manihot yang kami amati dari mikroskop dengan pembesaran 40 X 10 kami dapat melihat bentuknya yang berupa butir tunggal,butir agak bulat atau bersegi banyak butir kecil, ada butir

pati,dan juga hilus yang berupa garis dan titik, ada juga lamella tapi tidak jelas,yang berupa butir majemuk sedikit (Fans, 2010).

Serbuk Simplisia

1. Caryophylli Flos Bunga cengkeh adalah kuncup bunga tumbuhan Eugenia caryophyllata Thunb., suku Myrtceae, warna coklat, bau aromatic kuat, rasa khas pedas diikuti oleh rasa tebal pada lidah. Secara mikroskopik mempunyai fragmen-fragmen pengenal sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Fragmen tangkai sari dengan kristal kalsium oksalat berbentuk roset. Fragmen kepala sari. Kelenjar skizolisigen, lepas atau dalam jaringan. Pollen berbentuk tetrahedral, garis tengah. 15 sampai 20 m Trakhea mempunyai penebalan spiral, diding tebal berlignin. Fragmen serabut dengan lumen yang tebal. Parenkim mempunyai sel batu dengan bentuk yang khas (Anonim, 1987).

a) Liquiritiae Radix / Glycyrrhizae Radix Akar manis adalah akar dan batang di bawah tanah dari tumbuhan Glycyrrhiza glabra var.trpica Reg. Et Hard atau Glycyrrhiza glabra Linn. var. glandulifera Wald. et Kit., suku Leguminosae, bau khas, rasa manis agak tajam, warna coklat kekuningan atau coklat tua. Secara mikroskopik mempunyai beberapa fragmen pengenal yaitu : 1. Fragmen serat kayu dan serat kulit dengan hablur kalsium oksalat bentuk

monoklin yang menempel padanya. 2. Fragmen parenkim berdinding jernih, sering kali terdapat hablur kalsium

coklat di dalamnya. 3. Fragmen trachea berwarna kuning dengan diameter mencapai 200 m,

pori berbatasan. Kadang-kandang terdapat trachea berbentuk jala dengan tracheid pendamping.

b) Kaempferiae Rhizoma Rimpang dari tumbuhan kencur (Kaempferia galanga L.), suku Zingiberaceae, bau khas tebal pada lidah. Warna putih kecoklatan, secara mikroskopik mempunyai fragmen pengenal antara lain : 1. Butir pati, umumnya tunggal, besar berbentuk bulat telur/tidak beraturan,

salah satu ujung mempunyai putin. Lamela dan hilus tidak jelas. 2. 3. 4. lapis Fragmen periderm dengan parenkim. Fragmen parenkim dengan sel-sel minyak berwarna putih semu kuning. Fragmen periden dengan sel berbentuk hampir persegi panjang, berlapis-

c) Cardomomi Fructus Buah kapulaga adalah buah tumbuhan Amomuncardomomun Auct. non L. (Amomumcompactum Soland. ex Maton), suku Zingiberaceae, bau khas aromatic, rasa agak pedas. Serbuk berwarna kelabu kekuningan, secara mikroskopik mempunyai fragmen-fragmen pengenal yaitu : 1. Fragmen epidermis kulit biji berdinding tebal bebentuk memanjang. 2. Fragmen lapisan sel yang mengandung minyak atsiri. 3. Fragmen sklerenkim palisade yang terlihat tangansial berbentuk polygonal. 4. Fragmen farisperm yang penuh dengan butir pati kecil. 5. Fragmen serabut sklerenkim dari berkas pembuluh pada mesokarp. 6. Fragmen sel batu pada masokarp. 7. Fragmen selaput biji. 8. Sel endoderm dengan hablur kalsium oksalat berbentuk prisma. d) Guazumae Folium Daun jati Belanda adalah daun Guazumaulmif olia Lamk., suku Sterculiaceae, berbau aromatic lemah, rasa agak kelat. Secara mikroskopik yaitu serbuk berwarna hijau tua kecoklatan. Mempunyai fragmen pengenal yaitu : 1. Rambut penutup berbentuk bintang, terdiri dari beberapa rambut bersel

tunggal yang berimpit pada bagian pangkalnya, dinding tebal tidak berwarna, panjang berbeda-beda, ruang rambut berwarna coklat.

2.

Rambut kelnjar terdiri dari 2 sampai 3 tangkai dan 3 sel kepala, sel kepala

lebih besar dari dua sel lainya. 3. 4. 5. Hablur kasium oksalat berbentuk prisma. Fragmen epidermis atas dan epidermis bawah. Pembuluh kayu dengan penebalan tangga

e) Foeniculum Fructus Buah adas adalah buah Foeniculum vulgare Mill., suku Apiaceae, mengandung minyak atsiri tidak kurang dari 1,40% dan trans-anetol tidak kurang dari 0,60%. Buah berbentuk memanjang, ujung pipih, gundul, bau khas, rasa agak manis dan khas, warna cokelat kehijauan atau cokelat kekuningan hingga cokelat, panjang sampai 10 mm, lebar sampai 4 mm. Bagian luar buah mempunyai 5 rusuk primer, menonjol, warna kekuningan. Secara mikroskopik memiliki fragmen pengenal sebagai berikut : 1. Jaringan endosperm berdinding tebal, berisi minyak lemak dan butir-butir

aleuron yang berisi kristal kalsium oksalat berbentuk roset kecil 2. 3. 4. Saluran minyak berwarna kuning atau kecoklatan Parenkim berpenebalan jala berwarna kecoklatan Serabut bernoktah sempit dan endokarp dengan kelompok sel-sel

berbentuk hampir tetrahedral tersusun berlainan arah 5. Tidak terdapat rambut atau amilum ( Agustin, 2011).

VII.

Kesimpulan Amylum maizena : tidak punya lamella (tidak terlihat), Bentuk amylum

maydis ini berupa butir bersegi banyak, bersudut, atau butir bulat,kemudian terdapat butir pati dan hilus yang berupa rongga atau celah. Amylum tritici : berbentuk butir tunggal, tidak beraturan, atau bulat telur,

terdapat butir pati juga lamella tapi tidak terlihat jelas. Amylum manihot : berupa butir tunggal,butir agak bulat atau bersegi

banyak butir kecil, ada butir pati,dan juga hilus yang berupa garis dan titik, ada juga lamella tapi tidak jelas,yang berupa butir majemuk sedikit. Caryophylli Flos atau bunga cengkeh mempunyai fragmen pengenal

berupa fragmen dinding tebal yang berlignin serta memiliki parenkim mempunyai sel batu dengan bentuk yang khas Cardomomi Fructus atau buah kapulaga mempunyai fragmen epidermis

luar dari kulit biji yang berdinding tebal memanjang serta memiliki fragmen sel batu pada mesokarp Kaempferiae Rhizoma atau rimpang kencur mempunyai fragmen

parenkim dengan sel-sel minyak berwarna putih semu kuning serta memilik pembuluh kayu dengan penebalan spiral dan butir pati Glycyrrhizae Radix atau akar manis memiliki fragmen trakea berwarna

kuning dan fragmen parenkim berdinding jernih Foeniculli fructus atau buah adas memiliki retikulat parenkim dari

mesocarp dan elemen dari jaringan fibro vaskular Guazumae folium atau daun jati belanda memiliki rambut penutup bentuk

bintang dan hablur kalsium oksalat

VIII. Daftar Pustaka

Anonim. 1985. Cara Pembuatan Simplisia. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Anonim. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Anonim. 1977. Materia Medika Indonesia, Jilid II. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Anonim. 1987. Analisis Obat Tradisional. 2-3. Jakarta : Depkes RI Fans . 2010. Macam-Macam Amylum. http://fanshenda.blogspot.com/2010/12/macam-macam-amylum-danmikroskopik.html. Diakses tanggal 5 Desember 2012 Agustin, Sera Nur. 2011. Buah Adas (Foeniculi Vulgaris Fructus) http://rashekimfar.blogspot.com. Diakses 5 Desember 2012

Rini, Indah Setiyo. 2012. Jaringan Epidermis. http://blog.ub.ac.id Diakses 5 Desember 2012 Dunggio , Yolan. 2011. Epidermis . http://yolandunggio.blogspot.com . Diakses 5 November 2012

PERCOBAAN 4 IDENTIFIKASI KOMPONEN SIMPLISIA PENYUSUN JAMU I. Latar Belakang

Seiring dengan kesadaran masyarakat akan bahaya dari obat-obat sintetik, maka alternatif lain untuk mendapatkan efek terapi atau pengobatan cenderung memilih bahan alam, diantaranya dengan mengkomsumsi jamu. Sebagai ahli farmasi, maka kita dituntut untuk dapat mengidentifikasi secara makroskopis maupun mikroskopis dari komposisi sediaan jamu yang ada. Dalam usaha tersebut, maka kita dituntut untuk dapat mengenali bentuk morfologi ataupun anatomi serta kandungan kimia dari jamu tersebut Dengan diketahuinya kandungan simplisia dari sediaan jamu tersebut, maka kita dapat menganalisis kandungan zat serta lebih lanjut dapat mempelajari kemampuan efek terapi dari kandungan simplisia dari jamu tersebut. Secara umum kandungan/komposisi dari jamu merupakan bahan alam khususnya dari tumbuh-tumbuhan yang khasiatnya teruji berdasarkan pengalaman secara turun temurun.

II.

ALAT DAN BAHAN Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain kaca pembesar, mikroskop, gelas obyek, kaca penutup, dan lampu spiritus. Bahan yang digunakan antara lain campuran jamu berupa rajangan dan berupa serbuk , larutan kloral hidrat 70%LP.

III.

CARA KERJA 1. Jamu yang berupa rajangan dipisahkan dan dikelompokan berdasarkan simplisia penyusunya. 2. Lakukan uji mikroskopik dan organoleptis pada setiap simplisia penyusun jamu. 3. Tentukan masing masing simplisia penyusun jamu tersebut. 4. Jamu yang berupa serbuk, lakukan pemeriksaan organoleptik dan mikroskopik.

5. Tentukan fragmen khusus simplisia penyusun jamu tersebut. 6. Tentukan simplisia penyusun serbuk jamu tersebut. IV. Data Percobaaan Dari hasil praktikum percobaan ke 4 ini didapatkan simplisia penyusun 5 jenis jamu, yaitu : 1. Pada campuran 13 yang terdiri dari Liquiritae radix, Foeniculli fructus, dan Cardamomi fructus. Disimpulkan berdasarkan pengamatan

makroskopik dan organoleptis yaitu berwarna kuning terang, berbau khas dari simplisia Foeniculli, berasa manis agak pedas, dan berbentuk serbuk kasar. Dari hasil pengamatan mikroskopik didapatkan struktur jarum dari simplisia Liquiritae radix, endosperma dari Foeniculi fructus, dan fragmen dari Cardamomi fructus.

2. Pada campuran C yang terdiri dari Foeniculli fructus dan Guazumae folium, yang didimpulkan berdasarkan pengamatan makroskopik dan organoleptis yaitu berwarna kuning kehijauan, berbau khas pedas, berasa agak pedas, dan bentuknya menyerupai rumput rumputan dalam rajangan kecil. Dari hasil pengamatan mikroskopik di temukan gambar menyerupai bintang yang terkenal cirri-ciri dari simplisia guazumae folium, dan terdapat struktur yang menyerupai foeniculli.

3. Campuran L terdiri dari Caryophylli flos dan Kaempheriae rhizoma, yang di simpulkan dari pengamatan makroskopik dan organoleptik yaitu berwarna cokelat kehijauan berbau khas, berasa pedas dan berbentuk serbuk halus. Dari pengamatan mikroskopik ditemukan stuktur dari Caryophylli flos.

4. Campuran 4 terdiri dari Foeniculli fructus, Guazumae folium dan Kaempheriae rhizoma yang disimpulkan bedasarkan pengamatan

makroskopik dan organoleptis yaitu berwarna cokelat ,berbau khas tajam , berasa hambar lama lama menimbulkan kelat dilitah dan berupa serbuk halus dengan rambut foeniculli. Dari hasil mikroskopik di temukan struktur khas bintang dari Guazumae folium .

5. Campuran A terditi dari Liquiritae radixdan Guazumae folium yang disimpulkan berdasarkan pengamatan makroskopik dan organoleptik yaitu serbuk berwarna cokelat tua, berbau khas manis, rasa nya agak manis dan berupa serbuk halus. Hasil pengamatan mikroskopik didapatkan struktur yang khas dari Guazumae folium dan terdapat jarum dari Liquiritae radix.

V.

PEMBAHASAN Analisis suatu obat tradisional/ jamu harus menyertakan uji subyektif, meskipun uji ini memerlukan praktek dan pengalaman yang luas. Hal ini perlu dilakukan untuk membandingkan kesan subyektif dengan sifat khas yang disimpan dan diklasifikasikan sebelumnya. Penentuan identifikasi sebagai sifat yang demikian merupakan suatu langkah yang penting pada identifikasi. Untuk menjamin kebenaran dari simplisia penyusun sediaan jamu dilakukan

pemeriksaan awal secara makroskopik dengan mengamati bentuk organoleptik simplisia penyusun. Pemeriksaan organoleptik dilakukan menggunakan

pancaindra dengan mendeskripksikan bentuk warna, bau dan rasa sebagai berikut : (Dirjen POM, 2000)

1. Bentuk 2. Warna 3. Bau 4. Rasa 5. Ukuran

: padat, serbuk, kering, kental dan cair : warna dari ciri luar dan warna bagian dalam : aromatik, tidak berbau dan lain-lain : pahit, manis, khelat dan lain-lain : panjang,lebar

Agar dapat mendukung hasil pemeriksaan maka simplisia yang telah diidentifikasi dikelompokkan berdasarkan jenisnya dan khasiatnya. Bahan alam merupakan zat kimia murni yang sering digunakan dalam bentuk obat berizin. Senyawa-senyawa ini terkadang di produksi secara sintetis dan di kenal sebagai senyawa identik alami (jika itu kasusnya), tetapi pada awalnya ditemukan dari obat-obat tanaman. (Heinrich,M.2009) Obat tradisional telah dikenal secara turun menurun dan digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akan kesehatan. Pemanfaatan obat tradisional pada umumnya lebih diutamakan sebagai upaya menjaga kesehatan atau preventif meskipun ada pula upaya sebagai pengobatan suatu penyakit. Dengan semakin berkembangnya obat tradisional, ditambah dengan gema kembali ke alam, telah meningkatkan popularitas obat tradisional. Hal ini terbukti dari semakin banyaknya industri jamu dan industri farmasi yang memproduksi obat tradisional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Banyak alasan terjadinya peningkatan penggunaan obat herbal. Alasan tersebut berkisar dari daya tarik produk dari alam dan persepsi bahwa produk tersebut aman (atau paling tidak lebih aman daripada obat konvensional, yang sering diremehkan sebagai obat.(Heinrich,M.2009) Berdasarkan undang-undang kesehatan bidang farmasi dan kesehatan, yang dimaksud dengan Obat bahan Alam Indonesia adalah Obat bahan Alam yang diproduksi di Indonesia. Berdasarkan cara pembuatan serta jenis klaim penggunaan dan tingkat pembuktian khasiat, Obat bahan Alam Indonesia dikelompokkan menjadi : jamu, Obat Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka.( Makhmud, Ilham,2007). Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, misalnya dalam bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi seluruh bahan tanaman

yang menjadi penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional. Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur yang disusun dari berbagai tanaman obat yang jumlahnya cukup banyak, berkisar antara 5 10 macam bahkan lebih. Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris. Jamu yang telah digunakan secara turun-menurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun, telah membuktikan keamanan dan manfaat secara langsung untuk tujuan kesehatan tertentu. Jamu harus memenuhi kriteria aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris dan memenuhi persyaratan mutu yang berlaku ( Makhmud, Ilham,2007). Obat tradisional tidak boleh mengandung bahan kimia obat (BKO). ( Makhmud, Ilham,2007). 1. Berdasarkan hasil pengawasan obat tradisional melalui sampling dan pengujian laboratorium tahun 2006, Badan POM menemukan sebanyak 93 produk obat tradisional yang dicampur dengan bahan kimia obat keras seperti Fenilbutazon, Metampiron, Deksametason, CTM, Allopurinol, Sildenafil Sitrat, Sibutramin Hidroklorida dan Parasetamol. 2. Mengkonsumsi obat tradisional mengandung Bahan Kimia Obat Keras membahayan kesehatan bahkan mematikan. Pemakaian obat keras, harus melalui resep dokter. 3. Berbagai resiko dan efek yang tidak diinginkan dari penggunaan Bahan Kimia Obat Keras tanpa pengawasan dokter, telah dilaporkan. 4. Kegiatan memproduksi dan atau mengedarkan obat tradisional yang mengandung Bahan Kimia Obat, melanggar Undang-Undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan dengan pidana penjara paling lama 5(lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan Undang-Undang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang dapat dikenakan sanksi dengan pidana penjara paling lama 5(lima) tahun dan atau denda paling banyak 2(dua) miliar rupiah Seperti halnya pemeriksaan makroskopik sediaan jamu, pemeriksaan mikroskopik juga digunakan untuk menjamin kebenaran dari simplisia penyusun

sediaan jamu dengan mengamati bentuk fragmen spepisifik penyusun pada sediaan jamu. (Anonim,2010), Berbeda dengan obat-obatan modern, standar mutu untuk jamu didasarkan pada bahan baku dan produk akhir yang pada umumnya belum memiliki baku standar yang sesuai dengan persyaratan. Simplisia nabati, hewani dan pelican yang dipergunakan sebagai bahan untuk memperoleh minyak atsiri, alkaloid, glikosida atau zat berkhasiat lainnya, tidak perlu memenuhi persyaratan yang tertera pada monografi yang bersangkutan. Identifikasi simplisia dapat dilakukan berdasarkan uraian mikroskopik serta identifikasi kimia berdasarkan kandungan senyawa yang terdapat didalamnya (MMI,1995) Uji mikroskopik dilakukan dengan mikroskopik yang derajat

perbesarannya disesuaikan denga keperluan. Uji mikroskopik serbuk jamu tidak hanya dapt dilakukan melihat bentuk anatomi jaringan yang khas, tetapi dapat pula menggunakan uji histokimia dengan penambahan pereaksi tertentu pada serbuk sediaan jamu uji, dan zat kandungan simplisia uji akan memebrikan warna spesifik, sehingga mudah di deteksi. ( Anonim,2010) Pemeriksaan anatomi serbuk dari suatu simplisia memiliki karakteristik tersendiri, dan merupakan pemeriksaan spesifik suatu simplisia atau penyusun jamu. sebelum melakukan pemeriksaan mikroskopik harus di pahami bahwa masing-masing jaringan tanaman berbeda bentuknya. ( Egon,1985) Ciri khas dari masing-masing organ batang, akar dan rimpang umumnya memiliki jaringan penyusun primer yang hampir sama yaitu epidermis,korteks dan endodermis, jari-jari empulur dan bentuk berkas pengangkutannya. Tipe berkas pengangkut umumnya mengacu pada kelas tanaman seperti monokotil memiliki tipe berkas pengankutan terpusat (konsentris), dan pada dikotil tersebar (kolateral). (Egon,1985) Sedangkan jaringan sekunder pada organ batang , akar dan rimpang berupa periderm , dan ritidorm. Rambut penutup dan stomata merupakan ciri spesifik dari bagian daun serta tipe sel idoblas seringkalai menunjukkan ciri spesifik suatu bahan nabati.(Egon,1985) Pada praktikum kali ini kita dapat mengetahui komponen-komponen simplisia yang terkandung dalam jamu dengan cara pengujian makroskopik,

mikroskopik, dan organoleptik. Psda uji mikroskopik, komponen simplisia penyusun jamu dapat teridentifikasi secara spesifik dari fragmen-fragmen pengenalnya yang akan menunjukan jenis simplisia tersebut. Dari fragmenfragmen yang terlihat kemudian dicocokkan dengan fragmen pengenal suatu simplisia. Cara ini akan memudahkan dalam menentukan kandungan-kandungan jamu dari berbagai macam simplisia.

VI.

KESIMPULAN

1. Uji mikroskopik serbuk jamu dapat dilakukan melihat bentuk anatomi jaringan yang khas. 2. Uji makroskopik yaitu pemeriksaan awal dengan mengamati bentuk organoleptik simplisia menggunakan panca indra dengan mendiskripsikan bentuk, warna, bau, dan rasa kemudian dikelompokkan berdasarkan jenisnya (spesies)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. penuntun PraktikumFarmakognosi II. Fakultas farmasi. universitas musim indonesia. Makassar Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan., 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Frans A. Rumate. A.Ilham Makhmud. 2007. Peraturan Perundang-undangan Bidang Farmasi dan Kesehatan. Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin. Makassar. Heinrich,Michael,etc. 2009. Farmakognosi dan Fitoterapi. EGC. Jakarta Tim Penyusun Materia Medika Indonesia. 1995. Materia Medika Indonesia Edisi VI. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. Yvonne S.LIncoln,Egon,G Guba.1985. Naturalistic Inquiry. Sage Publication. Texas