Anda di halaman 1dari 2

Pada umumnya sistem tum-pangsari lebih menguntungkan dibandingkan sistem monokultur karena produktivitas lahan menjadi lebih tinggi,jenis

komoditas yang dihasilkan beragam, hemat dalam pemakaian sarana produksi dan resiko kegagalan dapat diperkecil (Beets, 1982). Di samping keuntungan di atas, sistem tumpangsari juga dapat mem-perkecil erosi, bahkan cara ini berhasil mempertahankan kesuburan tanah (Ginting dan Yusuf, 1982). Keuntungan secara agrono mis dari pelaksanaan sistem tumpangsari dapat dievaluasi dengan cara menghitung Nisbah Kesetaraan Lahan (NKL). Nilai ini menggam-barkan efisiensi lahan, yaitu jika nilainya > 1 berarti menguntungkan. (Beets, 1982).
Multiple cropping merupakan system budidaya tanaman yang dapat meningkatkan produksi lahan. Peningkatan ini dapat diukur dengan besaran yaitu NKL (Nisbah Kesetaraan Lahan) atau LER (Land Equivalent Ratio). Sebagai contoh nilai NKL atau LER = 1,8; artinya bahwa untuk mendapatkan hasil atau produksi yang sama dengan 1 hektar diperlukan 1,8 hektar pertanaman secara monokultur.

HA1 = Hasil jenis tanaman A yang ditanam secara tumpangsari. HB1 = Hasil jenis tanaman B yang ditanam secara tumpangsari. HA2 = Hasil jenis tanaman A yang ditanam secara monokultur. HB2 = Hasil jenis tanaman B yang ditanam secara monokultur.

Nisbah kesetaan Lahan (NKL) Nisbah Kesetaraan Lahan (LER= Land Equivalent Ratio ) merupakan metodeuntuk mengetahui produksi hijauan yang ditanam secara tumpangsari. NKLmerupakan perbandingan jumlah nisbah tanaman yang ditanam secara tumpangsaridengan tanaman secara tunggal pada pengelolaan yang sama (Paulus, 2005). NKLmerupakan salah satu cara menghitung produktivitas lahan yang ditanam dua ataulebih jenis tanaman yang ditumpangsarikan. Sistem tumpangsari akan lebihmenguntungkan bila NKL lebih besar dari satu (Herlina, 2011).

Penanamantumpangsari antara jagung dengan legum lebih menguntungkan dari pada penanamanmonokultur, hal tersebut ditunjukkan dengan NKL tumpangsari jagung dengan legumlebih tinggi (Catharina, 2009). NKL dipengaruhi oleh naungan dan kompetisi antar tanaman.Hasil penelitian Ibrahim (2010), pertanaman campuran rumput dan legummenggunakan estimasi dua kali defoliasi, menunjukkan pertanaman tumpang sariantara legum dan rumput secara konsisten mampu memberikan peningkatan produksihijauan dan tidak terdapat pengaruh negatif/persaingan. (Ibrahim, 2010). Hasil penelitian Maskyadji (2007) tentang pertanaman jagung dan legum dengan perlakuan

9 baris menunjukkan pertumbuhan tanaman jagung tumbuh normal dan laju pertumbuhan lebih cepat dibanding legum, sehingga menjadi kompetitor yang lebihkuat terutama dalam pemanfaatan cahaya matahari.Sistem tumpangsari secara umum memberikan nilai NKL lebih dari satu(Ghulamahdi et al ., 2007). Nilai rata-rata NKL yang menunjukkan lebih dari satumenggambarkan bahwa pertanaman campuran tanaman jagung dan leguminosa lebihmenguntungkan jika ditanam secara tumpangsari dibanding pertanaman secaratunggal pada luas lahan yang sama