Anda di halaman 1dari 32

GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DI SMA PASUNDAN 3 KOTA CIMAHI TAHUN 2010

KARYA TULIS ILMIAH

OLEH : AYU WAHYUNI HERNAWATI MUTIARA NURFAIZAH RIAN RISNAWATI YULIANINGSIH

PROGRAM STUDI KEBIDANAN (DIII) SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MEDISTRA INDONESIA BEKASI TIMUR 2010

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb Alhamdulillah Puji dan Syukur Penulis Panjatkan Kepada ALLAH SWT Pencipta dan pemelihara Alam Semesta, karena berkat rahmat dan hidayahnya Penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini tepat pada waktunya. Karya Tulis Ilmiah ini berjudul Gambaran Pengetahuan Remaja Tentang Kesehatan Reproduksi di SMA Pasundan 3 Kota Cimahi Tahun 2010 Penyusunan karya tulis ini bertujuan untuk mencapai gelar Ahli Madya Kebidanan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Medistra Indonesia Bekasi Timur. Karya Tulis Ilmiah dapat terselesaikan atas bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. 2. Ibu hainun nisa,SST. Selaku koordinator mata kuliah metodologi penelitian Ibu Guna Rismawati, Mkes Selaku dosen pembimbing mata kuliah metodologi penelitian 3. Ibu R. Suryani S, SKM. Selaku dosen pembimbing mata kuliah metodologi penelitian. Dalam hal ini penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan berikutnya. Atas bantuan dari seluruh pihak saya ucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum. Wr. Wb. Bekasi, Desember 2010

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Pada masa ini individu mengalami perubahan-perubahan baik fisik maupun psikologi. Apa yang biasanya ada pada masa anak-anak menjadi apa yang biasanya ada pada masa dewasa. Pada masa ini sering terjadi konflik pada diri remaja, karena disatu sisi remaja diharapkan untuk menjadi orang yang dewasa sesuai tampilan fisiknya yang menyerupai orang dewasa, sementara itu disisi lain masih dianggap anak kecil (Herdiansiska, 2008). Menurut Harlock (dalam Sarwono, 2000), secara umum masa remaja dibagi menjadi 2 bagian, yaitu masa awal remaja dan akhir remaja. Awal remaja berlangsung kira-kira sejak usia 14 sampai 17 tahun, dan akhir masa remaja bermula dari usia 18 sampai 21 tahun, maka masa remaja akhir sebagai usia yang matang secara hukum dan merupakan periode yang sangat singkat. Jumlah remaja di Indonesia mencapi 62 juta jiwa dari total penduduk Indonesia (Herdi, 2010,2, http://www.menkokesra.go.id, diperoleh tanggal 2 Maret 2010). Berdasarkan data BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana) jumlah remaja di Provinsi Jawa Barat mencapai 30,1 juta jiwa dari total penduduk Jawa Barat (Netty, 2010, 3, http://www.tribunjabar.co.id, diperoleh tanggal 2 Maret 2010). Sedangkan jumlah remaja di Kota Cimahi mencapai 206.132 jiwa dari total penduduk Kota Cimahi (Suspeda Cimahi, 2009). Usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, dan pencapaian, yang mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologi, dan sosial (Fagan, 2006). Sebagai periode yang paling penting, masa remaja ini memiliki karakteristik yang khas jika dibanding dengan periode-periode perkembangan lainnya. Karakteristik yang khas dimiliki oleh remaja seperti pencarian identitas diri, rasa ingin tahu yang besar, kecanggungan dalam pergaulan, ketidakstabilan emosi, adanya perasaan kosong akibat perubahan transisi, adanya sikap menantang, senang bereksperimentasi, kecenderungan membentuk kelompok dalam kegiatan berkelompok, dan mempunyai banyak fantasi dan khayalan (http://www.netsains.com, diperoleh tanggal 21 Oktober 2009). Perubahan karakteristik yang paling dirasakan oleh remaja pertama kali adalah perubahan fisik yang cepat terjadi pada masa pubertas yaitu periode seksual yang mengubah menjadi orang dewasa yang matang secara biologis yang mampu melakukan reproduksi seksual. Pubertas dimulai dengan periode pertumbuhan fisik yang cepat disertai perkembangan bertahap organ

reproduktif dan karakteristik seks sekunder, yaitu perkembangan payudara, panggul yang membulat pada perempuan, janggut pada laki-laki, dan tumbuhnya rambut pubis pada kedua jenis. Serta terjadi menarche (periode menstruasi pertama) pada perempuan dan ejakulasi pertama pada laki-laki terjadi sekitar 2 tahun setelah dimulainya percepatan pertumbuhan (Atkinson, Smith, & Bem, 2003). Banyak fenomena memperlihatkan sebagian remaja belum mengetahui dan memahami tentang kesehatan reproduksi. Pada remaja yang memasuki usia 15-17 tahun akan mengalami tahap yang membutuhkan kawan-kawan dan akan merasa senang kalau banyak teman yang menyukainya. Kadang-kadang timbul sifat narsistic, yaitu mencintai dirinya sendiri, dengan menyukai teman-teman yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan dirinya. Selain itu ia berada dalam kondisi kebingungan karena tidak tahu harus memilih mana peka atau tidak peduli, ramai-ramai sendiri, optimis atau pesimis, ideal atau materialis dan sebagainya. Maka akan muncul sifat untuk mencari kesenangan diri sendiri yang banyak melanggar norma-norma dimasyarakat (Andari R, 2005). Remaja mengalami perubahan yang saling ketergantungan atau saling mempengaruhi antara fisik dan psikologis, dan masa mencari sesuatu yang dapat dipandang menilai, pantas dijunjung tinggi. Remaja merindukan sesuatu khayalan yang dianggap bernilai, pantas dipuja walaupun sesuatu yang dipujanya belum mempunyai bentuk tertentu, bahkan seringkali remaja hanya mengetahui bahwa dia menginginkan sesuatu tetapi tidak mengetahui apa yang diinginkannya. Sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja. dapat diketahui setiap fase perkembangan pada masa remaja memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Perubahan ini akan semakin mencapai keseimbangan yang sifatnya individu. Di masa remaja ukuran tubuh sudah mencapai bentuk dan sistem reproduksi sudah mencapai kematangan secara fisiologis. Sebagai akibat proses kematangan sistem reproduksi, maka akan timbul rasa saling menyukai antara lawan jenis dengan didasari cinta yang dimotivasi oleh faktor-faktor menyalurkan dorongan seksual, kesenangan, membuktikan kejantanan, dan upaya yang menyenangkan yang banyak menimbulkan resiko. Hal ini akan menimbulkan perilaku yang menyimpang, seperti hubungan seksual diluar nikah. Perilaku ini menyebabkan remaja mengalami gangguan kesehatan reproduksi, yaitu infeksi penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS, kehamilan, dan aborsi Akibat aktivitas seksual di luar nikah menimbulkan ancaman terhadap kesehatan reproduksi remaja, yaitu pada remaja perempuan mengakibatkan kehamilan dan keputusan untuk mengakhiri yang tidak diinginkan (aborsi). Pada dasarnya remaja perempuan yang melakukan aborsi akan mengalami kehilangan harga diri, berteriak-teriak, mimpi buruk mengenai bayinya, menggunakan obat-obat terlarang dan tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual.

(www://creasoft.wordpress.com., diperoleh tanggal 2 Februari 2010). Kemudian mengenai kejadian penyakit HIV-AIDS yang terjadi di Kota Cimahi, berdasarkan data dari profil Dinas Kesehatan Kota Cimahi didapatkan data sebagai berikut : Tabel 1.1 2007-2010 Angka Kejadian HIV-AIDS di Kota Cimahi Tahun

No 1 2 3 4

Tahun 2007 2008 2009 Januari 2010

Jumlah 62 97 111 112

(Sumber Profil Dinkes Kota Cimahi, 2010). Berdasarkan tabel 1.1 di atas angka kejadian HIV-AIDS dari tahun 2007 sampai tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar 35 kasus, kemudian dari tahun 2008 sampai tahun 2009 sebesar 14 kasus, sedangkan dari tahun 2009 sampai awal januari tahun 2010 sebesar 1 kasus. Angka kejadian HIV-AIDS di Kota Cimahi tiap tahun mengalami kenaikan, sehingga dari tahun 2007 sampai periode Januari awal tahun 2010 mengalami kenaikan sebesar 50 kasus yang di temukan (Profil Dinkes Kota Cimahi, 2010). Tabel 1.2 Angka Kejadian HIV-AIDS Berdasarkan Usia Remaja di Kota

Cimahi Tahun 2010

Usia No (Tahun) 1 2 3 12-14 15-17 18-21 Total

Kasus Temuan 0 4 22 26 Kematian 0 0 1 1

Jumlah

0 4 23 27

(Sumber Profil Dinkes Kota Cimahi, 2010)..

Berdasarkan tabel 1.2 di atas angka kejadian HIV-AIDS di Kota Cimahi terbanyak terjadi pada usia 18-21 tahun, yaitu sebanyak 22 orang. Lalu terdapat juga orang akibat kematian HIV-AIDS, yaitu sebanyak 1 orang (Profil Dinkes Kota Cimahi, 2010). Fenomena di atas yang menunjukkan tentang tingginya angka kejadian HIV-AIDS di Kota Cimahi, menggambarkan adanya kemungkinan penyimpangan perilaku seksual pada remaja yang akan menimbulkan tingginya penularan penyakit seksual, kehamilan di luar nikah, dan aborsi di Kota Cimahi. Hal ini kemungkinan karena kurangnya pengetahuan mereka tentang kesehatan reproduksi. Menurut teori Lawrence Green (1980), perilaku manusia berawal dari tingkat kesehatan, dimana kesehatan dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu faktor perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non behavior causes). Maka untuk mengatasi hal tersebut perawat melaksanakan suatu pendidikan kesehatan dan konseling tentang kesehatan reproduksi remaja. Sekolah Menengah Atas (SMA) Pasundan 3 Cimahi merupakan salah satu SMA swasta yang ada di Kota Cimahi dibawah lindungan Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah Pasundan. Terletak di jalan raya Encep Kartawiria No.97 A Cimahi, mempunyai jumlah murid sebanyak 150 orang terdiri dari kelas X sebanyak 40 orang, kelas XI sebanyak 50 orang, kelas XII sebanyak 60 orang.(Kusnadi & BP SMA Pasundan 3 Kota Cimahi, 2010). Berdasarkan hasil wawancara dengan tiga SMA yang berada disekitar wilayah Kota Cimahi, yaitu SMA Pasundan 1, 3 dan SMA Negeri 5 Kota Cimahi dimana setiap SMA diwakili oleh 10 orang, didapatkan hasil 16 siswa (53,3%) mengetahui tentang kesehatan reproduksi serta dampak yang ditimbulkannya, sedangkan 14 siswa (46,7%) tidak mengetahui tentang kesehatan reproduksi serta dampak yang ditimbulkannya. Setelah dibandingkan dari ketiga SMA yang berada disekitar Kota Cimahi tersebut, memperlihatkan bahwa pengetahuan tentang kesehatan reproduksi di SMA 3 Pasundan Kota Cimahi paling rendah di bandingkan dengan SMA Negeri 5 Kota Cimahi dan SMA Pasundan 1 Kota Cimahi. Menurut pengakuan siswa-siswi SMA tersebut, mereka belum mendapatkan pelajaran tentang kesehatan reproduksi dan pencegahannya, hanya sekedar pelajaran reproduksi yang dipelajari pada pelajaran biologi. Informasi tentang kesehatan reproduksi didapatkan dari teman sebaya dan media masa seperti koran, majalah, dan internet. Fenomena diatas menunjukkan di Kota Cimahi. Masih kurangnya tingkat pengetahuan siswi SMA tentang kesehatan reproduksi. Hal ini berpotensi terhadap perilaku penyimpangan seksual pada remaja. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengetahuii sejauh mana pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi di SMA Pasundan 3 Kota Cimahi.

B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas maka perumusan masalah dalam penelitian ini bagaimana gambaran pengetahuan remaja putri tentang kesehatan reproduksi di sma pasundan 3 kota cimahi tahun 2010.

C. TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan Umum

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja tentang kesahatan reproduksi di SMA Pasundan 3 Kota Cimahi. 2. Tujuan Khusus a Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang definisi kesehatan reproduksi. b Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang proses reproduksi. c Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang masalah kesehatan reproduksi. d Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang perawatan sistem kesehatan reproduksi.

D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoritis

Untuk bahan perkembangan ilmu kebidanan komunitas yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi pada remaja. 2. Manfaat Praktis a. Bagi SMA 3 Pasundan Cimahi

Sebagai masukan dalam pendidikan, sehingga dapat dijadikan salah satu bahan untuk mengembangkan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi para siswa dengan memberikan pendidikan di lingkungan sekolah.

b.

Bagi Peneliti Lain

Karya tulis ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti lain sebagai informasi dan bahan untuk penelitian selanjutnya, yaitu tentang kesehatan reproduksi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Remaja 1. Pengertian Remaja

World Health Organization (WHO), mendefinisikan remaja adalah kelompok penduduk yang berusia antara 10-19 tahun, sehingga kesehatan reproduksi remaja memperhatikan kebutuhan fisik, sosial, dan emosional, menurut Stanley Hall (1998, dalam Dario, 2004) usia remaja antara usia 12-13 tahun. Sedangkan menurut Hurlock (dalam Sarwono, 2000) remaja adalah kelompok penduduk yang berusia 14-21 tahun. Remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, yang batasan usianya tidak ditentukan dengan jelas. Ditandai dengan pertumbuhan fisik yang lengkap, selama periode ini membentuk maturitas seksual dan mencari identitas sebagai individu yang terpisah dari keluarga (Atkinson, Smith, & Bem, 2007).

2.

Penggolongan Remaja

Menurut Thornburg (1982, dalam Agoes Dariyo,2006) penggolongan remaja terbagi 3 tahap yaitu : a.Remaja awal usia 13-14 tahun, Umumnya telah memasuki pendidikan di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

b.

Remaja tengah usia 15-17 tahun

Umumnya telah memasuki pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). c.Remaja akhir usia 18-21 tahun Umumnya sudah memasuki dunia perguruan tinggi atau mungkin sudah bekerja.

3.

Karakteristik Masa Remaja a.Masa Remaja sebagai Periode yang Penting Semua periode dalam rentang kehidupan adalah penting, namun kepentingannya

berbeda-beda. Ada beberapa periode yang lebih penting dari pada beberapa periode lainnya, karena akibatnya yang langsung terhadap sikap dan perilaku. Pada periode remaja yang penting yaitu akibat fisik dan akibat psikologis. Menurut Tanner (dalam Hurlock, 2004) Bagi sebagian besar remaja, usia antara 12 tahun dan 16 tahun merupakan tahun kehidupan yang penuh kejadian sepanjang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan. Perkembangn fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental yang cepat. b. Masa Remaja sebagai Periode Peralihan

Peralihan tidak berarti terputus atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, sebuah peralihan dari satu tahap perkembangan ke tahap berikutnya. Artinya, apa yang telah terjadi sebelumnya akan meninggalkan bekas pada apa yang terjadi sekarang dan yang akan datang. Bila anak-anak beralih dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Anak-anak harus meninggalkan segala sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan dan juga harus mempelajari pola perilaku dan sikap baru untuk menggantikan perilaku dan sikap yang sudah ditinggalkan. Dalam periode peralihan status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. c.Masa Remaja sebagai Periode Perubahan Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Selama awal remaja ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Apabila perubahan fisik menurun maka perubahan perilaku dan sikap akan menurun juga. Ada 4 perubahan yang sama hampir bersifat universal, diantaranya : 1) Meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan

fisik dan psikologis yang terjadi. 2) Perubahan minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok social untuk

dipesankan sehingga menimbulkan masalah baru. 3) Perubahan nilai-nilai, apa yang pada masa kanak-kanak dianggap penting,

sekarang setelah hamper dewasa tidak penting lagi. 4) Bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan, menginginkan dan menuntut

kebebasan tetapi remaja sering takut tanggung jawab akan akibatnya dan keraguan untuk dapat mengatasi tanggung jawab tersebut. d. Masa Remaja sebagai Usia Bermasalah

Setiap periode mempunyai masalah sendiri-sendiri, namun masalah masa remaja sering menjadi maslah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maupun permpuan. Terdapat dua alasan bagi kesulitan itu diantaranya : 1) 2) Sepanjang masa kanak-kanak Masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru,

sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. 3) 4) Merasa dirinya mandiri Mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan

guru-guru. e.Masa Remaja sebagai Masa Mencari Identitas Menurut Erikson (dalam Hurlock, 2004), Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa peranannya dalam masyarakat. Dalam usaha mencari keseimbangan dan kesamaan yang baru, para remaja memperjuangkan kembali perjuangan tahun-tahun lalu. Remaja selalu siap menempatkan idola dan ideal mereka sebagai pembimbing dalam mencapai identitas akhir. f. Masa Remaja sebagai Usia yang Menimbulkan ketakutan. Banyak anggapan popular tentang remaja yang mempunyai arti yang bernilai dan sayangnya bersifat negatif. Ada istilah stereotif budaya. Stereotif berfungsi sebagai cermin yang ditegakkan masyarakat bagi remaja, yang menggambarkan citra diri remaja sendiri yang lamat laun dianggap sebagai gambaran yang asli dan remaja membentuk perilakunya. g. Masa Remaja sebagai Masa yang Tidak Realistik

Remaja cenderung memandang kehidupan melaui kaca berwarna merah jambu. Ia melihatnya dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang di inginkan dan bukan sebagaimana adanya. Cita-cita yang tidak realistik ini, tidak hanya bagi dirinya ssendiri tetapi justru bagi keluarga dan teman-temannya, sehingga menyebabkan meningginya emosi yang merupakan cirri awal masa remaja. Semakin tidak realistic cita-citanya semakin menjadi marah. Remaja akan sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau kalau tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya. h. Masa Remaja sebagai Ambang Masa Dewasa.

Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggal streotif belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka

sudah hamper dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu, remaja mulai memutuskan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, seperti merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan (Hurlock, 2004).

4.

Perkembangan Remaja

Dalam perkembangan kepribadian seseorang khususnya remaja mempunyai arti yang khusus, namun masa remaja perkembangan seseorang, artinya remaja tidak termasuk mempunyai tempat yang tidak jelas dalam rangkaian proses golongan anak, tetapi tidak pula termasuk golongan orang dewasa atau golongan tua. Remaja ada di antara anak dan orang dewasa, sehingga masih belum mampu untuk menguasai fungsi fisik maupun psikisnya (Monks, Knoers, & Haditono, 2006). Maka Perkembangan yang terjadi pada remaja meliputi : a.Perkembangan Fisik Dalam perkembangan kepribadian seseorang maka remaja mempunyai arti yang khusus, namun begitu masa remaja mempunyai tempat yang tidak jelas dalam rangkaian proses perkembangan seseorang. Seorang anak masih belum selesai perkembangannya, orang dewasa dapat dianggap sudah berkembang sepenuhnya fungsi-fungsi fisik. Pada masa remaja perkembangan berlangsung antara masa usia 12 tahun dan 21 tahun, sehingga pada remaja akan mengalami perubahan fisik yang di pengaruhi oleh suatu hormon seks yang akan mengubah pola pertumbuhan seorang anak. Menurut Papalia, Olds, dan Feldman (2001) perkembangan fisik remaja akan mengalamami perubahan seperti :

Tabel 2.1 Perubahan Fisik Pada Remaja Wanita Perkembangan fisik Pertumbuhan payudara Pertumbuhan rambut kemaluan Pertumbuhan badan Menarche ( haid pertama) Bulu ketiak Usia 7-13 tahun 7-14 tahun 9,5-14,5 tahun 10-16,5 tahun setelah tumbuhnya rambut kemaluan

(Sumber : Papalia, Olds, dan Feldman, 2001)

b.

Perkembangan Seksual

Pubertas adalah periode maturasi seksual yang mengubah seorang anak menjadi orang dewasa yang matang secara biologis yang mampu melakukan reproduksi seksual, terjadi dalam periode sekitar 3 atau 4 tahun. Pubertas dimulai dengan periode pertumbuhan fisik yang cepat yang disertai oleh perkembangan bertahap organ reproduktif dan karakteristik seks sekunder (perkembangan payudara pada perempuan, janggut pada laki-laki, dan tumbuhnya rambut pubis pada kedua jenis. Menarche merupakan periode menstruasi pertama, terjadi relatif lambat pada pubertas sekitar 18 bulan setelah percepatan pertumbuhan wanita mencapai puncaknya. Periode ini cenderung tidak teratur, dan ovulasi (pelepasan sel telur) biasanya tidak di mulai sampai 1 tahun atau lebih setelah menarche. Ejakulasi pertama pada anak laki-laki biasanya terjadi sekitar 2 tahun setelah di mulainya percepatan pertumbuhan. Cairan seminal pertama tidak mengandung sperma, jumlah sperma dan fertilitas mereka meningkat secara bertahap (Atkinson, Smith, & Bell, 2003). c.Perkembangan Psikologis

Anak perempuan yang secara fisik matur biasanya kurang puas dengan berat badan dan penampilan mereka dibandingkan temannya yang belum dewasa. Anak perempuan yang dewasa lebih awal cenderung merasa malu oleh fakta bahwa tubuh meraka memiliki bentuk yang lebih dibandingkan temannya yang mempunyai daya tarik. Berkaitan dengan mood banyak penelitian menyatakan bahwa anak perempuan yang dewasa awal lebih cepat mengalami depresi dan kecemasan dan memiliki percaya diri yang lebih rendah, jarang berbicara dengan orang tuanya, memiliki lebih sedikit perasaan positif terhadap hubungan keluarga dibandingkan anak perempuan yang lambat dewasa (Simmon & Blyth, 1988, dalam Atkinson, 2003). d. Perkembangan Sosial.

Percepatan perkembangan remaja yang berhubungan dengan pemasakan seksualitas, juga mengakibatkan suatu perubahan dalam perkembangan social remaja. Sebelum masa remaja sudah ada hubungan yang lebih erat antara anak-anak yang sebaya, sering timbul juga kelompok-kelompok, perkumpulan-perkumpulan untuk bermain bersama atau membuat rencana bersama. Aktivitas tersebut juga dapat bersifat agresif, kadangkadang kriminal seperti mencuri, penganiayaan dan lain-lain (Monks, Knoers, & Haditono, 2006). e.Perkembangan Kognitif Menurut Pieget (dalam Dariyo, 2006) mengemukakan kognitif/ kecerdasan merupakan kemampuan mental (mental activity) untuk beradaptasi dan mencari keseimbangan dengan lingkungan hidupnya. Lingkungan itu terdiri atas lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Setiap individu akan mengalami proses pertumbuhan yaitu proses perubahan struktur dan skema mentalnya, dari yang bersifat sederhana menuju hal yang lebih komplek, hal ini terjadi karena adanya faktor perkembangan maupun faktor belajar. Pada proses perkembangan yang terjadi yaitu perubahan struktur mentalnya, sedangkan pada proses belajar yaitu perubahan isi mental. f. Perkembangan Identitas Pada masa remaja tugas utama perkembangan adalah menghadapi krisis antara pencapaian identitas diri dengan kebingungan identitas ( role confusion). Jika identitas diri berhasil dicapai, maka remaja menjadi dewasa yang matang dimana terdapat keseimbangan antara perkembangan diri dengan keadaan sosialnya. Sebaliknya jika remaja gagal mencapai identitas dirinya maka remaja akan menghadapi kebingungan peran atau identitas.

Terdapat 4 keadaan identitas diri pada remaja, yaitu : 1) Identity diffusion adalah suatu keadaan dimana belum mengalami krisis atau

membuat komitmen akan melakukan sesuat. 2) Identity foreclosure, adalah suatu keadaan dimana remaja telah membuat

komitmen namun belum mengalami krisis. 3) Identity moratorium, adalah suatu keadaan dimana remaja telah mengalami

krisis namun belum membuat komitmen. 4) Identity achievement, adalah suatu keadaan dimana remaja telah mengalami

krisis dan telah membuat komitmen (Suriadi & Yulianni, 2006).

B. Konsep Kesehatan Reproduksi 1. Pengertian Kesehatan Reproduksi

Menurut Perkumpulan Keluaraga Berencana Indonesia (PKBI) (2001), Reproduksi berasal dari kata re yang artinya kembali dan production yang artinya membuat atau menghasilkan. Jadi istilah reproduksi mempunyai arti suatu proses kehiduapan manusia dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidupnya. Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sehat jasmani, psikologis, dan sosial yang berhubungan dengan fungsi dan proses sistem reproduksi (ICPD, 1994, dalam Depkes, 2005).

2.

Proses Reproduksi

Manusia berkembangbiak secara seksual dan pada saat tertentu membentuk sel-sel kelamin (gamet). Sel-sel kelamin yang dibentuk oleh laki-laki membentuk sel-sel kelamin ( gamet). Sel-sel kelamin yang dibentuk seorang pria disebut sel sperma ( spermatozoa). Seorang lakilaki dewasa menghasilkan lebih dari seratus juta sel sperma. Adapun sel-sel kelamin yang dibentuk oleh seorang wanita disebut sel telur ( ovum). Proses pembentukan spermatozoa disebut spermatogenesis, sedangkan proses pembentukan ovum disebut ogenesis. Kedua proses mengawali terjadinya perkembangbiakan pada manusia. Seorang wanita mampu

memproduksi sel telur (ovum) setelah masa puber (remaja awal) sampai dewasa, yaitu sekitar umur 12 sampai 50 tahun. Setelah usia sekitar 50 tahun seorang wanita tidak produktif lagi yang ditandai dengan tidak mengalami menstruasi disebut menopause. Setelah sel telur di dalam ovarium matang, dinding rahim menebal dan banyak mengandung pembuluh darah. Pembuahan didahului oleh peristiwa ovulasi, yaitu lepasnya sel telur yang matang dari ovarium. Jika sperma bertemu dengan ovum akan terjadi pembuahan. Pembuahan terjadi di ovarium. Sel telur yang telah dibuahi akan membentuk zigot. Zigot yang terbentuk segera diselubungi oleh selaput, kemudian menuju ke rahim. Di dalam rahim zigot menanamkan diri pada dinding rahim yang telah menebal. Zigot yang telah berada di rahim akan terus tumbuh dan berkembang menjadi embrio sampai dilahirkan. Masa embrio/masa kehamilan manusia sekitar 9 bulan 10 hari. Di dalam rahim embrio mendapat makanan dari tubuh induk melalui plasenta (Dahlan, 2009, Proses reproduksi, 1, http://wordpress.com, di peroleh tanggal 10 Februari 2010).

3.

Kesehatan Reproduksi Wanita a.Kesehatan Reproduksi Wanita Berdasarkan konferensi wanita sedunia ke-4 di Beijing pada tahun 1995 dan konferensi kependudukan dan pembangunan di Cairo tahun 1994 sudah disepakati perihal hal-hal reproduksi pada wanita tersebut. Empat hal pokok dalam reproduksi wanita, yaitu : 1) 2) 3) 4) b. Kesehatan reproduksi dan seksual. Penentuan dalam keputusan reproduksi. Kesetaraan wanita dan pria. Keamanan reproduksi dan seksual. Permasalahan Kesehatan Reproduksi Wanita

Indikator-indikator permasalahan kesehatan reproduksi wanita meliputi : 1) Gender

Gender adalah peran masing-masing berdasarkan jenis kelamin menurut budaya yang berbeda-beda. Jender sebagai suatu kontruksi sosial mempengaruhi tingkat kesehatan, dan karena peran jender berbeda dalam konteks cross cultural berarti tingkat kesehatan wanita juga berbeda-beda.

2)

Kemiskinan

Kemiskinan akan mengakibatkan : a) b) Makanan yang tidak cukup atau makanan yang kurang gizi. Persediaan air yang kurang, sanitasi yang jelek dan perumahan yang

tidak layak. c) Tidak mendapatkan pelayanan yang baik.

3)

Pendidikan yang rendah

Kemiskinan dapat mempengaruhi kesempatan untuk mendapatakan pendidikan. Sehingga tingkat pendidikan juga dapat mempengauhi tingkat kesehatan. Orang yang berpendidikan memadai dapat merawat diri sendiri dan ikut serta dalam pengambilan keputusan dalam keluarga dan masyarakat. 4) Kawin muda

Di Indonesia kawin muda pada wanita masih banyak terjadi (biasanya di bawah usia 18 tahun). Hal ini banyak kebudayaan yang menganggap kalau belum menikah di usia tertentu dianggap tidak laku. Ada juga karena faktor kemiskinan, orang tua cepat-cepat mengawinkan anaknya agar lepas tanggung jawabnya dan diserahkan anak wanita tersebut kepada suaminya. Ini berarti wanita muda hamil mempunyai resiko tinggi pada saat persalinan. Di samping itu resiko tingkat kematian dua kali lebih besar dari wanita yang menikah di usia 20 tahunan. 5) Beban kerja yang berat.

Wanita bekerja jauh lebih lama dari pada pria, berbagai penelitian yang telah dilakukan di seluruh dunia rata-rata wanita bekerja 3 jam lebih lama. Akibatnya wanita mempunyai sedikit waktu istirahat, lebih lanjut terjadinya kelelahan kronis, stress, dan sebagainya. Kesehatan wanita tidak hanya dipengaruhi oleh waktu (http://www.wordpress.com/kesehatan-reproduksi-wanita-2008, diperoleh tanggal 15 Februari 2010).

4.

Masalah Kesehatan Reproduksi

Menurut BKKBN (2001) Masalah kesehatan reproduksi di Indonesia meliputi : a.Kesakitan dan kematian ibu hamil, melahirkan dan nifas b. Aborsi

c.Infeksi saluran reproduksi dan penyakit menular seksual, meliputi : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) d. Genorhe (kencing nanah) Sifiis (raja singa) Herpes genitalis Trikomonas vaginitis (keputihan berbau busuk) Sankroid (koreng) Klamida (keluar cairan dari vagina) Condiloma akuminata (Kutil daerah kemaluan) Candidiasis (Jamur di mulut vagina) Hepatiitis B HIV/AIDS

e.Keluarga Berencana.

5.

Perawatan Sistem Reproduksi

Perawatan sisstem reproduksi adalah suatu perawatan rutin pada alat reproduksi bertujuan supaya terhindar dari bakteri, jamur, dan virus yang akan mengakibatkan peradangan, infeksi, dan rangsangan rasa gatal pada sistem reproduksi. Berikut perawatan sistem reproduksi pada wanita dan laki-laki, diantaranya : a.Pemeliharaan Sistem Reproduksi pada Wanita meliputi : 1) Pemakaian pembilas vagina, pembilas secuknya, tidak berlebihan.

2) 3) 4)

Tidak memasukkan benda asing dalam vagina Tidak menggunakan celana yang terlalu ketat Hal yang perlu diperhatikan oleh remaja puteri pada saat haid adalah :

Pada saat haid, pembuluh darah dalam rahim sangat mudah terkena infeksi. Oleh karena itu kebersihan vagina lebih dijaga supaya kuman tidak mudah masuk dan menimbulkan penyakit pada saluran reproduksi. 5) Selama haid mungkin timbul rasa nyeri pada pinggang dan panggul. Hal ini

disebabkan adanya peregangan-peregangan (kontraksi) pada otot rahim. 6) Untuk menjaga kebersihan, penggunaan pembalut selama haid harus diganti

secara teratur 4-5 kali sehari atau setelah buang air kecil. 7) Jika memakai pembalut sekali pakai, sebaiknya dibersihkan dulu sebelum

dicuci terlebih dahulu rendam memakai sabun pada temppat tertutup. 8) 9) Mencatat siklus haid. Apabila badan terasa kurang segar pada saat haid karena tubuh memproduksi

lebih banyak keringat dan minyak serta getah-getah tubuh lainnya, sebaiknya tetap mandi dan keramas seperti biasa menggunakan air hangat. 10) Pada waktu haid, air di dalam tubuh lebih banyak, hal ini menyebabkan nyeri perut dan lainnya. Oleh karena itu , sebaiknya selama haid garam dikurangi, perbanyak buah-buahan dan sayuran segar, batasi lemak dan daging. Ikan dan ayam lebih cocok serta minum air putih sebanyak-banyaknya dan lebih banyak mengkonsumsi karbohidrat agar tubuh tidak menjadi lemah. b. 1) Pemeliharaan Sistem Reproduksi pada Laki-laki Tidak menggunakan celana yang ketat dapat mempengaruhi suhu testis,

sehingga dapat menghambat produksi sperma. 2) Sunat dapat mencegah penumpukan kotoran atau smegma (cairan dan

kelenjar alat kelamin) sehingga alat kelamin menjadi bersih. c.Akibat Tidak Menjaga Kebersihan Sistem Reproduksi 1) Bisa tekena sejenis jamur atau kutu yang dapat menyebabkan rasa gatal atau

tidak nyaman. 2) Mencuci vagina dengan air kotor, pemriksaan dalam yang tidak benar,

pemakaian pembilas vagina yang berlebihan, pemeriksaan yang tidak hiegenis dan

adanya benda asing dalam vagina dapat menyebabkan keputihan yang abnormal. Keputihan juga bias timbul karena pengobatan hormonal, celana yang tidak menyerap keringat dan penyakit seksual. keputihan yang abnormal berwarna putih atau kuning, berbau, sangat gatal dan disertai nyeri perut bagian bawah (R. Wahyudi, 2006).

C. Konsep Pengetahuan 1. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2007). Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Penelitian Rogers (1974, dalam Notoatmodjo, 2007) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni : a. Awareness (kesadaran), yakni menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu. b. Interest, yakni orang mulai tertarik pada stimulus.

c. Evaluation, yakni menimbang-nimbang baik tidaknya stimulus tersebut.

d.

Trial, yakni orang mulai mencoba perilaku baru.

e. Adaption, yakni subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, da sikapnya terhadap stimulus.

2.

Tingkatan Pengetahuan

Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati 5 proses tersebut, apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama. Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan itu mempunyai 6 tingkatan, yaitu:

a.Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Tingkatan ini adalah mengingat kembali ( recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. b. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat mengiterpretasikan materi tersebut secara benar. c.Aplikasi (application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hokum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. d. Analisis (analysis)

Analisis diartikan sebagai kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

e.Sintesis (synthesis) Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

f. Evaluasi (evaluation) Evaluasi diartikan dengan kemampuan untuk melakukan justufikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang sudah ada. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas.

3.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003) fakto -faktor yang mempengaruhi pengetahuan ada 5 yaitu: a.Tingkat Pendidikan Pendidikan adalah upaya untuk memberikan pengetahuan, sehingga terjadi perubahan perilaku yang positif dan meningkat. b. Informasi

Seorang yang mempunyai sumber lebih banyak akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas.

c.Budaya Tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi meliputi sikap dan kepercayaan. d. Pengalaman kebutuhan yang

Sesuatu yang pernah dialami seseorang akan menambah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat non formal. e.Sosial Ekonomi Tingkat kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

4.

Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat di lakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan di ukur dari subjek penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2003). Menurut Notoatmodjo (2003), pertanyaan yang dapat di gunakan untuk mengukur pengetahuan umum dapat di kelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu : a. Pertanyaan subjektif berupa jenis pertanyaan essay, disebut pertanyaan

subjektif dari penilai sehingga nilainya akan berada dari penilaian satu dengan yang lain dari satu waktu yang lainnya. b. Pertanyaan objektif merupakan pertanyaan pilihan ganda, salah-betul dan menjodohkan. Penilaian dari bentuk pertanyaan bersifat pasti, tanpa melibatkan subjektifitas dari pelaku.

5.

Indikator Hasil Pengukuran Pengetahuan

Menurut Nursalam (2003), hasil pengetahuan dapat dikelompokkan dengan kriteria hasil : a. b. c. Baik, jika 76%-100% jawaban benar Cukup, jika 56%-75% jawaban benar Kurang, jika < 56% jawaban benar

Kerangka konsep

Kerangka konsep penelitian gambaran pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi di SMA Pasundan 3 Kota Cimahi tahun 2010

Karakteristik Umur

Perilaku remaja tentang kesehatan reproduksi

Keterangan :

: Identitas Responden

: Variabel

BAB III METODE PENELITIAN

3.1

Desain Penelitian

Desain penelitian adalah suatu rencana strategis penelitian yang dimaksudkan menjawab permasalahan yang dihadapi ( Notoadmodjo,2005) Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan survey yaitu penelitian yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya cukup banyak dalam jangka waktu tertentu.

3.2

Polulasi dan Sampel

3.2.1 Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek atau objek yang mempunyai kwantitas dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya ( Aziz, 2010). Dalam penelitian ini penulis menentukan populasi yaitu seluruh remaja putri yang terdiri kelas X sebanyak 40 orang, kelas XI sebanyak 50 orang, kelas XII sebanyak 60 orang. Dengan jumlah total 150 orang. 3.2.2 Sampel

Adalah bagian dari jumlah dan karateristik yang dimiliki oleh populasi ( Sugiono, 2002;57 ). Tehnik sampel yang digunakan adalah probability sampling dengan pengambilan sampel secara stratified random sampling, dilakukan dengan cara mengidentifikasi criteria umum dari anggota populasi. Dalam menentukan jumlah sampel peneliti menggunakan rumus sampel sebagai berikut ( Notoatmodjo, 2005 ) :
n= N 1+ N d 2

( )

Keterangan : N = Besar populasi n = Besar sampel

d = Tingkat kepercayaan / ketepatan yang diinginkan : 0,05 jadi jumlah sampelnya adalah :
n= 150 1 +150(0,1) 2

150 1 +150(0,01)
150 1 +1,5 150 2,5

= 60 responden Berdasarkan hasil perhitungan rumus menurut Notoatmodjo (2005), didapatkan 110 responden, maka dilakukan pembagian kelas dengan menggunakan teknik dengan rumus Stratified random sampling: ni = Ni x n N Keterangan : ni = besarnya sampel Ni = total populasi n = besar sampel stratum I N = total populasi stratum I Berdasarkan rumus diatas maka dapat diketahui pembagian strata tiap kelas X, XI, dan XII, sebagai berikut : 40 x 60 Kelas X = 150 50 x 60 Kelas XI = 150 = 20 orang = 15 orang

Kelas XII=

60 150

60

= 24orang

Jumlah ......................................= 110 orang Dari hasil penelitian didapatkan 110 Responden. Penelitian dilakukan selama satu minggu.

3.3

Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan data primer dan data skunder. Dimana data primer didapat Dengan cara responden mengisi lembar quisioner yang berisi sejumlah pertanyaan yang akan diisi oleh para responden, dimana pertanyaan tersebut berkaitan dengan variabel yang akan diteliti dan disusun secara sistematik. Untuk data skunder didapatkan melalui kepala sekolah untuk mendapatkan jumlah populasi siswa khususnya siswi kelas 1, 2 dan 3.

3.4

Definisi Operasional Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karateristik yang diamati ( Hidayat, 2007 ).

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabe l Sub Variabel Definsi Konseptual Definisi Operasio nal Pengeta huan tentang kesehat an reprodu ksi a. rtian kesehatan reproduksi Penge Hasil dari Pengetah tahu, terjadi setelah orang melakkuka n dan uan an subtansi tentang topic dan pemaham 1. Baik Kuisio Ordin al Kategori Alat Ukur Skala

, jika skor ner 76-100% 2. 58-75% Cuk

up, jika skor

perinderaa suatu objek

topic reproduk si remaja

3. <56%

Kura

n terhadap kesehatan

ng, jika skor

1. Pengeta Hasil dari tahu b. s Prose tentang huan dan pemaham an subtansi tentang topic topic reproduk si

Baik

, jika skor 76-100% 2. 56-75% 3. <56% 1. Baik Kura Cuk

up,jika skor

reproduksi proses pada manusia terjadinya perkemban gan manusia

ng, jika skor Kuisio ner Ordin al

, jika skor 76-100% 2. 56-75% 3. nng, Kura jika Cuk

up, jika skor Pengetah uan Hasil dari c. Masal tahu masalah yang menimbulk an terhadap kesehatan reproduksi ah kesehatan tentang reproduksi an subtansi tentang topic topik masalah kesehatan reproduk si Pengetah uan dan pemaham dan pemaham

skor <56% 1. Baik

, jika skor 76-100% 2. 56-75% 3. <56% Kura Ordin al ner Cuk

up, jika skor

ng, jika skor Kuisio

an Hasil dari d. atan Peraw sistem tahu tentang upaya untuk menjaga kesehatan sistem reproduksi dan berbagai macam dampak negatif Kuisio ner Ordin al substansi tentang perawata n sistem reproduk si

reproduksi

3.5

Pengolahan Data 3.5.1 Editting

Tahap ini dilakukan untuk menilai kelengkapan dan menyesuaikan dengan jawaban responden. Ini dilakukan secara manual yaitu memeriksa setiap lembar kuisioner pada waktu penerimaan pengumpulan data. ( Zaluchu, 2006 ). 3.5.2 Coding

Tahap ini dilakukan dengan cara member kode angka pada setiap jawaban kuisioner, dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengolahan data ( Zaluchu, 2006 ). 3.5.3 Tabulating

Pada tahap ini penulis melakukan pemindahan penyusunan data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi pada setiap variabel yang diteliti ( Zaluchu, 2006 ). 3.5.4 Analisa Data

Pada tahap ini menggunakan teknik analisa data secara uni variat menghasilkan distribusi dan presentase dari setiap variabel yang diteliti dengan menggunakan rumus :

P = F X 100% N Keterangan : P= Presentase F= Frekuensi N= Jumlah Responden ( Hidayat, 2007 )