Anda di halaman 1dari 27

1

EKSISTENSI MAJELIS TALIM DALAM MENINGKATKAN IBADAH PEKERJA HOME INDUSTRI DI KECAMATAN PADANGSIDIMPUAN SELATAN

A. Latar Belakang Masalah. Islam adalah wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia, sepanjang masa dan setiap persada berupa perintah-perintah, larangan-larangan dengan petunjuk untuk kesejahteraan hidup manusia di dunia dan akhirat. Islam juga mengatur kehidupan manusia yang mengajarkan umatnya untuk hidup seimbang antara dunia dan akhirat, seimbang antara hubungannya dengan Tuhan dan sesama manusia, seimbang antara ibadah dengan urusan dunia.1 Oleh karena itu agama sangat diperlukan oleh manusia di alam akhirat, tetapi juga mengatur bagaimana seharusnya manusia hidup di dunia. Agama Islam berisi tentang ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul. Salah satu ajaran Islam itu adalah melalui majelis talim yang sangat berperan dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas khususnya dalam bidang keagamaan. Untuk itu agama Islam datang kepersada bumi ini adalah untuk membawa rahmat kepada sekalian alam. Kehadiran agama Islam kepersada bumi ini adalah dengan tujuan sebagai berikut: 1. Menghapuskan segala bentuk perbedaan, misalnya antara si kaya dengan si miskin, si kulit hitam dengan si kulit putih.
1Ahmad Thib Raya dan Siti Musdah Mulia, Menyelami Seluk Beluk Ibadah Dalam Islam, (Bogor: Kencana, 2003), hlm. 22.

2. 3.

Membawa kedamaian yang abadi di segala penjuru dunia. Menghantarkan manusia untuk hidup bahagia dunia dan akhirat.2 Untuk mencapai tujuan di atas secara optimal, maka agama Islam sebagai

ajaran yang sangat penting dan membawa manusia ke jalan yang benar. Hal ini tampak pada firman Allah SWT Q.S. al-Maidah 3:
... ...

Artinya: pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu 3 (Q. S. Al-Maidah 3) Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa Islam adalah agama Allah yang harus dipelajari, dipahami dan diamalkan yang diajarkan kepada manusia sebagai rahmat, hidayah dan petunjuk yang membawa kepada keselamatan dan kedamaian. Manusia dalam melaksanakan aktivitasnya tidak boleh melupakan segala kewajibannya kepada Allah. Salah satu kewajiban itu adalah dengan melaksanakan ibadah kepada Allah seperti shalat fardhu lima kali sehari semalam. Dengan ibadah tersebut akan mencegah manusia kepada perbuatan yang keji

2Muhammad Yusuf Musa, Islam Suatu Kajian Komprehensif, (Jakarta: Rajawali Pers, 1988), hlm. 223. 3Q. S. Al-Maidah 5:3.

dan mungkar. Hal ini tampak pada firman Allah SWT Q.S AlAnkabut 45:
... ...

Artinya: dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatanperbuatan) keji dan

mungkar4 (Q.S. Al-Ankabut 45) Manusia dituntut untuk memahami tentang ajaran-ajaran agama yang bersumber dari al-Quran dan Hadits. Salah satu lembaga agama tersebut berasal dari eksistensi majelis ta'lim. Majelis ta'lim yang dimaksud adalah penguasaan dan

pelaksanaan terhadap ilmu-ilmu agama. Majelis ta'lim mempunyai makna tempat belajar. Majelis ta'lim adalah sebuah lembaga pendidikan non formal yang memiliki jamaah dengan jumlah yang banyak, usia yang heterogen, memiliki kurikulum serta waktu yang fleksibel sesuai kebutuhan jamaah. Majelis ta'lim merupakan salah satu sarana yang efektif dalam menyampaikan pesan keagamaan,

pemberdayaan sosial dan masyarakat khususnya dengan tujuan untuk membina masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT. Adapun kegiatan agama yang digerakkan oleh majelis ta'lim

4Q.S Al-Ankabut, 29 : 45.

meliputi pengajian rutin, wirid Yasin, tabligh, kegiatan di bulan Ramadhan, hari-hari besar Islam lainnya. Majelis ta'lim mempunyai andil besar dalam rangka membina pengetahuan keislaman masyarakat, khususnya bagi masyarakat yang tidak sempat mengenyam pendidikan Islam formal. Oleh karena itu dengan mengikuti eksistensi majelis ta'lim akan meningkatkan ibadah dan keimanan para jamaah yang mengikutinya khususnya pekerja home industri di

Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. Demikian pula halnya di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan khususnya di Kelurahan Ujungpadang yang mana kondisi masyarakat di kelurahan tersebut sebagian besar adalah pengusaha home industri yang memiliki pekerja dan banyak menggunakan waktunya untuk kesibukan-kesibukan usahanya pada home industri tersebut bila dibandingkan dengan

meluangkan sedikit waktu istirahat untuk melaksanakan ibadah, khususnya shalat fardhu lima kali sehari semalam. Padahal sebagian besar pekerja home industri tersebut mengikuti kegiatan agama yang digerakkan oleh majelis ta'lim. Karena kesibukan bekerja mulai dari pagi hingga sore hari bahkan terkadang lembur, maka pekerja home industri tersebut tidak melak-sanakan ibadahnya. Seharusnya dengan mengikuti

kegiatan agama yang digerakkan oleh majelis ta'lim akan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Home industri ini mempekerjakan beberapa pekerja baik dari masyarakat maupun dari keluarga itu sendiri. Adapun anggota home industri ini terdiri dari remaja dan ibu-ibu yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Sedangkan jenis home industri yang ingin diteliti oleh penulis adalah home industri produk makanan seperti pembuatan tahu, tempe, roti dan kerupuk sambal, sarang balom, peye dan karakoling. Pekerja home industri yang melaksanakan tugasnya mulai pagi hingga sore hari bahkan lembur, diharapkan dapat

meluangkan waktu untuk beribadah kepada Allah. Dengan pelaksanaan majelis ta'lim secara rutin akan menambah ibadah kepada Allah dan memberi contoh kepada masyarakat dan keluarga. Berdasarkan permasalahan sebagaimana diuraikan di atas, maka penulis merasa tertarik untuk mengadakan

penelitian dengan mengambil judul EKSISTENSI MAJELIS TA'LIM DALAM MENINGKATKAN IBADAH PEKERJA HOME INDUSTRI DI KECAMATAN PADANGSIDIMPUAN SELATAN.

B. Rumusan Masalah.

Melihat latar belakang masalah di atas waktu penulis menuliskan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimanakah ibadah para pekerja home industri di Kecamatan

Padangsidimpuan Selatan? 2. Apakah kegiatan yang dilaksanakan majelis ta'lim dalam meningkatkan ibadah pekerja home industri di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan? 3. Bagaimanakah metode majelis talim dalam meningkatkan ibadah pekerja home industri di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan?

C. Tujuan Penelitian. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara jelas pelaksanaan eksistensi majelis ta'lim dalam meningkatkan ibadah pekerja home industri di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. Penelitian ini dapat dirinci lagi yaitu: 1. Untuk mengetahui ibadah para pekerja home industri di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. 2. Untuk mengetahui kegiatan-kegiatan majelis ta'lim dalam meningkatkan ibadah pekerja home industri di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. 3. Untuk mengetahui metode majelis talim dalam meningkatkan ibadah pekerja home industri di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan.

D. Batasan Istilah.

Untuk menghindari terjadinya kekeliruan dan kesalahpahaman tentang maksud pemahaman dari skripsi ini, maka ada hal-hal yang perlu diberi penjelasan tentang istilah yang digunakan dalam judul ini yaitu: 1. Eksistensi adalah hal berada; keberadaan, wujud (yang tampak); adanya sesuatu yang membedakan antara suatu benda dengan benda lain. 5 Eksistensi yang dimaksud dalam tulisan ini adalah keberadaan majelis ta'lim di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan khususnya di Kelurahan Ujungpadang. 2. Majelis ta'lim berasal dari bahasa Arab, yang terdiri dari dua suku kata yaitu majelis berarti tempat duduk dan talim adalah pengajaran atau pengajian. Jadi secara etimologis, majelis ta'lim dapat diartikan sebagai tempat untuk melaksanakan pengajian atau pengajaran agama Islam yang memiliki kurikulum, diselenggarakan secara berkala dan teratur, dan diikuti oleh jemaah yang relatif banyak.6 Majelis ta'lim yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kegiatan agama yang dilaksanakan oleh pekerja home industri di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan khususnya di Kelurahan Ujungpadang. Adapun kegiatan agama yang diikuti antara lain adalah wirid Yasin, pengajian rutin, tabligh, kegiatan di bulan Ramadhan dan hari-hari besar Islam lainnya. 3. Ibadah adalah, pengabdian, penyembahan, kegiatan menghinakan,

merendahkan diri dan doa. Perbuatan yang dilakukan sebagai usaha menghubungkan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai Tuhan
5Adi Satrio, Kamus Ilmiah Populer, ( tk : Visi 7, 2005), hlm. 15. 6Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam 3, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997), hlm. 120.

yang disembah.7 Ibadah yang dimaksud dalam tulisan ini adalah ibadah dalam arti khusus seperti sholat fardhu, shalat sunnat, puasa dan membaca alQuran yang dilaksanakan oleh pekerja home industri di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan khususnya di Kelurahan Ujungpadang. 4. Pekerja adalah orang yang bekerja atau orang yang menerima upah atas hasil kerjanya, buruh karyawan.8 Pekerja yang dimaksud dalam tulisan ini adalah pemilik home industri dan sebagian masyarakat yang bertempat tinggal di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan khususnya di Kelurahan Ujungpadang. 5. Home industri atau industri rumahan adalah suatu unit usaha atau perusahaan dalam skala kecil yang bergerak di bidang industri tertentu. Biasanya perusahaan ini hanya menggunakan satu atau dua rumah sebagai pusat industri, administrasi dan pemasaran sekaligus secara bersamaan.9 Adapun maksud home industri yang ingin penulis teliti adalah pembuatan tahu tempe, roti, kerupuk sambal, sarang balom, peye dan karakoling yang tergolong pada home industri jenis makanan yang terletak di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan khususnya di Kelurahan Ujungpadang..

E. Kegunaan Penelitian. Kegunaan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

7Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam 2, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996), hlm. 592. 8Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga , (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), hlm. 554. 9Jasa Ungguh Muliawan, Manajemen Home Industri, (Yogyakarta: Banyu Media, 2008), hlm. 3.

1. Bagi pekerja home industri untuk dapat melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. 2. Bagi peneliti lanjutan yang bermaksud mengadakan penelitian yang lebih mendalam tentang permasalahan yang ada hubungannya dengan penelitian ini. 3. Bahan masukan bagi penulis sendiri untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) pada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Padangsidimpuan.

F. Landasan Teori. 1. Eksistensi Majelis Ta'lim. a. Pengertian Majelis Ta'lim. Secara etimologis, majelis ta'lim dapat diartikan sebagai tempat untuk melaksanakan pengajaran atau pengajian agama Islam.10 Sedangkan dari istilah atau defenisi majelis ta'lim adalah sebuah lembaga pendidikan non formal yang memiliki jamaah dengan jumlah yang relatif banyak, usia yang heterogen, memiliki kurikulum berbasis keagamaan dan waktu yang fleksibel sesuai dengan kebutuhan jamaah.11

10Dewan Redaksi, Loc.Cit. 11Khadijah Munir, Peningkatan Kualitas Majelis Talim Menuju Akselerasi dan Eskalasi Pemberdayaan Umat, Kustini (ed.), Peningkatan Peran Serta Masyarakat Dalam Pemberdayaan Ajaran Agama Melalui Majelis Talim, (Jakarta: Departemen Agama RI, Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Kehidupan Beragama, 2007), hlm. 32.

10

Dari pengertiaan majelis ta'lim di atas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa majelis ta'lim adalah sebuah lembaga pendidikan non formal berbasis keagamaan sebagai tempat pengajaran agama Islam yang memiliki jamaah dan waktu yang fleksibel sesuai dengan kebutuhan jamaah. Bila dilihat dari segi tujuan, majelis ta'lim termasuk lembaga atau sarana dakwah Islamiah yang secara self standing and self disciplined dapat mengatur dan melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Di samping itu majelis ta'lim juga merupakan salah satu sarana yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan kegiatan, pemberdayaan sosial dan

masyarakat khususnya.12

b. Fungsi dan Manfaat Majelis Ta'lim. Majelis ta'lim merupakan wadah atau wahana Islamiah yang murni institusional keagamaan yang melekat pada agama Islam itu sendiri. Di samping itu majelis ta'lim juga merupakan lembaga pendidikan kemasyarakatan yang pertumbuhan dan perkembangannya didasarkan kepada taawun dan ruha mau bainahum. Dengan adanya majelis ta'lim akan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan jamaah serta memberantas kebodohan umat Islam agar memperoleh kehidupan yang bahagia, sejahtera dan diridhoi oleh Allah SWT.

12Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 1996), hlm. 94.

11

Majelis ta'lim dengan sifatnya yang tidak terlalu mengikat dengan aturan yang ketat dan tetap, merupakan pendidikan yang efektif dan efisien, cepat menghasilkan dan sangat baik untuk mengembangkan tenaga kerja atau potensi umat. Efektifitas dan efisiensi sistem pendidikan ini tumbuh dan berkembang melalui media pengajian-pengajian Islam atau majelis ta'lim. Oleh karena itu majelis ta'lim adalah lembaga swadaya masyarakat yang membatu dan menyayangi sesama muslim. Selain itu majelis ta'lim adalah sarana untuk menyadarkan umat Islam dalam rangka menghayati, memahami dan mengamalkan ajaran agama yang kontekstual kepada lingkungan hidup, sosial budaya dan alam sekitar mereka, sehingga dapat menjadikan umat Islam sebagai ummatan wasaton yang meneladani umat lain. Pertumbuhan majelis ta'lim menunjukkan akan adanya kebutuhan dan hasrat anggota masyarakat akan pengetahuan dan pendidikan agama yang dapat menimbulkan kesadaran dan inisiatif para ulama dan anggota masyarakat untuk memperbaiki, meningkatkan dan mengembalikan kualitas dan kemampuan, sehingga eksistensi majelis ta'lim dapat menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya. Sebagaimana yang dikutip oleh Enung K Rukiati dan Fenti Hikmawati dalam buku karangan Nurul Huda sebagai lembaga pendidikan non formal majelis ta'lim berfungsi sebagai berikut:

12

1) 2) 3) 4) 5)

Membina dan mengembangkan ajaran Islam dalam rangka membentuk masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT. Sebagai taman rekreasi rohaniah karena penyelenggaraan bersifat santai. Sebagai ajaran berlangsungnya silaturrahmi massal yang dapat menghidup-suburkan dakwah dan ukhuwah Islamiyah. Sebagai sarana dialog berkesinambungan antara ulama dan umaro serta dengan umat. Sebagai media penyampaian gagasan yang bermanfaat bagi pembangunan umat dan bangsa pada umumnya.13

Dari manfaat majelis ta'lim yang dipaparkan di atas dapat dipahami bahwa yang pertama sekali adalah untuk membina dan mengembangkan ajaran Islam dalam rangka membentuk masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT. Hal ini disebabkan dalam majelis ta'lim tersebut dilaksanakan pengajaran agama Islam, baik dalam bentuk ceramah yang dilakukan oleh ustadz atau dai yang menyangkut aqidah, akhlak dan sebagainya. Materi yang digunakan dalam majelis ta'lim bersumber dari al-Quran dan Hadits. Dalam majelis ta'lim terdapat ustadz atau dai yang merupakan nara sumber dalam menyampaikan materi pengajian kepada masyarakat yang mendengarkannya. Untuk itu, seorang dai dituntut memiliki kepribadian yang baik. Dalam hal ini Asmuni Syukur menjelaskan bahwa sifat-sifat yang wajib dimiliki dai adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Iman dan takwa kepada Allah Tulus ikhlas dan tidak mementingkan kepentingan diri pribadi Ramah dan penuh pengertian Tawadhu Sederhana dan jujur

13Enung K. Rukiati dan Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Bandung: Pustaka Setia, 2006), hlm. 134.

13

6) Tidak memiliki sifat keegoismean 7) Sifat antusiasme (semangat) 8) Sabar dan tawakal 9) Memiliki jiwa toleransi 10) Sifat terbuka (demokrasi) 11) Tidak memiliki penyakit hati.14 Dengan adanya berbagai materi yang disampaikan oleh ustadz atau dai dalam majelis ta'lim diharapkan para jamaahnya menjadi manusia muslim yang dapat meningkatkan ibadah kepada Allah serta

mengamalkan ajaran agama dengan baik. Selanjutnya manfaat yang kedua dari majelis ta'lim tersebut adalah sebagai taman rekreasi rohaniah. Maksudnya adalah sebagai tempat yang baik untuk menumbuhkembangkan kehidupan rohaniah, majelis ta'lim tersebut diberikan ilmu pengetahuan agama untuk diamalkan sehingga bagi yang mengamalkannya akan memperoleh keselamatan, ketenangan batin serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam al-Ghazali bahwa manusia menjadi mulia dikarenakan ilmu pengetahuannya. Bila rohani manusia diisi dengan ilmu pengetahuan akan memberikan ketentraman dan ketenangan jiwa, karena tingkah lakunya sesuai dengan tuntutan agama Islam. Dengan ilmu pengetahuan yang bersumber dari al-Quran dan Hadits akan membawa manusia ke jalan yang terang dan diridhai oleh Allah. Untuk memperoleh itu, maka sebagai khalifah di muka bumi ini harus menjalankan suruhan-Nya dan
14Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: al-Ikhlas, 1983), hlm. 35-43.

14

meninggalkan segala larangan-Nya. Untuk itu majelis ta'lim merupakan tempat pengajaran agama Islam dan salah satu tempat rekreasi bagi rohaniah.15 c. Ruang Lingkup Majelis Ta'lim. Majelis ta'lim sebagai lembaga keagamaan harus mencerminkan dirinya mampu menguasai keagamaan umat. Keberadaannya sangat mempengaruhi untuk membina dan membangun hubungan yang santun dan serasi antara manusia dengan Allah SWT, manusia dengan sesamanya, manusia dengan lingkungannya dalam rangka membina masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT. Adapun kegiatan agama yang digerakkan oleh majelis ta'lim seperti memperingati Maulid Nabi, kegiatan di bulan Ramadhan, halal bihalal, wirid Yasin dan hari-hari besar Islam lainnya.16 Di samping itu kegiatan agama yang digerakkan majelis ta'lim ada yang sifatnya secara rutinitas seperti pengajaran rutin sedangkan pengajian yang sifatnya secara musiman seperti hari-hari besar Islam dan kegiatan sosial lainnya.17 Bila dilihat dari kegiatan agama yang dilaksanakan oleh majelis ta'lim sebagai pendidikan non formal berbasis keagamaan yang sudah

15Zainuddin, dkk, Seluk Beluk Pendidikan al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 25. 16Khadijah Munir, Kustini (ed.), Op.Cit. hlm. 40. 17Dewan Redaksi, Op.Cit. hlm. 122.

15

lazim berlangsung di tengah-tengah masyarakat seperti di atas akan dijelaskan sebagai berikut: 1) Pengajian Rutin. Pengajian rutin dilaksanakan oleh beberapa kelompok masyarakat yang antara lain dilaksanakan di mesjid, di rumah penduduk dan tempat lainnya. Dalam pengajian ini diberikan berbagai macam ilmu pengetahuan agama sehingga memperluas ilmu pengetahuan dan wawasan anggota pengajian tersebut tentang masalah-masalah agama. Kegiatan ini dilaksanakan atas dasar musyarawah atau kesepakatan antara jamaah pengajian dengan sang guru. Pengajian ini biasanya dilaksanakan secara rutin, misalnya satu kali seminggu. 2) Wirid Yasin. Adapun perkumpulan masyarakat yang kegiatan-kegiatannya adalah membaca ayat al-Quran secara bersama-sama khususnya surat Yasin, surat pendek diiringi dengan tahtim dan tahlil dan ditutup dengan doa yang biasanya dilaksanakan di rumah penduduk secara bergiliran. 3) Tabligh. Tabligh sifatnya insidentil yaitu dilaksanakan pada hari-hari besar Islam yang sifatnya secara musiman seperti peringatan Maulid Nabi, Isra Miraj dan hari-hari Islam lainnya.

16

4) Halal Bihalal. Halal bihalal biasanya dilaksanakan pada hari raya Idul Fitri. Para jamaah (segolongan masyarakat) akan berkumpul di rumah para penduduk, mesjid serta mengundang guru untuk memberikan ceramah berisi nasehat-nasehat dan saling maaf memaafkan. 5) Kegiatan di Bulan Ramadhan. Kegiatan ini sifatnya secara musiman, biasanya dilaksanakan pada bulan Ramadhan yang dilakukan oleh kaum ibu, bapak dan remaja. Adapun kegiatannya adalah tadarus disertai dengan khatam alQuran, safari Ramadhan dan lain-lain.

6) Kegiatan Sosial Lainnya. Dalam bidang sosial dapat dilakukan berupa kebersihan lingkungan, rumah ibadah dan memberikan kata-kata taziah dalam hal musibah yang disertai oleh jamaah. Kegiatan sosial ini sifatnya tertentu saja dibutuhkan ketika penting. Membicarakan masalah ruang lingkup majelis ta'lim dapat dilihat melalui pengertian majelis ta'lim. Dalam majelis ta'lim juga membahas tentang suatu ilmu agama pada khususnya dan ilmu pengetahuan pada umumnya. Majelis ta'lim terdiri dari beberapa kelompok yaitu:

17

1) Majelis ta'lim yang pesertanya terbagi dalam jenis tertentu, seperti kaum bapak, kaum ibu, remaja, anakanak dan campuran (tua, muda, pria dan wanita). 2) Majelis ta'lim yang diselenggarakan oleh lembagalembaga sosial kea-gamaan, kelompok penduduk di suatu daerah, instansi dan organisasi tertentu.18 Selanjutnya metode yang digunakan dalam majelis ta'lim untuk mempelajari agama Islam adalah sebagai berikut: 1) Ceramah oleh satu orang atau lebih ahli agama (mualim) kepada sejumlah jamaah, peserta (mustamiin). 2) Saling bertukar pikiran antar jamaah peserta.19 Dari ungkapan di atas dapat diketahui bahwa di dalam proses ceramah yang terdapat dalam majelis ta'lim menggunakan metode ceramah dan campuran. Hal ini tergantung pada situasi yang ada. 2. Ibadah. a. Pengertian Ibadah. Ibadah secara umum berarti mencakup perilaku dalam semua aspek kehidupan yang sesuai dengan ketentuan Allah SWT yang dilakukan dengan ikhlas untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Ibadah dalam pengertian inilah yang dimaksud dengan tugas hidup manusia. 20 Hal ini tampak pada firman Allah Q.S. Adz-Zariyat. 56:

18Ibid., 19Amri Marzali, Pemberdayaan Majelis Talim Melalui Pendekatan Sosiologi, Kustini (ed.), Peningkatan Peran Serta Masyarakat Dalam Pemberdayaan Ajaran Agama Melalui Majlis Talim, (Jakarta: Departemen Agama RI, Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Kehidupan Beragama, 2007), hlm. 53. 20Abu Ahmadi dan Noor Salimi, Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991) hlm. 240.

18

Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-

Ku21(Q.S. Adz-Zariyat 56) Sedangkan ibadah dalam pengertian khusus adalah perilaku manusia yang dilaksanakan atas perintah Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW, atau disebut ritual, seperti sholat, zakat, puasa dan haji.22 Shalat dan Zakat merupakan ibadah yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim. Hal ini tampak pada firman Allah Q.S Al-Baqarah 43: (# Artinya: Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'.23 (Q.S AlBaqarah 43) Selain shalat dan zakat, puasa dan haji merupakan ibadah yang ketentuannya pasti yang ditetapkan oleh nash al-Quran. Namun haji dilaksanakan bagi orang yang mampu sedangkan puasa diwajibkan bagi setiap muslim. Adapun dasar al-Quran adalah firman Allah Q.S. AlBaqarah, 183:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas

21Q.S. Adz-Zariyat, 51:56. 22Op.Cit., 23Q.S Al-Baqarah, 2:43.

19

orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa 24 (Q.S Al-Baqarah 183) Adapun dalil wajib haji bagi orang yang mampu tampak pada firman Allah Q.S Ali Imran 97.

Artinya: Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah25 (Q.S Ali Imran 97) b. Tujuan Ibadah Ibadah merupakan buah dari iman, sebagai perwujudan ketaatan dan sikap bersyukur manusia kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah diterima oleh manusia sebagai khalifah di bumi ini. Melalui ibadah (khususnya shalat) manusia dapat langsung berkomunikasi rohaniah dengan Allah SWT. Pada saat itulah manusia melakukan miraj rohaniah, mengangkat harkat dan martabat kemanusiaannya ke posisi yang mulia di sisi Allah. Ibadah juga merupakan tazki yatunnafsi (proses pensucian diri dari dosa dan noda) agar dalam kondisi fitrah.26 Bila manusia beribadat kepada sesuatu berarti mereka menyembah yang lebih pantas buat diri mereka dan mencari kebaikan yang bersifat rohani atau jasmani, individu atau masyarakat, dunia dan akhirat. Adapun tujuan ibadah adalah sebagai berkut:.

24Q.S Al-Baqarah, 2:183. 25Q.S Ali Imran, 3:97. 26Syamsu Yusuf, Psikologi Belajar Agama, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2003) hlm. 68.

20

1)

Menghadapkan diri kepada Allah Yang Maha Esa dan mengkonsentrasikan niat kepada-Nya dalam setiap keadaan untuk mencapai derajat yang tinggi di akhirat.

2)

Agar terciptanya kemaslahatan diri manusia dalam terwujudnya usaha yang baik.

3) Untuk menghindari diri dari perbuatan keji dan mungkar.27 c. Hakikat Ibadah Manusia diciptakan bukan sekedar untuk hidup mendiami dunia dan kemudian mengalami kematian tanpa ada pertanggungjawaban kepada pencipta-Nya, melainkan manusia itu diciptakan Allah SWT untuk mengabdi kepada-Nya. Dengan demikian ibadah merupakan kewajiban dari apa yang disyariatkan Allah SWT yang disampaikan oleh para rasul-Nya dalam bentuk perintah dan larangan. Untuk itu, manusia sebagai muslim dituntut untuk senantiasa melaksanakan ibadah sebagai keikhlasan mengabdi diri kepada Allah SWT, sebab ia adalah wujud yang kreatif yang telah menciptakan manusia serta alam semesta. Dalam syariat Islam ibadah mempunyai 3 unsur. Sebagaimana yang dikutip oleh Rahman dalam buku karangan Al-Qardhawi adalah sebagai berikut : 1. Unsur ketundukan 2. Unsur kecintaan

27A. Rahman & Zainuddin, Fiqh Ibadah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), hlm. 9.

21

3. Unsur kehinaan. 28 Unsur yang paling tinggi adalah ketundukan. Ketundukan akan melahirkan kesadaran bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan Allah yang harus mengabdi yang bukan sekedar pelengkap alam semesta, tetapi justru menjadi sentral alam dan segala isinya yang harus

mempertanggungjawabkan pelaksanaan perintah Allah SWT selama menjalani kehidupan didunia. Dengan adanya ketundukan jiwa kepada Allah akan menimbulkan perasaan cinta akan tuhan yang mabud dan merasakan kebesaran-Nya, lantaran beritikad bahwa alam ini ada kekuasaan, yang akal tidak dapat mengetahui hakikatnya.29 Sedangkan kecintaan merupakan implementasi dari ibadah. Untuk mencapai kecintaan kepada Allah adalah dengan menyerahkan hidupnya hanya kepada Allah dengan cara menjalankan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Ibadah juga mengandung unsur kehinaan, yaitu kehinaan yang paling rendah dihadapan Allah SWT. Pada mulanya ibadah merupakan hubungan, karena adanya hubungan hati dengan yang dicintai, menuangkan isi hati, kemudian tenggelam dan merasakan keasyikan akhirnya sampai kepada puncak kecintaan kepada Allah SWT. Di samping itu Hasbi Ash-Shiddieqy menyebutkan hakikat ibadah adalah memperhambakan dan menundukkan jiwa kepada kekuasaan yang
28Ibid, hlm 4.. 29Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Kuliah Ibadah, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000), hlm. 8.

22

gaib yang tidak dapat diselami dengan ilmu dan tidak pula dapat diketahui hakikatnya.30 d. Ruang Lingkup Ibadah Ibadah mencakup semua bentuk cinta dan kerealaan kepada Allah SWT, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan, lahir dan bathin. Secara garis besar ibadah dibagi menjadi dua macam antara lain sebagai berikut: 1) Ibadah khassah (khusus) atau ibadah mahdah (ibadah yang ketentuannya pasti), yakni ibadah yang ketentuan dan pelaksanaannya telah ditetapkan oleh nash dan merupakan sari ibadah kepada Allah SWT, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. 2) Ibadah ammah (umum), yakni semua perbuatan yang mendatangkan kebaikan dan dilaksanakan dengan niat ikhlas karena Allah SWT, seperti minum, makan dan bekerja mencari nafkah.31 Ibadah khassah dan ibadah ammah dapat diterima oleh Allah SWT, jika keduanya dilaksanakan sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT dalam nash al-Quran dan Hadits sebagai dasarnya. Adapun ketentuan itu, antara lain adalah ikhlas dan sah. Ikhlas adalah ibadah yang dilaksanakan atas dasar karena Allah SWT. Adapun sah artinya amal ibadah yang dilakukan itu sesuai dengan ketentuan syarah (hukum Islam) atau meme-nuhi rukun dengan syarat-syaratnya. Membicarakan masalah ruang lingkup ibadah dapat dilihat melalui pengertian ibadah. Menurut Ibn Taimiah sebagaimana yang dikutip oleh
30A. Rahman & Zainuddin, Op.cit., hlm.5. 31Ahmad Thib Raya dan Siti Musdah Mulia, Op.cit., hlm. 142.

23

Rahman dalam buku karangan Ash Shiddieqy ruang lingkup ibadah adalah mencakup semua ajaran agama yang dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu: 1) Kewajiban atau rukun syariat seperti shalat, puasa, zakat dan haji. 2) Yang berhubungan dengan (tambahan) dan kewajibankewajiban diatas dalam bentuk ibadah-ibadah sunat, seperti zikir, membaca al-quran, doa dan istigfar. 3) Semua bentuk hubungan sosial yang baik serta pemenuhan hak-hak manusia, seperti berbuat baik kepada orang tua, menghubungkan silaturrahmi, berbuat baik kepada anak yatim, fakir miskin, ibn sabil. 4) Akhlak insaniyah atau bersifat kemanusiaan seperti benar dalam berbicara, menjalankan amanah dan menepati janji. 5) Akhlak rabbaniyah atau bersifat ketuhanan seperti mencintai allah swt dan rasul-rasul-nya, takut kepada allah swt, ikhlas dan sabar terhadap hukum-nya.32 G. Metodologi Penelitian. 1. Lokasi Penelitian. Penelitian ini bertempat di Kelurahan Ujungpadang Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. Luas daerahnya + 92 km. Penduduk Kelurahan Ujungpadang berjumlah 9574 jiwa. Adapun batas-batas wilayah Kelurahan Ujungpadang adalah sebagai berikut: a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Wek. IV Kecamatan Padangsidimpuan Utara dan Kelurahan Wek V Kecamatan

Padangsidimpuan Selatan.

32A. Rahman & Zainuddin, Op.cit., hlm.7.

24

b. Sebelah Selatan berbatasan dengan sungai Batang Angkola Kelurahan Padangmatinggi Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. c. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Wek. VI Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. d. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Aek Tampang Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. 2. Metode Penelitian. Jenis penelitian ini adalah merupakan penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran dan suatu yang terjadi pada masa sekarang.2 3. Informan Penelitian Dalam penelitian ini yang menjadi informan penelitian adalah masyarakat Kelurahan Ujungpadang Kecamatan Padangsidimpuan Selatan yang berprofesi sebagai pekerja home industri. Dalam menentukan informan penelitian ini digunakan teknik snowball sampling, dikarenakan sampel penelitian ini memiliki beragam profesi yaitu profesi pembuatan tahu, tempe, karakoling, roti, peye, sarang balom dan kerupuk sambal. Teknik sampling ini yaitu dengan cara memulai dengan kelompok kecil untuk menunjukkan kawan masing-masing. Kawan tersebut menunjuk kawan masing-masing pula sehingga kelompok tersebut bertambah besar.33
2Moh. Nasir, Metode Penelitian, (Jakarta: Graha Indonesia, 1998), hlm. 53. 33S. Nasution, Metode Research, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hlm. 99.

25

4. Sumber Data. Sumber data dalam penelitian ini adalah dibagi menjadi 2 bagian yaitu: a. Sumber data primer yaitu diperoleh dari pekerja home industri di Kelurahan Ujungpadang Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. b. Sumber data sekunder yaitu para dai, alim ulama, atau tokoh masyarakat. 5. Alat Pengumpulan Data. Dalam memperoleh data pada penelitian ini, maka penulis menggunakan alat pengumpulan data sebagai berikut: a. Observasi meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra yang dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap.34 Dengan kata lain observasi merupakan suatu usaha sadar untuk mengumpulkan data secara sistematis, dengan prosedur yang standar. Observasi yang dilakukan penulis adalah mengadakan pengamatan langsung dan peninjauan langsung atas eksistensi majelis ta'lim dalam meningkatkan ibadah pekerja home industri di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. b. Interview, yaitu mengorek jawaban responden dengan bertatap muka. Interview yang dilaksanakan penulis adalah menadakan serangkaian wawancara atau tanya jawab dengan pekerja home industri. 6. Teknik Pengolahan dan Analisis Data.
34Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi V , (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 133.

26

Analisis data menempuh tiga langkah utama antara lain sebagai berikut:35 a. Reduksi data adalah proses memilih, menyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksi dan mengubah data kasar ke dalam catatan lapangan. b. Sajian data merupakan suatu cara merangkai data dalam suatu organisasi yang memudahkan untuk pembuatan kesimpulan dan atau tindakan yang diusulkan. c. Verifikasi data atau penyimpulan data adalah penjelasan tentang makna data dalam suatu konfigurasi yang secara jelas menunjukkan alur kausalnya, sehingga dapat dianjurkan proposisi-proposisi yang terkait dengannya.

H. Sistematika Pembahasan. Dalam penyusunan skripsi ini penulis membaginya kepada lima bab, yang setiap bab terdiri dari beberapa pasal, yaitu: Bab pertama adalah pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan istilah, kegunaan penelitian, sistematika pembahasan. Bab kedua adalah landasan teori yang meliputi pengertian majelis ta'lim, fungsi dan manfaat majelis ta'lim, ruang lingkup majelis ta'lim, pengertian ibadah, tujuan ibadah, hakikat ibadah, ruang lingkup ibadah.

35Muhammad Ali, Strategi Penelitian Pendidikan, (Bandung: Angkasa, 1992), hlm. 167.

27

Bab ketiga merupakan metodologi penelitian yang terdiri dari lokasi penelitian, metode penelitian, informan penelitian, sumber data, alat

pengumpulan data, teknik pengolahan dan analisis data. Bab empat adalah hasil penelitian yang terdiri dari kondisi ibadah para pekerja home industri di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, kegiatan yang dilaksanakan majelis talim dalam meningkatkan ibadah pekerja home industri di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, metode majelis talim dalam

meningkatkan ibadah pekerja home industri di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. Bab kelima adalah penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran-saran