Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR PERCOBAAN 1 PEMBUATAN DAN PENENTUAN KONSENTRASI LARUTAN

NAMA NIM

: DEVI PRAMANIK LISNASURI : J1C112029

KELOMPOK : III (TIGA) ASISTEN : YULIANA SRI WATI

PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2012

PERCOBAAN I PEMBUATAN DAN PENENTUAN KONSENTRASI LARUTAN

I.

TUJUAN PERCOBAAN Tujuan percobaan ini adalah praktikan dapat membuat larutan dengan

konsentrasi tertentu, mengencerkan larutan, dan menentukan konsentrasi larutan yang telah dibuat. II. TINJAUAN PUSTAKA II.1. Larutan Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara zat terlarut (solvent) dan pelarut (solute). Disebut campuran homogen (serba sama) karena antara zat-zat yang dicampurkan, sifat fisikanya sudah tidak dapat dibedakan lagi dengan jelas. Homogen artinya memiliki susunan yang sangat seragam sehingga tidak dapat diamati adanya bagian-bagian yang berlainan, bahkan dengan mikroskop optik sekalipun (Keenan, 1999). Pelarut yang umum digunakan adalah air. Air merupakan salah satu senyawa yang paling melimpah di alam dan hakiki untuk semua proses kehidupan. Air melarutkan banyak zat dan berperan sebagai medium dimana berlangsung aneka ragam reaksi kimia. Larutan air (dari) senyawa-senyawa tertentu merupakan penghantar yang baik bagi arus listrik karena hadirnya ion-ion positif dan negatif (Day, 1986). Adanya gaya tarik dalam masing-masing senyawa yang menyebabkan molekul/ionnya tetap bersatu. Sebaliknya juga terjadi gaya tarik menarik antara pelarut dan zat terlarut yang membantu proses pelarutan. Terjadi dua hal pada waktu padatan melarut : Molekul solute dipisahkan, yang memerlukan energi. Molekul solute bergabung dengan molekul pelarut, dengan melepas energi. Penggabungan molekul pelarut dengan molekul solute disebut solvasi. Jika pelarutnya air disebut hidrasi (Utami, 2004).

Larutan

yang

digunakan

di

laboratorium-laboratorium

dapat

dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu : 1. Larutan yang sering digunakan dan penggunaannya dalam jumlah banyak. Larutan ini biasa disebut larutan meja atau bench reagent. 2. Larutan yang digunakan untuk percobaan analisis yang memerlukan kemurnian zat yang tinggi. 3. Larutan khusus yang biasanya digunakan dalam jumlah sedikit, misalnya larutan indicator (Gunawan, 2004). II.2. Konsentrasi Larutan Untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif digunakan konsentrasi. Konsentrasi adalah perbandingan jumlah zat terlarut dan jumlah pelarut, dinyatakan dalam satuan volume (berat, mol) zat terlarut dalam sejumlah volume tertentu dari pelarut. Berdasarkan hal ini muncul satuan-satuan konsentrasi yaitu, molaritas, molalitas, normalitas, fraksi mol, persen massa, persen volume dan ppm (Baroroh, 2004). Berikut satuan konsentrasi yang dikenal dalam pengetahuan kimia: Molaritas (M) Kemolaran larutan berarti jumlah mol zat terlarut dalam setiap 1 liter larutan. Harga molaritas dapat ditentukan dengan menghitung mol zat terlarut danvolume larutan (volume zat terlarut dan pelarut setelah bercampur). Penentuan harga molaritas dapat menggunakan rumus sebagai berikut: M = mol zat terlarut Liter larutan Molalitas (m) Molalitas suatu larutan adalah jumlah mol zat dalam setiap 1000 gram pelarut. Nilainya dapat ditentukan bila mol zat dan massa pelarut diketahui. Perhitungan yang digunakan yaitu: m = mol zat terlarut Kg pelarut Jika massa zat terlarut dan massa zat pelarut dinyatakan dalam satuan gram (g), maka: m = g x 1000 p Mr

Normalitas (N) Normalitas suatu larutan asam atau basa didefinisikan sebagai jumlah ekuivalen zat terlarut per liter larutan. Perhitungan yang digunakan yaitu: N = ekuivalen zat terlarut L larutan

dengan:

ekuivalen zat terlarut = g zat terlarut g ekuivalen

Fraksi mol (X) Fraksi mol menyatakan perbandingan jumlah mol zat terlarut atau pelarut terhadap jumlah mol larutan. Fraksi mol zat terlarut (Xt) dinyatakan dengan persamaan: Xt =

nt n p + nt

Fraksi mol zat pelarut (Xp) dinyatakan dengan persamaan: Xp = np n p + nt dengan: nt = jumlah mol zat terlarut np = jumlah mol zat terlarut Hubungan antara fraksi mol zat terlarut dengan pelarut adalah: Xt + Xp = 1 Persen Berat (w/w) Persen berat menyatakan banyaknya gram zat terlarut dalam 100 gram larutan. Perhitungan yang digunakan yaitu: %(w/w) = Persen Volume (v/v) Persen volume menyatakan ml zat terlarut dalam 100 ml larutan. Perhitungan yang digunakan yaitu: Massa komponen Massa campuran x 100%

%(v/v) = Bagian per sejuta (ppm)

Volume komponen Volume campuran

x 100%

Bagian persejuta menyatakan mg zat terlarut dalam 1 kg atau 1 liter larutan. Perhitungan yang digunakan yaitu: ppm = Massa komponen Massa campuran x 106

Untuk membuat larutan dengan konsentrasi tertentu harus diperhatikan: 1. Apabila dari padatan, pahami terlebih dahulu satuan yang diinginkan. Berapa volum atau massa larutan yang akan dibuat. 2. Apabila larutan yang lebih pekat, satuan konsentrasi larutan yang diketahui dengan satuan yang diinginkan harus disesuaikan. Jumlah zat terlarut sebelum dan sesudah pengenceran adalah sama, dan memenuhi persamaan : M1 . V1 = M2 . V2 dengan, M1 = Konsentrasi larutan sebelum diencerkan V1 = Volume larutan atau massa sebelum diencerkan M2 = Konsentrasi larutan setelah diencerkan V2 = Volume larutan atau massa setelah diencerkan (Komarudin, 2010). II.3. Pembuatan Larutan dengan Cara Mengencerkan Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadang-kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih dan menyebabkan asam sulfat memercik. Jika kita berada di dekatnya, percikan asam sulfat ini merusak kulit (Brady, 1999).

II.3. Titrasi Larutan baku atau larutan standar yaitu larutan yang konsentrasinya sudah diketaui dengan pasti. Untuk mengetahui konsentrasinya larutan tersebut harus dibakukan atau distandardisasikan sehingga disebut larutan baku/standar. Cara yang paling umum untuk standarisasi adalah dengan titrasi (Komarudin, 2010). Titrasi merupakan cara yang cepat dan mudah untuk menentukan jumlah senyawa-senyawa yang bersifat asam dan basa. Kebanyakan asam dan basa organik dan anorganik dapat dititrasi dalam larutan berair, tetapi sebagian senyawa itu, terutama senyawa organik tidak larut dalam air. Namun demikian, umumnya senyawa organik dapat larut dalam pelarut anorganik, karena itu senyawa organik itu dapat ditentukan dengan titrasi asam-basa dalam pelarut air (Brady, 1999). Agar titrasi dapat berlangsung dengan baik, yang harus diperhatikan adalah : 1. Interaksi antara pentiter dan zat yang ditentukan harus berlangsung secara stoikiometri. 2. Laju reaksi harus cukup tinggi agar titrasi berlangsung dengan cepat. Interaksi antara pentiter dan zat yang ditentukan harus berlangsung secara terhitung, artinya sesuai dengan ketetapan yang dicapai dengan peralatan yang lazim digunakan dalam titrimetri. Reaksi harus sempurna sekurang-kurangnya 99,9% pada titik kesetaraan. Titrasi dapat diklasifikasikan menjadi: 1. Berdasarkan reaksi; Titrasi asam basa Titrasi oksidasi reduksi Titrasi pengendapan Titrasi kompleksometri 2. Berdasarkan titran (larutan standar) yang dipakai; Titrasi asidimetri 3. Campuran penetapan akhir; Cara visual dengan indikator Cara elektromagnetik

4. Berdasarkan kosentrasi; Makro Semimikro Mikro 5. Berdasarkan teknik pelaksaan; Tidak langsung Titrasi plank Titrasi tidak langsung (Keenan, 1999). Pada analisis titrimetri atau volumetrik, untuk mengetahui saat reaksi sempurna dapat dipergunakan suatu zat yang disebut indikator. Indikator umumnya adalah senyawa yangberwarna, dimana senyawa tersebut akan berubah warnanya dengan adanya perubahan pH. Indikator dapat menanggapi munculnya kelebihan titran dengan adanya perubahan warna.Indikator berubah warna karena sistem kromofornya diubah oleh reaksi asam basa (Suirta, 2010). III. ALAT DAN BAHAN A. Alat Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah gelas piala, gelas ukur, pipet tetes, pipet ukur, pipet gondok, labu takar dan buret. B. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah asam klorida pekat, larutan natrium hidroksida 0,1 M, pelet natrium hidroksida, larutan asam klorida 0,1 M, indikator metil merah, indikator fenoftalein, indikator metil orange dan akuades. IV. PROSEDUR KERJA A. Pembuatan dan Pengenceran Larutan HCl 1. 2. Gelas ukur kosong ditimbang, kemudian dicatat beratnya. Larutan HCl pekat sebanyak 4,20 ml diambil dengan pipet tetes, kemudian dimasukkan ke dalam gelas ukur yang telah ditimbang. Dilakukan dalam lemari asam.

3.

Labu takar 100 ml yang kosong ditimbang, dicatat beratnya, kemudian diisi dengan 20-25 ml akuades.

4.

Perlahan-lahan, HCl pekat yang telah diambil dimasukkan ke labu takar. Dilakukan dalam lemari asam.

5.

Akuades ditambahkan ke dalam labu takar hingga tanda batas. Labu takar ditutup dan dilakukan pengocokan hingga larutan homogen. Labu takar yang telah berisi larutan ditimbang. Larutan yang telah dibuat dalam tahap ini disebut sebagai Larutan A.

6.

Dengan menggunakan pipet gondok atau pipet ukur,20 ml larutan HCl yang telah dibuat (Larutan A) dipindahkan ke dalam labu takar 100 ml yang baru

7.

Akuades ditambahkan ke dalam labu takar tersebut hingga tanda batas. Larutan HCl yang telah diencerkan ini disebut sebagai Larutan B.

B. Penentuan Konsentrasi Larutan HCl melalui Titrasi a. Titrasi dengan Indikator Metil Merah 1. Sebelum digunakan, buret dibilas dengan akuades, kemudian dibilas kembali dengan larutan NaOH yang akan digunakan. 2. 3. Buret diisi dengan larutan NaOH. Volume awal larutan NaOH dalam buret dicatat dengan membaca skala pada meniskus bawah larutan. 4. LarutanHCl encer (Larutan B) sebanyak 10 ml dipindahkan ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan pipet gondok atau pipet ukur. Indikator metil merah ditambahkan ke dalam larutan tersebut. Kemudian larutan dalam erlenmeyer dititrasi dengan larutan NaOH di dalam buret hingga terjadi perubahan warna. 5. 6. Titrasi dihentikan begitu terjadi perubahan warna konstan. Volume akhir NaOH yang tersisa di dalam buret dibaca, kemudian dihitung volume NaOH yang diperlukan untuk titrasi dari selisih volume awal dan volume akhir NaOH dalam buret.

7.

Titrasi dilakukan sebanyak 2 kali.

b. Titrasi dengan Indikator Fenoftalein 1. Prosedur titrasi terhadap 10 ml larutan HCl encer (Larutan B) dilakukan kembali dengan larutan NaOH 0,1 M, namun dengan menggunakan indikator fenoftalein. 2. Hasil yang diperoleh antara perlakuan dengan menggunakan indikator metil merah dibandingkan dengan yang

menggunakan fenoftalein sebagai indikator. C. Pembuatan Larutan NaOH 1. Sebanyak 0,4 gram butiran NaOH ditimbang secara teliti menggunakan kaca arloji dan neraca analitik. 2. Begitu penimbangan selesai dilakukan, NaOH dipindahkan dari gelas arloji ke dalam gelas beker yang telah berisi 20-25 ml akuades hangat. 3. Seluruh NaOH diaduk dengan pengaduk kaca hingga larut sempurna. 4. 5. Larutan dari gelas beker dipindahkan ke dalam labu takar 50 ml. Akuades ditambahkan hingga tanda batas pada labu takar. Labu takar ditutup, kemudian dikocok hingga homogen. Larutan yang diperoleh pada tahap ini disebut sebagai Larutan C. 6. Dengan menggunakan pipet gondok yang sesuai, 25 ml larutan C dipindahkan ke dalam labu takar 100 ml yang baru. 7. Akuades dipindahkan hingga tanda batas. Dikocok hingga homogen. Larutan yang diperoleh disebut Larutan D. D. Penentuan Konsentrasi Larutan NaOH melalui Titrasi a. Titrasi NaOH dengan Larutan HCl sebagai Titran 1. Sebelum digunakan, buret dibilas dengan akuades, kemudian dibilas kembali dengan larutan HCl 0,1 M yang akan digunakan. 2. Buret diisi dengan larutan HCl 0,1 M.

3.

Volume awal larutan HCl 0,1 M dalam buret dicatat dengan membaca skala meniskus bawah larutan.

4.

Sebanyak 10 ml larutan NaOH encer (Larutan D) dipindahkan ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan pipet gondok atau pipet ukur.

5.

Sebanyak 2-3 tetes indikator metil merah dipindahkan ke dalam larutan tersebut.

6.

Larutan dalam erlenmeyer dititrasi dengan larutan HCl 0,1 M di dalam buret hingga terjadi perubahan warna.

7. 8.

Titrasi dihentikan begitu terjadi perubahan warna konstan. Volume akhir HCl yang tersisa dalam buret dibaca, kemudian dihitung volume HCl yang diperlukan untuk titrasi dari selisih volume awal dan volume akhir HCl dalam buret.

9.

Titrasi dilakukan sebanyak 2 kali.

b. Titrasi Larutan HCl 0,1 M dengan Larutan NaOH sebagai Titran 1. Buret dibilas dengan akuades, kemudian dibilas kembali dengan larutan NaOH yang telah dibuat (Larutan D). 2. 3. Buret diisi dengan larutan NaOH encer (Larutan D). Sebanyak 10 ml larutan HCL 0,1 M dipindahkan ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan pipet gondok atau pipet ukur. 4. Sebanyak 2-3 tetes indikator metil merah ditambahkan ke dalam larutan tersebut. 5. Larutan dalam erlenmeyer dititrasi dengan larutan NaOH encer di dalam buret hingga terjadi perubahan warna. 6. 7. Titrasi dihentikan begitu terjadi perubahan warna konstan. Volume NaOH yang diperlukan untuk menitrasi larutan HCl tersebut dihitung. 8. 9. Titrasi dilakukan sebanyak 2 kali. Hasil yang diperoleh antara perlakuan dengan larutan HCl 0,1 M sebagai titran dibandingkan dengan larutan NaOH encer sebagai titran.

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil dan Perhitungan 1. Hasil a. Pembuatan dan Pengenceran Larutan HCl No 1. 2. 3. 4. Langkah Percobaan Volume HCl pekat Diisi dengan akuades 20-25 ml HCl ke dalam labu takar dimasukkan Akuades ditambahkan ke dalam labu takar hingga tanda batas 5. Labu takar ditutup dan dikocok hingga homogen 6. 7. Volume larutan A diukur Larutan A dipindahkan ke dalam labu takar 100 ml yang baru 8. Akuades dipindahkan ke dalam labu takar hingga tanda batas (Larutan B) b. Penentuan Konsentrasi Larutan HCl melalui Titrasi No 1. 2. Titrasi dengan Indikator Metil Merah Langkah Percobaan Buret dibilas dengan akuades Buret dibilas kembali dengan larutan NaOH. 3. 4. Buret diisi dengan larutan NaOH Larutan B dipindahkan ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan pipet gondok 5. Indikator metil merah ditambahkan ke dalam larutan B 2-3 tetes, berubah warna menjadi merah muda 6. Dititrasi dengan larutan NaOH merah muda - kuning berwarna bening 10 ml, berwarna bening Hasil Pengamatan 100 ml 100 ml 20 ml Hasil Pengamatan 4,20 ml 20 ml

7. 8.

Perubahan warna diamati Volume NaOH yang terpakai untuk titrasi ke 1 10,1 ml

9.

Volume NaOH yang terpakai untuk titrasi ke 2

7,5 ml

10. Volume rata-ata dihitung No. 1. 2. Titrasi dengan Indikator Fenoftalein Langkah Percobaan Buret dibilas dengan akuades Buret dibilas kembali dengan larutan NaOH yang akan digunakan. 3. 4. Buret diisi dengan larutan NaOH Larutan B dipindahkan ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan pipet gondok 5. Indikator fenoftalein ditambahkan ke dalam larutan B 6. 7. 8. Dititrasi dengan larutan NaOH Perubahan warna diamati Volume NaOH yang terpakai untuk titrasi ke 1 9. Volume NaOH yang terpakai untuk titrasi ke 2 10. Volume rata-rata dihitung c. Pembuatan Larutan NaOH No. 1. Langkah Percobaan Butiran NaOH ditimbang dengan kaca arloji atau neraca analitik

8,8 ml

Hasil Pengamatan

berwarna bening 10 ml, berwarna bening

2-3 tetes, warna tetap bening

bening merah muda 6,4 ml

7,4 ml

6,9 ml

Hasil Pengamatan 0,4 gr

2.

NaOH dipindahkan ke dalam gelas beker yang berisi aquades

Vakuades = 20 ml

3.

Seluruh NaOH diaduk dengan pengaduk kaca hingga larut sempurna

4.

Larutan dipindahkan dari gelas beker ke dalam labu takar 50 ml

5.

Aquades ditambahkan hingga tanda batas

6.

Labu takar ditutup, kemudian dikocok hingga homogen (Larutan C)

50 ml

7.

Larutan C dipindahkan ke dalam labu takar 100 ml yang baru

25 ml

8.

Aquades ditambahkan ke dalam labu takar hingga tanda batas

9.

Labu takar ditutup, kemudian dikocok hingga homogen (Larutan D)

100 ml

c. Penentuan Konsentrasi Larutan NaOH melalui Titrasi No. 1. Titrasi NaOH dengan Larutan HCl sebagai Titran Langkah Percobaan Buret dibilas dengan akuades, kemudian dibilas kembali dengan larutan HCl 2. 3. Buret diisi dengan HCl Larutan D dipindahkan ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan pipet gondok atau pipet ukur 4. Indikator metil merah ditambah2-3 tetes, berubah 10 ml, berwarna bening Hasil Pengamatan

kan ke dalam larutan tersebut

warna menjadi kuning

5. 6.

Dititrasi dengan larutan HCl Perubahan warna diamati Kuning - merah muda

7.

Volume HCl yang terpakai untuk titrasi ke 1

8,3 ml

8.

Volume HCl yang terpakai untuk titrasi ke 2

5,6 ml

9.

Volume rata-rata dihitung -

6,95 ml

Titrasi Larutan HCl 0,1 M dengan Larutan NaOH sebagai Titran

No. 1.

Langkah Percobaan Buret dibilas dengan akuades, kemudian dibilas kembali dengan larutan D yang akan digunakan.

Hasil Pengamatan

2. 3.

Buret diisi dengan Larutan D Volume awal larutan D dalam buret dicatat 50 ml

4.

Indikator metil merah ditambahkan ke dalam larutan D

2-3 tetes, berubah warna menjadi ungu

5. 6. 7.

Dititrasi dengan larutan NaOH Perubahan warna diamati Volume HCl yang terpakai untuk titrasi ke 1 ungu - kuning 21,3 ml

8.

Volume HCl yang terpakai untuk titrasi ke 2

20,4 ml

9.

Volume rata-rata dihitung

20.85 ml

2. Perhitungan I. Penentuan Konsentrasi Larutan HCl Pekat Diketahui: massa jenis HCl = 1,19 kg/L = 1190 gram/L persen berat HCl = 37% (b/b) Mr HCl pekat = 36,5 gram/mol Ditanyakan: MHCL pekat = .....? Jawab: massa 1 L larutan pekat HCl = 1190 gram/L x 1 = 1190 gram massa HCl dalam 1 L larutan pekat = 37% x 1190 = 440,3 gram MHCL pekat = 440,3 gram/36, 5 mol-1 = 12,063 mol/L 1L II. Penentuan Konsentrasi Larutan HCl Encer (Larutan A dan B) 1. Melalui Perhitungan Pengenceran a. Konsentrasi Larutan A Diketahui: VHCl pekat = 4,20 mL MHCl = 12,063 mol/L VA = 100 mL Ditanyakan: MA =.....? Jawab: MA . VA = MHCl . VHCl MA . 100 mL = 12,063 mol/L . 4,20 mL MA = 0,5 M b. Konsentrasi Larutan B Diketahui : MA= 0,5 M

VA = 20 mL VB = 100 mL Ditanyakan: MB = .? Jawab: MA .VA = MB .VB (0,5 . 20) = MB . 100 10 = MB .100 MB = 0,1 M 2. Melalui Titrasi a. Dengan indikator metil merah Diketahui: MNaOH = 0,1 M VHC l = 10 mL VNaOH = 8,8 mL Ditanyakan: NHCl = .? Jawab: NHCl . VHCl = MNaOH . VNaOH NHCl .10 = 0,1 . 8,8 NHCl = 0,088 b. Dengan indikator fenophtalein Diketahui: MNaOH = 0,1 M VHCl = 10 mL VNaOH = 6,9 mL Ditanyakan: NHCl = .?

Jawab: NHCl . VHCl = MNaOH . VNaOH NHCl . 10 ml = 0,1 . 6,9 NHCl = 0,069 M III. Penentuan Konsentrasi Larutan NaOH 1. Melalui Perhitungan Pengenceran a. Konsentrasi Larutan C Diketahui: massa NaOH = 0.4 gram VNaOH = 50 ml = 0,05 L Mr NaOH = 40 gr/mol Ditanyakan: MNaOH = .? Jawab : M NaOH = = 0,2 mol/L b. Konsentrasi Larutan D Diketahui: MC = 0,2 M VC = 25 mL VD = 100 mL Ditanyakan: MD = .? Jawab: MC . VC = MD .VD 0,2. 25 = MD . 100 5 = 100 MD MD = 0.05 M

2. Melalui Titrasi dengan metil merah a. Titrasi NaOH oleh HCl Diketahui: Konsentrasi NaOH = NNaOH VNaOH = 10 mL VHCl = 6,95 mL MHCl = 0,1 M NHCl = 0,1 N
(HCl adalah asam monoprotik)

Ditanyakan: MNaOH = ..? Jawab: NHCl . VHCl = MNaOH . VNaOH 0,1 . 6,95 = MNaOH . 10 MNaOH = 0,0695 M b. Titrasi HCl oleh NaOH Diketahui: Konsentrasi NaOH = NNaOH VNaOH = 20,85 mL VHCl = 10 mL MHCl = 0,1 M NHCl = 0,1 N
(HCl adalah asam monoprotik)

Ditanyakan: MNaOH = ..? c. Jawab: NHCl . VHCl = MNaOH . VNaOH 0,1 . 10 = MNaOH . 20,85 MNaOH = 0,0479 M

B.

Pembahasan 1. Pembuatan dan Pengenceran Larutan Asam Klorida Terdapat 2 cara untuk membuat larutan dengan konsentrasi tertentu yaitu dengan mengencerkan larutan yang pekat atau dengan melarutkan zat terlarut yang berada dalam bentuk larutan. Untuk membuat larutan HCl, kami mengencerkan larutan HCl pekat yaitu dengan menambahkan 20 mL akuades ke larutan HCl pekat 4,20 mL dan ditambahkan lagi akuades sampai tanda batas pada labu takar, kemudian dikocok sampai terjadi homogenisasi sehingga memperoleh larutan HCl sebanyak 100 mL atau disebut dengan larutan A. Berikut adalah reaksi yang terjadi pada larutan HCl pekat ketika dilarutkan ke dalam air. HCl H+ + Cl-

Dalam air, larutan HCl pekat akan terurai menjadi ion-ionnya yakni ion hidrogen dan ion klor. Volume HCl pekat dan volume pengenceran bertindak sebagai variabel bebas yang ditentukan terlebih dahulu. Sedangkan massa HCl pekat, H2O dan larutan HCl hasil pengenceran bertindak sebagai variabel terikat yang merupakan hasil dari percobaan. Dari data-data tersebut kemudian dapat dihitung konsentrasi larutan HCl.

Berdasarkan hasil perhitungan dengan diketahui massa jenis HCl adalah 1190 gram/L dan persen berat adalah HCl 37% diperoleh konsentrasi HCl yakni 12,063 mol/L .Pada perhitungan melalui percobaan pengenceran diperoleh hasil konsentrasi larutan A adalah 0,5 M dan konsentrasi larutan B adalah 0,l M. 2. Penentuan Konsentrasi Larutan Asam Klorida melalui Titrasi Pada saat melakukan titrasi digunakan indikator metil merah dan fenoftalein. Metil merah merupakan indikator yang dapat bereaksi baik dalam keadaan asam maupun basa. Rentang perubahan pH yang dimiliki metil merah adalah antara 4,2 6,2. Rentang pH ini berada antara pH asam dan pH basa. Oleh karena itu metil merah dapat berubah warna ketika dalam keadaan asam maupun basa.

Ketika dalam suasana asam, metil merah mempunyai ion-ion hidrogen dalam jumlah besar, kesetimbangan di atas akan bergeser ke arah kiri, yaitu warna asam metil merah yang tidak terdisosiasi menjadi kelihatan sehingga berubah warna menjadi merah muda. Tetapi ketika larutan menjadi basa, yaitu ion-ion hidrogen dihilangkan, kesetimbangan larutan bergeser ke arah kanan

pembentukan anion indikator, dan warna larutan berubah menjadi kuning. Sedangkan fenoftalein adalah indikator yang bereaksi pada suasana basa dan tidak bereaksi dalam suasana asam. Rentang perubahan pH yang dimiliki oleh fenoftalein adalah antara 8 - 9,6. Fenoftalein merupakan suatu basa organik lemah, sehingga pada larutan asam fenoftalein tidak merubah warna karena penambahan ion-ion hidrogen yang terjadi membuat larutan kehilangan sifat basanya (netral), tetapi ketika ditambahkan dengan larutan basa ionion hidrogen akan dihilangkan, kesetimbangan bergeser ke arah pembentukan anion indikator, sehingga larutan akan berubah warna. Pada saat titrasi menentukan konsentrasi larutan HCl

menggunakan indikator metil merah, larutan NaOH yang terpakai untuk titrasi adalah 8,8 mL. Sedangkan pada titrasi dengan indikator fenoftalein, NaOH yang terpakai dalam titrasi adalah 6,9 mL. Dari hasil ini, dapat dilihat bahwa dalam menentukan konsentrasi larutan HCl dengan titrasi menggunakan indikator fenoftalein lebih sedikit memerlukan larutan NaOH dibandingkan titrasi menggunakan indikator metil merah dan dalam perubahan warnanya pun terdapat perbedaan. Pada titrasi menggunakan metil merah, warna larutan berubah dari merah muda menjadi kuning, sedangkan dengan indikator fenoftalein warna berubah dari yang mulanya bening menjadi merah muda. Reaksi yang terjadi ketika titrasi HCl dengan larutan NaOH sebagai titran ketika menuju reaksi penetralan, yaitu saat mencapai titik ekuivalen adalah sebagai berikut:

HCl + NaOH

NaCl + H2O

Sedangkan perhitungan konsentrasi larutan HCl melalui titrasi diperoleh hasil konsentrasi larutan HCl adalah 0,088 M (dengan indikator metil merah) dan 0,069 M (dengan indikator fenoftalein). 3. Pembuatan Larutan Natrium Klorida Untuk membuat larutan NaOH, kami melarutkan 0,4 gram pelet NaOH yaitu dengan memindahkannya ke dalam gelas beker yang berisi akuades hangat 20 mL. Setelah diaduk rata larutan tersebut dipindahkan ke labu takar dan ditambahkan lagi akuades sampai tanda batas, dikocok sampai terjadi homogenisasi sehingga memperoleh larutan NaOH sebanyak 100 ml atau disebut dengan larutan C. Berikut adalah reaksi yang terjadi pada pelet NaOH ketika dilarutkan ke dalam air. NaOH Na+ + OH-

Dalam air, padatan NaOH akan terurai menjadi ion-ion yaitu ion natrium dan ion hidroksida. Massa NaOH dan volume pelarut (akuades) bertindak sebagai variabel bebas yang ditentukan terlebih dahulu. Sedangkan volume NaOH, massa H2O dan larutan NaOH hasil pelarutan bertindak sebagai variabel terikat yang merupakan hasil dari percobaan.Dari data-data tersebut kemudian dapat dihitung konsentrasi larutan NaOH. Perhitungan konsentrasi larutan NaOH (larutan C dan larutan D) melalui percobaan pengenceran diperoleh hasil konsentrasi larutan C adalah 0,2 M dan konsentrasi larutan B adalah 0,05 M. 4. Penentuan Konsentrasi Larutan Natrium Hidroksida melalui Titrasi Dalam percobaan penentuan konsentrasi larutan NaOH, kami melakukan titrasi NaOH dengan larutan HCl sebagai titran dan metil merah sebagai indikatornya. Mula-mula larutan berwarna bening, setelah ditetesi indikator merah berubah warna menjadi kuning. Kemudian setelah dititrasi menjadi merah muda, HCl yang terpakai sebanyak 6,95 mL.

Reaksi yang terjadi ketika titrasi NaOH (indikator metil merah) dengan larutan HCl sebagai titran ketika menuju reaksi penetralan, yaitu saat mencapai titik ekuivalen adalah sebagai berikut: NaOH + HCl NaCl + H2O

Sedangkan perhitungan konsentrasi larutan NaOH melalui titrasi diperoleh hasil konsentrasi larutan NaOH adalah 0,0695 M (dengan indikator metil merah). Dalam percobaan penentuan konsentrasi larutan NaOH

selanjutnya, kami melakukan titrasi HCl dengan larutan NaOH sebagai titran dan metil merah sebagai indikatornya. Mula-mula larutan berwarna bening, setelah ditetesi indikator merah berubah warna menjadi ungu. Kemudian setelah dititrasi menjadi kuning, NaOH yang terpakai sebanyak 20,85 mL. Reaksi yang terjadi ketika titrasi HCl (indikator metil merah) dengan larutan NaOH sebagai titran ketika menuju reaksi penetralan, yaitu saat mencapai titik ekuivalen adalah sebagai berikut: HCl + NaOH NaCl + H2O

Perhitungan konsentrasi larutan NaOH melalui titrasi diperoleh hasil konsentrasi larutan NaOH adalah 0,0479 M (dengan indikator metil merah).

VI.

KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah: 1. Larutan dapat diperoleh dengan proses pengenceran (mengencerkan suatu larutan) dan proses pelarutan (melarutkan zat terlarut yang berada dalam bentuk padatan). 2. Penentuan konsentrasi dapat dilakukan dengan cara titrasi bila komponen-komponennya tidak diketahui tetapi apabila telah diketahui maka dapat dilakukan dengan cara perhitungan. 3. Perubahan warna pada titrasi HCl dengan NaOH dengan indikator metil merah adalah merah muda menjadi kuning. Perubahan warna pada titrasi HCl dengan NaOH dengan indikator fenoftalein adalah bening menjadi merah muda. 4. Perubahan warna larutan pada titrasi HCl dengan larutan NaOH sebagai titran (metil merah) adalah dari merah muda menjadi kuning, sedangkan titrasi NaOH dengan HCl sebagai titran dari kuning menjadi merah muda. 5. Hasil yang didapat dari percobaan ini adalah MHCl pekat = 12,063 mol/L, MA = 0,5 M, MB = 0,1 M, MHCl dengan indikator MM = 0,088 M, MHCl dengan indikator PP = 0,069 M, MC = 0,2 M, MD = 0,05 M, dan MNaOH dengan indikator MM= 0,0695 M.

DAFTAR PUSTAKA

Baroroh, Umi L. U. 2004. Diktat Kimia Dasar I. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru. Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara. Jakarta. Day, R. A. 1986. Kimia Analisa Kuantitatif. Erlangga. Jakarta. Gunawan, A. 2004. Tangkas Kimia. Kartika. Surabaya. Keenan, C. W. 1999. Kimia Universitas Edisi 6. Erlangga. Jakarta. Komarudin, O. 2010. Ringkasan Lengkap KIMIA SMA. Media. Jakarta. Suirta, I. W. 2010. Sintesis Senyawa orto-Fenilazo-2-Naftol Sebagai Indikator Dalam Titrasi. Universitas Udayana. Bukit Jimbaran. Utami, U.B.L. 2004. Diktat Kimia Dasar 1. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru