Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS

BRONKOPNEUMONIA

PEMBIMBING : dr. Afaf Susilawati Sp.A DISUSUN OLEH : William Makdinata 030.08.257

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOJA Periode 10 Juni 10 Agustus 2013

I. IDENTITAS PASIEN Nama Pasien Jenis kelamin Umur Agama Suku bangsa Alamat Orang Tua / Wali Ayah Nama Agama Alamat Pekerjaan : Tn. A : Islam : Jl. Asrama Polri No: 2 : Pencuci Gerbong Kereta Ibu Nama Agama Alamat Pekerjaan : : Ny. I : Islam : Jl. Asrama Polri No: 2 : Ibu Rumah Tangga : An. AM : Laki-Laki : 5 bulan : Islam : Madura-Sunda : Jl. Asrama Polri RT 06/ RW 11 No: 2

Tempat / tanggal lahir: Bogor, 18 Januari 2013

Suku Bangsa : Madura

Suku Bangsa : Sunda

Hubungan dengan orang tua : pasien merupakan anak kandung. II. ANAMNESIS Dilakukan secara Alloanamnesis dengan Ny. I Lokasi Tanggal / waktu Tanggal Masuk : Bangsal Anggrek Team B ruang 406 : 17 Juni 2013/ 16.20 wib : 31 Mei 2013

a. Keluhan Utama: Sesak nafas sejak 6 hari sebelum masuk Rumah Sakit/ SMRS b. Keluhan Tambahan : Batuk berdahak sejak 1 minggu SMRS Demam sejak 4 hari SMRS c. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke IGD RSUD Koja diantar oleh orang tuanya mengeluh sesak nafas sejak 6 hari SMRS. Sesak nafas timbulnya perlahan dan dirasakan terus-menerus serta

semakin memberat sejak 1 hari SMRS. Pasien juga dikeluhkan orang tuanya terdapat batuk berdahak sejak 1 minggu SMRS, batuk berdahak timbulnya terus-menerus serta dahaknya banyak dan berwarna putih serta kental. Pasien juga dikeluhkan oleh orang tuanya terdapat demam sejak 4 hari SMRS. Demam pada pasien terus menerus, tinggi dan hanya turun demamnya bila diberikan obat penurun panas. Pasien dikeluhkan oleh orang tuanya kurang mau minum susu sejak timbul batuk dan sesak nafas. Orangtua pasien menyangkal sesak nafas timbul disertai dengan bunyi mengik, didahului adanya pilek, terbentur pada dada pasien, maupun adanya riwayat tersedak ketika minum susu. Riwayat Penyakit dahulu Penyakit Alergi Cacingan Demam Berdarah Demam Thypoid Otitis Parotitis Umur Penyakit Difteria Diare Kejang Kecelakaan Morbili Operasi Umur Penyakit Jantung Ginjal Darah Radang paru Tuberkulosis Batuk, pilek Umur -

Kesimpulan: Tidak ditemukan adanya riwayat penyakit dahulu yang berkaitan dengan penyakit yang dialami pasien sekarang. d. Riwayat Penyakit Keluarga Di keluarga pasien tidak pernah ada yang mengalami hal seperti ini sebelumnya. e. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran KEHAMILAN Morbiditas kehamilan Perawatan antenatal KELAHIRAN Tempat kelahiran Penolong persalinan Cara persalinan Masa gestasi Tidak ada Ibu kontrol pada dukun beranak, tiga bulan sekali. Rumah pasien Dukun beranak Spontan Cukup bulan (9 bulan 1 mgg) Berat lahir : 2500 gram Panjang badan : 44 cm Langsung menangis (+) Keadaan bayi Kulit kemerahan (+) Nilai Apgar: tidak diketahui Kelainan bawaan: tidak terdapat kelainan bawaan Kesan :Riwayat kehamilan dan persalinan normal. f. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan : Pertumbuhan gigi I Psikomotor Tengkurap Duduk Berdiri Berjalan Bicara Perkembangan pubertas Rambut pubis Rambut ketiak ::: Umur 3 bulan ::::(Normal: 3-4 bulan) (Normal: 6-9 bulan) (Normal: 9-12 bulan) (Normal: 13 bulan) (Normal: 9-12 bulan) :(Normal: 5-9 bulan)

Gangguan perkembangan mental/emosi : tidak ada

Kesan : Riwayat perkembangan baik, sesuai dengan usia Riwayat Makanan : Umur (bulan ) 02 23 45 ASI/PASI SUSU Formula (40 cc) SUSU Formula (50cc) SUSU Formula (60 cc) Buah Biskuit / Bubur Susu Nasi Tim -

g. Riwayat Imunisasi : Imunisasi Umur waktu pemberian Bulan 0 1 2 3 Tahun 2 6

4 6 9 Hepatitis B BCG DPT Polio Campak Kesan: Pasien tidak mendapatkan imunisasi dasar h. Riwayat Keluarga Riwayat Pernikahan Nama Perkawinan keUmur saat menikah Pendidikan terakhir Agama Suku bangsa Keadaan kesehatan Ayah Tn. A Satu 17 tahun SMP Islam Madura Baik

15

18

12

Ibu Ny. I Dua 14 tahun/ 18 tahun SD Islam Sunda Baik

i. Riwayat Perumahan dan Sanitasi Pasien tinggal bersama ayah dan ibu di sebuah rumah kontrakan dengan1 kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur, beratap genteng, berlantai keramik, berdinding tembok. Keadaan rumah sempit, pencahayaan kurang, ventilasi kurang. Sumber air bersih dari air PAM. Air limbah rumah tangga disalurkan dengan baik dan pembuangan sampah setiap 2 hari diangkut oleh petugas kebersihan. Kedua orang tua pasien tidak merokok. Kesan : Kesehatan lingkungan tempat tinggal pasien kurang baik.

III.PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan pada tanggal 17 Juni 2013, pukul 16.50 wib, pasien dalam perawatan hari ke 18. Keadaan Umum Kesadaran Data Antropometri Berat Badan Tinggi Badan Status Gizi Berat Badan= 3,1 kg, Tinggi Badan= 62 cm, Usia= 5 bulan Berdasarkan CDC BB/U TB/U BB/TB = 3,1/7,2 x 100 % = 43,05 % = 62/65 x 100% = 95,38 %, = 3,1/6,0 x 100% = 51,67 % : 3,1 kg : 62 cm : Tampak sakit sedang : Compos mentis

Berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa: o Status gizi pasien berdasarkan CDC: Gizi Buruk

Tanda Vital Tekanan Darah Nadi Suhu Pernapasan Kepala dan Leher Kepala Mata : Normosefali, ubun ubun belum menutup dan datar, rambut warna hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut : Pupil bulat isokor, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+, konjungtiva pucat +/+, sklera ikterik -/-, mata cekung -/Hidung : Bentuk normal, septum deviasi (-), nafas cuping hidung -/-, sekret +/+ (sekret berwarna bening) : sulit dinilai : 136 x/menit, reguler, isi cukup, equal kanan dan kiri : 37,1C : 58 x/menit, teratur

Telinga Mulut Lidah Gigi geligi Uvula Tonsil Tenggorokan Leher Thorax Paru Inspeksi

: Membran timpani intak, sekret -/: Bibir merah muda, tidak kering, sianosis (-), trismus (-) , halitosis (-) : Normoglossia, basah, tepi hiperemis, tremor (-) : Belum terdapat gigi : Letak di tengah : T1/T1, tidak hiperemis, detritus (-),kripta (-) : Faring tidak hiperemis : KGB tidak teraba membesar, kelenjar tiroid tidak teraba membesar, trakea letak normal

: Bentuk dada normal, simetris, efloresensi primer/sekunder dinding dada (-), pulsasi abnormal(-), gerak pernapasan simetris, irama teratur, tipe abdomino-thorakal, retraksi sela iga(-)

Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi Genitalia Anus Ekstremitas

: Gerak napas simetris, vocal fremitus simetris : Tidak dilakukan : Suara napas vesikuler, ronkhi +/+, wheezing -/: Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis teraba, thrill (-) : Redup : S I normal-S II normal, reguler, murmur (-), gallop (-) : Bentuk datar : Bising usus (+) normal. : Supel, nyeri tekan (-), turgor kulit baik,teraba hepar 1 cm di bawah arcus costae : Timpani di semua kuadran abdomen, ascites (-). : Rambut pubis (-) : Prolaps ani (-), lecet di daerah anus (-), nyeri tekan (-) : Akral hangat, spastisitas (-), sianosis (-), parese (-), paralisis (-), CRT < 2 detik

Kulit

: Sawo matang, ikterik (-), sianosis (-), turgor normal, kelembaban normal, tidak ada efloresensi yang bermakna

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Dilakukan pemeriksaan laboratorium pertama kali pada tanggal 31 Mei 2013, pukul 21.05 Wib JENIS PEMERIKSAAN Hematologi Hemoglobin Hematokrit Lekosit Trombosit KIMIA KLINIK Glukosa Darah Sewaktu Astrup pH pCO2 pO2 HCO3 P2 Saturasi BE O2 Saturasi ELEKTROLIT Natrium Kalium Klorida 10,1 g/dL 30 % 7.500 rb /uL 310.000 rb/uL 91 mg/dl 7,531 31,7 57,4 26,7 -5.0 92,7 130 mmol/L 4,50 mmol/L 97 mmol/L 13,7-17,5 g/dL 41 53 % 4100-10.900/ul 140.000- 400.000rb/uL 60-100a 7,35-7,45 32-45 95-100 21-28 -2,56-2,53 94-100 134-146 mmol/L 3.4-4.5 mmol/L 96-108 mmol/L HASIL PEMERIKSAAN NILAI NORMAL

Dilakukan pemeriksaan laboratorium pada tanggal 01 Juni 2013

JENIS PEMERIKSAAN Hematologi Hemoglobin Lekosit Hematokrit Eritrosit MCV (VER) MCH (HER) MCHC(KHER) Hitung Jenis Basofil Eosinofil Batang Segment Limfosit Monosit Trombosit LED RDW ELEKTROLIT Natrium Kalium

HASIL PEMERIKSAAN 9,7 g/dL 9900/uL 30 % 3.78 juta/uL 79 fL 26 pg 33 g/dL 0% 0% 0% 60% 35% 5% 250.000/uL 43 mm/jam 12.5 124 mmol/L 3,53 mmol/L

NILAI NORMAL

13,7-17,5 g/dL 4100-10.900/uL 41 53 % 4,5-5,5 juta/uL 80-100 fL 26-34 pg 31-36 g/dL 0-2% 0-5% 2-6% 47-80% 13-40% 2-11% 140.000-440.000/uL < 10 mm/jam

135-155 mmol/L 3.6-5.5 mmol/L

Dilakukan pemeriksaan laboratorium pada tanggal 03 Juni 2013

JENIS PEMERIKSAAN Astrup pH pCO2 pO2 HCO3 P2 Saturasi BE O2 Saturasi ELEKTROLIT Natrium Kalium Klorida

HASIL PEMERIKSAAN 7,370 31,7 107,3 17,9 -7,4 97,8 138 mmol/L 2,86 mmol/L 98 mmol/L

NILAI NORMAL

7,35-7,45 32-45 95-100 21-28 -2,56-2,53 94-100 134-146 mmol/L 3.4-4.5 mmol/L 96-108 mmol/L

Dilakukan pemeriksaan laboratorium pada tanggal 06 Juni 2013 jam 07.31 wib

JENIS PEMERIKSAAN Hematologi Hemoglobin Hematokrit Lekosit Trombosit Astrup pH pCO2 pO2 HCO3 P2 Saturasi BE O2 Saturasi ELEKTROLIT Natrium Kalium Klorida

HASIL PEMERIKSAAN 10,2 g/dL 30% 3500rb /uL 226.000 rb/uL 7,494 22,3 203,4 17,3 -6,2 99,9 145 mmol/L 2,85 mmol/L 89 mmol/L

NILAI NORMAL

13,7-17,5 g/dL 41 53 % 4100-10.900/ul 140.000- 400.000rb/uL 7,35-7,45 32-45 95-100 21-28 -2,56-2,53 94-100 135-147 mmol/L 3.5-5,0mmol/L 96-108 mmol/L

Dilakukan pemeriksaan laboratorium pada tanggal 06 Juni 2013 jam 12.59 wib JENIS PEMERIKSAAN Hematologi Hemoglobin Hematokrit Lekosit Trombosit Astrup pH pCO2 pO2 HCO3 P2 Saturasi BE O2 Saturasi ELEKTROLIT Natrium Kalium Klorida 10,0 g/dL 31% 4300 rb /uL 200.000 rb/uL 7,391 44,4 64,0 26,3 1,3 92,2 133 mmol/L 4,57mmol/L 111 mmol/L 13,7-17,5 g/dL 41 53 % 4100-10.900/ul 140.000- 400.000rb/uL 7,35-7,45 32-45 95-100 21-28 -2,56-2,53 94-100 135-147 mmol/L 3.5-5,0mmol/L 96-108 mmol/L HASIL PEMERIKSAAN NILAI NORMAL

Dilakukan pemeriksaan laboratorium pada tanggal 06 Juni 2013 jam 22.35 wib JENIS PEMERIKSAAN Astrup pH pCO2 pO2 HCO3 P2 Saturasi BE O2 Saturasi ELEKTROLIT Natrium Kalium Klorida HASIL PEMERIKSAAN 7,328 52,9 36,2 27,1 1,1 64,2 136 mmol/L 4,26 mmol/L 109 mmol/L 7,35-7,45 32-45 95-100 21-28 -2,56-2,53 94-100 134-146 mmol/L 3.4-4.5 mmol/L 96-108 mmol/L NILAI NORMAL

Dilakukan pemeriksaan laboratorium pada tanggal 07 Juni 2013 JENIS PEMERIKSAAN Hematologi Hemoglobin Lekosit Hematokrit Eritrosit MCV (VER) MCH (HER) MCHC(KHER) Hitung Jenis Basofil Eosinofil Batang Segment Limfosit Monosit Trombosit LED RDW KIMIA SGOT/ ASAT SGPT/ ALAT FUNGSI GINJAL Asam Urat Kreatinin Ureum 10,0 g/dL 4500 /uL 31 % 4,01 juta/uL 78 fL 25 pg 32 g/dL 7% 0% 1% 15% 59% 18% 267.000/uL 20 mm/jam 12.7 117 u/L 56 u/L 3.0 mg/dL 0,2 mg/dL 7 mg/dL 13,7-17,5 g/dL 4100-10.900/uL 41 53 % 4,5-5,5 juta/uL 80-100 fL 26-34 pg 31-36 g/dL 0-2% 0-5% 2-6% 47-80% 13-40% 2-11% 140.000-440.000/uL < 10 mm/jam HASIL PEMERIKSAAN NILAI NORMAL

10-35 u/L 9-43 u/L 3,40-7,0 mg/dL 0,7-1,5 mg/dL 20-40 mg/dL

Dilakukan pemeriksaan laboratorium pada tanggal 07 Juni 2013 JENIS PEMERIKSAAN Astrup pH pCO2 pO2 HCO3 P2 Saturasi BE O2 Saturasi ELEKTROLIT Natrium Kalium Klorida HASIL PEMERIKSAAN 7,397 32,9 119,2 19,8 - 5,1 98,4 141 mmol/L 3,58 mmol/L 103 mmol/L 7,35-7,45 32-45 95-100 21-28 -2,56-2,53 94-100 134-146 mmol/L 3.4-4.5 mmol/L 96-108 mmol/L NILAI NORMAL

Dilakukan pemeriksaan laboratorium pada tanggal 10 Juni 2013 JENIS PEMERIKSAAN HASIL PEMERIKSAAN IMMUNOSEROLOGI SPESIFIK CRP Kuantitatif 0,6 mg/dL < 5 mg/dL NILAI NORMAL

Dilakukan pemeriksaan laboratorium pada tanggal 10 Juni 2013 JENIS PEMERIKSAAN FAECES/ Tinja Rutin Warna Konsistensi Pus Mikroskopis Lekosit Eritrosit Epitel Amilum Serat Tumbuhan Amoeba Telur Cacing Lain-Lain Kuning Lunak Negatif 1-2 0-1 +1 Negatif Negatif Negatif Negatif Bakteri +2 HASIL PEMERIKSAAN NILAI NORMAL

Dilakukan pemeriksaan laboratorium pada tanggal 12 Juni 2013

JENIS PEMERIKSAAN KIMIA SGOT/ ASAT SGPT/ ALAT

HASIL PEMERIKSAAN 137 u/L 130 u/L

NILAI NORMAL

10-35 u/L 9-43 u/L

Dilakukan pemeriksaan laboratorium pada tanggal 12 Juni 2013 JENIS PEMERIKSAAN KIMIA DIABETES Glukosa Sewaktu ELEKTROLIT Natrium Kalium Klorida HASIL PEMERIKSAAN 107 mg/dL 137 mmol/L 6,05 mmol/L 104 mmol/L <180 mg/dL 134-146 mmol/L 3.4-5.0 mmol/L 96-108 mmol/L NILAI NORMAL

Dilakukan pemeriksaan laboratorium pada tanggal 14 Juni 2013

JENIS PEMERIKSAAN Hematologi Hemoglobin Hematokrit Lekosit Trombosit Astrup pH pCO2 pO2 HCO3 P2 Saturasi BE O2 Saturasi

HASIL PEMERIKSAAN 10,1 g/dL 33 % 6.800 rb /uL 865.000 rb/uL 7,470 39.1 148,7 28,7 4.8 99.9

NILAI NORMAL

13,7-17,5 g/dL 41 53 % 4100-10.900/ul 140.000- 400.000rb/uL 7,35-7,45 32-45 95-100 21-28 -2,56-2,53 94-100

V. PEMERIKSAAN RADIOLOGIS Dilakukan pemeriksaan foto thoraks AP pada tanggal 04 Juni 2013 Hasil Pemeriksaan: Dibandingkan dengan foto thoraks tanggal 31-05-2013 Tampak infiltrat pada daerah suprahiler dan parakardial kanan berkurang, bercak kesuraman pada pada parahiler kanan bertambah Hilus kanan masih menebal COR: dalam batas normal Kesan: Infiltrat diparu kanan bertambah Paru kanan dan kirim emfisaematous VI. RINGKASAN Anak AM, usia 5 bulan, datang diantar oleh orang tuanya dengan keluhan utama sesak nafas sejak 6 hari sebelum masuk Rumah Sakit/ SMRS. Sesak nafas dirasakan timbulnya perlahan dan dirasakan terus menerus serta semakin memberat sejak 1 hari SMRS. Keluhan tambahan pada pasien batuk berdahak sejak 1 minggu SMRS, batuk berdahak timbulnya terus-menerus serta dahaknya banyak dan berwarna putih serta kental, demam sejak 4 hari SMRS. Demam pada pasien terus menerus, tinggi dan hanya turun demamnya bila diberikan obat penurun panas dan kurang mau minum susu sejak timbul batuk dan sesak nafas. Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan setelah pasien mengalami perbaikan dan dalam perawatan hari ke 18. Didapatkan tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis, status gizi buruk. Tanda vital didapatkan takipnoe. Pemeriksaan mata tampak konjungtiva pucat, thoraks didapatkan Ronki pada kedua lapang paru.. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan adanya penurunan hematokrit > 20%, trombositopenia, leukopenia, Ig G dan IgM positif, dan dari hasil astrup didapatkan asidosis metabolik yang terkompensasi. VII. DIAGNOSIS KERJA Bronkopneumonia Anemia mikrositik hipokrom suspek et causa gizi buruk

VIII. DIAGNOSIS BANDING

Bronkiolitis Anemia mikrositik hipokrom suspek et causa defisiensi zat besi

IX. TERAPI Non Medikamentosa Konsul dr Spesialis Anak Tirah baring Observasi tanda vital O2 1 ltr/ menit

Medika mentosa IVFD Kaen 1B + Aminophylin 0,8cc/kolf 20 cc/ jam Inj Meropenem 2 x 100 mg iv Inj Amikasin 2 x 25 mg iv Inj Somerol 2 x 5 mg iv Inj Ranitidin 2 x 5 mg iv Inhalasi meptin 1/3+ Nacl 5 cc 3x/ hari Vectrin syr 3 x cth 1/2

X. PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanasionam : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam

FOLLOW UP PASIEN Tanggal 17 Juni 2013 S: demam (-), Sesak (-), Mengik (-) O: Suhu: 36,8C, RR: 34 x/menit S Generalis Kepala: normosefali Mata: C pucat +/+, Sklera Ikterik -/Hidung: Pernafasan Cuping hidung Mulut: Bibir sianosis (-) Thoraks: S1N-S2N M(-), G(-) SN vesikuler, Rh +/+, Whz -/Retraksi (-) Abdomen: datar, supel, BU + N Ekstremitas: akral hangat +/+/+/+, sianosis(-) A: Bronkopneumonia Gizi Buruk Anemia mikrositik hipokrom suspek et causa Gizi buruk P: IVFD Kaen 1B + Aminophylin 0,8cc/kolf 20 cc/ jam Inj Meropenem 2 x 100 mg iv Inj Amikasin 2 x 25 mg iv Inj Somerol 2 x 5 mg iv Inj Ranitidin 2 x 5 mg iv Inhalasi meptin 1/3+ Nacl 5 cc 3x/ hari Vectrin syr 3 x cth

Tanggal 18Juni 2013 S: demam (-), Sesak (-), Mengik (-) O: Suhu: 36,8C, RR: 32 x/menit S Generalis Kepala: normosefali Mata: C pucat +/+, Sklera Ikterik -/Hidung: Pernafasan Cuping hidung Mulut: Bibir sianosis (-) Thoraks: S1N-S2N M(-), G(-) SN vesikuler, Rh +/+, Whz -/Retraksi (-) Abdomen: datar, supel, BU + N Ekstremitas: akral hangat +/+/+/+, sianosis(-) A: Bronkopneumonia Gizi Buruk Anemia mikrositik hipokrom suspek et causa Gizi buruk P: IVFD Kaen 1B + Aminophylin 0,8cc/kolf 20 cc/ jam Inj Meropenem 2 x 100 mg iv Inj Amikasin 2 x 25 mg iv Inj Somerol 2 x 5 mg iv Inj Ranitidin 2 x 5 mg iv Inhalasi meptin 1/3+ Nacl 5 cc 3x/ hari Vectrin syr 3 x cth Pasien boleh pulang besok

BAB II PEMBAHASAN I. DEFINISI Pneumonia adalah inflammasi pada parenkim paru yang meliputi alveolus dan jaringan interstitial. Penyebab dari sebagian besar kasus pneumonia adalah infeksi mikroorganisme, namun pada beberapa kasus lain penyebabnya bukan disebabkan oleh karena infeksi, misalnya: aspirasi makanan dan asam lambung, benda asing, reaksi hipersensifitas, maupun akibat obat dan radiasi.1 II. EPIDEMIOLOGI Pneumonia merupakan salah satu penyebab kematian utama anak diseluruh dunia, dimana 19% dari kasus kematian anak di seluruh dunia disebabkan oleh karena Pneumonia. Pneumonia merupakan pembunuh anak paling utama yang terlupakann ( majorforgotten killer of children). Pneumonia sendiri merupakan penyebab kematian yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kasus kematian akibat diare, spesis, malaria, AIDS maupun campak.2,3 Menurut data Riset Kesehatan Dasar/ Riskesdas tahun 2007 di Indonesia kasus pneumonia merupakan penyebab kematian kedua pada bayi dan balita setelah kasus diare kematian balita).4 Pneumonia umumnya dapat terjadi di semua usia, walaupun kasus pneumonia lebih sering dialami pada usia anak di bawah 5 tahun. Di Amerika yang merupakan negara maju angka kejadian pneumonia masih tinggi, diperkirakan setiap tahunnya terdapat 35-40 kasus per 1000 anak yang berusia dibawah 5 tahun, 16-20 kasus per 1000 anak pada umur 5-9 tahun.2,5 Terdapat sekitar 150 juta kasus pneumonia yang terjadi diseluruh dunia pada setiap tahun pada anak yang berusia dibawah 5 tahun dan cenderung meningkat setiap tahunnya.Di Indonesia sendiri kasus pneumonia cenderung meningkat setiap tahun, berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia prevalensi pneumonia pada balita di Indonesia meningkat dari 7,6% di tahun 2002 menjadi 11,2% pada tahun 2007. 4 III. ETIOLOGI Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh karena infeksi mikroorganisme (virus/ bakteri) dan hanya sebagian kecil yang disebabkan oleh karena aspirasi makanan dan asam lambung, benda asing, reaksi hipersensifitas, maupun akibat obat dan radiasi.1,5 Menentukan mikroorganisme penyebab pneumonia pada anak umumnya sulit karena banyaknya mikroorganisme penyebab pneumonia pada anak, namun penggolongan mikroorganisme ( 15,5% dari

berdasarkan umur bisa membantu dalam mengetahui penyebab pneumonia pada anak.5,6 Penyebab pneumonia pada anak terbanyak di negara berkembang adalah infeksi bakteri, sedangkan di negara maju penyebab terbanyak dari pneumonia pada anak adalah infeksi virus di samping infeksi bakteri dan campuran bakteri dan virus. Umumnya secara klinis pneumonia yang disebabkan oleh karena infeksi baik bakteri maupun virus sulit dibedakan, namun seringkali dipercaya pneumonia di awali oleh infeksi virus kemudian mengalami komplikasi infeksi bakteri.7 Tabel penyebab pneumonia pada anak berdasarkan kelompok umur 6,7 Umur Lahir 20 hari Penyebab yang sering Bakteri E.colli Streptococcus group B Listeria monocytogens Penyebab yang jarang Bakteri Bakteri anaerob Streptococcus group D Haemophillus influenza Streptococcus pneumoniae Ureaplasma urealyticum Virus Virus Sitomegalo 3 minggu - 3 bulan Bakteri Clamydia Trachomatis Streptococcus pneumoniae Virus Herpes simpleks Bakteri Bordetella Pertusis Haemophillus influenza type B Moraxella catharalis Staphylococcus aureus Virus Virus Adeno Virus Influenza Virus Parainfluenza 1,2,3 4 bulan - 5 tahun Respiratory Synctical Virus Bakteri Clamydia pneumoniae Mycoplasma pneumoniae Streptococcus pneumoniae Bakteri Haemophillus influenza type B Moraxella catharalis Neisseria meningitidis Staphylococcus aureus Virus Virus Adeno Virus Influenza Virus Parainfluenza Virus Virus Varicella-Zoster Ureaplasma urealyticum Virus Virus Sitomegalo

Virus Rhino 5 tahun- Remaja Respiratory Synctical Virus Bakteri Clamydia pneumoniae Mycoplasma pneumoniae Streptococcus pneumoniae Bakteri Haemophillus influenza Legionella sp Staphylococcus aureus Virus Virus Adeno Virus Influenza Virus Epstein-Barr Virus Parainfluenza Virus Rhino Respiratory Synctical Virus Virus Varicella-Zoster IV. PATOGENESIS Sebagian besar pneumonia timbul akibat aspirasi mikroorganisme yang infeksius atau penyebaran langsung kuman dari saluran nafas bagian atas. Hanya sebagian kecil merupakan akibat sekunder dari viremia dan bakteriemia.7,8 Dalam keadaan normal saluran respiratorik bagian bawah mulai dari sublaring sampai unit terminal respirasi adalah steril. Paru-paru terlindung dari infeksi melalui beberapa mekanisme termasuk barier anatomik, barier mekanik dan sistem immunitas tubuh yang bersifat lokal dan sistemik. Barier anatomik dan mekanik diataranya adalah filtrasi partikel dihidung, pencegahan aspirasi dengan refleks epiglottis, ekspulsi benda asing melalui refleks batuk, mekanisme pembersihan yang dilakukan oleh sistem mukosilier. Sistem immunita tubuh yang terlobat baik imunoglobulin A maupun respons inflammasi oleh sel-sel leukosit, komplemen, sitokin dan cell mediated immunity.9,10 Pneumonia terjadi bila satu atau lebih mekanisme pertahanan diatas mengalami gangguan sehingga mikroorganisme patogen dapat mencapai saluran nafas bagian bawah. Inokulasi mikroorganisme patogen menimbulkan respons inflammasi yang akut pada penjamu yang berbeda sesuai dengan patogen penyebab.10 Biasanya bakteri penyebab terhirup ke paru-paru melalui saluran nafas, mikroorganisme tiba di alveoli membentuk suatu proses peradangan yang meliputi empat stadium, yaitu :10 1. Stadium I (4 12 jam pertama/kongesti) Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung pada

daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediatormediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan. Mediator-mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel mast juga mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama dengan histamin dan prostaglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan permeabilitas kapiler paru. Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstisium sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus. Penimbunan cairan di antara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh oleh oksigen dan karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah paling berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin. 2. Stadium II (48 jam berikutnya) Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu ( host ) sebagai bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan bertambah sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48 jam. 3. Stadium III (3 8 hari) Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai diresorbsi, lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti. 4. Stadium IV (7 11 hari) Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula.10 V. MANIFESTASI KLINIS Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar antara ringan hingga sedang. Hanya sebagian kecil yang berat, mengancam jiwa dan mungkin terdapat komplikasi sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit.7 Beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran klinis pneumonia pada anak adalah inmaturitas anatomik dan imunologik, mikroorganisme penyebab yang luas, gejala klinis yang

tidak khas terutama pada bayi.7 Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat ringannya infeksi, tetapi secra umum adalah sebagai berikut:7 Gambaran infeksi umum : Demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah, atau diare. Gambaran gangguan respiratorius: Batuk yang awalnya kering, kemudian menjadi produktif dengan dahak purulent bahkan bisa berdarah dan sesak nafas. Pemeriksaan fisik umumnya terdapat gambaran distres pernafasan seperti takipnea, retraksi (intercostal, suprasternal,subkostal,) krepitasi dan penurunan suara paru.8 Pemeriksaan frekuensi nafas pada kasus pneumonia pada anak merupakan indeks yang paling sensitif untuk mengetahui beratnya penyakit, sebaiknya perhitungan frekuensi nafas dilakukan pada saat anak tenang maupun tidur.7 Kriteria takipneu menurut WHO :10 Anak umur < 2bulan : 60 x/menit Anak umur 2-11 bulan : 50 x/menit Anak umur 1-5 tahun : 40 x/menit Anak umur 5 tahun : 30 x/menit

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG A. Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan foto thoraks tidak direkomendasikan secara rutin pada anak dengan infeksi saluran nafas bawah akut ringan Pemeriksaan foto thoraks direkomendasikan pada penderita pneumonia yang dirawat inap ataupun terdapat tanda klinis yang membingungkan Pemeriksaan foto thoraks follow up hanya dilakukan bila didapatkan adanya kolaps lobus paru, kecurigaan timbulnya komplikasi, pneumonia yang berat atau memburuk, atau tidak respons terhadap pemberian antibiotik.8 Kelainan pada pemeriksaan foto thoraks tidak selalu berhubungan dengan gejala klinis, kadang kadang gambaran infiltrat sudah ditemukan walaupun belum timbul gejala klinis, sedangkan resolusi infiltrat memerlukan waktu yang relatif lama untuk hilang setelah

hilangnya gejala klinis.7 Secara umum gambaran foto toraks terdiri dari : Infiltrat interstitial, ditandai dengan peningkatan corakan bronkovaskular, peribronchial cuffing, dan hiperaerasi. Infiltrat alveolar, merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram. Konsolidasi dapat mengenai satu lobus disebut dengan pneumonia lobaris, atau terlibat sebagai lesi tunggal yang biasanya cukup besar, berbentuk sferis, berbatas yang tidak terlalu tegas, dan menyerupai lesi tumor paru, dikenal sebagai round pneumonia. Bronkopneumonia, ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua paru, berupa bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah perifer paru, disertai dengan peningkatan corakan peribronkial.7 B. Pemeriksaan Laboratorium Pada pemeriksaan darah lengkap umumnya didapatkan adalanya leukositosis 15000- 40000/ mm3 pada kasus pneumonia bakterial, sedangkan pada kasus pneumonia viral umumnya didapatkan kadar leukosit dalam batas normal ataupun hanya sedikit meningkat.7 Pada pemeriksaan laju endap darah/ LED dan C-reaktif protein/ CRP umumnya tidak di anjurkan sebagai pemeriksaan rutin. Pemeriksaan LED dan CRP sebagai indikator inflamasi sangat tidak khas karena tidak dapat membedakan antara infeksi viral maupun bakterial, walaupun kadamg-kadang CRP sering dipakai sebagai indikator evaluasi keberhasilan penggunaan antibiotik.7,10 Pemeriksaan kultur darah merupakan cara yang spesifik untuk diagnostif tapi hanya positif pada 10-15% kasus terutama pada anak kecil. Kultur darah sangat membantu dalam penanganan pneumonia yang penyebabnya diduga oleh stafilokokus dan pneumokokus yang tidak respons terhadap terapi awal.7 Pemeriksaan pulse oxymetry dianjurkan pada setiap anak yang dirawat dengan pneumonia.7,8,9 VII. KLASIFIKASI PNEUMONIA WHO merekomendasikan peningkatan frekuensi nafas dan retraksi subkosta untuk mengklasifikasikan pneumonia pada negara berkembang. Namun demikian kriteria tersebut mempunyai sensitifitas yang buruk untuk anak dengan malnutrisi dan sering overlapping dengan gejala malaria.8 Klasifikasi Pneumoni berdasarkan WHO8 a. Bayi kurang dari 2 bulan

Pneumonia berat: nafas cepat dengan retraksi yang berat Pneumonia sangat berat: tidak mau menetek/ minum, kejang, letargis, demam atau hipotermia, bradipnea atau pernafasan ireguler

b. Anak umur 2 bulan- 5 tahun Pneumonia ringan: nafas cepat Pneuminia berat: retraksi Pneumonia sangat berat: tidak dapat minum/ makan, letargis, kejang dan malnutrisi

VIII. PENATALAKSANAAN Pada pasien pneumonia dilakukan rawat inap apabila:8 Kriteria rawat inap Bayi: Anak: Saturasi oksigen 92%, Sianosis Frekuensi nafas > 50 x/ menit Distress pernafasan, apnea intermiten atau grunting Terdapat tanda dehidrasi Keluarga tidak bisa merawat dirumah Saturasi oksigen 92%, Sianosis Frekuensi nafas > 60 x/ menit Distress pernafasan, apnea intermiten atau grunting Tidak mau minum/ menetek Keluarga tidak bisa merawat dirumah

Tatalaksana umum:8 Pasien dengan saturasi oksigen 92% pada saat bernafas dengan udara kamar harus diberikan terapi oksigen dengan kanul nasal, head box, atau sungkup untuk mempertahankan saturasi oksigen >92%

Pada kasus pneumonia yang berat ataupun asupan oral yang kurang diberikan cairan intravena dan dilakukan balans cairan yang ketat.

Antipiretik dan analgetik dapat diberikan untuk menjaga kenyamanan pasien dan mengontrol batuk

Nebulisasi dengan menggunakan 2-agonis dan NaCl dapat diberikan untuk memperbaiki mucocilliary clearance

Pasien dengan terapi oksigen harus diobservasi setidaknya setiap 4 jam sekali, termasuk pemeriksaan saturasi oksigen.

Pemberian Antibiotik Pemberian amoksisilin merupakan pilihan pertama untuk antibiotik oral pada anak < 5 tahun karena efektif melawan sebagian besar patogen yang menyebabkan pneumonia pada anak, alternatif selain amoksisilin adalah co-amoxiclav, ceflacor, eritromisin, claritomisin dan azitromisin. 7,8,10 M. pneumoniae lebih sering terjadi pada anak dengan usia yang lebih tua, sehingga dipilih antibiotik golongan makrolid sebagai pilihan pertama pada anak yang berusia 5 tahun. 7,8,10 Pneumonia pada umur neonatus sampai 2 bulan yang di anjurkan adalah amipisilin dengan gentamisin, untuk usia lebih dari 2 bulan, lini pertama adalah ampisilin, namun bila dalam 3 hari belum didapatkan adanya perbaikan kloramfenikol dapat ditambahkan. 8,10 Antibiotik intravena diberikan pada pasien pneumonia yang tidak dapat menerima obat per oral atau termasuk dalam derjat pneumonia yang berat, umunya obat antibiotik intravena yang dianjurkan adalah: ampisilin dan kloramfenikol, co-amoxiclav, ceftriaxone, cefuroxime dan cefotaxime. 7,8,10 Tabel pilihan antibiotik intravena pada pneumonia7 Antibiotik Penisilin G Ampisilin Kloramfenikol Ceftriaxone Cefuroxine Clindamisin Dosis 50.000 unit/kg/kali Dosis tunggal maksimal 4 juta unit 100 mg/kg/hari 100 mg/kg/hari 50 mg/kg/hari Dosis tunggal maksimal 2 gram 50 mg/kg/hari Dosis tunggal maksimal 2 gram 10 mg/kg/hari Dosis tunggal Frekuensi Tiap 4 jam Tiap 6 jam Tiap 6 jam 1x/hari Tiap 8 jam Tiap 6 jam Keterangan S.pneumonia S.pneumonia, H.influenza S.pneumonia, H.influenza Streptococcus group A S.aureus, S. pneumoniae

maksimal 1,2 gram Eritromisin 10 mg/kg/hari Dosis tunggal maksimal 1 gram

(alternatif untuk anak yang alergi terhadap beta laktam) S. pneumoniae C. pneumoniae M. pneumoniae

Nutrisi 7,8 Pada anak dengan distres pernafasan berat, pemberian makanan peroral harus dihindari. Makanan dapat dberikan lewat NGT atau intravena. Jika memang dibutuhkan sebaiknya menggunakan ukuran yang terkecil. Perlu dilakukan pemantauan cairan agar anak tidak mengalami overhidrasi karena pada pneumonia berat terjadi peningkatan sekresi hormon antidiuretik.

BAB II DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Sectish TC, Prober CG. Pneumonia. Dalam:Behrman RE, Kleigman RM, Jenson HB. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi 17. Philadelpia: WB Saunders, 2003:1432-5. World Health Organization. Pneumonia. Fact sheet No. 331. 2009. Available at: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs331/en/index.html. Accessed 1 Juli 2013. Unicef/ WHO. 2006. Pneumonia the Forgotten Killer of Children. Riskesdas 2007, Balitbang, Depkes R McIntosh K. Community Acquired Pneumonia in Children. N Eng J Med 2002; 346(6): 429-37. Ostapchuck M, Robert DM, Haddy R. Community Acquired Pneumonia in Infants and Children. Am Fam Physician 2004; 70: 899-908. Said M. Pneumonia. Dalam: Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi 1.Jakarta, 2008: 350-62. Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S et al. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jilid I. Jakarta, 2010: 250-5. Bradley JS, Byington CL, Shah SS, et al. The Management of Community-Acquired Pneumonia in Infant and Children Older than 3 Month of Age: Clinical Practice Guidelines by the

Pediatrics Infectious Disease Society and the Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis. 2011; 53(7): 617-630. 10. Bennete MJ. Pediatric Pneumonia. 2013. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/967822-overview. Accessed 1 Juli 2013.