Anda di halaman 1dari 21

Hardi Nusantara NIM: 33212009

TIGA INSTITUT KEBENARAN


Manusia ialah makhluk pencari kebenaran. Ada tiga jalan untuk mencari, menghampiri dan menemukan kebenaran, yaitu: Ilmu Filsafat Agama. Ketiga cara ini mempunyai ciri-ciri tersendiri dalam mencari, menghampiri dan menemukan kebenaran. Ketiga institut termaksud itu mempunyai titikpersamaan, titik-perbedaan dan titik-singgung yang satu terhadap yang lainnya.

ILMU PENGETAHUAN
Ilmu pengetahuan itu ialah hasil usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistem mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal-ihwal yang diselidikinya (alam, manusia dan juga agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran manusia yang dibantu pengindraannya, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset dan eksperimental.

FILSAFAT
Filsafat ialah ilmu yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa, karena masalah-masalah termaksud di luar atau di atas jangkauan ilmu pengetahuan biasa. Filsafat ialah hasil daya upaya manusia dengan akalbudinya untuk memahami (mendalami dan menyelami) secara radikal dan integral hakikat sekalian yang ada: a. hakikat Tuhan b. hakikat alam semesta c. hakikat manusia serta sikap termaksud sebagai konsekuensi daripada faham (pemahaman) nya tersebut.

AGAMA
Agama (pada umumnya) ialah: Satu sistem tata keimanan atau tata keyakinan atas adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia Satu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya mutlak itu Satu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan termaksud di atas.

AGAMA (lanjutan)
Ditinjau dari segi sumbernya maka agama (tata keimanan, tata peribadatan, dan tata aturan) itu dapat dibedakan atas dua bagian: 1. Agama samawi (agama langit, agama wahyu, agama profetis, revealed religion. Din as-Samawi) 2. Agama budaya (agama bumi, agama filsafat, agama ra'yu, non-revealed'religion, natural religion, Din at-Thabi'i, Din al-Ardhi).

AGAMA (lanjutan)
Agama Islam ialah: Wahyu yang diturunkan oleh Allah swt kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia; sepanjang masa dan setiap persada. Satu sistem keyakinan dan tata ketentuan Ilahi yang mengatur segala pri-kehidupan dan penghidupan manusia dalam pelbagai hubungan; baik hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun hubungan manusia dengan sesama manusia, ataupun hubungan manusia dengan alam lainnya (nabati, hewani dan lain sebagainya).

AGAMA (lanjutan)
Bertujuan keridhaan Allah, keselamatan dunia dan akhirat serta rahmat bagi segenap alam. Pada garis besarnya terdiri dari atas: 'Aqidah, Syari'ah (yang meliputi 'Ibadah dalam arti khas dan Mu'amalah dalam arti luas) dan Akhlaq. Bersumberkan Kitab Suci, yaitu kodifikasi wahyu Allah swt untuk umat manusia di atas planet bumi; yaitu alQuranul-Karim sebagai penyempurna wahyu-wahyu Allah sebelumnya, sejak manusia diturunkan kepermukaan bumi ini, yang dilengkapi dan ditafsirkan oleh Sunnah Rasulullah saw.

TITIK PERSAMAAN
Baik Ilmu, maupun Filsafat ataupun Agama bertujuan sekurangkurangnya berurusan dengan hal yang sama, yaitu: kebenaran. Ilmu pengetahuan, dengan metodanya sendiri, mencari kebenaran tentang alam dan [termasuk di dalamnya] manusia. Filsafat, dengan wataknya sendiri pula, menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun tentang manusia (yang belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu, karena di luar atau di atas jangkauannya), ataupun tentang Tuhan. Agama, dengan karakteristiknya sendiri pula, memberikan jawaban atas segala persoalan asasi (!) yang dipertanyakan manusia; baik tentang alam, maupun tentang manusia ataupun tentang Tuhan.

TITIK PERBEDAAN
Baik Ilmu maupun Filsafat, keduanya hasil dari sumber yang sama, yaitu: ra'yu (akal, budi, rasio, reason, nous, rede, vertand, Vernunft) manusia. Sedangkan Agama bersumberkan wahyu dari Allah. Ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan (riset, research), pengalaman (empiris) dan percobaan (eksperimen) sebagai batu ujian.

TITIK PERBEDAAN (lanjutan)


Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara mengembarakan atau mengelanakan akal-budi secara radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal ; tidak merasa terikat oleh ikatan apa pun, kecuali oleh ikatan yang bernama logika. Manusia mencari dan menemukan kebenaran dengan dan dalam agama dengan jalan mempertanyakan (mencari jawaban tentang) pelbagai masalah asasi dari atau kepada kitab suci, kodifikasi firman Ilahi untuk manusia diatas bumi ini.

TITIK PERBEDAAN (lanjutan)


Kebenaran ilmu pengetahuan adalah kebenaran positif (berlaku sampai dengan saat ini). Kebenaran Filsafat adalah kebenaran spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiris, riset dan eksperimental). Baik kebenaran Ilmu, maupun kebenaran Filsafat, keduaduanya nisbi (relatif). Sedangkan kebenaran Agama bersifat multak (absolut), karena Agama adalah wahyu yang diturunkan oleh Dzat Yang Maha Benar, Maha Mutlak dan Maha Sempurna, yaitu: Allah SWT. Baik Ilmu maupun Filsafat, kedua-duanya dimulai dengan sikap sangsi atau tidak percaya. Sedangkan Agama dimulai dengan sikap percaya dan iman.

TITIK SINGGUNG
Tidak semua masalah yang dipertanyakan manusia dapat dijawab secara positif oleh Ilmu-Pengetahuan, karena ilmu itu terbatas; terbatas oleh subyeknya (sang penyelidik), oleh obyeknya (baik obyek materia maupun obyek formanya), oleh metodologinya. Tidak semua masalah yang tidak atau belum terjawab oleh Ilmu, lantas dengan sendirinya dapat dijawab oleh Filsafat. Jawaban Filsafat sifatnya spekulatif dan juga alternatif; tentang suatu masalah asasi yang sama terdapat pelbagai jawaban Filsafat (para filsuf) sesuai dan sejalan dengan titik tolak sang ahli filsafat itu.

TITIK SINGGUNG (lanjutan)


Agama memberi jawaban tentang banyak (pelbagai) soal asasi yang sama sekali tidak terjawab oleh Ilmu, yang dipertanyakan (namun tidak terjawab secara bulat) oleh Filsafat. Akan tetapi perlu kita tegaskan di sini: juga tidak semua persoalan manusia terdapat jawabanya dalam agama.

TITIK SINGGUNG (lanjutan)


Adapun soal-soal manusia yang tiada jawabannya dalam Agama dapat Kita sebutkan sebagai berikut: 1. Soal-soal kecil, detail, yang tidak prinsipil, seperti: jalan kendaraan sebelah kiri atau sebelah kanan, soal rambut panjang atau pendek, soal cek, wesel dan lain sebagainya. 2. Persoalan-persoalan yang tiada secara jelas dan tegas tersurat dalam al-Qur-an (dan as-Sunnah), yang diserahkan kepada ijtihad (hasil daya pemikiran manusia yang tiada berlawanan dengan jiwa dan semangat al-Qur-an dan asSunnah). 3. Persoalan-persoalan yang tetap merupakan misteri, dikabuti rahasia yang tiada terjangkau akal-budi dan fakultas-fakultas rohaniah manusia lainnya karena keterbatasannya, yang merupakan Ilmu (dengan sifat mutlak) Allah SWT, yang karena kebijaksanaan-Nya, tiada dilimpahkan-Nya kepada manusia; seperti: hakikat ruh, hakikat qadha dan qadar dan lain sebagainya.

TITIK SINGGUNG (lanjutan)


Dengan kekuatan akal-budi (Ilmu dan Filsafat)-nya, manusia "naik" menghampiri dan memetik kebenaran demi kebenaran yang dapat dijangkau dengan kapasitasnya sendiri yang terbatas itu. Di samping itu karena sifat Rahmat-Nya, Allah SWT berkenan "menurunkan" wahyu-Nya kepada umat manusia agar mereka mencapai dan menemukan kebenaran asasi dan hakiki, yang tidak dapat dicapai dan ditemukan hanya sekedar dengan kekuatan akalbudinya semata-mata.

TITIK SINGGUNG (lanjutan)


Allah telah menganugerahkan kepada manusia: 1. alam, 2. akal budi 3. wahyu. Dengan akal-budinya manusia dapat lebih memahami, baik Ayat Qur-aniyah (wahyu) maupun Ayat Kauniyah (alam) Untuk kebahagiaan mereka yang hakiki.

RANGKUMAN
Mustahil terdapat pertentangan antara agama Islam pada satu fihak dengan Ilmu Pengetahuan (dan Filsafat) yang benar (!) pada fihak lainnya. Sebab Ilmu (dan Filsafat) yang benar tiada lain ialah usaha manusia dengan kekuatan akalbudinya yang relatif berhasil dalam memahami kenyataan alam; susunan alam, pembagian alam, bagian-bagian alam dan hukum (yang berlaku bagi) alam.

Al-Qur-an (Ayat Qur-aniyah) tidak lain adalah: pembukuan segenap alam semesta (Ayat Kauniyah) dalam satu al-Kitab. Kedua ayat Allah (Ayat Qur-aniyah dan Ayat Kauniyah) itu saling menafsirkan. Penafsiran yang satu terhadap yang lainnya tidak (akan) pernah kontradiksi, karena keduaduanya berasal dari Allah; yang pertama sabda Allah (the words of Allah) dan yang kedua karya Allah (the works of Allah).

RANGKUMAN (lanjutan)
Perbedaan (dan bukan pertentangan) perumusan antara agama (Al-Qur-an) pada satu fihak dan Ilmu (dan Filsafat) yang benar pada fihak lainnya adalah mungkin saja. Perbedaan formulasi antara ilmu yang satu dengan ilmu lainnya tentang suatu masalah tertentu dalam dunia ilmu pengetahuan. Bahkan formulasi antara dua antropologi (antropologi-fisik pada satu fihak dan antropologi-budaya pada fihak lainnya) mengenai "perbedaan antara manusia dengan hewan" umpamanya, besar kemungkinan berbeda sekali.

RANGKUMAN (lanjutan)
Agama (Al-Qur-an) lebih banyak dapat dihayati (difahami, diselami dan didalami), dan oleh karena itu lebih banyak berbicara kepada - manusia yang berilmu pengetahuan (dan ber-Filsafat) luas dan dalam.

Bagi seorang natural scientist (sarjana ilmu pengetahuan alam), al-Qur-an merupakan Buku (dengan B besar) tentang alam. Bagi seorang social dan cultural scientist (sarjana ilmu pengetahuan sosial dan budaya), al-Qur-an ini merupakan Buku tentang manusia. Bagi seorang teolog (sarjana studi ketuhanan), al-Qur-an ini merupakan Buku tentang Tuhan dan Ketuhanan. Bagi seorang filsuf (ahli filsafat), al-Qur-an itu merupakan Buku mengenai pelbagai masalah asasi yang menjadi bahan perbincangan filsafat dari masa ke masa.
Agama (Al-Qur-an) memberikan dorongan (motif ), pengarahan dan Tujuan kepada Ilmu (dan Filsafat).

PUSTAKA
Ilmu, Filsafat dan Agama, H. Endang Saifuddin Anshari, MA., Penerbit Bina Ilmu Surabaya,1982.